Kalimat pertama yang diucapkan Dimas ketika akhirnya menemukanku bukanlah permintaan maaf.
“Kamu keterlaluan, Laras.”
Aku berdiri di depan meja panjang studio, memeriksa sampel marmer untuk proyek hotel baru di Yogyakarta ketika suara itu terdengar dari belakang.
Sudah sembilan hari sejak aku meninggalkan rumah keluarga Ardhana.
Sembilan hari sejak aku berhenti bangun karena bunyi bel Pak Harun.
Sembilan hari sejak aku melepas cincin yang selama lima tahun membuatku percaya bahwa aku adalah seorang istri.
Aku berbalik.

Dimas berdiri di pintu ruang rapat dengan kemeja putih kusut dan wajah yang tampak jauh lebih tua dibandingkan terakhir kali kulihat. Tidak ada Selma. Tidak ada senyum percaya diri seorang direktur yang biasa muncul di majalah bisnis.
“Kamu meninggalkan Ayah saat sakit,” katanya.
Aku menatapnya beberapa detik.
“Aku yang membawa Ayahmu ke IGD.”
“Aku tahu. Tapi setelah itu kamu pergi.”
“Karena beliau punya dua anak kandung yang sehat, punya uang, punya sopir, punya staf, dan bisa membayar perawat profesional.”
Rahang Dimas mengeras.
“Kita bisa bicara di rumah.”
“Rumah siapa?”
Dia terdiam.
Aku mengambil Buku Nikah dari dalam tas, lalu meletakkannya di meja.
Wajah Dimas berubah.
Hanya sepersekian detik.
Tapi aku melihatnya.
“Kamu tahu ini palsu?”
“Laras…”
“Kamu tahu?”
Dimas menutup pintu ruang rapat.
“Aku bisa jelaskan.”
Kalimat itu justru membuat lututku hampir kehilangan tenaga.
Kalau dia mengatakan tidak tahu, mungkin masih ada ruang untuk kesalahan.
Tapi dia mengatakan bisa menjelaskan.
Berarti dia tahu.
“Sejak kapan?”
Dimas mengusap wajah.
“Dari awal.”
Aku merasa seluruh suara di ruangan menghilang.
Lima tahun pernikahan kami seperti diputar kembali dalam kepalaku. Hari ketika aku mengenakan kebaya putih. Tangisan ibuku. Pak Harun yang menyalamiku. Dimas memasangkan cincin di jariku.
Semuanya.
Palsu.
“Kenapa?”
“Waktu itu ada masalah.”
“Masalah apa?”
Dimas tidak menjawab.
Aku mendekat.
“Masalah apa sampai kamu harus memalsukan pernikahan kita?”
“Ayah sedang mengurus pembagian saham keluarga. Kalau aku menikah secara resmi saat itu, ada beberapa konsekuensi hukum dan bisnis.”
Aku tertawa pendek.
“Jadi solusinya membuat pernikahan palsu?”
“Rencananya cuma sementara. Setelah urusan saham selesai, kita akan menikah resmi.”
“Lalu?”
Dimas menunduk.
“Situasinya berubah.”
“Situasi atau kamu yang berubah?”
Dia tidak menjawab.
Itu sudah cukup.
Aku mengambil Buku Nikah tersebut.
“Pengacaraku akan menghubungimu.”
Dimas langsung menatapku.
“Pengacara?”
“Aku kehilangan lima tahun karierku untuk merawat ayahmu berdasarkan sebuah kebohongan. Beberapa desain awalku juga digunakan perusahaanmu tanpa kontrak.”
“Jangan campur pekerjaan dengan rumah tangga.”
Aku hampir tidak percaya mendengarnya.
“Kita bahkan tidak punya rumah tangga, Dimas.”
Dia membeku.
Aku berjalan melewatinya.
Sebelum keluar, aku berhenti.
“Dan jangan pernah lagi bilang aku meninggalkan ayahmu. Selama hampir lima tahun, aku melakukan pekerjaan yang bahkan anak kandungnya sendiri tidak mau lakukan.”
Malam berikutnya Bu Rina menelepon.
Ayahnya meminta bertemu denganku.
Aku menolak.
Namun dua hari kemudian Bu Rina datang sendiri ke studio.
Matanya sembap.
“Ayah tidak mau makan sejak tahu kamu pergi.”
“Itu bukan tanggung jawab saya lagi, Mbak.”
“Aku tahu.”
Jawaban itu membuatku menatapnya.
Bu Rina meletakkan sebuah amplop cokelat di meja.
“Ayah menyuruhku memberikan ini.”
Di dalamnya ada fotokopi beberapa dokumen lama.
Salah satunya adalah kuitansi pembayaran kepada lelaki yang berpura-pura menjadi penghulu dalam pernikahanku.
Nama pembayarnya tercetak jelas.
Rina Ardhana.
Aku mengangkat kepala perlahan.
Perempuan di depanku menangis.
“Jadi Mbak?”
“Aku yang membayarnya.”
Tanganku mengepal.
Bu Rina segera berkata, “Tapi dengarkan dulu.”
“Untuk apa?”
“Karena kamu belum tahu seluruh ceritanya.”
Lima tahun lalu, ternyata keluarga Ardhana sedang berada di ambang kehancuran.
Almarhumah ibu Dimas meninggalkan sebagian besar saham perusahaan kepada Pak Harun dengan klausul bahwa pembagian kepada anak-anak dilakukan ketika seluruh kewajiban perusahaan selesai.
Saat itu perusahaan memiliki utang besar akibat ekspansi yang gagal.
Dimas mengetahui bahwa jika status pernikahannya tercatat resmi sebelum restrukturisasi selesai, salah satu investor bisa menggunakan perubahan struktur kepemilikan keluarga untuk menunda pencairan dana penyelamatan.
“Aku tidak mengerti kenapa harus memalsukan pernikahan.”
“Karena Dimas takut kamu pergi kalau pernikahan ditunda lagi.”
Aku menatap Bu Rina tak percaya.
“Jadi kalian menipu saya supaya saya tetap tinggal?”
Bu Rina menunduk.
“Aku menyesal.”
“Pak Harun tahu?”
Pertanyaan itu membuatnya menangis lebih keras.
“Tahu.”
Dadaku seperti ditusuk.
Pak Harun.
Lelaki yang kusuapi.
Yang tubuhnya kubersihkan.
Yang tangannya kugenggam setiap kali dia takut tidak bisa berjalan lagi.
Dia tahu.
“Ayah awalnya menolak,” kata Bu Rina. “Tapi akhirnya setuju karena Dimas berjanji setelah enam bulan kalian akan menikah resmi.”
“Kenapa tidak pernah dilakukan?”
Bu Rina menggeleng.
“Itu yang harus kamu tanyakan kepada Dimas.”
Aku tidak pernah menanyakannya.
Karena jawabannya datang sendiri.
Pengacaraku menemukan sebuah fakta yang jauh lebih buruk.
Dimas sebenarnya sudah memiliki pernikahan sah.
Tujuh tahun lalu.
Dengan Selma Kusumawardani.
Aku membaca dokumen itu tiga kali.
Tanggal pernikahan mereka tercatat dua tahun sebelum aku mengenal Dimas.
Statusnya belum pernah dibatalkan.
Selma bukan sekadar rekan bisnis.
Dia adalah istri sah Dimas.
Malam itu aku muntah di kamar mandi apartemen Intan.
Bukan karena masih mencintainya.
Tapi karena akhirnya aku memahami betapa rapi hidupku dibangun di atas kebohongan.
Dimas tidak pernah berniat menikahiku secara sah.
Tidak enam bulan kemudian.
Tidak setahun kemudian.
Tidak pernah.
Aku hanyalah perempuan yang ditempatkan di rumah keluarga Ardhana untuk memainkan peran istri sekaligus merawat ayahnya.
Sementara istri sebenarnya hidup di luar rumah, membangun karier, bepergian bersamanya, dan menunggu saat yang tepat untuk muncul.
Aku mengirim satu pesan kepada Dimas.
Besok malam. Rumah keluargamu. Semua harus hadir.
Dia membalas kurang dari semenit.
Jangan libatkan Ayah. Kondisinya belum pulih.
Aku menjawab.
Justru karena Ayah terlibat, beliau harus hadir.
Keesokan malam Pak Harun sudah pulang dari rumah sakit.
Beliau duduk di kursi roda di ujung meja makan.
Bu Rina berada di sebelahnya.
Tante Mira dan dua kerabat lain juga hadir.
Dimas duduk berhadapan denganku.
Selma ada di sampingnya.
Aku datang bersama pengacaraku.
Tidak ada yang menyentuh makanan.
Dimas akhirnya bicara.
“Kamu mau apa?”
Aku mengeluarkan Buku Nikah palsu dan meletakkannya di tengah meja.
Kemudian aku berkata satu kalimat.
“Mulai malam ini, berhenti memperkenalkan saya sebagai istri Dimas, karena istri sahnya sedang duduk di sebelahnya.”
Ruangan langsung sunyi.
Tante Mira menatap Selma.
Bu Rina menutup mulut.
Pak Harun memandang Dimas seolah baru saja mendengar sesuatu yang tidak pernah dia bayangkan.
Wajah Dimas mendadak pucat.
“Laras.”
Aku mengeluarkan salinan dokumen berikutnya.
Akta pernikahan Dimas dan Selma.
Bu Rina berdiri begitu cepat sampai kursinya bergeser.
“Kamu sudah menikah?”
Dimas tidak menjawab.
Selma justru menunduk.
Pak Harun memukul sandaran kursi rodanya.
“Kapan?”
Suara beliau serak.
“Tujuh tahun lalu,” jawabku.
Pak Harun memejamkan mata.
Saat itulah aku menyadari sesuatu.
Beliau memang tahu pernikahanku palsu.
Tapi beliau tidak tahu Dimas sudah memiliki istri.
Dimas ternyata menipu kami semua dengan tingkat kebohongan yang berbeda.
“Ayah,” katanya cepat, “dengarkan dulu.”
Pak Harun mengangkat tangan gemetar.
“Jadi ketika kamu memintaku menyetujui sandiwara itu… kamu sudah menikah?”
Dimas diam.
Tamparan datang dari Bu Rina.
Keras.
“Aku membantu kamu menipu Laras karena kamu bilang kamu mencintainya!”
Selma akhirnya berdiri.
“Cukup.”
Semua mata beralih kepadanya.
Wajahnya pucat, tetapi suaranya stabil.
“Dimas tidak menikahi saya karena cinta.”
Dimas menoleh tajam.
“Selma.”
“Sudah lima tahun kamu menyuruh semua orang diam.”
Dia mengeluarkan ponselnya.
Pernikahan mereka, katanya, awalnya adalah pernikahan yang didorong kepentingan bisnis dua keluarga. Setahun kemudian hubungan mereka memburuk dan mereka hidup terpisah.
Ketika Dimas bertemu denganku, dia ingin bercerai.
Tetapi ayah Selma memiliki saham dan piutang besar di perusahaan Ardhana.
Perceraian bisa memicu penarikan modal.
Karena itu Dimas mempertahankan pernikahan mereka secara hukum sambil membangun kehidupan lain bersamaku.
“Lalu Lombok?” tanyaku.
Selma menatapku.
“Saya pergi karena Dimas bilang perceraian kami akhirnya akan diproses setelah proyek selesai.”
Aku menatap Dimas.
“Dan ayam panggang madu?”
Selma tersenyum getir.
“Saya bahkan tidak pernah minta.”
Untuk pertama kalinya, aku hampir tertawa.
Betapa absurdnya.
Dua perempuan berdiri di ruangan yang sama, menyadari bahwa lelaki yang mereka pikir sedang memilih salah satu dari mereka sebenarnya hanya memilih dirinya sendiri.
Pak Harun menangis.
“Laras…”
Aku menatap beliau.
“Saya minta maaf,” katanya terbata. “Saya ikut membuat Buku Nikah itu. Saya pikir enam bulan kemudian semuanya akan diperbaiki.”
Aku menahan air mata.
“Enam bulan berubah menjadi lima tahun, Pak.”
Beliau menunduk.
“Saya tahu.”
“Dan selama lima tahun itu saya merawat Bapak.”
Air mata mengalir di pipinya.
“Saya tahu.”
Aku tidak membencinya.
Justru itu yang paling menyakitkan.
Aku mencintai lelaki tua itu seperti ayahku sendiri.
Namun kasih sayang tidak menghapus kesalahan.
“Aku tidak akan meminta kamu memaafkan saya,” katanya. “Tapi ada sesuatu yang harus kamu tahu.”
Bu Rina mengambil sebuah map lain.
Pak Harun ternyata telah mengubah surat wasiatnya tiga bulan sebelumnya.
Sebagian saham pribadinya yang semula akan diberikan kepada Dimas dialihkan ke sebuah yayasan rehabilitasi stroke yang baru akan dibentuk.
Dan aku ditunjuk sebagai salah satu pengelolanya.
Aku langsung menggeleng.
“Saya tidak mau.”
“Bukan untuk membayar lima tahun hidupmu,” kata Pak Harun. “Tidak ada uang yang bisa membeli itu.”
Beliau menarik napas.
“Ini karena selama lima tahun saya melihat siapa yang benar-benar menjadi keluarga ketika saya tidak punya apa-apa untuk diberikan.”
Dimas berdiri.
“Ayah, jangan membuat keputusan karena emosi.”
Pak Harun menatap anaknya.
“Saya justru terlambat membuat keputusan karena terlalu lama membiarkan emosi seorang ayah menutupi kesalahan anaknya.”
Malam itu tidak ada rekonsiliasi.
Tidak ada pelukan dramatis.
Aku pulang bersama pengacaraku.
Proses hukum berjalan.
Dimas akhirnya mundur sementara dari jabatan direktur setelah persoalan penggunaan dokumen palsu dan konflik internal perusahaan diketahui dewan komisaris.
Selma mengajukan perceraian.
Bu Rina meminta maaf kepadaku berkali-kali.
Aku tidak langsung memaafkannya.
Beberapa luka tidak membutuhkan kebencian, tetapi tetap membutuhkan jarak.
Aku kembali bekerja.
Enam bulan kemudian, aku memimpin proyek pertamaku sendiri setelah lima tahun.
Sebuah pusat rehabilitasi neurologis di Bandung.
Bukan proyek keluarga Ardhana.
Bukan pula proyek yayasan Pak Harun.
Proyek itu datang dari klien studio yang bahkan tidak mengetahui masa laluku.
Hari ketika presentasi desain disetujui, aku berdiri sendirian di depan jendela kantor.
Bandung diguyur hujan.
Ponselku berbunyi.
Pesan dari Bu Rina.
Ayah berhasil berdiri sendiri selama dua belas detik hari ini.
Di bawahnya ada video Pak Harun berpegangan pada parallel bar, berusaha mengangkat tubuhnya.
Tangannya gemetar.
Kakinya nyaris menyerah.
Namun beliau berdiri.
Aku menangis ketika melihatnya.
Bukan karena ingin kembali.
Bukan karena semua sudah kumaafkan.
Aku menangis karena akhirnya mengerti sesuatu.
Selama bertahun-tahun aku mengira cinta berarti bertahan.
Aku pikir menjadi istri berarti selalu siap dipanggil.
Mengangkat telepon.
Menyiapkan makanan.
Mengorbankan pekerjaan.
Merawat keluarga suami.
Mengalah setiap kali kebutuhan orang lain dianggap lebih penting daripada kebutuhanku sendiri.
Ternyata cinta tidak pernah seharusnya meminta seseorang menghilang dari hidupnya sendiri.
Setahun kemudian, pusat rehabilitasi yang kurancang resmi dibuka.
Di lobi utama terdapat dinding kayu dengan sebuah kalimat yang kupilih sendiri.
Tidak ada manusia yang seharusnya kehilangan hidupnya demi membuktikan bahwa ia mencintai seseorang.
Pak Harun datang ke acara pembukaan menggunakan tongkat.
Beliau tidak memanggilku menantu.
Aku juga tidak memanggilnya Ayah.
Kami hanya berdiri berhadapan seperti dua manusia yang pernah saling menyayangi sekaligus saling melukai.
“Bagus sekali tempatnya,” katanya.
“Terima kasih, Pak.”
Beliau tersenyum.
Kemudian menyerahkan sebuah amplop kecil.
Aku membukanya setelah beliau pergi.
Di dalamnya bukan uang.
Bukan saham.
Hanya kartu nama lamaku yang dulu pernah tertinggal di rumah keluarga Ardhana.
Laras Prameswari.
Interior Architect.
Di belakang kartu itu ada tulisan tangan Pak Harun yang gemetar.
Maaf karena keluarga kami membuatmu lupa siapa dirimu.
Aku memegang kartu itu lama sekali.
Lalu tersenyum.
Karena untuk pertama kalinya setelah lima tahun, nama yang tertulis di sana tidak terasa seperti seseorang dari masa lalu.
Itu aku.
