“Karena Mbak bukan perempuan pertama yang dia tinggalkan dengan tagihan.”
Aku menatap perempuan itu tanpa berkedip.
Suara musik dari panggung, teriakan pedagang, dan obrolan pengunjung bazar mendadak terasa menjauh. Yang kulihat hanya layar ponselnya.
Dimas.

Kemeja berbeda, restoran berbeda, tetapi senyum itu sama.
“Namaku Nisa,” katanya pelan. “Tiga bulan lalu aku dikenalkan kepadanya oleh Bu Ratna.”
Nama itu membuat tengkukku meremang.
“Bu Ratna juga?”
Nisa mengangguk.
“Tagihanku empat juta delapan ratus ribu. Dia bilang dompetnya tertinggal di mobil. Setelah itu hilang.”
Aku menatap ke panggung.
Dimas masih berbicara dengan percaya diri.
“Dalam usaha, reputasi tidak dibangun dalam sehari. Karena itu kita harus menjaga kejujuran.”
Beberapa orang bertepuk tangan.
Rasanya seperti menonton pencuri memberi seminar tentang keamanan rumah.
“Kenapa kamu tidak melaporkannya?” tanyaku.
“Aku mencoba.” Nisa menarik napas. “Tapi waktu itu aku malu. Bu Ratna bilang mungkin Dimas sedang ada masalah darurat. Dua hari kemudian Bu Sulastri meneleponku.”
“Ibunya?”
“Iya. Dia mengembalikan sebagian uang.”
Aku terdiam.
“Sebagian?”
“Dua juta. Tapi ada syaratnya. Aku tidak boleh membicarakan kejadian itu.”
“Dan kamu setuju?”
Nisa tersenyum getir.
“Waktu itu aku pikir selesai lebih baik daripada ribut. Sampai dua minggu lalu aku bertemu perempuan lain.”
Dia menggeser layar.
Foto percakapan WhatsApp muncul. Nama perempuan itu Livia.
Cerita yang sama.
Kencan buta.
Restoran mahal.
Dimas memesan berlebihan.
Bertanya soal pekerjaan, pendapatan, rumah, dan keluarga.
Kemudian menghilang.
Bedanya, tagihan Livia lebih dari tujuh juta.
Dadaku semakin sesak.
“Berapa orang?”
“Yang kutemukan?”
Nisa menatapku.
“Enam. Dengan Mbak, tujuh.”
Aku menggenggam struk di dalam tas.
Kemarahanku berubah bentuk.
Ini bukan lagi tentang Rp9.870.000.
“Kenapa dia melakukan ini?”
“Itulah yang belum kami tahu.”
Aku melihat Bu Sulastri berdiri tidak jauh dari panggung. Perempuan itu tertawa bersama beberapa tamu sambil sesekali memandang putranya dengan bangga.
“Dan ibunya tahu?”
Nisa tidak langsung menjawab.
“Aku curiga lebih dari sekadar tahu.”
Sebelum aku sempat bertanya, suara Dimas terdengar dari pengeras suara.
“Sekarang saya ingin mengundang Ketua Komunitas UMKM Cerdas Karangayu, sekaligus ibu yang selalu mengajarkan saya arti integritas, Ibu Sulastri.”
Tepuk tangan pecah.
Bu Sulastri naik ke panggung.
Nisa menarik tanganku.
“Kalau Mbak mau menghadapi mereka, sekarang.”
“Kamu tadi bilang jangan langsung naik.”
“Karena kalau cuma Mbak sendirian, mereka akan bilang ini salah paham.”
Dia mengangkat ponselnya.
“Tapi sekarang Mbak tidak sendirian.”
Kami berjalan mendekati panggung.
Aku tidak naik. Aku hanya berdiri di depan kerumunan dan menyalakan speaker portabel yang kubawa.
Suara dengung pendek membuat beberapa orang menoleh.
Dimas melihatku.
Wajahnya berubah seketika.
Hanya satu detik, tetapi aku melihat kepanikan itu.
Kemudian senyumnya kembali.
“Ratri?”
Bu Sulastri ikut menoleh.
Aku mengangkat mikrofon kecil.
“Maaf mengganggu acara. Saya cuma ingin bertanya kepada pembicara tentang kepercayaan dan etika transaksi.”
Pengunjung mulai diam.
Dimas turun satu anak tangga.
“Kita bicara di belakang saja.”
“Kenapa di belakang?”
“Ini acara umum.”
“Justru bagus. Tadi kamu menjelaskan kejujuran kepada umum.”
Wajahnya menegang.
Aku mengeluarkan struk.
“Kemarin malam kamu mengundang saya makan. Kamu memilih restoran. Kamu mengatakan berkali-kali bahwa kamu yang akan membayar. Kamu memesan makanan senilai sembilan juta delapan ratus tujuh puluh ribu rupiah, lalu keluar melalui lift servis dan memblokir nomor saya.”
Suasana langsung riuh.
Bu Sulastri merebut mikrofon panggung.
“Saudara-saudara, mohon jangan terprovokasi. Ini urusan pribadi.”
Aku mengangkat struk.
“Benar, Bu. Seharusnya pribadi. Sampai saya tahu saya bukan orang pertama.”
Nisa maju.
Wajah Bu Sulastri memucat.
“Kamu?”
Nisa tertawa hambar.
“Masih ingat saya, Bu?”
Dimas turun dari panggung.
“Nisa, jangan bikin keributan.”
“Kenapa? Takut?”
Nisa membuka foto di ponselnya dan menunjukkannya kepada orang-orang di barisan depan.
“Dia melakukan hal yang sama kepada saya.”
Bisik-bisik semakin keras.
Lalu sesuatu yang tidak kuduga terjadi.
Seorang perempuan dari stan makanan berjalan mendekat.
“Saya juga pernah.”
Semua kepala menoleh.
Perempuan itu mungkin berusia akhir dua puluhan.
“Nama saya Ayu. Saya dikenalkan Bu Ratna tahun lalu.”
Aku menatapnya.
“Berapa?”
“Tiga juta dua ratus.”
Dimas mulai kehilangan warna wajah.
Bu Sulastri berteriak, “Cukup!”
Tetapi satu suara lain muncul dari belakang.
“Saya tujuh juta seratus.”
Seorang perempuan berkacamata mengangkat tangan.
Nisa membisikkan, “Livia.”
Kini tidak ada lagi yang bisa menyebutnya salah paham.
Dimas mencoba mengambil speakerku.
Aku mundur.
“Jangan sentuh saya.”
“Ratri, kamu tidak tahu masalah sebenarnya.”
“Bagus. Jelaskan.”
Dimas menatap ibunya.
Dan tatapan itu aneh.
Bukan tatapan anak meminta bantuan.
Lebih seperti seseorang yang menunggu instruksi.
Bu Sulastri turun dari panggung.
“Semua perempuan ini akan mendapatkan uangnya kembali. Selesai.”
Aku menatapnya.
“Kenapa Ibu yang membayar?”
Dia terdiam.
“Karena saya ibunya.”
“Tidak. Kenapa Ibu tahu jumlahnya?”
Wajahnya membeku.
Aku belum pernah memberitahukan nominal tagihanku kepadanya.
Nisa langsung menyadarinya.
“Benar,” katanya. “Mbak Ratri belum menyebut jumlah saat bicara dengan Ibu.”
Bu Sulastri salah langkah.
Dimas berbisik, “Ma.”
Aku mendekati mereka.
“Semalam ada pesan dari Ibu di ponsel Dimas. Kalau profilnya cocok, jangan lupa tanyakan rumah.”
Beberapa orang langsung berseru.
Bu Sulastri mencoba tertawa.
“Orang tua bertanya kondisi calon menantu itu wajar.”
“Mungkin. Tapi kenapa semua korbannya perempuan bekerja?”
Aku menoleh kepada Nisa.
“Pekerjaanmu?”
“Apoteker.”
Livia menjawab dari belakang, “Manajer keuangan.”
Ayu berkata, “Saya punya toko kosmetik.”
Aku kembali menatap Dimas.
“Perempuan mandiri. Punya penghasilan. Sebagian anak tunggal. Dipilih lewat perantara yang sama.”
Tiba-tiba terdengar suara dari sisi bazar.
“Jangan bawa nama saya!”
Bu Ratna muncul.
Entah sejak kapan dia berada di sana.
Ibu mengenalkanku kepada Dimas melalui perempuan itu, dan sekarang wajahnya terlihat seperti orang yang baru menyadari sebuah pintu keluar telah terkunci.
Aku mengangkat mikrofon.
“Bagus, Bu Ratna datang. Jadi bisa menjelaskan.”
“Saya cuma mengenalkan!”
“Berapa kali?”
Tidak ada jawaban.
Nisa maju.
“Tujuh yang kami tahu.”
Bu Ratna menggeleng cepat.
“Saya tidak tahu Dimas begini.”
Dimas mendadak tertawa.
Bukan tawa ramah yang kudengar di restoran.
Tawa pendek dan pahit.
“Jangan bohong, Bu.”
Semua orang terdiam.
Bu Ratna menatapnya tajam.
“Diam.”
Dimas justru mengambil mikrofon dari meja panitia.
“Kenapa saya harus diam? Kalau saya jatuh, kalian juga ikut.”
Bu Sulastri menampar lengannya.
“Dimas!”
Namun semuanya terlambat.
“Apa sebenarnya yang kalian lakukan?” tanyaku.
Dimas menatapku.
Untuk pertama kalinya aku melihat laki-laki yang berbeda. Tidak ada lagi jam tangan mengilap, kunci mobil, atau gaya percaya diri.
Hanya seseorang yang terpojok.
“Awalnya bukan soal makan.”
Dia menunjuk Bu Ratna.
“Dia yang mencari perempuan.”
Bu Ratna mundur.
“Dimas!”
“Perempuan dengan pekerjaan tetap, tabungan, rumah keluarga, atau usaha.”
Darahku terasa dingin.
“Untuk apa?”
Dimas tertawa getir.
“Untuk calon investor.”
Beberapa pengunjung saling pandang.
Bu Sulastri menutup mata.
Sedikit demi sedikit cerita itu keluar.
Bu Sulastri menjalankan koperasi investasi tidak resmi dengan beberapa anggota komunitas. Mereka menawarkan modal usaha dengan keuntungan tinggi. Tahun sebelumnya, sejumlah usaha gagal dan uang anggota tidak bisa dikembalikan.
Mereka membutuhkan dana baru.
Bu Ratna mencari perempuan lajang yang dianggap memiliki kondisi finansial baik. Dimas mendekati mereka.
Kalau hubungan berkembang, perempuan itu akan diperkenalkan pada usaha keluarga dan perlahan diajak menanamkan modal.
“Lalu tagihan restoran?” tanyaku.
Dimas mengusap wajah.
“Itu tes.”
Aku hampir tidak percaya.
“Tes?”
“Kalau perempuan bisa membayar beberapa juta tanpa membuat masalah besar, berarti dia punya uang dan cenderung menghindari konflik.”
Nisa menutup mulut.
Aku merasakan mual.
Jadi penghinaan itu bukan tujuan utama.
Itu penyaringan.
“Dan kalau perempuan ribut?”
“Dicoret.”
“Kalau diam?”
Dimas tidak menjawab.
Bu Sulastri akhirnya berkata pelan, “Didekati lagi.”
Suasana bazar berubah kacau.
Beberapa anggota komunitas mulai bertanya soal uang mereka.
Seorang pedagang berteriak bahwa simpanannya belum dikembalikan selama enam bulan.
Yang lain menyebut angka puluhan juta.
Bu Sulastri berusaha pergi, tetapi panitia sendiri menahannya.
Aku segera menelepon polisi.
Bukan hanya aku.
Beberapa korban melakukan hal yang sama.
Pemeriksaan yang berlangsung setelah hari itu jauh lebih besar daripada yang kubayangkan.
Aku, Nisa, Livia, dan beberapa perempuan lain menyerahkan bukti percakapan, pembayaran restoran, serta riwayat perkenalan dari Bu Ratna.
Dari sana ditemukan pola yang jauh lebih rapi.
Bukan semua perempuan berhasil dijadikan investor. Sebagian mundur setelah kencan pertama. Sebagian berhenti setelah insiden tagihan.
Tetapi dua orang ternyata pernah menyerahkan uang.
Salah satunya hampir seratus lima puluh juta rupiah.
Koperasi tidak resmi itu kemudian diperiksa, begitu pula aliran dananya.
Beberapa minggu setelah kejadian bazar, Dimas meminta bertemu denganku dengan pendamping hukum.
Aku datang bukan karena kasihan.
Aku ingin mendengar satu jawaban.
“Kenapa kamu kabur malam itu?”
Dia menunduk.
“Karena kamu membaca pesan Mama.”
Aku terdiam.
“Kamu tahu?”
“Aku lihat wajahmu berubah.”
“Jadi kamu sengaja meninggalkanku?”
Dia mengangguk.
“Kalau kamu membayar dan diam, Mama masih mungkin menyuruhku menghubungimu lagi setelah beberapa minggu. Kalau kamu bikin masalah, kami anggap kamu terlalu berisiko.”
Aku menatap laki-laki itu lama sekali.
“Dimas, kamu sadar kamu memperlakukan manusia seperti laporan kelayakan kredit?”
Dia tidak menjawab.
Sebelum aku berdiri, dia berkata, “Ratri.”
Aku berhenti.
“Maaf.”
Aku menatapnya.
Anehnya aku tidak marah lagi.
“Maaf itu untuk kesalahan,” kataku. “Yang kamu lakukan adalah pilihan. Berkali-kali.”
Aku pergi.
Tiga bulan kemudian, sebagian uang korban mulai diproses melalui jalur hukum. Kasus mereka masih berjalan, tetapi setidaknya semuanya sudah terbuka.
Nisa justru menjadi temanku.
Kadang kami masih tertawa ketika mengingat bagaimana pertama kali bertemu.
“Bayangkan kalau waktu itu aku telat lima menit,” katanya suatu sore.
“Mungkin aku sudah naik panggung sambil teriak-teriak.”
“Dan mereka akan menyebutmu mantan gebetan sakit hati.”
Aku tertawa.
“Padahal belum sempat jadi gebetan.”
Ibu juga berubah.
Suatu Minggu pagi, ketika kami sedang makan buah di teras, dia tiba-tiba berkata, “Rat.”
“Hm?”
“Ibu tidak akan menerima foto calon menantu dari siapa pun lagi.”
Aku menatapnya curiga.
“Serius?”
“Serius.”
“Bu Ratna membuat Ibu kapok?”
Ibu mendengus.
“Bukan. Tagihan hampir sepuluh juta itu yang membuat Ibu kapok.”
Kami tertawa bersama.
Kemudian Ibu menggenggam tanganku.
“Ibu dulu terlalu takut kamu sendirian sampai lupa bahwa menikah dengan orang yang salah jauh lebih sepi daripada hidup sendiri.”
Aku tidak menjawab.
Aku hanya menggenggam tangannya kembali.
Beberapa hari kemudian, manajer restoran menghubungiku. Dia mengatakan ada dokumen yang belum pernah kuambil.
Aku datang sepulang kerja.
Dia menyerahkan sebuah amplop.
Di dalamnya ada salinan formulir reservasi Dimas.
Di bagian catatan khusus pelanggan terdapat satu kalimat yang ditulis ketika Dimas datang sore sebelum kencan kami.
Jika perempuan menolak membayar, hubungi nomor berikut.
Nomor yang tercantum di sana bukan milik Bu Sulastri.
Bukan pula milik Dimas.
Itu nomor Bu Ratna.
Aku menatap kertas itu cukup lama.
Ternyata sejak sebelum aku duduk di meja restoran, mereka sudah mempersiapkan dua kemungkinan.
Aku membayar dan dianggap layak menjadi sasaran berikutnya.
Atau aku menolak dan Bu Ratna datang menyelesaikan tagihan agar skema mereka tetap tersembunyi.
Mereka hanya melakukan satu kesalahan.
Mereka mengira karena aku mampu membayar, aku juga akan memilih diam.
Aku melipat kertas itu dan memasukkannya ke dalam tas untuk diserahkan kepada penyidik.
Saat keluar dari restoran, aku melewati meja yang dulu kutempati bersama Dimas.
Meja itu kini diisi pasangan tua yang sedang berbagi satu piring pencuci mulut. Mereka tertawa kecil sambil saling menyuapi.
Aku tersenyum.
Hari itu aku akhirnya mengerti sesuatu.
Harga sebuah makan malam bisa hampir sepuluh juta rupiah.
Tetapi harga untuk mengetahui watak seseorang kadang jauh lebih murah daripada menjalani hidup bertahun-tahun bersamanya.
Dan untuk pertama kalinya, aku merasa tagihan malam itu bukan uang yang hilang.
Itu biaya yang menyelamatkanku tepat waktu.
