“Tidak akan pernah.”
Dua kata itu membuat Bu Hartini merasa seluruh udara di dalam rumah mendadak lenyap.
Tangannya yang masih mencengkeram kerah Rendy perlahan terlepas. Ia mundur satu langkah, menatap menantunya seolah sedang melihat orang asing.
Lima tahun.
Selama lima tahun pria itu datang ke rumahnya, duduk di meja yang sama, memakan masakannya, menaruh bunga di depan foto Maya, bahkan sesekali berkata bahwa ia masih belum sanggup menikah lagi karena terlalu mencintai istrinya.
Ternyata selama itu pula Maya masih hidup.
Dan sekarang, kurang dari dua jam lagi, putrinya akan dibawa pergi untuk selamanya.
“Pak Wijaya,” kata Bu Hartini dengan suara serak. “Kita berangkat sekarang.”
Iptu Wijaya mengangguk. Ia segera menghubungi polres setempat dan meminta bantuan tim menuju rumah lama milik Bu Mirna di Purwakarta.
Rendy dan Bu Mirna dibawa menggunakan kendaraan terpisah. Bu Hartini ikut bersama Bambang dan Iptu Wijaya.
Sepanjang perjalanan, Bu Hartini tak berhenti menggenggam ujung bajunya sendiri.
Jalanan sore terasa terlalu padat.
Setiap lampu merah terasa seperti penyiksaan.
Pukul 17.12 ketika mobil mereka keluar dari jalan utama dan masuk ke kawasan perkebunan tua yang mulai jarang dihuni.
Rumah Bu Mirna berdiri di ujung jalan kecil berbatu.
Bangunannya tampak sederhana dari luar, tetapi halaman belakangnya luas dan dikelilingi pagar seng tinggi.
“Tidak terlihat seperti tempat orang tinggal,” gumam Bambang.
Benar.
Tak ada jemuran.
Tak ada kendaraan.
Tak ada suara televisi.
Jendela lantai bawah bahkan ditutup dengan papan dari dalam.
Seorang petugas mendobrak pintu depan.
“Polisi!”
Tidak ada jawaban.
Mereka masuk.
Ruang tamu dipenuhi debu. Sofa ditutupi kain. Dapur hampir kosong.
Seolah rumah itu sengaja dibuat terlihat tak berpenghuni.
Bu Hartini berjalan cepat sambil memanggil.
“Maya!”
Tidak ada jawaban.
“Maya! Ini Ibu!”
Suara Bu Hartini pecah.
Tiba-tiba terdengar bunyi dari belakang rumah.
Sebuah pintu terbanting.
“Belakang!” teriak seorang polisi.
Dua petugas berlari keluar dan menemukan seorang pria bertubuh besar mencoba memanjat pagar.
Ia berhasil ditangkap sebelum mencapai sisi luar.
Pria itu bernama Herman.
Di sakunya ditemukan ponsel, uang tunai, dan kunci-kunci.
“Di mana perempuan yang kalian tahan?” tanya Iptu Wijaya.
Herman menggeleng.
“Saya cuma menjaga rumah.”
Iptu Wijaya menunjukkan salah satu foto Maya.
“Di mana dia?”
“Saya tidak tahu.”
Bu Hartini mendekat.
“Kalau anak saya hilang karena kamu menutup mulut, saya akan pastikan kamu menjelaskan semuanya di pengadilan.”
Herman menatap wajah Bu Hartini beberapa detik.
Lalu matanya bergerak ke jam dinding.
17.25.
Ekspresinya berubah.
“Gudang.”
“Gudang mana?”
“Yang belakang.”
Semua orang bergerak cepat.
Di belakang rumah terdapat sebuah bangunan kecil seperti gudang penyimpanan.
Pintu besinya dikunci dengan dua gembok.
Salah satu petugas memotong rantainya.
Pintu dibuka.
Ruangan di dalam kosong.
Hanya ada lemari besi tua dan tumpukan kardus.
Bu Hartini membeku.
“Dia bohong.”
“Tidak,” kata seorang petugas sambil mengamati lantai.
Ada bekas gesekan di bawah lemari.
Mereka mendorong lemari itu bersama-sama.
Di belakangnya terdapat pintu kayu kecil setinggi pinggang.
Saat pintu itu dibuka, terlihat tangga sempit menuju bawah tanah.
Bu Hartini langsung hendak turun.
“Bu, tunggu.”
“Saya tidak bisa menunggu lagi.”
Ia menuruni tangga.
Bau lembap bercampur obat-obatan langsung menusuk hidung.
Lorong bawah tanah itu hanya diterangi dua lampu kuning redup.
Ada tiga pintu besi.

Pintu pertama kosong.
Pintu kedua berisi botol-botol obat, perban, dan beberapa jeriken air.
Lalu mereka membuka pintu ketiga.
Bu Hartini berhenti bernapas.
Di sudut ruangan, seorang wanita kurus meringkuk sambil memeluk lutut.
Rambutnya panjang menutupi sebagian wajah.
Pergelangan kaki kirinya terikat rantai tipis yang tersambung pada cincin besi di lantai.
“Maya…”
Wanita itu tidak bergerak.
Bu Hartini melangkah masuk perlahan.
“Maya, Sayang…”
Kepala wanita itu terangkat.
Matanya kosong.
Ia menatap Bu Hartini cukup lama tanpa ekspresi.
Kemudian bibirnya bergerak.
“Ibu saya sudah pindah.”
Bu Hartini menutup mulutnya.
Dadanya terasa ditusuk.
“Itu bohong.”
Wanita itu mundur, tubuhnya menempel pada dinding.
“Jangan dekat-dekat.”
“Maya, lihat Ibu.”
“Nama saya bukan Maya.”
Bu Hartini jatuh berlutut.
Air mata mengalir tanpa bisa dihentikan.
“Waktu kamu kecil, kamu takut suara petir.”
Wanita itu diam.
“Kalau hujan besar, kamu selalu masuk ke kamar Ibu sambil membawa bantal warna kuning.”
Tatapan Maya perlahan berubah.
“Kamu suka mengambil mangga muda dari belakang rumah lalu makan pakai garam.”
Maya berkedip.
“Dan kalau kamu sedang sedih, kamu selalu menggigit bagian dalam pipi sebelah kanan.”
Tanpa sadar, Maya sedang melakukan hal itu.
Tubuhnya mulai bergetar.
Bu Hartini merangkak mendekat.
“Ibu tidak pindah, Nak. Ibu tidak pernah meninggalkan kamu.”
Maya menatap wajahnya.
Lalu tangannya perlahan terangkat.
Jari-jarinya menyentuh pipi Bu Hartini.
“Ibu?”
Satu kata itu menghancurkan seluruh pertahanan Bu Hartini.
Ia memeluk putrinya.
Maya awalnya kaku.
Namun beberapa detik kemudian, tubuh kurus itu mendadak ambruk dalam pelukan ibunya.
Tangis yang keluar bukan tangis biasa.
Itu seperti suara seseorang yang menahan penderitaan selama bertahun-tahun dan akhirnya menemukan tempat aman.
“Ibu…”
“Ya.”
“Ibu…”
“Ibu di sini.”
“Mereka bilang Ibu tidak mau bertemu aku.”
Bu Hartini memeluknya semakin erat.
“Mereka bohong.”
“Mereka bilang aku gila.”
“Kamu tidak gila.”
“Mereka bilang aku membahayakan semua orang.”
“Tidak.”
“Mereka bilang kalau aku keluar, polisi akan menangkapku.”
Bu Hartini mencium kepala putrinya berkali-kali.
“Tidak ada yang akan membawa kamu pergi lagi.”
Petugas medis kemudian membuka rantai di kaki Maya dan membawanya keluar menggunakan tandu.
Pukul menunjukkan 17.48.
Mereka berhasil menemukannya dua belas menit sebelum waktu pemindahan.
Namun Iptu Wijaya tidak terlihat lega.
Ia masih berada di ruang penyimpanan obat.
Di sana ditemukan sesuatu yang membuat kasus tersebut berubah jauh lebih besar.
Dokumen medis.
Bukan satu atau dua.
Puluhan.
Semua menggunakan nama Maya.
Beberapa memiliki cap klinik.
Ada surat diagnosis gangguan psikotik.
Ada formulir persetujuan rawat paksa.
Ada catatan bahwa Maya pernah mencoba menyerang suaminya.
Semuanya terlihat resmi.
Namun ada satu masalah.
Tanda tangan Bu Hartini sebagai wali keluarga tercantum di banyak halaman.
“Saya tidak pernah menandatangani ini,” katanya.
Iptu Wijaya mengangguk.
“Berarti ada pemalsuan dokumen.”
Mereka kemudian menemukan map lain.
Isinya menjelaskan motif yang selama lima tahun tidak pernah diketahui Bu Hartini.
Sebelum dinyatakan meninggal, Maya ternyata merupakan pemegang saham di sebuah perusahaan distribusi milik keluarga mendiang ayahnya.
Nilainya tidak sedikit.
Ayah Maya meninggalkan dua bidang tanah industri dan saham perusahaan kepada putrinya.
Rendy mengelola sebagian aset tersebut setelah menikah.
Namun untuk menguasainya sepenuhnya, ia membutuhkan tanda tangan Maya.
Dan Maya menolak.
Lima tahun sebelumnya, Maya menemukan bahwa Rendy dan Bu Mirna diam-diam menjaminkan salah satu aset untuk menutup utang bisnis keluarga mereka.
Maya mengancam melaporkannya.
Dua hari kemudian, kecelakaan itu terjadi.
“Kecelakaannya palsu?” tanya Bu Hartini.
Iptu Wijaya menatap dokumen di tangannya.
“Mobil memang jatuh ke jurang. Tapi kemungkinan besar Maya tidak pernah berada di dalamnya.”
Rendy ternyata menggunakan mobil lain untuk membawa Maya ke rumah Bu Mirna.
Sementara mobil Maya sengaja dijatuhkan ke jurang setelah sebelumnya dibakar.
Peti yang dikuburkan?
Kosong.
Mereka bahkan menemukan tagihan pembuatan peti dan surat kematian palsu yang diurus melalui seorang oknum pegawai administrasi.
Bu Hartini hampir tidak mampu mendengarnya.
Kejahatan itu begitu rapi.
Begitu sabar.
Begitu terencana.
Namun pertanyaan terbesar belum terjawab.
Mengapa Rendy masih mempertahankan Maya hidup-hidup selama lima tahun jika tujuan mereka hanya menguasai hartanya?
Jawaban itu baru muncul malamnya.
Di rumah sakit, setelah dokter memastikan kondisi Maya stabil, seorang penyidik berbicara perlahan dengannya.
Maya masih lemah akibat penggunaan obat penenang dalam waktu lama.
Ingatan tertentu terasa kabur.
Namun ia mengingat satu hal dengan jelas.
“Mereka butuh tanda tangan saya setiap beberapa bulan.”
“Untuk apa?”
“Dokumen perusahaan.”
Maya memejamkan mata.
“Kalau saya menolak, dosis obat ditambah.”
Rendy ternyata tidak bisa mengalihkan seluruh aset sekaligus tanpa memicu pemeriksaan.
Selama bertahun-tahun ia menggunakan Maya sebagai penandatangan hidup.
Ketika membutuhkan persetujuan tertentu, Maya dibawa dalam kondisi lemah, disuruh menandatangani, kemudian dikurung kembali.
“Kenapa sekarang mau dipindahkan?” tanya penyidik.
Maya mulai menangis.
“Karena minggu lalu saya mendengar Herman bicara lewat telepon.”
Ia berhenti sejenak.
“Katanya ada audit.”
Audit internal perusahaan akan dilakukan.
Beberapa transaksi besar berpotensi terbongkar.
Rendy dan Bu Mirna memutuskan Maya sudah menjadi risiko.
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah lima tahun, Bu Hartini melihat putrinya tidur tanpa rantai.
Ia duduk di kursi rumah sakit sampai pagi.
Sesekali Maya terbangun dengan panik.
Setiap kali itu terjadi, Bu Hartini hanya menggenggam tangannya.
“Aku takut tidur,” bisik Maya.
“Kenapa?”
“Kalau aku bangun, takutnya Ibu sudah tidak ada.”
Bu Hartini merasakan tenggorokannya tercekat.
“Ibu tidak ke mana-mana.”
Penyelidikan kemudian berkembang cepat.
Herman bersedia bekerja sama setelah mengetahui Rendy mencoba menyalahkan seluruh pengurungan kepada dirinya.
Ia membongkar keberadaan seorang dokter ilegal yang memasok obat penenang.
Polisi juga menemukan dua orang lain yang pernah bergantian menjadi penjaga.
Rekening perusahaan Rendy dibekukan.
Sejumlah aset disita.
Bu Mirna tetap keras kepala selama pemeriksaan.
Ia bahkan mengatakan bahwa semua itu dilakukan demi menyelamatkan anaknya dari kebangkrutan.
“Cuma karena uang?” tanya penyidik.
Bu Mirna menjawab dingin.
“Orang yang tidak pernah punya apa-apa tidak akan mengerti rasa takut kehilangan segalanya.”
Ketika ucapan itu diceritakan kepada Bu Hartini, ia hanya menggeleng.
“Dia benar tentang satu hal.”
“Apa?”
“Dia takut kehilangan segalanya.”
Bu Hartini menatap Maya yang sedang menjalani terapi di ruang sebelah.
“Dan sekarang dia memang kehilangan segalanya.”
Namun kejutan terakhir terjadi tiga bulan kemudian.
Saat pemindahan makam dilakukan untuk kepentingan penyidikan, peti yang selama lima tahun dianggap sebagai makam Maya dibuka.
Seperti dugaan polisi, peti itu kosong.
Hanya terdapat beberapa pakaian lama Maya dan sebuah tas kecil.
Di dalam tas itu ada amplop.
Sudah menguning karena kelembapan.
Nama Bu Hartini tertulis di depan dengan tulisan tangan Maya.
“Ibu.”
Tidak ada yang mengerti bagaimana surat itu bisa berada di dalam peti.
Sampai Maya melihatnya.
Wajahnya langsung berubah.
“Aku menulis ini sebelum mereka membawa aku.”
Ternyata pada malam penculikan, Maya sempat menyadari bahwa sesuatu buruk akan terjadi.
Ia menulis surat singkat dan menyembunyikannya di tas.
Namun Rendy menemukannya.
Entah karena kesombongan atau keyakinan bahwa rahasianya tak akan terbongkar, ia memasukkan tas tersebut ke peti kosong sebagai bagian dari barang-barang yang dianggap milik orang mati.
Bu Hartini membuka surat itu dengan tangan gemetar.
Tulisan di dalamnya hanya beberapa kalimat.
“Bu, kalau suatu hari Ibu membaca ini, mungkin aku tidak bisa pulang sendiri. Aku menemukan sesuatu tentang Rendy. Aku takut. Tapi yang paling aku takutkan bukan mati. Aku takut Ibu mengira aku pergi tanpa ingin kembali.”
Bu Hartini tidak mampu melanjutkan.
Maya mengambil surat itu perlahan.
Mata mereka bertemu.
“Aku selalu ingin pulang, Bu.”
Bu Hartini memeluknya.
“Akhirnya kamu pulang.”
Setahun kemudian, rumah tua Bu Mirna dijual setelah proses hukum selesai.
Maya menolak mengambil uang hasil penjualan bagian aset Rendy yang dikembalikan kepadanya.
Sebagian besar ia gunakan untuk mendirikan lembaga bantuan hukum dan pendampingan bagi korban kekerasan domestik yang dikurung, diisolasi, atau dibuat tidak berdaya secara ekonomi oleh keluarga sendiri.
Ia belum sepenuhnya pulih.
Ada malam-malam ketika suara kunci masih membuat tubuhnya gemetar.
Ada ruangan tanpa jendela yang tak sanggup ia masuki.
Ada hari-hari ketika ia bertanya berulang kali kepada ibunya apakah semua ini nyata.
Namun setiap pagi, Bu Hartini membuka tirai kamar Maya lebar-lebar agar sinar matahari masuk.
Suatu pagi Maya berdiri di depan jendela cukup lama.
Tidak ada jeruji.
Tidak ada papan.
Tidak ada gembok.
Ia menoleh kepada ibunya.
“Bu.”
“Ya?”
“Dulu aku selalu menghitung suara motor yang lewat dari bawah tanah.”
“Kenapa?”
“Supaya aku tahu dunia di luar masih ada.”
Bu Hartini menahan air mata.
Maya tersenyum kecil.
Sekarang wajahnya masih kurus, tetapi matanya tidak lagi kosong.
“Sekarang aku tidak perlu menghitung lagi.”
Ia membuka jendela.
Suara kendaraan, pedagang sayur, anak sekolah, dan orang-orang yang memulai hari masuk memenuhi kamar.
Maya menarik napas panjang.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, suara dunia tidak lagi terdengar dari balik dinding.
Ia berdiri di tengahnya.
