HP MENANTUKU TERTINGGAL DI DAPUR… SATU PESAN SINGKAT MEMBONGKAR RAHASIA MENGERIKAN: PUTRIKU YANG KATANYA SUDAH MENINGGAL 5 TAHUN LALU TERNYATA MASIH HIDUP DAN DISEKAP!

Mobil polisi melaju meninggalkan rumah Bu Hartini ketika jarum jam menunjukkan pukul 16.38.

Di kursi belakang, Bu Hartini duduk dengan kedua tangan saling menggenggam begitu erat sampai buku-buku jarinya memutih. Bambang berada di sebelahnya, sementara Iptu Wijaya duduk di depan, terus berkomunikasi dengan tim dari Polres Purwakarta.

Rendy dan Bu Mirna dibawa menggunakan kendaraan terpisah.

Sejak keluar dari rumah, Bu Hartini tidak lagi menangis.

Matanya hanya memandang lurus ke depan.

Lima tahun.

Selama lima tahun ia percaya anaknya telah terkubur di bawah tanah.

Selama lima tahun ia merayakan ulang tahun Maya seorang diri, memasak sayur asem kesukaan putrinya, lalu meletakkannya di meja makan meskipun tidak ada siapa pun yang akan menyentuh makanan itu.

Dan selama lima tahun pula, Maya ternyata berada tidak terlalu jauh darinya.

Hidup.

Menderita.

Menunggu seseorang menemukannya.

“Tin.”

Bambang menyentuh pelan lengannya.

Bu Hartini menoleh.

“Kita akan menemukan Maya.”

Bu Hartini menarik napas panjang.

“Aku takut terlambat.”

“Belum.”

Suara Iptu Wijaya terdengar dari depan.

“Kita sudah minta tim terdekat mengepung lokasi. Jalan keluar dari rumah itu juga sedang dipantau.”

Bu Hartini mengangguk, tetapi kegelisahan di wajahnya tidak berkurang.

Perjalanan yang biasanya hanya memakan waktu sekitar empat puluh menit terasa seperti berjam-jam.

Ketika akhirnya mobil memasuki sebuah jalan kecil di pinggiran Purwakarta, matahari sudah turun semakin rendah.

Rumah Bu Mirna berdiri di ujung jalan.

Bangunan dua lantai yang tampak tua, dengan pagar besi tinggi dan halaman ditumbuhi rumput liar.

Sekilas tidak ada sesuatu yang mencurigakan.

Hanya rumah kosong yang jarang ditempati.

Namun di depan pagar, sudah ada empat mobil polisi tanpa sirene.

Beberapa petugas bersenjata berdiri di sisi bangunan.

Seorang perwira berlari menghampiri Iptu Wijaya.

“Pak, ada satu mobil Avanza hitam di belakang rumah. Mesin masih hangat. Sepertinya mereka memang bersiap pergi.”

“Orang di dalam?”

“Setidaknya dua pria. Sudah kami amankan. Satu lagi sempat mencoba kabur lewat kebun.”

Bu Hartini langsung turun.

“Anak saya?”

Petugas itu menatapnya sesaat.

“Kami belum menemukan ruang bawah tanah, Bu.”

Bu Hartini hampir jatuh.

Untung Bambang segera menopang bahunya.

Iptu Wijaya memberi perintah cepat.

“Cari pintu tersembunyi. Periksa gudang, dapur, garasi, semuanya.”

Mereka memasuki rumah.

Bau lembap langsung memenuhi hidung.

Perabotan di ruang tamu ditutupi kain putih. Sebagian dinding sudah berjamur. Tidak ada tanda-tanda rumah itu dihuni secara normal.

Namun di dapur terdapat beberapa bungkus makanan baru, gelas plastik, dan sebuah teko berisi air hangat.

Artinya, seseorang memang tinggal di sana.

Bu Hartini berjalan dari satu ruangan ke ruangan lain sambil memanggil.

“Maya!”

Tidak ada jawaban.

“Maya! Ini Ibu, Nak!”

Suaranya menggema.

Bambang mengetuk dinding, memeriksa lemari, bahkan menarik karpet-karpet yang menutupi lantai.

Seorang petugas menemukan sebuah pintu gudang di belakang dapur.

Di dalamnya hanya ada rak perkakas.

Tetapi Iptu Wijaya memperhatikan sesuatu.

Lantai semen di bagian kiri tampak lebih bersih dibandingkan bagian lainnya.

Ia menggeser rak besi.

Di balik rak itu terdapat sebuah pintu kayu rendah yang hampir menyatu dengan dinding.

Terkunci.

Bu Hartini membeku.

“Itu…”

Bambang langsung mengambil linggis dari salah satu petugas.

“Geser.”

Tiga kali pukulan keras akhirnya mematahkan gembok.

Ketika pintu dibuka, terlihat anak tangga sempit menuju ke bawah.

Udara dingin bercampur bau obat menusuk dari dalam.

Bu Hartini hendak turun, tetapi Iptu Wijaya menahannya.

“Biar kami dulu.”

Dua petugas turun membawa senter.

Beberapa detik terasa sangat panjang.

Lalu suara mereka terdengar.

“Ada ruangan di bawah!”

Disusul suara lain.

“Pak! Kami menemukan seseorang!”

Bu Hartini tidak lagi bisa ditahan.

Ia menuruni tangga dengan tubuh gemetar.

Di ujung lorong sempit terdapat sebuah pintu besi.

Seorang petugas baru saja memotong rantai menggunakan alat pemotong.

Ketika pintu terbuka, cahaya senter menerangi ruangan semen yang sama persis dengan foto di ponsel Rendy.

Kasur tipis.

Ventilasi kecil.

Botol air.

Beberapa mangkuk plastik.

Dan seorang perempuan duduk meringkuk di sudut.

Bu Hartini berhenti bernapas.

Perempuan itu jauh lebih kurus daripada Maya yang ia kenal.

Wajahnya cekung.

Rambutnya panjang tidak terurus.

Pergelangan tangannya penuh bekas luka.

Namun ketika perempuan itu perlahan mengangkat kepala, dunia Bu Hartini seolah berhenti bergerak.

Tatapan itu.

Meski kosong dan penuh ketakutan, Bu Hartini mengenalnya.

“Maya…”

Perempuan tersebut mundur cepat.

“Jangan.”

Suaranya serak.

“Jangan suntik saya lagi.”

Bu Hartini langsung menutup mulut, berusaha menahan tangis.

Ia berjongkok beberapa meter di depan Maya.

“Ini Ibu, Nak.”

Maya menatapnya lama.

Seolah berusaha mengingat sesuatu dari kehidupan yang sudah sangat jauh.

Bu Hartini mengangkat tangan, menunjukkan gelang emas kecil yang selalu ia kenakan.

“Lihat gelang Ibu.”

Mata Maya bergerak ke gelang tersebut.

Di bagian tengahnya terdapat ukiran bunga melati kecil.

Saat Maya berusia tujuh tahun, ia pernah menjatuhkan gelang itu ke selokan saat bermain hujan.

Ayahnya menghabiskan hampir dua jam membongkar tutup drainase untuk mengambilnya kembali.

Bibir Maya mulai bergetar.

“Ibu…?”

Bu Hartini tidak sanggup lagi menahan diri.

“Iya.”

Air matanya jatuh.

“Ibu datang, Nak.”

Tubuh Maya gemetar hebat.

Lalu perempuan itu merangkak maju dan memeluk Bu Hartini.

Tangis mereka pecah bersamaan.

Maya menggenggam baju ibunya seolah takut perempuan itu akan hilang jika dilepaskan.

“Ibu masih hidup…”

Bu Hartini terkejut.

“Tentu Ibu masih hidup.”

“Mereka bilang Ibu sudah meninggal.”

Suara Maya nyaris tidak terdengar.

“Mereka bilang semua orang sudah meninggal.”

Bambang yang berdiri di belakang langsung membalikkan wajah.

Matanya merah.

Tim medis segera membawa Maya ke ambulans.

Dokter menemukan tanda malnutrisi berat, dehidrasi kronis, serta kemungkinan ketergantungan terhadap obat penenang yang diberikan dalam waktu panjang.

Namun kondisi fisiknya stabil.

Maya masih hidup.

Dan untuk Bu Hartini, hanya itu yang penting saat itu.

Beberapa jam berikutnya membuka rahasia yang lebih mengerikan.

Dua pria yang ditangkap di rumah Bu Mirna mengaku dibayar sebagai penjaga.

Mereka mengatakan Maya tidak pernah diperbolehkan keluar tanpa obat penenang.

Setiap kali berteriak, dosisnya ditambah.

Setiap kali mencoba kabur, jendela dan pintu diperkuat.

Namun motif sebenarnya baru diketahui setelah polisi memeriksa dokumen keuangan di rumah itu.

Lima tahun sebelumnya, Maya ternyata menemukan bahwa Rendy memiliki utang bisnis dalam jumlah sangat besar.

Rendy menggunakan nama Maya untuk mengajukan pinjaman dengan menjaminkan tanah warisan keluarga.

Lebih buruk lagi, ia memalsukan tanda tangan istrinya untuk memindahkan kepemilikan dua bidang tanah milik Bu Hartini.

Ketika Maya mengetahui semuanya, ia berniat melapor ke polisi dan menceraikan Rendy.

Bu Mirna tidak mau membiarkannya.

Perempuan itu ternyata ikut menikmati uang dari transaksi tersebut.

Keduanya lalu menyusun kecelakaan palsu.

Maya diberi obat penenang, dibawa ke rumah Purwakarta, sementara sebuah mobil milik orang lain sengaja dijatuhkan ke jurang setelah dibakar.

Mayat yang dimakamkan sebagai Maya adalah jasad perempuan tanpa identitas yang diperoleh melalui seorang pegawai rumah sakit yang ikut menerima uang.

Kasus itu, yang pada masa itu dianggap sebagai kecelakaan tragis, sebenarnya merupakan rangkaian kejahatan yang direncanakan sangat rapi.

Namun ada satu hal yang tidak dimengerti polisi.

Mengapa mereka tidak membunuh Maya saja?

Jawabannya ditemukan di dalam brankas kecil milik Bu Mirna.

Ada dokumen tentang rekening investasi atas nama Maya senilai hampir dua belas miliar rupiah.

Rekening tersebut berasal dari warisan ayah Maya.

Dana hanya dapat dicairkan secara bertahap selama pemilik rekening masih hidup.

Setiap tahun, Rendy menggunakan dokumen palsu dan sidik jari Maya ketika perempuan itu berada di bawah pengaruh obat untuk menarik sebagian dana.

Maya tidak hanya disekap.

Ia dipertahankan hidup karena menjadi sumber uang.

Dua hari setelah penyelamatan, Bu Hartini duduk di sisi ranjang rumah sakit.

Maya sedang tidur.

Wajahnya masih pucat, tetapi terlihat jauh lebih tenang.

Seorang psikolog mengatakan pemulihan Maya akan membutuhkan waktu panjang.

Trauma selama lima tahun tidak mungkin hilang dalam beberapa minggu.

Mungkin Maya akan mudah takut terhadap ruangan tertutup.

Mungkin suara pintu terkunci akan membuatnya panik.

Mungkin ia akan sulit tidur tanpa lampu menyala.

Namun tidak ada satu pun hal itu yang membuat Bu Hartini gentar.

Ia akan menemani anaknya.

Sehari.

Sebulan.

Sepuluh tahun pun jika perlu.

Ketika Maya membuka mata, ia melihat ibunya masih duduk di kursi.

“Ibu belum pulang?”

Bu Hartini tersenyum.

“Ibu tidak ke mana-mana.”

Maya menatap langit-langit.

“Rendy?”

“Ditahan.”

“Mirna?”

“Juga.”

Maya terdiam.

Kemudian sesuatu seperti rasa bersalah muncul di wajahnya.

“Ibu…”

“Ya?”

“Maaf.”

Bu Hartini langsung mengernyit.

“Kenapa minta maaf?”

“Sebelum mereka membawa aku… aku sempat menelepon rumah.”

Bu Hartini membeku.

Maya berbicara perlahan.

“Aku pikir Ibu tidak mau menolongku.”

“Apa maksudmu?”

“Malam sebelum kecelakaan palsu itu, aku menelepon nomor rumah. Seorang perempuan mengangkat. Dia bilang Ibu tidak mau bicara denganku.”

Bu Hartini menggeleng cepat.

“Tidak pernah.”

Maya menatapnya.

“Suara perempuan itu bukan Mirna.”

Ruangan seketika terasa sunyi.

Bu Hartini mulai mengingat.

Lima tahun lalu, selama beberapa minggu sebelum kabar kematian Maya, ada seseorang yang tinggal bersamanya.

Siti.

Sepupu jauh Bu Mirna.

Perempuan itu datang dengan alasan membantu pekerjaan rumah karena Bu Hartini sedang sakit.

Setelah pemakaman Maya, Siti tiba-tiba berhenti bekerja dan kembali ke kampung.

Bu Hartini segera memberi tahu Iptu Wijaya.

Pencarian terhadap Siti dilakukan.

Tiga hari kemudian, polisi menemukannya di Bekasi.

Pada awalnya Siti menyangkal.

Namun ketika dihadapkan dengan catatan transfer dari rekening Bu Mirna, pertahanannya runtuh.

Siti mengaku malam itu ia memang menerima telepon Maya.

Maya menangis.

Meminta Bu Hartini datang.

Tetapi Bu Mirna telah membayar Siti untuk memastikan panggilan tersebut tidak pernah sampai kepada ibunya.

“Aku cuma disuruh bilang Bu Hartini tidak mau bicara,” ujar Siti saat diperiksa.

“Mirna bilang Maya sedang bertengkar dengan keluarga.”

Satu panggilan.

Satu kebohongan.

Dan lima tahun kehidupan seseorang hilang.

Kasus itu kemudian menjadi perhatian luas setelah jaksa membuka kembali penyelidikan kecelakaan lama.

Beberapa orang yang membantu pemalsuan kematian Maya ikut ditangkap.

Rendy menghadapi dakwaan penculikan, penyekapan, pemalsuan dokumen, penipuan, pencucian uang, dan penganiayaan.

Bu Mirna menghadapi dakwaan yang bahkan lebih berat karena dianggap sebagai perencana utama.

Namun ketika persidangan dimulai beberapa bulan kemudian, Bu Hartini tidak pernah datang.

Ia tidak ingin menghabiskan waktunya memandang wajah orang-orang yang telah menghancurkan keluarganya.

Ia memilih berada di rumah.

Bersama Maya.

Hari pertama Maya kembali ke rumah adalah hari paling sunyi sekaligus paling indah bagi Bu Hartini.

Maya berdiri lama di depan pintu kamar lamanya.

Semuanya masih sama.

Boneka beruang di lemari.

Foto wisuda di dinding.

Kotak perhiasan kecil di meja.

Bu Hartini tidak pernah sanggup mengubah kamar itu setelah kematian putrinya.

Maya menyentuh seprai.

Kemudian melihat foto dirinya bersama ayah dan ibunya.

“Lima tahun terasa seperti hidup orang lain.”

Bu Hartini berdiri di ambang pintu.

“Kita tidak bisa mengembalikan lima tahun itu.”

Maya menoleh.

“Tapi kita masih punya hari ini.”

Untuk pertama kalinya sejak diselamatkan, Maya tersenyum.

Kecil sekali.

Namun nyata.

Beberapa minggu kemudian, Bu Hartini mengajak Maya pergi ke pemakaman.

Mereka berhenti di depan batu nisan bertuliskan nama lengkap Maya.

Maya memandangnya dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.

“Itu makamku?”

Bu Hartini mengangguk.

Maya mendekat dan menyentuh batu nisan.

Lama sekali ia tidak berkata apa-apa.

Kemudian ia tertawa pelan sambil menangis.

“Aneh sekali.”

Bu Hartini memeluk bahunya.

“Apa?”

“Melihat nama sendiri di batu nisan.”

Mereka berdiri di sana sampai sore.

Sebelum pulang, Maya meletakkan setangkai melati di atas makam kosong itu.

Bukan untuk dirinya.

Melainkan untuk perempuan tanpa identitas yang selama lima tahun dikuburkan menggunakan namanya.

“Aku tidak tahu siapa dia,” kata Maya.

“Tapi karena dia, kebohongan mereka sempat dipercaya.”

Bu Hartini menatap makam tersebut.

“Nanti kita cari keluarganya.”

Maya mengangguk.

Mereka berbalik meninggalkan tempat itu.

Di gerbang pemakaman, Maya menggenggam tangan ibunya.

Erat.

Bu Hartini membalas genggaman tersebut.

Selama bertahun-tahun ia mengira hidupnya telah berhenti pada hari ketika putrinya dimakamkan.

Ternyata hidup mereka tidak berhenti.

Hanya dicuri untuk sementara.

Dan kini, langkah demi langkah, mereka mengambilnya kembali.

Karena terkadang sesuatu yang paling berbahaya bukanlah kebencian yang terlihat jelas.

Melainkan orang yang datang membawa kue setiap Minggu, tersenyum sopan di meja makan, memanggil seseorang dengan sebutan Ibu, lalu menyimpan rahasia mengerikan tepat di balik layar ponselnya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang