ISTRIKU MENGHABISKAN RP740 JUTA UNTUK LIBURAN BERSAMA MANTANNYA, TAPI DOKUMEN YANG KUTEMUKAN JUSTRU MEMBONGKAR RENCANA JAHAT MEREKA UNTUK MEREBUT RUMAH WARISAN ALMARHUM AYAHKU!

Rendy tidak langsung pulang setelah melihat Maya, Bu Rina, dan Dimas masuk ke area pemeriksaan keberangkatan.

Ia tetap berdiri di lantai dua terminal, menatap ketiganya sampai tubuh mereka benar-benar menghilang dari pandangan.

Orang-orang berlalu-lalang di sekelilingnya. Suara pengumuman penerbangan terdengar berulang kali. Anak-anak menangis, koper beroda berderak di lantai, petugas bandara memanggil penumpang terakhir.

Namun bagi Rendy, semuanya seperti suara yang datang dari tempat yang sangat jauh.

Kalimat Bu Rina terus berputar di kepalanya.

Tinggal tunggu Maya dapat tanda tangannya.

Setelah itu semuanya beres.

Rendy membuka kembali rekaman di ponselnya.

Ia menonton Dimas merangkul pinggang Maya.

Ia melihat istrinya mencium mantan kekasihnya tanpa sedikit pun keraguan.

Kemudian ia mendengar pembicaraan tentang tanda tangan dan usaha yang harus ia biayai.

Anehnya, setelah rasa sakit pertama menghantamnya, Rendy justru merasa jauh lebih tenang.

Ia tidak lagi ingin berteriak.

Tidak ingin menelepon Maya.

Tidak ingin merusak liburan mereka.

Ia hanya ingin tahu satu hal.

Apa yang sebenarnya sedang mereka rencanakan?

Rendy langsung pulang ke rumah.

Begitu tiba, ia tidak masuk ke kamar tidur utama.

Ia berjalan menuju ruang kerja kecil di lantai dua.

Selama ini Maya jarang menggunakan ruangan itu. Namun beberapa hari terakhir, Rendy sempat melihat istrinya beberapa kali masuk ke sana sambil membawa map.

Ia membuka lemari dokumen.

Tidak ada yang mencurigakan.

Kemudian ia memeriksa laci meja.

Kosong.

Saat hendak menyerah, pandangannya berhenti pada sebuah tas kulit berwarna krem milik Maya yang diletakkan di bagian bawah rak buku.

Tas itu biasanya digunakan Maya untuk membawa dokumen klinik.

Rendy membuka ritsletingnya.

Di dalamnya terdapat beberapa amplop, brosur properti, dan sebuah map biru tanpa tulisan.

Begitu membuka map itu, jantung Rendy serasa berhenti.

Di halaman pertama tertulis nama lengkapnya.

Rendy Pratama.

Di bawahnya terdapat salinan sertifikat rumah peninggalan ayahnya di kawasan Darmo, Surabaya.

Rumah itu dibangun almarhum ayahnya hampir tiga puluh tahun lalu.

Setelah ayah meninggal, rumah tersebut diwariskan sepenuhnya kepada Rendy melalui proses hukum yang sah.

Nilainya sekarang diperkirakan lebih dari Rp11 miliar.

Rendy membalik halaman berikutnya.

Ada sebuah surat kuasa khusus.

Nama pemberi kuasa adalah dirinya.

Nama penerima kuasa adalah Maya Lestari, istrinya.

Isi surat itu memberi kewenangan kepada Maya untuk menjaminkan, menjual, atau mengalihkan hak atas rumah warisan tersebut.

Di bagian bawah terdapat kolom tanda tangan.

Masih kosong.

Tangan Rendy mulai dingin.

Ia melanjutkan membaca.

Ada draft perjanjian pinjaman senilai Rp4,8 miliar dari sebuah perusahaan pembiayaan swasta.

Jaminannya adalah rumah warisan ayahnya.

Peminjamnya bukan Rendy.

Bukan pula Maya.

Melainkan sebuah perusahaan bernama PT DMR Kuliner Nusantara.

Direkturnya tercantum satu nama yang sangat dikenalnya.

Dimas Rahardian.

Rendy terduduk.

Sekarang semuanya mulai tersambung.

Usaha.

Tanda tangan.

Rumah warisan.

Namun masih ada sesuatu yang lebih mengejutkan.

Di bagian belakang map, terselip beberapa lembar tangkapan layar percakapan WhatsApp yang sudah dicetak.

Entah mengapa Maya mencetaknya.

Mungkin untuk menunjukkan kepada Bu Rina.

Mungkin juga sebagai bahan pembahasan dengan Dimas.

Salah satu percakapan berasal dari nomor Dimas.

Aku sudah bicara dengan orang pembiayaan. Yang penting kuasa dari Rendy sudah beres. Setelah sertifikat masuk, pencairan maksimal tujuh hari.

Maya menjawab.

Dia susah kalau soal rumah itu. Sentimental banget gara-gara peninggalan bapaknya.

Pesan berikutnya dari Bu Rina membuat rahang Rendy menegang.

Jangan bilang soal jaminan. Bilang saja itu dokumen investasi keluarga. Kalau perlu kasih beberapa lembar sekaligus supaya dia malas baca.

Dimas membalas dengan emotikon tertawa.

Kalau sudah cair, kita bayar utang lama dulu. Sisanya buat buka cabang Bali.

Rendy membaca sampai akhir.

Lalu ia menemukan satu kalimat yang membuat darahnya mendidih.

Maya menulis,

Kalau semuanya berhasil, setelah usaha stabil aku baru urus cerai. Setidaknya aku nggak keluar dari pernikahan ini dengan tangan kosong.

Rendy memejamkan mata.

Enam tahun.

Enam tahun hidup bersama.

Dan perempuan yang masih ia anggap memiliki sisi baik ternyata sudah merencanakan jalan keluar sambil memastikan dirinya membawa sebanyak mungkin harta.

Rendy mengambil foto seluruh dokumen menggunakan ponselnya.

Setelah itu, ia tidak mengembalikan map ke tas.

Ia membawa semuanya.

Malam itu juga ia menghubungi Farhan, teman kuliahnya yang kini bekerja sebagai pengacara.

Mereka bertemu di sebuah kedai kopi yang buka dua puluh empat jam di pusat Surabaya.

Farhan membaca dokumen-dokumen itu satu per satu.

Semakin lama, ekspresinya semakin serius.

“Untung kamu belum tanda tangan.”

“Apa mereka bisa melakukan ini tanpa tanda tanganku?”

“Secara sah, tidak. Tapi kalau mereka berani sejauh ini, kita nggak boleh menganggap mereka akan berhenti.”

Rendy menatapnya.

“Maksudmu?”

Farhan menunjuk salinan sertifikat.

“Mereka sudah pegang salinan dokumen penting. Mereka juga sudah menyiapkan surat kuasa. Aku sarankan besok pagi kita cek status sertifikat dan beri catatan ke kantor pertanahan kalau perlu.”

Rendy mengangguk.

“Dan soal Maya?”

Farhan menghela napas.

“Itu keputusanmu. Tapi jangan konfrontasi sekarang.”

Rendy menatap meja.

“Aku juga belum mau.”

“Kamu punya bukti perselingkuhan, percakapan, rencana menjaminkan rumah, dan mungkin percobaan penipuan. Kita kumpulkan semuanya dulu.”

Keesokan paginya, Rendy mengambil cuti.

Ia pergi bersama Farhan untuk memastikan tidak ada proses pengalihan atau pengikatan jaminan atas rumah tersebut.

Untungnya, belum ada perubahan resmi.

Namun Farhan menemukan sesuatu yang aneh setelah meminta Rendy memeriksa rekening bersama yang biasa digunakan untuk kebutuhan rumah tangga.

Selama enam bulan terakhir, Maya telah melakukan transfer rutin ke sebuah rekening yang tidak dikenal.

Jumlahnya berbeda-beda.

Rp40 juta.

Rp75 juta.

Rp120 juta.

Totalnya hampir Rp680 juta.

Nama penerima hanya berupa singkatan.

DMR.

Rendy langsung tahu siapa pemiliknya.

“Jadi bukan cuma liburan,” gumamnya.

Farhan memandang angka-angka itu.

“Sepertinya istrimu sudah lama membiayai dia.”

Rendy tertawa kecil.

Tawa yang terdengar lebih seperti suara seseorang yang baru sadar betapa bodohnya dirinya.

Selama ini ia selalu merasa Maya boros untuk dirinya sendiri.

Ternyata sebagian uang yang ia kira habis untuk salon, pakaian, dan restoran mengalir kepada Dimas.

Hari ketiga setelah keberangkatan mereka, Maya mengirim foto dari Bali.

Ia berpose seorang diri di depan kolam renang hotel.

Captionnya singkat.

Makasih sudah mau mengerti. Aku benar-benar butuh waktu untuk menenangkan pikiran.

Rendy membalas.

Semoga liburannya menyenangkan.

Tidak ada kalimat lain.

Maya bahkan tidak sadar bahwa Rendy sudah mengetahui semuanya.

Selama tujuh hari berikutnya, Rendy melakukan satu hal yang sama sekali tidak diperkirakan mereka.

Ia menata ulang seluruh keuangannya.

Rekening pribadinya diamankan.

Kartu tambahan atas nama Maya dibekukan.

Akses Maya ke rekening investasi keluarga dicabut.

Dokumen asli rumah warisan dipindahkan ke safe deposit box bank.

Ia juga mengganti kode brankas pribadi.

Kemudian Rendy meminta bank mengirimkan semua laporan transaksi enam tahun terakhir.

Dari sanalah rahasia lain muncul.

Dua tahun sebelumnya, Maya pernah menarik Rp350 juta dari deposito bersama dengan alasan membayar biaya renovasi rumah ibunya.

Renovasi itu memang terjadi.

Namun nilainya hanya sekitar Rp90 juta.

Sisa uangnya ternyata masuk ke rekening Dimas.

Farhan mulai menyusun seluruh bukti secara kronologis.

Hari kedelapan, Maya menelepon.

“Kok kartu kreditku nggak bisa dipakai?”

Rendy sedang duduk di ruang makan.

“Memangnya kenapa?”

“Aku mau bayar spa. Ditolak.”

“Mungkin limitnya sudah habis.”

“Nggak mungkin. Kamu cek, dong.”

“Kalau pulang nanti kita cek.”

Maya mendengus.

“Rendy, jangan bikin aku malu di sini.”

Rendy hampir tertawa.

Malu.

Perempuan yang pergi liburan menggunakan uang suaminya bersama mantan kekasih justru takut malu karena kartu kreditnya ditolak.

“Pakai uangmu dulu,” kata Rendy.

Maya terdiam.

Beberapa detik kemudian sambungan telepon diputus.

Dua hari setelah itu, mereka kembali ke Surabaya.

Rendy sengaja berada di rumah.

Sekitar pukul empat sore, mobil sewaan berhenti di depan pagar.

Maya turun terlebih dahulu.

Bu Rina ikut turun.

Yang mengejutkan, Dimas juga ikut.

Begitu masuk rumah, Maya langsung memasang wajah kesal.

“Kartu kreditku kenapa?”

Rendy duduk santai di sofa.

“Diblokir.”

Maya terpaku.

“Apa?”

“Aku yang blokir.”

Bu Rina langsung menyela.

“Kenapa kamu memperlakukan istrimu seperti itu?”

Rendy menoleh kepada ibu mertuanya.

“Karena itu kartu tambahan dari rekening saya.”

Dimas berdiri agak jauh, tetapi wajahnya terlihat tidak nyaman.

Maya meletakkan tasnya dengan kasar.

“Kita bisa bahas ini nanti. Sekarang aku butuh tanda tanganmu dulu.”

Akhirnya.

Rendy hampir kagum.

Bahkan setelah semua yang mereka lakukan, mereka tetap melanjutkan rencana.

Maya mengeluarkan beberapa lembar kertas.

“Ini dokumen investasi yang pernah aku bilang. Dimas lagi mau buka usaha restoran. Kita bisa masuk sebagai investor.”

Rendy menerima kertas itu.

Dokumennya sama.

Surat kuasa.

Namun kali ini bagian tentang hak menjaminkan rumah ditutupi selembar sticky note yang ditempel tepat di atas paragraf tersebut.

Rendy menatap Maya.

“Kenapa bagian ini ditutupi?”

Wajah Maya berubah.

“Apaan?”

Rendy mencabut sticky note.

Ruangan mendadak sunyi.

Bu Rina buru-buru berkata,

“Itu cuma bahasa hukum.”

“Bahasa hukum yang memberi Maya hak menjual rumah warisan ayah saya?”

Dimas langsung bergerak.

“Rendy, jangan salah paham. Itu standar.”

“Standar?”

Rendy berdiri.

Ia berjalan menuju lemari TV.

Dari sana ia mengambil sebuah map hitam.

Kemudian ia melemparkan isinya ke atas meja.

Salinan percakapan mereka.

Draft pinjaman.

Riwayat transfer.

Foto Maya dan Dimas di bandara.

Wajah ketiganya berubah bersamaan.

Maya tampak seperti kehilangan darah dari wajahnya.

“Dari mana kamu dapat ini?”

“Dari rumah saya sendiri.”

Bu Rina mencoba mengambil dokumen itu.

Rendy menahan tangannya.

“Jangan.”

Nada suaranya begitu dingin hingga Bu Rina langsung berhenti.

Maya mulai menangis.

“Rendy, aku bisa jelaskan.”

“Bagian mana?”

Ia menunjuk foto bandara.

“Yang ini?”

Lalu menunjuk percakapan WhatsApp.

“Atau yang ini?”

Kemudian dokumen pinjaman.

“Atau mungkin rencana menceraikan saya setelah rumah ayah saya berhasil dijaminkan?”

Maya menutup wajahnya.

Dimas tiba-tiba berkata,

“Jangan berlebihan. Usaha ini bisa menghasilkan. Kamu juga dapat bagian.”

Rendy menatapnya.

“Uang Rp680 juta yang Maya transfer ke kamu juga investasi?”

Dimas terdiam.

“Rp350 juta dua tahun lalu juga investasi?”

Bu Rina mencoba menyela.

“Kalian ini keluarga. Uang masih bisa dicari.”

Rendy berbalik kepadanya.

“Benar, Bu. Uang bisa dicari.”

Ia berhenti sejenak.

“Tapi kepercayaan tidak.”

Bu Rina kehilangan kata-kata.

Rendy kemudian mengambil sebuah amplop dari meja.

Ia menyerahkannya kepada Maya.

Maya membukanya.

Di dalamnya ada surat dari pengacara.

Permohonan perceraian sedang dipersiapkan.

Wajah Maya langsung berubah panik.

“Kamu mau cerai?”

Rendy menatapnya lama.

“Bukankah itu memang rencanamu setelah uang pinjaman cair?”

Maya menangis lebih keras.

“Aku cuma marah waktu nulis itu.”

“Tapi kamu menyiapkan dokumennya.”

“Aku bisa berubah.”

Rendy menggeleng.

“Enam tahun aku terus memberi kesempatan.”

Bu Rina membanting telapak tangan ke meja.

“Kamu jangan merasa paling benar. Maya juga berkorban selama menikah sama kamu!”

Rendy menatap perempuan itu.

“Pengorbanan seperti apa?”

Bu Rina terdiam.

“Rumah Ibu saya bayarkan. Tagihan Ibu saya bantu. Mobil Maya saya bayar. Liburan saya bayar. Bahkan uang yang diberikan Maya kepada Dimas ternyata sebagian besar berasal dari rekening rumah tangga yang saya isi.”

Ia menunjuk pintu.

“Mulai hari ini, hubungan keuangan kita selesai.”

Dimas mencoba berbicara lagi.

“Rendy, kita bisa selesaikan baik-baik.”

“Betul.”

Rendy mengangguk.

“Makanya pengacara saya sudah menyiapkan semuanya.”

Dimas tiba-tiba pucat.

Rendy melanjutkan,

“Termasuk laporan transaksi dan dugaan penggunaan dokumen pribadi tanpa izin.”

Untuk pertama kalinya sejak datang, Dimas benar-benar ketakutan.

Maya menatap Rendy seperti melihat orang asing.

Mungkin karena selama enam tahun, ia selalu mengenal Rendy sebagai pria yang mengalah.

Pria yang tidak suka konflik.

Pria yang memilih diam ketika disindir.

Mereka salah mengartikan kesabaran itu sebagai kelemahan.

Dua bulan kemudian, proses perceraian berjalan.

Maya pindah ke rumah ibunya.

Dimas menghilang dari kehidupan mereka segera setelah mengetahui tidak akan ada rumah yang bisa dijadikan jaminan.

Usaha restoran yang dibanggakannya ternyata sudah memiliki utang hampir Rp2 miliar.

Lebih menyakitkan lagi bagi Maya, beberapa minggu setelah perpisahan, ia menemukan bahwa Dimas ternyata juga memiliki hubungan dengan perempuan lain.

Ketika Maya menuntut penjelasan, Dimas hanya berkata bahwa ia tidak pernah menjanjikan pernikahan.

Saat itulah Maya akhirnya memahami sesuatu yang dulu tidak pernah mau ia lihat.

Bagi Dimas, dirinya bukan cinta lama yang kembali ditemukan.

Ia hanya jalan menuju modal.

Bu Rina mencoba menghubungi Rendy beberapa kali.

Kadang memohon.

Kadang menyalahkannya.

Kadang mengatakan bahwa keluarga seharusnya saling memaafkan.

Namun Rendy tidak lagi meladeni.

Enam bulan setelah semuanya berakhir, Rendy kembali ke rumah peninggalan ayahnya di Darmo.

Selama ini rumah itu kosong dan hanya sesekali dibersihkan.

Ia berdiri di halaman, menatap pohon mangga tua yang ditanam ayahnya ketika Rendy masih kecil.

Tiba-tiba ia teringat satu kalimat yang sering diucapkan ayahnya.

“Kalau suatu hari kamu punya banyak hal, jangan takut kehilangan harta. Takutlah kalau kehilangan kemampuan melihat siapa yang benar-benar tulus.”

Dulu Rendy tidak terlalu memahami maksudnya.

Sekarang ia mengerti.

Rumah itu akhirnya direnovasi.

Bukan untuk dijual.

Bukan untuk dijaminkan.

Rendy mengubah sebagian bangunan menjadi rumah tinggalnya sendiri dan sebagian lagi menjadi ruang belajar gratis bagi anak-anak pekerja konstruksi dari proyek-proyek yang pernah ia tangani.

Di salah satu dinding ruang kerja, ia memasang foto lama dirinya bersama ayah.

Tidak ada foto Maya lagi.

Namun kisah itu ternyata belum benar-benar selesai.

Hampir setahun setelah perceraian, Farhan meneleponnya.

“Ada kabar soal Dimas.”

Rendy tidak terlalu tertarik.

“Kenapa?”

“Dia ditahan.”

Rendy terdiam.

“Ternyata bukan cuma kamu yang hampir dijadikan korban.”

Farhan menjelaskan bahwa Dimas diduga menggunakan pola serupa terhadap beberapa orang.

Mencari investor.

Membangun hubungan personal.

Menggunakan dokumen jaminan.

Kemudian mengalihkan dana ke usaha yang sebenarnya sudah bermasalah.

Polisi menemukan bukti bahwa Dimas bahkan sudah menyiapkan perusahaan baru jauh sebelum perjalanan ke Bali.

Namun ada satu fakta yang membuat Rendy benar-benar terkejut.

Orang pertama yang menyerahkan bukti tambahan kepada penyidik adalah Maya.

Setelah semua kebohongan Dimas terbongkar, Maya membawa riwayat transfer, percakapan lama, serta dokumen perusahaan yang pernah diberikan Dimas kepadanya.

Rendy tidak tahu apakah itu bentuk penyesalan atau sekadar cara Maya menyelamatkan dirinya sendiri.

Dan ia tidak merasa perlu mencari tahu.

Beberapa hari kemudian, sebuah surat tiba di rumah.

Tulisan tangan Maya.

Rendy membacanya hanya sekali.

Aku dulu mengira kamu akan selalu ada, apa pun yang kulakukan. Karena itu aku terus melewati batas sedikit demi sedikit sampai akhirnya aku tidak sadar sudah menjadi orang yang bahkan tidak kukenal sendiri. Aku kehilangan pernikahan kita bukan karena Dimas lebih baik darimu, tapi karena aku menganggap kebaikanmu tidak akan pernah habis. Sekarang aku baru tahu bahwa orang sabar juga bisa pergi.

Rendy melipat surat itu.

Ia tidak marah.

Ia juga tidak merasa puas.

Yang ada hanya ketenangan.

Ia menyimpan surat tersebut di dalam laci, lalu keluar ke halaman.

Sore itu beberapa anak sudah menunggu di ruang belajar.

Salah satu dari mereka berlari mendekatinya sambil membawa buku matematika.

“Pak Rendy, yang ini saya nggak ngerti.”

Rendy tersenyum.

“Sini, kita kerjakan bareng.”

Ia masuk ke rumah.

Rumah yang hampir dirampas melalui sebuah tanda tangan.

Rumah yang dulu ia pertahankan karena kenangan terhadap ayahnya.

Namun akhirnya Rendy menyadari bahwa warisan terbesar dari ayahnya bukan bangunan bernilai miliaran rupiah itu.

Melainkan keberanian untuk tahu kapan harus bertahan, dan kapan harus meninggalkan orang-orang yang menganggap ketulusan sebagai sesuatu yang bisa mereka manfaatkan selamanya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang