SEPULUH AYAM DARI IBU YANG MEMBUKA RAHASIA BESAR DALAM RUMAH TANGGA

Telepon di tangan Dimas terus bergetar.

Nama ibunya masih menyala di layar.

Aku menatap wajah suamiku yang mendadak pucat, lalu kembali melihat catatan yang baru saja direbutnya dari tanganku.

“Rumah lama itu apa, Dimas?”

Dia tidak menjawab.

Ponselnya berhenti berdering beberapa detik, lalu kembali berbunyi.

Kali ini Dimas langsung mematikannya.

“Tidak ada apa-apa. Kamu baru melahirkan. Jangan memikirkan hal yang bikin stres.”

Jawaban itu justru membuat dadaku semakin sesak.

“Kalau memang tidak ada apa-apa, kenapa ibumu menulis jangan sampai aku tahu?”

Dimas mengusap wajahnya.

“Aku jelaskan nanti.”

“Kapan?”

“Nanti kalau kamu sudah lebih sehat.”

Aku menahan napas.

Selama hampir empat tahun menikah, aku sudah mengenal kalimat itu dengan sangat baik.

Nanti.

Nanti kalau waktunya tepat.

Nanti kalau keadaan lebih tenang.

Nanti kalau semuanya selesai.

Dan biasanya, kata nanti berarti aku tidak akan pernah diberi tahu kecuali aku mengetahuinya sendiri.

Pagi itu Dimas tetap membawa sembilan ayam pemberian ibuku.

Aku tidak mencegahnya.

Bukan karena aku setuju.

Aku hanya ingin melihat seberapa jauh dia berani bertindak seolah semua yang ada di rumah ini adalah miliknya seorang.

Dari jendela kamar, aku melihat dia memasukkan kotak-kotak itu ke bagasi mobil.

Empat kotak diletakkan di sebelah kanan.

Lima sisanya ditumpuk di sebelah kiri.

Persis seperti pembagian yang kudengar dari telepon.

Sebelum pergi, Dimas masuk ke kamar.

“Aku cuma sebentar.”

Aku menatap bayi kami yang sedang tidur di sampingku.

“Bawa semuanya.”

Dia terlihat lega.

“Serius?”

Aku mengangguk.

“Bawa saja.”

Dimas mungkin mengira aku akhirnya mengalah.

Dia bahkan mencium keningku sebelum pergi.

Namun begitu suara mobilnya menghilang dari depan rumah, aku mengambil ponsel dan menelepon seseorang.

Ibuku.

Aku tidak langsung menceritakan soal ayam.

Aku hanya bertanya satu hal.

“Bu, Ibu pernah dengar Dimas punya rumah lama?”

Di ujung sana hening.

Lalu suara ibuku berubah.

“Rumah lama?”

“Iya.”

“Rumah siapa?”

“Aku juga belum tahu.”

Aku lalu menceritakan catatan Bu Rini.

Ibuku tidak memarahiku, tidak pula langsung menuduh.

Dia hanya berkata pelan,

“Cari tahu dulu. Jangan bertengkar sebelum kamu tahu apa yang sebenarnya terjadi.”

Aku mengangguk meski dia tidak bisa melihat.

Sebelum menutup telepon, ibu tiba-tiba bertanya,

“Ayamnya masih ada?”

Aku terdiam.

Pertanyaan sederhana itu terasa menusuk.

“Dimas membawanya ke rumah ibunya.”

Semakin panjang keheningan di seberang.

“Semua?”

“Iya.”

Ibu menarik napas.

Anehnya, dia tidak marah.

“Tidak apa-apa.”

Aku hampir menangis.

“Bu, itu ayam yang Ibu pelihara buat aku.”

“Ibu tahu.”

“Kenapa bilang tidak apa-apa?”

Suara ibu terdengar tenang.

“Karena kalau sembilan ekor ayam bisa memperlihatkan sifat seseorang yang selama ini kamu tidak lihat, harganya masih murah.”

Kalimat itu membuat tenggorokanku tercekat.

Siang harinya, aku mencoba bangun dan membuka lemari kerja Dimas.

Aku tidak pernah memeriksa barang-barangnya.

Selama ini aku selalu percaya bahwa pernikahan bukan tempat untuk saling menggeledah.

Tetapi hari itu kepercayaan kami sudah retak.

Di laci paling bawah, di bawah tumpukan dokumen pajak, aku menemukan sebuah map biru.

Di atasnya tertulis sebuah alamat di Bekasi.

Aku membukanya.

Sertifikat rumah.

Nama pemiliknya membuat jantungku berdetak lebih cepat.

Dimas Pradana.

Tanggal pembelian dua tahun lalu.

Dua tahun lalu.

Saat kami sudah menikah.

Aku membaca lembar demi lembar.

Harga rumah itu lebih dari satu miliar rupiah.

Ada bukti uang muka.

Ada cicilan bank.

Dan ada sesuatu yang membuat tanganku bergetar.

Rekening pembayaran cicilan adalah rekening bersama kami.

Rekening yang selama ini kupikir hanya digunakan untuk kebutuhan rumah tangga dan tabungan pendidikan anak.

Aku menghitung cepat.

Setiap bulan ada transfer hampir sembilan juta rupiah.

Pantas saja dua tahun terakhir Dimas selalu mengatakan tabungan kami sulit bertambah.

Dia bahkan pernah memintaku mengurangi kiriman untuk orang tuaku karena katanya pengeluaran rumah terlalu besar.

Aku merasa seperti ditampar.

Saat masih hamil tujuh bulan, aku pernah ingin membelikan mesin cuci baru untuk ibuku karena mesin lamanya rusak.

Dimas menolak.

“Kita harus hemat. Sebentar lagi punya bayi.”

Akhirnya aku membelinya dari uang pribadiku.

Sementara selama dua tahun, diam-diam dia menggunakan uang kami untuk membayar rumah yang bahkan tidak pernah kuketahui.

Tanganku dingin.

Aku memotret semua dokumen.

Kemudian aku menelepon nomor agen properti yang tercantum dalam berkas.

Aku berpura-pura menjadi istri Dimas yang ingin memastikan alamat rumah.

Agen itu sama sekali tidak curiga.

“Oh, rumah Pak Dimas yang ditempati keluarganya, Bu?”

Aku hampir kehilangan suara.

“Keluarganya?”

“Iya. Kalau tidak salah adiknya juga tinggal di situ. Dulu Pak Dimas bilang dibelikan supaya orang tua tidak perlu kontrak lagi.”

Aku menutup mata.

Jadi rumah itu untuk Bu Rini.

Dibeli dengan uang kami.

Tanpa persetujuanku.

Dan sekarang mereka sedang membicarakan sesuatu yang tidak boleh kuketahui.

Sore hari Dimas pulang dengan membawa plastik makanan.

Dia terlihat sangat santai.

“Ibu masakin kamu sayur asem.”

Aku menatap plastik itu.

Sembilan ekor ayam kampung yang dikirim ibuku untuk memulihkan tubuhku sudah berpindah ke keluarganya.

Dan sebagai gantinya, aku mendapat sebungkus sayur asem.

Aku hampir tertawa.

“Enak?”

Dimas tidak memahami maksudku.

“Apa?”

“Ayam dari ibuku.”

Wajahnya berubah sedikit.

“Oh. Ibu senang sekali. Katanya dagingnya bagus.”

“Raka juga senang?”

“Iya.”

Aku mengangguk.

Kemudian kukeluarkan map biru dan meletakkannya di meja.

Senyum Dimas lenyap.

“Kamu bongkar laci aku?”

“Rumah di Bekasi itu dibeli pakai uang siapa?”

Dimas tidak bergerak.

“Jawab.”

“Dengar dulu.”

“Uang siapa?”

“Uang kita.”

Dua kata itu terasa lebih menyakitkan daripada kebohongan apa pun.

“Kenapa aku tidak tahu?”

Dimas duduk perlahan.

“Waktu itu rumah kontrakan ibu mau dijual. Mereka harus pindah. Raka belum mapan. Aku anak pertama.”

“Jadi kamu beli rumah satu miliar lebih?”

“Bukan langsung bayar. Kredit.”

“Dan cicilannya dari rekening bersama kita.”

Dia mengusap tengkuk.

“Aku pikir kamu tidak akan keberatan.”

Aku menatapnya tidak percaya.

“Kalau kamu pikir aku tidak keberatan, kenapa disembunyikan?”

Dimas terdiam.

Aku melanjutkan.

“Kenapa ibumu menulis jangan sampai aku tahu?”

Dia masih diam.

Aku bangkit perlahan meski tubuhku terasa nyeri.

“Dimas, aku baru tiga hari pulang dari rumah sakit. Bahkan untuk berdiri saja aku masih sakit. Ibu mengirim makanan untukku, kamu ambil semuanya untuk keluargamu.”

“Sekarang aku tahu selama dua tahun kamu juga mengambil uang kita tanpa bilang.”

“Kalau aku tidak menemukan catatan itu, sampai kapan kamu mau berbohong?”

Dimas akhirnya berkata,

“Rumah itu nanti tetap jadi milik kita.”

Aku tertawa pendek.

“Benarkah?”

Aku membuka halaman terakhir dokumen.

Ada sebuah formulir lain yang baru kusadari tadi belum ditandatangani.

Draf pengalihan hak.

Nama calon penerima adalah Raka Pradana.

Adiknya.

Dimas langsung berdiri.

“Kamu jangan salah paham.”

“Ini yang ibumu maksud dengan urusan rumah lama?”

Dia menatap lantai.

“Ibu cuma minta rumah itu nanti atas nama Raka.”

“Dan kamu setuju?”

“Belum.”

“Belum?”

Aku menunjuk kolom tanda tangan.

“Jadi kalau aku tidak menemukan ini, kamu akan tanda tangan?”

Dimas meninggikan suara.

“Itu rumah untuk keluarga aku!”

Bayi kami langsung terbangun dan menangis.

Aku membeku.

Dimas juga sadar dia baru saja berteriak.

Aku menggendong bayiku perlahan.

Air mataku akhirnya jatuh.

Bukan karena suara kerasnya.

Tetapi karena satu kalimat tadi.

Keluarga aku.

Setelah empat tahun menikah, setelah aku melahirkan anaknya, di pikirannya masih ada keluarganya dan ada aku.

Kami ternyata tidak pernah benar-benar berada di sisi yang sama.

Malam itu aku tidak bertengkar lagi.

Aku menelepon ibu dan meminta dia datang ke Jakarta.

Keesokan paginya, ibu tiba bersama ayah.

Mereka tidak membawa kemarahan.

Ibu hanya membawa satu termos sup ayam.

“Ayam terakhir,” katanya.

Aku tertegun.

“Tapi kan sepuluh ekor semuanya dikirim?”

Ibu tersenyum tipis.

“Tidak.”

Aku mengerutkan kening.

Ibu lalu menjelaskan.

Dia sebenarnya menyiapkan sebelas ekor.

Sepuluh dikirim.

Satu disimpan untuk berjaga-jaga kalau aku membutuhkannya.

Ibu membuka termos dan menuangkan sup hangat ke mangkuk.

Aromanya memenuhi kamar.

Saat aku mulai makan, tangisku pecah.

Baru kali itu aku memahami bahwa perhatian bukan soal seberapa mahal sesuatu diberikan.

Perhatian adalah memastikan orang yang kita sayangi tetap memiliki sesuatu ketika semuanya diambil orang lain.

Dimas pulang siang hari.

Dia terkejut melihat orang tuaku.

Ayah memintanya duduk.

Tidak ada bentakan.

Ayah hanya bertanya,

“Kalau anak saya mengambil uang satu miliar dari rekening keluarganya diam-diam untuk membelikan rumah kepada kami, menurut kamu itu benar?”

Dimas tidak mampu menjawab.

Ayah melanjutkan.

“Saya miskin tidak apa-apa.”

“Saya tinggal di rumah kecil juga tidak masalah.”

“Tapi saya tidak mau hidup nyaman dari uang yang membuat anak saya harus berbohong kepada pasangannya.”

Bu Rini datang satu jam kemudian.

Entah siapa yang meneleponnya.

Begitu masuk, dia langsung berkata,

“Kenapa masalah keluarga dibesar-besarkan?”

Aku menatapnya.

“Karena uang itu juga uang saya.”

Bu Rini mendengus.

“Kamu kan istri Dimas. Masa hitung-hitungan begitu?”

Ibuku yang sejak tadi diam akhirnya bicara.

“Kalau begitu ayam yang saya kirim juga milik anak saya. Kenapa Ibu menghitung empat untuk Raka dan lima untuk rumah Ibu?”

Ruangan mendadak sunyi.

Bu Rini tidak menyangka ibu mengetahui pembagiannya.

Ibuku melanjutkan dengan suara tetap lembut.

“Saya tidak mempermasalahkan sembilan ekor ayam.”

“Saya cuma bersyukur karena sembilan ayam itu membuat anak saya membuka mata sebelum kehilangan lebih banyak.”

Bu Rini memerah.

Dia membela diri bahwa rumah itu adalah bentuk bakti seorang anak.

Kemudian dia mengatakan sesuatu yang akhirnya membuka rahasia terakhir.

“Lagipula uang muka rumah itu dulu dari uang pesangon Dimas sebelum menikah.”

Aku menoleh kepada Dimas.

Dimas langsung pucat.

Aku tahu ada kebohongan lain.

“Apa maksudnya?”

Bu Rini tampak sadar dia keceplosan.

Dimas menutup mata.

Akhirnya dia mengaku.

Uang muka rumah bukan berasal dari pesangon.

Sebagian berasal dari uang hadiah pernikahan kami.

Lebih dari dua ratus juta rupiah.

Uang yang dulu katanya digunakan untuk menutup kerugian bisnis.

Aku merasa seluruh dunia berhenti bergerak.

Jadi kebohongan itu bahkan dimulai sejak awal pernikahan kami.

Aku tidak langsung meminta cerai.

Banyak orang mungkin mengira itu keputusan yang aneh.

Tetapi saat itu aku baru melahirkan dan aku tidak ingin membuat keputusan terbesar dalam hidup ketika tubuh dan pikiranku masih lemah.

Aku hanya menetapkan satu hal.

Keuangan kami dipisahkan.

Semua cicilan rumah Bekasi menjadi tanggung jawab Dimas.

Nama Raka tidak boleh dimasukkan ke sertifikat selama masih ada uangku dalam pembayaran rumah tersebut.

Dan sebelum kami membicarakan masa depan pernikahan, Dimas harus mengembalikan setiap rupiah dari rekening bersama yang digunakan tanpa persetujuanku.

Bu Rini marah.

Dia mengatakan aku membuat anaknya seperti orang asing.

Untuk pertama kalinya Dimas justru menghentikannya.

“Cukup, Bu.”

Bu Rini terdiam.

Dimas memandang ibunya.

“Selama ini aku pikir jadi anak baik berarti selalu memenuhi permintaan keluarga.”

“Tapi aku baru sadar aku melakukan itu dengan mengorbankan istriku.”

Bu Rini menangis dan pergi.

Dimas tidak mengejarnya.

Enam bulan berlalu.

Rumah di Bekasi akhirnya dijual.

Setelah melunasi sisa kredit, bagian uang yang berasal dari rekening bersama dikembalikan kepadaku.

Bu Rini dan Pak Hendra pindah ke rumah yang lebih kecil yang mereka sewa sendiri.

Raka mulai bekerja tetap dan berhenti bergantung pada kakaknya.

Hubunganku dengan Dimas tidak langsung pulih.

Kepercayaan tidak kembali hanya karena seseorang meminta maaf.

Kami menjalani konseling pernikahan.

Ada hari-hari ketika aku yakin hubungan kami masih bisa diselamatkan.

Ada pula malam ketika aku bertanya apakah aku akan pernah benar-benar percaya lagi.

Namun Dimas berubah dalam satu hal yang paling penting.

Dia mulai memahami batas.

Ketika ibunya meminta uang, dia tidak langsung memberikannya.

Dia membicarakannya denganku.

Ketika keluarganya datang, dia tidak lagi menganggap isi kulkas, tabungan, waktu, dan tenagaku sebagai sesuatu yang otomatis boleh dibagi.

Setahun kemudian, pada ulang tahun pertama anak kami, ibu datang dari Bandung.

Dia membawa sebuah kardus kecil.

Dimas yang membukanya.

Di dalamnya ada seekor ayam kampung yang sudah dibersihkan.

Di atasnya ada secarik kertas.

Dimas membaca tulisan ibu keras-keras.

“Yang ini untuk cucu Ibu. Kalau ayahnya berani membagikan lagi, suruh pulang ke rumah ibunya.”

Semua orang tertawa.

Termasuk Dimas.

Dia lalu berjalan ke dapur.

“Yang ini aku masak sendiri.”

Aku tersenyum melihat punggungnya.

Sembilan ayam yang dulu diambil dariku memang tidak pernah kembali.

Tetapi karena sembilan ayam itulah aku menemukan rumah rahasia, uang yang disembunyikan, kebohongan bertahun-tahun, dan batas yang selama ini tidak pernah ada dalam pernikahan kami.

Aku akhirnya mengerti sesuatu.

Rumah tangga jarang hancur karena satu benda kecil.

Bukan karena ayam.

Bukan karena uang.

Bukan pula karena sebuah rumah.

Ia mulai retak ketika seseorang merasa berhak mengambil milik pasangannya tanpa bertanya, membuat keputusan tanpa berdiskusi, lalu menyebut semua itu sebagai kewajiban keluarga.

Dan terkadang, hal paling sederhana yang dikirim seorang ibu dari kampung bisa menjadi pintu yang membuka kebenaran terbesar dalam sebuah pernikahan.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang