RAHASIA TES DNA SEHARI SEBELUM PERNIKAHAN MEMBUKA KISAH ANAK KECIL AYAH YANG HILANG DAN PENGKHIANATAN TERBESAR DALAM HIDUPKU

Pesan di ponsel Rani membuat seluruh kecurigaanku berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih mengerikan.

Calon istrimu, Nadia, tidak bekerja sendiri.

Dia bekerja untuk ayahmu.

Aku membaca kalimat itu berulang kali, berharap susunan hurufnya berubah jika kutatap cukup lama.

Tidak berubah.

“Ayahku sudah meninggal,” kataku.

Rani menatapku tanpa berkedip.

“Tidak, Nando. Ayahmu membuat semua orang percaya dia sudah meninggal.”

Aku berdiri begitu cepat hingga kursiku bergeser.

“Jangan main-main denganku.”

“Aku tidak sedang main-main.”

“Pemakamannya ada. Surat kematiannya ada. Aku melihat petinya sendiri.”

“Apakah kamu melihat jasadnya?”

Pertanyaan itu menghantamku.

Aku membuka mulut, tetapi tidak ada jawaban yang keluar.

Tiga tahun lalu, ayah dinyatakan meninggal akibat kecelakaan mobil di luar kota. Kondisi jenazah disebut terlalu parah sehingga keluarga disarankan tidak membuka peti.

Aku tidak pernah mempertanyakannya.

Sampai malam itu.

Rani meraih tanganku.

“Duduk. Ada sesuatu yang harus kamu dengar sampai selesai.”

Aku duduk kembali.

Alya masih menggambar, seolah dunia orang dewasa di sekelilingnya tidak sedang runtuh.

“Delapan tahun lalu,” kata Rani, “aku bekerja sebagai staf administrasi di salah satu perusahaan kecil milik ayahmu.”

Aku langsung mengingat pertemuan pertama kami.

Saat itu aku baru berusia dua puluh lima tahun. Aku hampir dijebak dalam kasus penggelapan dana perusahaan. Rani memberiku salinan dokumen yang membuktikan tanda tanganku dipalsukan.

Setelah itu dia menghilang.

“Orang yang mencoba menjebakku waktu itu…”

“Ayahmu.”

Dadaku terasa sesak.

“Kenapa?”

“Karena kamu mulai mempertanyakan transaksi yang dia sembunyikan.”

Rani mengeluarkan sebuah flashdisk dari tasnya.

“Ayahmu memindahkan uang perusahaan ke beberapa rekening. Sinta mengetahuinya. Aku juga mengetahuinya.”

Aku memandang Alya.

“Dan Sinta adalah ibunya?”

Rani mengangguk.

“Sinta ingin melaporkannya. Tapi sebelum sempat, dia menghilang.”

“Menghilang?”

“Dia meninggal dua tahun kemudian.”

Aku menelan ludah.

“Bagaimana?”

“Secara resmi kecelakaan.”

Secara resmi.

Dua kata itu sekarang terdengar menakutkan.

“Lalu Alya?”

“Sinta menitipkannya kepadaku.”

Aku melihat anak kecil itu lagi. Ada sesuatu pada bentuk matanya yang terasa familiar sejak pertama kali kami bertemu.

Kemudian sebuah kemungkinan muncul.

“Apakah Alya anak ayahku?”

Rani terdiam.

Aku merasa mual.

“Jawab aku.”

“Bukan.”

Aku mengembuskan napas.

Namun Rani melanjutkan.

“Tapi ayahmu sangat menginginkan semua orang percaya bahwa Alya adalah anaknya.”

“Kenapa?”

“Karena identitas ayah biologis Alya bisa menghancurkan rencana yang sudah dia bangun selama bertahun-tahun.”

Sebelum aku sempat bertanya, pintu kafe terbuka.

Nadia berdiri di sana.

Wajahnya pucat.

“Nando.”

Aku bangkit.

“Bagaimana kamu tahu aku di sini?”

Nadia tidak menjawab.

Matanya langsung tertuju kepada Rani.

“Kamu seharusnya tidak kembali.”

Rani berdiri di depan Alya.

“Dan kamu seharusnya berhenti mengikuti perintah Hendra.”

Nadia menggigit bibirnya.

Aku menatap perempuan yang beberapa jam lalu masih akan kunikahi.

“Apakah ayahku masih hidup?”

Air mata memenuhi matanya.

“Nando, aku bisa menjelaskan.”

“Ya atau tidak?”

Beberapa detik berlalu.

“Ya.”

Satu kata.

Cukup untuk meruntuhkan tiga tahun hidupku.

Aku tertawa kecil karena tidak tahu harus bereaksi bagaimana.

“Jadi selama ini semua orang berbohong kepadaku?”

“Aku tidak punya pilihan.”

“Kamu selalu punya pilihan.”

“Nando, dia mengancam keluargaku.”

“Dan bayi itu?”

Nadia memegang perutnya.

Wajahnya hancur.

“Bayi ini bukan hasil perselingkuhan.”

“Tesnya mengatakan aku bukan ayahnya.”

“Karena sampel DNA yang diuji bukan sampelmu.”

Aku terdiam.

“Apa?”

“Ayahmu menyuruh seseorang menggantinya.”

“Untuk apa?”

“Supaya kamu membatalkan pernikahan.”

Aku hampir tidak percaya.

“Kenapa ayahku peduli siapa yang kunikahi?”

Nadia menutup wajahnya sebentar sebelum berkata, “Karena setelah menikah, kamu berencana mengubah struktur kepemilikan perusahaan dan memasukkan aset keluarga ke dalam yayasan. Kalau itu terjadi, dia tidak bisa mengambil perusahaan kembali.”

Semua mulai tersusun.

Pernikahanku.

Tes DNA.

Kematian palsu ayah.

Perusahaan.

Tidak ada yang berdiri sendiri.

“Jadi anak itu memang anakku?”

“Aku yakin.”

“Yakin?”

“Nando, aku tidak pernah bersama pria lain.”

Aku ingin mempercayainya.

Namun kepercayaan bukan lampu yang bisa dinyalakan kembali hanya karena seseorang meminta.

“Kalau begitu kita tes ulang.”

Nadia mengangguk cepat.

“Di laboratorium yang kupilih.”

“Baik.”

“Dan kamu tidak menyentuh sampelnya setelah diambil.”

Dia menatapku dengan mata terluka.

“Baik.”

Rani tiba-tiba berkata, “Kita tidak punya banyak waktu.”

Dia menunjukkan pesan berikutnya.

Datang ke rumah lama sebelum pukul dua belas. Bawa Alya.

Aku mengenali alamat rumah itu.

Rumah keluarga kami di Bogor yang sudah kosong bertahun-tahun.

“Aku pergi,” kataku.

“Nando, jangan,” ujar Nadia.

“Kalau ayahku benar-benar hidup, aku ingin melihat wajahnya sendiri.”

“Aku ikut,” kata Rani.

“Tidak. Kamu bawa Alya ke tempat aman.”

Namun Alya tiba-tiba berdiri.

“Aku juga mau pergi.”

“Tidak.”

“Tapi Kakek Hendra ingin aku datang, kan?”

Semua orang membeku.

Aku berjongkok di depannya.

“Kamu mengenal Hendra?”

Alya mengangguk.

“Dia pernah datang ke sekolahku.”

Rani langsung pucat.

“Kapan?”

“Dua minggu lalu.”

“Apa yang dia katakan?”

Alya mengambil sesuatu dari tas sekolahnya.

Sebuah amplop cokelat kecil.

“Dia bilang kasih ini ke Om Nando kalau aku bertemu Om Nando.”

Tanganku gemetar saat menerimanya.

Di dalamnya terdapat selembar foto dan sebuah kunci.

Foto itu memperlihatkan aku ketika masih bayi.

Seorang perempuan menggendongku.

Bukan ibuku.

Di belakang foto tertulis satu kalimat.

Cari siapa ibumu sebelum mencari siapa ayah Alya.

Aku merasa lantai seperti bergerak.

Rani melihat foto itu dan menutup mulut.

“Kamu mengenalnya?” tanyaku.

“Nando…”

“Siapa dia?”

“Itu Sinta.”

Aku menatap foto lagi.

“Tidak mungkin.”

Rani mengangguk perlahan.

“Sinta bukan hanya ibu Alya.”

Suaranya hampir berbisik.

“Dia ibu kandungmu.”

Aku tidak tahu berapa lama aku terdiam.

Seluruh masa kecilku berputar di kepala.

Ibuku yang kukenal, Mira Wijaya, selalu bersikap dingin. Ayah mengatakan dia mengalami depresi setelah melahirkanku sehingga sulit menunjukkan kasih sayang.

Ternyata mungkin ada alasan lain.

Dia tidak pernah melahirkanku.

Aku menelepon satu-satunya orang yang masih bisa memberiku jawaban.

Mira.

Dia mengangkat setelah dering ketiga.

“Nando?”

“Apakah Sinta ibu kandungku?”

Tidak ada jawaban.

“Bu.”

Aku mendengar tangis kecil dari seberang.

“Maafkan Ibu.”

Dadaku langsung terasa kosong.

“Kenapa?”

“Hendra membawa kamu pulang ketika kamu berumur beberapa bulan. Dia bilang ibumu tidak mampu merawatmu.”

“Dan Ibu percaya?”

“Awalnya.”

“Lalu?”

“Bertahun-tahun kemudian Ibu tahu dia berbohong.”

Aku menutup mata.

“Kenapa Ibu tidak pernah mengatakan apa pun?”

“Karena dia mengancam akan mengambil kamu dari Ibu.”

Untuk pertama kalinya, aku memahami perempuan yang selama ini kukira tidak menyayangiku.

Mungkin jarak yang dia bangun bukan karena tidak peduli.

Mungkin karena takut.

Malam itu aku pergi ke rumah lama ditemani Rani. Nadia tetap di Jakarta karena kondisinya.

Alya kami titipkan kepada Mira.

Pukul sebelas lewat tiga puluh ketika kami tiba.

Lampu ruang tengah menyala.

Aku membuka pintu menggunakan kunci dari amplop.

Seorang pria duduk membelakangi kami.

Rambutnya lebih putih.

Tubuhnya lebih kurus.

Namun aku mengenali cara dia duduk.

“Ayah.”

Hendra Wijaya menoleh.

Dia tersenyum.

“Kamu akhirnya datang.”

Aku berdiri beberapa meter darinya.

Tiga tahun aku berkabung untuk orang yang ternyata masih hidup.

“Kau memalsukan kematianmu.”

“Aku melakukan apa yang perlu.”

“Dan Nadia?”

“Perempuan itu terlalu mudah dikendalikan.”

Rani mengepalkan tangan.

“Kenapa kau menginginkan Alya?”

Hendra menatapnya.

“Karena anak itu membawa sesuatu yang seharusnya menjadi milikku.”

“Apa?”

Hendra tertawa.

“Masih belum mengerti?”

Dia membuka sebuah brankas kecil.

Di dalamnya ada dokumen.

“Sinta adalah pewaris sebenarnya dari perusahaan keluarga.”

Aku terdiam.

“Perusahaan itu bukan milik keluarga Wijaya?”

“Sebagian besar modal awal berasal dari keluarga Sinta. Ayahnya mempercayaiku. Kesalahan terbesar dalam hidupnya.”

Aku mulai memahami.

“Setelah Sinta meninggal, hak waris berpindah kepada anak-anaknya.”

“Benar.”

“Berarti kepadaku dan Alya.”

Senyum Hendra menghilang.

“Itulah masalahnya.”

Aku menatap Rani.

“Siapa ayah Alya?”

Rani tidak menjawab.

Hendra yang menjawab.

“Kamu.”

Aku merasa darahku berhenti mengalir.

“Apa?”

Rani langsung berkata, “Dia bohong.”

Namun Hendra tertawa.

“Lakukan tes DNA kalau tidak percaya.”

Aku mundur.

Delapan tahun lalu?

Tidak mungkin.

Aku tidak pernah memiliki hubungan dengan Sinta.

Hendra kemudian melemparkan sebuah dokumen ke meja.

“Bukan dalam arti yang kamu pikirkan.”

Aku membacanya.

Dokumen klinik fertilitas.

Namaku tercantum sebagai pemilik sampel biologis.

Aku hampir muntah.

“Aku tidak pernah memberikan ini.”

“Ada pemeriksaan kesehatan perusahaan delapan tahun lalu, ingat?”

Aku mengingatnya.

Darah.

Sampel.

Pemeriksaan lengkap.

“Kau mencuri materi biologisku?”

“Aku membutuhkan ahli waris yang bisa kukendalikan.”

Rani berteriak, “Kau gila!”

“Tapi Sinta melarikan diri setelah mengetahui semuanya,” lanjut Hendra. “Dia membawa bayi itu. Lalu dia mencoba membongkar perusahaan.”

Aku ingin menghantamnya.

Namun aku menahan diri.

“Jadi Alya…”

Hendra tersenyum.

“Secara biologis, kemungkinan besar dia anakmu.”

Aku terduduk.

Anak kecil yang memelukku di taman.

Anak yang mengatakan orang asing hanyalah orang yang namanya belum kita tahu.

Anak yang membuatku merasa menjadi ayah ketika aku baru saja kehilangan keyakinan bahwa aku akan menjadi ayah.

Ternyata mungkin memang darahku sendiri.

Rani menangis.

“Aku ingin memberitahumu sejak dulu. Tapi Sinta meminta aku melindungi Alya sampai Hendra benar-benar tidak bisa menyentuhnya.”

Aku menatap Hendra.

“Kenapa sekarang?”

“Karena besok kamu menikah. Setelah itu struktur aset berubah. Aku tidak punya waktu.”

Aku mengeluarkan ponsel.

“Benar.”

Wajah Hendra berubah.

“Waktumu memang habis.”

Dari luar terdengar beberapa mobil berhenti.

Hendra berdiri.

“Apa yang kau lakukan?”

“Aku tidak datang untuk mendapatkan pengakuan.”

Pintu terbuka.

Beberapa petugas masuk bersama pengacara perusahaan.

Sejak perjalanan dari Jakarta, ponselku merekam semuanya dan mengirimkannya secara langsung kepada pengacaraku.

Untuk pertama kalinya, ayahku terlihat takut.

Beberapa minggu setelah malam itu, penyelidikan membuka semuanya.

Kematian palsu.

Penggelapan aset.

Pemalsuan dokumen.

Ancaman terhadap saksi.

Manipulasi klinik.

Dan kematian Sinta yang akhirnya diperiksa kembali.

Tes DNA baru juga dilakukan.

Kali ini aku melihat sendiri seluruh prosesnya.

Hasil pertama menyatakan bayi dalam kandungan Nadia memang anak biologisku.

Aku membaca angka itu lama sekali.

Kemungkinan hubungan ayah biologis lebih dari 99,9 persen.

Nadia menangis.

Aku juga.

Namun aku tidak langsung melanjutkan pernikahan.

“Aku masih mencintaimu,” kataku kepadanya, “tapi kita tidak bisa membangun keluarga di atas rahasia.”

Dia mengangguk.

“Aku tahu.”

Kami memilih memulai kembali dari awal.

Bukan sebagai calon suami istri.

Sebagai dua orang yang harus belajar jujur lagi.

Kemudian datang hasil tes kedua.

Tes antara aku dan Alya.

Aku membukanya bersama Rani dan Mira.

Tanganku kembali gemetar seperti malam pertama semua ini dimulai.

Kemungkinan hubungan ayah biologis: 99,98 persen.

Aku menatap Alya.

Dia sedang duduk di sofa sambil menggambar.

Aku berjalan mendekatinya.

“Alya.”

Dia mendongak.

“Kamu ingat waktu kita pertama bertemu?”

“Ingat.”

“Kamu bilang kalau orang sedih boleh dipeluk satu menit.”

Dia mengangguk.

Aku berjongkok.

“Kali ini boleh lebih lama?”

Dia tertawa dan memelukku.

Aku akhirnya menangis.

Bukan karena perusahaan.

Bukan karena pengkhianatan ayahku.

Bukan pula karena pernikahan yang tertunda.

Aku menangis karena selama bertahun-tahun aku mengira hidupku dibentuk oleh orang-orang yang meninggalkanku.

Padahal seorang anak kecil yang tidak kukenal telah berjalan ke sebuah taman pada hari terburuk dalam hidupku dan tanpa sadar mengembalikan sesuatu yang bahkan tidak pernah kuketahui telah dirampas dariku.

Beberapa bulan kemudian, putraku lahir.

Nadia mengizinkanku memilih namanya.

Aku menamainya Arga.

Ketika pertama kali membawanya pulang, Alya berdiri di samping tempat tidurnya cukup lama.

“Berarti aku kakaknya?”

Aku tersenyum.

“Iya.”

“Walaupun kita baru tahu?”

“Iya.”

Dia berpikir sebentar.

“Berarti keluarga itu aneh, ya?”

“Kenapa?”

“Kadang orang yang kita kira keluarga ternyata bohong. Kadang orang asing ternyata keluarga.”

Aku terdiam mendengar kalimatnya.

Kemudian Alya memegang jari adiknya.

Saat itulah aku memahami sesuatu yang tidak pernah diajarkan ayahku.

Darah memang bisa membuktikan dari mana seseorang berasal.

Tetapi darah tidak menentukan siapa yang pantas disebut keluarga.

Tes DNA menghancurkan pernikahanku sehari sebelum dilaksanakan.

Namun tes yang sama kemudian mengembalikan seorang ibu yang selama ini tidak pernah kukenal, membuka kejahatan ayah yang selama bertahun-tahun kusegani, memberiku kesempatan memperbaiki hubungan dengan perempuan yang kusebut ibu, dan mempertemukanku dengan seorang anak yang ternyata sudah menjadi bagian dari hidupku jauh sebelum aku mengetahui namanya.

Dan mungkin kebetulan terbesar malam itu bukanlah aku bertemu Rani setelah delapan tahun.

Melainkan Alya memilih berjalan mendekati seorang pria asing yang sedang duduk sendirian di taman.

Karena ternyata sejak awal, dia tidak sedang menghibur orang asing.

Dia sedang memeluk ayahnya sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang