Layar membeku tepat pada wajah Alya.
Tak seorang pun di lokasi berani bergerak.
Suara angin yang menggesek daun kamboja tiba-tiba terdengar jauh lebih jelas daripada beberapa menit sebelumnya. Bahkan pembawa acara yang biasanya selalu punya kalimat untuk mengisi keheningan hanya berdiri dengan mikrofon menggantung di tangannya.
Arga menatap Alya.

“Kamu tahu?”
Alya tidak menjawab.
“Alya.”
Nada suara Arga rendah, tetapi justru itu yang membuat semua orang menahan napas.
“Kamu tahu Nadira sakit?”
Alya menelan ludah.
“Kita bisa bicara setelah acara.”
“Jawab sekarang.”
“Arga, kameranya masih hidup.”
“Aku tahu.”
Arga menunjuk monitor.
“Makanya jawab sekarang.”
Wajah Alya semakin pucat.
“Aku cuma berusaha melindungi kamu.”
Arga tertawa pendek. Matanya tidak ikut tertawa.
“Melindungi aku dari perempuan yang sedang sekarat?”
Komentar di siaran langsung bergerak begitu cepat hingga nyaris tak terbaca.
Produser memberi instruksi agar kamera terus merekam.
Video yang sempat berhenti mendadak berjalan kembali.
Nadira masih berada di kursi roda. Alya berdiri di depannya.
“Aku tidak pernah meminta Arga kembali,” kata Nadira dalam rekaman.
“Lalu kenapa terus kirim hadiah?”
“Karena aku tidak tahu berapa banyak ulang tahunnya yang masih bisa kulihat.”
Alya terdiam sesaat.
Kemudian dia mengambil kotak dari pangkuan Nadira.
“Mulai sekarang jangan kirim apa pun lagi.”
“Alya.”
“Dia sudah bahagia.”
Nadira menatap perempuan itu cukup lama.
“Dengan kamu?”
Alya tidak menjawab.
Nadira justru tersenyum tipis.
“Kalau memang dengan kamu, jaga dia.”
Kalimat itu membuat Alya dalam siaran langsung menundukkan kepala.
Rekaman berganti.
Nadira berada di kamar rumah sakit. Rambutnya hampir seluruhnya rontok. Infus terpasang di tangannya.
“Sudah sebelas bulan sejak aku putus dengan Arga.”
Ia mengangkat ponsel.
Di layar terlihat sebuah wawancara Arga.
Reporter bertanya apakah dia masih membenci mantan kekasihnya.
Arga dalam wawancara itu tersenyum sinis.
“Tidak membenci. Cuma berterima kasih. Kalau dia tidak meninggalkan saya, mungkin saya tidak akan bekerja sekeras ini.”
Nadira mematikan layar.
“Aku senang.”
Namun air matanya jatuh.
“Aku benar-benar senang.”
Ia mengusap pipinya.
“Setidaknya kebencian itu berguna.”
Arga di pemakaman menutup mulut dengan tangan.
Untuk pertama kalinya sejak menjadi selebritas, wajahnya terlihat seperti Arga yang dulu. Pemuda kurus yang pernah duduk bersamanya di halte TransJakarta sambil menghitung uang receh untuk makan malam.
Video berganti lagi.
Kali ini Maya duduk di samping tempat tidur Nadira.
“Aku sudah tidak bisa menyembunyikan ini terus,” kata Maya.
Nadira tersenyum.
“Bisa.”
“Arga sekarang sering bertanya siapa investor pertama yang membantu biaya manajemennya.”
“Bilang investor anonim.”
“Dia tidak bodoh, Nadira.”
“Memang.”
Nadira tertawa kecil.
“Itu salah satu alasan aku suka dia.”
Maya menghela napas.
“Kamu sadar uangmu bukan cuma empat ratus dua puluh juta?”
Nadira mengangguk.
“Royalti investasi dari dua proyek pertama sudah hampir dua miliar. Secara hukum semuanya tetap atas namamu.”
“Kalau aku meninggal, gunakan sesuai dokumen yang sudah kita buat.”
Maya menatapnya.
“Kamu yakin?”
“Yakin.”
“Bahkan setelah semua yang dia katakan tentangmu?”
Nadira memandang ke jendela.
“Aku pernah mencintai Arga ketika dia bahkan tidak punya uang untuk membayar parkir motor.”
“Jadi bukan uangnya yang aku pedulikan.”
Ia berhenti sebentar.
“Aku cuma ingin memastikan suatu hari, kalau dia berhasil, keberhasilannya tidak membuat dia berubah menjadi orang yang dulu paling dia benci.”
Arga menurunkan tangannya.
Ada sesuatu dalam kalimat itu yang tampaknya menghantamnya lebih keras daripada semua pengungkapan sebelumnya.
Karena selama tiga tahun terakhir, dia memang berubah.
Dia pernah mempermalukan kru karena kopi datang terlambat.
Pernah menolak syuting karena mobil penjemput bukan merek yang diminta.
Pernah mengatakan dalam podcast bahwa orang miskin hanya perlu bekerja lebih keras.
Dan setiap kali nama Nadira muncul, dia selalu menjadikannya bahan lelucon.
Video kembali berpindah.
Nadira kini berada di rumah kontrakannya.
Tubuhnya sangat kurus.
Di meja terdapat beberapa kotak.
Ia mengambil satu demi satu.
“Ini hadiah ulang tahun Arga untuk tiga tahun ke depan.”
Kotak pertama berisi jam tangan murah.
“Yang ini untuk mengingatkan dia bahwa dulu jam tangan pertamanya cuma seratus lima puluh ribu dari Pasar Senen, tapi dia bangga sekali.”
Kotak kedua berisi foto lama.
“Yang ini kalau suatu hari dia lupa wajah orang-orang yang menemani ketika belum ada kamera.”
Kotak ketiga tidak dibuka.
Nadira hanya meletakkan tangannya di atasnya.
“Yang terakhir biar dia buka sendiri.”
Kemudian wajahnya berubah serius.
“Aku tidak tahu paket-paket sebelumnya tidak pernah sampai.”
“Aku baru tahu setelah kurir rumah sakit menelepon dan bilang semua kiriman diterima orang yang sama.”
Nadira menarik napas.
“Alya.”
Di pemakaman, Alya menutup mata.
“Aku tidak marah.”
Nadira melanjutkan.
“Mungkin dia takut kehilangan Arga.”
“Tapi Alya, kalau suatu hari kamu melihat video ini, aku cuma mau bilang satu hal.”
“Cinta yang harus bertahan dengan menyembunyikan kebenaran bukan cinta.”
Alya mulai menangis.
Namun video belum berakhir.
Rekaman berikutnya bertanggal dua tahun lalu.
Nadira berada di ruang perawatan intensif.
Suaranya sangat lemah.
“Aku tadi minta perawat membelikan majalah.”
Ia menunjukkan sampul yang memuat wajah Arga.
“Filmnya tembus delapan juta penonton.”
Nadira tersenyum bangga.
“Katanya sekarang dia salah satu aktor termahal.”
Ia mendekatkan majalah ke dadanya.
“Ga, kalau suatu hari kamu melihat semua ini, jangan merasa bersalah karena kamu tidak datang.”
“Kamu tidak tahu.”
“Itulah tujuan semua ini.”
“Jangan merasa bersalah karena bahagia ketika aku sakit.”
“Jangan merasa bersalah karena jatuh cinta lagi.”
“Dan jangan membenci Alya terlalu lama.”
Alya mendongak kaget.
Nadira tersenyum lemah.
“Orang yang takut kehilangan seseorang bisa melakukan hal bodoh.”
“Tapi bukan berarti kesalahannya tidak punya akibat.”
Nadira batuk cukup lama sebelum mampu berbicara kembali.
“Aku cuma punya satu permintaan.”
“Jangan ubah aku menjadi alasan untuk menghancurkan hidup orang lain.”
Arga menangis tanpa suara.
Kamera tidak menjauh.
Tidak ada musik dramatis.
Tidak diperlukan.
Kemudian muncul rekaman terakhir.
Tanggalnya tujuh belas hari sebelum Nadira meninggal.
Ia berbaring dengan selang oksigen.
“Ga.”
Untuk pertama kalinya sepanjang video, Nadira memanggilnya dengan nama panggilan lama.
“Aku capek.”
Nadira tersenyum.
“Ternyata pura-pura jadi perempuan jahat lebih melelahkan daripada kemoterapi.”
Beberapa kru menangis.
“Aku sering membayangkan kalau suatu hari kita bertemu lagi.”
“Mungkin kamu sudah punya istri.”
“Mungkin anakmu sudah besar.”
“Atau mungkin kamu masih terlalu sibuk mengejar penghargaan.”
Ia tertawa kecil.
“Tapi sepertinya kita tidak akan bertemu.”
Nadira menatap kamera lama sekali.
“Kalau kamu melihat ini, berarti aku benar-benar tidak pulang.”
Arga langsung berjongkok.
Tangannya menyentuh tanah di depan nisan.
“Nad…”
Suara itu nyaris tidak terdengar.
Di layar, Nadira melanjutkan.
“Aku tidak menyesal pernah mencintaimu.”
“Aku cuma menyesal memilih membuatmu membenciku.”
“Waktu itu kupikir kebencian lebih ringan daripada kehilangan.”
“Ternyata aku salah.”
“Karena kebencian juga bisa mengubah seseorang.”
Nadira menarik napas perlahan.
“Jadi setelah menonton ini, jangan habiskan hidupmu menyesali apa yang tidak kamu tahu.”
“Hiduplah dengan lebih baik karena sekarang kamu sudah tahu.”
Layar menjadi hitam.
Namun beberapa detik kemudian muncul tulisan bahwa masih ada satu rekaman tambahan.
Arga menatap monitor.
Video terakhir bukan Nadira.
Maya muncul.
Rekaman itu dibuat hanya dua minggu sebelumnya.
“Arga, kalau video ini diputar, berarti kamu akhirnya menemukan makam Nadira.”
Maya membuka sebuah dokumen.
“Setelah Nadira meninggal, seluruh hak investasinya dalam manajemenmu diwariskan ke sebuah yayasan.”
Arga mengangkat kepala.
Maya melanjutkan.
“Yayasan Nadira Prameswari membantu biaya pengobatan pasien kanker yang keluarganya kehilangan penghasilan selama perawatan.”
Muncul beberapa foto bangunan sederhana di Bogor.
“Selama dua tahun terakhir, royalti dari investasi awal Nadira telah membiayai pengobatan seratus delapan puluh tujuh pasien.”
Arga terdiam.
“Kenapa aku tidak pernah tahu?” bisiknya.
Maya di video seakan menjawab.
“Karena itu syarat Nadira.”
“Namamu tidak boleh digunakan untuk promosi.”
“Dia tidak ingin orang mengira yayasan itu berdiri karena aktor terkenal.”
“Tapi ada satu hal lagi.”
Maya mengangkat sebuah amplop.
“Nadira meninggalkan hak keputusan terakhir kepadamu.”
“Mulai hari ini, kamu boleh menarik seluruh bagian investasi yang berasal dari royalti karyamu.”
“Nilainya sekarang sekitar sembilan belas miliar rupiah.”
Suasana kembali riuh.
Arga menatap layar.
Maya berkata,
“Pilihan ada di tanganmu.”
Video selesai.
Pembawa acara akhirnya mendekati Arga.
“Mas, siaran masih berjalan.”
Arga berdiri perlahan.
Wajahnya basah.
Ia menatap kamera yang sejak tadi menyiarkan kehancurannya kepada jutaan orang.
“Saya pernah mengatakan Nadira meninggalkan saya karena saya miskin.”
Ia menarik napas.
“Saya salah.”
“Saya pernah menertawakan dia di podcast, wawancara, bahkan beberapa menit lalu di depan makamnya.”
Arga menunduk.
“Saya tidak bisa meminta maaf kepada orang yang sudah tidak ada.”
Kemudian dia memandang Alya.
Alya gemetar.
“Arga, aku benar-benar minta maaf.”
Arga diam cukup lama.
“Aku tidak akan menghancurkan kamu.”
Alya menatapnya.
“Nadira baru saja meminta itu.”
“Tapi hubungan kita selesai.”
Alya menangis.
Arga tidak berteriak.
Tidak menghinanya.
Ia hanya berkata,
“Aku bisa memaafkan rasa takutmu. Tapi aku tidak bisa membangun hidup dengan seseorang yang membuatku mencintai sebuah kebohongan.”
Lalu Arga kembali menghadap kamera.
“Dan soal sembilan belas miliar itu.”
Semua orang menunggu.
“Saya tidak akan mengambilnya.”
Dia melihat nama Nadira di nisan.
“Tambahkan semuanya ke yayasan.”
Siaran langsung berakhir beberapa menit kemudian.
Dalam dua puluh empat jam, potongan video itu ditonton puluhan juta kali.
Kontrak iklan Alya dihentikan beberapa merek. Arga meminta publik berhenti menyerangnya dan secara terbuka mengatakan bahwa kesalahan seseorang tidak memberi siapa pun hak untuk melakukan perundungan.
Selama beberapa bulan, Arga menghilang dari televisi.
Banyak orang mengira kariernya tamat.
Namun enam bulan kemudian, dia muncul bukan di premier film, melainkan di sebuah rumah singgah pasien kanker di Bogor.
Tidak ada karpet merah.
Tidak ada pakaian mahal.
Arga sedang mengecat dinding bersama relawan.
Di salah satu ruangan tergantung foto kecil Nadira.
Di bawahnya tertulis satu kalimat.
Untuk seseorang yang pernah menjadi rumah.
Seorang wartawan bertanya apakah Arga sekarang mengelola yayasan itu untuk menebus rasa bersalah.
Arga menggeleng.
“Kalau cuma untuk menebus rasa bersalah, suatu hari rasa bersalahnya hilang dan saya akan berhenti.”
“Lalu kenapa?”
Arga memandang foto Nadira.
“Karena seseorang pernah percaya saya bisa menjadi manusia yang lebih baik bahkan ketika saya sendiri tidak percaya.”
Setahun kemudian, Arga kembali berakting.
Dia tetap terkenal.
Namun orang-orang di lokasi mengatakan dia berbeda.
Dia datang tepat waktu.
Makan bersama kru.
Tidak pernah lagi memarahi staf di depan umum.
Dan setiap Idulfitri, sebelum pulang menemui keluarganya, Arga selalu datang sendiri ke makam Nadira.
Tanpa kamera.
Tanpa siaran langsung.
Pada tahun ketiga, penjaga makam menyerahkan sebuah kotak kepadanya.
“Ini dititipkan Bu Maya. Katanya baru boleh diberikan tiga tahun setelah Mas menemukan makam ini.”
Arga langsung mengenali kotak ketiga dari video Nadira.
Tangannya gemetar ketika membukanya.
Di dalamnya hanya ada sebuah kunci dan secarik kertas.
Alamat rumah kontrakan lama mereka tertulis di sana.
Arga pergi sore itu juga.
Rumah kecil tersebut ternyata telah dibeli Nadira sebelum meninggal.
Di dalamnya hampir tidak ada yang berubah.
Meja murah tempat mereka dulu makan mi instan masih ada.
Sofa yang pernah mereka beli dari toko barang bekas masih berada di ruang tengah.
Di dinding tergantung sebuah foto.
Arga dan Nadira saat berusia dua puluh tiga tahun.
Mereka duduk di lantai sambil tertawa karena listrik rumah mati.
Di belakang foto terdapat tulisan tangan Nadira.
Arga membacanya perlahan.
“Kalau suatu hari kamu punya rumah sebesar apa pun, jangan lupa bahwa rumah bukan tempat paling mahal yang bisa kamu beli.”
“Rumah adalah tempat kamu tidak perlu menjadi siapa-siapa agar tetap dicintai.”
Arga duduk di lantai.
Untuk pertama kalinya sejak menemukan makam Nadira, dia tidak menangis.
Dia hanya tersenyum.
Di luar, suara takbir menjelang Idulfitri mulai terdengar dari masjid-masjid sekitar.
Arga membuka jendela yang dulu selalu macet.
Angin malam masuk membawa aroma hujan.
Di atas meja masih ada sebuah bingkai foto kosong.
Arga mengambil foto Nadira dari sakunya dan memasukkannya ke sana.
Kemudian ia mematikan lampu dan berdiri di ambang pintu.
“Selamat Idulfitri, Nad.”
Ia menutup pintu perlahan.
Dan baru saat itulah Arga memahami sesuatu yang Nadira telah pahami jauh lebih dulu.
Ada orang-orang yang tidak pernah pulang.
Namun cinta yang mereka tinggalkan bisa menjadi jalan pulang bagi orang lain.
