CUCU SAYA MENGANTAR MAKANAN DI DEPAN RUMAH SAKIT, SEMENTARA MENANTU MASIH MEMINTA Rp27 JUTA UNTUK “UANG KULIAH”; SATU KALIMAT DARI CUCU MEMBUAT TANGAN SAYA MEMBEKU, KARENA TERNYATA DUA TAHUN TERAKHIR KAMI MEMBIAYAI KEBOHONGAN

Tangan saya masih gemetar ketika bus meninggalkan Yogyakarta sore itu. Di dalam tas, tersimpan riwayat pembayaran kampus Arga dan surat pengunduran dirinya. Dua lembar kertas yang rasanya lebih berat daripada seluruh barang yang pernah saya bawa sepanjang hidup.

Selama hampir dua tahun, kami mengira sedang membiayai pendidikan cucu kami.

Ternyata kami membiayai sesuatu yang bahkan belum kami ketahui.

Saya tidak langsung pulang. Dari terminal, saya kembali ke rumah sakit. Pak Darma masih terbaring dengan infus di tangan ketika saya masuk.

Dia langsung membaca wajah saya.

“Benar?”

Saya meletakkan dokumen kampus di meja kecil.

“Arga keluar setelah semester dua.”

Pak Darma membaca semuanya perlahan. Ketika sampai pada riwayat pembayaran, tangannya berhenti.

“Jadi uang yang kita kirim?”

“Saya tidak tahu.”

Wajah suami saya memucat.

Selama ini kami selalu percaya Budi. Bahkan setelah Rina meninggal, saya sering membelanya ketika Pak Darma merasa Budi terlalu membatasi hubungan kami dengan Arga.

Saya pikir dia hanya seorang ayah yang protektif.

Sekarang saya mulai bertanya apakah semua itu memang sengaja dilakukan agar Arga tidak pernah bisa berbicara langsung dengan kami.

Pak Darma menutup dokumen.

“Temui Arga dulu.”

Saya mengangguk.

“Jangan sampai kita membuat kesalahan yang sama. Selama dua tahun kita hanya mendengar cerita Budi. Sekarang kita dengar cerita cucu kita.”

Malam itu saya mencari Pos Tembalang 7.

Saya menemukannya di sebuah warung kopi sederhana dekat deretan ruko. Beberapa pengemudi ojol duduk sambil menunggu pesanan.

Ketika saya menunjukkan foto Arga, seorang pria bernama Deni langsung mengenalinya.

“Arga? Biasanya malam baru datang, Bu.”

“Dia tinggal di mana?”

Deni ragu.

Saya memperkenalkan diri sebagai neneknya.

Ekspresinya berubah.

“Oh, jadi Ibu nenek yang sering dia ceritakan?”

Kalimat itu membuat dada saya sesak.

“Dia cerita tentang saya?”

“Sering. Katanya neneknya bikin pisang goreng paling enak sedunia.”

Saya hampir menangis.

Ternyata cucu yang selama ini saya kira menjauh masih mengingat hal-hal kecil tentang rumah kami.

Deni akhirnya memberikan alamat kos Arga.

Bangunannya berada di gang sempit, sekitar lima belas menit dari sana. Kamar Arga ada di lantai dua. Ketika pintunya terbuka, saya hampir tidak mengenali kehidupan cucu saya sendiri.

Ruangan itu kecil.

Kasur tipis tergeletak di lantai. Ada kipas angin bekas, dua kaus yang digantung dekat jendela, beberapa buku kuliah lama, dan kotak mi instan di sudut kamar.

Arga berdiri di depan pintu.

“Eyang kok ke sini?”

“Saya harus ke mana lagi kalau mau bertemu cucu saya?”

Dia terdiam.

Saya masuk dan duduk di tepi kasurnya.

“Berapa penghasilanmu sehari?”

Arga menunduk.

“Kalau ramai, seratus lima puluh ribu. Kadang dua ratus.”

“Kamu sudah bekerja seperti ini sejak keluar kuliah?”

“Iya.”

“Uang bulanan dari kami tidak pernah kamu terima?”

Dia menggeleng.

Saya merasakan kemarahan naik ke tenggorokan, tetapi saya menahannya.

“Lalu kamu hidup bagaimana?”

“Awalnya kerja di kedai kopi. Terus jadi kurir. Sekarang ojol.”

“Kenapa tidak mencari Eyang?”

Arga lama sekali menjawab.

Akhirnya dia membuka ponselnya.

Dia memperlihatkan beberapa pesan lama dari Budi.

Jangan hubungi Eyangmu. Kakung masuk rumah sakit gara-gara stres memikirkan uang kuliahmu.

Kalau kamu masih punya malu, jangan minta uang lagi.

Kamu sudah mengecewakan semua orang.

Ada pula pesan lain.

Eyangmu bilang lebih baik uangnya dipakai untuk pengobatan Kakung daripada membiayai anak yang nilainya seperti kamu.

Saya menutup mulut.

“Saya tidak pernah mengatakan itu.”

“Aku tahu sekarang.”

“Kenapa baru sekarang?”

Arga menatap saya.

“Karena dulu aku percaya sama Bapak.”

Suara itu tidak mengandung kebencian. Justru itulah yang membuatnya lebih menyakitkan.

Arga kemudian menceritakan semuanya.

Menjelang akhir semester dua, Budi datang ke Yogyakarta dan mengatakan kondisi keuangan keluarga sedang buruk. Katanya saya dan Pak Darma tidak mau lagi membayar kuliah karena kecewa dengan nilai Arga.

Budi menyuruhnya mengundurkan diri.

Arga sempat menolak.

Mereka bertengkar.

“Bekas di tanganmu?”

Arga refleks menarik lengan bajunya.

“Bapak dorong aku waktu itu. Tanganku kena pinggiran lemari kaca.”

Saya memejamkan mata.

“Tapi Bapak bukan orang jahat, Yang.”

Saya menatapnya tidak percaya.

“Dia ayahmu. Tapi menjadi ayah tidak membuat semua tindakannya otomatis benar.”

Arga mengusap wajahnya.

“Ada satu hal lagi.”

Dia membuka lemari kecil lalu mengeluarkan map cokelat.

Di dalamnya ada beberapa fotokopi surat.

Saya membaca salah satunya.

Surat perjanjian utang.

Nama peminjamnya Budi Santoso.

Nilainya Rp310 juta.

“Apa ini?”

“Aku menemukannya waktu Bapak minta aku mengambil dokumen di rumah.”

Utang itu berasal dari sebuah perusahaan pembiayaan dan beberapa pinjaman pribadi.

Ada dokumen lain.

Bukti pembayaran kendaraan.

Sebuah mobil.

Saya mengenali nomor polisinya.

Mobil itu pernah dibawa Budi ke rumah kami setahun sebelumnya.

Saat itu dia mengatakan mobil tersebut milik kantor.

Arga kemudian menunjukkan foto dari media sosial seorang perempuan bernama Maya.

Dalam salah satu foto, Maya berdiri di samping mobil yang sama.

Keterangan fotonya berbunyi bahwa mobil itu hadiah ulang tahun.

“Siapa dia?”

Arga menelan ludah.

“Calon istri Bapak.”

Saya menatapnya.

“Calon istri?”

“Mereka sudah tinggal bersama.”

Untuk beberapa detik saya tidak mampu berkata apa-apa.

Budi memang berhak membangun kehidupan baru setelah Rina meninggal.

Saya tidak pernah mempermasalahkan itu.

Yang menjadi masalah adalah uang yang digunakan.

“Arga, kamu yakin uang dari kami dipakai untuk mereka?”

“Aku tidak tahu semuanya. Makanya aku tidak pernah berani menuduh.”

Dia membuka sebuah pesan lain.

Pesan dari Budi beberapa bulan sebelumnya.

Kalau Eyang telepon, bilang saja kuliah lancar. Jangan bikin masalah. Rumah mereka nanti juga jatuh ke kamu. Semua ini untuk keluarga.

Saya merasa mual.

Saya akhirnya mengerti mengapa Arga selalu menghindar.

Dia bukan hanya dipisahkan dari kami.

Dia dibuat merasa bersalah, kemudian diminta ikut mempertahankan kebohongan.

Saya memegang tangannya.

“Besok ikut Eyang.”

“Ke mana?”

“Menemui Kakung.”

Arga mulai menangis.

“Aku malu.”

“Yang seharusnya malu bukan kamu.”

Keesokan paginya, ketika Arga masuk ke kamar rumah sakit, Pak Darma sedang duduk bersandar.

Keduanya hanya saling memandang.

Lalu Pak Darma membuka kedua tangannya.

Arga berjalan cepat dan memeluk kakeknya.

Saya tidak pernah melihat suami saya menangis seperti itu sejak pemakaman Rina.

“Maaf, Kung.”

Pak Darma mengusap kepala cucunya.

“Kamu minta maaf untuk apa?”

“Aku gagal kuliah.”

“Kamu tidak gagal.”

Pak Darma menarik napas karena luka operasinya terasa sakit.

“Kamu hanya ditinggalkan sendirian ketika seharusnya ada orang dewasa yang melindungimu.”

Hari itu kami membuat keputusan.

Kami tidak akan menuduh Budi sebelum memiliki bukti lengkap.

Saya mencetak seluruh bukti transfer bank selama dua tahun.

Jumlahnya membuat tangan saya dingin.

Biaya hidup bulanan ditambah empat kali pembayaran semester yang sebenarnya tidak pernah ada mencapai lebih dari Rp230 juta setelah Arga berhenti kuliah.

Belum termasuk uang lain yang sesekali diminta Budi untuk laptop, buku, kegiatan kampus, dan biaya KKN.

Semuanya palsu.

Kami kemudian meminta bantuan seorang kerabat yang bekerja sebagai pengacara.

Dia menyarankan kami menyimpan seluruh percakapan, mutasi rekening, dan dokumen kampus.

Kemudian kami menunggu.

Hari Jumat tiba.

Hari yang disebut Budi sebagai batas pembayaran Rp27,4 juta.

Pagi-pagi dia menelepon.

“Bu, sudah ditransfer?”

“Belum.”

“Kenapa?”

“Saya ingin menyerahkan langsung.”

Budi diam.

“Langsung ke siapa?”

“Ke kamu.”

Saya sengaja mengajaknya datang ke rumah pada Minggu siang setelah Pak Darma diperbolehkan pulang.

Budi datang sekitar pukul dua.

Dia mengenakan kemeja mahal dan jam tangan yang belum pernah saya lihat.

Begitu masuk, dia langsung tersenyum.

“Bapak sudah sehat?”

Pak Darma duduk di ruang tengah.

“Sudah lumayan.”

Budi kemudian mengeluarkan ponselnya.

“Kalau uangnya tunai, nanti saya transfer ke kampus.”

Saya meletakkan amplop cokelat di meja.

Matanya langsung tertuju ke sana.

“Rp27,4 juta?”

“Lebih penting daripada uang.”

Saya membuka amplop.

Surat pengunduran diri Arga saya letakkan paling atas.

Wajah Budi berubah.

Dia tidak menyentuhnya.

“Ini apa?”

“Kamu lebih tahu.”

“Bisa saya jelaskan.”

“Silakan.”

Budi menarik napas.

“Arga memang berhenti kuliah.”

“Sejak semester dua.”

“Iya.”

“Tapi selama hampir dua tahun kamu tetap meminta uang kuliah.”

Budi mulai gelisah.

“Uangnya sebenarnya saya simpan.”

“Di mana?”

Dia diam.

“Saya investasikan.”

“Di mana?”

Tidak ada jawaban.

Saya mengeluarkan bukti utangnya.

Lalu foto mobil.

Wajahnya semakin pucat.

“Arga yang kasih semua ini?”

Pak Darma langsung berkata tegas.

“Jangan bawa Arga ke dalam kesalahanmu.”

Budi berdiri.

“Pak, Bu, kalian tidak mengerti situasinya.”

“Kalau begitu buat kami mengerti.”

Budi mengusap rambutnya.

“Setelah Rina meninggal, usaha saya hancur. Saya punya utang. Saya terpaksa memakai uang itu.”

“Kenapa berbohong?”

“Saya berniat menggantinya.”

“Empat semester?”

“Saya butuh waktu.”

“Lalu Rp27,4 juta yang kamu minta minggu ini?”

Dia tidak menjawab.

Saat itulah terdengar langkah dari arah belakang rumah.

Arga muncul.

Budi membeku.

“Kamu?”

Arga berdiri beberapa meter dari ayahnya.

Untuk pertama kalinya saya melihat cucu saya tidak menundukkan kepala.

“Bapak bilang Eyang tidak mau membiayai aku.”

Budi langsung menunjuknya.

“Kamu jangan ikut campur.”

“Aku anak Bapak. Dua tahun hidupku hilang karena kebohongan itu. Bagaimana mungkin aku tidak ikut campur?”

“Kamu sendiri yang bodoh! Kalau kamu benar-benar pintar, kamu bisa cari beasiswa!”

Ruangan langsung sunyi.

Arga menatap ayahnya.

Kalimat itu seperti memutus sesuatu yang selama ini masih dia pertahankan.

“Jadi memang benar.”

“Apa?”

“Bapak tidak pernah merasa bersalah.”

Budi hendak mendekat, tetapi Pak Darma berdiri.

“Jangan sentuh cucu saya.”

Budi tertawa pahit.

“Cucu Bapak? Saya ayahnya.”

Pak Darma menatapnya tajam.

“Ayah bukan hanya nama di kartu keluarga.”

Budi mengambil kunci mobilnya.

“Kalau kalian mau mempermalukan saya, silakan. Saya pulang.”

Saya menghentikannya.

“Ada satu hal yang belum kamu tahu.”

Dia menoleh.

“Besok pagi kami akan membawa seluruh dokumen ini untuk konsultasi hukum.”

Wajahnya berubah.

“Bu, jangan gila.”

“Saya tidak sedang marah karena uang.”

Saya berdiri di depannya.

“Saya marah karena selama dua tahun kamu membuat seorang anak percaya bahwa keluarganya meninggalkannya.”

Budi pergi tanpa mengucapkan apa pun.

Malam itu telepon saya dipenuhi pesan.

Awalnya permintaan maaf.

Kemudian alasan.

Lalu ancaman bahwa kami akan kehilangan Arga kalau masalah itu dibawa ke jalur hukum.

Saya tidak membalas satu pun.

Beberapa hari kemudian sesuatu yang tidak kami duga terjadi.

Maya datang ke rumah.

Perempuan itu ternyata tidak mengetahui sumber uang Budi.

Dia juga tidak tahu bahwa Arga sudah berhenti kuliah.

Ketika mengetahui semuanya, dia membawa bukti transfer dari Budi dan beberapa percakapan tentang uang yang katanya berasal dari keuntungan investasi.

Bukti itulah yang akhirnya melengkapi rangkaian transaksi yang selama ini kami cari.

Hubungan mereka berakhir tidak lama kemudian.

Proses hukum berjalan panjang. Tidak semua uang dapat kembali, tetapi Budi akhirnya menandatangani kesepakatan pengembalian bertahap setelah bukti-bukti yang kami miliki membuatnya tidak lagi bisa menyangkal.

Namun bagi saya, uang bukan lagi perkara utama.

Beberapa bulan setelah kejadian itu, Arga datang membawa sebuah formulir.

“Eyang.”

“Apa?”

“Aku daftar kuliah lagi.”

Saya menatapnya lama.

“Jurusan yang sama?”

Dia menggeleng sambil tersenyum.

“Manajemen logistik.”

“Kenapa itu?”

“Setelah dua tahun antar makanan, paket, obat, sampai dokumen, ternyata aku suka bidangnya.”

Saya tertawa sambil menangis.

Arga mendapatkan potongan biaya karena mengajukan program bantuan mahasiswa dan bekerja paruh waktu.

Ketika saya menawarkan membayar semuanya, dia menolak.

“Eyang bantu seperlunya saja.”

“Kenapa?”

“Aku ingin tahu rasanya membangun hidupku sendiri. Tapi kali ini bukan karena dipaksa.”

Pak Darma akhirnya mengganti kacamatanya.

Saya juga pergi ke dokter gigi.

Hal-hal kecil yang selama bertahun-tahun kami tunda demi “kuliah Arga”.

Pada hari pertama kuliahnya, Arga datang ke rumah mengenakan jaket kampus barunya.

Saya hampir tertawa melihatnya.

“Foto dulu, Yang.”

Dia berdiri di teras.

Pak Darma mengambil ponsel.

Tetapi sebelum difoto, Arga melepas jaket kampus itu dan masuk ke rumah.

Beberapa menit kemudian dia keluar sambil membawa jaket ojol hijaunya yang sudah kusam.

Dia mengenakan keduanya sekaligus.

Jaket kampus di dalam.

Jaket ojol di luar.

“Kenapa begitu?”

Arga tersenyum.

“Yang ini jangan dibuang.”

Dia menunjuk jaket hijau itu.

“Dulu aku malu Eyang melihatku memakainya.”

“Sekarang?”

“Sekarang aku justru bersyukur.”

Saya mengernyit.

Arga memeluk saya.

“Kalau hari itu aku tidak dapat pesanan ke rumah sakit, mungkin sampai sekarang Eyang masih mengirim uang kuliah untuk mahasiswa yang sudah dua tahun tidak pernah masuk kampus.”

Kami tertawa.

Namun mata saya basah.

Saya teringat hari ketika melihat seorang pengemudi ojol kurus berdiri di depan rumah sakit dan merasa seluruh dunia kami runtuh.

Ternyata hari itu bukan hari kehancuran.

Hari itu justru hari ketika kebohongan berhenti mendapat tempat di keluarga kami.

Saya pernah berpikir mencintai cucu berarti memastikan dia tidak pernah kekurangan uang.

Saya salah.

Uang bisa dikirim melalui rekening.

Biaya pendidikan bisa dibayar melalui bank.

Tetapi kasih sayang tidak boleh dititipkan kepada orang lain.

Sejak saat itu, setiap Minggu malam saya selalu menelepon Arga.

Bukan untuk menanyakan IPK.

Bukan untuk memastikan uangnya cukup.

Saya hanya bertanya satu hal.

“Kamu baik-baik saja?”

Dan sekarang saya tahu, kadang-kadang satu pertanyaan sederhana yang ditanyakan langsung kepada orang yang kita cintai jauh lebih berharga daripada ratusan juta rupiah yang dikirim dengan penuh kepercayaan.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang