Aku menatap foto itu sampai pandanganku bergetar.
Di foto tersebut, wajahku terlihat jelas. Kepalaku sedikit miring ke arah meja Alya. Mataku mengarah tepat ke lembar jawabannya.
Tidak ada ruang untuk menyangkal.
Ibuku berdiri di sampingku dengan wajah pucat. Ayah yang tadi sibuk menelepon saudara langsung meletakkan ponselnya.
Pak Hendra menatapku lama.

“Nadira, Bapak cuma mau satu hal. Kejujuran.”
Dadaku terasa sesak.
Selama tiga tahun, aku membayangkan hari kebohonganku terbongkar dalam ratusan versi.
Aku selalu berpikir aku akan menyangkal.
Menangis.
Mencari alasan.
Menyalahkan Alya.
Tapi ketika hari itu benar-benar datang, aku justru terlalu lelah untuk berbohong lagi.
Aku duduk.
Lalu berkata pelan.
“Benar, Pak.”
Ibuku menoleh cepat.
“Apa?”
Aku menunduk.
“Saya memang sering melihat jawaban Alya.”
Ruangan mendadak sunyi.
Aku melanjutkan.
“Sejak kelas sepuluh.”
Suara ibuku berubah.
“Nadira.”
Aku tidak berani melihat wajahnya.
“Saya tidak pintar seperti yang semua orang pikir.”
Pak Hendra menarik kursi di depanku.
“Seberapa sering?”
Aku menggigit bibir.
“Hampir setiap ujian.”
Ibuku langsung terduduk.
Ayah menatapku seperti tidak mengenali anaknya sendiri.
Aku menceritakan semuanya.
Tes pemetaan.
Ketukan pulpen.
Potongan kertas.
Cara Alya memiringkan lembar jawaban.
Bahkan bagaimana aku menghafal kebiasaan pengawas.
Semakin banyak yang keluar dari mulutku, semakin ringan dadaku, tapi semakin hancur wajah orang-orang di sekelilingku.
Pak Hendra tidak memotong.
Ketika aku selesai, beliau menatap meja.
Lama.
Kemudian bertanya.
“Ujian masuk universitas kemarin?”
“Saya kerjakan sendiri.”
Wakil kepala sekolah, Bu Lestari, yang sejak tadi diam, langsung berkata.
“Tidak ada bantuan?”
“Tidak ada.”
“Tidak menyontek peserta lain?”
“Tidak.”
“Tidak membawa alat komunikasi?”
“Tidak.”
Bu Lestari menghela napas.
“Masalahnya, laporan ini datang setelah skor kamu diumumkan.”
Aku mengangkat kepala.
“Maksud Ibu?”
Beliau mendorong amplop cokelat ke arahku.
Di dalamnya bukan cuma foto.
Ada surat anonim.
Isinya panjang.
Pengirimnya menuduh bahwa sekolah sengaja membiarkanku menyontek selama bertahun-tahun demi menjaga reputasi.
Lebih parah lagi, surat itu menyebut skor ujian masuk universitasku mustahil diperoleh tanpa kecurangan.
“Panitia ujian juga menerima salinannya,” kata Bu Lestari.
Jantungku serasa jatuh.
Pak Hendra berkata pelan.
“Dan karena skor kamu sangat tinggi, mereka sedang melakukan verifikasi.”
Ibuku tiba-tiba berdiri.
“Jadi nilai anak saya mau dibatalkan?”
“Belum tentu.”
“Tapi dia mengerjakan sendiri!”
Kalimat itu membuatku menatap ibu.
Beberapa menit sebelumnya, beliau tahu aku membohonginya selama tiga tahun.
Namun refleks pertamanya tetap membelaku.
Justru itu yang membuat rasa bersalahku semakin dalam.
Aku berkata pelan.
“Bu, jangan bela aku dulu.”
Ibuku terdiam.
“Aku salah.”
Air mata akhirnya jatuh.
“Aku bohong sama Ibu. Sama Bapak. Sama semua orang.”
Ibu menatapku dengan mata merah.
“Kenapa, Nadira?”
Pertanyaan itu lebih menyakitkan daripada kemarahan apa pun.
Aku menarik napas.
“Awalnya aku takut kelihatan bodoh.”
Aku tertawa kecil, tapi suaraku pecah.
“Lama-lama semua orang keburu bangga. Terus aku takut mengecewakan.”
Pak Hendra menatapku.
“Jadi kamu mempertahankan kebohongan karena takut kehilangan penghargaan orang?”
Aku mengangguk.
Beliau mengusap wajah.
“Padahal kalau tiga tahun lalu kamu bilang kesulitan belajar, Bapak bisa bantu.”
Aku tidak mampu menjawab.
Siang itu sekolah membawaku ke kantor.
Bukan ke ruang kepala sekolah.
Ke ruang rapat kecil.
Di sana sudah ada dua orang dari panitia verifikasi ujian nasional masuk perguruan tinggi.
Aku ditanya berulang-ulang.
Tentang tempat duduk.
Waktu pengerjaan.
Urutan soal.
Bagian mana yang paling sulit.
Bahkan beberapa soal yang masih kuingat diminta kukerjakan ulang.
Aku berkeringat seperti sedang menjalani pemeriksaan pidana.
Salah satu petugas, seorang perempuan bernama Ibu Mira, meletakkan tiga lembar soal di depanku.
“Tidak perlu sempurna,” katanya. “Kerjakan sebisamu.”
Aku mengerjakan.
Ada satu yang salah.
Satu setengah benar.
Satu benar penuh.
Ibu Mira tidak menunjukkan ekspresi apa pun.
Selesai pemeriksaan, mereka pergi tanpa memberi keputusan.
Aku pulang dengan kepala berat.
Malamnya, grup WhatsApp angkatan mulai kacau.
Entah siapa yang membocorkan laporan itu.
Awalnya cuma satu pesan.
Katanya nilai Nadira diperiksa karena dugaan curang.
Lalu berkembang.
Ada yang bilang aku pakai bocoran soal.
Ada yang bilang ayahku membayar sekolah.
Ada yang bilang Alya selama ini dipaksa mengerjakan ujian untukku.
Besok paginya, saat aku datang ke sekolah, lorong terasa berbeda.
Orang-orang tidak lagi menatapku seperti juara kelas.
Mereka berbisik.
Beberapa berhenti bicara saat aku lewat.
Seseorang menulis di papan kelas dengan spidol hitam.
OTAK EMAS ATAU OTAK COPAS?
Aku berdiri di depan tulisan itu.
Tidak marah.
Aku bahkan merasa pantas menerimanya.
Lalu seseorang menghapus tulisan itu dengan penghapus papan.
Alya.
Dia berdiri di sampingku sambil mengunyah roti.
“Kamu kelihatan jelek kalau murung.”
Aku menatapnya.
“Kamu masih bisa bercanda?”
“Kalau tidak bercanda, aku mungkin pukul orang.”
Aku menarik tangannya ke sudut koridor.
“Ini kamu yang lapor?”
Alya berhenti mengunyah.
“Bukan.”
“Jujur.”
“Aku jujur.”
“Siapa lagi yang punya foto itu?”
Dia mengernyit.
“Aku bahkan tidak tahu ada yang memotret.”
Aku menatapnya curiga.
Alya menghela napas.
“Nadira, kalau aku mau menghancurkanmu, aku bisa lakukan sejak kelas sepuluh.”
Aku terdiam.
Dia benar.
Aku bertanya.
“Kenapa kamu dulu selalu kasih jawaban?”
Untuk pertama kalinya, wajahnya berubah serius.
“Aku tidak selalu kasih.”
“Apa?”
Alya menatapku.
“Enam bulan pertama, iya.”
Aku membeku.
“Setelah itu?”
“Aku sengaja sering kasih jawaban salah.”
Aku merasa seperti baru salah dengar.
“Kamu gila?”
“Dengar dulu.”
Alya menurunkan suaranya.
“Awalnya aku kasihan. Kamu panik terus. Tapi lama-lama aku kesal karena kamu makin bergantung. Jadi aku mulai kasih pilihan yang salah.”
Aku menatapnya tanpa berkedip.
“Tapi nilaiku tetap bagus.”
“Nah.”
Dia menunjuk wajahku.
“Itu masalahnya.”
Aku benar-benar tidak mengerti.
Alya berkata.
“Aku kasih jawaban C, kamu kadang tulis B. Aku kasih rumus setengah, kamu selesaikan sendiri. Aku sengaja nutup sebagian jawaban uraian, tapi kamu tetap bisa dapat nilai tinggi.”
Aku teringat banyak ujian.
Saat jawaban Alya terlihat kurang jelas.
Saat aku terpaksa menyelesaikan sisa perhitungan sendiri.
Saat aku mengira aku cuma menebak.
Alya tersenyum tipis.
“Dari kelas sebelas, aku sudah curiga kamu sebenarnya bisa.”
Aku mundur selangkah.
“Kalau begitu kenapa kamu terus bantu?”
“Karena setiap kali aku berhenti, kamu panik seperti mau mati.”
Dia tertawa pahit.
“Aku bodoh juga.”
Aku menatap lantai.
Tiba-tiba semua ingatanku terasa berbeda.
Selama ini aku berpikir Alya adalah sumber seluruh prestasiku.
Bagaimana kalau ternyata dia cuma tongkat yang terlalu lama kupakai meski kakiku sebenarnya sudah bisa berjalan?
Namun itu tidak menghapus kesalahanku.
Aku tetap menyontek.
Aku tetap memilih jalan curang.
Hari berikutnya, kepala sekolah mengumumkan bahwa semua penghargaan akademikku selama tiga tahun ditangguhkan sampai pemeriksaan selesai.
Foto di papan prestasi diturunkan.
Sertifikat siswa terbaik dibatalkan sementara.
Pak Hendra sendiri yang mengambil fotoku dari dinding.
Aku melihat beliau melakukannya.
Aneh sekali.
Ternyata kehilangan penghargaan tidak sesakit yang kubayangkan.
Yang paling sakit justru melihat tangan Pak Hendra gemetar saat melepas bingkai.
Sepulang sekolah, aku menghampirinya.
“Pak.”
Beliau tidak menoleh.
“Saya minta maaf.”
Pak Hendra meletakkan bingkai di meja.
“Bapak kecewa.”
Aku mengangguk.
“Tapi bukan karena kamu tidak sepintar yang Bapak kira.”
Aku menatap beliau.
“Bapak kecewa karena kamu mengira nilai lebih penting daripada meminta bantuan.”
Kalimat itu menancap dalam.
Tiga hari kemudian, sekolah kembali memanggilku.
Kali ini bukan hanya Pak Hendra dan Bu Lestari.
Ada kepala sekolah.
Dua petugas verifikasi.
Dan seorang polisi keamanan sekolah yang berjaga di luar karena sejak rumor menyebar, ada wartawan dan beberapa orang tak dikenal yang mencoba masuk.
Melihat seragam itu dari ujung koridor, aku benar-benar mengira aku akan ditangkap.
Kakiku gemetar.
Ibu Mira memintaku duduk.
Di atas meja ada sebuah map biru.
“Kami sudah menyelesaikan pemeriksaan.”
Aku menggenggam lutut.
Beliau melanjutkan.
“Kami memeriksa rekaman CCTV ruang ujian.”
Aku menahan napas.
“Tidak ada indikasi kamu berkomunikasi dengan peserta lain.”
Aku menatapnya.
“Kami juga memeriksa pola jawabanmu.”
Beliau membuka satu lembar analisis.
“Jawaban salahmu tersebar secara natural. Tidak ada pola kemiripan mencurigakan dengan peserta lain di ruangan.”
Kepala sekolah bertanya.
“Jadi nilainya sah?”
Ibu Mira mengangguk.
“Nilai ujian masuk perguruan tingginya sah.”
Aku menutup wajah.
Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, aku menangis lega.
Tapi Ibu Mira belum selesai.
“Namun kami menemukan sesuatu yang lain.”
Aku kembali tegang.
Beliau mengeluarkan surat anonim.
“Pengirim laporan menyertakan foto ujian sekolah yang sangat spesifik. Foto itu diambil dari sudut ruang arsip CCTV lama.”
Pak Hendra mengernyit.
“Ruang arsip?”
“Ya.”
Bu Lestari langsung pucat.
“Tidak semua orang punya akses.”
Ibu Mira mengangguk.
“Sekolah memeriksa log akses.”
Pintu ruangan terbuka.
Seorang staf tata usaha masuk bersama satpam.
Aku mengenalnya.
Pak Dimas.
Selama ini dia mengurus dokumen nilai dan arsip sekolah.
Wajahnya pucat.
Kepala sekolah menatapnya tajam.
“Pak Dimas, silakan jelaskan.”
Awalnya dia menyangkal.
Lalu ketika rekaman akses ditunjukkan, dia diam.
Akhirnya semuanya keluar.
Keponakannya mengikuti ujian yang sama denganku.
Nilainya tinggi, tapi tidak cukup untuk program studi yang dia incar.
Pak Dimas marah ketika tahu aku menjadi peringkat tertinggi provinsi.
Dia sudah lama mengetahui rumor bahwa aku sering melihat jawaban Alya.
Dia lalu mengambil rekaman lama dan mengirim laporan anonim dengan harapan nilaiku dibatalkan.
Jika satu peserta di atas keponakannya gugur, peluang pergeseran peringkat dianggap bisa membantunya.
Aku menatapnya, tidak tahu harus merasa marah atau tidak.
Ironis sekali.
Aku memang bersalah.
Tetapi orang yang mencoba menjatuhkanku juga melakukannya demi sebuah peringkat.
Aku dan dia ternyata tidak sejauh yang kubayangkan.
Setelah semuanya selesai, sekolah mengadakan rapat khusus.
Nilai ujian masuk universitasku tetap sah.
Namun semua penghargaan sekolah yang diperoleh dari ujian yang terbukti pernah kucurangi dicabut.
Namaku tidak lagi tercantum sebagai lulusan terbaik.
Peringkat raporku direvisi berdasarkan evaluasi internal.
Aku menerima semuanya.
Tidak ada protes.
Tidak ada pembelaan.
Ketika pengumuman kelulusan tiba, aku tetap diterima di universitas negeri yang kuincar.
Bukan karena nilai rapor.
Bukan karena sertifikat juara.
Tapi karena skor ujian yang kukerjakan sendirian.
Malam sebelum aku berangkat kuliah, ibu menurunkan semua sertifikat dari ruang tamu.
Aku berdiri di pintu.
“Bu, dibuang saja.”
Ibu menggeleng.
Beliau memasukkan semuanya ke dalam kardus.
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Biar disimpan.”
Aku tersenyum pahit.
“Buat apa?”
Ibu menatapku.
“Biar suatu hari kamu ingat bahwa manusia bisa terlihat hebat dan tetap takut setengah mati.”
Aku terdiam.
Lalu beliau mengambil satu benda terakhir dari dinding.
Foto penghargaan yang dulu paling kubanggakan.
Beliau menggantinya dengan foto baru.
Foto saat aku keluar dari lokasi ujian masuk universitas.
Wajahku kusut.
Rambut berantakan.
Tidak ada piala.
Tidak ada medali.
Aku bahkan terlihat hampir menangis.
Di belakang foto, ibu menulis satu kalimat.
Hari pertama Nadira benar-benar percaya pada dirinya sendiri.
Beberapa minggu kemudian, sebelum berangkat ke Bandung, Alya mengirimiku pesan.
Aku sudah bilang kamu bisa.
Aku membalas.
Kamu tidak pernah bilang begitu.
Jawabannya datang cepat.
Kalau kubilang dari dulu, kamu tidak akan percaya.
Aku tertawa sendirian.
Tiga tahun aku mengira kelemahanku adalah tidak cukup pintar.
Ternyata bukan.
Kelemahanku adalah terlalu takut mencoba tanpa jaminan akan berhasil.
Aku pernah menjadi juara kelas palsu.
Itu fakta yang tidak akan pernah bisa kuhapus.
Namun pagi ketika Alya menghilang, sesuatu yang jauh lebih penting akhirnya muncul.
Diriku sendiri.
