Suamiku Mendorongku Jatuh dari Tangga Saat Aku Mengandung demi Menyambut Cinta Pertamanya; Ketika Darah Menetes di Lantai Rumah Mewah Itu, Ia Memilih Pergi Bersama Perempuan Tersebut—Tanpa Sadar, Satu Keputusan Dinginnya Malam Itu Sedang Membuka Pintu Menuju Kehancuran yang Akan Datang dari Tanganku Sendiri, Perlahan dan Tanpa Ampun

Aku mengira kehancuran Satria akan dimulai ketika polisi mengetuk pintunya.

Ternyata aku salah.

Kehancurannya dimulai tiga minggu kemudian, ketika ia berdiri di ruang rapat lantai tiga puluh dua gedung Mahendra Karya dan melihatku duduk di kursi yang selama bertahun-tahun selalu dibiarkan kosong.

Kursi pemegang saham terbesar kedua.

Kursiku.

Namun sebelum hari itu tiba, aku menghabiskan tiga minggu di Yogyakarta untuk belajar berjalan tanpa menahan perut setiap kali rasa sakit datang.

Aku tinggal di rumah lama peninggalan ayahku di daerah Kotabaru. Rumah itu tidak besar, tetapi setiap sudutnya terasa lebih jujur daripada rumah mewah di Pondok Indah yang pernah kusebut rumah.

Salma menemaniku selama beberapa hari pertama.

Pada malam pertama, ia menemukan aku duduk sendirian di lantai kamar sambil memegang kaus kaki bayi yang belum pernah sempat dipakai.

“Nadira.”

Aku tidak menoleh.

“Aku bahkan belum sempat mendengar detak jantungnya, Sal.”

Salma duduk di sampingku.

Untuk pertama kalinya sejak malam di rumah sakit, aku menangis sampai tubuhku gemetar.

Bukan hanya karena kehilangan bayi kami.

Aku menangisi perempuan yang selama empat tahun terus meyakinkan dirinya bahwa kesabaran akan membuat seorang lelaki mencintainya.

Setelah tangisku reda, Salma berkata pelan, “Kamu boleh hancur malam ini. Tapi jangan biarkan mereka menentukan bagaimana kamu bangun besok.”

Kalimat itu tinggal di kepalaku.

Keesokan paginya, aku membuka laptop.

Pengacaraku, Arman Wiratama, sudah mengirim hasil pemeriksaan awal.

Semua dokumen yang kusimpan ternyata asli.

Lebih buruk daripada dugaanku.

PT Azzahra Konsultan Nusantara menerima puluhan pembayaran dari Mahendra Karya untuk jasa konsultasi yang sebagian besar tidak pernah dilakukan. Beberapa pembayaran dipecah menjadi nominal kecil agar tidak memerlukan persetujuan dewan komisaris.

Namun ada sesuatu yang lebih menarik.

Sebagian dana yang keluar dari Mahendra Karya kemudian masuk kembali melalui perusahaan lain yang sedang membeli tanah untuk proyek baru.

Aku menelepon Arman.

“Artinya apa?”

“Secara sederhana, ada indikasi mereka menciptakan transaksi berlapis untuk menyamarkan aliran dana.”

“Satria tahu?”

“Kami belum bisa menyimpulkan semuanya. Tapi tanda tangan elektroniknya ada pada beberapa persetujuan.”

Aku terdiam.

“Jangan serahkan ke media.”

Arman tampak terkejut.

“Kamu yakin?”

“Aku tidak mau balas dendam lewat gosip. Kalau memang ada pelanggaran, bawa lewat jalur hukum. Semua harus bisa dibuktikan.”

Arman mengangguk.

Itulah perbedaan terbesar antara aku dan Satria.

Ia mengira karena aku diam, aku lemah.

Padahal diam memberiku waktu untuk memastikan setiap langkahku tidak bisa dibalikkan kepadaku.

Seminggu kemudian gugatan cerai resmi masuk.

Satria langsung bereaksi.

Email pertama berisi tawaran Rp2,5 miliar.

Email kedua menjadi Rp5 miliar.

Email ketiga datang dari pengacara keluarganya.

Mereka menawarkan Rp10 miliar dengan syarat aku melepaskan tuntutan lain, tidak mempermasalahkan kejadian di tangga, dan tidak menggunakan rekaman CCTV.

Aku membaca dokumen itu sambil minum kopi.

Lalu menelepon Arman.

“Tolak.”

“Tanpa negosiasi?”

“Tanpa negosiasi.”

“Nadira, mereka mungkin menaikkan jumlahnya.”

“Aku tidak sedang menjual harga diriku.”

Dua hari kemudian Satria datang ke Yogyakarta.

Entah bagaimana ia mengetahui alamat rumah ayahku.

Aku melihat mobil hitamnya berhenti di depan pagar sekitar pukul empat sore.

Ia keluar sendirian.

Wajahnya terlihat jauh lebih lelah dibanding terakhir kali aku melihatnya.

Aku tidak membukakan pintu.

Kami berbicara melalui pagar.

“Kita harus bicara.”

“Hubungi pengacaraku.”

“Nadira, jangan seperti anak kecil.”

Aku hampir tersenyum.

Masih sama.

Bahkan setelah semuanya, ia tetap menganggap dirinya orang yang paling dewasa di ruangan mana pun.

“Apa yang kamu mau?”

“Rekaman CCTV.”

Aku menatapnya.

Akhirnya.

Bukan menanyakan kondisiku.

Bukan menanyakan bayi kami.

Rekaman CCTV.

“Kenapa?”

“Karena itu kecelakaan.”

“Kamu mendorongku.”

“Aku tidak bermaksud membuatmu jatuh.”

“Tapi setelah aku jatuh dan berdarah, kamu meninggalkanku.”

Rahangnya menegang.

“Aku panik.”

“Kamu tidak terlihat panik ketika membawa Keisha pergi.”

“Itu rumit.”

“Tidak. Sangat sederhana.”

Aku menatap langsung ke matanya.

“Aku kehilangan anak kita malam itu.”

Wajah Satria berubah.

Untuk beberapa detik ia benar-benar tidak bergerak.

“Apa?”

Aku tertawa kecil, pahit.

“Kamu bahkan tidak tahu.”

“Nadira…”

“Aku hamil.”

Wajahnya memucat.

“Aku baru mengetahuinya sore itu. Aku menyiapkan hadiah untukmu. Ada kaus kaki bayi di dalam kotak.”

Satria memegang pagar.

“Kenapa kamu tidak bilang?”

Aku menatapnya lama.

“Karena sebelum aku sempat mengatakannya, kamu sudah menunjukkan kepadaku siapa dirimu.”

“Nadira, aku tidak tahu.”

“Tapi kamu tahu aku berdarah.”

Ia tidak mampu menjawab.

Untuk pertama kalinya, aku melihat rasa bersalah muncul di wajahnya.

Namun rasa bersalah tidak selalu berarti penyesalan.

Kadang manusia hanya merasa bersalah ketika konsekuensi akhirnya datang.

Satria menarik napas.

“Berapa yang kamu mau?”

Aku membeku.

“Apa?”

“Aku tahu kamu marah. Sebut angka. Kita selesaikan semuanya.”

Saat itulah sesuatu dalam diriku benar-benar selesai.

“Satria.”

“Apa?”

“Pergi.”

“Nadira.”

“Pergi sebelum aku memanggil polisi.”

Ia menatapku beberapa detik, kemudian kembali ke mobil.

Sebelum masuk, ia berkata, “Jangan melakukan sesuatu yang akan kamu sesali.”

Aku menjawab, “Kalimat itu seharusnya kamu katakan kepada dirimu sendiri malam aku jatuh.”

Tiga minggu setelah kejadian itu, rapat umum pemegang saham luar biasa Mahendra Karya digelar.

Aku kembali ke Jakarta.

Satria tidak mengetahui aku akan datang.

Ia juga rupanya lupa satu hal penting.

Saham yang diwariskan ayahku sebelum pernikahan tidak pernah menjadi milik keluarga Mahendra.

Dahulu ayahku adalah salah satu investor awal yang menyelamatkan perusahaan itu ketika Mahendra Karya hampir gagal mendapatkan pendanaan untuk proyek pertamanya.

Setelah ayah meninggal, saham tersebut diwariskan kepadaku.

Selama pernikahan, aku memberikan kuasa suara kepada Satria.

Bukan kepemilikan.

Kuasa.

Dan dua minggu sebelumnya, kuasa itu sudah kucabut.

Ketika pintu ruang rapat terbuka dan aku masuk bersama Arman, semua orang terdiam.

Satria berdiri.

“Nadira?”

Aku menarik kursi.

“Selamat pagi.”

“Apa yang kamu lakukan di sini?”

Pak Hendra Mahendra, ayah Satria sekaligus komisaris utama, menatap putranya.

“Nadira masih pemegang saham.”

Satria memandang ayahnya, lalu kembali kepadaku.

“Kita bisa bicara di luar.”

“Tidak perlu.”

Aku membuka map.

“Semua yang ingin kubicarakan berkaitan dengan perusahaan.”

Aku tidak perlu berteriak.

Tidak perlu menghina siapa pun.

Arman membagikan dokumen hasil audit independen kepada para komisaris.

Wajah-wajah di meja berubah satu per satu.

Pak Hendra membaca halaman pertama, kemudian halaman kedua.

Tangannya mulai gemetar.

“Ini apa?”

Satria berdiri.

“Dokumen itu belum tentu benar.”

“Ada Rp28,4 miliar pembayaran kepada PT Azzahra Konsultan Nusantara,” kataku. “Sebagian tanpa bukti pekerjaan yang memadai.”

Satria menatapku tajam.

“Kamu mencuri dokumen perusahaan?”

“Aksesku diberikan secara resmi ketika aku masih membantu peninjauan materi dan kontrak. Semua salinan sudah diverifikasi pengacara.”

Pak Hendra membalik halaman.

“Azzahra?”

Ia menatap Satria.

“Keluarga Keisha?”

Satria tidak menjawab.

Keheningan itu menjawab segalanya.

Namun kejutan sebenarnya belum datang.

Pintu terbuka.

Dua orang dari tim audit eksternal masuk bersama sekretaris perusahaan.

Salah seorang meletakkan berkas tambahan di meja.

“Kami sudah melakukan pemeriksaan awal atas permintaan beberapa pemegang saham. Ada transaksi lain yang perlu dilaporkan kepada otoritas terkait.”

Satria langsung menatapku.

“Kamu yang melakukan ini.”

Aku menggeleng.

“Tidak.”

Dan itu benar.

Aku hanya menyerahkan bukti kepada pengacara.

Keputusan membawa perkara lebih jauh dibuat berdasarkan temuan audit dan kewajiban hukum pihak terkait.

Pak Hendra menutup dokumen.

“Mulai hari ini, Satria dinonaktifkan sementara dari jabatan direktur utama sampai investigasi selesai.”

“Ayah!”

“Diam!”

Suara lelaki tua itu mengguncang ruangan.

“Aku membangun perusahaan ini tiga puluh tahun!”

Satria berdiri kaku.

“Semua ini gara-gara dia!”

Tangannya menunjukku.

Aku menatapnya tanpa emosi.

“Kamu masih belum mengerti.”

Aku berdiri.

“Aku tidak menghancurkan hidupmu, Satria. Aku hanya berhenti melindungimu dari akibat pilihanmu sendiri.”

Aku meninggalkan ruang rapat.

Namun di lobi, seseorang sudah menungguku.

Keisha.

Wajahnya pucat.

Matanya bengkak.

“Kamu puas?”

Aku berhenti.

“Atas apa?”

“Karier Satria hancur. Keluargaku diperiksa. Kakakku bahkan tidak bisa dihubungi.”

Aku menatapnya.

“Kamu datang untuk menyalahkanku?”

Keisha mendekat.

“Kamu tidak tahu semuanya.”

“Kalau begitu jelaskan.”

Ia menggigit bibir.

Kemudian mengeluarkan ponselnya.

Ada percakapan antara dirinya dan Faris.

Aku membaca beberapa pesan.

Lalu dadaku terasa dingin.

Keisha ternyata tidak kembali ke Jakarta karena ingin merebut Satria.

Faris yang memintanya kembali.

Kakaknya mengetahui audit internal mulai mencium transaksi mencurigakan. Mereka membutuhkan seseorang yang bisa membuat Satria tetap berada di pihak keluarga Azzahra.

Dan orang itu adalah Keisha.

“Aku memang masih punya perasaan pada Satria,” katanya sambil menangis. “Tapi aku tidak tahu soal uang sebanyak itu sampai aku kembali.”

“Lalu kenapa kamu tinggal di rumahku?”

“Karena aku bodoh.”

Ia menunduk.

“Aku pikir mungkin kami memang mendapat kesempatan kedua.”

Aku mengembalikan ponselnya.

“Serahkan ini kepada penyidik.”

Keisha menatapku.

“Kamu tidak akan menggunakan ini untuk menghancurkanku?”

“Aku tidak punya kepentingan menghancurkanmu.”

“Tapi aku mengambil suamimu.”

Aku tersenyum tipis.

“Tidak, Keisha. Kamu tidak mengambil siapa pun.”

Aku berjalan melewatinya.

“Orang yang bisa diambil memang tidak pernah benar-benar memilih tinggal.”

Enam bulan kemudian, perceraianku resmi.

Investigasi terhadap transaksi Mahendra Karya masih berjalan dan beberapa pihak harus mempertanggungjawabkan perannya masing-masing. Satria kehilangan jabatan direktur utama, tetapi aku tidak pernah merayakannya.

Aku menjual sebagian sahamku secara bertahap dan mempertahankan sebagian kecil sebagai investasi.

Dengan uang milikku sendiri, aku mendirikan studio strategi merek di Yogyakarta.

Tidak besar.

Tidak memiliki gedung tiga puluh lantai.

Hari pertama hanya ada enam orang.

Namun namaku tertulis di pintu kaca.

Nadira Prameswari.

Bukan Nadira Mahendra.

Setahun setelah malam itu, sebuah paket tiba di kantorku.

Tidak ada nama pengirim.

Di dalamnya terdapat kotak kecil yang sangat kukenal.

Kotak tempat aku menyimpan kaus kaki bayi.

Aku terdiam.

Ada secarik kertas.

Tulisan tangan Satria.

Aku menemukan ini di rumah setelah kamu pergi. Aku baru memahami apa yang hilang setelah semuanya terlambat. Aku tidak meminta maaf supaya kamu kembali. Aku hanya ingin kamu tahu bahwa setiap hari aku mengingat malam itu.

Tanganku gemetar.

Aku duduk cukup lama.

Kemudian membawa kotak itu pulang.

Sore itu hujan turun di Yogyakarta.

Aku pergi ke halaman belakang rumah ayah dan menggali tanah di bawah pohon kamboja yang dahulu ditanam ibuku.

Aku meletakkan kaus kaki kecil itu di dalam kotak.

Bersama surat Satria.

Lalu menguburnya.

Bukan karena ingin melupakan anakku.

Aku tidak akan pernah melupakannya.

Namun aku tidak ingin kehilangan itu terus hidup sebagai bahan bakar kemarahanku.

Saat berdiri, ponselku berbunyi.

Salma mengirim foto papan nama baru di depan kantor.

PRAMESWARI BRAND HOUSE.

Di bawahnya ia menulis, “Bos, besok jangan telat. Klien pertama dari Singapura datang jam sembilan.”

Aku tertawa kecil.

Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, suara tawaku tidak terasa dipaksakan.

Aku menatap tanah yang baru saja kurapikan.

Dulu aku berpikir kemenangan berarti melihat Satria kehilangan semua yang ia miliki.

Ternyata bukan.

Kemenangan terbesar adalah ketika namanya tidak lagi menentukan bagaimana aku menjalani hidup.

Aku tidak menghancurkan kerajaan Satria.

Keserakahan keluarganya, kebohongannya, dan keputusan-keputusannya sendiri yang melakukan itu.

Aku hanya membuka pintu agar kebenaran bisa masuk.

Dan malam ketika ia mendorongku dari tangga, Satria mengira ia sedang memilih perempuan yang paling dicintainya.

Ia tidak pernah menyadari bahwa pada detik yang sama, ia juga sedang membebaskan perempuan yang selama empat tahun paling ia remehkan.

Aku.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang