MALAM TAKBIRAN ITU SAYA MEMASAK SEJAK SUBUH, TAPI SAAT KELUARGA KAKAK IPAR DATANG, IBU MERTUA MENYURUH SAYA PULANG KE RUMAH ORANG TUA—SUAMI SAYA MALAH MENGANGGUK; SAYA HANYA TERSENYUM, MENGEMAS KOPER, LALU MELAKUKAN SATU HAL DI DAPUR YANG MEMBUAT MEREKA TERDIAM

Suara takbir dari masjid semakin jelas ketika saya menutup pintu rumah itu untuk terakhir kalinya malam itu.

Tak ada yang mengantar saya sampai teras.

Tak ada yang bertanya apakah saya membawa cukup pakaian.

Tak ada yang berkata hati-hati di jalan.

Dari ruang makan justru terdengar suara sendok beradu dengan piring, diselingi tawa Mbak Ratri dan Mas Dedi. Beberapa detik kemudian, suara Bu Sulastri menyusul.

“Rendangnya taruh kulkas, Man. Besok dipanasin lagi.”

Saya berdiri di samping koper sambil menatap pintu yang baru saja tertutup.

Aneh sekali.

Dua tahun saya tinggal di sana.

Saya memilih warna dinding ruang tamu, menentukan posisi lampu, mendesain lemari dapur, bahkan membayar sebagian uang muka rumah itu.

Namun malam itu saya pergi seperti tamu yang masa menginapnya sudah habis.

Saya memesan mobil daring dan duduk di kursi belakang tanpa mengatakan apa-apa sepanjang perjalanan.

Pengemudinya sempat melihat saya dari kaca tengah.

“Mudik, Mbak?”

Saya tersenyum tipis.

“Iya, Pak.”

“Malam-malam begini malah enak. Besok jalanan pasti lebih ramai.”

Saya mengangguk.

Mudik.

Lucu juga.

Saya memang sedang pulang.

Hanya saja saya belum tahu apakah setelah ini saya akan kembali.

Ketika mobil berhenti di depan rumah orang tua saya, lampu ruang tengah masih menyala. Papa sedang duduk di teras dengan sarung dan kaus putih, mendengarkan takbir dari pengeras suara masjid.

Begitu melihat saya turun membawa koper, beliau langsung berdiri.

“Dina?”

Saya tersenyum.

“Assalamualaikum, Pa.”

Papa tidak menjawab pertanyaan yang tidak saya ucapkan.

Dia hanya mengambil koper saya.

“Mama di dalam.”

Begitu saya masuk, Mama yang sedang menata kue di meja berhenti bergerak.

Tatapannya berpindah dari wajah saya ke koper.

“Arman mana?”

Saya menarik napas.

“Di rumah.”

“Terus kamu?”

“Saya disuruh pulang.”

Mama membeku.

Saya tahu beliau ingin bertanya banyak hal. Namun mungkin karena melihat wajah saya, Mama justru berjalan mendekat dan memeluk saya.

Pelukan itu membuat pertahanan yang saya bangun sejak tadi runtuh.

Saya menangis.

Bukan keras.

Tidak ada teriakan.

Air mata hanya turun begitu saja.

Mama mengusap punggung saya.

“Sudah.”

Saya menggeleng.

“Ma, aku bodoh banget, ya?”

Mama langsung menjauh sedikit.

“Jangan ngomong begitu.”

“Aku ninggalin kerjaan.”

“Aku pakai tabungan sendiri buat rumah itu.”

“Aku masak dari subuh.”

“Terus aku disuruh pergi supaya kamar dipakai Mbak Ratri.”

Papa berdiri di ambang pintu.

Wajahnya berubah keras.

“Arman membiarkan?”

Saya mengangguk.

“Dia malah nyuruh aku besok datang pagi buat masak sarapan.”

Papa tidak berkata apa-apa selama beberapa detik.

Kemudian beliau meletakkan koper saya dan duduk.

“Dina.”

Saya menatapnya.

“Kamu ingat waktu sebelum menikah, Papa pernah bilang simpan semua bukti pembayaran?”

Saya mengangguk.

“Masih ada?”

Saya langsung teringat map cokelat di koper.

“Ada.”

“Besok kita lihat.”

Malam itu saya tidur di kamar lama saya.

Kamar yang dua tahun tidak pernah benar-benar berubah.

Masih ada rak berisi buku desain.

Masih ada papan kecil tempat saya dulu menempel contoh material.

Masih ada foto saya bersama teman-teman kantor.

Saya menatap foto itu lama.

Perempuan di dalam foto terlihat berbeda.

Matanya hidup.

Pundaknya tegak.

Dia tidak meminta izin untuk membeli kopi.

Saya hampir tidak mengenalnya.

Ponsel saya bergetar sekitar pukul dua belas lewat tiga puluh.

Arman.

Bukan telepon.

Pesan.

Kamu bawa kopi sama makanan segala kenapa?

Saya membaca tanpa membalas.

Pesan berikutnya datang.

Mama bilang stok abon juga nggak ada.

Terus bahan omelet besok mana?

Saya menatap layar sampai tertawa kecil.

Bahkan setelah mengusir saya, yang mereka cari adalah bahan sarapan.

Saya mengetik.

Saya beli pakai uang saya.

Titik tiga muncul.

Hilang.

Muncul lagi.

Akhirnya jawabannya datang.

Kamu jangan childish.

Lebaran jangan cari ribut.

Saya mematikan ponsel.

Pagi pertama Lebaran, saya bangun bukan karena suara Bu Sulastri memanggil dari dapur.

Saya bangun karena Mama mengetuk pintu.

“Mau salat Id sama Papa?”

Untuk pertama kalinya setelah lama, saya sarapan tanpa harus memastikan semua orang sudah mendapat bagian.

Mama menyendokkan opor ke piring saya.

“Makan.”

Saya hampir menangis lagi hanya karena satu kata itu.

Setelah makan, Papa membawa map cokelat ke ruang kerja.

Kami membuka semua dokumen.

Bukti transfer dari rekening Papa.

Bukti transfer dari rekening saya.

Surat pemesanan rumah.

Perjanjian awal dengan pengembang.

Ketika rumah itu dibeli tiga tahun lalu, sebelum saya dan Arman resmi menikah, uang muka totalnya seratus delapan puluh juta rupiah.

Papa mentransfer tujuh puluh juta.

Saya menambah tiga puluh lima juta dari tabungan.

Sisanya dibayar Arman.

Namun karena pengajuan KPR lebih mudah menggunakan nama Arman yang saat itu memiliki penghasilan tetap lebih besar, sertifikat sementara dan kredit dicatat atas namanya.

Setelah menikah, saya ikut membayar cicilan selama hampir setahun sebelum berhenti bekerja.

Papa menatap dokumen itu.

“Berarti uang keluarga kita masuk lebih dari seratus juta.”

Saya mengangguk.

“Belum renovasi.”

Renovasi dapur, lemari, lampu, dan beberapa furnitur menggunakan uang tabungan saya.

Papa menghela napas.

“Kamu pernah hitung semuanya?”

“Tidak.”

“Kenapa?”

Saya tersenyum pahit.

“Karena aku pikir itu rumahku juga.”

Papa tidak marah.

Justru itu lebih menyakitkan.

Beliau hanya berkata,

“Mulai sekarang hitung.”

Siang itu, setelah halal bihalal dengan keluarga, saya membuka laptop lama.

Saya menghitung satu per satu.

Transfer.

Pembelian furnitur.

Biaya renovasi.

Cicilan.

Belanja rumah.

Ketika semuanya dijumlahkan, uang pribadi saya yang masuk ke rumah dan kebutuhan keluarga selama pernikahan mencapai hampir dua ratus tiga puluh juta rupiah.

Saya terdiam.

Selama ini saya selalu merasa tidak berkontribusi karena sudah tidak bekerja.

Padahal uang saya terus mengalir.

Hanya saja tidak pernah disebut.

Sore hari, saya menghubungi seseorang yang sudah lama tidak saya hubungi.

Namanya Siska.

Teman satu kantor dulu.

Dia menjawab cepat.

“Dina?”

“Halo, Sis.”

“Ya ampun, kamu ke mana aja?”

Kami tertawa sebentar.

Kemudian saya bertanya,

“Studio masih cari desainer freelance?”

Siska langsung diam.

“Serius?”

“Iya.”

“Bahkan bukan freelance. Kita lagi cari senior interior designer. Kamu masih punya portfolio lama?”

Saya menatap layar laptop.

“Ada.”

“Kirim malam ini.”

Hari kedua Lebaran, Arman akhirnya datang ke rumah orang tua saya.

Dia datang sendirian.

Wajahnya tidak senang.

Mama menyuruhnya masuk.

Saya menemuinya di ruang tamu.

“Ayo pulang.”

Itu kalimat pertamanya.

Tidak ada maaf.

Tidak ada bagaimana kabarmu.

Saya duduk.

“Mbak Ratri sudah pulang?”

“Besok.”

“Berarti kamar kita masih dipakai?”

Arman mengerutkan kening.

“Jangan mulai lagi.”

Saya menatapnya.

“Mas datang jemput aku atau pembantu rumah?”

Wajahnya berubah.

“Dina.”

“Karena kalau aku pulang sekarang, aku tidur di mana?”

Dia menghela napas keras.

“Kamu bisa tidur sama Mama di kamar depan.”

Saya tersenyum.

“Rumah yang aku ikut bayar, tapi aku nggak punya tempat tidur.”

“Jangan hitung-hitungan sama keluarga.”

Kalimat itu membuat saya benar-benar tenang.

Saya mengambil satu lembar print transaksi bank dan meletakkannya di meja.

“Kalau begitu ini apa?”

Arman melihat angka dua puluh delapan juta lima ratus ribu.

Wajahnya berubah.

“Dari mana kamu dapat?”

“Rekening bersama.”

Dia mengambil kertas itu.

“Itu urusan keluarga.”

“Ratri juga keluarga kamu.”

“Buat apa?”

Arman diam.

Saya menatapnya.

“Mas.”

“Buat apa?”

Dia akhirnya berkata,

“Dedi butuh modal.”

“Modal apa?”

“Usaha.”

“Usaha apa?”

“Ya usaha.”

Saya tertawa pendek.

“Dua puluh delapan setengah juta keluar dari rekening bersama kita tanpa bilang aku, tapi tiga juta buat makan Lebaran aku dibilang boros?”

“Itu beda.”

“Bedanya?”

Arman berdiri.

“Kamu sekarang jadi perhitungan banget.”

Saya ikut berdiri.

“Karena selama ini aku tidak pernah menghitung.”

Ruangan mendadak sunyi.

Papa berdiri di dekat pintu, tetapi tidak ikut campur.

Saya mengambil map cokelat.

“Mas tahu rumah itu uang mukanya dari mana?”

“Keluarga kita.”

“Keluarga siapa?”

Arman tidak menjawab.

Saya membuka bukti transfer.

“Tujuh puluh juta dari Papa.”

Saya keluarkan lembar berikutnya.

“Tiga puluh lima juta dari aku.”

Lembar lain.

“Renovasi empat puluh enam juta.”

“Cicilan yang aku bayar sebelum berhenti kerja, tiga puluh delapan juta.”

Arman menatap kertas-kertas itu.

“Apa maksud kamu?”

“Maksud aku sederhana.”

Saya memandangnya tepat di mata.

“Kalau aku dianggap tamu di rumah itu, kembalikan bagian uangku.”

Arman tertawa tidak percaya.

“Kamu mau cerai cuma gara-gara kamar?”

Saya terdiam beberapa detik.

Kemudian saya berkata,

“Bukan gara-gara kamar.”

“Gara-gara dua tahun aku baru sadar bahwa di rumah itu aku tidak pernah benar-benar punya tempat.”

Dia pulang dengan wajah merah.

Malamnya Bu Sulastri menelepon saya.

“Dina, kamu sudah keterlaluan.”

Saya membiarkan beliau berbicara.

“Kamu bikin Arman malu di depan mertua.”

“Cuma disuruh menginap dua malam saja kok sampai bicara uang dan rumah.”

Saya bertanya pelan,

“Bu, kalau saya memang cuma numpang, kenapa uang saya boleh dipakai?”

Beliau langsung diam.

Saya melanjutkan.

“Kalau saya keluarga, kenapa saya yang harus pergi?”

Tidak ada jawaban.

Hanya suara napas berat.

Kemudian telepon ditutup.

Tiga hari kemudian, saya mendapat kabar dari Siska.

Studio menerima saya kembali.

Bukan sebagai pegawai junior seperti dulu.

Mereka menawarkan posisi lead designer untuk sebuah proyek apartemen baru.

Saya membaca email itu berkali-kali.

Untuk pertama kalinya setelah dua tahun, saya melihat angka gaji atas nama saya sendiri.

Tangan saya gemetar ketika menandatangani kontrak.

Namun masalah dengan Arman belum selesai.

Seminggu setelah Lebaran, saya menemui konsultan hukum yang direkomendasikan Papa.

Dokumen rumah diperiksa.

Menurutnya, meskipun kredit atas nama Arman, kontribusi finansial saya dan keluarga saya dapat menjadi dasar kuat dalam pembagian harta apabila pernikahan berakhir.

Saya tidak langsung mengajukan perceraian.

Saya masih ingin memberi Arman satu kesempatan.

Kami bertemu di sebuah kafe.

Saya datang setelah bekerja.

Arman menatap pakaian kantor saya.

“Kamu kerja lagi?”

“Iya.”

“Tanpa izin aku?”

Saya hampir tidak percaya.

“Mas pikir aku masih perlu izin buat punya penghasilan?”

Dia mengusap wajah.

“Dina, kita bisa mulai lagi.”

Saya diam.

“Aku sudah ngomong sama Mama.”

“Terus?”

“Kamu boleh balik.”

Boleh.

Satu kata itu cukup.

“Rumah itu bukan kos-kosan, Mas.”

“Aku nggak butuh izin buat pulang ke rumah yang aku ikut bayar.”

Arman mulai gelisah.

“Aku juga akan atur keuangan sendiri.”

Saya menatapnya.

“Rekening bersama?”

Dia menunduk.

“Aku akan ganti uang yang aku kasih ke Ratri.”

“Dari mana?”

Dia tidak menjawab.

Di situlah saya tahu ada sesuatu lagi.

Saya menunggu.

Akhirnya Arman berkata pelan,

“Sebenarnya uang itu bukan buat modal Dedi.”

Saya menatapnya.

“Terus?”

“Ratri punya utang.”

“Utang apa?”

“Pinjaman online.”

Saya terdiam.

“Tiga puluh?”

“Lebih.”

“Berapa?”

Arman tidak menjawab.

Saya mengulang.

“Berapa?”

“Hampir seratus dua puluh juta.”

Saya merasa darah di wajah saya turun.

“Dan Mama tahu?”

Arman mengangguk.

“Mereka mau pakai rumah sebagai jaminan tambahan.”

Saya langsung membeku.

“Rumah kita?”

“Cuma rencana.”

Saya berdiri.

“Tidak.”

“Din, dengar dulu.”

“Tidak.”

Untuk pertama kalinya suara saya tegas tanpa gemetar.

“Rumah yang uang mukanya dibantu Papa, yang aku ikut cicil, mau kalian jadikan jaminan utang Ratri?”

“Itu kenapa belum aku bilang.”

Saya tertawa pahit.

“Bukan belum bilang.”

“Kamu memang tidak berniat bilang.”

Saya mengambil tas.

“Mulai hari ini, komunikasi kita lewat pengacara.”

Wajah Arman pucat.

“Dina.”

Saya berhenti.

Dia berkata pelan,

“Aku nggak mau kehilangan kamu.”

Saya menatap laki-laki yang pernah saya cintai.

Lalu saya sadar bahwa kehilangan tidak selalu terjadi ketika seseorang pergi.

Kadang seseorang sudah kehilangan istrinya sejak lama, hanya karena terlalu yakin perempuan itu tidak akan pernah berani meninggalkan rumah.

Proses setelah itu tidak mudah.

Bu Sulastri datang ke rumah orang tua saya dua kali.

Pertama untuk marah.

Kedua untuk menangis.

Mbak Ratri mengirim pesan panjang, mengatakan saya merusak keluarga hanya karena uang.

Saya tidak membalas.

Arman beberapa kali meminta bertemu.

Saya tetap pada keputusan.

Enam bulan kemudian, perceraian kami selesai.

Rumah akhirnya dijual karena Arman tidak sanggup mengganti bagian kontribusi saya.

Setelah kredit dilunasi dan pembagian diselesaikan, saya menerima kembali sebagian besar uang yang selama bertahun-tahun saya kira sudah hilang.

Saya menggunakan sebagian untuk uang muka apartemen kecil.

Tidak besar.

Hanya dua kamar.

Namun saya memilih sendiri warna dindingnya.

Saya menentukan sendiri posisi meja makan.

Saya membeli sofa tanpa bertanya kepada siapa pun apakah harganya terlalu mahal.

Dan di dapur, saya memasang rak kecil khusus untuk rempah dan botol minyak cabai.

Setiap kali melihatnya, saya selalu teringat malam takbiran itu.

Malam ketika saya memasak tujuh belas hidangan untuk orang-orang yang merasa saya tidak pantas memiliki kamar di rumah sendiri.

Setahun kemudian, saat malam takbiran datang lagi, Mama dan Papa makan di apartemen saya.

Tidak ada tujuh belas hidangan.

Hanya opor, rendang, sambal goreng kentang, ketupat, dan puding.

Saya duduk bersama mereka sejak makanan pertama disajikan.

Tidak ada yang menyuruh saya mengambil air.

Tidak ada yang meminta saya berdiri ketika sedang makan.

Mama mencicipi rendang.

“Enak.”

Papa menambahkan sambal.

“Lebih enak karena yang masak ikut makan.”

Kami tertawa.

Ponsel saya bergetar.

Sebuah pesan masuk dari nomor yang sudah lama tidak menghubungi saya.

Arman.

Selamat Lebaran.

Mama jual rumahnya bulan lalu. Ratri pindah ke luar kota. Aku cuma mau bilang maaf. Sekarang aku baru ngerti kenapa malam itu kamu pergi.

Saya membaca pesan itu sekali.

Lalu mengunci layar.

Mama bertanya,

“Siapa?”

Saya tersenyum.

“Orang dari masa lalu.”

Saya mengambil sepotong rendang dan meletakkannya di piring sendiri.

Di luar, suara takbir memenuhi malam Bandung.

Saya pernah mengira tindakan paling berani yang saya lakukan malam itu adalah mengemas koper.

Ternyata bukan.

Yang paling berani adalah membawa pergi semua hal yang selama ini saya anggap terlalu kecil untuk diperjuangkan.

Uang saya.

Pekerjaan saya.

Harga diri saya.

Dan akhirnya, diri saya sendiri.

Saya tidak pernah menuangkan minyak cabai itu ke makanan mereka.

Saya tidak merusak apa pun.

Saya tidak membalas penghinaan dengan penghinaan.

Saya hanya berhenti menyediakan kenyamanan bagi orang-orang yang membangun kenyamanan mereka di atas pengorbanan saya.

Kadang, untuk membuat seseorang terdiam, kita tidak perlu berteriak.

Kita hanya perlu berhenti memberi mereka sesuatu yang selama ini mereka kira akan selalu tersedia.

Dan malam takbiran itu, ketika saya menutup koper lalu berjalan keluar dari rumah, sebenarnya saya tidak sedang meninggalkan sebuah keluarga.

Saya sedang kembali kepada seseorang yang hampir saya lupakan.

Diri saya sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang