Aku baru menyadari satu hal yang jauh lebih mengerikan daripada kehilangan empat juta rupiah ketika petugas resepsionis memanggil namaku.
“Mbak Alya?”
Aku menoleh.
Perempuan berseragam hotel itu berdiri di belakang meja dengan ekspresi ragu. Di tangannya ada sebuah ponsel.
“Tadi Mbak bilang KTP sedang dibawa teman, ya?”

“Iya.”
“Boleh lihat foto teman yang membawanya?”
Pertanyaan itu membuatku bingung.
“Kenapa?”
Petugas itu saling berpandangan dengan rekannya sebelum memutar layar ponsel ke arahku.
“Sekitar satu jam lalu ada seseorang menelepon hotel. Dia mengaku sebagai Mbak Alya.”
Darah di wajahku seperti turun seketika.
“Apa?”
“Dia menanyakan apakah reservasi atas nama Alya Prameswari bisa diubah.”
Aku mendekat.
“Diubah bagaimana?”
“Nama tamunya.”
Bagas dan Siska yang berdiri beberapa langkah dariku ikut mendekat.
Petugas itu membuka catatan percakapan.
“Perempuan itu menyebutkan nama lengkap Mbak, tanggal lahir, bahkan nomor KTP. Karena reservasinya dibuat melalui aplikasi dan sudah dibayar, dia meminta satu kamar dialihkan atas nama Nadine Kusuma.”
Aku merasa ujung jariku dingin.
“Dia tahu nomor KTP-ku?”
Petugas itu mengangguk.
“Dia bahkan mengirim foto KTP sebagai verifikasi.”
Lalu layar diperlihatkan kepadaku.
Itu KTP-ku.
Difoto di atas meja kayu.
Di sudut foto terlihat sesuatu yang sangat kukenal.
Kacamata hitamku.
Jadi Nadine berbohong.
KTP-ku tidak hilang.
KTP-ku ada pada mereka.
Dan seseorang sengaja memotretnya.
“Nomor yang menelepon?” tanyaku.
Petugas membacakannya.
Aku tidak mengenal nomor itu.
Namun Siska tiba-tiba berkata, “Coba aku cek.”
Dia menyimpan nomor tersebut, lalu membuka WhatsApp.
Beberapa detik kemudian wajahnya berubah.
Foto profilnya menampilkan seorang perempuan.
Nadine.
Tidak ada lagi ruang untuk salah paham.
Aku menatap layar tanpa berkata apa-apa.
Bagas mengumpat pelan.
“Ini bukan kelalaian lagi, Ly.”
Aku tahu.
Dan justru karena tahu, kemarahanku berubah menjadi sesuatu yang lebih tenang.
Lebih dingin.
Aku meminta petugas hotel tidak mengubah data apa pun dan mencatat semua komunikasi yang masuk. Setelah berhasil check-in menggunakan identitas digital dari aplikasi resmi dan dokumen pendukung lain yang kumiliki, aku masuk ke kamar bersama Siska.
Hal pertama yang kulakukan bukan menangis.
Aku mengganti semua kata sandi.
Mobile banking.
Email.
Marketplace.
Media sosial.
Aku memblokir kartu debit dan menghubungi bank untuk membuat laporan transaksi yang tidak kuotorisasi.
Kemudian aku memeriksa email.
Ada satu notifikasi yang hampir kulewatkan.
Permintaan reset kata sandi akun marketplace.
Dikirim pukul 14.32.
Lima belas menit setelah uang empat juta ditarik.
Aku menatap layar lama.
“Sis.”
Siska mendekat.
“Apa?”
“Mereka mencoba masuk akun belanjaku.”
Wajahnya langsung tegang.
“Raka tahu password?”
“Password lama, mungkin.”
Aku mulai memeriksa semua akun satu per satu.
Tidak ada transaksi lain yang berhasil.
Tapi kemudian aku membuka email sampah.
Di sana ada pesan dari sebuah layanan pinjaman digital.
Subjeknya membuat napasku tercekat.
“Verifikasi Identitas Anda Belum Selesai.”
Aku membukanya.
Ada pengajuan akun menggunakan alamat emailku.
Waktunya pukul 15.03.
Aku langsung berdiri.
“Ini sudah keterlaluan.”
Siska membaca layar dan menutup mulut.
“Mereka mau pinjam uang pakai data kamu?”
“Aku nggak tahu.”
“Tapi kenapa?”
Aku juga tidak tahu.
Sampai sekitar pukul delapan malam, ketika Raka dan Nadine akhirnya tiba di hotel.
Mereka masuk ke lobi sambil tertawa.
Nadine membawa beberapa kantong belanja.
Raka memegang tas selempang cokelatku.
Begitu melihat kami menunggu di sofa, senyum mereka lenyap.
Raka berjalan mendekat.
“Nih.”
Dia menyodorkan tas itu seperti sedang mengembalikan charger yang dipinjam.
Aku tidak mengambilnya.
“Taruh di meja.”
“Alya, jangan bikin drama.”
“Taruh.”
Entah karena melihat Bagas dan beberapa teman lain berdiri di belakangku, Raka akhirnya menurut.
Aku membuka tas di depan mereka.
Sunscreen masih ada.
Dompet kartu masih ada.
Kartu ATM hilang karena memang masih mereka bawa.
KTP tidak ada.
Kacamata hitam tidak ada.
Kunci kos masih ada.
Aku menatap Nadine.
“KTP-ku mana?”
Nadine mengangkat bahu.
“Kan tadi sudah kubilang, mungkin jatuh.”
Aku mengeluarkan ponsel.
Lalu menunjukkan foto yang dikirim ke hotel.
Wajah Nadine berubah.
Raka langsung menoleh kepadanya.
“Kamu kirim itu?”
Untuk pertama kalinya, aku melihat Nadine kehilangan ketenangannya.
“Aku cuma mau bantu urus kamar.”
“Dengan mengaku sebagai aku?”
“Nggak mengaku. Aku cuma bilang mewakili.”
“Petugas hotel merekam catatannya.”
Dia terdiam.
Aku kemudian membuka email verifikasi pinjaman digital.
“Kalau ini?”
Raka memandang layar.
“Apa itu?”
Aku memperhatikan ekspresinya.
Dia benar-benar terlihat tidak tahu.
Nadine buru-buru berkata, “Aku nggak tahu.”
“Menarik.”
Aku membuka pesan bank.
“Empat juta ditarik dari ATM.”
Lalu kutunjukkan transaksi gagal Rp2.850.000.
“Setelah itu ada percobaan transaksi lain.”
Aku menatap Raka.
“Kartu ATM-ku.”
Raka merogoh dompetnya.
Dia mengeluarkan kartuku.
“Nih. Ambil.”
Aku tidak bergerak.
“Kamu mengambil empat juta?”
“Iya. Sudah kubilang aku pinjam.”
“Untuk apa?”
Raka melirik Nadine.
Nadine langsung menyela.
“Aku kehilangan dompet.”
“Kalau kehilangan dompet, kenapa kamu punya dua kantong belanja?”
Wajahnya memerah.
“Itu urusanku.”
“Benar. Dan uangku juga urusanku.”
Suasana lobi menjadi sunyi.
Beberapa teman kami berdiri jauh-jauh, tetapi semuanya mendengar.
Raka mengusap wajah.
“Aku ganti besok. Selesai, kan?”
“Belum.”
Aku menunjukkan email pengajuan pinjaman.
“Aku mau tahu siapa yang mencoba menggunakan identitasku.”
“Aku nggak tahu,” kata Raka.
Kali ini suaranya lebih pelan.
Aku percaya dia tidak tahu soal bagian itu.
Dan itu justru membuat situasinya semakin buruk.
Karena berarti ada sesuatu yang dilakukan Nadine bahkan tanpa sepengetahuan Raka.
“Nadine?”
Dia menatapku tajam.
“Jangan nuduh sembarangan.”
Aku mengangguk.
“Oke.”
Aku mengambil tas dan kartu ATM-ku.
“Kalau begitu kita selesaikan secara resmi.”
Wajah Raka berubah.
“Maksud kamu?”
“Aku sudah membuat laporan ke bank. Besok pagi aku juga akan membuat laporan terkait penggunaan identitas tanpa izin.”
“Alya!”
“Kenapa?”
“Empat juta doang mau dibawa sejauh itu?”
Aku menatap lelaki yang pernah kubayangkan akan menjadi suamiku.
Aneh sekali.
Tiga tahun bisa runtuh hanya dalam beberapa jam, bukan karena seseorang berubah, tetapi karena akhirnya kita melihat siapa dia sebenarnya.
“Kalau menurutmu mengambil uang orang tanpa izin itu sepele, mungkin masalahnya bukan empat jutanya.”
Aku berbalik.
Namun Nadine tiba-tiba berkata, “KTP kamu ada sama aku.”
Aku berhenti.
Semua orang menoleh.
Dia membuka tas tangannya dan mengeluarkan KTP-ku.
Siska sampai mengembuskan napas keras.
Aku mengambilnya.
“Katanya hilang?”
“Aku panik.”
“Kenapa difoto?”
Nadine diam.
“Kenapa dipakai untuk menghubungi hotel?”
Tidak ada jawaban.
“Kenapa ada pengajuan akun pinjaman?”
Wajahnya pucat.
Kemudian Raka menatapnya.
“Nadine, jawab.”
“Aku cuma coba daftar.”
“Daftar apa?”
“Pinjaman.”
Raka seperti tidak memahami kalimat itu.
“Pakai KTP Alya?”
Nadine menunduk.
Aku sendiri justru merasa sangat tenang.
“Kenapa?”
Beberapa detik berlalu sebelum dia akhirnya berkata, “Aku punya utang.”
Ternyata jumlahnya bukan kecil.
Nadine telah menggunakan beberapa layanan paylater dan pinjaman daring selama hampir setahun. Gaya hidup yang selama ini kami kira berasal dari uang keluarganya ternyata sebagian besar dibayar dengan utang.
Perjalanan.
Sepatu.
Tas.
Makan di restoran mahal.
Bahkan hadiah ulang tahun yang pernah diberikannya kepada Raka.
Semuanya dibangun dari tagihan yang terus menumpuk.
“Terus apa hubungannya sama Alya?” tanya Bagas.
Nadine mulai menangis.
“Aku cuma butuh pinjaman baru buat nutup yang lama.”
“Jadi kamu pakai identitasku?”
“Belum berhasil!”
Kalimat itu membuat seluruh lobi sunyi.
Belum berhasil.
Bukan tidak berniat.
Bukan tidak melakukan.
Hanya belum berhasil.
Raka mundur satu langkah dari Nadine.
“Kamu bilang tadi cuma kehilangan dompet.”
Nadine menatapnya.
“Aku malu bilang sebenarnya.”
“Terus empat juta itu?”
“Aku perlu bayar tagihan hari ini.”
Raka membeku.
“Katanya buat belanja karena dompetmu ketinggalan.”
“Aku juga butuh beberapa barang.”
Aku hampir tidak percaya.
Tapi kejutan terakhir datang dari Raka sendiri.
Dia menatapku, lalu berkata, “Alya, uang empat juta itu nanti aku ganti.”
Aku tersenyum tipis.
“Bukan kamu yang harus mengganti.”
“Aku yang ambil.”
“Atas permintaan dia?”
Raka diam.
Aku akhirnya mengerti.
Nadine meminta uang.
Raka tahu PIN-ku.
Dia mengambil kartuku.
Dan tanpa sekali pun menghubungiku, dia menarik empat juta rupiah.
Bukan karena keadaan darurat.
Bukan karena kecelakaan.
Melainkan karena selama ini dia sudah terbiasa menganggap apa pun milikku juga boleh digunakan selama Nadine membutuhkannya.
Aku menatap mereka berdua.
“Aku tidak akan berdebat lagi.”
Malam itu aku membuat laporan resmi dan menyimpan seluruh bukti. Mutasi rekening, pesan WhatsApp, foto KTP yang dikirim ke hotel, email verifikasi, hingga rekaman komunikasi hotel.
Raka mengembalikan empat juta rupiah keesokan paginya.
Nadine juga mengakui secara tertulis bahwa dia menggunakan foto identitasku untuk mencoba mendaftar layanan pinjaman. Pengajuannya ternyata gagal karena verifikasi wajah tidak cocok.
Seharusnya cerita itu berakhir di sana.
Tapi ternyata belum.
Dua hari kemudian, ketika aku sedang duduk sendirian di sebuah kafe di Yogyakarta, email masuk dari perusahaan tempatku diterima sebagai Management Trainee di Jakarta.
Aku sempat takut.
Kupikir ada masalah.
Ternyata isinya pengumuman jadwal orientasi.
Aku membaca email itu berulang kali.
Kemudian tanpa sadar tersenyum.
Selama berbulan-bulan Raka terus memintaku mempertimbangkan kembali pekerjaan tersebut.
Karena Jakarta jauh.
Karena hubungan kami bisa terganggu.
Karena, tentu saja, Nadine bilang LDR sulit.
Untuk pertama kalinya, aku menjawab email perusahaan itu tanpa mempertimbangkan pendapat siapa pun.
Aku menerima tawarannya.
Sebulan kemudian aku pindah ke Jakarta.
Raka beberapa kali mencoba menghubungiku dari nomor lain.
Aku tidak menjawab.
Nadine mengirim permintaan maaf panjang.
Aku membacanya sekali, lalu menghapusnya.
Enam bulan kemudian, aku bertemu Siska.
Kami sedang makan siang ketika dia berkata sesuatu yang membuatku hampir tersedak minuman.
“Kamu tahu Raka sama Nadine sekarang gimana?”
Aku menggeleng.
“Mereka pacaran.”
Aku tertawa kecil.
Aneh, tetapi aku tidak merasa sakit.
“Cepat juga.”
“Bukan itu bagian anehnya.”
Siska mencondongkan badan.
“Mereka putus dua minggu lalu.”
“Kenapa?”
“Nadine ketahuan memakai kartu kredit Raka tanpa izin.”
Aku terdiam.
Lalu tertawa.
Bukan karena senang melihat mereka bermasalah.
Melainkan karena akhirnya aku memahami sesuatu yang dulu tidak bisa kulihat.
Hari ketika Raka meninggalkanku tertidur di kereta sebenarnya bukan hari terburuk dalam hidupku.
Itu hari keberuntunganku.
Kalau mereka tidak turun di Cirebon, mungkin aku masih akan mempertahankan hubungan itu.
Kalau Raka tidak mengambil kartuku, mungkin aku masih menganggap kebiasaannya membela Nadine hanya sebagai bentuk persahabatan.
Kalau KTP-ku tidak dibawa, mungkin aku tidak akan pernah melihat seberapa jauh mereka merasa berhak melewati batas hidupku.
Aku pernah mengira kehilangan pacar tiga tahun adalah kerugian besar.
Ternyata yang hampir benar-benar hilang adalah diriku sendiri.
Pekerjaan yang hampir kutolak.
Keputusan-keputusan yang selalu kuubah.
Batas yang terus kubiarkan dilanggar.
Suara yang semakin lama semakin jarang kugunakan.
Aku memandang gedung-gedung Jakarta dari jendela restoran.
Ponselku berbunyi.
Pesan dari ibu.
“Gimana kerja hari ini?”
Aku mengetik balasan.
“Capek, Bu. Tapi aku senang.”
Sebelum menyimpan ponsel, aku membuka aplikasi bank.
Bukan untuk mengecek uang empat juta itu.
Sudah lama uang tersebut kembali.
Aku melihat saldo rekening pertamaku setelah enam bulan bekerja.
Lalu tersenyum.
Bukan karena jumlahnya.
Melainkan karena akhirnya semua yang ada di sana adalah hasil dari keputusan yang kubuat sendiri.
Dan sejak perjalanan ke Yogyakarta itu, aku belajar satu hal yang tidak pernah diajarkan siapa pun kepadaku.
Orang yang mencintaimu mungkin boleh berjalan bersamamu.
Tapi dia tidak berhak mengambil alih arah hidupmu.
Apalagi mengambil kartu ATM-mu saat kau sedang tidur.
