SUAMI DAN SAHABATKU BERUSAHA MEREBUT RUMAH DAN MENUNTUT SETENGAH DARI SELURUH HARTAKU… TAPI MEREKA LUPA, HARTA WARISAN, PERUSAHAAN BIOTEKNOLOGI, DAN ASET DALAM FIDEIKOMIS TAK PERNAH MENJADI MILIK MEREKA!
Ketika Maya Wijaya pulang dari Surabaya dua hari lebih awal dari jadwal, hal pertama yang dilihatnya adalah foto mendiang ayahnya tergeletak di lantai Wisma Wijaya.
Kaca bingkainya pecah tepat di atas wajah Doni Wijaya.
Beberapa meter dari sana, sejumlah pekerja sedang mengangkut kotak-kotak kayu keluar dari ruang kerja utama. Seorang desainer interior sibuk memberikan instruksi, seolah-olah rumah tua peninggalan keluarga Wijaya itu sudah berganti pemilik.
Maya berhenti di ambang pintu dan meletakkan kopernya.
“Siapa yang memberi izin untuk melakukan semua ini?”
Suasana mendadak hening.
Anita Pramudiya muncul di ujung tangga lantai dua.
Dia mengenakan gaun linen yang dulu sering dipakai mendiang ibu Maya. Rambutnya masih basah, dan dia berjalan tanpa alas kaki dengan santai, seperti seorang nyonya rumah yang sedang mengawasi para pekerjanya.
Selama dua puluh empat tahun, Anita adalah sahabat terdekat Maya.
Anita pernah memeluknya ketika Maya kehilangan kedua orang tuanya. Dia menangis di pemakaman ayah Maya, berdiri di samping Maya pada hari pernikahannya, dan mengetahui hampir setiap rahasia dalam hidup sahabatnya itu.
Namun sekarang, Anita menatap Maya seperti seseorang yang baru saja masuk tanpa izin ke rumah orang lain.
“Kamu pulang lebih cepat,” katanya tenang.
Belum sempat Maya menjawab, Rendy Pratama muncul dari belakang Anita sambil memasang jam tangannya.
Pria yang sudah menjadi suami Maya selama sebelas tahun itu bahkan tidak berusaha mencari alasan.
“Kita perlu bicara.”
Tatapan Maya turun ke gaun yang dikenakan Anita, kemudian beralih ke pintu kamar utama yang terbuka lebar di belakang mereka.
“Sepertinya kalian berdua sudah terlalu banyak bicara tanpa sepengetahuanku.”
Rendy mengembuskan napas panjang.
Saat pertama kali bertemu Maya, Rendy hanyalah seorang pengacara muda yang belum memiliki klien besar. Maya-lah yang memperkenalkannya kepada jajaran direksi Wijaya Biotek.
Berkat rekomendasi dan kepercayaan Maya, karier Rendy berkembang pesat hingga akhirnya dia dipercaya menjadi direktur operasional perusahaan.
Namun semakin tinggi posisinya, semakin sering Rendy berbicara seolah-olah Wijaya Biotek dibangun dari hasil kerja kerasnya sendiri.
“Aku dan Anita tidak pernah merencanakan semua ini,” kata Rendy akhirnya. “Kami juga tidak pernah berniat jatuh cinta.”
Maya tersenyum tipis.
“Kalimat itu pasti terdengar lebih meyakinkan ketika kalian berlatih mengucapkannya.”
Wajah Anita berubah.
Rendy mengabaikan sindiran itu.
“Kamu selalu sibuk. Surabaya, Singapura, konferensi, rapat direksi, penelitian. Hidupmu selalu tentang perusahaan dan nama besar keluarga Wijaya. Aku dan Anita hanya menginginkan sesuatu yang nyata.”
“Kalau begitu, cari sesuatu yang nyata itu di tempat lain.”
Nada suara Maya tetap tenang.
Justru ketenangan itulah yang membuat Rendy mulai terlihat gelisah.
Dia mengambil sebuah map tebal dari meja dan meletakkannya di hadapan Maya.
“Aku sudah mengajukan gugatan cerai.”
Maya tidak menyentuh map tersebut.
Rendy melanjutkan dengan lebih percaya diri.
“Setelah sebelas tahun menikah, aku berhak mendapatkan bagian yang pantas. Setengah dari rumah ini, setengah saham Wijaya Biotek, dan setengah dari seluruh investasi yang diperoleh selama pernikahan.”
Dia memandang ruang utama Wisma Wijaya dengan tatapan puas.
“Selama proses pembagian harta berlangsung, aku dan Anita akan tetap tinggal di sini.”
Anita turun beberapa anak tangga dan tersenyum kecil.
“Vila di Bogor juga nyaman, Maya. Bukankah kamu jarang menggunakannya? Kamu bisa tinggal di sana sementara waktu. Tidak perlu membuat semuanya menjadi lebih buruk.”
Maya menatap mereka bergantian.
Kalimat itu terlalu rapi.
Terlalu siap.
Jelas mereka sudah merencanakan semuanya jauh sebelum Maya pulang.
Namun sebelum Maya sempat menjawab, pintu utama terbuka.
Tiga orang masuk hampir bersamaan.
Yang pertama adalah pengacara keluarga Wijaya.
Di belakangnya berjalan kepala keamanan Wisma Wijaya dan Arka Mahendra, pengawas independen Fideikomis Wijaya.
Ekspresi Rendy langsung berubah.
“Apa yang kalian lakukan di sini?”
Pengacara keluarga tidak menjawab pertanyaan itu. Dia membuka sebuah dokumen resmi dan berjalan ke tengah ruangan.
“Saudara Rendy Pratama, sebelum ada kesalahpahaman lebih jauh, saya perlu menjelaskan status hukum Wisma Wijaya.”
Rendy menatapnya tajam.
“Wisma Wijaya sepenuhnya berada di bawah Fideikomis Keluarga Wijaya sejak sebelum pernikahan Anda dengan Ibu Maya berlangsung. Properti ini bukan aset perkawinan dan tidak pernah tercatat sebagai milik pribadi Anda.”
Ruangan mendadak sunyi.
Rendy mengerutkan kening.
“Aku suaminya. Aku sudah tinggal di sini sebelas tahun.”
“Benar,” jawab pengacara itu. “Tetapi Anda tinggal di sini berdasarkan hak penggunaan sementara yang diberikan oleh penerima manfaat fideikomis.”
Dia mengangkat dokumen di tangannya.
“Hak tersebut telah dicabut secara resmi pagi ini.”
Wajah Rendy seketika pucat.
Anita yang sejak tadi berdiri dengan percaya diri mulai kehilangan senyumnya.
Rendy mengepalkan tangan.
“Kalau begitu aku akan menuntut saham perusahaan. Aku sudah sebelas tahun ikut membangun Wijaya Biotek.”
“Anda tidak memiliki satu lembar pun saham dengan hak suara.”
Rendy terdiam.
Pengacara itu melanjutkan tanpa mengubah nada suaranya.
“Posisi Anda sebagai direktur operasional adalah posisi profesional. Anda menerima gaji, bonus kinerja, dan fasilitas perusahaan. Semua itu tercatat dengan jelas dalam kontrak kerja Anda. Tidak ada klausul kepemilikan saham ataupun hak atas perusahaan.”
Untuk pertama kalinya sejak Maya masuk ke rumah itu, Rendy terlihat benar-benar takut.
Maya berjalan perlahan menuju foto ayahnya yang tergeletak di lantai.
Dia berjongkok, mengambil bingkai yang pecah, lalu membersihkan serpihan kaca dari permukaan foto.
Ayahnya masih tersenyum dari balik retakan.
Maya berdiri kembali.
“Rendy.”
Suaminya menatapnya.
“Kamu punya waktu dua puluh menit untuk mengemasi barang-barang pribadimu dan meninggalkan rumah ini.”
Kemudian Maya memandang Anita.
Tatapannya jauh lebih dingin.
“Dan kamu punya waktu lima menit.”

Anita menelan ludah.
“Maya, dengarkan dulu.”
Tiba-tiba ponsel kepala keamanan bergetar keras.
Bukan nada dering biasa.
Itu adalah suara peringatan sistem keamanan perusahaan.
Pria itu segera melihat layar ponselnya.
Wajahnya berubah.
“Bu Maya.”
Maya menoleh.
“Ada apa?”
Kepala keamanan mengangkat layar ponselnya.
“Sistem keamanan Wijaya Biotek baru saja mendeteksi pengunduhan data dalam jumlah sangat besar dari akun internal milik Pak Rendy.”
Rendy membeku.
Pengacara keluarga langsung menoleh kepadanya.
“Data apa?”
Kepala keamanan membaca laporan yang baru masuk.
“Formula penelitian rahasia. Data uji klinis. Protokol laboratorium. Dan seluruh dokumen terapi eksperimental leukemia yang sedang dikembangkan perusahaan.”
Wajah Rendy kehilangan seluruh warnanya.
Namun laporan itu belum selesai.
“Semua berkas tersebut dikirim ke server eksternal yang teridentifikasi milik Nusa Helix.”
Maya perlahan menatap suaminya.
Nusa Helix bukan sekadar perusahaan lain.
Mereka adalah pesaing terbesar Wijaya Biotek.
Perusahaan yang selama hampir tiga tahun berusaha mendapatkan teknologi terapi leukemia yang dikembangkan tim riset keluarga Wijaya.
Anita mundur satu langkah.
Kemudian kepala keamanan membaca baris terakhir pada laporan tersebut.
“Dan ada satu hal lagi.”
“Apa?” tanya Maya.
“Akses ke Fideikomis Medis dilindungi enkripsi ganda. Seseorang menggunakan kata sandi pribadi untuk melewati lapisan keamanan kedua.”
Dia mengangkat pandangannya.
“Kredensial yang digunakan tercatat atas nama Anita Pramudiya.”
Semua orang di ruangan itu langsung menoleh ke arah Anita.
Senyum yang sejak tadi masih berusaha dipertahankannya akhirnya lenyap sepenuhnya.
“Itu tidak mungkin,” katanya cepat.
Maya menatapnya tanpa berkedip.
“Kata sandi itu hanya diketahui tiga orang.”
Anita memaksakan tawa kecil.
“Mungkin sistemnya salah.”
Arka Mahendra menggeleng.
“Sistem tidak hanya mencatat nama pengguna. Ada autentikasi biometrik dari perangkat yang terdaftar atas nama Anda.”
Anita menoleh kepada Rendy.
Tatapan mereka bertemu hanya sesaat, tetapi cukup untuk menjawab semua pertanyaan Maya.
Rendy-lah yang pertama kehilangan kendali.
“Anita, kamu bilang akses itu tidak akan terlacak.”
Ruangan seperti berhenti bernapas.
Anita langsung memucat.
“Diam, Rendy.”
Maya menutup mata selama beberapa detik.
Bukan karena terkejut.
Lebih karena sebuah bagian kecil dalam dirinya masih berharap semua ini hanya pengkhianatan cinta.
Ternyata lebih buruk.
Jauh lebih buruk.
“Jadi kalian bukan hanya berselingkuh,” katanya pelan. “Kalian menjual rahasia perusahaan.”
“Tidak seperti itu,” Rendy buru-buru menjawab.
“Kalau bukan seperti itu, jelaskan.”
Rendy membuka mulut, tetapi tak ada suara keluar.
Anita justru mengambil alih.
“Kami hanya ingin jaminan.”
Maya menatapnya.
“Jaminan?”
“Kamu tidak pernah benar-benar membutuhkan uang, Maya. Kamu lahir dengan semuanya. Rumah, perusahaan, jaringan, nama keluarga. Kamu bahkan tidak tahu rasanya takut kehilangan masa depan.”
Maya tertawa pendek, pahit.
“Kamu berdiri di rumah orang tuaku, mengenakan pakaian ibuku, setelah tidur dengan suamiku, lalu ingin mengajariku tentang kehilangan?”
Mata Anita memerah.
“Aku selalu hidup di bayang-bayangmu.”
Untuk pertama kalinya, kemarahan yang disimpan selama puluhan tahun muncul di wajahnya.
“Di sekolah, guru membandingkanku denganmu. Ketika kita mulai bekerja, orang mengenalku sebagai sahabat Maya Wijaya. Saat aku membuka konsultan sendiri, klien datang karena rekomendasimu. Bahkan ketika aku berhasil, orang masih bilang aku beruntung punya teman sepertimu.”
Maya menggeleng pelan.
“Aku membantumu karena kupikir kamu keluargaku.”
“Itulah masalahnya,” Anita membalas. “Kamu selalu merasa menjadi orang yang memberi.”
Rendy menyela.
“Cukup. Kita masih bisa menyelesaikan ini.”
Maya menoleh.
“Bagaimana?”
“Kita buat kesepakatan. Tidak perlu polisi. Tidak perlu media. Aku mundur dari perusahaan. Anita pergi. Kamu batalkan laporan soal pengunduhan data, lalu kita selesaikan perceraian secara pribadi.”
Pengacara keluarga menatapnya seolah tidak percaya dengan apa yang baru didengar.
Maya justru tersenyum.
“Dan sebagai gantinya?”
Rendy mengangkat dagu sedikit.
“Aku hanya meminta kompensasi yang layak.”
“Berapa?”
Rendy ragu sesaat.
“Dua ratus miliar rupiah.”
Kepala keamanan hampir tertawa, tetapi menahannya.
Maya hanya menatap lelaki yang pernah tidur di sampingnya selama sebelas tahun.
“Dua ratus miliar untuk tidak mencuri lagi?”
“Kamu tahu nilai penelitiannya jauh lebih besar.”
Kalimat itu keluar begitu saja.
Rendy langsung sadar telah melakukan kesalahan.
Maya mempersempit mata.
“Jadi kamu memang tahu nilai data yang dikirim.”
Rendy terdiam.
Arka Mahendra berjalan mendekati meja.
“Bu Maya, sebenarnya ada sesuatu yang belum kami sampaikan.”
Dia mengeluarkan sebuah tablet.
“Nusa Helix tidak menerima file asli.”
Rendy menoleh tajam.
“Apa?”
Arka menggeser layar ke arah mereka.
“Sejak tiga minggu lalu, setelah sistem mendeteksi beberapa upaya akses tidak wajar, kami mengaktifkan protokol umpan. Siapa pun yang mengunduh data menggunakan jalur tidak sah akan menerima versi yang sudah ditandai secara digital.”
Maya akhirnya mengerti.
“Watermark forensik?”
“Lebih dari itu. Beberapa formula dibuat tampak valid tetapi sengaja diubah pada bagian tertentu. Tidak cukup untuk membahayakan siapa pun karena datanya belum bisa dipakai dalam produksi, tetapi cukup untuk membuktikan sumber kebocoran jika Nusa Helix mencoba menggunakannya.”
Wajah Rendy berubah total.
“Jadi data yang kukirim…”
“Adalah jebakan,” jawab Arka.
Anita menutup mulut.
Rendy kemudian menoleh kepada Maya dengan kebencian terbuka.
“Kamu menjebakku?”
“Tidak.”
Maya menggeleng.
“Kamu menjebak dirimu sendiri.”
Suara sirene terdengar samar dari luar gerbang.
Rendy memandang ke jendela.
“Kamu sudah menelepon polisi?”
Pengacara keluarga menjawab sebelum Maya sempat bicara.
“Laporan mengenai dugaan pencurian rahasia dagang dan akses ilegal sudah dibuat sejak bukti transfer data terkonfirmasi.”
Rendy melangkah maju.
“Maya, jangan lakukan ini.”
Maya tidak mundur.
“Kamu yang melakukannya.”
“Aku suamimu.”
“Beberapa menit lalu kamu mengingatkanku bahwa kamu sudah mengajukan gugatan cerai.”
Rendy membeku.
Dua petugas keamanan perusahaan memasuki ruangan bersamaan dengan beberapa penyidik yang baru tiba.
Rendy menatap ke arah pintu, lalu ke Maya, seolah masih mencari sisa kasih sayang yang bisa digunakannya.
“Aku melakukan semua ini karena kamu tidak pernah benar-benar melihatku.”
Maya menggeleng.
“Aku melihatmu, Rendy. Itulah kenapa aku memberimu begitu banyak kepercayaan.”
Dia berhenti sejenak.
“Kesalahanku adalah mengira kepercayaan bisa mengubah karakter seseorang.”
Ketika Rendy dibawa pergi untuk dimintai keterangan, dia tidak lagi terlihat seperti direktur eksekutif yang beberapa menit sebelumnya mengklaim setengah perusahaan.
Dia terlihat seperti seseorang yang baru menyadari seluruh masa depannya runtuh karena keserakahannya sendiri.
Anita masih berdiri di dekat tangga.
Dia menangis sekarang.
Bukan tangisan keras.
Hanya air mata yang terus turun.
“Maya.”
Maya memandangnya.
“Aku tahu aku tidak pantas meminta apa pun.”
“Benar.”
“Tapi aku ingin kamu tahu satu hal. Awalnya memang bukan soal Rendy.”
Maya diam.
Anita melanjutkan.
“Seseorang dari Nusa Helix mendekatiku hampir setahun lalu. Mereka tahu aku dekat denganmu. Mereka menawarkan uang kalau aku bisa mendapatkan akses ke dokumen tertentu.”
“Berapa?”
“Lima miliar.”
Maya tersenyum pahit.
“Dua puluh empat tahun persahabatan dihargai lima miliar.”
“Aku menolak waktu itu.”
“Lalu?”
“Lalu aku terlilit utang.”
Suara Anita mengecil.
“Usahaku hampir bangkrut. Aku malu memberitahumu. Aku tidak mau lagi menerima bantuan darimu. Kemudian aku bicara dengan Rendy. Dia bilang kita bisa mengambil apa yang memang seharusnya menjadi bagian kita.”
“Kita?”
Anita menunduk.
“Dia membuatku percaya bahwa kamu terlalu kaya untuk merasa kehilangan.”
Maya menatap sahabat lamanya lama sekali.
“Itu alasan paling pengecut yang pernah kudengar.”
Anita mengangguk sambil menangis.
“Aku tahu.”
“Kalau kamu datang padaku dan mengatakan usahamu bangkrut, aku akan membantumu.”
“Itulah yang tidak bisa kuterima.”
“Jadi kamu lebih memilih mencuri?”
Anita tidak menjawab.
Beberapa menit kemudian, dia juga dibawa keluar untuk menjalani pemeriksaan.
Wisma Wijaya kembali sunyi.
Para pekerja yang sebelumnya hendak memindahkan furnitur sudah pergi.
Gaun milik ibu Maya tertinggal di kursi dekat tangga setelah Anita menggantinya sebelum pergi.
Maya berdiri di tengah rumah besar itu, tetapi untuk pertama kalinya rumah tersebut terasa kosong.
Pengacara keluarga mendekatinya.
“Ibu ingin saya lanjutkan proses perceraian secepat mungkin?”
Maya mengangguk.
“Tidak perlu memperpanjang sesuatu yang sudah selesai.”
“Ada kemungkinan Pak Rendy tetap bisa mengklaim sebagian aset yang benar-benar diperoleh bersama selama perkawinan.”
“Tentu. Berikan apa pun yang memang secara hukum menjadi haknya.”
Pengacara itu tampak sedikit terkejut.
Maya melanjutkan.
“Aku tidak akan mengambil satu rupiah pun yang bukan hakku. Aku juga tidak akan memberikan satu rupiah pun hanya karena seseorang merasa berhak.”
Itu adalah prinsip yang diajarkan ayahnya.
Malam itu, setelah semua orang pergi, Maya masuk ke ruang kerja ayahnya.
Kotak-kotak yang sempat dipindahkan sudah dikembalikan.
Di balik meja kayu jati masih terdapat lemari kecil yang hampir tidak pernah dibuka sejak Doni Wijaya meninggal enam tahun sebelumnya.
Maya memasukkan kode lama tanggal ulang tahunnya.
Pintu lemari terbuka.
Di dalamnya ada beberapa dokumen, sebuah jam tangan tua, dan sebuah amplop bertuliskan namanya.
Maya terdiam.
Dia tidak pernah melihat amplop itu sebelumnya.
Tulisan tangan ayahnya masih sangat ia kenali.
Untuk Maya, jika suatu hari kamu harus memilih antara mempertahankan seseorang dan mempertahankan dirimu sendiri.
Tangannya gemetar ketika membuka surat itu.
Ayahnya menulis surat tersebut dua bulan sebelum meninggal.
Isinya tidak panjang.
Doni Wijaya menjelaskan mengapa sebagian besar aset keluarga ditempatkan dalam fideikomis bertahun-tahun sebelum Maya menikah.
Bukan karena dia tidak percaya pada calon suami putrinya.
Justru karena dia memahami bahwa kekayaan sering mengubah hubungan manusia.
Ada satu kalimat yang membuat Maya berhenti membaca cukup lama.
Jangan pernah menggunakan harta untuk membeli kesetiaan. Orang yang benar-benar mencintaimu tidak akan meminta kepemilikan atas hidupmu sebagai bukti cinta.
Air mata Maya akhirnya jatuh.
Bukan karena Rendy.
Bukan pula karena Anita.
Melainkan karena setelah enam tahun, suara ayahnya seolah kembali berbicara kepadanya tepat di saat dia paling membutuhkannya.
Namun di bagian bawah surat terdapat satu informasi yang membuat Maya mengernyit.
Jika terjadi pelanggaran kepercayaan serius terhadap keluarga atau perusahaan, pengawas fideikomis memiliki kewenangan membuka Dokumen Pendiri Tambahan.
Maya segera menelepon Arka.
Kurang dari satu jam kemudian, pria itu kembali ke Wisma Wijaya membawa sebuah kotak dokumen tersegel.
“Ayah Anda meminta dokumen ini hanya dibuka dalam kondisi tertentu,” kata Arka.
Mereka membukanya bersama.
Di dalamnya terdapat akta tambahan yang selama bertahun-tahun tidak pernah diketahui Maya.
Ternyata Doni Wijaya telah menyisihkan sepuluh persen hasil tahunan Fideikomis Medis untuk membentuk yayasan perawatan pasien leukemia dari keluarga kurang mampu.
Namun program itu baru boleh diaktifkan jika Maya mengambil alih penuh pengawasan riset klinis perusahaan.
Maya membaca dokumen itu dua kali.
“Ayah tidak pernah memberitahuku.”
“Pak Doni bilang keputusan itu harus lahir dari pilihan Ibu sendiri, bukan karena kewajiban keluarga.”
Enam bulan kemudian, proses perceraian Maya selesai.
Rendy memperoleh bagian terbatas dari aset bersama yang secara sah memang menjadi haknya, tetapi kehilangan jabatan, fasilitas, dan reputasinya setelah penyidikan terhadap kebocoran data berkembang menjadi perkara pidana dan perdata.
Nusa Helix sendiri terkena penyelidikan setelah jejak digital menghubungkan beberapa petingginya dengan upaya memperoleh rahasia dagang secara ilegal.
Anita menjual hampir seluruh aset pribadinya untuk menyelesaikan utang dan biaya hukum. Maya tidak pernah menemuinya selama proses penyidikan.
Bukan karena membenci.
Ada luka yang tidak membutuhkan balas dendam.
Hanya membutuhkan jarak.
Setahun kemudian, di halaman depan Wijaya Biotek, Maya berdiri di hadapan puluhan dokter, peneliti, keluarga pasien, dan wartawan.
Di belakangnya terpampang nama fasilitas baru.
Pusat Terapi Leukemia Doni dan Ratih Wijaya.
Program pertama mereka memberikan akses terapi eksperimental bersubsidi kepada ratusan pasien dari berbagai daerah di Indonesia.
Seorang wartawan bertanya kepada Maya setelah acara selesai.
“Bu Maya, setelah semua yang terjadi, apakah Ibu merasa kehilangan banyak hal?”
Maya memandang gedung penelitian yang berdiri di belakangnya.
Dulu dia mungkin akan menjawab bahwa dia kehilangan suami dan sahabat.
Namun sekarang jawabannya berbeda.
“Aku kehilangan dua orang yang ternyata tidak pernah benar-benar kumiliki.”
Wartawan itu terdiam.
Maya tersenyum kecil.
“Tapi aku mendapatkan kembali sesuatu yang hampir hilang.”
“Apa?”
“Kepercayaan pada diriku sendiri.”
Malamnya, Maya pulang ke Wisma Wijaya.
Foto ayahnya sudah berada kembali di tempat semula dengan bingkai baru.
Namun Maya sengaja tidak mengganti kaca lama yang retak di sudut kecil bagian bawah.
Dia ingin menyimpan satu retakan itu.
Bukan sebagai pengingat tentang Rendy atau Anita.
Melainkan sebagai pengingat bahwa sesuatu tidak selalu kehilangan nilainya hanya karena pernah pecah.
Maya berdiri cukup lama di depan foto kedua orang tuanya.
Kemudian dia mematikan lampu ruang utama dan berjalan menuju tangga.
Rumah itu masih sama besarnya.
Masih menyimpan furnitur yang sama.
Masih tercatat atas nama fideikomis yang sama.
Namun malam itu, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Maya merasa Wisma Wijaya benar-benar kembali menjadi rumahnya.
Bukan karena dia berhasil mempertahankan hartanya.
Melainkan karena akhirnya dia mengerti sesuatu yang tidak pernah bisa dicantumkan dalam akta, saham, ataupun fideikomis.
Warisan terbesar dari orang tuanya bukanlah rumah, perusahaan, atau kekayaan.
Melainkan keberanian untuk mengetahui apa yang pantas dipertahankan dan siapa yang harus dilepaskan.
