Rendy mengangkat jam tangan emas itu tinggi-tinggi seolah baru saja menemukan bukti kejahatan terbesar dalam hidupnya.
“Nah, sekarang masih mau bilang dia tidak mencuri?” katanya tajam. “Jam tangan ini hilang berbulan-bulan, lalu tiba-tiba muncul di tas pegawai yang baru bekerja tiga hari.”
Maya menatap Hendra.
Wajahnya pucat. Bibirnya bergetar, tetapi ia berusaha menjaga suaranya tetap tenang.
“Pak Hendra, saya bersumpah saya tidak pernah melihat jam itu sebelumnya.”
Hendra tidak langsung menjawab.
Ia duduk diam di sofa dengan tongkat di sisi kanan dan kacamata hitam menutupi matanya.
Dari luar, ia tampak seperti seorang pria buta yang sedang mencoba memahami situasi hanya dari suara.
Namun di balik lensa gelap itu, pandangannya tertuju penuh kepada Rendy.
Ada sesuatu yang mengganggunya.
Rendy terlihat terlalu siap.
Tidak terkejut.
Tidak bingung.
Justru seperti seseorang yang telah menunggu momen ini.
“Panggil polisi,” kata Rendy. “Jangan beri dia kesempatan kabur.”
Maya langsung menggeleng.
“Tidak. Tolong periksa CCTV. Saya tidak mengambil apa pun.”
Rendy tertawa kecil.
“CCTV?”
Ia menoleh kepada Hendra.
“Bro, kamera di ruang keluarga rusak sejak minggu lalu, kan?”
Hendra merasakan dadanya mengencang.
Informasi itu benar.
Tetapi hanya dua orang yang mengetahuinya.
Dirinya dan teknisi keamanan.
Hendra belum pernah memberi tahu Rendy.
Sebelum ia sempat berkata apa-apa, terdengar suara kecil dari arah lorong belakang.
“Bukan Tante Maya yang taruh.”
Semua orang menoleh.
Maya membeku.
“Kiki?”
Bocah lima tahun itu berdiri di dekat pintu ruang penyimpanan dengan wajah tegang.
Rendy mengernyit.
“Anak siapa itu?”
Maya langsung berlari mendekati putrinya.
“Kiki, masuk lagi.”
Tetapi Kiki tidak bergerak.
Matanya menatap Rendy.
“Aku lihat Om yang taruh.”
Ruangan seketika sunyi.
Rendy tertawa keras.
“Apa?”
Kiki menunjuk tas Maya.
“Tadi Om masuk ke sini waktu Tante Maya lagi di dapur.”
Wajah Rendy berubah.
Hanya sedikit.
Namun Hendra melihatnya.
“Aku lihat Om buka tas Tante Maya,” lanjut Kiki. “Om masukin sesuatu yang warna kuning.”
Maya memandang Rendy dengan mata membesar.
Rendy melangkah maju.
“Anak kecil suka mengarang.”
Kiki mundur setengah langkah.
“Enggak.”
“Sudah,” potong Rendy. “Hendra, jangan percaya bocah lima tahun yang bahkan seharusnya tidak ada di rumah ini.”
Lalu Rendy tersenyum tipis.
“Justru ini membuktikan Maya pembohong. Dia melanggar aturanmu sejak hari pertama.”
Maya menundukkan kepala.
“Saya memang salah membawa anak saya diam-diam.”
Air matanya mulai memenuhi mata.
“Tapi saya tidak mencuri.”
Rendy meraih ponselnya.
“Aku telepon polisi.”
“Tidak perlu.”
Suara Hendra berubah.
Tenang.
Datar.
Namun begitu tegas hingga tangan Rendy berhenti di udara.
Hendra berdiri perlahan.
Ia meletakkan tongkatnya di atas meja.
Rendy memandangnya bingung.
“Hendra?”
Hendra melepas kacamata hitamnya.
Maya terdiam.
Rendy membeku.
Hendra menatap lurus ke arah sepupunya.
Dengan kedua mata yang jernih dan sepenuhnya fokus.
“Aku sudah melihat cukup banyak.”
Wajah Rendy kehilangan warna.
“Kau…”
“Bisa melihat?”
Hendra tersenyum tipis.
“Sejak awal.”
Maya menutup mulut.
Kiki justru terlihat puas.
“Aku sudah tahu dari kemarin.”
Hendra meliriknya.
“Kamu diam dulu.”
Kiki mengangguk cepat.
Rendy mundur satu langkah.
“Ini… ini tidak masuk akal.”
“Yang tidak masuk akal,” kata Hendra, “adalah bagaimana kau tahu kamera ruang keluarga sedang rusak.”
Rendy terdiam.
Hendra berjalan mendekat.

“Dan lebih aneh lagi, bagaimana jam tangan Kakek yang hilang enam bulan lalu bisa berada di tanganmu sebelum masuk ke tas Maya.”
“Apa maksudmu?”
“Jangan berpura-pura.”
Hendra mengambil ponselnya.
Layar besar televisi di ruang keluarga tiba-tiba menyala.
Sebuah rekaman kamera muncul.
Rendy menatap layar.
Wajahnya perlahan berubah pucat.
“Tidak mungkin.”
Gambar itu berasal dari sebuah kamera kecil tersembunyi di rak buku.
Kamera tersebut tidak termasuk dalam sistem CCTV utama.
Dalam video terlihat jelas Rendy masuk ke ruang keluarga beberapa menit sebelumnya.
Ia melihat ke kanan dan kiri.
Lalu membuka tas Maya.
Tangannya memasukkan sesuatu ke dalam tas tersebut.
Jam tangan emas.
Maya menatap layar tanpa berkedip.
Rendy langsung menggeleng.
“Video ini bisa dimanipulasi.”
Hendra menekan tombol lain.
Rekaman kedua muncul.
Kali ini dari kamera di lorong lantai dua.
Terlihat Rendy membuka lemari kerja Hendra dan mengambil sebuah perangkat USB kecil.
Rekaman ketiga menyusul.
Rendy sedang berdiri di garasi dua bulan sebelumnya.
Ia berbicara dengan seorang perempuan.
Hendra mengenali perempuan itu.
Sari.
Asisten rumah tangga kedua yang sebelumnya menghilang.
Suara dari rekaman terdengar jelas.
“Kamu tinggal ambil amplop biru dari ruang kerja. Setelah itu kamu pergi dari Surabaya. Uangmu aku transfer.”
Maya menatap Hendra.
Hendra tidak memandangnya.
Matanya tetap terkunci pada Rendy.
Rendy mulai bernapas lebih cepat.
“Itu bukan seperti yang kau pikirkan.”
“Lalu apa?”
Rendy diam.
Hendra melangkah semakin dekat.
“Aku mencari pencuri di antara orang-orang yang bekerja di rumahku.”
Ia tertawa kecil tanpa humor.
“Ternyata pencurinya selalu datang menggunakan mobil sendiri, duduk di meja makan bersamaku, dan memanggilku saudara.”
Rendy akhirnya kehilangan ketenangannya.
“Jangan sok suci!”
Suaranya meninggi.
“Kau punya semuanya sejak kecil!”
Hendra tidak menjawab.
Rendy menunjuknya.
“Kakek selalu membanggakanmu. Ayahmu mendapat perusahaan. Kau mendapat saham terbesar. Lalu aku?”
Ia tertawa pahit.
“Aku diberi jabatan direktur keuangan seolah itu hadiah besar, padahal aku tetap bekerja untukmu.”
Hendra menatapnya lama.
“Jadi kau mencuri karena iri?”
“Aku mengambil bagian yang seharusnya menjadi milikku!”
“Rp2,3 miliar?”
Rendy terdiam.
Maya menatap keduanya dengan tegang.
Hendra melanjutkan.
“Dokumen proyek?”
Tidak ada jawaban.
“Jam tangan Kakek?”
Rendy mendengus.
“Itu cuma benda tua.”
Ekspresi Hendra akhirnya berubah.
Untuk pertama kalinya ada kemarahan nyata di wajahnya.
“Benda tua itu adalah satu-satunya barang yang Kakek berikan langsung kepadaku sebelum meninggal.”
Rendy menelan ludah.
Hendra lalu membuka sebuah folder dari ponselnya.
“Yang paling menarik bukan pencurian itu.”
Rendy mengerutkan dahi.
Hendra menampilkan salinan dokumen transfer.
“Enam bulan lalu seseorang mencoba memindahkan dana Rp2,3 miliar dari rekening perusahaan ke perusahaan cangkang bernama PT Surya Medika Konsultan.”
Wajah Rendy mengeras.
“Tidak ada hubungannya denganku.”
“Aku juga berpikir begitu.”
Hendra menggeser layar.
Muncul dokumen pendirian perusahaan.
“Pemegang sahamnya bukan namamu.”
Rendy tersenyum kecil.
“Lihat?”
“Tapi alamat korespondensinya menggunakan apartemen milikmu.”
Senyumnya hilang.
Hendra melanjutkan.
“Dan nomor telepon yang digunakan untuk verifikasi rekening terhubung ke ponsel cadanganmu.”
Rendy berbalik menuju pintu.
“Percakapan ini selesai.”
Namun sebelum ia mencapai pintu utama, dua orang pria masuk.
Seorang penyidik kepolisian dan seorang petugas keamanan perusahaan.
Rendy berhenti.
“Kau sudah memanggil polisi?”
Hendra menggeleng.
“Mereka sudah menunggu sejak sebelum kau datang.”
Rendy menatap Hendra dengan tidak percaya.
“Jadi semua ini jebakan?”
“Bukan.”
Hendra menatap jam tangan emas di tangan Rendy.
“Jebakan itu dibuat olehmu sendiri.”
Polisi meminta Rendy menyerahkan ponsel dan ikut untuk memberikan keterangan.
Untuk beberapa detik, Rendy hanya berdiri diam.
Lalu ia menoleh kepada Maya.
Tatapannya penuh kebencian.
“Semua ini gara-gara anakmu.”
Kiki langsung bersembunyi di belakang ibunya.
Maya memeluknya.
Namun Hendra maju satu langkah.
“Jangan pernah menyalahkan anak kecil karena dia melihat apa yang kau kira tidak dilihat siapa pun.”
Rendy dibawa keluar.
Pintu rumah tertutup.
Keheningan kembali memenuhi ruang keluarga.
Maya masih memeluk Kiki.
Beberapa saat kemudian ia berkata pelan,
“Saya akan mengemasi barang.”
Hendra menoleh.
“Untuk apa?”
Maya menatapnya bingung.
“Saya melanggar aturan. Saya membawa Kiki ke rumah tanpa izin.”
Hendra terdiam.
Maya menarik napas panjang.
“Saya tahu alasan saya tidak membenarkan kebohongan saya.”
Ia menggenggam tangan putrinya.
“Saya benar-benar butuh pekerjaan ini. Tapi kalau Bapak ingin memecat saya, saya mengerti.”
Hendra menatap perempuan itu.
Lalu kepada Kiki.
Bocah itu masih memperhatikannya dengan rasa ingin tahu.
“Ada satu pertanyaan,” kata Hendra.
Maya menunggu.
“Kenapa kamu tidak mengambil uang yang sengaja saya tinggalkan?”
Maya terkejut.
“Jadi uang itu…”
“Tes.”
Maya menghela napas.
“Pak Hendra, saya memang miskin.”
Suaranya menjadi lebih pelan.
“Tapi miskin dan pencuri itu dua hal berbeda.”
Kalimat itu membuat Hendra diam cukup lama.
Ia teringat dua asisten sebelumnya.
Ia teringat bagaimana dirinya langsung mencurigai mereka ketika barang-barang hilang.
Padahal sekarang ia tahu mereka tidak sepenuhnya bersalah.
Polisi kemudian menemukan fakta bahwa kedua perempuan tersebut memang dibayar Rendy.
Yang pertama diminta membawa beberapa dokumen tanpa mengetahui isinya.
Ketika mulai curiga, ia diancam dan memilih pergi.
Yang kedua, Sari, menerima uang untuk mengambil dokumen tertentu, tetapi tidak pernah mencuri jam tangan.
Rendy sengaja membuat mereka tampak bersalah agar perhatian Hendra selalu tertuju kepada para pegawai.
Selama bertahun-tahun Hendra percaya sistem keamanan bisa melindunginya dari orang jahat.
Ternyata masalahnya bukan siapa yang bisa masuk ke rumahnya.
Masalahnya adalah siapa yang sudah diberinya kunci.
Dua hari kemudian, Maya sedang membersihkan ruang makan ketika Hendra memanggilnya.
Ada sebuah amplop di atas meja.
Maya langsung gugup.
“Ini pesangon saya?”
Hendra hampir tersenyum.
“Buka.”
Di dalamnya bukan surat pemecatan.
Melainkan kontrak kerja baru.
Gajinya hampir dua kali lipat.
Terdapat pula tunjangan tempat tinggal dan biaya pendidikan untuk Kiki.
Maya menatap Hendra tidak percaya.
“Pak…”
“Aku tidak memberimu itu karena kasihan.”
Hendra duduk.
“Aku sedang membangun divisi baru untuk renovasi jaringan klinik perusahaan.”
Maya masih bingung.
“Apa hubungannya dengan saya?”
“Kamu pernah kuliah arsitektur.”
Maya terdiam.
Hendra lalu mengeluarkan beberapa lembar kertas dari sebuah map.
Itu adalah sketsa yang pernah dibuat Maya saat waktu istirahat.
Desain sederhana untuk memperbaiki ruang cuci yang sempit.
Hendra rupanya melihatnya melalui kamera.
“Mulai bulan depan, kalau kamu mau, perusahaan akan membiayai kamu menyelesaikan kuliah.”
Mata Maya mulai berkaca-kaca.
“Saya tidak tahu harus bilang apa.”
“Bilang saja iya atau tidak.”
Maya tertawa kecil di tengah air mata.
“Iya.”
Dari balik sofa, Kiki tiba-tiba muncul.
“Kalau Kiki boleh tinggal di sini?”
Maya langsung menatapnya.
“Kiki!”
Hendra bersandar.
“Tidak.”
Wajah Kiki langsung murung.
“Tapi…”
Hendra melanjutkan,
“Karena kalian tidak akan tinggal di ruang penyimpanan.”
Ia memberikan satu kunci kepada Maya.
“Kamar kecil di paviliun belakang sudah kosong. Untuk sementara kalian bisa tinggal di sana sampai urusan kontrakanmu selesai.”
Maya menatap kunci itu lama.
Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, ia merasa hidup sedang memberinya ruang untuk bernapas.
Namun kejutan terbesar datang tiga minggu kemudian.
Polisi akhirnya menyerahkan kembali jam tangan emas milik Hendra setelah seluruh barang bukti selesai diperiksa.
Malam itu Hendra duduk sendirian di ruang kerja.
Ia membuka bagian belakang jam tangan tersebut.
Ada ukiran kecil yang dulu tidak pernah ia perhatikan.
Bukan hanya inisial kakeknya.
Di bawahnya terdapat angka.
Hendra mengenali angka itu sebagai kode sebuah kotak penyimpanan lama milik keluarga.
Keesokan harinya ia mendatangi bank tempat kakeknya menyimpan dokumen pribadi.
Di dalam kotak tersebut terdapat surat tulisan tangan.
Surat itu ditujukan kepada Hendra dan Rendy.
Hendra membacanya dengan tangan gemetar.
Kakeknya ternyata telah mengetahui sejak lama bahwa ayah Hendra dan ayah Rendy berselisih soal kepemilikan perusahaan.
Dalam surat itu tertulis bahwa sejumlah saham yang selama ini dianggap milik keluarga Hendra sebenarnya pernah disiapkan untuk ayah Rendy.
Namun ayah Rendy menolaknya sendiri setelah terlilit utang dan memilih menjual hak kepemilikannya kepada ayah Hendra.
Dengan kata lain, Rendy selama ini membangun seluruh kebenciannya di atas kebohongan yang ia ciptakan sendiri.
Tidak pernah ada warisan yang dirampas darinya.
Tidak pernah ada saham yang dicuri.
Ayahnya sendiri yang telah menjual semuanya puluhan tahun sebelumnya.
Hendra duduk lama setelah membaca surat itu.
Ia tidak merasa menang.
Ia justru merasa sedih.
Karena pada akhirnya, Rendy menghancurkan dirinya sendiri demi merebut sesuatu yang sejak awal memang bukan miliknya.
Malam itu ketika Hendra pulang, ia melihat Maya sedang membantu Kiki menggambar di meja ruang keluarga.
Kiki mengangkat selembar kertas.
“Om Hendra!”
“Apa?”
“Aku gambar rumah.”
Hendra mendekat.
Di atas kertas itu terdapat gambar rumah besar dengan empat orang.
Maya.
Kiki.
Hendra.
Dan satu sosok lelaki kecil dengan tanda silang besar.
“Yang dicoret siapa?”
Kiki menjawab polos,
“Om jahat yang masukin jam.”
Maya langsung menutup wajah.
“Kiki, jangan begitu.”
Hendra justru tertawa.
Bukan tawa sopan.
Bukan senyum kecil yang biasa ia gunakan di depan karyawan.
Ia benar-benar tertawa.
Rumah besar itu sudah lama dipenuhi kamera, sensor, alarm, dan pintu elektronik.
Namun selama bertahun-tahun, Hendra tetap tidak pernah merasa aman.
Anehnya, rasa aman itu justru datang setelah seorang perempuan yang terdesak berani membawa anaknya masuk diam-diam ke rumahnya.
Dan seorang bocah lima tahun melihat sesuatu yang dilewatkan semua orang dewasa.
Sejak saat itu Hendra tetap mempertahankan sistem keamanannya.
Tetapi ia berhenti menganggap kamera sebagai satu-satunya cara mengenali manusia.
Karena ia akhirnya memahami sesuatu yang tidak pernah diajarkan dunia bisnis kepadanya.
Pencuri tidak selalu datang dari pintu belakang.
Kadang-kadang ia masuk dari pintu depan, membawa senyum, memakai pakaian mahal, dan memanggil kita keluarga.
Sedangkan orang yang paling jujur justru bisa datang sambil membawa kebohongan kecil, bukan untuk mengambil sesuatu dari kita, tetapi karena ia sedang berusaha mempertahankan satu-satunya hal yang dimilikinya.
Orang yang ia cintai.
