ANAKKU MENYUSUN RENCANA RAHASIA UNTUK MENGUASAI WARISANKU, TAPI UCAPAN CUCU KECILKU MEMBUKA PENGKHIANATAN YANG SELAMA INI TERSEMBUNYI

Naufal berdiri di ambang pintu.

Dan di tangannya ada ponsel milik ibunya.

Wajah Siska seketika pucat.

“Naufal, berikan ponsel itu kepada Mama.”

Anak itu tidak bergerak. Kedua tangannya menggenggam ponsel begitu erat sampai buku-buku jarinya memutih.

“Aku lihat pesan Papa,” katanya lirih.

Dimas menoleh tajam.

“Pesan apa?”

Naufal mundur selangkah.

“Pesan tentang Kakek.”

Aku masih berpura-pura tidak sadarkan diri, tetapi jantungku berdetak keras. Dari balik tirai, Arman menunggu aba-abaku.

Siska berjalan mendekati anaknya.

“Sayang, kamu tidak boleh mengambil barang orang lain. Berikan kepada Mama.”

“Jangan.”

Suara Naufal bergetar.

“Aku mau kasih ke Kakek.”

Dimas kehilangan kesabaran. Dia melangkah cepat dan hendak meraih ponsel itu.

Aku langsung membuka mata.

“Jangan sentuh dia.”

Dimas membeku.

Siska menutup mulutnya.

Aku mengangkat kepala perlahan dan menatap mereka.

“Bapak?”

Dimas seperti tidak percaya melihatku masih sadar.

“Kamu kelihatan kecewa,” kataku.

“Bukan begitu. Bapak tadi sudah minum obat.”

“Aku tidak pernah bilang aku menelannya.”

Wajah Dimas berubah.

Aku menekan tombol di bawah meja.

Pintu samping terbuka dan Arman keluar bersama dua petugas keamanan.

Siska mundur sampai punggungnya menyentuh lemari.

“Apa-apaan ini?”

“Seharusnya aku yang bertanya.”

Aku mengulurkan tangan kepada Naufal.

“Ke sini, Fal.”

Dia berlari menghampiriku. Aku menariknya ke belakang kursi roda.

Dimas berusaha mempertahankan ketenangannya.

“Bapak salah paham. Kami hanya mau memeriksa keadaan Bapak.”

Aku menunjuk map cokelat di tangannya.

“Dengan dokumen itu?”

Dimas melihat map tersebut seolah baru menyadari benda itu masih berada di tangannya.

“Ini dokumen perusahaan.”

“Buka.”

“Bapak sedang tidak sehat.”

“Buka, Dimas.”

Dia diam.

Arman mengambil map itu dan menyerahkannya kepadaku.

Tanganku terasa dingin ketika membaca halaman pertama.

Surat kuasa pengelolaan aset.

Namaku tercetak di sana sebagai pihak pemberi kuasa. Dimas menjadi penerima kuasa penuh atas rekening, saham, properti, dan beberapa aset perusahaan.

Di halaman terakhir sudah ada tanda tanganku.

Masalahnya, aku tidak pernah menandatangani dokumen tersebut.

Aku mengangkat lembar itu.

“Sejak kapan tanda tanganku berubah seperti ini?”

Siska langsung berkata, “Kami bisa menjelaskan.”

“Aku tidak bertanya kepadamu.”

Aku menatap Dimas.

Anakku mengembuskan napas panjang.

“Bapak sudah tidak sanggup mengurus semuanya.”

“Jadi kamu memalsukan tanda tanganku?”

“Saya cuma mencoba melindungi keluarga.”

Aku tertawa pendek.

“Dengan membuatku tidur sangat lama?”

Wajahnya langsung menegang.

Aku menunjuk kamera di sudut ruangan.

“Semua percakapan kalian terekam.”

Untuk pertama kalinya malam itu, ketakutan benar-benar muncul di wajah Dimas.

Dia melihat ke arah kamera, lalu ke arah Arman.

“Bapak memasang jebakan?”

“Tidak. Kamu sendiri yang masuk ke dalamnya.”

Siska mulai menangis.

“Pak Surya, dengarkan saya. Saya tidak tahu soal obat itu.”

Naufal tiba-tiba berbicara.

“Mama bohong.”

Semua orang menoleh kepadanya.

Naufal membuka ponsel yang masih dipegangnya.

“Ada rekaman suara.”

Siska menerjang.

“Naufal!”

Arman segera menghalanginya.

Anak itu menangis, tetapi tetap menekan layar.

Suara Siska terdengar dari ponsel.

“Kalau dosisnya terlalu sedikit, dia bisa bangun sebelum dokumennya selesai.”

Kemudian suara Dimas.

“Dokter bilang dua tablet cukup membuatnya tidak sadar sampai pagi.”

Aku merasakan sesuatu runtuh di dalam dada.

Bukan karena obat itu.

Bukan pula karena dokumen palsu tersebut.

Melainkan karena suara itu adalah suara anak yang dulu kugendong sepanjang malam ketika demam.

Anak yang kutunggu di depan gerbang sekolah setiap sore.

Anak yang pertama kali kupeluk ketika istriku meninggal dan berjanji bahwa kami akan tetap menjadi keluarga.

Kini anak yang sama berdiri di hadapanku sambil membawa rencana untuk menyingkirkanku.

“Kenapa?” tanyaku.

Dimas menunduk.

Aku mengulanginya.

“Kenapa?”

Dia tiba-tiba tertawa kecil.

Bukan tawa bahagia. Lebih seperti tawa seseorang yang sudah terlalu lama menahan sesuatu.

“Karena Bapak tidak pernah percaya kepada saya.”

Aku menatapnya tak percaya.

“Setelah semua yang kuberikan?”

“Itulah masalahnya.”

Dia mengangkat wajah.

“Bapak selalu memberikan sesuatu seolah saya anak kecil yang tidak mampu mendapatkannya sendiri. Rumah ini milik Bapak. Perusahaan milik Bapak. Rekening dikendalikan Bapak. Bahkan keputusan yang saya buat sebagai direktur harus mendapat persetujuan Bapak.”

“Karena keputusanmu hampir membuat perusahaan kehilangan dua puluh miliar tahun lalu.”

“Saya memperbaikinya.”

“Aku yang memperbaikinya.”

Dimas mengepalkan tangan.

“Selalu begitu. Selalu Bapak yang paling benar.”

Aku terdiam.

Ada kemarahan dalam suaranya yang ternyata telah tumbuh bertahun-tahun tanpa pernah kuketahui.

Namun kemarahan tidak membenarkan pengkhianatan.

“Kalau kamu merasa diperlakukan tidak adil, kamu bisa pergi,” kataku. “Kamu bisa membangun hidupmu sendiri.”

“Dengan apa?”

Aku menatapnya lama.

“Dengan kemampuanmu.”

Kalimat itu membuat wajahnya semakin merah.

Siska tiba-tiba menyela.

“Sudahlah, Mas. Tidak ada gunanya.”

Nada suaranya berubah.

Tangisnya hilang.

Dia tidak lagi terlihat seperti menantu yang ketakutan.

Dia mengambil napas dan menatapku dingin.

“Pak Surya memang tidak akan pernah menyerahkan semuanya selama masih hidup.”

Dimas menoleh.

“Siska, diam.”

“Untuk apa?”

Dia tersenyum pahit.

“Semua sudah terbongkar.”

Aku menatap perempuan itu.

“Jadi ini memang rencanamu?”

“Rencana kami.”

Dimas langsung membantah.

“Jangan bawa saya lebih jauh.”

Siska tertawa.

“Sekarang kamu mau menyelamatkan diri?”

Dia mengambil ponselnya dari tangan Naufal, tetapi Arman segera merebutnya.

“Jangan sentuh barang bukti.”

Siska mendecakkan lidah.

Kemudian dia mengatakan sesuatu yang membuat ruangan itu mendadak sunyi.

“Dimas punya utang.”

Aku menoleh kepada anakku.

“Utang apa?”

Dimas memejamkan mata.

Siska menjawab untuknya.

“Empat puluh delapan miliar.”

Aku merasa tengkukku dingin.

“Dari mana?”

“Investasi.”

Dimas akhirnya berbicara.

“Saya mencoba membangun bisnis sendiri.”

“Tapi gagal,” lanjut Siska. “Dia memakai jaminan yang bukan miliknya.”

Aku menatap Dimas.

“Aset perusahaan?”

Dia tidak menjawab.

Itu sudah cukup.

Aku mulai memahami semuanya.

Beberapa bulan terakhir, bagian keuangan memang menemukan transaksi yang tidak biasa. Dimas selalu mengatakan itu hanya restrukturisasi investasi.

Ternyata dia sedang menutup lubang.

“Kalau kreditur tahu jaminanmu tidak sah, kamu bisa dipenjara.”

Dimas duduk lemas di kursi.

“Itulah sebabnya saya butuh kendali atas aset.”

“Dan kalau aku menolak?”

Dia tidak menjawab.

Aku melihat gelas air di meja.

Jawabannya sudah ada di sana.

Arman menghubungi polisi.

Kali ini aku tidak menghentikannya.

Namun sebelum telepon selesai, Naufal kembali menarik bajuku.

“Kakek.”

“Apa?”

“Ada satu lagi.”

Dia menunjuk ponsel Siska.

“Aku lihat foto surat.”

Arman membuka galeri.

Ada puluhan foto dokumen.

Sertifikat tanah.

Laporan rekening.

Kartu identitas.

Bahkan foto sidik jariku yang diambil ketika aku sedang tidur.

Kemudian Arman menemukan sebuah foto yang berbeda.

Sebuah surat perjanjian.

Dia membacanya beberapa detik, lalu menatap Siska.

“Pak Surya, Anda harus melihat ini.”

Aku mengambil ponsel.

Surat itu bukan perjanjian antara Dimas dan kreditur.

Itu adalah perjanjian antara Siska dan seorang pria bernama Kevin Hartono.

Jika aset perusahaan berhasil dialihkan kepada Dimas, sebagian saham akan dijual kepada Kevin untuk melunasi utang.

Namun ada klausul tambahan.

Dimas tidak mengetahuinya.

Setelah transaksi selesai, seluruh keuntungan penjualan akan masuk ke rekening perusahaan milik Siska dan Kevin.

Aku mengangkat kepala.

“Dimas.”

Dia menatapku.

Aku menyerahkan ponsel.

“Baca.”

Semakin lama membaca, wajahnya semakin pucat.

Dia berdiri.

“Apa ini?”

Siska tidak menjawab.

“Apa ini, Siska?”

“Turunkan suaramu.”

“Kamu mau mengambil semuanya?”

Siska tertawa dingin.

“Jangan bersikap seolah kamu korban.”

“Kamu bilang kita melakukan ini untuk membayar utang!”

“Dan setelah utang lunas, apa? Kita kembali hidup di bawah bayang-bayang ayahmu?”

Dimas seperti baru melihat istrinya untuk pertama kali.

“Kamu memanfaatkanku.”

“Aku menyelamatkan diriku sendiri.”

“Dan Naufal?”

Siska terdiam.

Dimas mendekat.

“Kalau rencana ini berhasil, kamu mau membawa Naufal?”

“Tidak.”

Satu kata itu membuat anak kecil di sampingku membeku.

Siska menatap putranya sekilas.

“Kevin tidak ingin anak-anak.”

Aku tidak pernah melihat wajah seseorang hancur secepat wajah Dimas malam itu.

Naufal memeluk pinggangku sambil menangis.

“Mama mau pergi?”

Siska tidak menjawab.

Aku menutup telinganya dan menarik kepalanya ke dadaku.

Beberapa menit kemudian, suara kendaraan terdengar di halaman.

Polisi datang.

Siska masih mencoba menyangkal keterlibatannya, tetapi rekaman kamera, obat dalam sup, air minum, dokumen palsu, serta isi ponselnya membuat semua alasan terdengar sia-sia.

Ketika polisi memasangkan borgol di tangannya, dia tidak menangis.

Dimas berbeda.

Dia berdiri di depanku dengan tangan gemetar.

“Pak.”

Aku tidak menjawab.

“Bapak.”

Matanya merah.

“Saya tidak bermaksud membunuh Bapak.”

Aku menatapnya.

“Mungkin.”

Dia terlihat sedikit lega.

Kemudian aku melanjutkan.

“Tapi kamu bersedia mengambil risiko aku tidak bangun lagi.”

Kepalanya tertunduk.

“Maafkan saya.”

Aku memandang anakku cukup lama.

“Aku memaafkanmu sebagai ayah.”

Dia mengangkat kepala.

“Tapi aku tidak akan menyelamatkanmu dari hukum.”

Dimas menangis.

Malam itu, anakku dan istrinya dibawa pergi.

Naufal tetap bersamaku.

Pemeriksaan laboratorium beberapa hari kemudian menunjukkan sup dan air minum itu mengandung obat penenang dalam dosis tinggi. Dokter mengatakan dengan kondisi jantungku, dosis tersebut bisa menimbulkan komplikasi serius.

Aku tidak ingin membayangkan apa yang akan terjadi seandainya Naufal tidak berlari ke ruang makan sore itu.

Kasus tersebut berkembang lebih besar dari dugaan kami.

Polisi menemukan pemalsuan dokumen, penggelapan dana perusahaan, transaksi ilegal, dan keterlibatan Kevin. Siska ternyata telah berhubungan dengannya hampir dua tahun.

Dimas mengaku bersalah atas sebagian besar tuduhan.

Beberapa bulan kemudian, sebelum persidangan dimulai, aku mengunjunginya.

Dia tampak jauh lebih kurus.

Kami duduk berhadapan dipisahkan meja.

“Saya menghancurkan semuanya,” katanya.

“Belum semuanya.”

Dia menatapku.

“Naufal masih menunggumu pulang.”

Air matanya jatuh.

“Dia masih mau bertemu saya?”

“Dia anakmu.”

Dimas menutup wajahnya.

Saat itulah aku menyadari sesuatu yang selama ini tidak ingin kuakui.

Aku memang gagal dalam beberapa hal sebagai ayah.

Aku terlalu sering mengganti kehadiran dengan uang. Setiap kali Dimas gagal, aku menyelesaikan masalahnya. Setiap kali dia jatuh, aku mengangkatnya sebelum dia belajar berdiri sendiri.

Aku menyebutnya kasih sayang.

Mungkin sebagian darinya adalah ketakutanku kehilangan satu-satunya anak setelah istriku meninggal.

Tetapi kesalahanku sebagai ayah tidak menghapus tanggung jawabnya sebagai manusia.

“Kamu akan menjalani hukumanmu,” kataku. “Setelah itu, kalau kamu benar-benar berubah, kita bicara lagi.”

“Bapak masih mau menerima saya?”

“Aku tidak tahu.”

Aku memilih jujur.

“Tapi aku akan memberimu kesempatan untuk membuktikan bahwa orang yang keluar nanti bukan Dimas yang masuk ke tempat ini.”

Setahun kemudian, aku mengubah surat wasiatku.

Bukan karena dendam.

Sebagian besar kekayaanku kumasukkan ke dalam yayasan pendidikan dan dana kesejahteraan karyawan yang telah membangun perusahaan bersamaku selama puluhan tahun.

Sebagian lagi kutempatkan dalam perwalian untuk Naufal.

Dia tidak akan menerima semuanya sekaligus ketika dewasa. Dia harus menyelesaikan pendidikan, bekerja, dan belajar mengelola hidupnya sendiri.

Aku tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama.

Suatu sore, Naufal duduk di lantai ruang kerjaku sambil menggambar.

“Kakek.”

“Ya?”

“Kalau nanti aku besar, rumah ini jadi punya aku?”

Aku tersenyum.

“Kenapa kamu bertanya begitu?”

“Temanku bilang orang kaya kasih rumah ke cucunya.”

Aku tertawa kecil.

“Kalau Kakek kasih semuanya, nanti kamu belajar apa?”

Dia berpikir cukup lama.

“Belajar cari rumah sendiri?”

“Pintar.”

Dia tertawa.

Kemudian dia mendekat dan menunjukkan gambarnya.

Ada tiga orang di sana.

Aku di kursi roda.

Naufal berdiri di sampingku.

Dan satu orang lagi berada agak jauh.

“Ini siapa?”

“Papa.”

Aku terdiam.

“Kenapa Papa jauh?”

“Karena Papa belum pulang.”

Naufal mengambil pensil dan menggambar sebuah garis panjang yang menghubungkan Dimas kepada kami.

“Tapi jalannya masih ada.”

Aku tidak mampu berkata apa-apa.

Anak kecil yang malam itu menyelamatkan hidupku ternyata memahami sesuatu yang baru kupelajari setelah hampir tujuh puluh tahun hidup.

Pengkhianatan memang bisa menghancurkan kepercayaan.

Kesalahan harus memiliki konsekuensi.

Tetapi selama seseorang benar-benar mau berubah, mungkin tidak semua jalan pulang harus ditutup.

Aku memeluk Naufal.

Di luar jendela, matahari sore menyinari halaman rumah yang selama bertahun-tahun kupikir akan menjadi warisan terbesarku.

Ternyata aku salah.

Warisan bukan rumah, saham, tanah, atau angka di rekening bank.

Warisan terbesar adalah apa yang kita ajarkan kepada orang setelah kita tentang bagaimana menjadi manusia.

Dan ironisnya, aku baru memahami itu setelah hampir kehilangan nyawaku karena harta yang selama ini kukira akan membuat keluargaku bahagia.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang