IBUKU MENJUALKU SEHARGA 1,5 MILIAR RUPIAH KEPADA BUJANGAN TUA, TAPI MALAM PERTAMA ITU AKU MENEMUKAN RAHASIA YANG MENGUBAH HIDUPKU SELAMANYA

Pintu kamar terbuka semakin lebar.

Aku menahan napas ketika melihat Paman Hendra berdiri di ambang pintu. Kemeja batik yang dipakainya saat pernikahan tadi masih melekat di tubuhnya, tetapi wajah ramah yang sejak kecil kukenal telah lenyap.

Di tangan kanannya ada foto ayahku.

Di belakangnya berdiri dua pria yang tidak kukenal.

“Paman?”

Suaraku nyaris tidak terdengar.

Paman Hendra tersenyum tipis.

“Sari, ikut Paman pulang.”

Pak Arman berdiri di depanku.

“Keluar dari rumah saya.”

Paman Hendra tertawa.

“Rumahmu? Kau masih suka bicara seolah semua ini benar-benar milikmu, Man.”

Aku menatap mereka bergantian.

“Apa maksud Paman?”

“Jangan dengarkan dia.” Paman Hendra menunjuk Pak Arman. “Laki-laki ini sudah merencanakan semuanya. Dia menikahimu karena ingin menguasai harta ayahmu.”

Tanganku mengepal.

Kalimat dalam surat ayah kembali terngiang.

Jangan percaya siapa pun yang datang membawa kabar tentang rekening ini. Termasuk orang yang mengaku membantumu.

Aku menatap Pak Arman.

“Benarkah?”

Pak Arman tidak langsung menjawab.

Keraguan itu cukup membuat dadaku terasa dingin.

Paman Hendra mengulurkan tangan.

“Pulang bersama Paman. Ibumu menunggu.”

Aku hampir melangkah ketika Pak Arman berkata pelan.

“Kalau dia benar-benar datang menyelamatkanmu, tanyakan bagaimana dia tahu isi dokumen yang baru kuberikan malam ini.”

Kakiku berhenti.

Paman Hendra berubah wajah.

Aku menatapnya.

“Bagaimana Paman tahu?”

“Sudah lama keluarga tahu soal itu.”

“Termasuk Ibu?”

Ia tidak menjawab.

Pak Arman kemudian mengambil ponselnya.

“Aku sudah mengirim salinan semua dokumen kepada pengacara. Kalau sesuatu terjadi pada Sari malam ini, semuanya otomatis diserahkan kepada polisi.”

Dua pria di belakang Paman Hendra saling memandang.

Paman mengumpat pelan.

“Jangan sok menjadi pahlawan. Kau juga terlibat sejak awal.”

“Aku memang terlibat,” jawab Pak Arman.

Aku menatapnya.

“Apa?”

Pak Arman tidak sempat menjawab.

Tiba-tiba terdengar suara mobil memasuki halaman depan. Beberapa detik kemudian, suara sirene pendek terdengar.

Paman Hendra langsung pucat.

“Kau memanggil polisi?”

“Bukan aku.”

Pak Arman menatapku.

Aku semakin bingung.

Paman Hendra berbalik hendak pergi, tetapi dua pria yang bersamanya justru mundur dan meninggalkannya. Dari ruang tengah terdengar beberapa orang masuk.

Paman Hendra berlari menuju pintu belakang.

Pak Arman tidak mengejarnya.

“Biarkan.”

“Kenapa?”

“Karena yang kita butuhkan bukan dia.”

Malam itu polisi memeriksa seluruh rumah. Anehnya, mereka tidak datang karena laporan Pak Arman.

Seorang tetangga melihat dua pria memanjat pagar belakang dan menghubungi keamanan kompleks.

Setelah keadaan tenang, aku kembali ke kamar.

Aku duduk di tepi tempat tidur sambil memegang surat ayah.

“Sekarang jelaskan semuanya.”

Pak Arman berdiri di dekat jendela.

“Aku mengenal ayahmu ketika kami sama-sama bekerja di sebuah perusahaan distribusi hasil pertanian di Semarang. Namanya Bumi Arta.”

Aku mengernyit.

“Ayah tidak pernah bercerita.”

“Karena setelah kamu lahir, hidupnya berubah.”

Pak Arman membuka map lain.

Dua puluh tahun lalu, ayah ternyata bukan sekadar pegawai. Ia bersama Pak Arman membangun jaringan distribusi hasil pertanian dari beberapa daerah di Jawa Tengah.

Usaha itu berkembang cepat.

Lalu seorang investor masuk.

Namanya Hendra.

Pamanku sendiri.

Aku merasa dunia di sekelilingku berhenti.

“Tidak mungkin.”

“Dia kakak ibumu. Ayahmu mempercayainya.”

Menurut Pak Arman, Paman Hendra mulai memindahkan uang perusahaan melalui transaksi fiktif. Ketika ayah mengetahui semuanya, ia mengumpulkan bukti.

Namun sebelum sempat melapor, ayah mendapat ancaman.

Bukan terhadap dirinya.

Terhadapku.

“Ayahmu memutuskan keluar. Sebagian saham yang menjadi haknya dipindahkan ke rekening investasi atas namamu. Saat itu nilainya belum besar.”

“Berapa?”

“Sekitar seratus delapan puluh juta.”

Aku hampir tertawa.

“Lalu kenapa semua orang sekarang mengejarnya?”

“Karena uang itu tidak diam.”

Pak Arman menatapku.

“Investasinya berkembang selama dua puluh tahun.”

“Menjadi berapa?”

Ia terdiam sejenak.

“Lebih dari tiga puluh dua miliar rupiah.”

Aku merasa darah menghilang dari wajahku.

“Tiga puluh dua miliar?”

“Itu estimasi terakhir.”

Aku berdiri.

“Kalau uang sebanyak itu milik saya, kenapa saya bahkan kesulitan membayar kuliah?”

“Karena rekening tersebut dikunci sampai kamu berusia dua puluh lima tahun atau menikah secara sah.”

Aku langsung memahami sesuatu.

Aku baru berusia dua puluh empat tahun.

“Jadi pernikahan ini…”

“Memungkinkan rekening itu dibuka lebih cepat.”

Aku mundur.

“Berarti Paman benar. Bapak menikahi saya karena uang.”

“Sebagian.”

Jawabannya membuatku marah.

Aku menamparnya.

Suara tamparan itu terdengar keras di kamar.

Pak Arman tidak bergerak.

“Keluar.”

“Sari.”

“Keluar!”

Ia pergi tanpa membantah.

Aku mengunci pintu dan menangis sampai hampir subuh.

Namun ketika matahari mulai muncul, aku menyadari ada satu pertanyaan yang belum terjawab.

Mengapa ibuku menerima 1,5 miliar?

Aku meneleponnya.

Tidak aktif.

Aku menelepon lagi.

Tetap tidak aktif.

Akhirnya aku meminta Pak Arman mengantarku pulang.

Rumah ibu berada hampir satu jam dari tempat tinggal Pak Arman. Ketika kami tiba, pintunya terbuka.

Ruang tamu berantakan.

Lemari terbuka.

Ibu tidak ada.

Di atas meja hanya ada ponselnya.

Aku mulai panik.

Kemudian sebuah pesan masuk.

Dari nomor tidak dikenal.

Datang ke gudang lama Bumi Arta. Sendiri. Kalau ingin ibumu pulang hidup-hidup.

Aku menunjukkan pesan itu kepada Pak Arman.

“Kita lapor polisi.”

“Kalau mereka menyakiti Ibu?”

“Kita tidak datang tanpa rencana.”

Satu jam kemudian, aku berdiri di depan gudang tua di pinggiran Semarang.

Pak Arman dan polisi berada beberapa ratus meter dari sana.

Aku masuk sendiri.

Bau debu dan kayu lembap memenuhi udara.

“Ibu?”

Tidak ada jawaban.

Aku berjalan lebih dalam.

Lalu lampu menyala.

Paman Hendra berdiri di tengah gudang.

Di sebelahnya ada ibuku.

Tetapi ibu tidak terikat.

Ia berdiri dengan tenang.

Jantungku seperti berhenti.

“Ibu?”

Ibu menunduk.

Aku memahami semuanya bahkan sebelum ia bicara.

“Tidak ada yang menculik Ibu, ya?”

Air mata muncul di matanya.

“Sari, dengarkan Ibu.”

Aku tertawa pahit.

“Selama ini Ibu tahu?”

Ia menangis.

“Awalnya tidak.”

“Sejak kapan?”

“Sejak kamu berumur tujuh belas.”

Tujuh tahun.

Tujuh tahun ibu mengetahui bahwa ayah meninggalkan sesuatu untukku.

“Kenapa tidak bilang?”

Paman Hendra menjawab.

“Karena kakakku masih punya otak.”

Aku menatapnya tajam.

Ia berjalan mendekat.

“Dengar, Sari. Uang itu tidak seharusnya menjadi milikmu. Perusahaan itu dibangun bersama. Ayahmu mencuri bagian kami.”

“Bohong.”

“Pak Arman yang membohongimu.”

“Lalu 1,5 miliar itu apa?”

Ibu terisak.

Paman Hendra tersenyum.

“Itu pembayaran supaya ibumu meyakinkanmu menikah.”

Aku menatap ibu.

Tubuhku gemetar.

“Jadi Ibu benar-benar menjualku?”

Ibu menangis semakin keras.

“Ibu terdesak.”

“Karena utang?”

Ia mengangguk.

“Pamanmu mengatakan kalau kamu menikah, rekening itu bisa dibuka. Dia berjanji hanya mengambil sebagian. Ibu pikir setelah itu kita bisa hidup tenang.”

“Kita?”

Aku menunjuk diriku sendiri.

“Itu uang yang Ayah tinggalkan untukku.”

“Kamu anak Ibu!”

“Justru karena aku anak Ibu, bagaimana Ibu bisa melakukan ini?”

Ibu tidak mampu menjawab.

Paman Hendra kehilangan kesabaran.

“Cukup. Tanda tangani ini.”

Ia melemparkan beberapa lembar dokumen ke meja.

Surat kuasa pengelolaan aset.

Aku membacanya.

“Kalau saya menolak?”

“Pernikahanmu akan menjadi neraka.”

Aku tersenyum pahit.

“Paman terlambat.”

Aku mengeluarkan ponsel dari saku.

“Semua percakapan kita sudah direkam.”

Wajahnya berubah.

Ia merebut ponselku dan membantingnya ke lantai.

“Kau pikir kau pintar?”

“Tidak.”

Aku menatap ke arah pintu gudang.

“Tapi Pak Arman lebih pintar dari saya.”

Pintu terbuka.

Beberapa polisi masuk.

Paman Hendra mencoba melarikan diri, tetapi langsung ditangkap.

Ibu jatuh terduduk sambil menangis.

Aku tidak mendekatinya.

Dalam perjalanan pulang, aku duduk di mobil Pak Arman tanpa bicara.

Setelah cukup lama, aku bertanya.

“Kenapa Bapak mau melakukan semua ini?”

Ia tetap menatap jalan.

“Ada satu hal yang belum kuceritakan.”

“Apa lagi?”

“Ayahmu masih hidup ketika aku terakhir bertemu dengannya.”

Aku menoleh cepat.

“Kapan?”

“Dua belas tahun lalu.”

Aku hampir tidak bisa bernapas.

“Di mana dia?”

Pak Arman menggeleng.

“Aku tidak tahu sekarang.”

Ia kemudian menyerahkan sebuah alamat.

Tiga hari setelah Paman Hendra ditahan, aku pergi ke alamat tersebut.

Sebuah rumah sederhana di daerah Salatiga.

Tanganku gemetar ketika mengetuk pintu.

Seorang lelaki tua membukanya.

Bukan ayah.

“Cari siapa?”

Aku menyebut nama ayahku.

Wajahnya berubah.

Ia mempersilahkanku masuk.

Dari sebuah lemari, ia mengambil kotak kayu.

“Ayahmu tinggal di sini hampir enam tahun.”

“Sekarang di mana?”

Lelaki itu menatapku lama.

“Dia meninggal empat tahun lalu.”

Dunia kembali runtuh.

Namun sebelum meninggal, ayah meninggalkan puluhan surat untukku.

Satu surat untuk setiap ulang tahunku.

Aku membuka surat terakhir.

Sari, kalau kamu membaca ini, mungkin Arman berhasil menepati janjinya. Jangan marah kepadanya karena pernikahan itu. Aku yang memintanya mencari cara agar kamu memperoleh hakmu sebelum Hendra mendapatkannya.

Air mataku jatuh.

Aku terus membaca.

Ada satu hal lagi yang harus kamu tahu. Arman tidak menerima satu rupiah pun dari pernikahan kalian. Uang 1,5 miliar yang diberikan kepada ibumu berasal dari bagian terakhir asetku yang ia simpan. Dia kehilangan uangnya sendiri untuk melindungi hakmu.

Aku pulang sore itu dalam keadaan hancur.

Pak Arman sedang menyiram tanaman ketika aku tiba.

Ia melihatku, lalu meletakkan selang.

“Kamu sudah tahu?”

Aku mengangguk.

“Kenapa Bapak tidak bilang?”

“Karena aku tidak ingin kamu merasa berutang kepadaku.”

“Lalu sekarang bagaimana?”

“Sekarang kamu bebas.”

Ia mengeluarkan sebuah amplop.

Di dalamnya ada dokumen pembatalan perjanjian pranikah dan surat yang menyatakan ia tidak memiliki klaim terhadap hartaku.

“Kamu boleh menceraikanku kapan saja.”

Aku menatap pria yang selama berminggu-minggu kupikir telah membeliku.

Untuk pertama kalinya, aku melihatnya bukan sebagai suami tua yang dipilihkan ibuku, melainkan sebagai seseorang yang selama bertahun-tahun memikul janji kepada sahabatnya.

“Kenapa Bapak belum menikah sampai sekarang?”

Pak Arman tersenyum kecil.

“Mungkin karena aku terlalu sibuk menepati janji.”

Aku tidak langsung memaafkan siapa pun.

Tidak ibu.

Tidak diriku sendiri.

Bahkan tidak Pak Arman atas caranya menyeretku ke dalam pernikahan yang tidak kupahami.

Aku meminta waktu.

Enam bulan kemudian, kasus Paman Hendra masuk pengadilan. Bukti penggelapan lama memang sulit diproses seluruhnya, tetapi pemerasan, ancaman, pemalsuan dokumen, dan percobaan mengambil alih aset memberinya cukup banyak masalah.

Ibu pindah dari rumah kami.

Aku membayar seluruh utangnya, tetapi tidak memberinya uang lebih.

Bukan karena aku membencinya.

Aku hanya akhirnya memahami bahwa mencintai seseorang tidak berarti membiarkan mereka terus melukaimu.

Sedangkan uang tiga puluh dua miliar itu tidak langsung kugunakan.

Sebagian besar tetap diinvestasikan.

Sebagian kugunakan mendirikan usaha distribusi hasil pertanian dengan nama ayahku.

Dan Pak Arman?

Suatu malam, tepat setahun setelah pernikahan kami, kami kembali berdiri di kamar yang sama.

Tempat semuanya dimulai.

Ia sedang memasukkan pakaian ke koper.

“Bapak mau ke mana?”

“Hotel.”

“Kenapa?”

“Besok pengacara akan mengurus perceraian kita.”

Aku terdiam.

“Siapa bilang saya mau bercerai?”

Ia menatapku.

“Sari, kamu tidak perlu mempertahankan pernikahan ini karena ayahmu.”

“Saya tahu.”

“Karena uang?”

“Itu uang saya.”

Ia tertawa kecil.

“Lalu kenapa?”

Aku mengambil map hitam yang masih tersimpan di lemari.

Map yang kubuka pada malam pertama.

Aku meletakkannya di tangannya.

“Dulu Bapak bilang di depan orang lain saya istri Bapak, tapi di kamar ini saya tetap Sari.”

Ia mengangguk.

“Sekarang saya ingin bertanya.”

“Apa?”

“Kalau saya memilih menjadi istri Bapak bukan karena perjanjian, bukan karena Ayah, dan bukan karena uang, apakah saya masih boleh tetap menjadi Sari?”

Untuk pertama kalinya, aku melihat mata Pak Arman berkaca-kaca.

Ia tidak langsung menjawab.

Ia hanya menutup koper, lalu duduk di tepi tempat tidur.

“Selama kamu mau.”

Malam itu aku akhirnya memahami rahasia terbesar yang ditinggalkan ayahku.

Bukan rekening bernilai puluhan miliar.

Bukan perusahaan.

Bukan pula surat-surat yang selama bertahun-tahun disembunyikan dariku.

Ayah meninggalkan sesuatu yang jauh lebih mahal.

Kesempatan untuk mengetahui siapa yang mencintaiku karena diriku sendiri dan siapa yang hanya mencintaiku ketika ada sesuatu yang bisa mereka ambil.

Ibuku pernah menerima 1,5 miliar rupiah agar aku menikahi seorang bujangan tua.

Aku memang memasuki rumah itu dengan perasaan seperti seorang perempuan yang telah dijual.

Namun setahun kemudian, ketika aku memilih tetap tinggal di sana dengan kehendakku sendiri, aku akhirnya mengerti satu hal.

Harga seseorang tidak pernah ditentukan oleh berapa banyak uang yang dibayarkan untuk mendapatkannya.

Harga diri justru terlihat ketika ia akhirnya memiliki kebebasan untuk memilih, lalu berani menentukan sendiri kepada siapa hatinya akan diberikan.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang