Aku hanya sempat melihat tirai balkon bergerak sebelum menyadari Sari benar-benar menghilang.
“Sari!”
Aku berlari keluar kamar ayah dan menerobos balkon.
Udara malam menerpa wajahku. Di bawah sana, taman vila tampak gelap dan sepi. Lampu di dekat kolam renang masih menyala, tetapi tidak ada seorang pun.
“Sari!”
Tidak ada jawaban.

Aku kembali ke kamar dan memeriksa kamar mandi, lemari, bahkan kolong tempat tidur. Mustahil seseorang menghilang secepat itu.
Lalu aku melihat sesuatu di lantai.
Ponsel Sari.
Layarnya retak, tetapi masih menyala.
Aku mengambilnya. Ada satu pesan baru dari nomor tanpa nama.
Jangan percaya Arga. Ayahnya membunuh ibumu.
Tubuhku membeku.
Aku membaca kalimat itu berkali-kali.
Ayahku?
Aku mengenal ayah sebagai orang keras. Dalam bisnis, dia bisa menghancurkan pesaing tanpa ragu. Tetapi pembunuhan adalah sesuatu yang berbeda.
Tiba-tiba terdengar suara dari taman belakang.
Aku berlari turun.
Pintu dapur terbuka. Jejak tanah basah terlihat di lantai.
Aku mengikuti jejak itu sampai ke gudang kecil di belakang vila.
Pintunya terkunci dari luar.
“Sari?”
Terdengar suara benturan.
Aku mengambil besi yang biasa digunakan petugas kebun dan menghantam gembok beberapa kali sampai terbuka.
Begitu pintu terbuka, Sari hampir jatuh ke arahku.
Tangannya terikat.
Mulutnya ditutup kain.
Aku segera melepaskannya.
“Siapa yang melakukan ini?”
Sari terengah-engah.
“Saya tidak lihat wajahnya.”
“Lalu bagaimana kamu bisa sampai di sini?”
“Ketika lampu mati, seseorang menarik saya dari belakang. Saya mencoba melawan, tapi dia menutup mulut saya.”
Aku menunjukkan ponselnya.
“Siapa yang mengirim pesan ini?”
Wajah Sari berubah.
“Saya tidak tahu.”
“Jangan bohong lagi.”
“Saya benar-benar tidak tahu, Pak.”
“Lalu foto-foto itu?”
Sari terdiam.
Aku mulai kehilangan kesabaran.
“Kamu masuk ke rumahku membawa rahasia tentang keluargaku. Sekarang seseorang menyusup ke vila dan tahu siapa kamu. Kalau kamu masih menyembunyikan sesuatu, kita berdua bisa mati tanpa pernah tahu alasannya.”
Sari menatapku lama.
Akhirnya dia berkata, “Ibu saya bernama Ratih.”
Nama itu terasa asing.
“Dua puluh tahun lalu, Ibu bekerja di rumah keluarga Bapak. Bukan sebagai asisten rumah tangga biasa. Dia mengurus dokumen pribadi ayah Bapak.”
Aku tidak menyela.
“Beberapa bulan sebelum meninggal, Ibu sering ketakutan. Dia bilang ada transaksi perusahaan yang tidak seharusnya terjadi. Ada rekening palsu, perusahaan fiktif, dan tanah milik warga yang dipindahkan atas nama perusahaan.”
“Perusahaan ayahku?”
Sari mengangguk.
“Bima Santoso terlibat. Tetapi bukan dia satu-satunya.”
“Siapa lagi?”
Sari menatapku.
“Ibu tidak pernah memberitahu.”
“Bagaimana ibumu meninggal?”
“Kecelakaan mobil.”
Jawabannya terlalu cepat.
“Kamu tidak percaya itu kecelakaan.”
Air mata mulai memenuhi matanya.
“Mobil Ibu ditemukan di jurang dekat Puncak. Polisi mengatakan remnya bermasalah. Tapi seminggu sebelumnya, Ibu pernah bilang seseorang mengancamnya.”
Aku menelan ludah.
“Kenapa kamu bekerja di sini?”
“Karena sebelum meninggal, Ibu meninggalkan surat.”
“Untukmu?”
Sari menggeleng.
“Untuk Bapak.”
Aku menatapnya.
“Untukku?”
“Saya baru menemukan kotaknya setelah nenek saya meninggal enam bulan lalu. Di dalamnya ada foto, surat, dan kunci.”
“Kunci apa?”
Sari mengeluarkan kalung dari balik bajunya.
Di ujungnya tergantung sebuah kunci kecil berwarna keemasan.
“Ibu menulis bahwa kunci ini hanya boleh diberikan kepada Arga Pratama ketika dia sudah cukup dewasa untuk memilih antara keluarganya dan kebenaran.”
Aku hampir tertawa karena kalimat itu terdengar seperti sesuatu dari film.
Namun malam itu seseorang sudah masuk ke rumahku.
Sari sudah diculik beberapa menit.
Dan ayahku muncul dalam foto bersama Bima.
Aku tidak lagi menganggap apa pun mustahil.
“Kunci itu membuka apa?”
“Saya tidak tahu.”
Aku memandangnya.
Kemudian aku teringat sesuatu.
Di ruang kerja ayah ada lemari besi tua yang tidak pernah berhasil kubuka setelah dia meninggal.
Kami kembali masuk.
Aku mengambil pistol legal milik ayah dari kotak pengaman di ruang kerja. Aku tidak berniat menggunakannya, tetapi setelah kejadian tadi, aku tidak mau mengambil risiko.
Sari berdiri di dekat pintu sementara aku menarik sebuah lukisan besar dari dinding.
Di belakangnya terdapat lemari besi.
Aku memasukkan kunci.
Pas.
Terdengar bunyi klik.
Aku dan Sari saling memandang.
Pintu besi terbuka.
Tidak ada uang.
Tidak ada emas.
Hanya beberapa map, sebuah flashdisk, dan alat perekam suara lama.
Aku menekan tombol pemutar.
Suara ayah terdengar.
“Kalau kamu mendengar rekaman ini, kemungkinan besar aku sudah mati.”
Tanganku langsung dingin.
Sari menutup mulutnya.
“Aku melakukan banyak kesalahan dalam hidupku, Arga. Tetapi ada satu kesalahan yang paling ingin kuperbaiki.”
Suara ayah berhenti beberapa detik.
“Dua puluh tahun lalu, Bima menggunakan perusahaan kita untuk mencuci uang dari proyek ilegal. Aku mengetahuinya terlambat. Ketika aku mencoba menghentikannya, dia mengancam keluarga kita.”
Aku menatap Sari.
Rekaman berlanjut.
“Ratih menemukan bukti. Aku memintanya menyerahkan semuanya kepadaku. Itu kesalahanku. Bima tahu.”
Sari mulai menangis.
“Aku mencoba menyelamatkan Ratih. Malam kecelakaan itu, aku mengirim orang untuk menjemputnya. Mereka terlambat.”
Sari berbisik, “Ibu…”
“Tapi ada sesuatu yang tidak pernah diketahui Bima. Ratih membuat salinan seluruh dokumen.”
Aku melihat flashdisk di dalam lemari.
“Kalau bukti itu masih ada, Bima akan kembali mencarinya. Jangan percaya siapa pun yang datang membawa cerita bahwa aku membunuh Ratih.”
Rekaman berhenti.
Kami terdiam.
Kemudian suara lain muncul.
Lebih pelan.
Suara perempuan.
“Pak Arga, kalau Anda mendengar ini, berarti anak saya berhasil menemukan Anda.”
Sari langsung menatap alat perekam.
“Itu suara Ibu.”
Aku menaikkan volumenya.
“Saya tidak tahu apakah Pak Surya bisa menyelesaikan masalah ini. Tetapi saya tahu satu hal. Bima tidak bekerja sendirian.”
Lalu Ratih menyebut sebuah nama.
Aku merasa dunia di sekelilingku berhenti.
“Nadine.”
Mantan kekasihku.
Aku menatap foto yang tadi kami bawa.
Nadine pernah menjadi perempuan yang paling kupercaya.
Kami bersama hampir enam tahun.
Tiga tahun lalu dia meninggalkanku tanpa penjelasan.
Sari berbisik, “Jadi pria dalam foto itu…”
“Bima.”
Aku langsung mengambil laptop dan memasukkan flashdisk.
Puluhan folder muncul.
Laporan keuangan.
Rekaman transaksi.
Foto.
Email.
Kemudian satu folder bernama N.
Aku membukanya.
Ada foto Nadine bersama Bima.
Bukan hanya tiga tahun lalu.
Foto-foto itu dimulai sejak Nadine masih kuliah.
Di salah satu dokumen tertulis sesuatu yang membuatku mual.
Nadine Santoso.
Santoso.
Aku tidak pernah mengetahui nama keluarga aslinya karena dia selalu menggunakan nama ibunya.
“Nadine anak Bima,” kataku.
Belum sempat Sari menjawab, terdengar tepuk tangan dari pintu.
Pelan.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Aku mengambil pistol.
Seorang perempuan berdiri di sana.
“Nadine.”
Dia terlihat hampir sama seperti terakhir kali aku melihatnya.
Rambut sebahu. Kemeja putih. Wajah tenang.
Hanya matanya yang berbeda.
“Turunkan pistolnya, Arga.”
“Bagaimana kamu masuk?”
“Aku masih tahu kode pintu belakang.”
“Kamu yang menculik Sari?”
Nadine menatap Sari.
“Kalau aku ingin menculiknya, dia tidak akan berdiri di sini.”
“Lalu siapa?”
“Orang yang juga sedang menuju vila ini.”
Aku tidak percaya sepatah kata pun.
Nadine melihat layar laptop.
“Kalian menemukan flashdisk itu.”
“Bima ayahmu.”
“Ya.”
“Dan selama enam tahun kamu berbohong kepadaku.”
“Aku mendekatimu karena disuruh ayahku.”
Jawaban itu terasa seperti pukulan.
“Tapi aku meninggalkanmu karena aku berhenti menuruti dia.”
Aku tertawa hambar.
“Bagus sekali ceritanya.”
“Arga, dengarkan aku. Ayahmu dan ayahku memang terlibat dalam bisnis kotor. Bedanya, ayahmu mencoba keluar. Ayahku tidak.”
Sari maju.
“Siapa yang membunuh ibu saya?”
Nadine memandangnya.
“Ayahku memberi perintah.”
Sari membeku.
“Tapi orang yang merusak rem mobil ibumu masih bekerja untuk keluarga Arga.”
Aku menatap Nadine tajam.
“Siapa?”
Terdengar suara mobil memasuki halaman.
Nadine langsung mematikan lampu.
“Dia datang.”
Kami melihat melalui kamera keamanan.
Sebuah sedan hitam berhenti.
Seorang pria turun.
Aku mengenalnya sejak kecil.
Pak Darto.
Sopir ayahku.
Pria yang mengantarkanku ke sekolah.
Pria yang berdiri di samping makam ayah ketika pemakaman.
Sari menutup mulutnya.
“Dia yang mengunci saya di gudang.”
Aku merasa darahku mendidih.
Pak Darto masuk menggunakan kunci sendiri.
Beberapa detik kemudian langkahnya terdengar di lorong.
“Mas Arga?”
Suaranya terdengar seperti biasa.
Ramah.
“Mas?”
Aku memberi isyarat agar Nadine dan Sari tetap diam.
Pak Darto memasuki ruang kerja.
Begitu melihat Nadine, wajahnya berubah.
“Kamu.”
Nadine berkata, “Sudah lama, Pak Darto.”
Pak Darto mundur.
Aku mengangkat pistol.
“Jangan bergerak.”
Dia menatapku.
“Mas Arga salah paham.”
“Siapa yang menyuruhmu masuk ke kamar ayahku?”
“Bima.”
Jawabannya mengejutkanku.
“Dia menelepon sore tadi. Katanya ada seseorang yang mencari dokumen lama.”
“Kenapa kamu menurut?”
Pak Darto tersenyum tipis.
“Karena saya sudah menurut selama dua puluh tahun.”
Sari gemetar.
“Kamu yang merusak rem mobil ibu saya?”
Pak Darto menunduk.
“Ya.”
Sari menerjangnya.
Aku menahannya sebelum dia sampai.
“Lepaskan saya!”
“Jangan!”
“Dia membunuh ibu saya!”
Pak Darto tiba-tiba merogoh jaket.
Nadine berteriak.
Aku mengarahkan pistol.
Namun yang dikeluarkannya bukan senjata.
Sebuah ponsel.
Layar menunjukkan panggilan aktif.
Nama di sana hanya satu huruf.
B.
Pak Darto menyalakan pengeras suara.
Suara seorang pria terdengar.
“Arga.”
Bima.
“Berikan flashdisk itu.”
Aku menggenggam ponsel.
“Datang dan ambil sendiri.”
Bima tertawa.
“Aku tidak sebodoh ayahmu.”
“Polisi akan mendapatkan semua dokumen ini.”
“Silakan.”
Aku terdiam.
Bima melanjutkan.
“Karena kalau dokumen itu dibuka, bukan hanya aku yang jatuh. Perusahaanmu, nama ayahmu, para pejabat yang bekerja sama dengannya, semuanya akan ikut tenggelam.”
“Kalau memang bersalah, biarkan.”
Hening.
Kemudian Bima berkata, “Kamu benar-benar berbeda dari ayahmu.”
Sambungan terputus.
Malam itu aku menghubungi pengacara dan polisi.
Pak Darto ditahan.
Flashdisk beserta rekaman ayah dan Ratih diserahkan sebagai barang bukti.
Bima mencoba kabur ke luar negeri dua hari kemudian, tetapi ditangkap sebelum meninggalkan Indonesia.
Penyelidikan berlangsung berbulan-bulan.
Perusahaanku kehilangan kontrak besar. Saham jatuh. Beberapa direktur mengundurkan diri.
Nama ayahku ikut tercoreng.
Aku bisa saja menyembunyikan sebagian bukti untuk melindunginya.
Aku memilih tidak melakukannya.
Kebenaran tidak seharusnya hanya dibuka ketika menguntungkan kita.
Sari memberikan kesaksian mengenai surat dan peninggalan ibunya.
Nadine juga bersaksi melawan ayahnya sendiri.
Setelah semuanya selesai, dia menemuiku untuk terakhir kalinya di sebuah kedai kopi kecil di Jakarta.
“Aku benar-benar mencintaimu dulu,” katanya.
Aku menatapnya.
“Kenapa tidak memberitahuku?”
“Karena ketika aku akhirnya ingin jujur, aku sudah terlalu banyak berbohong.”
Aku tidak marah lagi.
Beberapa luka memang tidak perlu dibalas.
Cukup berhenti membawanya ke masa depan.
“Aku harap kamu bisa hidup tenang,” kataku.
Nadine tersenyum sambil menahan air mata.
“Kamu juga.”
Kami tidak pernah bertemu lagi.
Setahun kemudian, vila keluarga kujual.
Aku tidak sanggup tinggal di rumah yang setiap ruangannya menyimpan rahasia.
Sebagian uangnya kugunakan untuk membangun yayasan bantuan hukum bagi keluarga pekerja yang menjadi korban perusahaan besar.
Sari tidak lagi bekerja sebagai asisten rumah tangga.
Aku membiayainya menyelesaikan kuliah yang dulu terpaksa dia tinggalkan.
Suatu sore, sebelum aku menyerahkan kunci vila kepada pemilik baru, Sari datang membawa sebuah kotak putih.
Kotak yang sama dari malam ketika aku pura-pura tidur.
“Ada satu benda yang belum pernah saya berikan kepada Bapak.”
Dia menyerahkan sebuah amplop kecil.
Di dalamnya terdapat foto lama.
Ayahku berdiri bersama Ratih.
Di belakang foto ada tulisan tangan ayah.
Ratih adalah orang yang menyelamatkan keluarga kita ketika aku sendiri terlalu pengecut untuk melakukannya. Jika suatu hari anak-anak kita bertemu, semoga mereka tidak mewarisi ketakutan kita.
Aku membaca kalimat itu lama.
“Jadi ibu kamu sudah merencanakan semuanya?”
Sari tersenyum tipis.
“Bukan semuanya.”
“Lalu kenapa malam itu kamu mendekati sofa sambil membawa kotak?”
“Saya sebenarnya sudah memutuskan untuk pergi keesokan paginya.”
“Kenapa?”
“Karena saya takut.”
“Takut kepadaku?”
Dia mengangguk.
“Saya tidak tahu Bapak akan memilih melindungi nama keluarga atau mencari kebenaran.”
Aku memandang ruang tamu tempat semuanya bermula.
Dompet yang sengaja kutinggalkan.
Selimut yang dia letakkan di tubuhku.
Kecurigaan bodoh yang membuatku pura-pura tertidur.
Aku tersenyum.
“Lucu juga.”
“Apa?”
“Malam itu aku sedang mengujimu.”
Sari tertawa kecil.
“Saya tahu.”
Aku menoleh cepat.
“Kamu tahu?”
“Sejak awal.”
“Bagaimana?”
“Orang tidur tidak menggenggam ujung sofa setiap kali mendengar langkah kaki.”
Aku terdiam.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tertawa lepas.
Sari berjalan menuju pintu, tetapi sebelum keluar dia berhenti.
“Jadi sebenarnya malam itu siapa yang sedang diuji?”
Aku memandang foto ayah dan Ratih di tanganku.
Baru saat itulah aku mengerti.
Aku mengira sedang menguji kejujuran seorang perempuan yang bekerja di rumahku.
Padahal malam itu, tanpa kusadari, aku sedang diuji oleh masa lalu keluargaku sendiri.
Dan ternyata hal paling berharga yang hampir hilang dari rumah itu bukan uang di dalam dompet, bukan perusahaan, bukan vila, bahkan bukan nama baik keluarga.
Melainkan keberanian untuk mengetahui kebenaran meskipun kebenaran itu menghancurkan semua hal yang selama ini kita banggakan.
Aku mematikan lampu ruang tamu untuk terakhir kalinya.
Lalu menutup pintu vila.
Kali ini tanpa membawa satu pun rahasia bersamaku.
