DUA PULUH LIMA TAHUN MENGHILANG, MILIARDER INI MENEMUKAN CINTA MASA KECILNYA HIDUP SEBAGAI GELANDANGAN. SAAT IA INGIN MENOLONG, RAHASIA KELAM DI BALIK KOIN BERLUBANG DI LEHER WANITA ITU MULAI TERBONGKAR!

Keesokan paginya, Bintang kembali ke gudang dekat Stasiun Senen sebelum matahari benar-benar tinggi.

Ia datang tanpa sopir, tanpa staf, bahkan tanpa jas mahal yang biasa melekat di tubuhnya. Hanya kemeja biru gelap dengan lengan digulung dan dua kantong sarapan di tangannya.

Namun ketika pintu gudang terbuka, Bintang langsung tahu ada sesuatu yang tidak beres.

Maya tidak ada.

“Maya ke mana?” tanyanya.

Mbah Murni yang sedang duduk di atas kasur tipis menatapnya dengan wajah cemas.

“Tadi subuh ada orang datang.”

Jantung Bintang berdegup lebih cepat.

“Siapa?”

“Laki-laki. Badannya besar. Maya keluar menemui dia. Mereka bicara sebentar di luar. Setelah itu Maya masuk lagi, mengambil tasnya, lalu pergi.”

“Dia bilang mau ke mana?”

Mbah Murni menggeleng.

Namun Ratna, yang sejak tadi diam di sudut gudang, tiba-tiba mendekat sambil membawa selembar kertas.

“Mbak Maya ninggalin ini.”

Tulisan di atas kertas hanya terdiri dari beberapa kalimat.

Bintang, jangan cari aku. Ada hal-hal dari masa lalu yang lebih baik tetap terkubur. Tolong bantu Mbah dan anak-anak kalau kamu benar-benar ingin menolong. Jangan ikut campur urusanku.

Bintang membaca surat itu berulang kali.

Dia mengenal Maya.

Bahkan setelah dua puluh lima tahun, dia masih mengenali cara Maya menyembunyikan ketakutan di balik kalimat sederhana.

Ini bukan keputusan bebas.

Seseorang telah mengancamnya.

Bintang langsung menghubungi kepala keamanan perusahaannya dan meminta rekaman CCTV di sekitar gudang.

Dua jam kemudian, mereka mendapatkan gambar sebuah mobil hitam yang berhenti di gang sekitar pukul lima pagi.

Nomor kendaraannya ternyata terdaftar atas nama perusahaan keamanan swasta.

Nama pemilik perusahaan itu membuat Bintang terdiam.

Surya Mahendra.

Nama tersebut terasa asing, tetapi foto pria itu membangkitkan sesuatu dari dasar ingatannya.

Seorang lelaki tinggi yang dahulu sering datang ke rumah ayahnya.

Bintang segera pulang ke rumah keluarga di Kebayoran Baru.

Ayahnya, Harsono Pratama, sudah berusia tujuh puluh tahun. Sejak terkena stroke ringan dua tahun sebelumnya, ia jarang ikut mengurus perusahaan.

Ketika Bintang menunjukkan foto Surya, wajah Harsono langsung berubah.

“Dari mana kamu dapat foto ini?”

“Ayah mengenalnya?”

Harsono tidak menjawab.

“Ayah.”

“Jangan cari orang itu.”

Jawaban tersebut justru membuat kecurigaan Bintang semakin kuat.

“Apa hubungannya dengan Maya Salmah?”

Gelas di tangan Harsono terlepas.

Pecahannya berserakan di lantai.

Untuk pertama kalinya sejak Bintang pulang ke Indonesia, dia melihat ketakutan nyata di wajah ayahnya.

“Kamu bertemu Maya?”

Bintang berdiri perlahan.

“Jadi Ayah tahu.”

Harsono menutup mata.

“Aku berharap kalian tidak pernah bertemu lagi.”

Kalimat itu terasa seperti pukulan.

“Kenapa?”

Harsono tidak menjawab.

Bintang mengambil koin berlubang miliknya sendiri dari sebuah kotak kecil yang selalu dia simpan. Dua puluh lima tahun lalu, dia sebenarnya membuat dua koin dari uang logam yang sama jenisnya.

Satu diberikan kepada Maya.

Satu dia simpan sendiri.

“Karena ini?”

Harsono menatap koin tersebut.

Wajahnya semakin pucat.

“Bukan koinnya,” katanya akhirnya. “Apa yang ada di dalamnya.”

Bintang mengerutkan kening.

Harsono meminta Bintang membawa koin itu mendekati lampu.

“Perhatikan lubangnya.”

Bintang mengangkat koin tersebut.

Selama puluhan tahun dia mengira lubang itu dibuat secara acak dengan paku. Tetapi ketika diperhatikan dari dekat, di bagian tepi lubang terdapat guratan kecil.

Seperti angka.

17 8 01.

“Apa ini?”

Harsono menarik napas berat.

“Tanggal.”

Tanggal itu membawa Bintang kembali ke suatu malam yang hampir terlupakan.

17 Agustus 2001.

Malam ketika ayah Maya meninggal.

Semua orang mengatakan Pak Salim tewas dalam kecelakaan motor.

Tiga hari kemudian keluarga Bintang mendadak pindah dari Jakarta.

“Ayah Maya tidak kecelakaan, kan?”

Harsono menunduk.

“Dia dibunuh.”

Dunia Bintang seakan berhenti.

Harsono akhirnya menceritakan sesuatu yang selama dua puluh lima tahun disembunyikannya.

Pak Salim bekerja sebagai sopir sekaligus kurir pribadi keluarga Pratama. Suatu malam, ia tanpa sengaja menemukan dokumen yang menunjukkan adanya penggelapan dana perusahaan dalam jumlah sangat besar.

Pelakunya bukan Harsono.

Melainkan adiknya sendiri, Darma Pratama.

Darma menggunakan perusahaan keluarga untuk mencuci uang dan membeli tanah dengan identitas palsu.

Pak Salim menemukan bukti tersebut.

Dia takut dokumen itu akan dirampas, sehingga menyembunyikan petunjuk lokasi salinannya melalui sesuatu yang dianggap tidak penting.

Koin anak-anak.

Pak Salim mengetahui Bintang dan Maya sering membuat permainan rahasia. Dia membantu mengukir tanggal di koin mereka.

Bintang tidak pernah menyadarinya.

“Tapi kenapa keluarga kita pergi?”

“Karena Darma mengancammu.”

Harsono menatap putranya dengan mata basah.

“Dia bilang kalau aku melapor polisi, anakku akan mengalami nasib yang sama seperti Salim.”

Harsono membawa keluarganya keluar negeri.

Namun sebelum pergi, dia melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya.

Dia tidak membawa Maya dan ibunya.

Dia memilih menyelamatkan keluarganya sendiri.

Beberapa bulan kemudian, ibu Maya meninggal karena sakit.

Rumah mereka disita menggunakan dokumen utang palsu.

Maya yang masih berusia sepuluh tahun berpindah dari satu kerabat ke kerabat lain sebelum akhirnya menghilang.

Bintang menahan amarah.

“Dan Ayah diam selama dua puluh lima tahun?”

“Aku pengecut.”

Harsono tidak membela diri.

“Aku membangun perusahaan semakin besar, mengirim uang melalui yayasan, menyewa orang mencari Maya. Tapi aku tidak pernah berani membuka kasus Salim.”

Bintang menatap ayahnya dengan kecewa.

“Uang tidak bisa membeli kembali dua puluh lima tahun hidup seseorang.”

“Aku tahu.”

Saat itulah ponsel Bintang berbunyi.

Pesan dari nomor tidak dikenal.

Kalau ingin Maya tetap hidup, berhenti mencari masa lalu.

Di bawahnya terdapat sebuah foto.

Maya duduk di kursi sebuah ruangan kosong.

Tangannya tidak terikat, tetapi dua pria berdiri di belakangnya.

Bintang langsung menghubungi polisi.

Namun sebelum dia sempat menjelaskan semuanya, seseorang datang ke rumah.

Clara.

“Aku tahu di mana Maya.”

Bintang menatapnya tajam.

“Bagaimana kamu tahu?”

Clara tidak langsung menjawab.

Wajahnya tampak berbeda dari malam sebelumnya. Tidak ada kesombongan. Tidak ada riasan sempurna.

Hanya ketakutan.

“Aku melakukan kesalahan.”

Clara mengeluarkan map cokelat.

Map yang sama yang dibawanya malam sebelumnya.

“Ayahku bekerja untuk Darma Pratama.”

Bintang membeku.

“Ayahku adalah Surya Mahendra.”

Clara mengaku sejak kecil mengetahui sedikit tentang keluarga Maya. Ayahnya menyimpan dokumen lama dan terus menerima pembayaran dari Darma agar kasus tersebut tidak pernah dibuka kembali.

Ketika Clara mengetahui Maya muncul di restoran, dia panik.

Dia takut masa lalunya sendiri menghancurkan rencana pernikahannya.

“Aku menelepon Ayah tadi malam.”

“Kamu yang menyuruh dia membawa Maya?”

Clara menunduk.

“Aku cuma ingin Maya pergi dari Jakarta.”

Bintang menatapnya seolah sedang melihat orang asing.

“Tapi Ayahku ternyata menghubungi Darma. Mereka membawa Maya ke gudang kosong di kawasan industri Pulogadung.”

“Kenapa kamu memberitahuku sekarang?”

Air mata Clara jatuh.

“Karena aku melihat sesuatu di dokumen ini.”

Dia mengeluarkan sebuah foto lama.

Foto Surya dan Darma berdiri di samping sebuah mobil.

Di belakang mereka terlihat Pak Salim.

Tanggalnya satu hari sebelum kematian ayah Maya.

Kemudian Clara menunjukkan salinan transfer uang.

Darma membayar Surya dua hari setelah kematian Pak Salim.

“Ayahku mungkin ikut membunuhnya.”

Bintang tidak berkata apa-apa lagi.

Polisi bergerak setelah menerima dokumen tersebut.

Mereka menemukan lokasi Maya menjelang sore.

Tetapi ketika tim tiba, situasinya sudah berubah.

Maya berdiri di tengah gudang dengan koin masih tergantung di lehernya.

Di depannya berdiri seorang lelaki tua berambut putih.

Darma Pratama.

“Berikan koin itu,” katanya.

Maya menggenggamnya.

“Dua puluh lima tahun hidup saya hancur karena benda ini?”

“Bukan karena benda itu. Karena ayahmu terlalu banyak tahu.”

Maya menatapnya tanpa berkedip.

“Jadi benar Anda membunuh ayah saya?”

Darma tersenyum kecil.

“Kalau ayahmu menyerahkan dokumennya, dia mungkin masih hidup.”

Maya mengeluarkan ponsel dari sakunya.

Layar ponsel itu menyala.

Panggilan sedang berlangsung.

Bintang.

Darma menyadarinya terlambat.

Pintu gudang langsung terbuka.

Polisi masuk dari beberapa arah.

Darma mencoba melarikan diri, tetapi berhasil ditangkap.

Surya yang berada di ruangan belakang juga diamankan.

Bintang berlari menuju Maya.

“Kamu baik-baik saja?”

Maya mengangguk, tetapi tubuhnya gemetar.

Bintang ingin memeluknya, namun berhenti.

Dia tidak tahu apakah dirinya masih memiliki hak untuk melakukan itu.

Justru Maya yang mengambil satu langkah mendekat.

Kemudian memeluknya.

Untuk pertama kalinya setelah dua puluh lima tahun.

Bintang memejamkan mata.

“Aku terlambat,” bisiknya.

Maya tidak menjawab.

“Aku terlambat dua puluh lima tahun.”

“Yang pergi waktu itu anak berumur sepuluh tahun,” kata Maya pelan. “Bukan kamu yang sekarang.”

Penyelidikan berlangsung berbulan-bulan.

Dokumen yang disimpan keluarga Surya menjadi bukti penting untuk membuka kembali kasus kematian Pak Salim.

Namun petunjuk terbesar justru ditemukan melalui koin Maya.

Angka 17 8 01 bukan hanya tanggal.

Ketika polisi memeriksa rumah lama keluarga Maya yang sudah lama terbengkalai, mereka menemukan sebuah kotak logam tersembunyi di bawah lantai kamar.

Di dalamnya terdapat salinan laporan keuangan, rekaman percakapan, dan surat tulisan tangan Pak Salim.

Darma akhirnya dijatuhi hukuman atas serangkaian kejahatan, sementara Surya menerima hukuman karena keterlibatannya dalam penutupan kasus dan tindak kriminal lainnya.

Clara menjadi saksi.

Hubungannya dengan Bintang berakhir.

Bukan karena dia anak Surya.

Melainkan karena pilihan yang dia buat sendiri malam ketika Maya datang meminta makanan.

Beberapa bulan kemudian, Restoran Dharma kembali menjadi perhatian media.

Namun kali ini bukan karena kemewahannya.

Bintang membuka program yang bekerja sama dengan lembaga sosial untuk menyalurkan makanan layak konsumsi dari restoran dan hotel kepada rumah singgah serta keluarga yang membutuhkan.

Tidak ada lagi makanan utuh yang dibuang hanya demi menjaga citra kemewahan.

Maya menolak ketika Bintang menawarkan rumah besar.

Sebaliknya, dia meminta sesuatu yang jauh lebih sederhana.

Sebuah rumah sewa yang cukup untuk dirinya, Mbah Murni, Ratna, Sam, dan Danu.

“Aku mau membangun hidupku sendiri,” katanya.

Bintang tersenyum.

“Aku tahu.”

Maya kemudian bekerja mengelola dapur sosial yang didanai program tersebut.

Bukan sebagai penerima belas kasihan.

Melainkan sebagai orang yang memahami bagaimana rasanya tidur dalam keadaan lapar.

Suatu sore, hampir setahun setelah pertemuan mereka di Restoran Dharma, Bintang datang ke dapur sosial.

Maya sedang berdiri di halaman belakang.

Koin berlubang masih tergantung di lehernya.

“Kamu masih menyimpannya?” tanya Bintang.

Maya tersenyum.

“Dulu aku menyimpannya karena menunggu seseorang kembali.”

“Sekarang?”

Maya memegang koin tersebut.

“Sekarang aku menyimpannya supaya tidak lupa bahwa hidupku pernah hampir dihancurkan oleh rahasia orang lain.”

Bintang mengeluarkan koin miliknya.

Dia meletakkannya di telapak tangan Maya.

Dua koin tua.

Dua lubang tidak sempurna.

Dua puluh lima tahun yang hilang.

“Aku pernah janji akan kembali,” kata Bintang.

Maya menatapnya.

“Kamu memang kembali.”

“Sayangnya terlambat.”

Maya menggeleng.

“Tidak semua orang yang terlambat berarti kehilangan kesempatan, Bintang.”

Bintang terdiam.

Maya kemudian menggenggam kedua koin itu.

“Terkadang kita memang tidak bisa kembali untuk menyelamatkan masa lalu.”

Dia menatap halaman tempat anak-anak sedang tertawa sambil membantu menata kotak makanan.

“Tapi kita masih bisa memastikan masa lalu itu tidak menghancurkan masa depan.”

Bintang tersenyum.

Untuk pertama kalinya, mereka tidak lagi melihat satu sama lain sebagai dua anak kecil yang dipisahkan keadaan.

Mereka berdiri sebagai dua orang dewasa yang telah kehilangan terlalu banyak hal, tetapi masih memiliki keberanian untuk memulai kembali.

Dan koin berlubang yang selama dua puluh lima tahun dianggap sebagai benda tidak berharga akhirnya menjadi saksi bahwa sebuah janji sederhana bisa bertahan lebih lama daripada kebohongan, ketakutan, bahkan waktu.

Karena terkadang, sesuatu yang paling berharga bukanlah benda yang kita simpan.

Melainkan alasan mengapa kita tidak pernah membuangnya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang