Maya tidak langsung pulang ke kampung hari itu.
Ia menunggu sampai Irfan berangkat ke kantor dan Bu Rita pergi ke salon untuk persiapan pesta ulang tahun Pak Bambang. Setelah memastikan rumah sepi, Maya memasukkan beberapa pakaian ke dalam tas, mengambil foto lama yang diam-diam sempat ia potret dengan ponselnya, lalu memesan kendaraan menuju terminal.
Sepanjang perjalanan, wajah Bu Rita terus terbayang di kepalanya.
Bukan wajah angkuh yang selama ini selalu merendahkan keluarganya.
Melainkan wajah pucat di balik pintu kaca ketika mendengar Maya menyebut nama Rita Kartika kepada ibunya.
Dua puluh delapan tahun.
Apa yang sebenarnya terjadi selama itu?
Menjelang sore, Maya tiba di rumah orang tuanya di sebuah kecamatan kecil di Jawa Tengah. Rumah itu sederhana, berdinding bata yang sudah beberapa kali dicat ulang, dengan toko kelontong kecil di bagian depan.
Ayahnya, Pak Hadi, sedang menurunkan kardus minuman dari mobil bak terbuka milik tetangga.
Begitu melihat Maya turun membawa tas, raut wajah Pak Hadi berubah.
“Kamu bertengkar dengan Irfan?”
Maya belum sempat menjawab ketika Ibu Ratna muncul dari dalam rumah.
Perempuan itu tidak bertanya apa-apa.
Ia langsung memeluk Maya erat.
Pelukan itu membuat kecurigaan Maya semakin besar.
Malamnya, setelah toko ditutup, Ibu Ratna membawa Maya dan Pak Hadi ke kamar belakang.
Dari dalam lemari tua, ia mengeluarkan sebuah kotak besi kecil berwarna hijau.
Kotak itu berkarat di bagian sudut.
“Aku kira benda ini tidak akan pernah dibuka lagi,” ujar Ibu Ratna.
Maya duduk di lantai.
Tangannya terasa dingin.
Ibu Ratna membuka kotak tersebut.
Di dalamnya terdapat beberapa foto, amplop menguning, kuitansi lama, dan sebuah map plastik yang sudah kusam.
Foto pertama membuat Maya langsung tercekat.
Gadis yang sama.
Gaun bunga-bunga lusuh.
Rambut panjang diikat sederhana.
Kandang kambing di belakangnya.
“Itu Rita?” tanya Maya.
Ibu Ratna mengangguk.
“Dulu namanya bukan Rita Kartika. Namanya Rita Sulastri.”
Maya menatap ibunya.
“Siapa dia?”
Ibu Ratna menghela napas panjang.
“Anak perempuan dari keluarga yang tinggal dua rumah dari sini. Ayahnya buruh tani. Ibunya meninggal ketika Rita masih SMP. Setelah ayahnya sakit keras, Rita tidak punya tempat tinggal yang layak. Nenekmu mengizinkan dia tinggal bersama kita.”
Maya semakin bingung.
“Berarti dia pernah tinggal di rumah ini?”
“Hampir empat tahun.”
Maya menatap Pak Hadi.
Ayahnya hanya mengangguk pelan.
“Dulu dia makan bersama kami, tidur di kamar belakang, ikut membantu di kebun,” kata Pak Hadi. “Kami menganggap dia seperti keluarga sendiri.”
“Lalu kenapa sekarang dia seperti tidak mengenal kalian?”
Tidak ada yang langsung menjawab.
Ibu Ratna mengambil sebuah amplop.
“Karena sebelum pergi, Rita melakukan sesuatu yang membuat dia tidak pernah berani kembali.”
Maya membuka amplop itu.
Di dalamnya terdapat kuitansi penjualan tanah atas nama almarhum kakeknya.
Tanah seluas hampir dua hektare.
Di sampingnya ada fotokopi buku tabungan lama.
Maya membaca angka-angka yang tercetak.
Jumlahnya besar untuk ukuran hampir tiga puluh tahun lalu.
“Tanah apa ini?”
“Tanah milik kakekmu,” jawab Ibu Ratna. “Dulu dijual untuk biaya operasi ayah Rita.”
Maya menatap ibunya tidak percaya.
“Ibu dan keluarga kita membiayai operasi ayahnya?”
Pak Hadi mengangguk.
“Tidak semua. Tapi sebagian besar.”
“Lalu apa masalahnya?”
Ibu Ratna mengambil dokumen lain.
Kali ini surat pernyataan bermeterai.
“Setelah ayah Rita meninggal, masih ada sisa uang hasil penjualan tanah. Nenekmu menyimpannya untuk biaya sekolah Rita dan rencana membuka usaha kecil supaya dia punya masa depan.”
Maya membaca isi surat itu perlahan.
Kemudian ia berhenti.
Ada angka yang membuat jantungnya berdegup lebih keras.
Rp38 juta.
Pada tahun 1998, jumlah itu sangat besar.
“Uang ini hilang?”
Ibu Ratna mengangguk.
“Pada malam Rita pergi.”
Maya merasakan dadanya sesak.
“Dia mencurinya?”
Pak Hadi menjawab dengan suara rendah.
“Kami tidak pernah melapor ke polisi.”
“Kenapa?”
“Karena nenekmu melarang.”
Maya menatap ayahnya.
Pak Hadi melanjutkan.
“Nenekmu bilang Rita pasti sedang ketakutan. Katanya, kalau polisi mengejarnya, hidup anak itu akan benar-benar hancur.”
Maya tidak tahu harus merasa marah atau sedih.
Perempuan yang selama ini menghina orang tuanya sebagai orang kampung ternyata pernah ditolong keluarga mereka sampai menjual tanah.
Bahkan ketika membawa kabur uang, keluarganya masih melindungi Rita.
Ibu Ratna lalu mengeluarkan satu dokumen terakhir.
Sebuah akta kelahiran lama.
Maya membaca nama yang tercantum di sana.
Rita Sulastri.
Nama ayah dan ibunya juga berbeda sama sekali dengan cerita keluarga Kartika yang selama ini sering dibanggakan Bu Rita.
Menurut Bu Rita, ia berasal dari keluarga pegawai pemerintah terpandang di Semarang.
Ternyata semuanya bohong.
Namun sebuah detail membuat Maya berhenti.
Di bagian belakang akta terdapat catatan mengenai perubahan identitas administratif bertahun-tahun kemudian.
Nama Rita Sulastri berubah menjadi Rita Kartika.
“Bagaimana Ibu mendapatkan ini?”
“Beberapa tahun setelah Rita pergi, seseorang dari kantor kecamatan datang mencari dokumen lama. Saat itulah kami tahu dia mengganti identitasnya.”
“Jadi keluarga Kartika bukan keluarga kandungnya?”
“Bukan.”
Maya menutup mata.
Tiba-tiba seluruh sikap Bu Rita terasa masuk akal.
Kesombongannya.
Obsesi kepada status sosial.
Kebenciannya terhadap orang sederhana.
Seolah ia ingin menghancurkan semua hal yang mengingatkannya pada masa lalu.
Malam itu Maya menerima belasan panggilan dari Irfan.
Ia tidak menjawab.
Sampai sebuah pesan masuk.
Pulang sekarang. Ibu bilang kamu membawa sesuatu dari rumah.
Maya langsung menelepon.
“Apa maksudnya aku membawa sesuatu?”
Suara Irfan terdengar tegang.
“Anting Ibu belum ketemu. Terus kamu tiba-tiba pergi.”
Maya tertawa pendek karena tidak percaya.
“Jadi sekarang kalian benar-benar menuduhku?”
“Aku tidak bilang begitu.”
“Tapi kamu berpikir begitu.”
Irfan diam.
Maya menutup telepon.
Keesokan paginya, sesuatu yang tidak diduga terjadi.
Pak Bambang datang.
Sendirian.
Ia turun dari mobil dengan wajah letih.
Maya terkejut melihat ayah mertuanya berdiri di depan toko kelontong kecil milik ibunya.
“Pak?”

Pak Bambang menatap Ibu Ratna dan Pak Hadi lama sekali.
Kemudian ia membungkuk.
“Saya minta maaf.”
Ibu Ratna terlihat bingung.
“Maaf untuk apa, Pak?”
Pak Bambang menarik napas berat.
“Tadi malam Rita mengaku sebagian.”
Maya berdiri.
“Mengaku apa?”
Pak Bambang menatap Maya.
“Dia tahu kamu pergi ke sini. Dia panik. Saya paksa dia menjelaskan kenapa.”
Pak Bambang lalu duduk di kursi plastik di depan toko.
Untuk pertama kalinya Maya melihat seorang pria yang biasanya selalu tenang itu tampak benar-benar terpukul.
“Saya menikahi Rita dua puluh enam tahun lalu,” katanya. “Dia mengaku berasal dari keluarga Kartika yang sudah meninggal akibat kecelakaan. Saya percaya.”
Pak Bambang mengusap wajah.
“Saya tidak pernah tahu nama aslinya.”
Ibu Ratna tidak berkata apa-apa.
“Ada lagi yang harus Bapak tahu,” kata Maya.
Ia menyerahkan beberapa dokumen.
Pak Bambang membaca semuanya dengan tangan gemetar.
Saat melihat surat penjualan tanah dan catatan uang, wajahnya berubah.
“Dia mengambil uang ini?”
Pak Hadi menjawab.
“Kami tidak pernah bisa membuktikan secara hukum. Tapi malam itu hanya Rita yang pergi. Dan uangnya ikut hilang.”
Pak Bambang menunduk.
Kemudian ia mengeluarkan ponsel.
“Ada sesuatu yang lebih buruk.”
Ia memperlihatkan sebuah foto.
Maya mengenal benda dalam foto itu.
Anting safir biru milik Bu Rita.
Anting tersebut berada di dalam laci meja rias Bu Rita sendiri.
“Pak menemukannya?”
Pak Bambang menggeleng.
“Pembantu rumah kami menemukannya pagi ini.”
Maya langsung terdiam.
“Jadi sejak awal anting itu tidak pernah hilang?”
“Tidak.”
Maya merasa darahnya mendidih.
“Dia sengaja menuduh saya?”
Pak Bambang menatapnya dengan rasa bersalah.
“Saya tidak tahu.”
Sore itu mereka kembali ke Jakarta bersama.
Pesta ulang tahun Pak Bambang tetap berlangsung malam berikutnya karena seluruh undangan sudah terlanjur disebar.
Namun suasananya jauh berbeda dari yang direncanakan Bu Rita.
Maya datang mengenakan gaun sederhana berwarna hitam.
Di sampingnya berjalan Ibu Ratna dan Pak Hadi.
Ketika melihat mereka masuk ke ruang pesta, wajah Bu Rita langsung pucat.
Ia mendekati Maya.
“Kamu sengaja mempermalukan Ibu?”
Maya menatapnya tenang.
“Bukankah Ibu bilang pesta ini hanya untuk orang yang tahu bagaimana harus bersikap?”
Rita menggertakkan gigi.
“Suruh mereka pulang.”
Sebelum Maya menjawab, suara Pak Bambang terdengar.
“Mereka tamu saya.”
Rita membeku.
Beberapa tamu mulai memperhatikan.
Irfan mendekat dengan wajah bingung.
“Ayah, ada apa?”
Pak Bambang berjalan ke depan ruangan dan mengambil mikrofon.
Namun Maya segera menahan lengannya.
“Pak, jangan.”
Pak Bambang menatap Maya heran.
Maya menggeleng.
“Ini urusan keluarga. Tidak perlu membuka aib di depan semua orang.”
Rita menatap Maya.
Ada keterkejutan di wajahnya.
Maya justru berjalan mendekati mertuanya.
“Ke ruang kerja.”
Mereka berlima masuk ke ruangan tertutup.
Begitu pintu dikunci, Maya mengeluarkan foto lama.
Ia meletakkannya di meja.
Rita langsung memalingkan wajah.
“Namamu Rita Sulastri.”
Irfan menatap ibunya.
“Apa?”
Maya meletakkan dokumen demi dokumen.
“Dua puluh delapan tahun lalu, keluarga saya memberi Ibu tempat tinggal. Mereka menjual tanah untuk membantu biaya pengobatan ayah Ibu. Setelah itu, Rp38 juta yang disiapkan untuk masa depan Ibu hilang bersamaan dengan kepergian Ibu.”
“Ibu…” suara Irfan nyaris tidak terdengar.
Rita menutup wajah.
Pak Bambang berdiri kaku.
Lalu Maya mengeluarkan foto anting safir.
“Dan ini ditemukan di laci Ibu sendiri.”
Rita tiba-tiba berdiri.
“Aku tidak mencuri antingku sendiri!”
“Tidak. Tapi Ibu tahu anting itu tidak hilang.”
Rita terdiam.
Maya menatapnya tajam.
“Kenapa Ibu menuduh saya?”
Untuk beberapa saat hanya terdengar suara musik pesta dari luar.
Kemudian Rita mulai menangis.
Bukan tangisan marah.
Melainkan tangisan seseorang yang akhirnya kehabisan tenaga mempertahankan kebohongan.
“Aku melihat foto itu di tanganmu,” katanya.
Maya tidak menjawab.
“Aku tahu suatu hari kamu mungkin bertanya kepada keluargamu. Aku takut.”
“Jadi Ibu menciptakan tuduhan pencurian supaya saya dianggap tidak bisa dipercaya?”
Rita menunduk.
“Aku pikir kalau Irfan mulai mencurigaimu, apa pun yang kamu katakan tentang masa laluku nanti akan dianggap sebagai kebohongan.”
Irfan mundur selangkah.
Wajahnya penuh kekecewaan.
“Ibu mau menghancurkan pernikahanku demi menyembunyikan masa lalu?”
Rita menangis semakin keras.
“Aku takut kehilangan semuanya.”
Maya menatap perempuan itu lama.
“Dulu Ibu miskin. Itu bukan dosa.”
Rita mengangkat wajah.
“Yang menghancurkan Ibu bukan kandang kambing, gaun lusuh, atau keluarga sederhana. Yang menghancurkan Ibu adalah karena Ibu terus berbohong untuk berpura-pura tidak pernah menjadi bagian dari semua itu.”
Rita menutup mulutnya.
Namun Pak Hadi tiba-tiba berbicara.
“Ada satu hal yang belum kalian tahu.”
Semua orang menoleh.
Pak Hadi mengeluarkan sebuah surat kecil dari sakunya.
“Dua puluh delapan tahun lalu, uang Rp38 juta itu memang hilang.”
Rita menangis.
“Aku yang mengambilnya.”
Pak Hadi mengangguk.
“Kami tahu.”
Rita terkejut.
“Tapi beberapa bulan setelah kamu pergi, nenek Maya menerima kiriman uang.”
Ruangan mendadak sunyi.
Pak Hadi menyerahkan surat kepada Maya.
“Jumlahnya Rp41 juta.”
Maya membeku.
“Dikembalikan?”
Pak Hadi mengangguk.
“Tanpa nama pengirim.”
Rita menatap surat itu seolah melihat hantu.
“Aku mengirimnya setelah bekerja di Surabaya,” bisiknya. “Aku mengambil uang itu karena seorang kenalan menjanjikan pekerjaan. Aku ditipu. Setelah beberapa bulan aku bekerja apa saja, aku mengembalikan semuanya dengan tambahan sedikit.”
Ibu Ratna menghela napas.
“Nenek tahu itu darimu.”
“Kenapa kalian tidak pernah mencariku?”
Ibu Ratna menatap Rita dengan mata berkaca-kaca.
“Karena nenek bilang, kalau kamu sudah mengembalikan uang itu, berarti kamu sedang berusaha memulai hidup baru. Dia tidak ingin menyeretmu kembali ke rasa malu.”
Rita jatuh terduduk.
Selama dua puluh delapan tahun ia hidup dalam ketakutan terhadap orang-orang yang ternyata tidak pernah berniat menghancurkannya.
Maya akhirnya mengerti sesuatu.
Rahasia terbesar bukan pencurian.
Bukan uang.
Bukan identitas palsu.
Melainkan rasa malu yang dibiarkan tumbuh menjadi kebohongan selama hampir tiga dekade.
Rita menatap Ibu Ratna.
“Aku sering menghina kalian.”
Air matanya jatuh.
“Aku mengatakan kalian kampungan karena setiap melihat kalian, aku melihat diriku sendiri yang dulu.”
Ibu Ratna tidak langsung memaafkan.
Ia hanya berkata pelan.
“Kalau seseorang malu pada masa lalunya, jangan menghina orang yang pernah menolongnya untuk merasa lebih tinggi.”
Rita menunduk.
Malam itu pesta ulang tahun tetap berlanjut.
Namun Rita tidak lagi sibuk memperkenalkan diri kepada pejabat atau pengusaha.
Ia duduk di sudut ruangan bersama Pak Hadi dan Ibu Ratna.
Untuk pertama kalinya setelah dua puluh delapan tahun, mereka berbicara tanpa identitas palsu.
Irfan berdiri di teras bersama Maya.
“Aku minta maaf.”
Maya memandang halaman.
“Untuk ibumu?”
“Untuk diriku sendiri.”
Irfan menelan ludah.
“Aku diam ketika kamu dihina. Aku bahkan ikut menilai keluargamu berdasarkan pekerjaan mereka.”
Maya menatapnya.
“Maaf tidak otomatis memperbaiki semuanya.”
“Aku tahu.”
“Aku juga belum tahu apakah aku masih bisa mempercayaimu.”
Irfan mengangguk perlahan.
“Aku akan terima apa pun keputusanmu.”
Tiga bulan kemudian, Maya dan Irfan memilih tinggal terpisah dari orang tuanya.
Bukan karena semua masalah sudah selesai.
Justru karena mereka ingin mengetahui apakah pernikahan itu masih layak diperjuangkan tanpa campur tangan siapa pun.
Sementara itu, Rita melakukan sesuatu yang mengejutkan seluruh keluarga.
Ia menjual beberapa koleksi perhiasannya, termasuk anting safir yang sempat menjadi sumber fitnah.
Uangnya tidak dipakai untuk membeli barang mewah.
Ia mengirimkannya ke kampung untuk memperbaiki toko kecil Ibu Ratna dan membangun perpustakaan sederhana bagi anak-anak sekitar.
Namun Ibu Ratna menolak namanya digunakan pada bangunan itu.
Rita bertanya kenapa.
Ibu Ratna hanya tersenyum.
“Karena berbuat baik tidak perlu dipakai untuk mencuci nama.”
Rita terdiam cukup lama sebelum akhirnya ikut tersenyum.
Di dinding perpustakaan kecil itu kemudian dipasang sebuah foto lama.
Foto seorang gadis remaja tanpa alas kaki dengan gaun bunga-bunga lusuh, berdiri di dekat kandang kambing.
Rita sendiri yang meminta foto itu dipasang.
Ketika Maya bertanya mengapa, Rita menjawab pelan.
“Selama dua puluh delapan tahun aku berusaha membunuh gadis dalam foto itu.”
Ia memandang wajah mudanya sendiri.
“Sekarang aku sadar, justru dia satu-satunya bagian dari hidupku yang tidak pernah berbohong.”
