SAKIT IBU MENGACAUKAN RENCANA DP MOBIL BARUKU!” BENTAK PUTRINYA. NAMUN SAAT KELUAR DARI RUMAH SAKIT, SANG IBU MEMBUKA KAMUS TUA DAN MENGAMBIL RAHASIA SENILAI 3,6 MILIAR RUPIAH.

“Nanti malam kamu akan mendapatkan tepat seperti apa yang pantas kamu dapatkan.”

Sheila tidak menangkap perubahan dalam suara ibunya.

Ia hanya menjawab singkat, “Ya, bagus,” lalu memutus sambungan.

Ratna menurunkan gagang telepon perlahan.

Untuk pertama kalinya dalam dua tahun, kata baik yang keluar dari mulutnya bukanlah bentuk kepatuhan.

Itu adalah penutup.

Sore harinya, Dokter Aris datang bersama seorang perawat untuk memeriksa kondisi Ratna sekali lagi.

Tekanan darahnya stabil.

Kadar oksigennya membaik.

Namun sebelum mengizinkannya pulang, Dokter Aris duduk di kursi samping ranjang.

“Ibu Ratna, saya serius. Jangan memaksakan diri setidaknya dua minggu ke depan.”

Ratna mengangguk.

“Tidak memasak berjam-jam. Tidak membersihkan rumah. Tidak mengangkat barang berat. Banyak istirahat.”

Ratna tersenyum kecil.

“Dok, boleh saya minta satu hal?”

“Tentu.”

“Bisakah Bapak menuliskan itu dengan jelas di surat anjuran?”

Dokter Aris terlihat sedikit heran.

Namun ia tetap mengambil pena.

“Tentu bisa.”

Ratna melipat surat itu setelah selesai ditandatangani.

Kali ini, ia menyimpannya bukan untuk meyakinkan Sheila.

Ia sudah berhenti berharap Sheila akan peduli.

Surat itu hanya menjadi pengingat untuk dirinya sendiri bahwa tubuhnya pun berhak diperlakukan dengan baik.

Sekitar pukul empat sore, sebuah mobil taksi daring berhenti di depan rumah besar dua lantai milik Sheila di BSD.

Ratna turun sambil membawa tas kecil berisi obat.

Tidak ada yang menjemputnya.

Tidak ada yang berdiri di depan pintu.

Bahkan ketika ia masuk, rumah itu terasa sama seperti biasanya.

Dingin.

Rapi.

Dan asing.

Di atas meja dapur sudah tersedia dua kilogram daging sapi, bahan salad, jamur, mentega impor, kentang, serta selembar kertas berisi menu yang ditulis Sheila.

Steak saus jamur.

Kentang panggang.

Sup krim.

Dessert cokelat.

Ratna memandang semuanya beberapa detik.

Kemudian ia melepas sandal, berjalan melewati dapur, dan langsung menuju perpustakaan.

Ruangan itu sebenarnya jarang dipakai untuk membaca.

Rak-raknya lebih banyak berfungsi sebagai dekorasi ketika Sheila mengundang klien.

Buku-buku mahal disusun berdasarkan warna sampul, bukan isi.

Di sudut rak paling bawah terdapat beberapa buku lama milik Ratna yang dibawa dari Surabaya.

Tangannya langsung menemukan kamus tanaman obat bersampul hijau tua.

Debu tipis menempel di permukaannya.

Ratna tersenyum.

Dua tahun.

Tak seorang pun pernah memindahkannya.

Ia membawa kamus itu ke kamarnya.

Pintu kemudian dikunci.

Ratna duduk di ujung tempat tidur kecil.

Jari-jarinya menyentuh sisi punggung buku, lalu menekan bagian tertentu di dekat jilidan.

Sebuah lapisan kulit tipis terangkat.

Di baliknya terdapat pengait kecil yang hampir tidak terlihat.

Klik.

Bagian tengah kamus terbuka seperti kotak.

Di dalamnya tersimpan amplop antiair berwarna cokelat.

Ratna mengeluarkannya satu per satu.

Buku tabungan.

Surat kepemilikan dua deposito.

Dokumen reksa dana pendapatan tetap.

Sertifikat obligasi.

Serta surat jual beli sebuah rumah kecil di daerah Batu, Jawa Timur, yang baru dibelinya setahun lalu melalui bantuan notaris lama yang ia percaya.

Rumah itu bukan rumah mewah.

Namun memiliki halaman belakang, udara sejuk, dan sebuah ruangan dengan jendela besar yang sejak awal direncanakan Ratna sebagai tempat membaca.

Di bagian paling bawah terdapat kartu nama seseorang.

Yusuf Santoso.

Notaris dan teman lama mendiang suaminya.

Ratna mengambil ponselnya.

“Pak Yusuf?”

Suara di seberang terdengar terkejut.

“Bu Ratna? Bagaimana kabarnya?”

“Lebih baik.”

Ratna terdiam sesaat.

“Saya mau menjalankan rencana yang pernah kita bicarakan.”

Yusuf langsung memahami.

“Besok pagi?”

“Kalau bisa malam ini saya berangkat.”

“Sendiri?”

Ratna memandang kamarnya yang sempit.

Lemari kecil itu bahkan tidak cukup menampung seperempat barang yang ia miliki sebelum pindah dari Surabaya.

“Tidak,” katanya pelan.

“Saya pergi bersama diri saya sendiri. Sudah cukup.”

Yusuf tidak bertanya lagi.

Ia hanya mengatakan akan menghubungi seorang sopir terpercaya untuk menjemput Ratna selepas magrib.

Setelah itu Ratna mulai mengemas barang.

Ternyata tidak banyak.

Tiga stel pakaian.

Obat.

Foto mendiang suaminya.

Alat jahit.

Sebuah kotak kayu kecil.

Dua buku kesukaan.

Dan boneka beruang bernama Tobi.

Ya.

Boneka itu masih ada.

Ratna menemukannya beberapa bulan sebelumnya di kardus barang bekas yang hendak Sheila buang.

Salah satu mata plastiknya hilang.

Bulu cokelatnya sudah kusam.

Namun jahitan di lengannya masih utuh.

Jahitan yang dibuat Ratna tiga puluh tahun lalu saat Sheila demam tinggi.

Ratna membersihkan boneka itu lalu menyimpannya.

Entah kenapa, ia belum mampu membuangnya.

Pukul enam lewat dua puluh, Sheila pulang.

Suara hak sepatunya terdengar cepat dari ruang depan.

“Bu?”

Ratna sedang duduk di ruang makan.

Tidak ada aroma steak.

Tidak ada sup.

Tidak ada kentang panggang.

Meja makan bahkan masih kosong.

Sheila masuk ke dapur dan langsung membeku.

Bahan-bahan makan malam masih persis seperti sore tadi.

“Bu!”

Kali ini suaranya meninggi.

Ratna keluar perlahan.

Sheila menunjuk meja dapur.

“Kenapa belum dimasak?”

“Saya tidak memasaknya.”

Sheila terdiam.

Ia bahkan lebih terkejut mendengar ibunya menggunakan kata saya daripada melihat dapur kosong.

“Maksud Ibu?”

“Dokter melarang saya bekerja berat.”

“Ini bukan kerja berat!”

Sheila melirik jam tangan.

“Tamu datang tiga puluh menit lagi!”

“Kalau begitu kamu masih punya tiga puluh menit untuk memesan makanan.”

Wajah Sheila memerah.

“Serius?”

Ratna tetap tenang.

“Ya.”

Sheila mendekat.

“Bu, jangan mulai drama sekarang. Aku sedang stres. Proyek ini nilainya miliaran.”

Ratna menatap putrinya.

Dulu, jika Sheila menaikkan suara seperti itu, Ratna otomatis menunduk.

Hari ini tidak.

“Waktu saya sakit, kamu bilang biaya rumah sakit mengganggu uang muka mobilmu.”

Sheila mengeraskan rahang.

“Aku cuma sedang emosi.”

“Waktu dokter bilang saya hampir kritis, hal pertama yang kamu tanyakan apakah saya bisa rawat jalan.”

“Bu, jangan dipelintir.”

“Dan pagi ini, sebelum saya pulang dari rumah sakit, kamu menyuruh saya menyiapkan makan malam untuk tamumu.”

Sheila mengembuskan napas kasar.

“Aku kerja keras membiayai rumah ini. Ibu tinggal gratis. Makan gratis. Apa salahnya membantu sedikit?”

Ratna menatapnya lama.

Ada kalimat yang selama bertahun-tahun tidak pernah mampu diucapkannya.

Kini kalimat itu terasa sangat sederhana.

“Saya bukan pembantumu.”

Keheningan memenuhi ruangan.

Sheila tertawa pendek, seperti tidak percaya.

“Apa?”

“Saya ibumu.”

Ratna berkata pelan.

“Dan selama dua tahun, kamu membuat saya lupa bedanya.”

Sheila memutar mata.

“Ya ampun, Bu. Jangan berlebihan.”

Ratna berjalan ke kamar, lalu kembali membawa satu koper dan tas kecil.

Begitu melihatnya, wajah Sheila berubah.

“Mau ke mana?”

“Pergi.”

“Ke mana?”

“Itu bukan urusanmu.”

Sheila menatap koper, lalu tertawa.

“Dengan uang apa?”

Pertanyaan itu keluar begitu mudah.

Begitu yakin.

Seolah Ratna tidak mungkin hidup tanpa dirinya.

Ratna berhenti di dekat tangga.

Lalu ia menatap Sheila dengan ekspresi yang begitu tenang hingga justru membuat putrinya mulai gelisah.

“Dengan uang saya sendiri.”

Sheila mengernyit.

“Uang pensiun Ibu bahkan tidak cukup untuk sewa apartemen.”

“Benar.”

Ratna mengangguk.

“Untungnya saya punya uang lain.”

“Apa maksudnya?”

Ratna tidak menjawab.

Bel pintu berbunyi.

Dua mitra senior Sheila datang.

Mereka adalah pasangan suami istri, Pak Herman dan Bu Livia, pemilik grup distribusi yang selama enam bulan terakhir dikejar Sheila untuk mendapatkan kontrak.

Sheila langsung panik.

“Bu, masuk kamar dulu. Nanti kita bicara.”

Ratna mengambil kopernya.

“Saya justru akan pergi.”

Sheila berbisik tajam.

“Jangan bikin malu!”

Pak Herman dan Bu Livia sudah berdiri di ruang tamu ketika Ratna muncul membawa koper.

Mereka jelas terkejut.

Bu Livia memandang wajah Ratna yang pucat.

“Bu Ratna sakit?”

Ratna mengangguk sopan.

“Baru pulang dari rumah sakit.”

Pak Herman menoleh pada Sheila.

“Baru pulang hari ini?”

Sheila tertawa kaku.

“Iya, tapi sudah baik-baik saja.”

Ratna tidak membantah.

Ia hanya mengeluarkan kertas anjuran dokter dari tasnya dan menyelipkannya ke dalam koper.

Gerakan sederhana itu cukup membuat Bu Livia mengernyit.

“Kalau baru pulang, harusnya istirahat total.”

“Betul,” jawab Ratna.

“Itu sebabnya saya tidak memasakkan makan malam.”

Wajah Sheila seketika kehilangan warna.

Ratna lalu berjalan menuju pintu.

Saat itulah mobil jemputan dari Yusuf berhenti di depan rumah.

Seorang pria paruh baya turun dan membantu membawa koper.

Sheila mengejar sampai teras.

“Ibu tidak bisa pergi begitu saja!”

Ratna berbalik.

“Kenapa?”

Sheila membuka mulut, tetapi tidak menemukan jawaban yang bisa diucapkan di depan tamunya.

Karena ia membutuhkan masakan ibunya?

Karena ia membutuhkan seseorang untuk mencuci bajunya?

Karena uang pensiun Ratna membantu membayar biaya rumah tangga?

Semua alasan itu terdengar buruk jika diucapkan keras-keras.

Sheila akhirnya berkata, “Karena aku anak Ibu.”

Ratna tersenyum sedih.

“Itulah yang membuat saya bertahan terlalu lama.”

Kemudian ia masuk ke mobil.

Namun sebelum pintu tertutup, Sheila melihat kamus hijau tua berada di pangkuan ibunya.

Ia langsung mengenalinya.

“Itu buku tua dari Surabaya, kan?”

Ratna mengangguk.

“Ya.”

“Buat apa dibawa?”

“Karena ada sesuatu yang berharga di dalamnya.”

Sheila mendengus.

“Buku lusuh begitu?”

Ratna menatapnya.

“Kamu selalu menilai segala sesuatu dari apa yang terlihat, Sheila.”

Pintu mobil tertutup.

Malam itu, makan malam bisnis Sheila berakhir buruk.

Makanan datang terlambat.

Steak pesanannya dingin.

Lebih buruk lagi, Bu Livia terlihat tidak nyaman sepanjang pertemuan.

Tiga hari kemudian, Sheila menerima email bahwa perusahaan Pak Herman memilih vendor lain.

Alasannya profesional.

Namun satu kalimat di akhir email menghantamnya.

Kami menghargai mitra yang menunjukkan integritas tidak hanya dalam pekerjaan, tetapi juga dalam cara memperlakukan orang-orang di sekitarnya.

Sheila membaca kalimat itu berulang kali.

Untuk pertama kalinya, ia sadar malam itu bukan hanya ibunya yang melihat siapa dirinya.

Sebulan berlalu.

Ratna tinggal sementara di sebuah apartemen servis kecil di Jakarta sambil menyelesaikan beberapa dokumen bersama Yusuf.

Ia kemudian menjalani pemeriksaan lanjutan.

Kondisi paru-parunya membaik.

Berat badannya mulai naik.

Wajahnya tidak lagi sepucat dulu.

Suatu pagi, Yusuf meletakkan satu map tebal di hadapannya.

“Semua sudah selesai.”

Ratna membukanya.

Total aset likuid dan investasinya setelah dihitung kembali bernilai sedikit lebih dari 3,6 miliar rupiah.

Rumah kecil di Batu juga sepenuhnya atas namanya.

Namun ada satu dokumen baru yang belum pernah dilihat Ratna sebelumnya.

“Apa ini?”

“Rancangan yayasan.”

Ratna tersenyum.

Beberapa minggu sebelumnya, ia memang mengutarakan gagasan sederhana.

Ia ingin menggunakan sebagian keuntungan investasinya untuk membuka pelatihan gratis bagi perempuan lanjut usia yang masih ingin bekerja.

Bukan pekerjaan berat.

Melainkan keterampilan menjahit, memperbaiki buku, kerajinan kertas, dan restorasi sederhana.

“Nama yayasannya masih kosong,” kata Yusuf.

Ratna berpikir.

Matanya lalu jatuh pada boneka Tobi yang berada di kursi.

Entah mengapa, ia teringat jahitan lama di lengan boneka itu.

Kemudian ia berkata, “Namanya Rumah Kedua.”

Yusuf tersenyum.

“Kenapa?”

Ratna memandang keluar jendela.

“Karena tidak semua orang mendapatkan rasa aman dari rumah pertama mereka.”

Tiga bulan kemudian, Ratna pindah ke Batu.

Rumah barunya sederhana.

Dari halaman belakang terlihat garis pegunungan ketika cuaca cerah.

Ia menanam melati, kemangi, cabai, dan beberapa tanaman obat.

Namun kali ini ia tidak perlu bangun subuh untuk menyiram semuanya.

Ia melakukannya ketika tubuhnya cukup kuat.

Tidak ada yang memarahinya jika terlambat.

Tidak ada yang memanggil dari ruang lain meminta kopi.

Tidak ada yang mengeluh jika makan malam hanya berupa sup sederhana.

Hidup terasa sunyi.

Namun untuk pertama kalinya, sunyi itu terasa damai.

Sementara itu, kehidupan Sheila mulai berantakan dalam cara yang tidak pernah ia duga.

Tanpa uang pensiun Ratna, pengeluaran rumah tangganya meningkat.

Ia harus mempekerjakan asisten rumah tangga.

Cicilan kartu kredit menumpuk.

SUV yang sangat diinginkannya akhirnya tetap dibeli, tetapi tiga bulan kemudian ia kesulitan membayar cicilannya.

Proyek besar dengan Pak Herman gagal.

Bonus akhir tahun dipotong.

Suaminya mulai mempertanyakan kenapa keuangan mereka selalu kacau meski pendapatan Sheila tinggi.

Namun pukulan terbesar datang saat Sheila mencari dokumen pajak lama milik ibunya.

Ia menemukan sebuah salinan surat penjualan bengkel di dalam kardus.

Angkanya membuatnya duduk lemas.

Nilai transaksi bengkel jauh lebih besar daripada yang selama ini ia tahu.

Sheila menghitung.

Mengurangi perkiraan utang.

Menghitung kembali.

Jantungnya mulai berdetak cepat.

Malam itu ia menelepon Ratna.

Tidak diangkat.

Ia mengirim pesan.

Bu, sebenarnya berapa uang hasil penjualan bengkel dulu?

Tidak ada balasan.

Ia mengirim lagi.

Bu, aku cuma mau bicara.

Dua hari kemudian, Ratna akhirnya menelepon.

“Ada apa?”

Sheila langsung bertanya, “Ibu punya uang 3,6 miliar?”

Ratna diam beberapa detik.

“Pernah.”

“Pernah?”

“Sekarang sebagian sudah saya alokasikan.”

Suara Sheila langsung meninggi.

“Kenapa Ibu tidak pernah cerita?”

Ratna hampir tertawa.

Pertanyaan itu terdengar begitu ironis.

“Kenapa saya harus cerita?”

“Aku anak Ibu!”

“Kamu juga yang menganggap biaya rumah sakit saya sebagai penghalang membeli mobil.”

Sheila terdiam.

Ratna melanjutkan, tetap tenang.

“Kalau dua tahun lalu saya mengatakan saya punya uang miliaran, apakah kamu akan meminta pensiun saya setiap bulan?”

Tidak ada jawaban.

“Apakah kamu akan memberi saya kamar dekat dapur?”

Sheila masih diam.

“Apakah kamu akan menyuruh saya memasak saat baru pulang dari rumah sakit?”

“Bu…”

Suara Sheila akhirnya melemah.

“Aku salah.”

Ratna menutup mata.

Ia sudah lama membayangkan mendengar kalimat itu.

Anehnya, ketika akhirnya datang, kalimat itu tidak langsung menyembuhkan apa pun.

“Ya,” jawab Ratna.

“Kamu salah.”

Sheila mulai menangis.

“Aku bisa berubah.”

Ratna menarik napas panjang.

“Saya berharap begitu.”

“Kalau begitu pulanglah.”

“Tidak.”

Jawaban itu begitu cepat.

Sheila terisak.

“Ibu tidak sayang aku lagi?”

Ratna memandang kebun kecil dari jendela.

“Saya masih menyayangimu.”

“Lalu kenapa?”

“Karena menyayangi seseorang tidak selalu berarti membiarkannya menyakiti kita.”

Kalimat itu membuat Sheila terdiam lama.

Sebelum menutup telepon, Ratna berkata satu hal lagi.

“Kalau suatu hari kamu datang hanya untuk bertemu ibumu, pintu saya terbuka.”

“Tapi kalau kamu datang untuk uang saya, jangan datang.”

Enam bulan kemudian, pada suatu pagi yang dingin di Batu, bel rumah Ratna berbunyi.

Ratna sedang mengajarkan seorang peserta Rumah Kedua memperbaiki jilidan sebuah buku tua.

Ketika pintu dibuka, Sheila berdiri di sana.

Tidak ada mobil mewah di halaman.

Tidak ada pakaian kantor mahal.

Ia mengenakan jeans sederhana dan kemeja putih.

Di tangannya terdapat sesuatu yang membuat Ratna terdiam.

Boneka beruang tua.

Tobi.

Mata plastik yang hilang telah diganti.

Bagian telinganya yang robek dijahit, meskipun jahitannya tidak rapi.

Sheila menatap ibunya dengan mata merah.

“Aku menemukannya tertinggal di kotak lama.”

Ratna menerima boneka itu perlahan.

Sheila menunduk.

“Aku mencoba memperbaikinya.”

Tangannya gemetar.

“Ternyata susah.”

Ratna menyentuh jahitan kasar di telinga boneka.

“Lumayan.”

Sheila tertawa kecil di antara air mata.

“Aku ingat waktu umur delapan tahun, Ibu memperbaiki lengan Tobi saat aku sakit.”

Ratna tidak menjawab.

“Aku tidak pernah berterima kasih.”

Suara Sheila pecah.

“Untuk malam itu. Untuk semua malam yang lain. Untuk semuanya.”

Ratna menatap putrinya cukup lama.

Kemudian ia membuka pintu lebih lebar.

“Masuklah.”

Sheila mengusap air matanya.

“Boleh?”

Ratna mengangguk.

“Tapi hari ini saya tidak akan memasakkan steak.”

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Sheila tertawa tanpa nada sinis.

“Aku yang masak.”

Ratna mengangkat alis.

“Kamu bisa?”

“Belum.”

Sheila tersenyum kecil.

“Tapi mungkin Ibu bisa mengajariku.”

Ratna menatap boneka di tangannya.

Dulu ia percaya segala sesuatu yang rusak harus segera diperbaiki.

Kemudian ia belajar bahwa terkadang sesuatu harus dilepaskan lebih dulu sebelum bisa diperbaiki dengan benar.

Kertas yang sobek membutuhkan jarak agar tepinya bisa dirapikan.

Jilidan yang hancur harus dibongkar sebelum disusun kembali.

Dan hubungan manusia kadang membutuhkan hal yang sama.

Bukan uang 3,6 miliar yang akhirnya menyelamatkan Ratna.

Uang itu hanya memberinya pintu keluar.

Yang benar-benar menyelamatkannya adalah keberanian untuk berhenti meminta maaf karena ingin dihargai.

Sementara bagi Sheila, kehilangan akses pada kekayaan ibunya bukan hukuman terbesarnya.

Hukuman sebenarnya adalah menyadari bahwa selama bertahun-tahun ia memiliki seorang ibu yang akan memberikan hampir seluruh hidupnya untuknya, tetapi ia terlalu sibuk menghitung harga mobil untuk melihat nilainya.

Dan ketika akhirnya Sheila mengetuk pintu rumah kecil itu tanpa meminta satu rupiah pun, Ratna tahu satu hal.

Kali ini, mungkin ada sesuatu yang memang layak diperbaiki.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang