MEMBAYAR RP298 JUTA UNTUK PESTA MERTUA, TAPI DIA DAN ANAK-ANAKNYA MALAH DIUSIR DI DEPAN PINTU! SELEMBAR SERTIFIKAT KEMUDIAN MENGUBAH HIDUP MEREKA SELAMANYA!

Pagi berikutnya, pukul 07.15, Dimas masih duduk di ruang makan dengan kemeja yang sama seperti semalam.

Ia hampir tidak tidur.

Map hitam milik Dewi masih tergeletak di atas meja, tetapi kini isinya sudah berantakan. Beberapa sertifikat, bukti transfer, laporan bank, dan dokumen notaris memenuhi permukaan meja marmer yang selama bertahun-tahun ia banggakan kepada teman-temannya sebagai bagian dari “hasil kerja keras keluarga”.

Dewi turun dari lantai dua dengan pakaian kantor sederhana.

Wajahnya tampak lelah, tetapi langkahnya tenang.

“Dokumen apa lagi yang kamu sembunyikan dariku?” tanya Dimas.

Dewi berhenti beberapa langkah dari meja.

“Aku tidak pernah menyembunyikan sesuatu yang menjadi hakmu.”

“Jangan bermain kata-kata.”

“Aku serius.”

Dimas berdiri.

“Lima tahun kita menikah. Lima tahun, Dewi. Dan sekarang kamu bilang rumah ini milikmu, apartemen Ibu milikmu, semua biaya besar selama ini juga berasal darimu?”

Dewi menatapnya lama.

“Bukan sekarang aku mengatakannya. Kamu yang selama lima tahun tidak pernah bertanya.”

Dimas hendak membalas, tetapi ponselnya berdering.

Nama Bu Tari muncul di layar.

Ia langsung mengangkatnya.

“Ya, Bu.”

Suara perempuan di seberang terdengar panik dan keras.

“Dimas, ada orang dari pengelola apartemen datang! Mereka bilang izin tinggal Ibu akan dihentikan. Ini pasti ulah istrimu!”

Dimas memejamkan mata.

“Bu, nanti aku urus.”

“Apa yang mau kamu urus? Mereka bahkan membawa surat! Katanya unit ini atas nama Dewi. Sejak kapan apartemen ini jadi milik perempuan itu?”

Dimas melirik Dewi.

Dewi tidak menunjukkan reaksi apa pun.

“Bu, jangan lakukan apa-apa dulu.”

“Suruh dia datang ke sini sekarang!”

Telepon terputus.

Dimas membanting ponselnya ke meja.

“Kamu puas?”

“Belum.”

Jawaban itu begitu datar hingga Dimas terdiam.

Dewi menarik kursi lalu duduk.

“Aku ingin kita bicara sekali saja dengan jujur sebelum Maya datang.”

“Maya?”

“Pengacaraku.”

Wajah Dimas menegang.

“Kamu benar-benar serius soal cerai?”

Dewi menatap cincin di jarinya.

Lima tahun lalu, saat Dimas memasangkan cincin itu, ia percaya telah menemukan seseorang yang akan menerima Cinta dan Arka seperti anaknya sendiri.

Pada dua tahun pertama, Dimas memang tampak seperti itu.

Ia mengantar Arka ke sekolah.

Ia hadir saat Cinta menerima penghargaan akademik.

Ia bahkan pernah berkata di depan Anton yang sudah tiada melalui sebuah foto keluarga, “Aku akan jaga mereka.”

Namun perlahan semuanya berubah.

Perubahan pertama datang ketika usaha konsultan Dimas mulai bermasalah.

Kemudian Bu Tari semakin sering ikut campur.

Setiap kali Dewi memberikan bantuan keuangan, Dimas menerimanya sebagai sesuatu yang wajar.

Setiap kali Dewi diam saat Bu Tari mengejek anak-anaknya, Dimas menganggap diam itu sebagai persetujuan.

Dan setiap kali Dewi memaafkan, batas penghinaan mereka bergeser semakin jauh.

“Semalam anakku bertanya apa kesalahan mereka sampai tidak dianggap keluarga,” ujar Dewi pelan.

Dimas mengalihkan pandangan.

“Ibu sedang emosi.”

“Jangan salahkan ibumu untuk sesuatu yang kamu pilih sendiri.”

“Aku cuma tidak mau bikin keributan.”

“Dan untuk menghindari keributan, kamu memilih masuk ke pesta yang kubayar sambil meninggalkan istri dan dua anakmu di pintu.”

Dimas tidak menjawab.

Dewi melepas cincin pernikahannya.

Ia meletakkannya di atas meja.

Suara kecil ketika logam menyentuh marmer terdengar begitu jelas.

“Jawaban untuk pertanyaanmu adalah ya. Aku serius.”

Tepat pukul 08.00, Maya tiba bersama seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun bernama Pak Surya.

Dimas mengenalnya.

Pak Surya adalah notaris yang beberapa kali menangani dokumen keluarga Dewi.

Begitu melihatnya, wajah Dimas berubah.

“Kenapa dia datang?”

Dewi membuka map hitam.

“Karena ada bagian terakhir yang perlu kamu pahami.”

Pak Surya mengeluarkan sebuah dokumen bersampul cokelat.

“Pak Dimas,” katanya tenang, “saya diminta Ibu Dewi menjelaskan status beberapa aset agar tidak terjadi kesalahpahaman hukum.”

Dimas duduk perlahan.

Pak Surya membuka dokumen tersebut.

“Rumah yang sekarang ditempati Bapak dan Ibu Dewi dibeli sebelum pernikahan menggunakan kombinasi tabungan pribadi Ibu Dewi dan dana warisan almarhum suami pertamanya.”

Dimas mengepalkan tangan.

“Itu sudah dijelaskan.”

“Belum semuanya.”

Pak Surya membalik halaman.

“Apartemen yang ditempati Ibu Tari juga merupakan milik pribadi Ibu Dewi. Dibeli tiga tahun sebelum pernikahan.”

Dimas menatap Dewi.

“Kenapa kamu membeli apartemen sebesar itu sebelum kita menikah?”

Dewi tidak langsung menjawab.

Pak Surya justru menyerahkan dokumen ketiga.

Itulah dokumen yang semalam belum dikeluarkan Dewi.

Dimas membacanya.

Semakin lama ia membaca, semakin pucat wajahnya.

Dokumen tersebut adalah salinan akta pengalihan kepemilikan sebuah perusahaan investasi bernama Anggraeni Capital.

Nama itu tidak pernah terdengar asing bagi Dimas.

Justru karena nama tersebut berkali-kali muncul dalam hidupnya selama lima tahun terakhir.

Anggraeni Capital adalah perusahaan yang menanamkan modal pada kantor konsultan Dimas ketika usahanya hampir bangkrut empat tahun lalu.

Anggraeni Capital juga membeli gedung kantor yang selama ini disewa perusahaan Dimas dengan harga sangat murah.

Perusahaan itu bahkan menjadi pihak yang menjamin pinjaman bisnis Dimas ketika bank nyaris menolak pengajuan kreditnya.

Dimas mengangkat kepala perlahan.

“Jangan bilang…”

“Perusahaan itu milikku,” kata Dewi.

Ruangan mendadak sunyi.

“Tidak mungkin.”

“Didirikan Anton dan aku sebelas tahun lalu.”

Dimas memandangi dokumen tersebut lagi.

Nama Dewi tercantum jelas sebagai pemegang saham mayoritas sekaligus penerima manfaat utama setelah Anton meninggal.

Dimas berdiri begitu cepat hingga kursinya terdorong ke belakang.

“Jadi selama ini kamu mengendalikan perusahaanku?”

“Tidak.”

Dewi menggeleng.

“Aku menyelamatkan perusahaanmu.”

Dimas terdiam.

Empat tahun lalu, saat kantor konsultannya berada di ambang kebangkrutan, seorang investor misterius datang melalui perantara.

Dimas selalu membanggakan peristiwa itu sebagai bukti bahwa koneksi dan reputasinya menarik investor besar.

Ia bahkan pernah menceritakan kepada Bu Tari bahwa investor tersebut melihat “potensi luar biasa” dalam dirinya.

Kini ia tahu investor misterius itu adalah istrinya sendiri.

“Kenapa?” suaranya melemah.

“Karena waktu itu aku mencintaimu.”

Dewi menarik napas.

“Dan karena kamu bilang kalau perusahaan gagal, kamu takut tidak bisa menjadi ayah yang baik untuk Cinta dan Arka.”

Kalimat itu menusuk lebih dalam daripada kemarahan.

Dimas duduk kembali.

Untuk pertama kalinya sejak malam sebelumnya, kesombongannya runtuh.

Maya kemudian mendorong satu berkas lain ke tengah meja.

“Ini laporan pengeluaran lima tahun terakhir.”

Dimas membuka beberapa halaman.

Pembayaran cicilan mobil.

Biaya renovasi kantor.

Pendidikan lanjutan Dimas di Singapura.

Liburan keluarga.

Biaya rumah sakit Bu Tari.

Renovasi apartemen.

Semua memiliki jejak transaksi dari rekening pribadi Dewi atau perusahaan miliknya.

Bahkan beberapa jam tangan mahal yang selama ini Dimas pamerkan kepada rekan bisnis ternyata dibeli menggunakan kartu tambahan milik Dewi.

Dimas menutup berkas tersebut.

“Cukup.”

Dewi menatapnya.

“Belum.”

“Aku bilang cukup!”

“Lima tahun aku cukup.”

Suara Dewi tidak keras, tetapi membuat semua orang diam.

“Lima tahun aku melihat kamu perlahan berubah dari lelaki yang pernah berjanji menjaga anak-anakku menjadi lelaki yang diam ketika mereka dihina. Aku menanggung hampir seluruh hidup kita, tapi aku tidak pernah meminta kamu berterima kasih. Aku cuma meminta kamu memperlakukan mereka seperti manusia.”

Dimas menekan kedua telapak tangannya ke wajah.

“Aku akan bicara pada Ibu.”

“Sudah terlambat.”

Pukul 10.30, Bu Tari datang.

Ia masuk tanpa mengetuk, diikuti adik perempuan Dimas, Rina.

“Dewi!”

Suara Bu Tari menggema di ruang tengah.

“Keluar kamu!”

Dewi berjalan dari ruang kerja bersama Maya.

Bu Tari masih mengenakan pakaian mahal, tetapi wajahnya kini jauh berbeda dibandingkan malam pesta.

Tidak ada senyum kemenangan.

Hanya kemarahan dan ketakutan.

“Kamu mau mengusir perempuan tua dari tempat tinggalnya?” teriak Bu Tari.

“Saya memberikan waktu tiga puluh hari untuk pindah.”

“Lancang!”

Bu Tari menunjuk wajah Dewi.

“Sejak kamu masuk keluarga ini, kamu selalu merasa paling kaya!”

Dewi hampir tertawa mendengar kalimat tersebut.

Justru selama lima tahun ia tidak pernah mengoreksi ketika Bu Tari mengatakan kepada orang-orang bahwa rumah, apartemen, bahkan perusahaan Dimas berasal dari kekayaan keluarga mereka.

“Apartemen itu milik anak saya!” lanjut Bu Tari.

Dewi mengambil salinan sertifikat.

“Silakan baca.”

Bu Tari merampasnya.

Beberapa saat kemudian, tangannya mulai gemetar.

Nama Dewi tercetak jelas.

“Aku tidak percaya.”

“Mau saya panggil notaris?”

Bu Tari menoleh kepada Dimas.

“Dimas, bilang dia bohong!”

Dimas berdiri di dekat tangga.

Untuk pertama kalinya, ia tidak mampu menjawab ibunya.

Bu Tari mulai panik.

“Kamu bilang apartemen itu aset perusahaanmu!”

Dimas mengusap wajahnya.

“Aku juga baru tahu.”

Bu Tari memandang Dewi seolah baru pertama kali melihatnya.

Kemudian kemarahannya berubah menjadi penghinaan.

“Pantas saja! Kamu menikahi anakku supaya bisa menguasai hidupnya!”

Dewi mengernyit.

Maya tertawa pendek.

“Bu, justru secara finansial, klien saya jauh lebih mapan sebelum menikah dengan putra Ibu.”

Bu Tari menoleh tajam.

“Jangan ikut campur!”

“Saya pengacaranya. Memang pekerjaan saya ikut campur.”

Rina mencoba menenangkan ibunya.

Namun Bu Tari justru semakin emosi.

“Kalau bukan karena keluarga kami, siapa kamu? Janda dua anak!”

Ruangan membeku.

Dimas menatap ibunya.

“Bu, cukup.”

Namun Bu Tari belum selesai.

“Anak-anak itu juga bukan darah kita!”

Tiba-tiba terdengar suara dari lantai atas.

“Aku tahu.”

Semua orang menoleh.

Cinta berdiri di tangga.

Wajah gadis itu pucat.

Arka berdiri beberapa langkah di belakangnya.

Dewi langsung mendekat.

“Cinta, masuk kamar dulu.”

Namun Cinta menggeleng.

Ia masih membawa album foto yang semalam ingin diberikannya kepada Bu Tari.

“Aku tahu aku bukan cucu kandung Nenek.”

Bu Tari terdiam.

“Tapi aku pikir selama lima tahun, mungkin keluarga itu tidak harus selalu soal darah.”

Cinta turun perlahan.

Ia membuka album.

Di halaman pertama terdapat foto ulang tahun Bu Tari tiga tahun sebelumnya.

Cinta kecil berdiri di belakangnya sambil memegang kue.

Halaman berikutnya berisi foto Arka membantu membawa tas belanja Bu Tari.

Ada foto Dimas mengajari Arka bersepeda.

Ada foto seluruh keluarga saat Lebaran.

Di bawah setiap foto, Cinta menulis kalimat kecil dengan tangannya sendiri.

Hari ketika aku merasa punya keluarga lagi.

Hari ketika Arka memanggil Om Dimas Ayah untuk pertama kali.

Hari ketika kami pikir Nenek mulai menyayangi kami.

Cinta menutup album.

“Ternyata kami salah.”

Bu Tari tidak mampu menatapnya.

Arka mendekat sambil membawa kotak hadiah biru yang masih utuh.

Ia menaruhnya di atas meja.

“Arka tetap kasih cangkirnya.”

Dewi menahan air mata.

“Kenapa, Sayang?”

Arka menjawab polos.

“Karena hadiah tidak salah.”

Bahkan Maya yang sejak tadi tegas menundukkan kepala sejenak.

Bu Tari membuka mulut, tetapi tidak ada kata yang keluar.

Untuk pertama kalinya, perempuan yang selalu memiliki komentar untuk semua orang kehilangan suara.

Dimas berjalan mendekati Cinta.

“Cin…”

Cinta mundur.

Gerakan kecil itu membuat wajah Dimas berubah.

“Ayah minta maaf.”

Cinta menatapnya.

“Ayah masuk ke pesta.”

Empat kata.

Hanya empat kata.

Namun Dimas terlihat seperti baru menerima hukuman paling berat dalam hidupnya.

“Ayah salah.”

“Ibu tidak minta Ayah berkelahi,” kata Cinta. “Ibu cuma minta Ayah berdiri di luar bersama kami.”

Dimas menundukkan kepala.

Hari itu Bu Tari pulang dengan membawa salinan surat pengosongan apartemen.

Tiga minggu kemudian, ia pindah ke rumah Rina di Bekasi.

Gugatan perceraian Dewi dan Dimas berjalan tanpa banyak perlawanan.

Namun beberapa hari sebelum sidang pertama, Dimas datang menemui Dewi sendirian.

Ia tidak membawa ibunya.

Tidak membawa pengacara.

Tidak membawa alasan.

Dewi menerimanya di taman belakang.

“Aku tahu kamu tidak akan membatalkan gugatan,” katanya.

“Benar.”

“Aku juga tidak datang untuk meminta itu.”

Dimas mengeluarkan sebuah amplop.

Di dalamnya terdapat surat pengunduran dirinya dari perusahaan konsultannya sendiri.

Dewi terkejut.

“Kenapa?”

“Aku menjual sahamku untuk melunasi sebagian utang kepada Anggraeni Capital.”

“Kamu tidak harus melakukannya.”

“Aku harus.”

Dimas tersenyum pahit.

“Aku menghabiskan lima tahun meyakinkan semua orang bahwa aku membangun hidup ini. Ternyata sebagian besar fondasinya dibangun olehmu.”

Dewi tidak menjawab.

“Aku terlalu sibuk ingin terlihat berhasil sampai lupa menjadi orang yang layak dihormati.”

Ia menarik napas.

“Aku juga sudah menemui psikolog.”

Dewi mengangkat wajah.

Dimas melanjutkan.

“Bukan untuk mendapatkanmu kembali. Aku cuma… tidak mau menjadi lelaki yang sama.”

Dewi mengangguk kecil.

Untuk pertama kalinya sejak lama, ia melihat sedikit bayangan lelaki yang pernah dinikahinya.

Namun memaafkan seseorang tidak selalu berarti harus kembali hidup bersamanya.

Enam bulan kemudian, perceraian mereka resmi selesai.

Dewi tetap tinggal di rumah bersama Cinta dan Arka.

Anggraeni Capital berkembang semakin besar.

Namun perubahan terbesar justru terjadi pada sesuatu yang lebih sederhana.

Setiap Jumat malam, mereka bertiga memiliki kebiasaan baru.

Mereka memasak bersama di rumah.

Kadang hasilnya terlalu asin.

Kadang Arka menjatuhkan tepung ke lantai.

Kadang Cinta memutar musik terlalu keras.

Tetapi tidak ada lagi seseorang yang mengatakan bahwa mereka bukan keluarga.

Suatu Jumat sore, sebuah paket datang.

Nama pengirimnya membuat Dewi terdiam.

Bu Tari.

Di dalam kotak terdapat cangkir keramik bergambar bunga yang dahulu diberikan Arka.

Cangkir itu sudah pernah dipakai.

Di sampingnya ada sebuah surat tulisan tangan.

Dewi membacanya perlahan.

“Saya menyimpan cangkir ini karena seorang anak berusia delapan tahun ternyata memiliki hati lebih besar daripada saya. Saya belum pantas dipanggil Nenek. Tapi kalau suatu hari Cinta dan Arka bersedia, saya ingin meminta maaf langsung.”

Dewi menyerahkan surat itu kepada Cinta.

Cinta membacanya lalu menatap Arka.

“Menurut kamu?”

Arka mengangkat bahu.

“Kalau Nenek minta maaf, kita dengar aja.”

“Kamu nggak marah?”

Arka berpikir beberapa detik.

“Masih.”

“Terus?”

“Marah kan nggak harus selamanya.”

Dewi memandangi putranya.

Sekali lagi, orang paling kecil di ruangan itu memberikan jawaban paling dewasa.

Beberapa minggu kemudian, Bu Tari datang.

Kali ini ia berdiri di depan pintu rumah Dewi tanpa perhiasan mahal, tanpa suara tinggi, dan tanpa rasa memiliki.

Ketika pintu dibuka, ia tidak langsung masuk.

Ia menunggu.

Seperti seseorang yang akhirnya memahami bahwa sebuah rumah bukan milik orang yang paling keras mengakuinya.

Melainkan milik mereka yang mendapat izin untuk berada di dalamnya.

Arka muncul dari belakang Dewi.

Bu Tari menundukkan tubuh agar sejajar dengannya.

“Arka.”

“Iya?”

“Boleh Nenek masuk?”

Arka menoleh kepada ibunya.

Dewi tidak menjawab untuknya.

Keputusan itu milik Arka.

Anak tersebut berpikir sebentar, kemudian membuka pintu lebih lebar.

“Boleh.”

Bu Tari tersenyum kecil.

Namun sebelum ia melangkah masuk, Arka menambahkan satu kalimat.

“Tapi Kak Cinta juga keluarga.”

Bu Tari menahan napas.

Kemudian mengangguk.

“Iya.”

“Dan Ibu juga.”

“Iya.”

Arka akhirnya tersenyum.

“Kalau gitu boleh masuk.”

Dewi berdiri di samping pintu sambil menahan air mata.

Enam bulan sebelumnya, ia dan anak-anaknya diusir dari sebuah pesta yang ia bayar sendiri karena dianggap bukan bagian dari keluarga.

Hari itu, di depan rumah yang benar-benar miliknya, Dewi akhirnya memahami sesuatu.

Sertifikat memang bisa membuktikan siapa pemilik sebuah rumah.

Dokumen bisa menentukan siapa berhak atas apartemen, perusahaan, atau harta.

Tetapi tidak ada selembar sertifikat pun yang bisa memaksa seseorang menjadi keluarga.

Keluarga dibentuk oleh siapa yang memilih tetap berdiri di samping kita ketika pintu ditutup.

Dan malam ketika Dimas memilih masuk sendirian ke pesta Rp298 juta itu, Dewi memang kehilangan seorang suami.

Namun justru pada malam yang sama, ia mendapatkan kembali sesuatu yang jauh lebih berharga.

Harga dirinya.

Rumahnya.

Dan keberanian untuk memastikan bahwa kedua anaknya tidak akan pernah lagi berdiri di depan sebuah pintu sambil bertanya apakah mereka cukup pantas untuk disebut keluarga.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang