SAYA MENEMPUH PERJALANAN 3 JAM UNTUK MEMBERI KEJUTAN PADA SUAMI SAYA

Pintu lift berdenting, terbuka tepat di depan unit 804. Kakiku terasa seperti terbuat dari timah, berat dan sulit digerakkan. Namun, rasa sakit yang membakar di dadaku lebih kuat dari rasa takut. Aku melangkah keluar, berhenti tepat di depan pintu apartemen.

Suara tawa yang familiar terdengar dari dalam. Suara Leo. Dia tertawa dengan cara yang sama—renyah dan tulus—yang dulu selalu membuatku merasa aman. Tapi sekarang, tawa itu terasa seperti pisau yang menyayat sarafku.

Tanpa mengetuk, aku memasukkan kartu akses itu. Bip. Pintu terbuka.

Pemandangan di depanku adalah definisi dari kehancuran dunia.

Leo sedang berdiri di dekat meja makan, pakaian dinasnya sudah dilepas, hanya mengenakan kaus oblong putih. Di depannya, seorang wanita berdiri membelakangiku, mengenakan gaun sutra yang begitu elegan. Leo sedang merapikan rambut wanita itu, dan tangannya turun ke leher sang wanita, mengaitkan sesuatu yang membuat darahku berhenti mengalir.

Itu adalah dog tag milik Leo. Kalung yang seharusnya ada di dalam brankas terkunci di rumahku.

“Kamu terlihat cantik memakai itu, Sayang,” suara Leo terdengar lembut, jauh lebih lembut daripada saat dia berbicara padaku selama beberapa bulan terakhir. “Itu simbol bahwa kamu milikku, dan hanya milikku.”

Wanita itu berbalik, dan napasku tercekat. Wajah itu… dia adalah istri dari komandan unit Leo, Letnan Kolonel Adrian. Seorang wanita yang kukenal karena sering menghadiri acara jamuan perwira bersamaku.

“Leo, bagaimana kalau dia tahu? Istrimu?” tanya wanita itu, suaranya licin seperti ular.

“Maya?” Leo tertawa sinis. “Dia hanya wanita membosankan yang terjebak dalam rutinitas rumah tangga. Dia tidak akan pernah berani mempertanyakan apa pun. Dia terlalu naif untuk menyadari bahwa aku sudah lama tidak mencintainya.”

Aku tidak bisa menahan diri lagi. “Benarkah, Leo?”

Suara itu keluar dari tenggorokanku, serak namun tajam. Keduanya membeku. Leo berbalik, wajahnya yang santai berubah pucat pasi dalam sekejap. Dia tidak tampak marah, dia tampak panik—bukan karena menyakitiku, tapi karena rencananya yang rapi berantakan.

“Maya? Apa yang… bagaimana kamu bisa sampai di sini?” Leo melangkah maju, tangannya terangkat seolah ingin mencegahku mendekat.

Aku menatap wanita di sampingnya, lalu menatap kalung di lehernya. Dengan langkah perlahan, aku mendekat. Aku tidak menangis. Rasa sakit itu begitu dalam hingga air mata pun enggan keluar.

“Kamu bilang dog tag ini adalah hidup dan jiwamu, Leo,” kataku dingin, suaraku bergema di ruangan yang sunyi itu. Aku menatap tajam ke mata wanita itu. “Dan kamu memberikannya pada wanita ini sebagai lambang kepemilikan?”

“Maya, dengar, ini tidak seperti yang kamu lihat—” Leo mulai berargumen dengan nada otoritas militer yang biasa dia gunakan untuk memerintah bawahannya.

Aku tertawa. Tawa yang kering dan tanpa emosi. “Jangan gunakan nada itu padaku. Aku bukan prajuritmu, dan aku bukan lagi istri yang ‘naif’ yang kamu kenal.”

Aku merogoh tas tanganku, mengeluarkan kunci rumah kami dan meletakkannya di meja, tepat di samping piring makan yang tadinya kupersiapkan untuk kejutan ulang tahun kami.

“Simpan kalung itu, Leo. Karena mulai detik ini, hidupmu bukan lagi urusanku. Dan tentang ‘istri’ yang sering berkunjung setiap akhir pekan?” Aku menatap wanita itu dengan tatapan yang membuat dia melangkah mundur. “Selamat, Anda baru saja memenangkan pria yang mengkhianati komandannya sendiri, dan yang dengan bangga menginjak-injak sumpahnya di depan umum. Saya harap kalian menikmati kehancuran yang kalian bangun.”

Aku berbalik, tidak memberikan ruang bagi Leo untuk menjelaskan atau meminta maaf. Saat aku berjalan keluar dari pintu itu, aku merasa setiap langkah yang kubawa menjauh dari apartemen itu adalah langkah pertama menuju kebebasan yang sesungguhnya.

Leo mungkin bisa memberikan dog tag-nya pada orang lain, tapi dia tidak bisa lagi memegang kendali atas diriku. Di lobi, saat petugas keamanan menatapku dengan tatapan kasihan, aku hanya tersenyum tipis.

“Terima kasih atas informasinya,” kataku tenang.

Aku berjalan menuju mobilku. Langit sore itu mulai gelap, namun untuk pertama kalinya dalam lima tahun, aku merasa bisa melihat jalan di depanku dengan sangat jelas. Aku tidak lagi harus menunggu telepon, tidak lagi harus menahan cemas. Aku baru saja membuang sampah, dan untuk itu, aku seharusnya berterima kasih pada wanita di atas sana.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang