Pemandangan itu bagaikan sambaran petir di siang bolong. Donya Victoria, wanita yang selama ini aku kenal dingin dan tak tersentuh, kini sedang bersekongkol dengan pria yang seharusnya mengurus warisan ayahku.
Aku menahan napas, menempelkan punggungku ke dinding, berusaha agar suara napasku yang tercekat tidak terdengar.
“Kita harus menemukan di mana dia menyembunyikan bukti aset itu sebelum Clara mencium sesuatu,” suara Atty. Suarez terdengar rendah, namun tajam.

“Jangan khawatir, Suarez,” jawab Ibu dengan nada yang membuatku merinding. “Clara hanyalah gadis manja yang naif. Dia tidak akan pernah menyangka bahwa suamiku—si miliarder yang ‘mati’ itu—sebenarnya sudah lama menjadi beban bagi rencana kita untuk menguasai seluruh kekayaan ini.”
Jantungku berdegup kencang. Jadi, Ibu terlibat dalam hilangnya Ayah? Atau bahkan… dia yang merencanakan kematian palsu ini agar bisa menguasai semuanya?
Aku mundur perlahan, tidak berani masuk ke ruangan itu. Aku harus mencapai Jam Kakek di sudut ruang kerja Ayah yang lain sebelum mereka menyadari keberadaanku. Aku tahu letak jam itu—di ujung lorong yang gelap, tersembunyi di balik tirai beludru tebal.
Dengan langkah setenang mungkin, aku bergerak menjauh dari ruang kerja dan menuju ruang baca pribadi Ayah. Begitu aku masuk, aku mengunci pintu dari dalam. Ruangan itu berdebu dan beraroma kayu tua—aroma yang selalu mengingatkanku pada Ayah.
Aku berlari ke arah Jam Kakek yang besar. Tanganku yang gemetar memasukkan kunci kuningan itu ke lubang kecil di sisi jam. Klik.
Sebuah mekanisme tersembunyi berbunyi di dalam dinding. Perlahan, panel kayu di belakang jam bergeser, memperlihatkan sebuah ruang rahasia kecil yang hanya cukup untuk satu orang. Di dalamnya, ada sebuah brankas besi kecil dan sebuah surat yang ditulis tangan dengan tulisan tangan Ayah yang khas.
Aku menyambar surat itu dan membacanya dengan cepat di bawah cahaya redup:
“Clara, putriku tersayang. Jika kamu membaca ini, berarti mereka telah mengkhianatiku. Ibu tirimu dan pengacara itu telah meracuni makananku sedikit demi sedikit selama berbulan-bulan. Aku tahu mereka berencana membunuhku hari ini. Aku memalsukan kematianku dengan bantuan Mang Karding agar aku bisa mengumpulkan bukti penggelapan pajak dan pembunuhan berencana yang dilakukan Victoria. Di dalam brankas ini ada akses ke semua rekening luar negeri dan bukti rekaman percakapan mereka. Segera pergi dari rumah ini. Jangan percayai siapa pun selain Mang Karding. Temui dia di dermaga lama jam 12 malam nanti.”
Tiba-tiba, suara pintu yang digedor keras membuatku tersentak.
“Clara! Keluar sekarang! Aku tahu kau ada di sana!” teriak suara Ibu, kali ini penuh dengan kemarahan yang tidak lagi ditutupi.
Aku tidak punya waktu. Aku memasukkan brankas kecil itu ke dalam tas punggungku, menyambar jaket, dan menatap jendela besar yang menghadap ke kebun belakang. Hujan masih turun dengan deras.
Aku menyadari satu hal: malam ini, statusku bukan lagi sebagai putri seorang miliarder yang berduka, melainkan buronan di rumahku sendiri. Aku harus melarikan diri, menemui Ayah, dan mengungkap kejahatan Victoria sebelum dia sempat melenyapkanku seperti yang dia lakukan pada rencana-rencana Ayah lainnya.
Aku memanjat jendela, melompat ke dahan pohon mangga di luar, dan mulai berlari menembus kegelapan malam, menuju dermaga lama, menuju satu-satunya orang yang bisa membawaku kepada kebenaran.
