Rafael berjongkok tepat di depan saya, mengabaikan debu di lantai kantor yang kotor. Tatapan matanya—yang biasanya tajam saat menatap klien—kini dipenuhi dengan kemarahan yang tertahan, sebuah emosi yang tidak pernah saya lihat ia tunjukkan kepada siapa pun selain saat ia membela saya di masa lalu.
Bianca melangkah maju, senyum canggung terpasang di wajahnya yang dirias sempurna.
“Sir, dia tidak sengaja tersandung. Dia memang ceroboh, tadi aku mencoba membantunya tapi—”
Rafael tidak memotong ucapannya, ia bahkan tidak menoleh ke arah Bianca. Ia hanya mengeluarkan sapu tangan sutra dari saku jasnya, membungkus telapak tangan saya yang terluka dengan gerakan yang sangat lembut, seolah-olah saya adalah benda yang paling berharga di dunia ini.

“Aku bertanya sekali lagi,” suara Rafael sedingin es, bergema di sepanjang lorong yang sunyi senyap. “Siapa yang membuat istriku berada di posisi ini?”
Kata “istriku” menggantung di udara, membuat semua orang di sana seolah kehilangan kemampuan untuk bernapas. Manajer HR dan manajer departemen saya, yang tadinya berdiri tegak dengan penuh kesombongan, kini gemetar hebat hingga terdengar bunyi ketukan sepatu mereka di lantai.
Bianca membeku. Wajahnya yang tadi penuh percaya diri kini kehilangan warnanya. “I-istri? Maksud Anda… Maya?”
Rafael akhirnya berdiri. Ia tidak menatap Bianca, melainkan menatap manajer departemen saya dengan tatapan yang bisa membunuh.
“Tiga tahun lalu, aku memerintahkan perusahaan untuk tidak mempublikasikan identitasnya agar dia bisa berkembang dengan kemampuannya sendiri, bukan karena embel-embel namaku,” Rafael berkata dengan nada rendah yang menakutkan. “Namun, sepertinya kalian salah mengartikan privasinya sebagai kelemahan.”
Rafael membalikkan badan, menatap asistennya yang masih berdiri di belakang.
“Panggil pengacara perusahaan. Audit seluruh pengeluaran departemen ini dalam dua belas jam terakhir. Dan buatkan surat pemecatan untuk setiap orang yang bertanggung jawab atas diskriminasi, pencoretan bonus yang tidak sah, dan perundungan yang terjadi di lantai ini hari ini.”
“Termasuk dia?” asistennya bertanya sambil melirik Bianca.
“Terutama dia,” jawab Rafael datar.
Bianca terkesiap, air mata buaya mulai menggenang di matanya. “Rafael, ini salah paham! Aku hanya—”
“Jangan panggil namaku,” Rafael memotong, suaranya penuh rasa jijik. “Kamu hanyalah seorang konsultan luar yang masuk dengan rekomendasi orang dalam. Keberadaanmu di sini sudah berakhir sejak detik kamu melukai istriku.”
Rafael kemudian menoleh ke arah saya. Ia tidak memedulikan tatapan penuh rasa ingin tahu dari rekan-rekan kerja yang masih mematung di sana. Ia mengulurkan tangannya, meraih jemari saya yang tidak terluka, dan membimbing saya untuk berdiri.
“Ayo pulang,” ucapnya lembut, kontras dengan sikapnya terhadap orang-orang tadi.
Saat kami berjalan melewati kerumunan orang yang kini menunduk dalam-dalam, saya bisa merasakan betapa kontrasnya dunia kami. Tiga tahun saya berjuang, menelan hinaan, dan menjaga martabat saya sendiri di tempat ini, hanya untuk menyadari bahwa perlindungan yang saya pikir saya miliki selama ini hanyalah sebuah benang tipis yang baru saja diputus oleh kenyataan.
Di dalam mobil, keheningan menyelimuti kami. Rafael memegang tangan saya dengan erat sepanjang perjalanan.
“Kenapa kamu tidak memberitahuku?” ia bertanya pelan, suaranya sarat dengan penyesalan.
Saya menatap keluar jendela, melihat lampu kota yang berpendar. “Karena aku ingin menjadi Maya Santos yang bekerja keras, bukan Maya yang mendapatkan semuanya karena dia adalah istri Rafael Villar.”
Rafael menghela napas panjang, menatap saya dengan sorot mata yang dalam. “Maya, kamu sudah membuktikan dirimu selama tiga tahun. Dan mulai besok, jika kamu masih ingin bekerja, kamu akan bekerja dengan cara yang membuat mereka semua harus menghormatimu—bukan hanya karena aku, tapi karena siapa kamu sebenarnya.”
Saya menoleh padanya, menyadari bahwa kehidupan “biasa” saya di kantor itu sudah berakhir. Dan untuk pertama kalinya, saya tidak merasa takut. Saya merasa siap.
