Di ulang tahunku ke-65, putriku mengirimku ke panti lansia—empat hari kemudian ia datang panik karena kpr macet, lalu melihat sesuatu yang membuatnya pucat.

Di mata semua orang, aku mungkin hanya seorang perempuan berusia enam puluh lima tahun yang baru saja ditinggalkan putrinya di panti lansia pada hari ulang tahunnya sendiri.

Namun ketika pintu lift penthouse Asteria terbuka, hidup yang selama bertahun-tahun kusembunyikan dari Alea dan Baskara kembali menungguku.

Di atas meja kerja sudah tersusun tiga map tebal.

Aku baru saja duduk ketika Ratih, direktur Asteria, meletakkan satu map merah di hadapanku.

“Tim Mandala Artha menyelesaikan pemeriksaan awal tadi malam, Bu.”

Aku membuka halaman pertama.

Nama perusahaan Baskara tercetak jelas di sana.

Pradipta Digital Nusantara.

Perusahaan teknologi yang selama tiga tahun terakhir selalu dibanggakan Baskara seolah dibangun sepenuhnya dari keringatnya sendiri.

“Seberapa buruk?”

Ratih menarik napas.

“Lebih buruk dari dugaan kita.”

Aku mengangkat wajah.

“Jelaskan.”

“Pak Baskara mengajukan pendanaan Rp45 miliar. Sebagai bagian dari transaksi, dia menyatakan saham pendirinya bebas dari jaminan maupun sengketa.”

Aku tersenyum hambar.

Padahal tiga tahun lalu, ketika bisnis itu hampir mati sebelum berkembang, Baskara datang ke rumahku sambil membawa proposal dan wajah putus asa.

Dia meminta Rp7,5 miliar.

Aku memberikannya dengan satu syarat.

Pinjaman itu dijamin sebagian saham miliknya.

Semua tertulis jelas.

Semua ditandatangani di hadapan notaris.

“Dia tahu Mandala Artha Capital milik siapa?” tanyaku.

Ratih menggeleng.

“Secara struktur, kepemilikan Ibu tidak terlihat langsung. Pak Baskara sepertinya hanya tahu Mandala Artha adalah perusahaan investasi keluarga yang sangat tertutup.”

Itulah alasan aku tidak pernah membicarakan bisnis di depan Alea.

Setelah suamiku meninggal dua puluh dua tahun lalu, aku mengembangkan perusahaan distribusi kecil yang kami bangun bersama. Sedikit demi sedikit aku masuk ke properti, layanan kesehatan, lalu investasi.

Ketika Alea dewasa, aku sengaja membuat kehidupanku terlihat sederhana.

Aku ingin putriku memilih pasangan karena cinta.

Bukan karena warisan.

Ironisnya, mungkin justru karena terlalu lama melindunginya, aku membuat Alea tidak pernah belajar berdiri sendiri.

Ponselku bergetar.

Nama Alea muncul.

Aku membiarkannya.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Pada panggilan keempat, aku menjawab.

“Ya?”

“Ma!”

Suaranya panik.

“Mama di mana?”

Aku melihat sekeliling kamar luas yang menghadap perbukitan.

“Di tempat yang kamu antarkan kemarin.”

“Maksudku Mama sedang apa?”

“Membaca.”

“Ma, pembayaran KPR benar-benar berhenti.”

“Tentu.”

“Bank menelepon Baskara pagi ini. Ada pembayaran yang jatuh tempo dan rekening operasional kami juga lagi ketat.”

Aku diam.

“Ma, tolong aktifkan lagi dulu. Cuma beberapa bulan.”

“Tidak.”

Suara Alea meninggi.

“Mama kenapa jadi seperti ini?”

Aku menutup map di depanku.

“Alea, empat hari lalu kamu mengatakan keberadaan Mama membuat suamimu tertekan. Mama sudah pergi. Sekarang bukankah rumah kalian seharusnya jauh lebih tenang?”

Di seberang terdengar napasnya memburu.

“Itu beda masalah.”

“Bagi Mama sama.”

“Mama menghukum kami?”

“Tidak.”

Aku menjawab tenang.

“Mama hanya berhenti membiayai orang dewasa.”

Alea terdiam cukup lama.

Kemudian terdengar suara Baskara di belakangnya.

“Kasih aku teleponnya.”

Beberapa detik kemudian suara menantuku terdengar.

“Ma, kita keluarga. Jangan gara-gara salah paham kecil jadi begini.”

“Salah paham kecil?”

“Alea mungkin salah bicara.”

“Dan depresimu?”

Dia terdiam.

Aku melirik Ratih.

Ratih menunduk menyembunyikan senyum.

“Masih berat?” tanyaku.

“Ma, soal itu…”

“Semoga setelah Mama pergi, kesehatanmu membaik.”

Aku menutup telepon.

Hari berikutnya aku tidak menerima satu pun panggilan mereka.

Namun laporan dari tim investasi terus datang.

Semakin kubaca, semakin jelas alasan Baskara begitu ingin aku meninggalkan rumah.

Bukan karena dia depresi.

Baskara membutuhkan rumah itu untuk menjamu calon investor.

Dia malu jika seorang perempuan tua yang dianggapnya hanya mantan pedagang hidup bersama mereka.

Dalam salah satu pesan yang ditemukan tim pemeriksa dari korespondensi internal perusahaan, Baskara bahkan menulis kepada koleganya bahwa rumah tersebut adalah miliknya dan dibeli dari hasil investasi pribadinya.

Padahal uang muka Rp1,8 miliar berasal dariku.

Lebih buruk lagi, ada transfer dari rekening perusahaan ke rekening pribadi yang tidak dapat dijelaskan.

Aku tidak langsung menghentikan proses pendanaan.

Aku justru meminta tim melanjutkannya.

“Biarkan dia datang sampai garis akhir,” kataku.

Ratih menatapku ragu.

“Kenapa, Bu?”

“Karena kalau kita menghentikannya sekarang, dia akan mengatakan investor berubah pikiran.”

Aku menatap tanda tangan Baskara pada dokumen jaminan.

“Aku ingin dia tahu persis alasan pintu itu ditutup.”

Pada hari keempat, pukul sembilan pagi, Alea datang ke Asteria.

Bukan dengan mobil yang biasa digunakannya.

Dia turun dari taksi daring.

Rambutnya tidak tertata.

Wajahnya pucat.

Dia bahkan masih mengenakan sandal rumah.

Aku sedang sarapan bersama beberapa penghuni ketika petugas resepsionis mendatangiku.

“Bu Kirana, ada keluarga yang mencari Ibu.”

Aku tahu siapa.

Alea masuk beberapa detik kemudian.

Begitu melihatku, dia hampir berlari.

“Ma.”

Semua orang menoleh.

Aku meletakkan cangkir teh.

“Ada apa?”

“Kita harus bicara.”

“Bicaralah.”

“Berdua.”

Aku bangkit.

Kami berjalan menuju lift.

Ketika aku menekan tombol lantai paling atas, Alea mengernyit.

“Bukannya kamar penghuni di lantai tiga sampai enam?”

“Benar.”

“Terus kita mau ke mana?”

Pintu lift terbuka.

Ratih sudah menunggu di depan.

“Selamat pagi, Ketua Kirana.”

Langkah Alea berhenti.

Dia menoleh kepadaku.

“Ketua?”

Aku tidak menjawab.

Kami berjalan melewati ruang rapat berdinding kaca.

Di ujung koridor tergantung sebuah foto peresmian Asteria tujuh tahun lalu.

Aku berdiri di tengah foto itu sambil memegang gunting peresmian.

Di bawahnya terdapat tulisan kecil.

Kirana Maheswari, Pendiri Maheswari Group.

Alea berhenti.

Wajahnya kehilangan warna.

“Mama…”

Aku membuka pintu ruang kerja.

Di dalam, sebuah layar besar sedang menyala.

Logo Mandala Artha Capital terpampang di sana.

Alea melihat logo itu.

Kemudian melihatku.

Lalu melihat Ratih.

Tangannya perlahan menutup mulut.

“Mandala Artha…”

“Anak perusahaan investasi Maheswari Group,” jawab Ratih.

Alea seperti kehilangan kekuatan di lutut.

Dia duduk tanpa diminta.

“Mama pemiliknya?”

“Pemegang saham pengendali.”

Matanya langsung berkaca-kaca.

“Baskara nggak tahu.”

“Aku tahu.”

“Kalau dia tahu…”

“Apa?”

Aku duduk di seberangnya.

“Dia tidak akan mengusir Mama?”

Alea menangis.

Kalimat itu jauh lebih menyakitkan daripada kemarahannya.

Karena tanpa sadar, putriku baru saja mengakui sesuatu yang sejak awal sudah kupahami.

Baskara menghormatiku hanya jika aku berguna.

Dan Alea membiarkannya.

“Kenapa Mama nggak pernah bilang?”

“Karena Mama ingin tahu siapa yang menyayangi Mama ketika nama perusahaan tidak berdiri di belakang Mama.”

Alea menunduk.

Ponselnya berdering.

Baskara.

Dia menolak panggilan itu.

Namun telepon masuk lagi.

Dan lagi.

Akhirnya Alea menjawab dengan pengeras suara.

“Alea, kamu di mana?”

“Asteria.”

“Bagus. Bawa Mama pulang sekarang.”

Aku hampir tersenyum.

“Kenapa?”

“Mandala Artha menunda penandatanganan. Tim mereka menemukan dokumen jaminan saham lama. Aku butuh Mama menandatangani surat pelepasan.”

Alea menatapku.

Aku bisa melihat sesuatu berubah di wajahnya.

Mungkin untuk pertama kali dalam hidupnya, dia mendengar suaminya tanpa berusaha membenarkannya.

“Jadi kamu mau Mama pulang karena butuh tanda tangan?”

“Jangan mulai lagi. Kalau investasi ini gagal, kita habis.”

“Bagaimana dengan depresimu?”

Baskara terdiam.

“Apa?”

“Empat hari lalu kamu terlalu depresi untuk tinggal serumah dengan Mama.”

“Alea, sekarang bukan waktunya.”

“Jawab.”

“Ya ampun, itu cuma alasan supaya dia mau pindah!”

Ruangan menjadi sunyi.

Baskara mungkin baru menyadari kesalahannya.

“Alea?”

Putriku mematikan telepon.

Air matanya jatuh.

“Aku tahu dia bohong, Ma.”

Pengakuan itu keluar begitu pelan.

Aku membeku.

Alea menangis semakin keras.

“Aku tahu sejak awal.”

Itulah kalimat yang benar-benar menghancurkan hatiku.

Bukan Baskara.

Putriku sendiri.

“Aku takut rumah tanggaku berantakan,” katanya. “Baskara bilang kalau Mama tetap tinggal, investor akan menganggap kami masih bergantung pada orang tua. Dia bilang cuma sementara.”

“Jadi kamu memilih membuang Mama?”

“Aku pikir Mama akan baik-baik saja.”

Aku menatapnya lama.

“Mama memang baik-baik saja.”

Dia semakin menangis.

“Masalahnya bukan Mama bisa bertahan atau tidak. Masalahnya adalah kamu bersedia melakukannya.”

Siang itu Baskara datang.

Berbeda dengan empat hari sebelumnya, tidak ada senyum lebar di wajahnya.

Dia masuk ke ruang rapat Asteria dengan kemeja kusut.

Begitu melihatku duduk di ujung meja bersama tim Mandala Artha, langkahnya berhenti.

“Ma?”

Direktur investasi berdiri.

“Pak Baskara, perkenalkan Ibu Kirana Maheswari, pemegang saham pengendali Mandala Artha Capital sekaligus kreditur yang tercatat dalam perjanjian jaminan saham perusahaan Anda.”

Baskara tidak bergerak.

Aku mendorong kotak kayu tua ke tengah meja.

Dia mengenalinya.

Wajahnya seketika pucat.

“Ma, saya bisa jelaskan.”

“Silakan.”

Baskara duduk.

Selama hampir satu jam dia berbicara.

Tentang tekanan.

Tentang kebutuhan perusahaan.

Tentang kesalahan administrasi.

Tentang rencana mengembalikan uang setelah pendanaan masuk.

Namun semakin banyak dia menjelaskan, semakin jelas kebohongannya.

Tim investasi menemukan bahwa sebagian dana perusahaan digunakan untuk gaya hidup pribadi.

Mobil.

Liburan.

Keanggotaan klub.

Bahkan cincin berlian Alea ternyata dibeli menggunakan uang perusahaan.

Cincin yang kupikir dibeli Baskara dari hasil kerjanya sendiri.

“Pendanaan dibatalkan,” kata direktur investasi.

Baskara berdiri.

“Tidak bisa!”

“Bisa.”

Aku menatapnya.

“Dan perjanjian pinjaman lama akan ditagih sesuai ketentuan.”

Baskara menoleh kepada Alea.

“Kamu diam saja?”

Alea perlahan melepas cincin berlian dari jarinya.

Dia meletakkannya di meja.

“Aku sudah terlalu lama tidak diam ketika seharusnya diam, dan terlalu lama diam ketika seharusnya bicara.”

Baskara membeku.

“Alea.”

“Aku mau berpisah.”

Untuk pertama kalinya, aku melihat menantuku benar-benar kehilangan kata-kata.

Tiga bulan kemudian, rumah mewah itu dijual.

Sebagian hasilnya digunakan menyelesaikan kewajiban KPR.

Mobil dikembalikan.

Perusahaan Baskara tidak bangkrut, tetapi dia kehilangan kendali setelah restrukturisasi utang.

Aku tidak menghancurkannya.

Aku hanya berhenti menyelamatkannya dari konsekuensi pilihannya sendiri.

Alea pindah ke apartemen kecil.

Untuk pertama kali dalam hidupnya, dia membayar listrik sendiri.

Dia juga mencari pekerjaan.

Awalnya berat.

Beberapa kali dia menelepon sambil menangis karena gajinya tidak sebesar uang yang biasa dia habiskan dalam sebulan.

Aku mendengarkan.

Tetapi aku tidak mentransfer uang.

Enam bulan kemudian, pada suatu sore, Alea datang ke Asteria membawa kue sederhana.

“Ma, besok ulang tahun Mama menurut kalender Jawa,” katanya malu-malu. “Aku tahu bukan ulang tahun resmi. Tapi aku ingin merayakannya.”

Aku tertawa kecil.

Dia duduk di sampingku.

“Mama kapan pulang?”

Aku menatap taman.

“Pulang ke mana?”

“Ke rumah Mama.”

Aku tersenyum.

Alea belum tahu satu hal terakhir.

Aku tidak pernah benar-benar tinggal di Asteria karena tidak punya tempat lain.

Penthouse itu memang disiapkan untukku sejak awal sebagai tempat bekerja dan beristirahat.

Rumah lamaku masih ada.

Namun aku belum ingin kembali.

Di Asteria, untuk pertama kalinya setelah puluhan tahun menjadi ibu, istri, nenek bagi perusahaan, dan penyelamat bagi semua orang, aku belajar menjadi Kirana saja.

“Alea.”

“Ya?”

“Dulu Mama pikir tugas seorang ibu adalah memastikan anaknya tidak pernah jatuh.”

Aku menggenggam tangannya.

“Ternyata Mama salah.”

Dia menatapku.

“Kadang tugas seorang ibu adalah berhenti menaruh bantal di bawah anaknya, supaya ketika jatuh, dia belajar bagaimana caranya berdiri.”

Alea tersenyum sambil menangis.

Lalu dia mengeluarkan sesuatu dari tasnya.

Sebuah amplop.

“Apa ini?”

“Uang.”

Aku mengernyit.

“Untuk apa?”

“Tagihan listrik bulan terakhir sebelum rumah dijual.”

Aku hampir tertawa.

“Mama sudah membatalkan autodebetnya.”

“Aku tahu.”

Alea mendorong amplop itu ke tanganku.

“Aku yang bayar waktu itu. Ini bukan untuk mengganti tagihan.”

“Lalu?”

Dia menatapku dengan mata yang berbeda dari enam bulan lalu.

Tidak ada kepanikan.

Tidak ada rasa berhak.

“Aku cuma ingin suatu hari nanti, kalau Mama melihatku, Mama tidak lagi melihat anak yang harus diselamatkan.”

Aku memeluknya.

Untuk pertama kali setelah sekian lama, aku tidak merasa sedang memeluk seorang anak kecil.

Aku sedang memeluk seorang perempuan dewasa.

Dan saat itulah aku akhirnya memahami hadiah terbaik yang kuterima pada ulang tahunku yang ke-65.

Bukan rumah.

Bukan perusahaan.

Bukan kemenangan atas Baskara.

Hadiah itu adalah kehilangan sesuatu yang selama ini kusangka sebagai cinta.

Ketergantungan.

Karena setelah ketergantungan itu runtuh, barulah aku dan putriku belajar mencintai satu sama lain tanpa rekening bank di antara kami.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang