Aku selalu mengira pacarku cuma jual mahal, sampai suatu hari aku mendengar isi hatinya sendiri—Dan tiga kalimat pendek itu membuatku membuang minumannya lalu berhenti mengejarnya tanpa dia tahu alasannya.

Aku menatap buku catatan biru tua di tangan Aksa, lalu memalingkan wajah sebelum ekspresiku mengkhianati apa pun.

“Nggak perlu,” ulangku. “Aku bisa belajar sama Sienna.”

Aksa masih berdiri di depan meja.

Biasanya, kalau aku menolaknya seperti itu, aku pasti akan tertawa beberapa detik kemudian, menarik ujung bajunya, lalu mengaku hanya bercanda.

Kali ini aku benar-benar diam.

“Kamu kenapa?” tanyanya.

“Nggak kenapa-kenapa.”

Aku membuka buku Sienna dan pura-pura membaca.

Aksa tidak bergerak.

Lalu suara itu kembali terdengar di kepalaku.

Bukan suara dari mulutnya.

Suara pikirannya.

“Bodoh banget. Kenapa gue malah ninggalin latihan cuma buat nganter ini? Tinggal kasih nanti sepulang sekolah juga bisa.”

Aku membeku.

Jadi kata bodoh tadi bukan untukku?

Belum sempat aku memahami semuanya, suara berikutnya muncul.

“Sekarang dia marah. Gara-gara gue lagi. Harus ngomong apa?”

Aku perlahan mengangkat kepala.

Aksa masih memasang wajah datar yang sama.

Tapi sekarang aku melihat sesuatu yang sebelumnya luput.

Tangannya mencengkeram buku catatan itu terlalu kuat.

“Nadira.”

“Apa?”

“Kamu marah?”

“Enggak.”

“Bohong.”

Biasanya aku akan senang mendengarnya begitu perhatian.

Namun kalimat di lapangan masih terngiang.

Merepotkan banget.

Kenapa belum pergi juga?

Aku tidak boleh menyimpulkan terlalu cepat.

Kalau kemampuan aneh ini benar-benar membuatku mendengar pikiran orang, aku harus memastikan apa yang sebenarnya terjadi.

“Balik latihan sana,” kataku.

Aksa menatapku beberapa detik sebelum akhirnya meletakkan buku catatan itu di sudut meja.

“Kalau butuh, pakai.”

Dia pergi.

Begitu punggungnya menghilang dari pintu, Sienna langsung menyenggol lenganku.

“Kalian berantem?”

“Enggak.”

“Kamu kalau bohong jelek banget.”

Aku menatap buku biru itu.

Akhirnya kubuka.

Di halaman pertama tertulis dengan tulisan tangan Aksa yang rapi.

Rumus dasar yang sering kamu lupa.

Di bawahnya ada catatan kecil.

Jangan langsung panik kalau lihat soal panjang. Cari yang diketahui dulu.

Dadaku terasa sesak.

Hampir semua halaman dipenuhi tanda berwarna, contoh soal, bahkan beberapa kesalahan yang sering kulakukan.

Dia pasti menghabiskan berjam-jam membuatnya.

Lalu kenapa pikirannya di lapangan mengatakan aku merepotkan?

Sepanjang sisa pelajaran, aku tidak bisa berkonsentrasi.

Sore hari, jawabannya datang tanpa sengaja.

Aku sedang berjalan menuju gerbang ketika melihat Keisha berdiri bersama Aksa di dekat lorong gedung olahraga.

Aku hampir memanggilnya, tetapi langkahku berhenti ketika mendengar Keisha berkata, “Kamu keterlaluan, tahu.”

Aksa bersandar pada dinding.

“Apaan?”

“Nadira.”

Jantungku berdegup keras.

Aku berdiri di balik tiang, cukup jauh agar mereka tidak melihatku.

“Dia tadi kelihatan mau nangis,” lanjut Keisha.

Aksa langsung berdiri tegak.

“Dia nangis?”

“Nah, kan. Panik.”

“Gue cuma nanya.”

“Kalau sayang, bilang sayang. Susah amat.”

Aksa mendecakkan lidah.

“Berisik.”

Keisha tertawa kecil.

Kemudian suara pikirannya terdengar lagi.

Kali ini sangat jelas.

“Kalau gue terlalu kelihatan suka, nanti dia tahu gue nggak bisa nolak apa pun dari dia.”

Aku menahan napas.

Lalu satu pikiran lain menyusul.

“Mana tadi minumannya dibuang lagi. Padahal gue haus.”

Aku hampir keluar dari persembunyian.

Hampir.

Sampai Keisha tiba-tiba berkata, “Tapi soal yang tadi, kamu harus jujur sama Nadira.”

Wajah Aksa berubah.

“Soal apa?”

“Jangan pura-pura lupa.”

Keisha merendahkan suaranya.

“Aku dengar sendiri Jevan ngomong. Dia bilang Nadira terlalu nempel sama kamu dan bikin kamu kelihatan kayak cowok yang nggak punya ruang.”

Aksa diam.

“Dan kamu nggak membantah,” lanjut Keisha.

Aku mencengkeram tali tas.

Aksa menatap lantai.

Kemudian pikirannya muncul.

“Merepotkan banget.”

Tubuhku menegang.

Itu kalimat yang sama.

Namun setelahnya, akhirnya aku mendengar kelanjutannya.

“Jevan memang merepotkan. Kenapa dia harus ngomong begitu di depan Nadira?”

Aku terdiam.

Seolah potongan teka-teki yang sejak siang membuatku menangis tiba-tiba bergeser ke tempat yang benar.

Lalu kalimat kedua muncul.

“Kenapa belum pergi juga?”

Aku teringat saat di lapangan.

Aksa menatapku.

Namun mungkin pikirannya bukan tentang aku.

Dan benar saja, ingatan berikutnya seolah menjawab sendiri.

“Kenapa Keisha belum pergi juga? Kalau dia terus berdiri di dekat sini, anak-anak pasti mulai gosip lagi. Nadira bisa salah paham.”

Aku menutup mulut.

Ya Tuhan.

Jadi sejak awal aku hanya mendengar potongan pikiran.

Bukan konteksnya.

Aku hampir tertawa karena merasa begitu bodoh.

Namun kemudian Keisha mengatakan sesuatu yang membuat senyumku kembali hilang.

“Aksa, kamu sadar nggak sih cara kamu memperlakukan Nadira bisa bikin dia capek?”

Aksa terdiam.

“Dia selalu datang duluan. Dia yang pegang tanganmu duluan. Dia yang nyari kamu. Dia yang bilang kangen. Bahkan waktu kalian ulang tahun pacaran, dia yang ngajak pergi.”

“Aku tahu.”

“Terus?”

Tidak ada jawaban.

Keisha menghela napas.

“Orang nggak bisa baca pikiranmu.”

Kalimat itu menusukku tepat di dada.

Ironis sekali.

Karena sekarang justru aku bisa.

Dan mungkin itulah masalah terbesar kami selama ini.

Aku terlalu sering menerjemahkan diamnya Aksa sesuai keinginanku sendiri.

Sementara Aksa terlalu percaya bahwa tindakannya sudah cukup untuk menjelaskan perasaannya.

Aku keluar dari balik tiang.

“Aksa.”

Keduanya menoleh.

Wajah Aksa langsung berubah.

“Nadira?”

Keisha melihat kami bergantian lalu tersenyum tipis.

“Oke. Aku pulang dulu.”

Setelah Keisha pergi, tinggal kami berdua.

Aksa memasukkan tangan ke saku.

“Kamu dari tadi di situ?”

“Lumayan.”

“Nguping?”

“Sedikit.”

Dia menghela napas.

Aku berdiri di depannya.

Biasanya jarak sedekat ini akan membuatku otomatis memeluk lengannya.

Kali ini tidak.

Aksa menyadarinya.

Matanya turun ke tanganku.

Pikirannya terdengar.

“Kenapa dia nggak pegang tangan gue?”

Aku hampir tersenyum.

Tapi aku menahannya.

“Aksa.”

“Hm?”

“Selama ini kamu terganggu nggak kalau aku sering datang ke lapangan?”

“Kadang.”

Jawaban itu mengejutkanku.

Aku mengira setelah mengetahui konteks pikirannya, semuanya akan berubah menjadi manis.

Ternyata tidak.

“Kadang?”

“Kalau aku lagi latihan serius.”

“Kenapa nggak bilang?”

“Pernah.”

Aku teringat kalimatnya minggu lalu.

Nggak usah datang ke lapangan terus.

Benar.

Dia pernah mengatakan itu.

Aku saja yang tidak mendengarkan.

“Kalau aku peluk kamu?”

Aksa menatapku.

“Di depan orang banyak?”

“Iya.”

“Kadang malu.”

“Kalau aku cium pipimu?”

“Lebih malu.”

“Kalau aku manja?”

Aksa menghela napas.

“Kadang capek.”

Jawaban terakhir itu menyakitkan.

Namun anehnya, kali ini aku tidak ingin lari.

Karena untuk pertama kalinya kami benar-benar bicara.

“Berarti aku memang merepotkan?”

Aksa langsung mengangkat kepala.

“Bukan begitu.”

“Terus?”

Dia terdiam lama.

Aku tidak mendengar pikirannya.

Mungkin kemampuan aneh itu tidak selalu muncul.

Atau mungkin aku memang harus mendengar jawaban dari mulutnya kali ini.

Akhirnya Aksa berkata, “Aku suka kamu datang.”

Aku membeku.

“Tapi nggak setiap saat.”

Dia menelan ludah.

“Aku suka kamu pegang tangan aku. Tapi kalau teman-teman lagi ngeledek, kadang aku malu.”

Aku tidak mengatakan apa-apa.

“Aku suka kamu manja.”

Telinganya mulai merah.

“Tapi kadang aku juga butuh sendiri.”

Aku tersenyum tipis.

“Terus kenapa nggak pernah ngomong?”

Aksa menatapku seolah pertanyaanku jauh lebih sulit daripada soal matematika mana pun.

“Takut kamu sedih.”

Aku tertawa pendek.

“Dan karena kamu nggak ngomong, aku malah hampir mutusin kamu hari ini.”

Wajahnya langsung pucat.

“Apa?”

Nah.

Untuk pertama kalinya aku melihat Aksa Pradana benar-benar kehilangan ketenangannya.

“Aku kira kamu muak sama aku.”

“Dari mana?”

“Pokoknya.”

“Nadira.”

Dia maju satu langkah.

“Kamu serius mau putus?”

Aku tidak menjawab.

Tiba-tiba suara pikirannya terdengar lagi.

“Jangan.”

Satu kata.

Kemudian satu lagi.

“Jangan pergi.”

Dan terakhir.

“Aku sayang kamu.”

Dadaku langsung terasa hangat.

Tiga kalimat pendek.

Tiga kalimat yang sangat berbeda dari tiga kalimat yang kudengar siang tadi.

Aku menatapnya.

“Aksa.”

“Apa?”

“Kalau sayang seseorang, sesekali bilang.”

Dia mengerutkan kening.

“Kenapa tiba-tiba ngomong begitu?”

“Karena orang nggak bisa baca pikiranmu.”

Wajahnya mendadak aneh.

Entah kenapa aku hampir tertawa.

Aku mengulurkan tangan.

Namun kali ini aku tidak langsung menggenggam tangannya.

“Boleh?”

Aksa melihat tanganku.

Kemudian telinganya memerah.

Dia memasukkan jemarinya di antara jemariku.

“Boleh.”

Kami berjalan menuju gerbang bersama.

Sejak hari itu hubungan kami berubah.

Bukan menjadi sempurna.

Justru menjadi lebih jujur.

Aku berhenti menganggap semua penolakan Aksa sebagai bentuk jual mahal.

Kalau dia berkata sedang ingin sendiri, aku memberinya ruang.

Kalau aku membutuhkan perhatian, aku mengatakannya tanpa berharap dia menebak.

Dan Aksa perlahan belajar melakukan sesuatu yang selama ini sangat sulit baginya.

Mengucapkan perasaannya.

Awalnya menyedihkan sekali.

Pesan pertamanya setelah pertengkaran kami berbunyi, “Sudah makan?”

Aku membalas, “Belum.”

Lima menit kemudian dia mengirim, “Makan.”

Aku menatap layar lama sekali sebelum mengetik, “Romantis banget.”

Dia membalas, “Berisik.”

Namun beberapa detik kemudian muncul pesan kedua.

“Aku khawatir kamu sakit.”

Aku tersenyum sendirian.

Kemampuan membaca pikiranku sendiri perlahan menghilang.

Dalam beberapa hari, aku hanya sesekali mendengar suara kecil.

Kemudian seminggu setelah kejadian di lapangan, suara itu lenyap sepenuhnya.

Aneh.

Aku tidak pernah tahu dari mana kemampuan itu datang.

Tapi aku tidak terlalu menyesal kehilangannya.

Sampai tiga bulan kemudian.

Saat itu kami sedang duduk di bangku taman sekolah setelah ujian terakhir.

Aksa membuka tasnya dan mengeluarkan dua botol minuman.

Dia memberikan satu kepadaku.

Aku tertawa.

“Sekarang gantian?”

“Biar adil.”

Aku menerima botol itu.

“Aksa.”

“Hm?”

“Kamu ingat waktu aku buang minuman di lapangan?”

“Masih.”

“Kesal?”

“Banget.”

Aku tertawa.

“Maaf.”

Aksa menatapku beberapa saat.

Kemudian dia berkata, “Waktu itu sebenarnya aku mau ngomong sesuatu.”

“Apa?”

Dia mengalihkan pandangan.

“Nggak jadi.”

“Aksa.”

“Nggak penting.”

Aku menyipitkan mata.

“Bilang.”

Dia diam.

Aku menunggu.

Tiba-tiba, setelah berbulan-bulan tidak pernah terjadi lagi, suara itu muncul di kepalaku.

Sangat samar.

“Aku sebenarnya mau bilang jangan sering-sering beliin minuman. Uang jajannya disimpan saja. Gue tahu dia lagi nabung buat hadiah ulang tahun ibunya.”

Aku terpaku.

Aksa masih menatap lurus ke depan.

Suara itu berlanjut.

“Makanya gue pikir merepotkan banget harus pura-pura nggak tahu.”

Mataku mulai panas.

Lalu kalimat terakhir terdengar.

“Padahal dari dulu, yang paling gue takutkan bukan dia terlalu lengket.”

Aku menahan napas.

“Gue takut suatu hari dia berhenti mengejar.”

Aku menatap laki-laki di sampingku.

“Aksa.”

Dia menoleh.

Tanpa mengatakan apa-apa, aku menyandarkan kepala di bahunya.

Aksa tidak menjauh.

Tidak mengerutkan kening.

Tidak berkata jangan sembarangan.

Dia justru menggenggam tanganku.

“Kok tiba-tiba?”

“Nggak apa-apa.”

“Bohong.”

Aku tersenyum.

Mungkin kemampuan itu tidak pernah benar-benar hilang.

Mungkin ia hanya datang ketika aku terlalu sibuk menebak-nebak seseorang sampai lupa bertanya.

Tapi hari itu aku menyadari sesuatu yang jauh lebih penting.

Mendengar isi hati seseorang ternyata bukan hadiah.

Karena pikiran manusia datang dalam potongan-potongan. Satu kalimat bisa terdengar kejam jika kita tidak tahu apa yang muncul sebelum dan sesudahnya.

Dan cinta tidak seharusnya dibangun dari tebakan.

Aku pernah yakin Aksa menyayangiku hanya karena telinganya memerah.

Lalu aku pernah yakin dia membenciku hanya karena tiga kalimat pendek yang kudengar tanpa konteks.

Keduanya sama-sama kesalahan.

Jadi aku mengangkat kepala dari bahunya.

“Aksa.”

“Hm?”

“Kamu sayang aku?”

Wajahnya langsung kaku.

Telinganya perlahan merah.

Dulu, mungkin aku akan menganggap itu sudah cukup sebagai jawaban.

Sekarang aku menunggu.

Aksa menghela napas panjang, seolah tiga kata sederhana itu lebih berat daripada apa pun.

Lalu dia menggenggam tanganku sedikit lebih erat.

“Iya.”

Aku tetap menatapnya.

“Iya apa?”

Dia memejamkan mata sebentar.

“Aku sayang kamu, Nadira.”

Aku tersenyum lebar.

Anehnya, kali ini aku tidak mendengar apa pun dari dalam kepalanya.

Dan aku tidak membutuhkannya lagi.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang