Saat suamiku terbaring di ruang gawat darurat, aku tetap memaksanya menandatangani surat cerai meski semua orang menganggapku kejam—Namun tak seorang pun tahu rahasia apa yang kulihat di ponselnya.

Aku meninggalkan ruang perawatan dengan langkah yang terasa lebih berat daripada ketika aku masuk.

Di belakangku, suara Selma masih terdengar penuh amarah.

“Perempuan macam apa yang memaksa suaminya cerai saat suaminya baru kecelakaan?”

Aku tidak menoleh.

Mereka boleh membenciku.

Mereka boleh menganggapku perempuan paling kejam di Surabaya.

Yang tidak mereka tahu, enam bulan terakhir aku hidup dengan perasaan seolah setiap malam tidur di samping seseorang yang tidak benar-benar kukenal.

Dan semuanya bermula dari sebuah ponsel.

Malam enam bulan lalu, setelah Rendra pulang dari Malang dan tertidur dalam keadaan masih mengenakan pakaian kerja, aku terbangun karena suara notifikasi.

Ponselnya tergeletak di lantai.

Aku awalnya hanya berniat memindahkannya ke meja.

Layar menyala ketika tanganku menyentuhnya.

Sebuah pesan muncul.

Bukan dari Kirana.

Nama pengirimnya bahkan tidak kusimpan dalam ingatan karena akun itu hanya menggunakan satu huruf.

R.

Pesannya singkat.

Barang terakhir sudah selesai. Tidak ada keluarga yang bertanya lagi. Transfer seperti biasa.

Aku terpaku.

Beberapa detik kemudian pesan itu menghilang.

Dihapus dari jarak jauh atau ditarik kembali.

Saat itu aku masih berusaha berpikir positif.

Rendra bekerja di rumah duka. Kata barang mungkin hanya istilah kasar yang digunakan seseorang untuk menyebut peti, perlengkapan kremasi, atau sesuatu yang berkaitan dengan pekerjaannya.

Namun naluriku mengatakan ada yang salah.

Beberapa hari kemudian, ketika Rendra mandi, aku membuka ponselnya.

Aku tahu kata sandinya.

Tanggal pernikahan kami.

Aku menemukan sebuah folder tersembunyi yang namanya hanya berupa titik.

Di dalamnya ada puluhan foto dokumen.

Kartu identitas.

Surat kematian.

Daftar barang pribadi milik orang-orang yang telah meninggal.

Ada foto jam tangan, kalung, cincin, bahkan kartu ATM.

Aku terus menggulir.

Tanganku mulai dingin.

Lalu aku menemukan tangkapan layar percakapan.

Nama Kirana muncul di sana.

Pastikan keluarga tidak melihat daftar lama.

Rendra membalas.

Sudah aku ganti.

Di percakapan lain Kirana menulis.

Yang dari Malang nilainya besar.

Rendra menjawab.

Jangan kirim lewat rekening biasa.

Aku merasa seluruh tubuhku membeku.

Suamiku yang selama delapan tahun kukenal sebagai lelaki yang bahkan tidak tega membuang makanan ternyata terlibat dalam sesuatu yang sama sekali tidak kupahami.

Aku mengambil foto semua percakapan itu menggunakan ponselku sendiri.

Sejak hari itu aku mulai mengamati.

Setiap kali Rendra menerima panggilan darurat, aku mencatat waktunya.

Setiap kali dia pulang membawa tas kerja yang tidak pernah ditinggalkan sembarangan, aku memperhatikan.

Aku bahkan pernah mengikuti mobilnya.

Dua bulan lalu, dia tidak menuju rumah duka.

Dia berhenti di sebuah gudang kecil di kawasan industri Margomulyo.

Kirana sudah menunggu.

Mereka masuk bersama.

Aku menunggu hampir satu jam.

Ketika mereka keluar, seorang lelaki berjaket hitam menyerahkan sebuah amplop tebal kepada Kirana.

Rendra berdiri di sampingnya.

Aku memotret semuanya.

Malam itu aku muntah di kamar mandi.

Bukan karena cemburu.

Aku justru berharap mereka berselingkuh.

Perselingkuhan mungkin masih bisa kupahami.

Yang kutakutkan jauh lebih buruk.

Aku mulai mencari berita tentang rumah duka tempat Rendra bekerja.

Tiga tahun sebelumnya pernah ada laporan keluarga kehilangan perhiasan milik jenazah.

Kasusnya tidak berlanjut karena kurang bukti.

Setahun kemudian ada keluarga lain yang mengeluhkan barang pribadi milik ayah mereka hilang sebelum kremasi.

Rumah duka menyebutnya kesalahan administrasi.

Semakin banyak yang kubaca, semakin aku merasa mual.

Aku pernah bertanya kepada Rendra secara tidak langsung.

“Kalau keluarga menitipkan barang berharga bersama jenazah, siapa yang bertanggung jawab?”

Dia menjawab santai.

“Tim administrasi dan petugas ruang persiapan.”

“Kalau hilang?”

Rendra menatapku.

Hanya satu detik.

Namun aku menangkap perubahan kecil di matanya.

“Kenapa tiba-tiba tanya begitu?”

Aku tersenyum.

“Cuma penasaran.”

Sejak itu dia mengganti kata sandi ponselnya.

Pada saat itulah aku memutuskan aku harus keluar dari pernikahan ini sebelum sesuatu menyeretku bersamanya.

Tetapi aku belum punya bukti lengkap.

Dan aku juga belum tahu seberapa dalam keterlibatan Rendra.

Aku bekerja sebagai auditor internal di sebuah perusahaan distribusi.

Aku tahu foto percakapan saja belum cukup.

Aku butuh pola transaksi.

Aku butuh nama.

Aku butuh rekening.

Diam-diam aku menemui seorang teman lama bernama Dimas yang sekarang bekerja sebagai pengacara.

Aku tidak meminta dia melaporkan apa pun.

Aku hanya meminta satu hal.

Siapkan dokumen perceraian.

Kalau situasinya berubah berbahaya, aku ingin bisa pergi secepat mungkin.

Karena itu ketika semalam Rendra kembali menerima telepon Kirana, sesuatu dalam diriku akhirnya putus.

Aku tidak lagi peduli apakah dia mencintai Kirana atau tidak.

Aku hanya ingin menjauh.

Namun bahkan setelah keluar dari ruang rumah sakit, aku belum sempat mencapai lift ketika seseorang memanggilku.

“Mbak Alena.”

Aku menoleh.

Seorang pria sekitar lima puluh tahun berdiri di ujung koridor.

Aku mengenalnya.

Pak Hadi, kepala operasional rumah duka.

Wajahnya pucat.

“Bisa bicara sebentar?”

Aku tidak menjawab.

Dia mendekat.

“Ini soal Rendra.”

Jantungku mulai berdetak lebih cepat.

“Katakan di sini.”

Pak Hadi melirik ke arah ruang perawatan.

“Rendra sudah beberapa minggu mengumpulkan bukti pencurian barang milik jenazah.”

Aku menatapnya tanpa berkedip.

“Apa?”

“Dia mencurigai ada jaringan internal.”

Pak Hadi menelan ludah.

“Dan orang yang pertama kali dia curigai adalah Kirana.”

Suara di koridor seperti menghilang.

Aku hampir tertawa.

“Jangan bohong.”

“Mereka bertemu diam-diam.”

“Saya tahu.”

“Mereka ke gudang bersama.”

Pak Hadi mengangguk.

“Karena Rendra berpura-pura bekerja sama dengan Kirana.”

Darah di wajahku terasa surut.

Pak Hadi kemudian mengeluarkan ponselnya.

Dia menunjukkan sebuah percakapan.

Rendra.

Pak, saya sudah masuk cukup jauh. Jangan hubungi polisi dulu. Kalau mereka tahu saya sedang mengumpulkan bukti, semua data akan dihapus.

Pesan itu dikirim tiga bulan lalu.

Aku membaca kalimat berikutnya.

Saya akan salin buku transaksi mereka. Kalau sampai terjadi apa-apa pada saya, hubungi Alena.

Aku mundur satu langkah.

“Tidak.”

Suara yang keluar dari mulutku nyaris tidak terdengar.

“Tidak mungkin.”

Pak Hadi melanjutkan.

“Orang yang Mbak lihat memberi amplop di gudang adalah salah satu pembeli barang curian.”

“Kirana memang terlibat.”

“Tapi Rendra sedang berusaha mendapatkan daftar pembelinya.”

Kepalaku berdenyut.

Aku teringat semua percakapan di ponsel Rendra.

Pastikan keluarga tidak melihat daftar lama.

Sudah aku ganti.

Tiba-tiba kalimat itu memiliki kemungkinan arti yang berbeda.

Rendra mungkin mengganti daftar untuk menjebak mereka.

Aku menggigit bibir sampai terasa sakit.

“Kalau benar begitu, kenapa dia tidak bilang kepada saya?”

Pak Hadi terdiam.

“Karena dua bulan lalu rumah Mbak pernah diikuti.”

Aku menatapnya.

“Apa?”

“Rendra tahu.”

“Dia pernah cerita ke saya ada motor yang mengikuti mobil Mbak sampai dekat apartemen.”

“Dia takut kalau Mbak tahu dan bereaksi, mereka akan sadar Rendra sedang menyelidiki.”

Kakiku kehilangan tenaga.

Aku duduk di kursi koridor.

Potongan-potongan kejadian enam bulan terakhir mulai muncul satu demi satu.

Rendra yang tiba-tiba melarangku pulang terlalu malam.

Rendra yang selalu menanyakan lokasiku.

Rendra yang memasang kamera tambahan di parkiran apartemen dengan alasan keamanan.

Rendra yang beberapa kali bangun tengah malam hanya untuk memeriksa pintu.

Aku mengira dia paranoid karena pekerjaannya.

Aku tidak pernah bertanya.

Pak Hadi duduk di sebelahku.

“Kecelakaan pagi ini juga mungkin bukan kecelakaan biasa.”

Aku menoleh cepat.

“Polisi menemukan bekas benturan dari belakang.”

“Mobil Rendra didorong sampai kehilangan kendali.”

Napas di dadaku seolah berhenti.

Saat itulah pintu ruang perawatan terbuka.

Kirana berdiri di sana.

Wajahnya masih pucat.

Namun sekarang aku melihat sesuatu yang sebelumnya tidak pernah kuperhatikan.

Tangannya tidak gemetar.

Matanya juga tidak merah karena menangis.

Dia terlalu tenang.

Kirana melihat Pak Hadi.

Ekspresinya berubah sepersekian detik.

Hanya sepersekian detik.

Lalu dia tersenyum.

“Pak Hadi datang juga?”

Pak Hadi berdiri.

“Kirana.”

Aku ikut berdiri.

Kirana menatapku.

“Alena, kamu sebaiknya pulang dulu.”

“Aku akan menjaga Rendra.”

Kalimat itu membuat seluruh tubuhku merinding.

Aku menatapnya lama.

Kemudian aku berkata, “Tidak perlu.”

Kirana mengangkat alis.

“Aku istrinya.”

Aku kembali masuk ke ruang perawatan.

Rendra sedang tertidur karena obat.

Selma tidak ada.

Aku duduk di samping ranjang.

Untuk pertama kalinya sejak enam bulan terakhir, aku memperhatikan wajah suamiku tanpa rasa jijik.

Ada memar di pelipisnya.

Ada luka di sudut bibirnya.

Tangannya dipasangi infus.

Tanganku mulai bergetar.

Aku teringat kalimat yang diucapkannya enam bulan lalu.

Untung kamu masih ada di sini.

Bukan kalimat romantis.

Mungkin kalimat seorang lelaki yang tahu bahaya sedang mendekat dan masih lega menemukan istrinya selamat.

Air mataku jatuh.

Aku menutup mulut agar tidak bersuara.

Beberapa menit kemudian Rendra membuka mata.

Dia menatapku dengan tatapan bingung.

“Kamu belum pulang?”

Aku tidak menjawab.

Aku mengambil ponselnya dari laci.

Polisi sudah menyerahkannya kepada rumah sakit bersama barang-barang lain.

Layarnya retak.

Namun masih menyala.

“Buka.”

Rendra menegang.

“Alena.”

“Buka ponselmu.”

Dia diam.

Aku menatapnya.

“Pak Hadi sudah cerita.”

Wajahnya berubah seketika.

Beberapa detik kemudian dia menutup mata.

“Seharusnya dia tidak bilang.”

“Kenapa?”

Suaraku pecah.

“Kenapa kamu tidak bilang kepadaku?”

Rendra menatapku.

“Karena aku tahu kamu.”

“Apa maksudmu?”

“Kamu nggak akan diam.”

Sudut bibirnya bergerak lemah.

“Kamu pasti ikut mencari tahu.”

“Dan kalau kamu ikut mencari tahu, mereka akan mendekati kamu.”

Air mataku semakin deras.

“Jadi kamu biarkan aku mengira kamu pencuri?”

“Aku nggak tahu kamu melihat ponselku.”

“Aku mengira kamu selingkuh.”

“Lebih baik.”

Jawaban itu menghancurkan sesuatu dalam diriku.

Rendra tersenyum pahit.

“Kalau kamu membenciku, setidaknya kamu akan menjauh.”

Aku memukul lengannya.

Tidak keras.

Namun seluruh tubuhku gemetar.

“Bodoh.”

“Aku hampir menceraikanmu.”

“Aku tahu.”

“Kamu bahkan tadi masih menolak menjelaskan.”

“Aku takut.”

“Takut apa?”

“Takut kamu berubah pikiran dan tetap tinggal.”

Aku menatapnya.

Rendra menarik napas pelan.

“Semalam aku akhirnya mendapatkan daftar lengkap transaksi mereka.”

Jantungku kembali berpacu.

“Di mana?”

Rendra menatap ponselnya.

“Folder tersembunyi.”

“Bukan yang kamu lihat dulu.”

Dia menyebutkan kata sandi.

Tanggal ulang tahunku.

Aku membukanya.

Puluhan dokumen muncul.

Rekening.

Nama pembeli.

Foto barang.

Rekaman suara.

Dan satu video.

Aku menekan video itu.

Wajah Kirana muncul di layar.

Dia sedang berbicara dengan lelaki berjaket hitam.

Suara mereka jelas.

“Rendra sudah mulai curiga.”

“Kalau begitu bereskan.”

“Besok pagi dia ada janji dengan istrinya.”

“Di jalan saja. Buat terlihat seperti kecelakaan.”

Tanganku membeku.

Video itu direkam dua hari lalu.

Aku langsung menatap pintu.

Kirana sudah tidak ada.

Aku berlari keluar.

“Pak Hadi!”

Koridor kosong.

Aku melihat lift baru saja tertutup.

Aku menekan tombol berkali-kali.

Tidak bergerak.

Akhirnya aku berlari menuju tangga darurat sambil menelepon polisi.

Aku bahkan tidak ingat berapa anak tangga yang kulewati.

Ketika sampai di lantai dasar, aku melihat Kirana berjalan cepat menuju pintu keluar.

“Kirana!”

Dia berhenti.

Perlahan dia menoleh.

Aku mengangkat ponsel Rendra.

“Aku sudah lihat semuanya.”

Wajahnya berubah.

Kirana berlari.

Namun sebelum mencapai pintu, dua petugas keamanan rumah sakit menahannya.

Beberapa menit kemudian polisi datang.

Kirana tidak berteriak.

Tidak menangis.

Dia hanya menatapku dengan kebencian.

Saat borgol dipasang di tangannya, dia berkata pelan, “Kamu pikir Rendra orang baik?”

Aku tidak menjawab.

Kirana tersenyum.

“Dia tetap berbohong padamu selama enam bulan.”

Kata-kata itu menancap tepat di tempat yang paling sakit.

Namun kali ini aku tahu jawabannya.

“Aku akan menyelesaikan urusanku dengan suamiku.”

Aku menatapnya.

“Tapi kejahatanmu bukan urusanku dan Rendra.”

“Itu urusan polisi.”

Tiga minggu kemudian jaringan pencurian barang milik jenazah itu terbongkar.

Empat pegawai ditangkap.

Dua orang penadah juga ditahan.

Rendra menjadi saksi utama.

Dia pulih perlahan.

Dan perceraian kami?

Dokumennya tetap ada.

Aku bahkan meminta Dimas mencetaknya lagi.

Suatu sore aku meletakkannya di meja ruang tamu setelah Rendra pulang dari rumah sakit.

Rendra menatap dokumen itu cukup lama.

Kemudian dia mengambil pulpen.

“Ternyata akhirnya kamu mau tanda tangan?” tanyaku.

Dia tersenyum lemah.

“Aku nggak mau.”

“Terus?”

“Tapi aku nggak akan menahan kamu lagi.”

Tangannya bergerak menuju kolom tanda tangan.

Sebelum ujung pulpen menyentuh kertas, aku menarik dokumen itu.

Rendra menatapku.

Aku merobeknya menjadi dua.

Bukan karena semuanya sudah kembali baik.

Tidak.

Kepercayaan tidak pulih hanya karena seseorang ternyata memiliki alasan mulia untuk berbohong.

Aku masih marah.

Masih terluka.

Masih merasa enam bulan hidupku dirampas oleh rahasia yang tidak pernah kuminta.

“Aku belum memaafkan kamu,” kataku.

Rendra mengangguk.

“Aku tahu.”

“Aku juga belum percaya penuh.”

“Aku tahu.”

“Kalau setelah enam bulan aku tetap merasa nggak bisa hidup sama kamu, kita benar-benar cerai.”

Dia kembali mengangguk.

Kemudian bertanya pelan, “Berarti sekarang?”

Aku duduk di seberangnya.

“Sekarang kita belajar kenalan lagi.”

Rendra tertawa kecil.

Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, suara itu tidak membuatku muak.

Dia membuka laci.

Dari dalamnya, dia mengeluarkan dua lembar tiket.

Hokkaido.

Tanggal keberangkatan sudah lewat.

Aku menatapnya.

Rendra mengangkat bahu.

“Saljunya gagal.”

Aku hampir tersenyum.

“Bisa tahun depan.”

Dia menatapku lama.

Matanya memerah.

“Kalau masih ada tahun depan buat kita.”

Aku tidak menjawab.

Aku hanya mengambil segelas air madu yang baru dibuatnya.

Rendra terlihat tegang saat aku mengangkat gelas itu.

Enam bulan sebelumnya aku menuangnya ke wastafel.

Kali ini aku meminumnya sampai setengah.

Bukan karena aku sudah melupakan semuanya.

Bukan karena cinta selalu bisa menyelesaikan kebohongan.

Namun karena hari itu aku akhirnya memahami satu hal.

Kadang-kadang orang yang tampak paling kejam sedang melindungi luka yang tidak diketahui siapa pun.

Dan kadang-kadang orang yang berbohong bukan sedang menyembunyikan pengkhianatan, melainkan mencoba melindungi seseorang dengan cara yang salah.

Aku meletakkan gelas di meja.

“Rendra.”

“Ya?”

“Mulai sekarang, kalau ada rahasia yang bisa menghancurkan rumah tangga kita, aku lebih memilih takut bersamamu daripada aman karena dibohongi.”

Rendra menunduk.

Air matanya jatuh.

Kali ini aku tidak menjauh ketika tangannya mencari tanganku.

Aku membiarkan jemarinya menggenggamku.

Tidak seerat dulu.

Belum.

Tetapi cukup untuk mengatakan bahwa untuk malam itu, aku masih memilih tinggal.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang