Pak Arman menatapku serius sebelum melanjutkan.
“Mulai sekarang, simpan semua komunikasi. Jangan menghapus pesan apa pun. Kalau ada pembicaraan penting, usahakan tertulis. Dan yang paling penting, Ibu Maya harus menjaga kondisi. Jangan sampai proses ini justru membahayakan Ibu dan bayi.”
Aku mengangguk.

Aku tidak sedang mencari cara untuk menghukum Dimas. Aku hanya ingin berhenti menggantungkan hidupku pada seseorang yang berkali-kali membuktikan bahwa aku bukan prioritasnya.
Malam itu, Dimas pulang hampir pukul sebelas.
Aku sedang melipat pakaian bayi ketika suara pintu terdengar.
“Kamu belum tidur?”
“Belum.”
Dia meletakkan kunci mobil, membuka kulkas, lalu mengambil air tanpa menanyakan hasil pemeriksaanku.
Aku menunggunya.
Satu menit.
Dua menit.
Sampai akhirnya aku sendiri yang berkata, “Aku kontrol hari ini.”
“Oh iya.”
Hanya itu.
Aku menatap punggungnya.
“Dokter bilang persalinan bisa terjadi kapan saja.”
Dimas mengangguk sambil melihat ponselnya.
“Kalau ada apa-apa telepon aku.”
Aku hampir tertawa.
“Kalau kamu nggak angkat?”
Dia menghela napas panjang.
“Maya, jangan mulai lagi.”
“Aku cuma bertanya.”
“Aku kerja buat siapa? Buat keluarga ini juga, kan?”
Kalimat itu sudah terlalu sering kudengar.
Aku berdiri perlahan.
“Besok Mama datang.”
Dimas akhirnya menoleh.
“Ngapain?”
“Menemaniku sampai melahirkan.”
Wajahnya terlihat sedikit tidak nyaman.
“Memangnya perlu?”
Aku menatapnya beberapa detik.
“Perlu.”
Aku masuk kamar tanpa mengatakan bahwa sejak sore tadi, jika sesuatu terjadi padaku selama persalinan, orang yang memiliki wewenang mendampingiku bukan lagi dirinya.
Dua hari kemudian Mama datang dari Cimahi membawa satu koper kecil. Kehadirannya mengubah suasana rumah.
Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, ada seseorang yang bertanya apakah pinggangku sakit, apakah aku sudah makan, apakah gerakan bayi masih aktif.
Dimas justru semakin jarang berada di rumah.
Pada malam ketiga, sekitar pukul sembilan, ponselnya berbunyi ketika dia sedang mandi.
Aku tidak berniat membukanya.
Namun layar menyala di meja.
Nama pengirimnya membuatku terdiam.
Nadya Kantor.
Pesannya singkat.
Terima kasih sudah nemenin aku kemarin. Maaf jadi bikin kamu pulang malam lagi.
Aku tidak menyentuh ponsel itu.
Aku hanya memotretnya menggunakan ponselku.
Ketika Dimas keluar, dia langsung mengambil ponselnya.
Wajahnya berubah sesaat ketika melihat notifikasi.
Aku pura-pura tidak memperhatikan.
Besoknya aku mengirim foto itu kepada Pak Arman.
Jawabannya sederhana.
Simpan. Jangan membuat kesimpulan sebelum ada bukti lain.
Aku mengikuti sarannya.
Namun ternyata aku tidak perlu mencari.
Bukti berikutnya datang sendiri.
Tiga hari kemudian, ketika Mama pergi membeli buah, seorang perempuan datang ke rumah.
Usianya mungkin akhir dua puluhan. Pakaiannya rapi, tetapi wajahnya terlihat tegang.
“Ini rumah Mas Dimas?”
“Iya.”
“Saya Nadya.”
Dadaku terasa dingin.
Perempuan itu langsung melihat perutku dan wajahnya berubah.
“Mbak Maya?”
Aku mengangguk.
Dia menutup mulut.
“Ya Tuhan.”
“Ada apa?”
Nadya terlihat seperti ingin pergi.
Aku mempersilakannya masuk.
Setelah duduk, tangannya gemetar.
“Saya pikir Mas Dimas sudah berpisah dengan istrinya.”
Aku tidak menangis.
Anehnya, aku bahkan tidak terkejut.
“Dia bilang begitu?”
Nadya mengangguk.
“Katanya proses cerainya tinggal menunggu selesai. Dia bilang pernikahannya sudah bermasalah hampir dua tahun.”
Aku menatap perutku.
Bayi kami belum lahir, tetapi ayahnya sudah menceritakan kepada perempuan lain bahwa rumah tangga kami selesai.
“Hubungan kalian sejauh apa?”
Nadya langsung menggeleng.
“Tidak seperti yang mungkin Mbak pikirkan. Dia mendekati saya beberapa bulan terakhir. Beberapa kali makan malam, mengantar pulang, memberi hadiah. Minggu lalu dia bilang setelah urusannya selesai dia ingin serius.”
Mataku panas.
Semua lembur.
Semua pertemuan klien.
Semua malam ketika aku tidur sendiri sambil menahan kram.
Tidak semuanya untuk pekerjaan.
“Kenapa kamu datang?”
Nadya mengeluarkan sebuah amplop kecil.
“Dia meninggalkan ini di mobil saya.”
Di dalamnya ada kuitansi pembelian sebuah cincin.
Tanggalnya sama dengan hari ketika aku menjalani pemeriksaan kandungan sendirian di tengah hujan.
Aku masih ingat hari itu.
Aku berdiri hampir satu jam di depan rumah sakit karena Dimas mengatakan mobilnya dipakai rekan kerja.
Ternyata mobil itu ada bersama Nadya.
Aku mengembalikan kuitansi tersebut.
“Bawa ini.”
“Mbak, saya benar-benar minta maaf.”
“Kamu tahu sekarang.”
Nadya menunduk.
“Aku nggak akan menemui dia lagi.”
Untuk pertama kalinya aku menatapnya bukan sebagai perempuan lain, melainkan seseorang yang juga dibohongi oleh laki-laki yang sama.
“Terima kasih sudah datang.”
Setelah Nadya pergi, aku menangis.
Bukan karena masih berharap Dimas berubah.
Aku menangis karena akhirnya memahami betapa lama aku berusaha mempertahankan gambaran keluarga yang sebenarnya sudah lama hanya kupegang sendirian.
Mama pulang dan menemukanku duduk di lantai ruang tamu.
Dia tidak bertanya.
Dia hanya memelukku.
Malam itu Dimas pulang seperti biasa.
Aku tidak mengatakan apa pun.
Dua hari berikutnya terasa sangat tenang.
Terlalu tenang.
Sampai pukul empat lewat dua puluh pagi, aku terbangun karena merasa kasur basah.
Aku langsung tahu.
“Ma.”
Mama berlari masuk.
Air ketubanku pecah.
Kontraksi pertama datang beberapa menit kemudian.
Mama ingin memesan ambulans, tetapi rumah sakit mengatakan kami bisa langsung datang karena jaraknya cukup dekat dan kondisiku masih stabil.
Aku menelepon Dimas.
Tidak diangkat.
Sekali.
Dua kali.
Lima kali.
Aku mengirim pesan.
Aku ke rumah sakit. Ketuban pecah.
Tidak dibaca.
Akhirnya aku dan Mama berangkat.
Dalam perjalanan, rasa sakit semakin kuat.
Aku menggenggam tangan Mama sampai kuku jariku memutih.
Sesampainya di rumah sakit, semuanya bergerak cepat.
Pemeriksaan.
Infus.
Monitor.
Dokter mengatakan kondisi bayi harus diawasi ketat dan kemungkinan operasi tetap ada.
Perawat kemudian menanyakan pendamping dan dokumen persetujuan.
Aku menyerahkan surat kuasa yang telah disiapkan.
“Bu Ratna.”
Mama berdiri di sampingku.
Perawat membaca dokumen itu.
“Dan suami?”
Aku menatap langit-langit.
“Tidak memiliki kuasa untuk mengambil keputusan medis atas nama saya apabila saya masih sadar. Kalau saya tidak mampu memberikan persetujuan, ikuti dokumen itu.”
Perawat mengangguk.
Menjelang pukul tujuh, Dimas akhirnya menelepon.
Aku sudah tidak sanggup menjawab.
Mama yang mengangkat.
“Kalian di mana?”
“Rumah sakit.”
“Kenapa nggak bilang?”
Mama menatapku, lalu menjawab dingin.
“Maya meneleponmu berkali-kali.”
Telepon terputus.
Hampir tiga jam setelah aku tiba, suara ribut terdengar dari koridor.
“Saya suaminya!”
Aku mengenali suara itu.
Dimas.
“Ada pembatasan pendamping, Pak.”
“Saya ayah bayinya!”
Perawat berusaha menjelaskan bahwa pasien telah memberikan instruksi tertulis mengenai siapa yang boleh mendampingi.
Dimas tidak menerimanya.
“Saya mau lihat istri saya sekarang!”
Kemudian suara pukulan terdengar.
Dia menghantam dinding.
Beberapa menit kemudian seorang perawat masuk membawa amplop.
“Bu Maya, suami Ibu meminta penjelasan. Apakah dokumen ini boleh kami tunjukkan?”
Aku mengangguk.
“Boleh.”
Perawat keluar.
Aku tidak melihat wajah Dimas ketika amplop itu dibuka.
Tetapi Mama melihatnya dari celah pintu.
Katanya wajah Dimas langsung pucat.
Karena yang diberikan perawat bukan hanya salinan instruksi pendamping persalinan.
Di dalam amplop itu juga ada surat dari Pak Arman.
Pemberitahuan bahwa dokumen gugatan perceraian telah dipersiapkan dan komunikasi selanjutnya mengenai persoalan hukum dapat dilakukan melalui kuasa hukumnya.
Dimas berhenti berteriak.
Untuk pertama kalinya pagi itu, koridor menjadi sunyi.
Lalu ponsel Mama berbunyi.
Pesan dari Dimas.
Ma, suruh Maya jangan melakukan ini. Aku bisa jelaskan.
Aku meminta Mama tidak menjawab.
Beberapa saat kemudian kontraksi berubah semakin berat.
Monitor bayi menunjukkan perubahan yang membuat dokter bergerak cepat.
“Kita operasi.”
Ruangan mendadak penuh suara.
Aku takut.
Sangat takut.
Saat didorong menuju ruang operasi, aku sempat melihat Dimas berdiri jauh di ujung koridor.
Matanya merah.
Dia mencoba mendekat, tetapi berhenti ketika melihatku.
“Maya.”
Aku tidak menjawab.
“Maya, tolong.”
Pintu ruang operasi menutup.
Untuk pertama kalinya dalam sembilan bulan, Dimas datang ketika aku membutuhkannya.
Dan untuk pertama kalinya, kedatangannya sudah tidak berarti apa-apa.
Anakku lahir pagi itu.
Seorang bayi perempuan.
Ketika tangisnya terdengar, aku ikut menangis.
Semua rasa sakit, ketakutan, dan penghinaan selama berbulan-bulan seperti pecah bersamaan.
Beberapa jam kemudian aku sadar di ruang pemulihan.
Mama duduk di samping tempat tidur sambil menggendong bayi.
“Cantik sekali,” bisikku.
Mama tersenyum sambil menangis.
“Mirip kamu.”
“Dimas?”
“Masih di luar.”
Aku diam.
Mama kemudian mengatakan sesuatu yang tidak kuduga.
“Nadya datang.”
Aku menoleh.
“Apa?”
“Tadi dia datang mencari Dimas.”
Rupanya setelah meninggalkan rumahku, Nadya menghubungi kantor dan baru mengetahui sesuatu yang jauh lebih buruk.
Dimas memang sering mengatakan lembur, tetapi beberapa bulan terakhir justru beberapa kali mendapat teguran karena meninggalkan kantor pada jam kerja.
Bukan hanya itu.
Dia meminjam uang dari dua rekan kantor dengan alasan biaya persalinanku.
Padahal seluruh biaya persalinan sudah ditanggung asuransi dan tabungan yang sebagian besar kusiapkan sendiri.
Nadya datang membawa salinan percakapan yang menunjukkan Dimas pernah mengatakan bahwa istrinya menolak memberinya uang untuk biaya kelahiran.
Aku tertawa kecil.
Bukan karena lucu.
Karena kebohongan Dimas ternyata jauh lebih besar daripada perselingkuhan emosional.
Dia menggunakan kehamilanku sebagai alasan untuk mendapatkan uang.
Pak Arman menyimpan semua bukti tersebut.
Dimas akhirnya diperbolehkan melihat bayinya melalui kaca setelah aku memberikan izin.
Bukan karena aku memaafkannya.
Aku hanya tidak ingin suatu hari nanti anakku mendengar bahwa aku menggunakan dirinya untuk menghukum ayahnya.
Sore harinya, Dimas meminta berbicara denganku.
Aku mengizinkan lima menit.
Dia masuk dengan mata bengkak.
“Maya, aku salah.”
Aku diam.
“Aku sama Nadya nggak sampai seperti yang kamu pikir.”
“Masalah kita bukan Nadya.”
Dia terdiam.
“Masalahnya sembilan bulan.”
Aku menatapnya.
“Sembilan bulan aku belajar pergi ke dokter sendiri. Menunggu hasil pemeriksaan sendiri. Mendengar risiko persalinan sendiri. Menyiapkan tas rumah sakit sendiri. Bahkan ketika ketubanku pecah, aku pergi ke rumah sakit tanpa kamu.”
Dimas menunduk.
“Aku pikir masih ada waktu.”
Kalimat itu membuat dadaku sesak.
“Waktu untuk apa?”
“Untuk memperbaiki semuanya.”
Aku menatap bayi kecil yang tidur di sampingku.
“Orang selalu berpikir masih punya waktu sampai orang yang menunggu akhirnya berhenti menunggu.”
Dimas menangis.
Tetapi keputusanku tidak berubah.
Perceraian kami diproses setelah kondisiku pulih.
Dimas tetap memiliki tanggung jawab sebagai ayah dan proses mengenai hak serta kewajibannya diselesaikan melalui jalur hukum. Aku tidak pernah melarangnya menjadi ayah selama dia menghormati batas yang telah ditetapkan.
Beberapa bulan kemudian, saat membereskan dokumen lama, aku menemukan buku pemeriksaan kehamilanku.
Aku membukanya perlahan.
Halaman demi halaman.
Kolom pendamping hampir selalu kosong.
Dulu melihatnya membuatku merasa seperti perempuan paling kesepian di dunia.
Sekarang tidak lagi.
Putriku tidur di kamar sebelah. Mama sedang memasak di dapur. Hidupku memang tidak berjalan seperti rencana yang kubayangkan ketika pertama kali melihat dua garis merah.
Namun rumah ini tidak lagi dipenuhi penantian.
Aku menutup buku itu dan memasukkannya ke dalam kotak.
Hari ketika Dimas berlari panik ke rumah sakit mungkin menjadi hari ketika dia sadar telah kehilangan keluarganya.
Tetapi bagiku, hari itu memiliki arti berbeda.
Itulah hari ketika putriku lahir.
Dan bersamaan dengan tangisan pertamanya, lahir pula seorang Maya yang baru.
Seorang perempuan yang akhirnya memahami bahwa keluarga bukan tentang siapa yang namanya tertulis sebagai suami, melainkan siapa yang benar-benar hadir ketika hidup kita berada di titik paling rapuh.
Selama sembilan bulan aku mengira aku sedang menunggu Dimas menjadi suami yang kubutuhkan.
Ternyata aku sedang belajar sesuatu yang jauh lebih penting.
Aku sedang belajar bahwa berhenti menunggu seseorang yang tidak pernah datang juga merupakan bentuk keberanian.
