Melinda tidak langsung menjawab.
Untuk beberapa detik, gang sempit itu mendadak terasa sunyi. Suara pedagang sayur dari ujung jalan, deru sepeda motor, bahkan tangisan Arka yang mulai gelisah seolah terdengar jauh.
Wajah Melinda yang sebelumnya penuh keyakinan berubah kaku.
“Kamu menuduh saya?” tanyanya akhirnya.
“Saya tidak menuduh siapa pun,” jawab Maya. “Saya hanya ingin polisi mengetahui bagaimana anak ini ditemukan.”
Melinda menatap dua pria di belakangnya.
“Ambil bayinya.”
Kedua pria itu maju.
Riana dan Riani langsung menjerit.
“Jangan!”
Maya mundur ke dalam kontrakan sambil memeluk Arka erat. Beberapa tetangga yang sejak tadi memperhatikan mulai mendekat. Bu Sari, pemilik warung di ujung gang, bahkan mengangkat ponselnya dan mulai merekam.
“Jangan sentuh mereka!” teriak Bu Sari. “Kalau memang keluarga bayi itu, tunggu polisi!”
Melinda menoleh tajam.
“Ini urusan keluarga kami.”
“Kalau begitu lebih gampang,” sahut Bu Sari. “Kita panggil polisi.”
Kalimat sederhana itu justru membuat Melinda semakin gelisah.
Maya melihatnya.
Dan pada saat itulah kecurigaannya berubah menjadi keyakinan bahwa ada sesuatu yang sedang disembunyikan perempuan tersebut.
Maya segera meraih ponsel murahnya.
“Saya telepon polisi sekarang.”
Melinda bergerak cepat hendak merebut ponsel itu.
Namun Bu Sari dan beberapa warga berdiri di antara mereka.
“Jangan macam-macam di kampung kami.”
Situasi mulai gaduh.
Melinda akhirnya mundur. Ia menatap Maya dengan wajah pucat dan penuh amarah.
“Kamu akan menyesali ini.”
Kemudian ia berbalik dan berjalan menuju SUV.
Sebelum masuk, Melinda berhenti dan berkata tanpa menoleh.
“Kalau sesuatu terjadi pada anak-anakmu setelah hari ini, jangan bilang saya tidak memperingatkanmu.”
SUV hitam itu pergi meninggalkan gang.
Riana menangis semakin keras.
“Ibu, kita pergi dari sini saja.”
Maya berlutut dan memeluk kedua putrinya dengan satu tangan sementara Arka berada di lengannya yang lain.
“Tidak. Kita tidak lari.”
Tangannya sendiri sebenarnya gemetar.
“Kita ke polisi sekarang.”
Bu Sari menawarkan diri menemani mereka.
Kurang dari satu jam kemudian, Maya, Riana, Riani, dan Arka tiba di Polrestabes Surabaya.
Begitu identitas bayi diperiksa, suasana kantor polisi berubah.
Petugas segera menghubungi tim yang menangani laporan hilangnya putra Hendra Wijaya.
Tidak sampai empat puluh menit, sebuah mobil berhenti di halaman.
Seorang pria turun sebelum kendaraannya benar-benar berhenti sempurna.
Hendra Wijaya.
Penampilannya jauh berbeda dari sosok pengusaha yang sering muncul di televisi. Kemejanya kusut. Rambutnya tidak tertata. Wajahnya pucat karena kurang tidur.
Ketika seorang petugas membawa Hendra memasuki ruangan dan matanya melihat Arka dalam pelukan Maya, langkahnya terhenti.
Bibirnya bergetar.
“Raka…”
Maya terdiam.
Jadi nama sebenarnya bayi itu adalah Raka.
Hendra mendekat perlahan, seperti takut semua yang dilihatnya hanyalah mimpi.
“Raka… Papa di sini.”
Bayi itu menatap wajah Hendra beberapa detik.
Kemudian sesuatu yang tidak diduga terjadi.
Raka menangis.
Tangannya justru mencengkeram pakaian Maya.
Hendra berhenti.
Ada rasa sakit di matanya, tetapi ia tidak memaksa.
Maya mengusap punggung bayi itu.
“Tenang, Arka.”
Hendra menoleh.
“Arka?”
“Nama sementara yang diberikan anak-anak saya. Kami tidak tahu namanya.”
Riana yang berdiri di belakang Maya berbisik, “Kami takut dia tidak punya nama.”
Hendra menutup matanya sesaat.
Air mata akhirnya jatuh.
Setelah bayi itu lebih tenang, Maya perlahan menyerahkannya kepada Hendra.

Anehnya, kali ini Raka tidak menangis.
Hendra mendekap putranya erat-erat.
“Papa minta maaf.”
Kalimat itu diucapkannya berulang kali.
Maya menoleh karena tidak sanggup melihatnya terlalu lama.
Namun ketenangan tersebut hanya berlangsung beberapa menit.
Ketika seorang penyidik bertanya bagaimana Maya menemukan Raka, Maya menceritakan semuanya.
Termasuk kedatangan Melinda.
Ekspresi Hendra langsung berubah.
“Melinda datang ke rumah Ibu?”
Maya mengangguk.
“Dia ingin membawa bayi ini tanpa polisi.”
Hendra terlihat bingung.
“Itu tidak mungkin.”
“Dia juga mengatakan kami bisa dituduh sebagai bagian dari penculikan.”
Hendra membeku.
Maya kemudian menceritakan ancaman terhadap dirinya dan kedua putrinya.
Semakin lama Hendra mendengarkan, semakin pucat wajahnya.
Seorang penyidik akhirnya bertanya, “Pak Hendra, apakah adik Anda mengetahui keberadaan bayi ini sebelum polisi mendapat laporan dari Ibu Maya?”
“Tidak.”
“Apakah Bapak yang mengirimnya?”
“Tidak.”
Ruangan itu mendadak sunyi.
Penyidik kemudian meminta alamat kontrakan Maya dan lokasi tepat tempat Riana serta Riani menemukan bayi tersebut.
Sore itu juga, tim polisi mendatangi area belakang Pasar Keputran.
Awalnya mereka tidak menemukan banyak hal.
Sampah telah beberapa kali diangkut sejak kejadian.
Namun seorang petugas memperhatikan sebuah kamera CCTV di bagian belakang gudang distributor buah.
Posisinya menghadap sebagian jalan yang menuju titik penemuan bayi.
Rekaman empat hari sebelumnya masih tersimpan.
Ketika video diputar, semua orang terdiam.
Pukul 04.17 pagi terlihat sebuah mobil berwarna gelap berhenti.
Seorang laki-laki turun sambil membawa sesuatu yang dibungkus selimut.
Wajahnya tidak terlihat jelas.
Ia berjalan menuju tumpukan sampah.
Kurang dari dua menit kemudian, pria itu kembali tanpa membawa apa pun.
Nomor polisi kendaraan tidak terbaca sempurna.
Namun tiga angka terakhir terlihat cukup jelas.
Polisi mulai melakukan penelusuran.
Hasilnya membuat penyelidikan berubah arah.
Mobil tersebut terdaftar atas nama sebuah perusahaan penyedia keamanan.
Perusahaan yang selama lima tahun terakhir menjadi vendor keamanan beberapa rumah sakit milik keluarga Wijaya.
Lebih mengejutkan lagi, direktur perusahaan itu bernama Adrian Kusuma.
Suami Melinda.
Malam itu, Melinda dan Adrian diperiksa.
Melinda membantah semua tuduhan.
“Suami saya punya puluhan mobil operasional. Siapa pun bisa menggunakannya.”
Namun Adrian terlihat jauh lebih gugup.
Ia terus mengatakan tidak tahu apa-apa.
Polisi belum memiliki cukup bukti untuk menahan keduanya.
Mereka diizinkan pulang.
Sementara itu, Hendra membawa Raka ke rumah sakit untuk pemeriksaan lengkap.
Sebelum pergi, ia menghampiri Maya.
“Saya berjanji hadiah lima miliar rupiah kepada siapa pun yang menemukan anak saya.”
Maya langsung menggeleng.
“Saya tidak mau.”
Hendra mengira ia salah mendengar.
“Bu Maya…”
“Kami tidak menolong Raka karena uang.”
“Tapi uang itu hak Ibu.”
Maya tersenyum tipis.
“Kalau saya menerima lima miliar setelah semua ini, orang akan mengatakan sejak awal kami menyembunyikan bayi itu demi hadiah.”
Hendra menatapnya lama.
Maya kemudian melihat kedua putrinya yang berdiri beberapa meter jauhnya.
“Yang menemukan anak Bapak adalah mereka. Dua anak kecil yang bahkan tidak punya cukup uang untuk sarapan, tetapi masih melepas jaket satu-satunya supaya bayi Bapak tidak kedinginan.”
Hendra tidak mampu berkata-kata.
Hari-hari berikutnya justru semakin menegangkan.
Maya mulai menerima telepon dari nomor tidak dikenal.
Tidak ada suara ketika diangkat.
Suatu malam, pintu kontrakannya dilempari batu.
Di batu tersebut terikat selembar kertas.
CABUT KETERANGANMU.
Maya segera menyerahkannya kepada polisi.
Hendra mengetahui kejadian itu dan menawarkan tempat tinggal sementara yang aman.
Awalnya Maya menolak.
Namun ketika Riana berkata ia takut tidur karena seseorang mungkin datang, Maya akhirnya menerima.
Hendra menempatkan mereka di sebuah apartemen sederhana milik yayasan rumah sakitnya, bukan di rumah mewah keluarganya.
Ia juga menyediakan pengamanan.
Tiga hari kemudian, polisi menemukan titik terang.
Salah seorang petugas keamanan bernama Yanto menghilang sejak rekaman CCTV ditemukan.
Ponselnya mati.
Rumah kontrakannya kosong.
Setelah pencarian selama dua hari, Yanto ditemukan di sebuah penginapan murah di Sidoarjo.
Dalam pemeriksaan awal ia menyangkal semuanya.
Namun ketika polisi menunjukkan rekaman CCTV dan data lokasi ponselnya, pertahanannya runtuh.
“Saya cuma disuruh,” katanya.
“Oleh siapa?”
Yanto menunduk.
“Pak Adrian.”
Menurut pengakuannya, Adrian memerintahkannya mengambil Raka dari rumah keluarga Wijaya pada malam ketika Hendra sedang berada di Jakarta.
Rencana awalnya bukan membunuh bayi itu.
Yanto diminta membawa Raka ke sebuah rumah sewaan dan menunggu instruksi berikutnya.
Namun setelah penculikan menjadi berita nasional dan polisi memperketat pemeriksaan, Adrian panik.
Ia memerintahkan Yanto meninggalkan bayi itu di tempat yang menurutnya akan membuat polisi percaya bahwa penculik biasa telah membuang korban.
“Kenapa Adrian menculik keponakannya sendiri?” tanya penyidik.
Jawaban Yanto membuka rahasia yang jauh lebih besar.
Hendra sedang mempersiapkan restrukturisasi kepemilikan perusahaan keluarga.
Sebagian besar saham yang sebelumnya akan diwariskan kepada Melinda ternyata dialihkan ke sebuah trust untuk Raka.
Selama bertahun-tahun Melinda percaya bahwa dirinya akan menjadi penerus utama jika sesuatu terjadi kepada Hendra.
Kelahiran Raka mengubah semuanya.
Adrian memiliki utang bisnis hampir seratus miliar rupiah.
Ia dan Melinda membutuhkan akses terhadap aset keluarga.
Mereka berharap hilangnya Raka akan membuat Hendra hancur secara psikologis dan menunda restrukturisasi.
Namun ada satu hal yang bahkan Yanto tidak tahu.
Siapa sebenarnya yang pertama kali merencanakan penculikan itu.
Adrian atau Melinda.
Polisi kemudian memeriksa rekening Adrian.
Ditemukan beberapa transfer kepada Yanto.
Tetapi bukti terbesar justru datang dari seseorang yang sama sekali tidak diperhitungkan.
Bu Sari.
Ia masih menyimpan rekaman ketika Melinda datang ke kontrakan Maya.
Dalam video itu terdengar jelas Melinda berkata bahwa keluarga mereka “sudah menduga orang yang membawa bayi itu bagian dari komplotan penculik.”
Masalahnya, informasi mengenai dugaan adanya komplotan belum pernah diumumkan kepada publik.
Bahkan polisi saat itu masih memperlakukan kasus tersebut sebagai orang hilang.
Bagaimana Melinda mengetahui teori tentang penculikan?
Polisi kemudian memeriksa kembali komunikasi antara Melinda dan Adrian.
Pesan-pesan biasa sudah dihapus.
Namun salinan data dari penyimpanan cloud mengungkap percakapan yang mereka kira telah hilang.
Salah satu pesan dikirim Melinda kepada Adrian beberapa jam setelah Raka diculik.
“Pastikan anak itu tidak ditemukan sebelum dokumen ditandatangani.”
Melinda akhirnya ditangkap.
Ketika kabar itu sampai kepada Maya, ia tidak merasa menang.
Ia justru memandang Riana dan Riani yang sedang menggambar bersama di ruang tamu apartemen.
Baginya, hal paling menakutkan bukanlah kenyataan bahwa orang kaya bisa melakukan kejahatan.
Melainkan kenyataan bahwa keserakahan bisa membuat seseorang tega menghancurkan keluarganya sendiri.
Beberapa minggu kemudian, Hendra datang menemui mereka.
Raka berada dalam gendongannya.
Begitu mendengar suara Riana, bayi itu langsung menoleh.
Riana mendekat dengan mata berbinar.
“Arka!”
Hendra tertawa kecil.
“Di rumah namanya tetap Raka. Tapi sepertinya kalau kalian datang, dia boleh jadi Arka lagi.”
Riani menyentuh tangan mungilnya.
“Dia masih ingat kami.”
“Sepertinya begitu.”
Kemudian Hendra meletakkan sebuah map di atas meja.
Maya langsung mengernyit.
“Kalau soal lima miliar, saya sudah bilang…”
“Bukan.”
Hendra membuka map tersebut.
Ia mengatakan tidak akan memaksa Maya menerima hadiah yang ditolaknya.
Sebaliknya, melalui yayasan keluarganya, ia mendirikan program pendidikan bagi anak-anak pemulung dan pekerja informal di Surabaya.
Program itu diberi nama Yayasan Arka.
Riana dan Riani menjadi penerima beasiswa pertama.
Seluruh biaya pendidikan mereka sampai perguruan tinggi akan ditanggung.
Maya menatap Hendra dengan mata berkaca-kaca.
“Kenapa melakukan sebanyak ini?”
Hendra memandang kedua anak kembar itu.
“Karena putra saya hidup bukan karena kekayaan saya.”
Ia menarik napas panjang.
“Saya punya rumah sakit, dokter terbaik, mobil, pengawal, dan uang miliaran. Tapi ketika anak saya benar-benar membutuhkan pertolongan, semua itu tidak ada di dekatnya.”
Hendra tersenyum kepada Riana dan Riani.
“Yang ada hanya dua anak kecil dengan satu jaket lusuh.”
Riana menundukkan kepala karena malu.
Maya akhirnya menangis.
Enam bulan kemudian, kehidupan mereka berubah.
Bukan menjadi keluarga yang tiba-tiba hidup bermewah-mewahan.
Maya tetap bekerja, meskipun kini ia menjadi staf tetap di bagian kebersihan salah satu rumah sakit milik yayasan dengan penghasilan dan jaminan kesehatan yang lebih baik.
Riana dan Riani kembali bersekolah dengan teratur.
Namun ada satu kebiasaan yang tidak pernah hilang.
Setiap Minggu sore mereka mengunjungi Raka.
Suatu hari, ketika mereka sedang bermain di taman rumah Hendra, Raka yang mulai belajar berjalan tiba-tiba melangkah tertatih menuju Riani.
Anak itu terjatuh.
Riani cepat menangkapnya.
Semua orang tertawa.
Hendra yang berdiri tidak jauh dari sana memandang Maya.
“Saya baru menyadari sesuatu.”
“Apa?”
“Saya dulu mengumumkan hadiah lima miliar karena mengira uang adalah cara tercepat menemukan anak saya.”
Maya tersenyum.
“Ternyata bukan?”
Hendra menggeleng.
“Raka ditemukan empat hari sebelum hadiah itu diketahui kalian.”
Ia memandang kedua anak kembar yang kini tertawa bersama putranya.
“Artinya, yang menyelamatkannya bukan lima miliar rupiah.”
Maya terdiam.
Hendra melanjutkan pelan.
“Yang menyelamatkannya adalah dua anak yang bahkan tidak tahu akan mendapatkan apa-apa.”
Di tengah dunia yang sering mengukur manusia dari rumahnya, pakaiannya, pekerjaannya, dan jumlah uang di rekeningnya, Riana dan Riani membuktikan sesuatu yang jauh lebih sederhana.
Kebaikan paling murni justru lahir ketika seseorang menolong tanpa mengetahui apakah dirinya akan mendapat balasan.
Dan lima miliar rupiah yang sempat menggemparkan seluruh kota akhirnya tidak pernah menjadi hadiah terbesar dalam kisah itu.
Hadiah terbesar adalah seorang bayi yang tetap hidup.
Dua anak yang mendapatkan masa depan.
Dan seorang ayah kaya yang akhirnya memahami bahwa hal paling berharga yang pernah menyelamatkan keluarganya adalah sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang sebanyak apa pun.
