Aris tidak langsung menyalakan rekaman itu.
Ia berdiri di depan layar panel CCTV dengan punggung tegak, sementara dari ruang makan terdengar suara napas orang-orang yang seolah sengaja ditahan. Sarah masih berdiri di samping meja, satu tangan memegangi pipinya yang panas, tangan lainnya terasa berdenyut akibat pukulan sendok logam beberapa menit sebelumnya.
“Aris,” suara Bu Hartini terdengar lebih pelan, tetapi justru semakin tajam. “Jangan bikin masalah keluarga jadi tontonan.”
Aris menoleh.
“Masalah keluarga?”
Tatapannya jatuh pada wajah ibunya.
“Ibu baru saja menampar istri saya di depan dua puluh dua orang.”
Bu Hartini mendengus.
“Karena dia perlu diajari sopan santun.”
Aris tidak menjawab. Ia menekan beberapa tombol pada panel.
Layar besar di dinding menyala.
Clarissa langsung berdiri.
“Mas, buat apa sih dibesar-besarkan? Cuma salah paham soal ayam.”
“Kalau cuma salah paham,” jawab Aris tenang, “kenapa kamu takut rekamannya diputar?”
Clarissa membeku.
Sarah menatap suaminya. Selama tujuh tahun menikah, ia mengenal Aris sebagai laki-laki yang cenderung menghindari konflik dengan ibunya. Berkali-kali Sarah memilih diam bukan karena tidak mampu melawan, melainkan karena tidak ingin membuat suaminya terjepit di antara istri dan keluarga.
Namun malam itu Aris terlihat berbeda.
Ia membuka rekaman ruang makan sekitar lima menit sebelum tamparan terjadi.
Gambar terlihat jelas.
Semua orang melihat Clarissa menggeser piring ayam ke arah Sarah.
“Mbak Sarah, makan paha ayam ini aja.”
Suara Clarissa terdengar dari pengeras suara.
Sarah kemudian bertanya, “Beneran buat aku?”
“Iya, beneran. Ambil aja.”
Ruang makan mendadak terasa lebih dingin.
Seorang paman yang tadi pura-pura tidak melihat kejadian mulai mengusap tengkuknya dengan canggung.
Seorang tante menatap Clarissa dengan kening berkerut.
Aris menghentikan video.
“Jadi siapa yang memutarbalikkan cerita?”
Clarissa membuka mulut, tetapi tidak ada suara keluar.
Bu Hartini segera menyela.
“Sudahlah. Clarissa mungkin cuma bercanda.”
Sarah hampir tertawa mendengarnya.
Bercanda?
Punggung tangannya masih merah.
Pipinya masih terasa panas.
Dan semua itu sekarang disebut bercanda.
Aris justru menggeleng.
“Belum selesai.”
Ia menggeser waktu rekaman mundur beberapa jam.
Pukul 14.37.
Tampilan berganti ke ruang keluarga.
Di layar terlihat Bu Hartini dan Clarissa duduk di sofa. Rumah saat itu sepi karena sebagian penghuni sedang keluar, sementara Sarah berada di dapur.
Clarissa tampak kesal.
“Aku sudah bilang, Bu. Mas Aris nggak akan kasih uang selama Sarah masih ikut campur.”
Bu Hartini menjawab, “Ibu tahu.”
“Tapi tempat butik itu nggak bisa nunggu. Pemiliknya kasih batas sampai minggu depan.”
“Makanya malam ini kita bikin Sarah kelihatan buruk di depan keluarga.”
Beberapa orang langsung saling berpandangan.
Sarah merasa dadanya seperti dihantam sesuatu.
Clarissa berdiri cepat.
“Matikan, Mas!”
Aris tidak bergerak.
Rekaman terus berjalan.
Clarissa di layar terdengar bertanya, “Caranya gimana?”
Bu Hartini tersenyum tipis.
“Kamu pancing dia. Sarah dari pagi masak. Malam pasti capek dan lapar. Kasih sesuatu, terus waktu dia ambil, bilang dia merebut bagianmu.”
Clarissa tertawa.
“Terus?”
“Biar Ibu yang urus.”
“Tapi kalau dia diam aja?”
“Semua orang punya batas. Kita tekan terus sampai dia marah.”
Sarah menatap Bu Hartini dengan wajah pucat.
Jadi semuanya memang direncanakan.
Bahkan rasa lelahnya setelah memasak selama lima belas jam sengaja dijadikan bagian dari jebakan.
Namun rekaman belum berhenti.
Clarissa di layar mendekat kepada ibunya.
“Kalau Sarah marah di depan keluarga, nanti kita bilang ke Mas Aris kalau dia sudah nggak menghormati keluarga. Terus Ibu desak Mas Aris supaya buktiin dia masih peduli sama kita.”
“Dan uang butik?”
“Mas Aris tinggal transfer enam ratus lima puluh juta. Kalau perlu bilang itu syarat supaya masalah keluarga selesai.”
Suara kursi bergeser keras.
Salah satu kerabat berdiri.
“Jadi semua ini cuma gara-gara uang?”
Clarissa panik.
“Nggak! Kalian salah paham!”
“Apa yang salah dipahami?” sahut seorang tante. “Suaramu jelas.”
Bu Hartini mendadak berteriak.
“Matikan rekamannya, Aris!”

Aris menekan tombol jeda.
Ruangan kembali sunyi.
Sarah mengira semuanya sudah terbongkar.
Ternyata Aris berkata, “Masih ada.”
Clarissa menatap kakaknya.
Kali ini wajahnya benar-benar kehilangan warna.
Aris memajukan rekaman sekitar dua puluh menit.
Di layar, Bu Hartini sudah tidak terlihat.
Clarissa sendirian di ruang keluarga sambil menelepon seseorang.
Awalnya percakapan terdengar biasa.
Kemudian satu kalimat membuat Aris menegang.
“Tenang aja. Begitu Mas Aris transfer, aku balikin dulu uang yang aku ambil dari rekening operasional.”
Aris langsung menghentikan rekaman.
“Apa?”
Clarissa menutup mulutnya sendiri.
Sarah menoleh kepada suaminya.
Aris memutar bagian itu sekali lagi.
Suara Clarissa terdengar sangat jelas.
“Aku cuma butuh waktu. Tiga ratus juta itu bakal ketutup kalau Mas Aris kasih modal butik. Dia nggak akan sadar.”
Aris berdiri kaku.
Perusahaan kontraktornya memang mengalami ketidaksesuaian saldo dalam beberapa minggu terakhir. Tim keuangan menemukan beberapa pembayaran yang terlihat sah karena menggunakan akses akun lama yang sebelumnya pernah diberikan kepada Clarissa saat ia membantu administrasi perusahaan.
Aris mengira itu hanya kesalahan pencatatan.
Sekarang semuanya mulai masuk akal.
“Clarissa.”
Suara Aris berubah.
“Uang tiga ratus juta apa?”
Clarissa menggeleng cepat.
“Nggak ada.”
“Jawab.”
“Aku cuma ngomong sembarangan.”
Aris mengambil ponselnya dan menelepon seseorang.
“Pak Dimas, maaf mengganggu malam Tahun Baru. Tolong cek mutasi rekening operasional tiga bulan terakhir. Fokus transaksi yang memakai user lama atas nama Clarissa.”
Clarissa berlari mendekat.
“Mas, jangan!”
Aris menjauhkan tangannya.
“Kenapa jangan?”
Clarissa mulai menangis.
“Aku bisa jelasin.”
“Jelaskan sekarang.”
Tidak ada lagi senyum sinis di wajahnya. Tidak ada lagi perempuan percaya diri yang beberapa menit lalu menuduh Sarah serakah.
“Aku cuma pinjam.”
“Tanpa izin?”
“Aku mau balikin.”
“Dari uang enam ratus lima puluh juta yang kamu minta dariku?”
Clarissa menunduk.
Jawabannya sudah jelas.
Butik Senopati yang selama ini disebut membutuhkan modal ternyata bukan alasan utama. Clarissa sudah membayar uang muka lokasi dan beberapa kebutuhan menggunakan dana yang ia ambil diam-diam dari rekening perusahaan Aris.
Ia yakin bisnisnya akan segera berjalan dan uang itu bisa dikembalikan sebelum diketahui siapa pun.
Namun renovasi membengkak.
Seorang rekan bisnis yang berjanji ikut menanam modal tiba-tiba mundur.
Clarissa panik.
Karena itulah ia meminta Rp650 juta kepada Aris.
Sebagian untuk menyelamatkan proyek butik.
Sebagian lagi untuk menutup uang perusahaan yang sudah ia ambil.
Bu Hartini ternyata hanya mengetahui soal kebutuhan butik dan rencana memaksa Aris memberikan uang. Ia tidak tahu putrinya telah mengambil dana perusahaan.
“Clarissa…” Bu Hartini menatap putrinya seolah baru pertama kali melihatnya. “Kamu mencuri uang kakakmu?”
“Aku nggak mencuri, Bu! Aku pinjam!”
“Tanpa izin itu namanya apa?” Aris memotong.
Ponselnya berbunyi.
Pesan dari kepala keuangan masuk.
Aris membacanya lama.
Kemudian ia mengangkat kepala.
“Bukan tiga ratus juta.”
Clarissa berhenti menangis.
Aris menunjukkan layar ponselnya.
“Totalnya tiga ratus delapan puluh tujuh juta.”
Bu Hartini terduduk.
Sarah sendiri tidak mengatakan apa-apa.
Anehnya, setelah semua penghinaan yang ia alami, ia tidak merasakan kepuasan melihat Clarissa ketakutan.
Yang ia rasakan justru lelah.
Sangat lelah.
Ia memandang meja makan yang masih penuh hidangan.
Lima belas jam.
Ia menghabiskan lima belas jam memasak untuk orang-orang yang beberapa menit lalu memilih diam ketika dirinya ditampar.
Sarah menarik napas panjang.
“Mas.”
Aris menoleh.
“Aku mau pulang.”
Bu Hartini langsung menatapnya.
“Pulang ke mana? Ini rumah kalian.”
Sarah tersenyum hambar.
“Bukan, Bu.”
Kalimat itu membuat semua orang diam.
“Selama tujuh tahun saya terus berusaha menganggap rumah ini rumah saya. Saya masak, saya urus banyak hal, saya diam setiap kali dibandingkan dengan Clarissa, dan saya selalu mencoba memahami karena saya pikir suatu hari Ibu akan menerima saya sebagai keluarga.”
Matanya mulai berkaca-kaca, tetapi suaranya tetap stabil.
“Ternyata saya salah.”
Bu Hartini hendak bicara.
Sarah mengangkat tangannya.
“Untuk pertama kalinya, tolong biarkan saya selesai.”
Bu Hartini terdiam.
“Saya tidak marah karena paha ayam. Saya bahkan tidak peduli siapa yang memakannya. Yang membuat saya sadar adalah dua puluh dua orang melihat saya dipukul dan dipermalukan, tapi semuanya memilih diam.”
Beberapa kerabat menunduk.
“Jadi malam ini saya belajar sesuatu. Kadang orang bukan kehilangan keluarga ketika pergi dari sebuah rumah. Kadang justru baru menemukan harga dirinya setelah berani keluar.”
Sarah berjalan menuju tangga.
Aris segera mengikutinya.
Bu Hartini bangkit.
“Aris! Kamu mau ke mana?”
Aris berhenti.
“Bersama istri saya.”
“Kamu meninggalkan ibumu demi perempuan itu?”
Aris menatap ibunya cukup lama.
“Bukan Sarah yang membuat saya meninggalkan rumah ini, Bu.”
Ia menunjuk layar CCTV.
“Ibu sendiri yang membuat saya sadar kenapa kami harus pergi.”
Malam itu Aris dan Sarah meninggalkan rumah Puri Indah hanya dengan dua koper.
Mereka tinggal sementara di sebuah apartemen di Jakarta Selatan.
Tiga hari kemudian, Aris meminta auditor independen memeriksa seluruh transaksi perusahaan.
Hasilnya lebih buruk daripada yang diduga.
Clarissa bukan hanya mengambil dana operasional. Ia juga menggunakan beberapa dokumen perusahaan untuk meyakinkan pemasok butik bahwa bisnisnya didukung perusahaan Aris.
Aris akhirnya memilih jalur hukum.
Bu Hartini berkali-kali menelepon.
Awalnya untuk meminta Aris mencabut laporan.
Kemudian untuk menyalahkan Sarah.
Namun Aris tidak berubah pikiran.
Sampai dua bulan kemudian, Bu Hartini datang sendiri ke apartemen mereka.
Sarah yang membuka pintu terkejut melihat perempuan itu berdiri tanpa sopir, tanpa tas mahal yang biasanya selalu dibawanya, dan tanpa ekspresi angkuh.
Pipi Bu Hartini tampak lebih kurus.
“Saya mau bicara.”
Sarah mempersilahkannya masuk.
Bu Hartini duduk di sofa dan cukup lama tidak mengatakan apa-apa.
Lalu ia mengeluarkan sebuah flashdisk.
“Saya menemukan ini di kamar Clarissa.”
Sarah menerimanya dengan bingung.
“Apa isinya?”
“Rekaman suara.”
Ternyata Clarissa telah merekam beberapa percakapannya dengan sang ibu.
Bukan untuk menyimpan kenangan.
Ia berniat menggunakan rekaman itu jika rencananya gagal.
Dalam salah satu rekaman, Clarissa bahkan terdengar mengatakan kepada temannya bahwa jika Aris tetap tidak memberikan uang, ia akan membuat seolah-olah seluruh rencana mempermalukan Sarah berasal dari Bu Hartini.
Ia sudah menyiapkan ibunya sendiri sebagai kambing hitam.
Bu Hartini menangis ketika mengakuinya.
“Saya membela anak saya sampai saya nggak bisa melihat mana yang benar dan mana yang salah.”
Sarah diam.
“Saya pikir karena Clarissa anak kandung saya, saya harus selalu berada di pihaknya.”
Bu Hartini menatap Sarah.
“Tapi malam itu saya justru menyakiti orang yang selama tujuh tahun paling banyak membantu saya.”
Sarah tidak langsung memaafkannya.
Ia juga tidak mengucapkan kalimat indah seolah semua luka bisa hilang hanya karena sebuah permintaan maaf.
“Saya menghargai Ibu datang,” katanya. “Tapi saya butuh waktu.”
Bu Hartini mengangguk.
Untuk pertama kalinya, perempuan itu tidak memaksa.
Enam bulan kemudian, kasus Clarissa diselesaikan melalui proses hukum dan kesepakatan pengembalian dana dengan pengawasan pengacara. Butiknya tidak pernah dibuka. Aset yang sudah dibeli dijual untuk menutup sebagian kerugian.
Hubungan keluarga mereka tidak pernah kembali seperti dulu.
Namun justru itu yang membuat kehidupan Sarah jauh lebih tenang.
Ia dan Aris membeli rumah sendiri di kawasan yang tidak terlalu jauh dari kantor. Tidak sebesar rumah Puri Indah, tetapi Sarah bebas menentukan siapa yang boleh masuk, bagaimana rumah itu dijalankan, dan yang paling penting, bagaimana dirinya diperlakukan.
Suatu malam, hampir setahun setelah kejadian itu, Bu Hartini datang untuk makan malam.
Kali ini hanya bertiga.
Sarah memasak sederhana.
Sayur asem, ikan goreng, sambal, dan ayam panggang kecap.
Ketika mereka duduk, kebetulan hanya tersisa satu paha ayam di piring tengah.
Bu Hartini menatap potongan itu.
Sarah juga melihatnya.
Suasana mendadak canggung.
Kemudian Bu Hartini mengambil paha ayam tersebut dengan sendok.
Sarah terdiam.
Namun perempuan tua itu justru meletakkannya di piring Sarah.
“Ini bagianmu.”
Sarah menatapnya lama.
Bu Hartini tersenyum kecil.
“Bukan karena kamu menantu. Bukan karena kamu sudah masak.”
Ia menarik napas.
“Karena kalau kita duduk di meja yang sama, tidak boleh ada orang yang dianggap lebih rendah.”
Mata Sarah terasa panas.
Ia tidak tahu apakah hubungan mereka akan pernah benar-benar pulih.
Mungkin tidak.
Beberapa luka meninggalkan bekas meskipun rasa sakitnya sudah hilang.
Namun Sarah akhirnya memahami bahwa memaafkan tidak berarti melupakan, dan mempertahankan keluarga tidak berarti membiarkan diri sendiri terus disakiti.
Ia menatap paha ayam di piringnya lalu tersenyum tipis.
Potongan ayam yang setahun lalu digunakan untuk mempermalukannya kini menjadi pengingat tentang malam ketika sebuah kamera kecil di sudut ruangan membongkar kebohongan besar.
Tetapi kamera itu sebenarnya bukan hal yang menyelamatkan Sarah.
Yang menyelamatkannya adalah keberanian untuk berhenti menerima perlakuan yang selama bertahun-tahun ia kira harus ditoleransi demi keluarga.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Sarah makan tanpa merasa dirinya seorang tamu di meja keluarga sendiri.
