Pulang jualan kue, aku dibuat syok melihat rumah peninggalan almarhum ayahku di Bekasi sudah dipasangi plang “DIJUAL” oleh ibu mertuaku sendiri. Yang lebih menghancurkan, ternyata suamiku diam-diam memalsukan tanda tanganku di hadapan notaris dan menjadikan sertifikat rumah sebagai jaminan demi membiayai usaha adik perempuannya.
BAGIAN 1
Jam empat sore aku pulang membawa tiga dus kue pesanan dari Bekasi Timur. Matahari masih terasa menyengat, tubuhku lengket oleh keringat setelah seharian mengantar pesanan.
Dari kejauhan, aku melihat sesuatu yang aneh di depan pagar rumah.
Ada spanduk kuning besar terpasang di sana.

Awalnya aku mengira tetangga sedang mengadakan acara dan salah memasang spanduk. Namun semakin dekat motorku ke rumah, tulisan hitam besar itu terlihat semakin jelas.
DIJUAL
HUBUNGI: IBU YUNI
0812-XXXX-XXXX
LUAS 90 M² – SHM
Aku langsung mengerem.
Dadaku seperti dihantam sesuatu.
Itu rumahku.
Rumah yang sebagian uang mukanya kubayar menggunakan warisan dari almarhum ayahku.
Tanganku mendadak lemas. Tiga dus kue yang kubawa hampir jatuh dari motor.
Namaku Sari Wulandari. Umurku 29 tahun dan aku tinggal di sebuah cluster kecil di Tambun, Bekasi. Aku sudah menikah dengan Rizky selama empat tahun.
Kami memang belum dikaruniai anak, tetapi selama ini aku tidak pernah menganggapnya sebagai masalah besar.
Aku menjalankan usaha kue online. Omzetnya lumayan, sekitar Rp15–18 juta setiap bulan. Sementara Rizky bekerja sebagai staf marketing di Jakarta.
Dua tahun lalu, ayahku yang tinggal di Solo meninggal dunia. Sebagai satu-satunya anak perempuan, aku menerima warisan sebesar Rp150 juta.
Uang itulah yang kupakai untuk membantu membayar uang muka rumah seharga Rp450 juta ini. Sisanya kami cicil bersama.
Namun sertifikat rumah dibuat atas nama Rizky.
Waktu itu Ibu Yuni, ibu mertuaku, berkata, “Biar gampang urusan bank kalau pakai nama suami. Kalian kan sudah menikah, sama saja.”
Dan bodohnya, aku percaya.
Aku menurut.
Setahun terakhir, Ibu Yuni tinggal bersama kami. Alasannya, setelah ayah mertua meninggal, beliau merasa kesepian tinggal sendirian di Depok.
Aku menerimanya dengan tangan terbuka.
Bagaimanapun juga, dia ibu dari suamiku.
Adik iparku, Putri, yang berusia 24 tahun juga sering datang ke rumah. Dia baru lulus kuliah di Bandung dan katanya ingin membuka butik hijab sendiri.
Beberapa bulan terakhir, aku mulai merasakan ada sesuatu yang tidak beres.
Ibu Yuni sering berbisik-bisik dengan Rizky di dapur. Setiap kali aku datang, percakapan mereka langsung berhenti.
Rizky juga berubah.
Biasanya setiap bulan dia mentransfer Rp5 juta untuk membantu cicilan rumah dan kebutuhan sehari-hari. Namun tiga bulan terakhir, dia hanya memberiku Rp2 juta.
Katanya ada potongan dari kantor.
Ketika kutanya baik-baik, dia malah tersinggung.
“Kamu tuh kenapa sih selalu ngitungin uang suami? Nggak percaya sama aku?”
Aku memilih diam.
Puncaknya terjadi kemarin malam.
Saat kami sedang makan bersama, Ibu Yuni tiba-tiba berkata, “Putri butuh modal sekitar Rp80 juta buat sewa ruko di Bandung. Kasihan, Sar. Dia kan adiknya Rizky. Kita sebagai keluarga harus bantu.”
Aku meletakkan sendok.
“Bu, aku juga sedang mengumpulkan uang buat memperpanjang sewa tempat produksi kue. Kalau Putri butuh modal usaha, mungkin bisa coba KUR dulu.”
Wajah Ibu Yuni langsung berubah.
Rizky ikut menyela.
“Kamu tuh pelit banget! Sama keluarga sendiri saja hitung-hitungan.”
Aku tidak menjawab.
Malam itu aku menangis sendirian di kamar mandi.
Namun aku tidak pernah membayangkan bahwa keesokan harinya aku akan menemukan plang “DIJUAL” terpampang di depan rumahku sendiri.
Aku langsung masuk ke rumah dengan napas memburu.
Ibu Yuni sedang duduk santai di ruang keluarga sambil menonton sinetron dan makan keripik.
“Bu, itu apa maksudnya plang di depan?!” tanyaku.
Dia bahkan tidak terlihat terkejut.
“Oh, itu?”
Tangannya tetap mengambil keripik.
“Ibu cuma bantu pasang. Rizky yang minta. Katanya rumah ini mau dijual saja. Nanti kita pindah ke Depok supaya dekat saudara. Rumah sekecil ini bikin sumpek.”
Aku menatapnya tidak percaya.
Dijual?
Pindah?
Dan semua keputusan itu dibuat tanpa pernah membicarakannya denganku?
Padahal uang warisan ayahku ada di rumah ini.
“Rizky mana, Bu?”
Aku mulai kehilangan kesabaran.
“Mana Rizky?!”
“Kerja lah,” jawabnya ketus. “Masa di rumah terus kayak kamu?”
Aku tidak mau meladeni ucapannya.
Aku langsung berlari menuju kamar.
Kubuka lemari tempat kami menyimpan dokumen penting: fotokopi sertifikat rumah, BPKB motor, surat-surat bank, dan berkas lainnya.
Lemarinya berantakan.
Map biru tempat dokumen rumah biasa disimpan sudah tidak ada.
Jantungku berdetak semakin cepat.
Aku beralih ke meja kerja Rizky.
Lacinya biasanya selalu dikunci, tetapi entah kenapa hari itu sedikit terbuka.
Aku menariknya.
Di dalamnya ada sebuah map cokelat yang belum pernah kulihat sebelumnya.
Tanganku mulai gemetar ketika membukanya.
Ada fotokopi Perjanjian Pengikatan Jual Beli.
Nama Rizky tercantum di sana.
Dan di sebelah tanda tangannya terdapat satu nama yang membuat tubuhku seketika membeku.
SARI WULANDARI.
Namaku.
Lengkap dengan tanda tangan.
Masalahnya, aku tidak pernah menandatangani dokumen apa pun bulan ini.
Bahkan aku tidak pernah tahu rumah ini sedang dalam proses penjualan.
Aku membalik halaman berikutnya.
Ada kuitansi pembayaran uang muka dari calon pembeli sebesar Rp20 juta.
Kemudian aku menemukan selembar hasil cetak percakapan WhatsApp.
Percakapan antara Rizky dengan seseorang yang disimpan dengan nama “Notaris Ayu – Tambun”.
Rizky menulis:
“Berkas sudah beres, Bu Ayu. Tanda tangan istri sudah dapat. Tinggal proses berikutnya supaya nanti bisa dialihkan ke adik saya, Putri.”
Notaris Ayu membalas:
“Oke, Pak Rizky. Tapi pastikan istrinya hadir saat proses final, ya.”
Balasan Rizky membuat darahku terasa mendidih.
“Aman, Bu. Istri saya nurut sama saya. Jangan sampai Sari tahu dulu sebelum semuanya selesai. Nanti bilang saja rumah ini aset keluarga saya, bukan dari uang warisan.”
Aku hampir tidak mampu bernapas.
Di bawahnya masih ada hasil cetak percakapan Rizky dengan Ibu Yuni.
“Tenang, Bu. Sertifikat sudah dibawa untuk proses. Sari nggak bakal curiga sampai semuanya selesai. DP Rp20 juta sudah masuk. Bisa dipakai dulu buat DP ruko Putri.”
Tanganku gemetar hebat.
Jadi selama ini mereka memang merencanakannya.
Rumah yang kubayar menggunakan warisan ayahku hendak mereka jual diam-diam.
Tanda tanganku dipalsukan.
Dan uangnya akan digunakan untuk membiayai bisnis Putri.
Aku segera memotret seluruh dokumen itu dengan ponsel.
Satu halaman.
Dua halaman.
Semua percakapan.
Semua bukti.
Air mataku terus mengalir, tetapi kali ini bukan hanya karena sedih.
Aku marah.
Sangat marah.
Tiba-tiba ponselku bergetar.
Sebuah notifikasi dari mobile banking muncul di layar.
Rekening bersama kami.
Rekening yang selama ini juga kupakai menyimpan sebagian besar keuntungan dari usaha kueku.
Saldo terakhirnya sekitar Rp95 juta.
Aku membuka notifikasi itu.
TRANSFER BERHASIL
Rp75.000.000
Penerima: PUTRI AULIA
Keterangan: MODAL USAHA
Aku menatap layar tanpa berkedip.
Tujuh puluh lima juta rupiah.
Uang hasil kerja kerasku.
Uang yang kukumpulkan dari ratusan pesanan.
Uang yang kudapat setelah berkali-kali bangun pukul dua pagi untuk membuat adonan, memanggang kue, menghias pesanan, lalu mengantarkannya sendiri.
Semuanya dipindahkan tanpa sepengetahuanku.
Saat itulah suara pintu depan terdengar.
Rizky pulang.
Langkah kakinya semakin dekat.
Ketika masuk ke kamar dan melihat map cokelat berada di tanganku, wajahnya seketika pucat.
“Sari…”
Matanya berpindah dari wajahku ke dokumen-dokumen di atas meja.
“Kamu ngapain buka laci aku?!” bentaknya.
Aku berdiri.
Tanganku menunjuk ke arah depan rumah.
“JELASKAN, RIZKY!”
Suaraku bergetar karena marah.
“APA MAKSUDNYA PLANG DI DEPAN ITU?!”
Rizky terdiam.
“KAMU PALSUKAN TANDA TANGANKU?”
Aku mengangkat dokumen tersebut tepat di depan wajahnya.
“KAMU MAU JUAL RUMAH YANG DIBELI PAKAI UANG WARISAN AYAHKU?!”
Beberapa detik Rizky tidak mengatakan apa-apa.
Lalu bukannya meminta maaf atau menjelaskan, dia justru merebut map itu dari tanganku dengan kasar.
“Jangan ikut campur urusan yang kamu nggak ngerti!”
Kalimat itu membuatku terpaku.
Urusan yang tidak kumengerti?
Ini rumahku.
Ini uangku.
Ini tanda tanganku.
Tapi ternyata pengkhianatan Rizky jauh lebih besar daripada yang kubayangkan.
Karena ketika aku akhirnya mengetahui untuk apa sebenarnya sertifikat rumah itu dipakai, aku sadar bahwa ruko Putri hanyalah sebagian kecil dari rencana mereka.
Ada utang lain.
Ada dokumen lain.
Dan yang paling membuatku menggigil, namaku ternyata sudah digunakan Rizky untuk sesuatu yang nilainya jauh lebih besar daripada Rp75 juta.
Saat itulah aku sadar satu hal.
Kalau aku tetap diam malam itu, bukan cuma rumah peninggalan ayahku yang akan hilang.
Aku bisa kehilangan seluruh hasil kerja kerasku selama bertahun-tahun karena ulah keluarga yang selama ini kupanggil sebagai keluargaku sendiri.
