BARU 5 HARI SELESAI OPERASI CAESAR, SUAMINYA TEGA MENYURUHNYA PULANG NAIK ANGKUTAN UMUM SAMBIL MENGGENDONG BAYI. DIA TAK PERNAH MENYANGKA SIAPA SEBENARNYA AYAH KANDUNG SANG ISTRI!

Bus kota itu baru bergerak beberapa ratus meter ketika ponsel Anindya kembali bergetar.

Sebuah pesan masuk dari ayahnya.

Jangan turun di apartemen. Orang Papa sudah menuju lokasimu.

Anindya membaca kalimat itu dua kali sebelum mematikan layar. Di pelukannya, Arka bergerak kecil, lalu kembali tertidur. Wajah bayi itu begitu tenang, seolah dunia di sekelilingnya tidak sedang runtuh.

Anindya menunduk dan mencium kening putranya.

“Maaf,” bisiknya. “Mama terlalu lama diam.”

Selama dua tahun, dia selalu menganggap kesabaran sebagai cara mempertahankan rumah tangga. Dia menelan hinaan Marni, membiarkan Siska memperlakukannya seperti orang asing, bahkan terus memaafkan Rian setiap kali suaminya pulang larut malam dengan alasan bertemu investor.

Namun hari itu, Anindya akhirnya memahami perbedaan antara mempertahankan keluarga dan membiarkan dirinya diinjak.

Sekitar dua puluh menit kemudian, bus berhenti di sebuah halte besar.

Anindya terkejut ketika melihat dua mobil hitam sudah menunggu di tepi jalan. Seorang perempuan berusia sekitar empat puluh tahun dengan setelan formal segera mendekati pintu bus bersama seorang pria berbadan tegap.

“Mbak Anindya?”

Anindya mengangguk.

“Saya Ratih, sekretaris Pak Surya. Kami diminta menjemput Mbak.”

Ratih terdiam sesaat ketika melihat kondisi Anindya. Wajahnya yang semula profesional berubah tegang.

“Mbak pulang dari rumah sakit naik bus dalam kondisi seperti ini?”

Anindya hanya tersenyum tipis.

“Tolong jangan tanya dulu.”

Ratih memahami.

Dengan bantuan sopir bus dan beberapa penumpang, Anindya turun perlahan. Sebelum pergi, dia menoleh kepada sopir yang tadi membantunya.

“Pak, terima kasih.”

Sopir itu tersenyum.

“Yang penting Ibu dan bayinya selamat.”

Kalimat sederhana itu hampir membuat pertahanan Anindya runtuh.

Orang asing yang bahkan tidak tahu namanya berharap dia selamat.

Sementara suaminya sendiri memilih makan siang di restoran.

Anindya dibawa bukan ke rumah ayahnya, melainkan ke sebuah rumah sakit swasta lain tempat dokter keluarga Surya sudah menunggu. Setelah diperiksa, dokter mengatakan kondisi lukanya cukup baik, tetapi tubuhnya kelelahan dan membutuhkan istirahat.

“Beberapa hari ke depan jangan banyak bergerak,” kata dokter. “Apalagi membawa barang berat atau naik turun kendaraan umum.”

Ratih yang berdiri di sudut ruangan mengepalkan tangannya.

Anindya pura-pura tidak melihat.

Menjelang sore, Surya akhirnya datang.

Pria berusia enam puluh tahun itu memasuki kamar dengan langkah cepat. Rambutnya sudah banyak memutih, tetapi posturnya masih tegap. Begitu melihat putrinya terbaring di tempat tidur, seluruh ketegasan di wajahnya menghilang.

Surya tidak langsung bertanya apa pun.

Dia hanya mendekat dan memeluk kepala Anindya.

“Ayah terlambat melindungimu.”

Anindya akhirnya menangis.

Tangisan yang ditahannya sejak halaman rumah sakit pecah begitu saja.

“Bukan salah Papa.”

“Papa sudah melihat tanda-tandanya sejak lama.”

“Tapi aku yang memilih bertahan.”

Surya mengusap rambut putrinya.

“Karena kamu berharap dia berubah.”

Anindya mengangguk.

Setelah emosinya mereda, Surya duduk di kursi samping tempat tidur dan membuka sebuah tablet.

“Ada sesuatu yang harus kamu lihat.”

Di layar muncul sejumlah dokumen perusahaan.

Nama perusahaan Rian, Nexora Digital, tercetak di bagian atas.

Selama dua tahun terakhir, perusahaan itu tumbuh luar biasa cepat. Dari startup kecil dengan dua belas karyawan menjadi perusahaan teknologi dengan valuasi ratusan miliar rupiah.

Rian selalu membanggakan pencapaiannya sebagai hasil kerja kerasnya sendiri.

Namun dokumen di tangan Surya menunjukkan cerita berbeda.

“Delapan belas bulan lalu,” kata Surya, “Rian mulai mendekati investor dengan mengatakan bahwa Nexora mendapat dukungan strategis dari keluarga Wicaksono.”

Anindya mengerutkan kening.

“Dia menyebut nama Papa?”

“Secara tidak langsung.”

Surya menunjukkan sebuah presentasi investor.

Di salah satu halaman terdapat kalimat yang menyebut perusahaan memiliki akses strategis kepada salah satu grup infrastruktur terbesar di Indonesia melalui hubungan keluarga pendiri.

Tidak ada nama Surya Group.

Tetapi siapa pun di dunia investasi yang melakukan sedikit pemeriksaan akan tahu siapa yang dimaksud.

“Lebih parah lagi,” lanjut Surya, “dia menggunakan SUV yang Papa hadiahkan kepadamu, menghadiri acara bisnis di properti milik grup kita, dan beberapa kali membawa calon investor ke klub bisnis tempat Papa menjadi anggota.”

Anindya terdiam.

Potongan-potongan kecil yang dulu dianggapnya tidak penting mendadak tersusun menjadi gambaran mengerikan.

Rian sering meminjam kartu akses tamunya.

Rian pernah meminta foto bersama Surya dalam acara ulang tahun keluarga.

Rian bahkan beberapa kali bertanya tentang proyek baru Surya Group dengan alasan sekadar ingin belajar.

“Jadi selama ini…”

“Dia menjual persepsi bahwa dirinya berada di lingkaran keluarga kita.”

Anindya menatap layar.

“Lalu kebohongan besar yang Papa maksud?”

Surya mengganti dokumen.

Kali ini laporan keuangan.

“Tim audit menemukan transaksi mencurigakan. Dana investasi dipindahkan ke beberapa vendor yang ternyata terafiliasi dengan direktur keuangannya. Sebagian dana juga digunakan untuk membeli aset pribadi.”

“Rian tahu?”

“Kami belum punya bukti untuk semua transaksi.”

Surya berhenti.

“Tapi kami punya cukup bukti bahwa dia menandatangani beberapa persetujuan.”

Anindya merasa mual.

Pria yang beberapa jam lalu mengatakan dirinya terlalu banyak drama ternyata sedang duduk di atas masalah yang bisa menghancurkan seluruh hidupnya.

“Apa Papa akan melaporkannya?”

“Papa tidak akan melakukan apa pun hanya karena dia menyakiti anak Papa.”

Surya menatap Anindya tajam.

“Tapi kalau ada pelanggaran hukum, biarkan hukum bekerja.”

Malam itu, sementara Anindya beristirahat, Rian baru pulang dari restoran.

Dia masuk ke apartemen sambil tertawa bersama Siska.

Namun tawanya berhenti ketika melihat apartemen kosong.

“Anin?”

Tidak ada jawaban.

Tas perlengkapan bayi masih berada di bagasi mobil.

Rian mengeluarkan ponselnya dan menelepon.

Tidak diangkat.

Dia mencoba lagi.

Tetap tidak diangkat.

Marni yang baru masuk mengernyit.

“Ke mana istrimu?”

“Mungkin masih di jalan.”

Siska tertawa kecil.

“Naik bus saja lama banget.”

Rian berusaha ikut tersenyum, tetapi entah mengapa dadanya terasa tidak nyaman.

Kemudian ponselnya berbunyi.

Bukan dari Anindya.

Dari Armand, salah satu investor terbesar Nexora.

“Pak Rian, kita perlu bicara besok pagi.”

Rian membaca pesan itu dengan bingung.

Belum sempat membalas, pesan kedua masuk.

Kemudian ketiga.

Dalam waktu kurang dari lima belas menit, tiga investor meminta pertemuan darurat.

Rian langsung menelepon direktur keuangannya.

“Fajar, ada apa?”

Suara di seberang terdengar panik.

“Entahlah. Tapi salah satu investor meminta klarifikasi tentang hubungan kita dengan Surya Group.”

Tubuh Rian menegang.

“Kenapa tiba-tiba?”

“Katanya mereka mendapat informasi bahwa Surya Group tidak pernah memberikan dukungan resmi kepada Nexora.”

Rian berdiri membeku.

Marni memperhatikan wajah putranya.

“Ada masalah?”

Rian tidak menjawab.

Malam itu dia menelepon Anindya sebelas kali.

Tidak satu pun diangkat.

Keesokan paginya, Rian datang ke kantor lebih awal.

Ruang rapat sudah dipenuhi beberapa investor.

Armand duduk di ujung meja dengan ekspresi dingin.

“Kami hanya ingin satu jawaban,” katanya. “Apakah Surya Group pernah memberikan komitmen resmi kepada Nexora?”

Rian berusaha mempertahankan ketenangan.

“Saya tidak pernah mengatakan ada komitmen resmi.”

“Tapi Anda membangun kesan bahwa keluarga Wicaksono mendukung perusahaan ini.”

“Itu interpretasi investor.”

Armand menyandarkan tubuh.

“Menarik.”

Pintu ruang rapat terbuka.

Seorang pria berjas gelap masuk membawa beberapa dokumen.

Rian mengenalinya.

Bima Prasetyo.

Direktur investasi Surya Group.

Wajah Rian langsung pucat.

Bima duduk tanpa menjabat tangannya.

“Saya datang mewakili Pak Surya Wicaksono.”

Ruangan mendadak sunyi.

“Surya Group menegaskan tidak pernah memberikan jaminan, dukungan finansial, maupun komitmen strategis kepada Nexora Digital.”

Rian mencoba berbicara.

“Pak Bima, sepertinya ada kesalahpahaman.”

“Tidak ada.”

Bima meletakkan dokumen di meja.

“Kami juga meminta perusahaan Anda berhenti menggunakan hubungan keluarga dengan pemilik Surya Group sebagai materi untuk memperoleh kepercayaan investor.”

Rian menelan ludah.

Kemudian Armand bertanya sesuatu yang membuat seluruh ruangan membeku.

“Hubungan keluarga apa sebenarnya?”

Bima menatap Rian beberapa detik.

“Pak Rian tidak pernah memberitahu Anda?”

Tidak seorang pun menjawab.

Bima melanjutkan dengan tenang.

“Istrinya, Anindya Wicaksono, adalah putri tunggal Pak Surya Wicaksono.”

Wajah Rian kehilangan warna.

Armand bahkan berdiri dari kursinya.

“Istrimu anak Surya Wicaksono?”

Rian tidak mampu menjawab.

Tiba-tiba semua hal yang selama ini dia abaikan muncul dalam pikirannya.

SUV mahal yang disebut Anindya sebagai hadiah ayahnya.

Apartemen yang dibeli tanpa kredit.

Undangan ke acara bisnis elite.

Cara sejumlah investor senior selalu memperlakukan Anindya dengan hormat meskipun perempuan itu berpakaian sederhana.

Rian selama ini menganggap semua itu terjadi karena dirinya.

Ternyata bukan.

Dia keluar dari ruang rapat dengan tangan gemetar dan langsung menelepon Anindya.

Kali ini telepon diangkat.

“Anin.”

Suara Rian terdengar berbeda.

Lembut.

Hampir seperti Rian yang dikenalnya sebelum menikah.

“Kamu di mana? Aku jemput kamu sama Arka.”

Anindya terdiam.

“Aku minta maaf soal kemarin. Aku lagi stres. Banyak masalah kantor.”

Anindya memandang keluar jendela.

“Kalau investor tidak bertanya tentang Papa pagi ini, apakah kamu akan meneleponku dengan suara seperti ini?”

Rian membeku.

“Jadi kamu sudah tahu?”

“Aku tahu lebih banyak daripada yang kamu kira.”

“Anin, dengarkan aku. Kita bisa bicara baik-baik.”

“Kemarin aku mencoba bicara.”

“Itu kesalahan.”

“Kesalahan?”

Suara Anindya tetap tenang.

“Kamu meninggalkan istrimu lima hari setelah operasi dengan bayi yang baru lahir di depan rumah sakit. Kamu mengambil mobilnya. Kamu bahkan membawa tas perlengkapan bayi supaya bisa makan bersama ibu dan adikmu.”

Rian tidak menjawab.

“Kamu menyebut itu kesalahan?”

“Anin…”

“Aku menyebutnya pilihan.”

Telepon terputus.

Dalam tiga minggu berikutnya, kehidupan Rian berubah drastis.

Dua investor menunda pencairan dana. Dewan komisaris membentuk audit independen. Beberapa transaksi vendor mulai diperiksa.

Kemudian Fajar menghilang.

Direktur keuangan Nexora itu ternyata sudah meninggalkan Indonesia dua hari sebelum audit dimulai.

Dan kejutan terbesar muncul ketika penyidik menemukan sejumlah dokumen elektronik.

Sebagian transaksi memang dilakukan Fajar.

Namun beberapa persetujuan menggunakan tanda tangan digital Rian.

Rian bersikeras dirinya tidak mengetahui detailnya.

Penyelidikan terus berjalan.

Marni dan Siska yang awalnya menyalahkan Anindya mulai panik.

Suatu sore mereka mendatangi rumah Surya.

Marni bahkan menangis di depan gerbang.

“Anindya, tolong jangan hancurkan suamimu!”

Anindya keluar ditemani Ratih.

Tubuhnya sudah jauh lebih pulih.

“Aku tidak menghancurkan siapa pun, Bu.”

“Kamu bisa bicara sama ayahmu!”

“Untuk apa?”

“Suruh investornya kembali!”

Anindya menatap perempuan yang beberapa minggu lalu membiarkannya berdiri kesakitan di depan rumah sakit.

“Apa Ibu datang karena ingin bertemu cucu Ibu?”

Marni terdiam.

Anindya tersenyum pahit.

“Atau karena perusahaan Rian sedang bermasalah?”

Tidak ada jawaban.

Itulah jawaban paling jelas.

Anindya berbalik masuk.

Proses perpisahan mereka berjalan beberapa bulan.

Rian berkali-kali meminta kesempatan kedua.

Dia mengirim bunga.

Surat.

Pesan panjang.

Bahkan pernah berdiri selama dua jam di depan rumah Surya.

Anindya tidak membencinya.

Justru itu yang paling mengejutkan dirinya.

Yang tersisa hanyalah rasa asing.

Seperti melihat seseorang yang pernah sangat dikenalnya berubah menjadi orang lain.

Enam bulan kemudian, audit Nexora selesai.

Rian terbukti lalai dan melanggar sejumlah prosedur perusahaan, tetapi penyelidikan menemukan fakta lain.

Fajar ternyata dalang utama penggelapan dana.

Namun Rian tetap kehilangan posisinya sebagai CEO karena manipulasi informasi terhadap investor dan kegagalan tata kelola.

Nexora tidak bangkrut.

Perusahaan itu diselamatkan melalui restrukturisasi dan manajemen baru.

Suatu pagi, Surya memberikan sebuah dokumen kepada Anindya.

“Kamu harus lihat ini.”

Anindya membaca halaman pertama.

Ternyata salah satu investor yang masuk dalam restrukturisasi adalah perusahaan investasi baru bernama Aksara Ventures.

Pemegang saham pengendalinya tercantum satu nama.

Anindya Wicaksono.

Anindya menatap ayahnya.

“Papa?”

Surya tersenyum.

“Uangmu sendiri. Investasi yang Papa kelola sejak kamu kuliah.”

“Tapi kenapa Nexora?”

“Karena teknologi mereka sebenarnya bagus. Yang buruk adalah tata kelolanya.”

Anindya tertawa kecil.

“Jadi sekarang aku memiliki sebagian perusahaan mantan suamiku?”

“Secara tidak langsung.”

Surya berdiri.

“Tapi Papa tidak ingin kamu hidup hanya sebagai anak Surya Wicaksono.”

Dia menatap putrinya.

“Bangun sesuatu dengan namamu sendiri.”

Setahun kemudian, Aksara Ventures berkembang menjadi perusahaan investasi yang fokus mendanai bisnis dengan kepemimpinan perempuan dan tata kelola transparan.

Anindya tidak pernah menjadi figur yang suka tampil di media.

Namun suatu hari, dalam sebuah forum bisnis di Jakarta, seorang moderator bertanya apa yang membuatnya berani memulai semuanya.

Anindya terdiam sejenak.

Di barisan depan, Surya duduk sambil menggendong Arka yang kini sudah mulai belajar berjalan.

Anindya tersenyum.

“Dulu saya mengira kekuatan berarti mampu bertahan selama mungkin.”

Ruangan hening.

“Ternyata saya salah.”

Dia melihat ayahnya.

“Kekuatan juga berarti tahu kapan kita harus berhenti membiarkan seseorang menyakiti kita.”

Setelah acara selesai, Anindya berjalan menuju area parkir.

Di seberang jalan, dia melihat seorang pria berdiri sendirian.

Rian.

Penampilannya jauh lebih sederhana.

Tidak ada jas mahal.

Tidak ada mobil mewah.

Mereka saling memandang.

Rian mendekat perlahan.

“Selamat,” katanya.

“Terima kasih.”

Rian menatap Arka dari kejauhan, lalu tersenyum tipis.

“Aku sering memikirkan hari itu.”

Anindya tahu hari apa yang dimaksud.

“Kalau waktu bisa diputar…”

“Jangan.”

Rian berhenti.

Anindya menatapnya tanpa kebencian.

“Kalau hari itu tidak terjadi, mungkin aku masih terus mencari alasan untuk memaafkanmu.”

Rian menunduk.

“Aku kehilangan semuanya.”

Anindya menggeleng.

“Tidak.”

Rian menatapnya.

“Kamu kehilangan sesuatu jauh sebelum perusahaanmu bermasalah.”

“Apa?”

Anindya tersenyum tipis.

“Rasa cukup.”

Dia berjalan meninggalkan Rian.

Di depan mobil, Surya sedang berusaha memasangkan sepatu kecil Arka yang terlepas.

Anindya tertawa melihat ayahnya kerepotan.

Saat itu dia tiba-tiba teringat uang Rp50.000 yang diberikan Rian di depan rumah sakit.

Uang itu masih disimpannya.

Bukan karena nilainya.

Bukan pula karena dendam.

Dia menyimpannya sebagai pengingat bahwa hari terburuk dalam hidup seseorang terkadang bukan akhir dari segalanya.

Kadang-kadang, justru pada hari ketika kita merasa dibuang, direndahkan, dan kehilangan tempat untuk pulang, hidup sedang memaksa kita menemukan satu tempat yang selama ini terlupakan.

Diri kita sendiri.

Anindya masuk ke mobil.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, dia tidak lagi menjadi istri seseorang yang sedang mengejar pengakuan.

Tidak pula sekadar putri seorang konglomerat.

Dia adalah Anindya.

Dan kali ini, itu sudah lebih dari cukup.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang