Tanganku masih gemetar ketika ponsel di genggamanku kembali terdengar.
“Halo, Laras? Kamu masih di sana?” suara perempuan dari bagian akademik UGM terdengar hati-hati. “Kami perlu memastikan karena batas konfirmasi tinggal dua hari.”
Aku menatap amplop cokelat di lantai. Surat beasiswa yang seharusnya menjadi tiket menuju masa depanku ternyata sudah lebih dulu disentuh seseorang.
“Saya tidak pernah menolak beasiswa itu, Bu.”

Di seberang sana mendadak hening.
“Maaf?”
“Saya tidak pernah mengirim penolakan. Saya bahkan baru tahu ada pemberitahuan bahwa saya dianggap tidak daftar ulang.”
Petugas itu meminta nomor peserta dan tanggal lahirku. Setelah beberapa menit memeriksa data, suaranya berubah serius.
“Laras, ada permintaan pembatalan yang masuk menggunakan nomor telepon yang terdaftar sebagai kontak wali. Tapi karena status beasiswamu khusus dan prestasimu termasuk pertimbangan utama, pembatalannya belum kami finalisasi. Kamu masih bisa melakukan konfirmasi langsung.”
Dadaku terasa sesak.
“Masih bisa, Bu?”
“Masih. Besok segera lengkapi verifikasi. Jangan lewat dari batas waktunya.”
Aku menutup telepon dengan air mata mengalir begitu saja.
Untuk pertama kalinya malam itu, aku tidak menangis karena sedih.
Aku menangis karena ternyata pintu yang mereka coba tutup belum benar-benar terkunci.
Aku memasukkan surat beasiswa, fotokopi dokumen rumah, buku tabungan, dan tangkapan layar percakapan keluarga ke dalam tas sekolah. Aku juga memotret seluruh dokumen menggunakan ponsel dan mengirim salinannya ke emailku sendiri.
Aku belajar satu hal malam itu.
Kalau orang terdekatmu sudah berani mengambil uangmu diam-diam, jangan berasumsi mereka akan berhenti sampai di sana.
Pagi-pagi sekali aku keluar rumah.
Ibu memanggil dari dapur.
“Mau ke mana?”
“Sekolah.”
“Ngapain? Sudah selesai ujian.”
“Ada urusan.”
Ibu menatap tas ranselku cukup lama, tetapi aku terus berjalan.
Di sekolah aku menemui Bu Rina, guru Akuntansi yang selama tiga tahun paling sering membimbingku mengikuti lomba.
Begitu melihat wajahku, dia langsung tahu ada sesuatu yang tidak beres.
Aku menceritakan semuanya.
Tentang tabungan Rp17,1 juta.
Tentang Aldi.
Tentang beasiswa.
Tentang rumah kontrakan atas namaku.
Bu Rina tidak langsung bicara. Dia hanya menggenggam tanganku.
“Laras, dengarkan Ibu. Berbakti kepada orang tua bukan berarti menyerahkan seluruh masa depanmu untuk dihancurkan.”
Kalimat itu membuat pertahananku runtuh.
Selama ini aku selalu merasa bersalah setiap kali ingin memilih diriku sendiri.
Seolah-olah menjadi anak perempuan berarti harus terus mengalah.
Bu Rina membantuku menghubungi pihak kampus dan mengurus verifikasi ulang. Karena beberapa dokumen harus diselesaikan secepatnya, sekolah bahkan memberikan surat pendamping yang menjelaskan prestasi dan statusku sebagai siswa.
Masalah berikutnya adalah tempat tinggal.
Tabunganku sudah habis.
Namun Bu Rina tersenyum ketika aku mengatakannya.
“Kamu lupa hadiah lomba provinsi kemarin?”
Aku mengernyit.
“Hadiah dari sponsor belum ditransfer karena rekening yang kamu cantumkan bermasalah. Sekolah minta mereka tahan dulu. Nilainya Rp8 juta.”
Aku hampir tidak percaya.
Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari, rasanya dunia memberiku sedikit ruang untuk bernapas.
Aku pulang sore hari.
Begitu membuka pintu, aku tahu mereka sudah menemukan amplop yang kosong.
Ayah berdiri di ruang tengah.
Ibu duduk dengan wajah merah.
Aldi bersandar di sofa sambil memainkan ponsel barunya.
“Kamu ambil surat di lemari?” tanya Ibu.
“Itu surat tentang aku.”
“Jangan kurang ajar!”
Ibu berdiri.
“Rumah itu mau dijual buat biaya kuliah Aldi. Nenekmu kasih ke keluarga, bukan buat kamu kuasai sendiri.”
“Tapi sertifikatnya atas namaku.”
Ayah memukul meja.
“Kamu sekarang berani melawan orang tua gara-gara sekolah?”
Aku menatap Ayah.
Biasanya kalau dia menaikkan suara, aku langsung diam.
Hari itu tidak.
“Kenapa uang tabunganku diambil?”
Ayah terdiam.
Ibu menyela, “Kami orang tuamu. Uang anak ya uang orang tua.”
“Rp17 juta itu aku kumpulkan sendiri.”
“Terus kenapa?” Aldi akhirnya ikut bicara. “Motor itu juga buat sekolah.”
Aku menoleh kepadanya.
“Kamu tahu itu uangku?”
Aldi tidak menjawab.
Itu sudah cukup.
Aku mengambil napas.
“Aku tidak akan tanda tangan surat kuasa jual rumah itu.”
Wajah Ibu berubah.
“Kamu pikir kamu siapa?”
“Pemilik yang namanya tertulis di sertifikat.”
Sebuah tamparan mendarat di pipiku.
Aku membeku.
Ibu juga terlihat terkejut dengan tindakannya sendiri.
Tetapi yang paling menyakitkan bukan tamparannya.
Ayah melihat semuanya dan tidak mengatakan apa-apa.
Aku masuk kamar, mengambil beberapa pakaian, laptop lama, buku, dan piala yang masih terbungkus plastik.
Saat aku berjalan keluar, Ibu berteriak dari belakang.
“Kalau kamu keluar sekarang, jangan pulang lagi!”
Aku berhenti di depan pintu.
Ada bagian kecil dalam diriku yang berharap Ayah memanggil.
Atau Aldi meminta maaf.
Tidak ada.
Aku pun pergi.
Beberapa hari berikutnya aku tinggal sementara di rumah Bu Rina. Dengan bantuannya, aku berhasil menyelesaikan semua proses daftar ulang.
Aku resmi menjadi mahasiswa Akuntansi UGM.
Aku kira setelah itu masalah selesai.
Ternyata baru dimulai.
Seminggu kemudian, seorang laki-laki bernama Pak Surya meneleponku. Dia mengaku sebagai penyewa salah satu rumah kontrakan di Kampung Melayu.
“Mbak Laras pemilik rumahnya, ya?”
“Iya, Pak.”
“Maaf saya tanya. Jadi uang sewa selama ini memang diterima Bu Siti?”
Aku terdiam.
“Uang sewa?”
Pak Surya ikut diam.
Ternyata rumah warisan Nenek bukan bangunan kosong seperti yang selama ini diceritakan Ibu.
Ada dua pintu kontrakan, masing-masing disewa Rp1,3 juta per bulan.
Sudah hampir empat tahun.
Aku menghitung cepat dan tubuhku langsung dingin.
Nilainya lebih dari seratus juta rupiah.
Menurut Pak Surya, setiap tahun Ibu datang mengambil uang sewa dengan alasan mengelola properti milikku sampai aku dewasa.
Aku baru berusia empat belas tahun ketika Nenek meninggal. Aku memang tidak tahu apa-apa.
Tapi sekarang aku sudah delapan belas.
Aku menghubungi notaris yang namanya tercantum pada salinan dokumen.
Dari sanalah rahasia terakhir terbuka.
Nenek memang sengaja mewariskan kontrakan itu kepadaku.
Bukan kepada Ibu.
Bukan kepada Ayah.
Kepadaku.
Notaris bahkan menyimpan salinan surat tulisan tangan Nenek.
Isinya singkat.
Nenek tahu sejak kecil aku sering diperlakukan berbeda karena aku perempuan. Karena itulah rumah itu diberikan kepadaku agar suatu hari aku punya pegangan untuk pendidikan dan hidupku sendiri.
Aku membaca surat itu berkali-kali sampai tulisan di kertas menjadi kabur oleh air mata.
Ternyata ada seseorang yang sejak lama memikirkan masa depanku.
Hanya saja orang itu sudah tidak ada.
Aku tidak langsung melaporkan Ibu dan Ayah.
Aku meminta bantuan hukum untuk memastikan dokumen rumah aman dan mencabut segala bentuk kuasa yang tidak pernah kuberikan. Aku juga meminta pembayaran sewa berikutnya dikirim langsung ke rekening atas namaku.
Sebulan kemudian, aku pindah ke Yogyakarta.
Hari pertama kuliah, aku berdiri di depan gedung kampus dengan kemeja putih sederhana dan sepatu yang sudah kupakai sejak kelas sebelas.
Aku memotret diriku sendiri.
Tidak ada Ayah.
Tidak ada Ibu.
Tidak ada keluarga yang mengantarku.
Anehnya, aku tidak merasa sendirian.
Aku merasa bebas.
Aku kuliah dengan serius. Uang beasiswa kugunakan untuk kebutuhan sehari-hari, sementara pendapatan kontrakan kutabung. Di semester dua, aku mulai menjadi tutor Akuntansi untuk anak SMA secara daring.
Dua tahun berlalu.
Suatu malam, Ibu menelepon.
Itu pertama kalinya setelah berbulan-bulan.
“Laras.”
Suaranya terdengar berbeda.
Tidak keras seperti biasanya.
“Aldi berhenti kuliah.”
Aku memejamkan mata.
Ternyata universitas swasta yang dibanggakan itu hanya bertahan tiga semester. Aldi jarang masuk, uang kuliahnya menunggak, dan motor yang dibeli menggunakan tabunganku sudah dijual untuk menutup utang pinjaman online.
Ayah juga sudah jarang mendapat pekerjaan karena kondisi perusahaan ekspedisinya sedang buruk.
Kemudian Ibu mengatakan sesuatu yang tidak kuduga.
“Bisa pinjam uang dulu?”
Aku tertawa kecil.
Bukan karena senang melihat mereka susah.
Aku hanya teringat Laras berusia delapan belas tahun yang berdiri di ruang tengah sambil bertanya kenapa tabungannya diambil.
Saat itu tidak ada seorang pun yang merasa perlu meminta izin.
“Aku bisa bantu kebutuhan makan sementara,” jawabku. “Tapi aku tidak akan bayar utang Aldi.”
“Kamu tega sama adik sendiri?”
Kalimat lama.
Senjata lama.
Anehnya, sekarang sudah tidak melukaiku.
“Aku kakaknya, Bu. Bukan ATM-nya.”
Telepon langsung ditutup.
Aku pikir hubungan kami selesai.
Namun enam bulan kemudian Ayah datang ke Yogyakarta sendirian.
Dia menungguku di depan kos.
Rambutnya lebih putih.
Tubuhnya terlihat lebih kurus.
Ayah menyerahkan sebuah kantong plastik hitam.
Di dalamnya ada buku tabungan baru.
Saldo Rp17,1 juta.
Aku menatapnya lama.
“Ayah jual mobil bak lama,” katanya pelan.
“Itu buat kerja Ayah.”
“Ayah bisa cari kerja lain.”
Aku tidak mengambil buku itu.
Ayah menunduk.
“Ayah salah.”
Hanya dua kata.
Tetapi aku sudah menunggu hampir tiga tahun untuk mendengarnya.
“Kenapa dulu Ayah diam waktu Ibu tampar aku?”
Mata Ayah berkaca-kaca.
“Karena Ayah pengecut.”
Tidak ada pembelaan.
Tidak ada alasan.
Untuk pertama kalinya, Ayah mengakui kesalahannya tanpa menyalahkan keadaan.
Aku menerima buku tabungan itu.
Bukan karena uangnya.
Karena untuk pertama kalinya seseorang di keluargaku memahami bahwa mengambil milikku tetaplah salah meskipun dilakukan atas nama keluarga.
Empat tahun setelah malam ketika pialaku bahkan tidak dilihat, aku lulus dengan predikat cum laude.
Pada hari wisuda, Bu Rina datang dari Semarang.
Ayah juga datang.
Ibu tidak.
Aku tidak kecewa.
Sampai beberapa menit sebelum acara dimulai, aku melihat seorang perempuan berdiri jauh di belakang kerumunan.
Ibu.
Dia mengenakan blus sederhana dan membawa sesuatu di tangannya.
Piala Olimpiade Akuntansi yang dulu kubawa pulang.
Plastiknya sudah tidak ada.
Pialanya sudah dibersihkan sampai mengilap.
Ibu mendekat perlahan.
“Ibu simpan ini.”
Aku tidak tahu harus menjawab apa.
Dia menatap toga yang kupakai, lalu matanya mulai basah.
“Dulu Ibu pikir anak laki-laki yang akan mengangkat keluarga.”
Aku diam.
“Ternyata Ibu hampir menghancurkan anak yang paling keras berjuang.”
Ibu tidak meminta aku melupakan semuanya.
Tidak meminta uang.
Tidak meminta rumah.
Dia hanya menyerahkan piala itu kepadaku.
“Maaf.”
Aku memeluk piala itu sebelum akhirnya memeluk Ibu.
Aku memaafkannya.
Tapi aku tidak mengembalikan hidupku ke tangannya.
Kontrakan peninggalan Nenek tidak pernah kujual. Setelah mendapat pekerjaan di sebuah perusahaan audit di Jakarta, sebagian pendapatannya kugunakan untuk memperbaiki dua unit tersebut.
Beberapa tahun kemudian, aku menambah dua kamar kecil di belakangnya.
Bukan untuk disewakan.
Aku membuat program sederhana bersama Bu Rina untuk membantu siswi SMA dari keluarga kurang mampu yang diterima kuliah tetapi hampir batal berangkat karena persoalan biaya.
Di depan bangunan itu kupasang papan kecil.
Rumah Nenek.
Suatu sore, seorang gadis datang membawa surat penerimaan universitas. Tangannya gemetar ketika bercerita bahwa keluarganya meminta dia bekerja saja karena adik laki-lakinya lebih membutuhkan biaya pendidikan.
Aku seperti melihat diriku sendiri bertahun-tahun lalu.
“Mbak, kalau saya memilih kuliah, apa saya anak durhaka?”
Aku menatapnya.
Pertanyaan itu pernah menghantuiku begitu lama.
Aku tersenyum.
“Tidak.”
Aku meletakkan piala Juara 1 Olimpiade Akuntansi milikku di meja.
Piala yang dulu bahkan tidak dianggap layak untuk dilihat keluargaku.
“Memilih masa depanmu sendiri bukan berarti kamu berhenti mencintai keluargamu.”
Gadis itu mulai menangis.
Aku menggenggam tangannya.
“Kadang orang pertama yang harus memperjuangkan hidup kita memang diri kita sendiri.”
Saat itulah aku akhirnya memahami kenapa Nenek meninggalkan rumah itu atas namaku.
Warisan terbesar yang dia berikan sebenarnya bukan bangunan, bukan uang sewa, dan bukan sertifikat tanah.
Dia memberiku sebuah jalan keluar.
Dan dari jalan keluar itulah, aku akhirnya bisa membuka pintu untuk perempuan lain yang hampir kehilangan masa depannya seperti aku dulu.
