Malam ketika Andi pergi membawa koper itu, aku tidak sempat memikirkan bagaimana caranya membuatnya menyesal.
Aku bahkan tidak tahu bagaimana caranya bertahan sampai pagi.

Bima masih panas dalam pelukanku ketika Ibu datang dari Klaten bersama Pakde Joko menggunakan mobil pikap tua milik tetangga. Begitu melihatku berdiri di depan kontrakan dengan satu koper, mesin jahit, dan anak yang menggigil, Ibu langsung memelukku.
Tidak ada pertanyaan kenapa rumah tanggaku hancur.
Tidak ada kalimat menyalahkan.
Ibu hanya berkata pelan, “Pulang dulu, Nduk. Urusan hidup dipikir besok.”
Kalimat sederhana itu membuat pertahananku runtuh.
Aku menangis sepanjang perjalanan ke Klaten.
Di rumah kecil tempat aku dibesarkan, Bima langsung dibawa ke puskesmas. Dokter mengatakan dia mengalami infeksi saluran pernapasan dan harus banyak istirahat. Untungnya kondisinya belum sampai membutuhkan rawat inap.
Tiga hari kemudian demamnya turun.
Barulah aku berani membuka ponsel.
Ada satu pesan dari Andi.
“Surat cerai nanti aku urus. Jangan cari Dinda. Dia lagi hamil dan nggak boleh stres.”
Tidak ada pertanyaan tentang Bima.
Aku membaca pesan itu berkali-kali, kemudian menghapusnya tanpa membalas.
Saat itulah sesuatu dalam diriku berubah.
Aku tidak lagi ingin memohon agar Andi pulang.
Aku hanya ingin hidup.
Mesin jahit yang kubawa ternyata rusak di bagian dinamo. Biaya memperbaikinya Rp350 ribu, sedangkan uangku tinggal Rp180 ribu.
Aku akhirnya meminjam mesin jahit tua milik Ibu.
Setiap pagi aku menempel tulisan kecil di depan rumah.
TERIMA PERMAK CELANA DAN BAJU.
Pelanggan pertamaku adalah Bu Sri, tetangga sebelah.
Dia membawa dua celana sekolah anaknya.
“Berapa, Tan?”
“Sepuluh ribu satu, Bu.”
Bu Sri menatapku lama.
“Dua puluh lima ribu dua-duanya.”
Aku menggeleng. “Kebanyakan.”
“Yang menentukan kebanyakan itu saya.”
Aku hampir menangis menerima uang Rp25 ribu pertama yang benar-benar menjadi milikku sendiri.
Dari situ pelanggan mulai bertambah.
Aku menerima apa saja. Mengecilkan seragam, mengganti ritsleting, menjahit rok sobek, sampai membuat sarung bantal.
Aku bekerja ketika Bima tidur.
Kadang sampai pukul dua pagi.
Enam bulan kemudian, aku bisa membeli mesin jahit bekas sendiri.
Setahun kemudian, aku mulai menerima pesanan seragam PAUD.
Kesempatan besar datang tanpa direncanakan.
Seorang pelanggan bernama Mbak Ratri membawa contoh tunik kantor dan bertanya apakah aku bisa membuat dua puluh potong dalam tiga minggu.
Aku hampir menjawab tidak.
Aku hanya punya satu mesin dan dua tangan.
Tapi Ibu berdiri di belakangku dan berkata, “Bisa.”
Setelah Mbak Ratri pergi, aku panik.
“Bu, dua puluh! Aku sendirian!”
Ibu malah tertawa.
“Kalau terus menerima pekerjaan sesuai kemampuanmu hari ini, kemampuanmu tidak akan pernah bertambah.”
Aku mengajak dua ibu tetangga yang pandai menjahit untuk bekerja bersamaku.
Pesanan selesai dua hari sebelum tenggat.
Mbak Ratri puas.
Ternyata dia bekerja sebagai supervisor sebuah jaringan klinik kecantikan di Solo.
Sebulan kemudian dia memesan delapan puluh seragam.
Dari sanalah usaha kecilku benar-benar tumbuh.
Aku menamainya Bima Apparel.
Bukan karena aku tidak punya ide nama lain, tetapi karena setiap kali hampir menyerah, aku hanya perlu melihat anakku tidur untuk mengingat alasan aku harus bertahan.
Sementara hidupku perlahan membaik, kabar tentang Andi sesekali datang tanpa kuminta.
Dia menikahi Dinda beberapa bulan setelah perceraian kami resmi.
Bu Lastri bahkan mengunggah foto pernikahan mereka.
Dinda mengenakan gaun mahal.
Andi memakai setelan hitam.
Di bawah foto itu Bu Lastri menulis bahwa akhirnya anaknya menemukan perempuan yang bisa mendukung karier suami.
Aku melihat unggahan itu sambil menyetrika dua puluh tujuh seragam klinik.
Aneh.
Aku tidak menangis.
Dua tahun berlalu.
Bima Apparel pindah dari ruang tamu rumah Ibu ke ruko kecil.
Aku punya tujuh pekerja.
Aku juga mengambil paket kesetaraan untuk menyelesaikan pendidikan yang dulu kutinggalkan, lalu mengikuti berbagai pelatihan bisnis dan pemasaran digital.
Aku belajar membuat katalog.
Belajar menghitung biaya produksi.
Belajar negosiasi.
Belajar bahwa kerja keras tanpa pencatatan keuangan hanya membuat seseorang lelah tanpa tahu ke mana uangnya pergi.
Tahun keempat menjadi titik balik terbesar.
Sebuah perusahaan hospitality di Yogyakarta mencari vendor seragam untuk beberapa hotel dan restoran mereka.
Aku ikut tender meskipun awalnya minder.
Pesaingku perusahaan konveksi yang jauh lebih besar.
Aku tidak menang karena paling murah.
Aku menang karena menawarkan sistem produksi yang memungkinkan ukuran setiap karyawan dicatat secara digital sehingga penggantian seragam berikutnya bisa dilakukan tanpa pengukuran ulang.
Kontrak itu bernilai ratusan juta rupiah.
Setelahnya, pesanan lain datang.
Bima Apparel berubah menjadi PT Bima Karya Nusantara.
Kami menyewa workshop lebih besar di kawasan Klaten dan mempekerjakan puluhan orang, sebagian besar perempuan yang sebelumnya bekerja dari rumah.
Aku membeli rumah untuk Ibu.
Bukan rumah mewah, tetapi ketika menyerahkan kuncinya, tanganku gemetar.
“Bu, sekarang Ibu nggak perlu takut kontrakan naik.”
Ibu menangis sambil memukul lenganku pelan.
“Yang dulu pulang bawa mesin jahit rusak sekarang beliin ibunya rumah.”
Aku tertawa sambil menangis.
Lima tahun setelah Andi meninggalkanku, aku menghadiri pembukaan cabang baru salah satu klien kami di Yogyakarta.
Aku datang bukan sebagai penjahit yang membawa meteran di leher.
Aku datang sebagai direktur perusahaan yang memasok seluruh seragam staf mereka.
Setelah acara selesai, aku mampir ke sebuah warung soto dekat Jalan Magelang.
Tempat itu dulu sering kudatangi bersama Andi ketika kami masih pacaran.
Aku baru saja duduk ketika seseorang memanggil namaku.
“Intan?”
Aku menoleh.
Butuh beberapa detik sampai aku mengenalinya.
Andi.
Tubuhnya jauh lebih kurus. Rambutnya berantakan. Kemejanya kusam dan sandal yang dipakainya sudah tipis.
Dia berdiri membawa piring kotor.
Ternyata dia bekerja di warung itu.
Wajahnya berubah ketika menyadari siapa perempuan yang duduk di depannya.
“Tan…”
Aku mengangguk.
“Hai, Mas.”
Dia terlihat ingin mengatakan sesuatu, tetapi pemilik warung memanggilnya.
“Andi, meja tujuh dibersihkan!”
“Iya, Pak.”
Dia berbalik cepat.
Aku tidak merasa puas.
Tidak juga merasa senang.
Justru ada rasa asing melihat seseorang yang dulu begitu besar dalam hidupku kini tampak seperti orang yang pernah kukenal dalam mimpi.
Beberapa menit kemudian dia datang membawa pesananku.
Tangannya sedikit gemetar.
“Bima gimana?”
Itulah pertama kalinya dalam lima tahun dia menanyakan anaknya.
“Baik.”
“Sudah sekolah?”
“Kelas satu SD.”
Andi menunduk.
“Dia masih ingat aku?”
Aku tidak langsung menjawab.
“Dia tahu siapa ayah kandungnya.”
Wajah Andi semakin pucat.
Aku selesai makan dan hendak membayar ketika dia mengejarku sampai tempat parkir.
“Tan, tunggu.”
Aku berhenti.
Andi berdiri beberapa meter dariku.
“Dinda pergi dua tahun lalu.”
Aku diam.
“Anak yang dikandungnya ternyata bukan anakku.”
Aku menatapnya.
Untuk pertama kalinya, aku benar-benar terkejut.
Andi tertawa hambar.
“Aku baru tahu setelah anak itu sakit dan butuh pemeriksaan darah. Setelah tes DNA, semuanya kebuka. Dinda sudah punya hubungan sama sales area bahkan sebelum dekat sama aku.”
Aku tidak tahu harus menjawab apa.
Andi melanjutkan.
“Dia pergi bawa tabungan kami. Motor dijual. Aku punya utang pinjol karena selama menikah sama dia aku selalu berusaha memenuhi gaya hidupnya.”
“Bu Lastri?”
“Ibu sakit. Sekarang tinggal sama Mbak Rini.”
Kemudian kalimat yang tidak pernah kubayangkan keluar dari mulutnya terdengar.
“Aku kadang makan di warung cuma kalau pemilik kasih sisa.”
Dia menatapku dengan mata merah.
“Tan, aku benar-benar nggak punya apa-apa.”
Aku memahami apa yang sedang terjadi.
Lima tahun lalu aku berdiri di depan kontrakan dengan Rp180 ribu dan seorang anak demam.
Sekarang laki-laki yang meninggalkanku berdiri di depanku bahkan tidak yakin bisa makan besok.
“Kalau ada kerjaan apa saja di tempatmu, aku mau, Tan.”
Aku terdiam.
Dia cepat-cepat menambahkan.
“Aku nggak minta balikan. Aku tahu aku nggak pantas. Aku cuma… minta kesempatan buat kerja. Buat makan.”
Aku membuka tas.
Andi menatap tanganku.
Mungkin dia mengira aku akan memberinya uang.
Aku mengambil sebuah kartu nama.
“Datang ke alamat ini Senin jam delapan pagi.”
Dia membaca kartu itu.
PT Bima Karya Nusantara.
Direktur Utama, Intan Prameswari.
Andi mengangkat kepala perlahan.
“Ini… perusahaanmu?”
Aku mengangguk.
Matanya berkaca-kaca.
“Aku nggak tahu kamu sekarang…”
“Memang banyak hal tentang aku yang dulu kamu nggak pernah mau tahu.”
Senin pagi, Andi benar-benar datang.
Dia mengenakan kemeja paling rapi yang dimilikinya.
Namun aku tidak menemuinya.
HRD yang mewawancarainya.
Sore harinya staf HRD masuk ke ruanganku.
“Bu Intan, kandidat atas nama Andi Prasetyo punya pengalaman administrasi dealer hampir sembilan tahun, tapi dua tahun terakhir pekerjaannya tidak stabil. Kita sedang butuh staf gudang. Secara kemampuan masih masuk.”
“Kalau memenuhi syarat, terima.”
Staf itu ragu.
“Beliau mantan suami Ibu?”
“Di perusahaan ini jangan nilai orang berdasarkan hubungannya dengan saya. Nilai berdasarkan pekerjaannya.”
Andi diterima sebagai staf gudang.
Bukan manajer.
Bukan supervisor.
Aku juga tidak memberinya perlakuan khusus.
Dia mendapat gaji sesuai standar perusahaan.
Beberapa bulan pertama kami hampir tidak pernah bertemu.
Sampai suatu sore aku datang memeriksa gudang dan melihat Andi sedang makan bersama beberapa karyawan.
Dia berdiri ketika melihatku.
“Bu Intan.”
Aku hampir tersenyum mendengar mantan suamiku memanggilku begitu.
Di atas meja ada nasi, sayur, ayam, dan buah dari katering perusahaan.
Andi melihat makanannya kemudian menatapku.
“Aku ingat sesuatu.”
“Apa?”
“Dulu waktu kamu minta uang beli obat Bima, aku bilang kamu bisanya cuma ngandelin aku.”
Aku diam.
Dia menelan ludah.
“Sekarang aku makan dari perusahaan yang kamu bangun.”
Matanya basah.
“Maaf, Tan.”
Kali ini permintaan maaf itu terdengar berbeda.
Tidak ada permintaan supaya aku menerimanya kembali.
Tidak ada alasan.
Hanya penyesalan.
“Aku sudah memaafkanmu sejak lama, Mas.”
Wajahnya langsung berubah.
“Tapi memaafkan bukan berarti semuanya kembali seperti dulu.”
Dia mengangguk.
“Aku ngerti.”
Beberapa minggu kemudian Andi meminta izin bertemu Bima.
Aku menyerahkan keputusan itu kepada anakku.
Bima kini berusia tujuh tahun.
Aku menjelaskan semuanya dengan bahasa yang bisa dia pahami tanpa menjelekkan ayahnya.
Bima berpikir cukup lama.
“Papa yang dulu pergi itu?”
“Iya.”
“Kalau ketemu, Mama ikut?”
“Iya.”
Akhirnya kami bertemu di sebuah taman.
Ketika Andi melihat Bima berlari mendekat, tubuhnya seperti membeku.
Bima berhenti di depannya.
Andi berjongkok.
“Hai, Bima.”
Bima memperhatikan wajahnya lama.
“Kata Mama, Om papaku.”
Andi tertawa sambil menangis.
“Iya.”
“Kenapa dulu pergi?”
Pertanyaan seorang anak ternyata bisa lebih tajam daripada kemarahan orang dewasa.
Andi menunduk.
“Karena Papa dulu bodoh.”
Bima berpikir sebentar kemudian menyerahkan botol minumnya.
“Jangan nangis.”
Aku membuang muka karena mataku ikut panas.
Aku tidak tahu apakah hubungan mereka akan pulih sepenuhnya.
Aku juga tidak ingin memaksanya.
Ada luka yang bisa sembuh, tetapi bekasnya tetap menjadi bagian dari hidup.
Setahun kemudian, perusahaan kami membuka workshop kedua.
Saat acara peresmian, aku berdiri di depan ratusan karyawan.
Di barisan belakang aku melihat Ibu.
Di sebelahnya Bima yang kini memakai seragam sekolah.
Dan jauh di belakang, Andi berdiri bersama tim gudang.
Aku teringat malam hujan lima tahun sebelumnya.
Perempuan yang membawa anak demam, satu koper, dan mesin jahit rusak itu pernah berpikir hidupnya sudah selesai.
Ternyata hidupnya baru dimulai.
Setelah acara, Andi menghampiriku.
“Selamat, Bu Direktur.”
Aku tertawa kecil.
“Terima kasih.”
Dia kemudian mengatakan sesuatu yang tidak pernah kulupakan.
“Dulu aku ninggalin kamu karena kupikir kamu beban. Ternyata selama ini akulah yang jadi beban dalam hidupmu.”
Aku menggeleng.
“Nggak juga.”
Andi terlihat bingung.
“Kalau kamu nggak pergi waktu itu, mungkin aku nggak akan pernah tahu seberapa jauh aku bisa berjalan sendiri.”
Dia terdiam.
Aku lalu menghampiri Bima yang memanggilku dari kejauhan.
Saat menggenggam tangan anakku, aku akhirnya memahami sesuatu.
Balas dendam terbaik ternyata bukan melihat orang yang pernah menghancurkan kita menderita.
Bukan membuatnya berlutut.
Bukan membuatnya menyesal.
Balas dendam terbaik adalah ketika namanya sudah tidak lagi menentukan apakah kita bahagia atau tidak.
Lima tahun lalu, Andi meninggalkanku karena menganggap hidup bersamaku tidak punya masa depan.
Lima tahun kemudian, dia memang pernah membutuhkan pekerjaan dariku untuk bisa makan.
Tetapi kemenangan terbesarku bukan itu.
Kemenangan terbesarku adalah ketika aku melihatnya berdiri di belakang sana dan menyadari bahwa aku sudah tidak membutuhkan penyesalannya untuk merasa berharga.
Aku sudah memiliki rumah.
Aku memiliki perusahaan yang kubangun dengan tanganku sendiri.
Aku memiliki Ibu yang tidak pernah meninggalkanku.
Dan yang paling penting, aku masih menggenggam tangan anak kecil yang malam itu demam 39 derajat ketika seluruh duniaku runtuh.
Bima menatapku.
“Ma, pulang yuk.”
Aku tersenyum.
“Iya. Kita pulang.”
Dan kali ini, kata pulang tidak lagi berarti kembali kepada seseorang.
Pulang berarti kembali kepada kehidupan yang kubangun sendiri.
