IPAR SAYA MENGGANTI KODE DOORLOCK DAN MENGUBAH KAMAR SAYA JADI WALK-IN CLOSET! DIA LUPA, SAYA YANG MEMBAYAR CICILAN RUMAH ITU SETIAP BULAN!

Belum sampai lima menit setelah Maya memutus sambungan telepon, terdengar bunyi kunci elektronik dari balik pintu.

Pintu terbuka.

Rendy berdiri di sana dengan wajah tegang. Di belakangnya, ibu mereka terlihat pucat, sementara ayah Maya duduk di sofa ruang tamu dengan ekspresi serba salah.

Clara tidak terlihat.

“Maya, masuk dulu,” kata Rendy pelan.

Maya tidak langsung bergerak.

“PIN-nya?”

Rendy mengusap tengkuk.

“Nanti aku kasih.”

“Sekarang.”

“Maya, jangan mulai ribut di depan rumah.”

Maya menatap kakaknya cukup lama sebelum akhirnya mengangkat koper dan melangkah masuk.

Aroma rumah itu masih sama. Campuran pengharum ruangan yang disukai ibunya, kayu dari furnitur ruang tengah, dan samar-samar bau rawon dari dapur.

Namun suasananya terasa asing.

Lebih asing lagi ketika Maya melihat rak sepatu di dekat pintu dipenuhi sepatu Clara, sementara beberapa pasang sepatu miliknya yang dulu selalu ia tinggalkan di sana sudah tidak ada.

“Sepatuku ke mana?”

Ibunya buru-buru menjawab.

“Disimpan di gudang, Nak. Biar raknya nggak penuh.”

Maya mengangguk kecil.

Ia tidak marah.

Setidaknya belum.

“Kamarku?”

Rendy menarik napas.

“Maya, soal kamar itu sebenarnya cuma salah paham.”

Maya langsung berjalan menuju lantai dua.

“Maya.”

Rendy mengejarnya.

Tetapi Maya sudah sampai di depan kamar yang sejak remaja selalu dianggap sebagai ruang pribadinya setiap kali pulang.

Ia membuka pintu.

Langkahnya berhenti.

Tempat tidur sudah tidak ada.

Meja kerja kayu tempat ia dulu belajar untuk ujian masuk universitas juga hilang.

Dinding yang sebelumnya berwarna krem telah dicat putih. Di sisi kanan dan kiri berdiri lemari tinggi dengan pintu kaca. Tas-tas bermerek tersusun rapi. Puluhan pakaian tergantung berdasarkan warna. Sebuah meja rias besar ditempatkan tepat di tempat lemari buku Maya dulu berdiri.

Di tengah ruangan terdapat bangku beludru.

Clara sedang duduk di sana sambil melipat pakaian.

Ia menoleh.

Tidak tampak terkejut.

“Oh. Udah sampai?”

Nada suaranya ringan, hampir seperti berbicara dengan tamu yang datang terlalu cepat.

Maya masuk satu langkah.

“Barang-barangku di mana?”

Clara berdiri.

“Yang mana?”

“Semua.”

Clara menyilangkan tangan.

“Sebagian di gudang belakang. Sebagian aku kasih ke orang karena udah lama nggak dipakai.”

Maya menatapnya.

“Kamu memberikan barang milikku tanpa izin?”

Clara mendengus.

“Ya ampun, Maya. Jangan lebay. Kamu pulang paling enam bulan sekali. Kamar sebesar ini nganggur terus. Daripada mubazir.”

Rendy akhirnya tiba di ambang pintu.

“Clara, sudah.”

Namun Clara justru semakin kesal.

“Aku cuma ngomong fakta. Kita yang tinggal di sini setiap hari. Masa harus terus memperlakukan satu kamar seperti museum cuma karena adikmu sesekali pulang?”

Maya menoleh kepada Rendy.

“Kamu setuju?”

Rendy tidak menjawab.

Jawaban itu sudah cukup.

Maya kembali melihat sekeliling.

Ada satu benda yang membuat dadanya mendadak sesak.

Di sudut ruangan dulu terdapat lemari kecil berisi album foto dan beberapa barang peninggalan neneknya. Sebuah kotak kayu berukir pemberian nenek ketika Maya lulus SMA juga disimpan di sana.

Sekarang lemari itu tidak ada.

“Kotak kayu punya Nenek?”

Clara mengangkat bahu.

“Kalau yang kotak tua cokelat itu mungkin ada di gudang. Aku nggak tahu.”

Maya menatap Clara dengan ekspresi yang membuat Rendy segera mendekat.

“Maya, kita bisa bicarakan baik-baik.”

Maya tertawa kecil.

Aneh, pikirnya.

Orang selalu meminta pembicaraan baik-baik setelah mereka selesai melakukan sesuatu diam-diam.

Ia mengeluarkan ponselnya.

“Baik. Kita bicara.”

Maya membuka aplikasi mobile banking.

Ia mencari riwayat pembayaran kredit rumah.

Lalu memperlihatkan layar kepada Rendy.

“Dua puluh tujuh juta rupiah per bulan.”

Rendy menelan ludah.

“Jangan bawa uang ke masalah keluarga.”

“Kenapa nggak?”

“Maya.”

“Karena kalian nyaman membahas batasan keluarga selama orang lain yang membayar batas itu?”

Suara Maya tetap rendah.

Justru itu yang membuat ruangan terasa semakin tegang.

Clara tertawa sinis.

“Jadi karena kamu bayar cicilan, semua orang harus tunduk sama kamu?”

Maya menoleh kepadanya.

“Tidak.”

Ia berhenti sebentar.

“Tapi orang yang tidak membayar cicilan juga sebaiknya tidak menghapus akses pemilik rumah.”

Clara terdiam.

Rendy memijat dahinya.

“PIN itu aku yang setuju ganti.”

Maya mengangguk.

“Bagus. Berarti masalahnya bukan cuma Clara.”

Ucapan itu membuat wajah Rendy berubah.

Maya berbalik dan turun ke ruang tamu.

Ayahnya memanggil.

“Nak, duduk dulu.”

Maya duduk di sofa seberang kedua orang tuanya.

Rendy dan Clara ikut turun.

Beberapa detik tidak ada yang bicara.

Akhirnya ibunya membuka suara.

“Ibu cuma nggak mau ada keributan. Clara memang bilang dia kurang nyaman kalau kamu sering datang mendadak.”

“Sering?”

Maya tersenyum pahit.

“Aku pulang dua kali setahun, Bu.”

Ibunya menunduk.

“Dia merasa setelah Rendy menikah, rumah harus punya aturan baru.”

Maya terdiam beberapa saat.

Kalimat itu terasa lebih menyakitkan daripada unggahan Facebook Clara.

“Rumah siapa?”

Ibunya tampak bingung.

“Maksudmu?”

“Rumah ini rumah siapa?”

Tidak ada jawaban.

Maya bersandar.

“Aku beli rumah ini supaya Ayah dan Ibu nggak harus pindah kontrakan lagi setelah Ayah pensiun. Aku sengaja ambil rumah yang cukup besar supaya Rendy juga bisa tinggal sementara kalau memang perlu.”

Ia menatap kakaknya.

“Waktu kamu kehilangan pekerjaan tiga tahun lalu, siapa yang bilang kamu nggak usah buru-buru pindah?”

Rendy memalingkan wajah.

“Kamu.”

“Waktu Clara hamil dan kalian bilang biaya kontrakan terlalu berat, siapa yang bilang tinggal di sini dulu sampai keuangan kalian stabil?”

“Maya, cukup.”

“Belum.”

Maya menatap Clara.

“Aku nggak pernah meminta uang sewa. Nggak pernah mengatur kalian makan apa. Nggak pernah menanyakan tagihan listrik meskipun beberapa kali aku juga yang bayar.”

Clara mendadak berdiri.

“Jadi sekarang semua kebaikan kamu mau dihitung?”

“Tidak. Aku baru menghitung setelah kalian membuatku sadar ternyata selama ini aku dianggap beban.”

Wajah Clara memerah.

“Ya memang kadang kamu bikin rumah tangga orang nggak nyaman.”

“Karena aku mengirim pesan ke kakakku soal vaksin Ayah?”

“Itu bukan cuma sekali.”

Maya mengernyit.

“Apa lagi?”

Clara mengambil ponselnya.

“Kamu selalu kirim makanan ke sini. Kamu beli barang buat orang tua kamu tanpa tanya aku. Bahkan kamu pernah transfer uang ke Rendy.”

Maya menatap Rendy.

“Oh.”

Rendy terlihat panik.

“Maya, jangan.”

Kini Maya mulai memahami sesuatu.

Dua tahun terakhir Rendy beberapa kali meminta bantuan uang.

Alasannya bermacam-macam.

Servis mobil.

Biaya rumah sakit.

Modal kecil untuk usaha.

Jumlahnya tidak pernah terlalu besar bagi Maya. Lima juta. Sepuluh juta. Kadang lima belas juta.

Rendy selalu bilang jangan beri tahu Clara karena istrinya mudah merasa tidak enak.

Rupanya bukan itu alasannya.

Maya menatap Clara.

“Kamu tahu dia beberapa kali pinjam uang dariku?”

Clara terdiam.

Rendy langsung menyela.

“Maya.”

“Berapa yang kamu bilang ke Clara?”

Rendy membisu.

Maya membuka ponsel lagi.

Ia mencari riwayat transfer.

“Dua tahun terakhir total seratus empat puluh tiga juta.”

Ibu mereka terkesiap.

Ayah Maya langsung menoleh kepada Rendy.

“Seratus empat puluh tiga juta?”

Clara wajahnya berubah drastis.

“Kamu bilang cuma dua puluh juta.”

Rendy berdiri.

“Bukan sekarang waktu yang tepat.”

Clara tertawa tidak percaya.

“Jadi selama ini kamu bohong?”

“Clara, aku bisa jelaskan.”

“Kamu bilang Maya selalu ikut campur hidup kita. Kamu bilang dia sengaja menggunakan uang supaya kamu terus bergantung sama dia.”

Maya mengangkat kepala perlahan.

Sekarang giliran Rendy yang membeku.

“Apa?”

Clara menatap Maya.

“Rendy bilang kamu suka menjadikan uang sebagai alat kontrol.”

Ruangan langsung sunyi.

Maya menatap kakaknya.

Ada kekecewaan yang jauh lebih dalam daripada marah.

“Jadi itu yang kamu ceritakan?”

Rendy segera mendekat.

“Aku cuma pernah ngomong pas lagi emosi.”

“Berapa kali?”

“Maya.”

“Berapa kali kamu membuat istrimu percaya bahwa aku ini masalah?”

Rendy kehilangan kata-kata.

Clara yang sejak tadi marah tiba-tiba terlihat goyah.

“Dia bilang rumah ini nanti juga jadi miliknya.”

Maya memandang Rendy lagi.

Kali ini ayah mereka ikut berdiri.

“Kamu bilang begitu?”

Rendy menghela napas kasar.

“Ayah, jangan ikut.”

“Rumah ini atas nama adikmu.”

“Aku tahu!”

“Kalau tahu, kenapa bicara begitu?”

Rendy terlihat terpojok.

Akhirnya ia meledak.

“Karena aku malu!”

Semua orang terdiam.

Rendy menunjuk ke arah Maya.

“Dia selalu lebih berhasil. Sejak dulu. Kuliah dapat beasiswa. Kerja bagus. Umur dua puluh lima sudah bisa bayar uang muka rumah hampir satu miliar. Sementara aku?”

Ia tertawa pahit.

“Aku kakaknya, tapi aku tinggal di rumah yang dibeli adikku.”

Maya memandangnya tanpa ekspresi.

Rendy melanjutkan.

“Setiap kali Clara tanya soal rumah, aku nggak sanggup bilang kalau secara teknis kita tinggal numpang.”

Clara menatap suaminya.

“Jadi kamu bohong supaya kelihatan berhasil?”

Rendy mengusap wajah.

“Aku bilang Maya beli rumah ini untuk keluarga. Aku pikir lama-lama memang akan jadi rumah keluarga.”

Maya menggeleng pelan.

“Tidak.”

Rendy memandangnya.

“Aku membeli rumah ini untuk Ayah dan Ibu.”

Kalimat itu jelas.

“Bukan untuk diwariskan ke kakak yang masih sehat, masih bisa bekerja, tapi memilih menjadikan rasa minder sebagai alasan untuk berbohong.”

Ibunya mulai menangis.

“Maya, jangan sampai keluarga pecah karena rumah.”

Maya menoleh kepada ibunya.

“Bu, keluarga ini nggak pecah karena rumah.”

Ia menunjuk pintu depan.

“Keluarga ini mulai pecah ketika semua orang tahu aku dikunci di luar rumahku sendiri dan memilih diam.”

Ibunya menutup mulut.

Kalimat itu mengenai sasaran.

Ayah Maya perlahan duduk kembali.

“Bapak minta maaf.”

Maya menatapnya.

“Ayah tahu PIN diganti?”

Ayahnya mengangguk.

“Dua hari lalu.”

“Kenapa nggak bilang?”

“Bapak pikir Rendy akan kasih tahu kamu.”

Maya menarik napas.

Ternyata selama ini ia terus mencari satu orang yang bisa dianggap tidak terlibat.

Namun kenyataannya, semuanya tahu.

Semuanya memilih kenyamanan dibandingkan membelanya.

Maya berdiri.

“Aku akan menginap di hotel malam ini.”

Ibunya langsung memegang tangannya.

“Jangan, Nak.”

“Kenapa? Bukankah kamarnya sudah dipesan?”

Ibunya menangis semakin keras.

“Maya…”

Maya melepaskan tangan ibunya dengan lembut.

“Besok pagi agen properti datang.”

Clara membelalakkan mata.

“Kamu serius mau jual rumah?”

“Iya.”

Rendy langsung berdiri.

“Kamu nggak bisa mengambil keputusan sepihak.”

Maya hampir tertawa.

“Justru aku bisa.”

Ia memandang kakaknya.

“Sertifikat atas nama siapa?”

Rendy diam.

“Kredit atas nama siapa?”

Tetap diam.

“Uang muka dari siapa?”

Tidak ada jawaban.

Maya mengangguk.

“Bagus. Berarti jelas.”

Malam itu Maya benar-benar pergi ke hotel.

Anehnya, begitu masuk kamar dan menutup pintu, ia tidak langsung menangis.

Ia duduk di tepi tempat tidur sambil membuka Facebook.

Unggahan Clara masih ada.

Komentarnya sudah lebih dari seratus.

Banyak orang mendukung Clara tanpa mengetahui cerita sebenarnya.

Beberapa bahkan menulis bahwa ipar perempuan yang masih lajang memang sering tidak tahu batas.

Maya membaca semuanya.

Lalu ia mengambil tangkapan layar.

Bukan untuk membalas.

Untuk dokumentasi.

Pukul sembilan malam, Rendy menelepon.

Maya tidak menjawab.

Pukul setengah sepuluh, ibunya menelepon.

Maya mengangkat.

“Besok jangan jadi bawa agen, ya,” kata ibunya.

“Kenapa?”

“Rendy bilang dia mau bicara.”

“Sudah terlambat.”

“Maya…”

“Ibu tahu aku paling benci konflik.”

“Makanya Ibu minta kamu mengalah sedikit.”

Maya terdiam.

Di situlah ia akhirnya memahami pola yang selama ini tidak pernah ia sadari.

Orang yang paling mudah diminta mengalah biasanya akan terus diminta mengalah.

Bukan karena dia salah.

Tapi karena semua orang tahu dia paling mungkin menuruti.

“Bu.”

“Iya?”

“Selama bertahun-tahun, Maya mengalah karena Maya sayang kalian. Ternyata kalian menganggap itu kewajiban Maya.”

Ibunya tidak menjawab.

“Besok kita bicara lagi.”

Maya memutus sambungan.

Keesokan paginya, pukul sepuluh, Maya kembali ke rumah bersama seorang agen properti dan seorang notaris yang sudah lama menjadi kenalannya.

Ketika pintu dibuka, seluruh keluarga sudah menunggu.

Clara tidak terlihat searogan kemarin.

Rendy tampak belum tidur.

Maya mempersilakan agen melihat bagian rumah.

Clara panik.

“Serius? Langsung hari ini?”

Maya mengangguk.

“Aku mau tahu nilai pasarnya.”

Rendy menarik Maya ke samping.

“Aku akan bayar cicilan mulai bulan depan.”

Maya menatapnya.

“Dengan apa?”

“Aku akan cari cara.”

“Kamu punya utang seratus empat puluh tiga juta ke aku.”

Rendy menunduk.

“Aku bayar bertahap.”

Maya diam cukup lama.

Lalu berkata, “Aku nggak jual rumah karena butuh uang.”

Rendy mengangkat wajah.

“Aku jual karena rumah ini sudah kehilangan tujuan awalnya.”

“Apa maksudmu?”

“Aku beli supaya Ayah dan Ibu tenang.”

Maya melirik ruang tamu.

“Sekarang rumah ini justru membuat semua orang merasa berhak atas sesuatu yang bukan miliknya.”

Agen selesai melakukan penilaian awal.

Nilai rumah tersebut ternyata naik cukup tajam selama lima tahun.

Setelah memperhitungkan sisa kredit, Maya masih akan menerima jumlah yang besar jika rumah berhasil dijual.

Namun kejutan terbesar datang ketika notaris meminta melihat dokumen yang selama ini disimpan ayah Maya.

Salah satu map tidak ditemukan.

Ayah Maya yakin dokumen itu sebelumnya berada di laci ruang kerja.

Rendy terlihat gugup.

Maya memperhatikannya.

“Dokumen apa?”

Ayahnya menjawab, “Fotokopi sertifikat dan dokumen kredit.”

Maya langsung menatap Rendy.

“Di mana?”

“Aku nggak tahu.”

Clara tiba-tiba bicara.

“Dia pernah bawa.”

Rendy menoleh tajam.

“Clara!”

“Jangan teriak ke aku.”

Clara berjalan ke kamar dan beberapa menit kemudian kembali membawa map plastik.

“Aku nemu ini di laci Rendy minggu lalu.”

Maya membuka map tersebut.

Di dalamnya ada fotokopi dokumen rumah.

Selain itu, ada satu berkas lain.

Draft perjanjian pinjaman.

Maya membacanya.

Nama peminjam adalah Rendy.

Jaminan yang dicantumkan adalah rumah tersebut.

Maya menatap kakaknya.

Darah di wajah Rendy seketika hilang.

“Kamu mau menjaminkan rumahku?”

“Maya, dengar dulu.”

“Untuk apa?”

Rendy tidak menjawab.

Clara menjawab dengan suara gemetar.

“Bisnis.”

Ternyata selama setahun terakhir Rendy mencoba masuk ke bisnis distribusi bahan bangunan bersama seorang temannya.

Usahanya gagal.

Ia kehilangan hampir tiga ratus juta rupiah.

Sebagian berasal dari pinjaman online bisnis.

Sebagian berasal dari Maya.

Dan karena tekanan utang semakin besar, Rendy sempat mencoba mengajukan pinjaman dengan menggunakan rumah Maya sebagai jaminan.

Pengajuan itu belum berhasil karena ia bukan pemilik sah.

Tetapi fakta bahwa ia pernah mencoba membuat Maya merasa seolah seluruh tubuhnya mendadak dingin.

“Aku nggak jadi,” kata Rendy cepat.

“Bukan karena kamu sadar.”

Maya mengangkat dokumen itu.

“Karena kamu nggak bisa.”

Rendy terdiam.

Ibunya mulai menangis lagi.

Kali ini Maya tidak merasa bersalah.

Keputusan yang sebelumnya masih menyisakan keraguan mendadak menjadi sangat jelas.

Rumah itu harus dijual.

Bukan untuk menghukum siapa pun.

Untuk menghentikan sesuatu yang sudah terlalu jauh.

Tiga bulan kemudian, rumah tersebut terjual.

Maya melunasi sisa kredit dan menggunakan sebagian hasilnya untuk membeli sebuah rumah yang jauh lebih kecil atas nama kedua orang tuanya.

Bukan di kawasan mewah.

Namun nyaman, dekat rumah sakit, dekat pasar, dan cukup untuk mereka berdua.

Di akta pembelian, Maya menambahkan klausul yang telah dibicarakan dengan notaris agar rumah tersebut tidak bisa dijadikan jaminan atau dialihkan tanpa prosedur yang jelas.

Rendy dan Clara?

Mereka harus mencari rumah kontrakan sendiri.

Awalnya ibunya menentang.

Namun ayah Maya mendukung keputusan itu.

“Bapak baru sadar,” katanya suatu sore kepada Maya, “selama ini kami terlalu takut membuat Rendy susah sampai lupa kamu juga anak kami.”

Maya hanya tersenyum.

Hubungannya dengan Rendy tidak langsung pulih.

Butuh waktu.

Rendy menjual mobilnya untuk membayar sebagian utang. Ia kembali bekerja sebagai supervisor logistik dan mulai mencicil uang kepada Maya setiap bulan.

Clara menghapus unggahan Facebook-nya.

Beberapa minggu kemudian, ia mengirim pesan kepada Maya.

Panjang sekali.

Isinya permintaan maaf.

Clara mengaku selama ini banyak mendengar cerita hanya dari sisi Rendy.

Namun ia juga mengakui bahwa mengganti PIN dan mengambil kamar Maya tetap merupakan kesalahannya sendiri.

Maya membaca pesan itu sampai selesai.

Ia tidak langsung memaafkan.

Tetapi ia juga tidak membalas dengan kemarahan.

Hanya satu kalimat.

“Aku menerima permintaan maafmu. Kepercayaan membutuhkan waktu.”

Enam bulan kemudian, Maya pulang ke Sidoarjo.

Kali ini ayahnya menjemput di Bandara Juanda.

Ketika mereka sampai di rumah baru, ibunya membuka pintu sambil tersenyum lebar.

Di lantai dua hanya ada dua kamar.

Satu kamar utama untuk orang tuanya.

Satu kamar kecil di sampingnya.

Di pintu kamar kecil itu tertempel sebuah papan kayu sederhana.

KAMAR MAYA.

Maya terdiam.

Ibunya membuka pintu.

Tidak mewah.

Hanya ada tempat tidur, meja kecil, lemari, dan beberapa foto lama yang berhasil diselamatkan dari gudang.

Di atas meja terletak kotak kayu peninggalan neneknya.

Maya menyentuh kotak itu perlahan.

“Ibu cari sampai ketemu,” kata ibunya.

Mata Maya mulai panas.

Ibunya lalu menyerahkan sebuah kertas kecil.

“Apa ini?”

“PIN rumah.”

Maya melihat angka yang tertulis.

Tanggal lahirnya.

Ibunya tersenyum malu.

“Sidik jari kamu juga sudah Ibu masukkan.”

Maya tertawa kecil.

Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, sesuatu di dadanya terasa benar-benar ringan.

Ia akhirnya memahami satu hal.

Rumah bukan menjadi rumah karena siapa yang membayar cicilannya.

Rumah menjadi rumah ketika orang-orang di dalamnya menghargai keberadaan kita.

Namun kasih sayang tanpa batas juga bukan selalu kebaikan.

Kadang-kadang, mencintai keluarga berarti berani berkata cukup.

Berani menutup pintu terhadap perlakuan yang merendahkan.

Dan berani membangun pintu baru yang hanya bisa dibuka oleh mereka yang tahu cara menghargai orang di baliknya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang