Maya tidak menangis malam itu.
Ia duduk di lantai kamar tidurnya dengan punggung bersandar pada sisi ranjang, sementara rekaman Rian dan Siska terus berhenti pada layar ponselnya.
Rasanya aneh.
Ia selalu membayangkan pengkhianatan akan membuat seseorang marah, berteriak, atau menghancurkan barang-barang.
Yang Maya rasakan justru ketakutan.
Ada sesuatu yang tidak masuk akal.
Jika Rian hanya berselingkuh, mengapa harus membuat cerita perjalanan dinas selama tujuh hari?
Mengapa bersembunyi di apartemen Siska yang hanya berjarak dua lantai?
Dan mengapa memilih saat Maya sedang merasa lemas beberapa minggu terakhir?
Pertanyaan terakhir membuat Maya berdiri.
Ia berjalan ke dapur dan membuka laci tempat obat-obatannya disimpan.
Ada vitamin, obat lambung, serta kapsul yang diberikan Rian tiga minggu sebelumnya.
“Ini vitamin tambahan dari dokter langganan bengkel,” kata Rian saat itu. “Kamu belakangan gampang capek.”
Maya mengambil botol tersebut.
Tidak ada label apotek.
Hanya stiker putih dengan tulisan tangan.
Dua kali sehari sesudah makan.
Untuk pertama kalinya Maya merasa takut menyentuh obat yang selama ini diminumnya tanpa curiga.
Keesokan paginya ia membawa beberapa kapsul ke sebuah laboratorium swasta.
Ia tidak mengatakan siapa yang memberikannya.
Ia hanya meminta kandungannya diperiksa.
Hasilnya membutuhkan waktu.
Sementara itu Maya kembali memikirkan sampah dari unit Siska.
Ada sesuatu yang mungkin terlewat.
Pukul enam pagi berikutnya, ia kembali mengamati lorong melalui kamera.
Siska keluar membawa dua kantong sampah.
Setelah perempuan itu pergi, Maya mengambil salah satunya.
Ia menemukan bungkus makanan, tisu, botol air mineral, dan sebuah struk minimarket.
Maya hampir membuangnya.
Namun matanya menangkap daftar barang.
Sarung tangan karet.
Cairan pembersih mesin.
Plastik besar.
Tali nilon.
Dan dua jeriken kosong berukuran lima liter.
Semua dibeli tiga hari sebelumnya.
Maya menatap struk itu lama.
Tidak ada satu pun barang yang otomatis membuktikan kejahatan.
Tetapi kombinasi semuanya membuat tengkuknya dingin.
Terlebih karena salah satu barang terakhir adalah obat tidur yang dijual bebas.
Maya memotret struk tersebut.
Lalu ia menghubungi satu orang yang masih dipercayainya.
Pak Hendra.
Mantan atasannya itu kini berusia hampir enam puluh tahun. Begitu mendengar cerita Maya, ia tidak langsung memberikan kesimpulan.
“Jangan temui mereka,” katanya tegas.
“Pak, saya perlu tahu apa yang sebenarnya terjadi.”
“Justru karena itu jangan membuat mereka tahu kamu sudah curiga.”
Maya terdiam.
“Kalau memang ada kemungkinan ini bukan sekadar perselingkuhan, kita kumpulkan bukti dulu. Dan mulai sekarang, jangan makan atau minum apa pun yang diberikan suamimu.”
Ucapan itu membuat Maya teringat Dimas.
Delapan bulan lalu, polisi menyimpulkan Dimas kehilangan kendali saat mengemudi pada malam hujan.
Mobilnya menghantam pembatas jalan.
Dimas meninggal sebelum ambulans tiba.
Saat itu Rian adalah orang yang paling terpukul.
Ia bahkan menangis sambil memeluk peti kakaknya.
Tetapi sekarang Maya mulai melihat kejadian itu dari sudut berbeda.
Dimas memiliki asuransi jiwa bernilai miliaran rupiah.
Siska menerima sebagian besar uang tersebut.
Yang lebih mengganggu, beberapa bulan sebelum meninggal, Dimas baru saja mengubah struktur kepemilikan sebuah gudang keluarga.
Maya mengetahui hal itu karena pernah diminta membantu memeriksa dokumen.
Jika Dimas meninggal, sebagian sahamnya jatuh kepada Siska.
Jika Siska kemudian menikah dengan Rian, aset keluarga praktis kembali berada dalam satu kendali.
Maya mencoba mengusir pikiran itu.
Terlalu gila.
Sampai telepon dari laboratorium datang sore harinya.
“Bu Maya, kami sudah memeriksa kapsul yang Ibu kirim.”
Maya menggenggam ponselnya.
“Isinya apa?”
Petugas menjelaskan bahwa kapsul tersebut bukan vitamin biasa. Ada kandungan obat penenang dalam dosis kecil.
Belum cukup untuk langsung membahayakan orang sehat, tetapi penggunaan rutin dapat menyebabkan kantuk, kelemahan, penurunan konsentrasi, dan dalam kondisi tertentu meningkatkan risiko kecelakaan.
Maya merasa kursi di bawahnya seperti menghilang.
Tiga minggu.
Selama tiga minggu ia meminumnya.
Dan selama tiga minggu itu Rian terus berkata bahwa Maya tampak semakin lemah.
Malamnya Maya menelepon Pak Hendra.
“Saya pikir mereka sedang mempersiapkan sesuatu.”
“Sekarang kita jangan berpikir lagi, Maya. Kita anggap kamu memang dalam bahaya.”
Pak Hendra meminta Maya tinggal sementara di tempat lain.
Namun Maya menolak.
“Kalau saya pergi sekarang, mereka akan tahu.”
“Apa yang ingin kamu lakukan?”
Maya menatap kamera unit 502.
“Saya ingin tahu rencana mereka.”
Kesempatan itu datang dua malam kemudian.
Pukul 01.17.
Rian dan Siska keluar dari unit 502.

Keduanya masuk lift.
Maya menunggu lima menit.
Kemudian ia naik melalui tangga darurat.
Pintu unit Siska ternyata tidak tertutup sempurna.
Maya tidak masuk.
Ia tahu memasuki rumah orang tanpa izin bisa menimbulkan masalah hukum.
Namun dari lorong ia melihat sebuah kantong kertas jatuh di dekat ambang pintu.
Di atasnya tercetak logo minimarket yang sama dengan struk yang ditemukannya.
Di dalam kantong itu terlihat sebuah buku catatan.
Maya memotretnya dari luar.
Pada halaman terbuka terdapat beberapa tulisan.
Jumat.
22.30.
Tol arah Pasuruan.
Mobil Maya.
Hujan kalau memungkinkan.
Buat seperti Dimas.
Maya hampir menjatuhkan ponselnya.
Kalimat terakhir membuat seluruh tubuhnya dingin.
Buat seperti Dimas.
Sekarang tidak ada lagi ruang untuk menyangkal.
Dimas dibunuh.
Dan metode yang sama akan digunakan kepadanya.
Maya segera turun.
Ia mengirim foto itu kepada Pak Hendra.
Kali ini Pak Hendra langsung menghubungi kenalannya di kepolisian.
Namun foto catatan saja belum cukup untuk membuktikan siapa yang menulisnya.
Mereka membutuhkan sesuatu yang lebih kuat.
Maya mendapatkannya secara tidak sengaja.
Hari Jumat pukul lima sore, Rian menelepon.
“Sayang, supplier akhirnya beres. Mas bisa pulang lebih cepat.”
Maya memejamkan mata.
Jumat.
Hari yang tertulis di catatan.
“Serius?”
“Iya. Mungkin jam delapan sudah sampai.”
Maya memaksakan suara gembira.
“Aku tunggu.”
Tepat pukul 19.43, Rian mengetuk pintu unit 302 sambil membawa koper.
Seolah benar-benar baru pulang dari bandara.
Ia bahkan membawa oleh-oleh bika ambon.
Maya hampir kagum melihat betapa sempurnanya kebohongan itu.
Rian memeluknya.
“Kamu kelihatan pucat.”
“Masih agak lemas.”
“Kamu minum vitaminnya?”
Maya tersenyum.
“Selalu.”
Rian tampak lega.
Malam itu ia memasak makan malam.
Untuk pertama kalinya Maya memperhatikan setiap gerakannya.
Ketika Maya pura-pura pergi ke kamar mandi, kamera kecil yang sudah dipasang Pak Hendra merekam Rian membuka sesuatu dari sakunya.
Serbuk putih dituangkan ke dalam gelas jus Maya.
Maya kembali.
“Minum dulu,” kata Rian lembut.
Maya menerima gelas itu.
“Mas masih sayang aku?”
Rian tertawa kecil.
“Pertanyaan apa itu?”
“Jawab saja.”
Rian menyentuh rambutnya.
“Mas sayang banget sama kamu.”
Maya menatap wajah pria yang sudah tidur di sampingnya selama empat tahun.
Kemudian ia tersenyum.
“Aku juga.”
Ia membawa gelas ke bibir, tetapi tidak benar-benar menelannya.
Beberapa menit kemudian Maya berpura-pura mulai mengantuk.
Rian menuntunnya ke kamar.
“Tidur saja.”
Maya menutup mata.
Hampir empat puluh menit kemudian, ia mendengar suara telepon.
Rian berbicara pelan.
“Sudah tidur.”
Hening.
“Tenang. Dosisnya cukup.”
Jantung Maya berdetak keras.
Kemudian Rian mengatakan kalimat yang membuat air mata Maya akhirnya keluar.
“Dimas juga tidak sadar waktu kita bawa mobilnya malam itu.”
Maya menggigit bagian dalam bibir agar tidak bersuara.
Suara Siska terdengar samar dari telepon.
Rian menjawab, “Kali ini lebih gampang. Maya sudah tiga minggu kita bikin lemah.”
Semua terekam.
Beberapa menit kemudian terdengar ketukan pintu.
Siska masuk.
“Kita harus cepat,” bisiknya.
Maya merasakan Rian mengangkat tubuhnya.
Ia tetap lemas seperti orang tidak sadar.
Mereka membawanya menuju lift.
Namun begitu pintu lift terbuka di lantai dasar, empat polisi sudah menunggu.
Rian membeku.
Siska mundur.
Maya membuka mata.
Wajah Rian berubah pucat.
“Maya?”
Maya berdiri perlahan.
“Mas seharusnya masih di Medan.”
Rian langsung melepaskan tangannya.
“Aku bisa jelaskan.”
“Jelaskan kepada polisi.”
Siska mencoba berlari.
Ia hanya berhasil beberapa meter sebelum dihentikan.
Malam itu unit 502 diperiksa.
Polisi menemukan lebih banyak bukti daripada yang Maya bayangkan.
Dokumen asuransi.
Catatan transaksi.
Obat penenang.
Rekaman percakapan.
Bahkan sebuah ponsel lama milik Dimas yang selama ini dianggap hilang setelah kecelakaan.
Di dalamnya terdapat pesan terakhir Dimas kepada seseorang.
Aku tahu hubungan kalian. Besok kita bicara dengan keluarga.
Pesan itu dikirim kepada Rian beberapa jam sebelum Dimas meninggal.
Penyelidikan kemudian mengungkap kenyataan yang jauh lebih kelam.
Hubungan Rian dan Siska sudah berlangsung sebelum kematian Dimas.
Ketika Dimas mengetahuinya dan mengancam akan menceraikan Siska serta mengubah seluruh pembagian aset, keduanya panik.
Malam kecelakaan, Dimas dibuat tidak sadar setelah minum bersama adiknya sendiri.
Mobilnya kemudian dibawa menuju jalan tol.
Kecelakaan direkayasa agar terlihat seperti kehilangan kendali.
Mereka berhasil.
Selama delapan bulan tidak seorang pun mencurigai apa pun.
Sampai muncul masalah baru.
Maya.
Rian ingin menikahi Siska setelah masa berkabung dianggap cukup.
Namun perceraian akan membuat pembagian aset rumit.
Selain itu, sebagian bengkel dan rumah yang ditempati Rian ternyata dibeli menggunakan dana milik Maya sebelum menikah.
Jika Maya meninggal, Rian berpotensi menguasai sebagian besar harta tersebut.
Karena itu mereka memilih mengulang pola lama.
Membuat Maya perlahan terlihat sakit.
Memberinya obat penenang.
Kemudian menciptakan kecelakaan.
Enam bulan kemudian, Rian dan Siska duduk sebagai terdakwa dalam persidangan kasus pembunuhan Dimas dan percobaan pembunuhan Maya.
Hari vonis, Maya datang.
Bukan karena ingin melihat mereka hancur.
Ia hanya ingin menutup satu bagian hidupnya.
Ketika keluar dari gedung pengadilan, Pak Hendra berjalan di sampingnya.
“Apa kamu pernah berpikir bagaimana semuanya bisa terbongkar hanya karena sebuah sepatu?”
Maya berhenti.
Ia menatap langit Surabaya yang mulai mendung.
“Bukan karena sepatu, Pak.”
“Lalu?”
Maya tersenyum tipis.
“Karena mereka terlalu yakin saya percaya kepada mereka.”
Pak Hendra mengangguk.
Maya kemudian mengeluarkan sesuatu dari tasnya.
Struk minimarket yang pertama kali ditemukannya.
Sarung tangan.
Cairan pembersih.
Plastik.
Tali nilon.
Jeriken.
Obat tidur.
Selembar kertas kecil yang tampak tidak berarti, tetapi akhirnya menjadi pintu menuju seluruh kebenaran.
Maya melipatnya untuk terakhir kali.
Kemudian memasukkannya kembali ke dalam amplop bukti.
Dulu ia mengira cinta berarti mempercayai seseorang tanpa syarat.
Sekarang ia memahami sesuatu yang berbeda.
Kepercayaan memang membuat seseorang berani menyerahkan hatinya.
Namun ketika kenyataan mulai menunjukkan bahwa ada sesuatu yang salah, keberanian terbesar bukanlah terus percaya.
Keberanian terbesar adalah membuka mata.
Sebab terkadang orang yang paling berbahaya bukanlah orang asing yang menunggu di tempat gelap.
Melainkan seseorang yang setiap pagi mencium keningmu, memastikan obatmu sudah diminum, lalu tersenyum sambil merencanakan hari ketika kau tidak akan pernah bangun lagi.
