Kirana menatap lembar transaksi itu begitu lama sampai angka-angka di atas kertas mulai terasa kabur.
Dua puluh delapan miliar rupiah.
Itulah total dana yang dipindahkan dalam sembilan transaksi selama empat bulan terakhir.
Semua transaksi memiliki satu kesamaan.
Nama pemberi persetujuannya adalah Handoko Danuarta.
Ayahnya.
Pria yang peti matinya sendiri diturunkan Kirana ke liang lahat lima tahun lalu.
“Jawab saya, Dimas.”
Suara Kirana terdengar pelan, tetapi ketenangan itu justru membuat ruangan semakin mencekam.
Dimas tidak langsung menjawab.
Keringat mulai muncul di pelipisnya.
Sherly yang sejak tadi berdiri di dekat pintu perlahan mundur satu langkah.
“Saya tidak tahu soal tanda tangan itu,” kata Dimas akhirnya.
Kirana tertawa kecil.
Bukan karena lucu.
“Dokumennya ada di brankas ruang kerja kamu.”
“Itu bagian keuangan yang mengurus.”
Manajer keuangan bernama Rudi langsung pucat.
“Pak, jangan bawa saya ke masalah ini.”
Dimas menoleh tajam.
“Diam!”
Satu kata itu cukup membuat Kirana memahami sesuatu.
Mereka tidak kompak.
Dan ketika orang-orang yang melakukan sesuatu bersama mulai saling menyalahkan, kebenaran biasanya hanya membutuhkan sedikit tekanan untuk keluar.
Kirana menaruh dokumen di meja.
“Pak Wibowo, kunci pintunya.”
Wibowo melakukannya tanpa bertanya.
Sherly langsung panik.
“Kenapa dikunci?”
“Supaya tidak ada dokumen yang tiba-tiba hilang,” jawab Kirana.
Dia kemudian mengeluarkan ponselnya.
“Dan supaya tidak ada orang yang pergi sebelum auditor eksternal saya tiba.”
Wajah Dimas berubah.
“Auditor?”
“Saya sudah menghubungi mereka tiga hari lalu.”
Dimas menatap istrinya seperti baru menyadari bahwa penyamaran Kirana bukan tindakan impulsif.
Selama enam hari berada di perusahaan, Kirana tidak hanya mengamati perselingkuhan mereka.
Dia bekerja.
Dia mencatat nomor kontrak yang tidak cocok.
Membandingkan laporan pengadaan.
Memotret faktur.
Menyimpan salinan dokumen.
Dan setiap malam, setelah pulang ke rumah dan berpura-pura tidur di samping Dimas, dia mengirimkan semuanya kepada firma audit yang selama bertahun-tahun dipercaya ayahnya.
“Saya cuma belum tahu sumber kebocorannya,” lanjut Kirana. “Sampai hari ini.”
Dia mengangkat bukti transfer.
“Sekarang saya tahu.”
Rudi tiba-tiba duduk.
Kakinya seperti kehilangan tenaga.
“Saya cuma menjalankan instruksi.”
Dimas membanting meja.
“Rudi!”
“Instruksi siapa?”
Kirana menatap manajer keuangan itu.
Rudi mengusap wajahnya.
“Pak Dimas.”
Sherly menoleh cepat.
“Mas?”
“Bohong!” bentak Dimas.
Rudi berdiri lagi.
“Bapak yang suruh saya memproses semuanya! Bapak bilang dokumen persetujuan pemegang saham lama masih sah karena ada surat kuasa!”
“Surat kuasa apa?”
Kirana bertanya.
Rudi menunjuk brankas.
“Map biru.”
Kirana mengambil map tersebut.
Di dalamnya terdapat salinan surat kuasa dengan tanda tangan Handoko Danuarta.
Isinya memberikan wewenang luas kepada Dimas untuk mengelola beberapa aset perusahaan.
Tanggal surat itu tujuh tahun lalu.
Dua tahun sebelum Handoko meninggal.
Sekilas semuanya tampak sah.
Sampai Kirana membaca halaman terakhir.
Nomor akta notaris.
Dia mengenalnya.
Notaris itu adalah teman lama ayahnya.
“Pak Wibowo.”
“Ya, Bu?”
“Telepon Pak Surya sekarang.”
Dimas tiba-tiba bergerak maju.
“Kirana, cukup!”
Wibowo berhenti.
Kirana menatap suaminya.
“Kenapa? Takut?”
“Saya cuma tidak mau masalah keluarga kita menjadi konsumsi semua orang.”
“Masalah keluarga?”
Kirana menunjuk Sherly.
“Perempuan ini menampar saya di depan dua ratus karyawan sambil mengaku kamu suaminya.”
Sherly langsung menyela.
“Karena memang Mas Dimas bilang kami akan menikah!”
Kirana terdiam.
Dimas memejamkan mata.
Sherly baru sadar apa yang baru saja dia ucapkan.
“Menikah?”
Kirana mendekatinya.
Sherly menelan ludah.
“Dia bilang kalian sudah pisah rumah.”
Kirana menoleh kepada Dimas.
“Kita sarapan bersama tadi pagi.”
Sherly terlihat seperti kehilangan warna di wajahnya.
“Dia bilang perceraian kalian sedang diproses.”
“Tidak pernah ada gugatan cerai.”
Sherly menatap Dimas.
“Mas?”
Dimas tidak menjawab.
Untuk pertama kalinya, kemarahan Sherly mulai beralih arah.
“Jadi selama ini kamu bohong?”
“Sherly, jangan sekarang.”
“Kamu bilang perusahaan ini sebentar lagi jadi milik kamu!”
Ruangan langsung hening.
Dimas menatap Sherly dengan wajah penuh ancaman.
Terlambat.
Kirana mendengarnya.
“Lanjutkan.”
Sherly menggeleng.
“Saya tidak tahu apa-apa.”
“Kamu tahu cukup banyak sampai berani memakai cincin yang dibuat berdasarkan desain milik saya.”
Sherly refleks menutupi cincin safir di jarinya.
Kirana mendekat.
“Dimas mengambil sketsanya dari ruang kerja saya, bukan?”
Sherly mulai menangis.
“Dia bilang itu desain dia.”

Kirana tidak merasa puas melihatnya.
Justru ada rasa getir yang sulit dijelaskan.
Sherly memang berselingkuh dengan suaminya.
Namun perempuan itu ternyata juga sedang ditipu.
Dimas tidak mencintai siapa pun.
Bukan Kirana.
Bukan Sherly.
Yang dia cintai hanyalah akses.
Uang.
Kekuasaan.
Dua puluh menit kemudian, Pak Surya akhirnya menjawab panggilan video.
Begitu Wibowo menunjukkan surat kuasa itu ke kamera, ekspresi notaris senior tersebut langsung berubah.
“Dokumen ini palsu.”
Dimas membeku.
Pak Surya meminta halaman terakhir diperlihatkan lebih dekat.
“Nomor akta itu memang nomor dari kantor saya. Tapi isinya bukan surat kuasa.”
“Isinya apa?” tanya Kirana.
“Akta pendirian yayasan pendidikan milik ayah kamu.”
Kirana merasakan tengkuknya dingin.
Artinya seseorang tidak sekadar memalsukan tanda tangan.
Mereka mengambil nomor dokumen asli agar pemalsuan terlihat meyakinkan.
Kirana menutup panggilan setelah meminta Pak Surya mengirimkan konfirmasi tertulis.
Kemudian dia menatap Dimas.
“Masih mau bilang kamu tidak tahu?”
Dimas tidak lagi terlihat takut.
Wajahnya justru berubah keras.
Mungkin dia sadar tidak ada gunanya berpura-pura.
“Baik.”
Dia menarik kursi dan duduk.
“Ya. Saya memindahkan uangnya.”
Sherly menutup mulut.
Rudi menunduk.
Dimas menatap Kirana tanpa penyesalan.
“Tapi jangan bertingkah seolah perusahaan ini masih berdiri karena ayah kamu.”
Kirana diam.
“Lima tahun terakhir siapa yang menjalankannya? Saya. Siapa yang menghadapi investor? Saya. Siapa yang negosiasi dengan bank? Saya.”
“Dan karena itu kamu merasa berhak mencuri?”
“Saya mengambil bagian yang seharusnya menjadi milik saya.”
Kirana hampir tidak mengenali pria di hadapannya.
“Tidak ada satu pun saham perusahaan ini atas nama kamu.”
“Itulah masalahnya!”
Dimas berdiri.
“Empat tahun menikah, tapi di mata semua orang saya tetap cuma suami Kirana Danuarta. Direktur titipan keluarga Danuarta.”
Kini semuanya menjadi jelas.
Bukan hanya keserakahan.
Ada luka harga diri yang dibiarkan membusuk menjadi kebencian.
Kirana pernah mengira memberikan kursi direktur utama adalah bentuk kepercayaan.
Bagi Dimas, ternyata itu penghinaan.
“Jadi kamu membuat perusahaan cangkang?”
Dimas tersenyum tipis.
“Kamu tidak akan bisa mengambil semuanya kembali.”
“Kenapa?”
“Karena uangnya sudah tidak ada.”
Kirana terdiam.
Dimas tampak sedikit mendapatkan kembali kepercayaan dirinya.
“Dana itu sudah dipindahkan keluar negeri.”
Namun Rudi tiba-tiba berkata,
“Belum semuanya.”
Dimas menoleh.
Rudi berdiri sambil menggenggam ponsel.
“Sembilan belas miliar masih ada di rekening penampungan.”
“Rudi!”
“Saya tidak mau masuk penjara sendirian!”
Dimas menerjangnya.
Wibowo dan dua petugas keamanan yang baru tiba segera menahan Dimas.
Suasana berubah kacau.
Sherly menangis.
Rudi berteriak.
Dimas memaki semua orang.
Namun Kirana tetap berdiri di depan meja.
Tatapannya jatuh pada map merah yang sejak awal membuatnya curiga.
Nama perusahaan cangkang itu adalah PT Laras Sentosa Abadi.
Laras.
Nama mendiang ibunya.
Kirana membuka dokumen pendiriannya.
Pemegang saham utama perusahaan tersebut ternyata bukan Dimas.
Bukan Sherly.
Bukan Rudi.
Melainkan seseorang bernama Hendra Gunawan.
Kirana mengernyit.
Nama itu terasa asing.
Tetapi Wibowo yang berdiri di belakangnya tiba-tiba menarik napas.
“Bu Kirana…”
“Ada apa?”
Wibowo menunjuk nama tersebut.
“Hendra dulu sopir pribadi Pak Handoko.”
Kirana mengangkat wajah.
“Kenapa sopir Ayah menjadi pemegang saham perusahaan yang menerima puluhan miliar?”
Tidak ada yang menjawab.
Kirana segera meminta tim audit melacak identitas Hendra.
Hasilnya datang menjelang sore.
Dan justru itulah temuan yang mengubah seluruh kasus.
Hendra Gunawan meninggal enam tahun lalu.
Satu tahun sebelum Handoko meninggal.
Ruangan kembali sunyi.
Berarti perusahaan penerima dana menggunakan identitas orang mati.
Sementara transaksi disetujui atas nama orang mati lainnya.
Dimas mungkin penipu.
Namun pola ini terlalu rapi.
Terlalu terencana.
Kirana menatap suaminya.
“Siapa yang membuat skema ini?”
Dimas tidak menjawab.
“Bukan kamu.”
Rahang Dimas mengeras.
Kirana semakin yakin.
Dimas cerdas, tetapi dia bukan orang yang memahami struktur lama perusahaan sedetail ini.
Seseorang mengetahui nama sopir ayahnya.
Mengetahui nomor akta lama.
Mengetahui mekanisme persetujuan transaksi sebelum perusahaan melakukan digitalisasi.
Seseorang yang sudah berada di PT Danuarta Nusantara jauh sebelum Dimas masuk.
Perlahan, Kirana menoleh.
Wibowo berdiri di belakangnya.
Pria yang membantunya menyamar.
Orang yang dipercaya ayahnya selama lebih dari dua puluh tahun.
Wibowo tersenyum kecil.
“Kenapa melihat saya begitu, Bu?”
Kirana merasa dadanya sesak.
Dia teringat sesuatu.
Selama enam hari penyamaran, semua akses yang dia miliki berasal dari Wibowo.
Identitas palsu.
Kartu staf.
Penempatan divisi.
Bahkan tugas mengantar dokumen ke ruang Dimas.
Semua diatur Wibowo.
Seolah-olah seseorang memang ingin Kirana menemukan perselingkuhan Dimas.
Menemukan dokumen.
Membuka brankas.
Dan menjadikan Dimas satu-satunya tersangka.
Kirana mengambil satu lembar transaksi.
Kode otorisasi HR tercetak kecil di bagian bawah.
WB-017.
Wibowo.
Wajah pria itu berubah.
“Pak Wibowo.”
Kirana mengangkat dokumen.
“Kenapa kode otorisasi Anda ada di sini?”
Sherly berhenti menangis.
Rudi menatap Wibowo.
Dimas justru tertawa.
Pelan.
Lalu semakin keras.
“Akhirnya.”
Kirana menoleh.
Dimas menatap Wibowo dengan kebencian.
“Kamu pikir saya akan menanggung semuanya sendiri?”
Wibowo bergerak menuju pintu.
Petugas keamanan langsung menghalanginya.
“Jangan sentuh saya.”
Untuk pertama kalinya suara pria tua itu kehilangan keramahan.
Dimas tersenyum getir.
“Dia yang merancang perusahaan cangkangnya.”
Wibowo memejamkan mata.
“Dia yang memberi saya dokumen lama Handoko.”
Kirana merasa seperti baru saja ditampar untuk kedua kalinya hari itu.
Tamparan Sherly hanya melukai pipinya.
Yang ini menghantam sesuatu yang jauh lebih dalam.
“Kenapa?”
Wibowo menatap Kirana lama.
Kemudian berkata,
“Karena ayah Anda juga bukan orang suci.”
Kirana membeku.
Wibowo menceritakan bahwa puluhan tahun lalu, ketika perusahaan masih kecil, Hendra bukan sekadar sopir.
Dia adalah sahabat Handoko sekaligus pemodal awal bengkel pertama.
Namun ketika bisnis mulai berkembang, kepemilikan Hendra tidak pernah dicatat secara resmi.
Hendra meninggal tanpa pernah mendapatkan bagian yang dia yakini menjadi hak keluarganya.
Wibowo adalah adik kandung Hendra.
Selama bertahun-tahun dia menyimpan kemarahan.
Setelah Handoko meninggal, Wibowo melihat kesempatan.
Dia mendekati Dimas perlahan.
Memberinya informasi.
Memupuk rasa rendah diri Dimas.
Meyakinkannya bahwa Kirana tidak pernah menghargainya.
Kemudian menawarkan cara mengambil perusahaan sedikit demi sedikit.
“Saya memang membantu Anda menyamar,” kata Wibowo. “Karena saya tahu cepat atau lambat Dimas akan serakah dan mencoba mengambil semuanya untuk dirinya sendiri.”
“Jadi saya cuma alat?”
“Saya ingin Anda melihat siapa suami Anda sebenarnya.”
“Dengan mencuri uang perusahaan?”
“Dengan mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milik keluarga saya.”
Kirana menatap pria yang sejak kecil dia panggil Om Bowo.
Orang yang hadir di pemakaman ayahnya.
Orang yang memeluknya ketika dia menangis.
Ternyata setiap orang di ruangan itu membawa kebohongan masing-masing.
Namun Kirana tidak berteriak.
Dia hanya mengambil ponsel.
“Pak Surya.”
Notaris itu kembali menjawab.
“Saya ingin Anda memeriksa arsip pendirian bengkel pertama Ayah. Semua dokumen. Termasuk nama Hendra Gunawan.”
Wibowo terlihat terkejut.
“Kirana…”
“Kalau keluarga Anda memang memiliki hak yang belum pernah dibayar, saya akan menyelesaikannya secara sah.”
Kirana menatapnya lurus.
“Tapi pencurian tetap pencurian.”
Wibowo menunduk.
Polisi tiba sekitar empat puluh menit kemudian.
Dimas, Wibowo, dan Rudi dibawa untuk pemeriksaan.
Sherly juga diminta memberikan keterangan.
Sebelum pergi, Sherly menghampiri Kirana.
Pipinya basah.
Dia melepas cincin safir dari jarinya.
“Saya minta maaf.”
Kirana menatap cincin itu.
Lalu menggeleng.
“Simpan.”
Sherly terkejut.
“Saya tidak menginginkannya lagi.”
Kirana berjalan meninggalkan ruangan.
Enam bulan kemudian, penyelidikan selesai.
Sebagian besar dana perusahaan berhasil dikembalikan.
Dimas ditetapkan sebagai tersangka utama penggelapan dan pemalsuan dokumen. Perceraian mereka selesai tanpa perlawanan berarti.
Rudi mendapat hukuman lebih ringan karena bekerja sama dengan penyidik.
Wibowo tetap harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Namun penyelidikan arsip lama menemukan sesuatu yang tidak pernah diketahui Kirana.
Hendra memang ikut memberikan modal pada bengkel pertama Handoko.
Nilainya kecil jika dihitung saat itu.
Tetapi kontribusinya nyata.
Tidak pernah ada bukti bahwa Handoko sengaja menipu Hendra. Catatan lama menunjukkan keduanya sempat berencana meresmikan kepemilikan bersama, tetapi konflik pribadi memisahkan mereka sebelum dokumen selesai.
Kirana memilih menyelesaikan persoalan itu.
Bukan dengan menutupi kejahatan Wibowo.
Melainkan dengan memberikan kompensasi yang wajar kepada keluarga Hendra berdasarkan penilaian independen.
Setahun setelah kejadian di kantin, Kirana kembali berdiri di lantai tiga.
Kali ini bukan sebagai staf magang.
Dia datang sebagai Komisaris Utama PT Danuarta Nusantara.
Di tangannya ada termos hitam yang sama.
Termos milik Dimas yang dahulu menjadi awal terbongkarnya semua kebohongan.
Seorang staf baru yang tidak mengenalnya menunjuk termos itu.
“Bu, maaf, itu punya siapa?”
Kirana tersenyum.
“Dulu punya seseorang yang mengira semua yang disentuhnya otomatis menjadi miliknya.”
Staf itu terlihat bingung.
Kirana menuangkan kopi ke cangkir kertas.
Kemudian memandang kantin yang ramai.
Di tempat yang sama, setahun sebelumnya dia dipermalukan di depan ratusan orang.
Namun kini Kirana memahami sesuatu yang tidak pernah diajarkan ayahnya.
Warisan bukan hanya soal menjaga apa yang ditinggalkan orang tua.
Kadang-kadang, menjaga warisan berarti berani membuka lemari yang selama bertahun-tahun dikunci rapat, menemukan kesalahan generasi sebelumnya, lalu memperbaikinya tanpa mengulangi kesalahan yang sama.
Kirana mengangkat cangkirnya.
Sebelum sempat minum, seorang petugas keamanan menghampirinya membawa amplop cokelat.
“Bu Kirana, ini baru diantar.”
“Dari siapa?”
“Tidak ada nama pengirim.”
Kirana membuka amplop itu.
Di dalamnya hanya terdapat satu foto lama.
Handoko dan Hendra berdiri di depan bengkel kecil mereka, tersenyum sambil memegang papan bertuliskan Danuarta Gunawan Teknik.
Di belakang foto terdapat tulisan tangan ayahnya.
Jika suatu hari anak-anak kita menemukan foto ini, semoga mereka lebih pandai berdamai daripada kita.
Tangan Kirana bergetar.
Dia membalik foto itu sekali lagi.
Di sudut bawah terdapat tanggal.
Dua hari sebelum Hendra meninggal.
Kirana menatap keluar jendela.
Untuk pertama kalinya sejak semua kekacauan itu dimulai, dia tersenyum tanpa rasa marah.
Ternyata rahasia terbesar yang tersembunyi di perusahaan itu bukan tentang siapa yang mencuri puluhan miliar rupiah.
Melainkan tentang dua sahabat yang gagal berdamai semasa hidup dan meninggalkan utang yang harus diselesaikan oleh anak-anak mereka.
Dan Kirana memutuskan utang itu berhenti pada generasinya.
