KAKEKKU YANG MILIARDER TIBA-TIBA DATANG KE KONTRAKAN KUMUH KAMI DAN MENANYAKAN RUMAH MEWAH SENILAI RP15 MILIAR YANG DIBELIKANNYA UNTUKKU. SAAT ITULAH AKU BARU TAHU, SUAMIKU TERNYATA TINGGAL DI RUMAH ITU BERSAMA WANITA LAIN!

Pagi berikutnya, bahkan sebelum azan Subuh benar-benar selesai terdengar dari musala ujung gang, Maya sudah duduk di tepi kasur dengan mata terbuka.

Ia tidak tidur semalaman.

Setiap kali memejamkan mata, yang muncul justru potongan gambar dari panggilan video Rendy.

Lampu kristal.

Meja marmer.

Jam tangan mahal.

Dan gelang milik ibunya di pergelangan tangan seorang wanita yang tidak ia kenal.

Maya menoleh ke arah Arka yang masih tertidur pulas. Wajah anak itu begitu tenang, seolah tidak tahu bahwa dalam satu malam, seluruh dunia ibunya telah runtuh.

Sekitar pukul delapan pagi, Hendra datang bersama sopirnya.

Maya sudah menunggu di depan kontrakan.

Ia menitipkan Arka kepada Bu Ratih, tetangga yang selama ini sering membantu menjaga anaknya ketika Maya harus mengantar cucian.

Hendra tidak banyak bertanya.

Ia hanya membuka pintu mobil untuk cucunya.

Sepanjang perjalanan dari Marunda menuju Pondok Indah, Maya lebih banyak diam.

Semakin dekat mereka ke Jakarta Selatan, semakin sesak dadanya.

Akhirnya mobil berhenti di depan sebuah rumah besar dengan pagar hitam setinggi hampir tiga meter.

Maya menatapnya tanpa berkedip.

Bangunan dua lantai itu berdiri megah dengan fasad batu alam, jendela-jendela tinggi, taman luas, dan dua mobil mewah terparkir di halaman.

Salah satunya adalah SUV hitam yang pernah Rendy katakan sebagai mobil operasional perusahaan proyek di Kalimantan.

Maya hampir tertawa.

Namun yang keluar dari bibirnya justru napas gemetar.

“Jadi selama ini Kalimantan cuma sejauh Pondok Indah.”

Hendra mengepalkan rahangnya.

Mereka belum sempat menekan bel ketika seorang petugas keamanan keluar.

Begitu melihat Hendra, wajah pria itu langsung berubah.

“Pak Hendra?”

Maya menoleh.

“Kamu kenal Kakek saya?”

Petugas itu tampak gugup.

Hendra menjawab datar, “Saya yang dulu mengurus serah terima rumah ini.”

Lalu ia menatap petugas keamanan tersebut.

“Pak Rendy ada?”

Pria itu ragu sesaat sebelum mengangguk.

“Ada, Pak. Bu Selina juga ada.”

Nama itu menghantam Maya seperti batu.

Bu Selina.

Bukan tamu.

Bukan rekan kerja.

Perempuan itu bahkan dipanggil sebagai nyonya rumah.

“Sudah berapa lama mereka tinggal di sini?” tanya Maya.

Petugas keamanan mulai menyadari ada sesuatu yang salah.

“Hampir dua tahun, Bu.”

Dua tahun.

Maya merasa lututnya melemas.

Dua tahun berarti hampir sejak rumah itu selesai direnovasi.

Hendra mendorong pagar tanpa berkata lagi.

Pintu utama rumah tidak terkunci.

Begitu Maya masuk, langkahnya berhenti.

Ia mengenali ruangan itu.

Lampu kristal yang dilihatnya semalam menggantung tepat di tengah ruang makan.

Meja marmer putih yang sempat terlihat selama dua detik kini berada hanya beberapa meter darinya.

Di atas sofa terdapat sebuah tas perempuan bermerek mahal.

Di meja sampingnya tergeletak kunci mobil.

Lalu terdengar suara tawa dari lantai atas.

Suara Rendy.

Disusul suara perempuan.

Maya berdiri diam di tengah ruang tamu.

Beberapa detik kemudian, Rendy turun dari tangga sambil menatap ponselnya.

Ia mengenakan kemeja putih mahal dan celana panjang hitam.

Tidak ada kaus lusuh.

Tidak ada wajah kelelahan pekerja proyek.

Tidak ada sedikit pun jejak kehidupan keras yang selama ini ia ceritakan.

Ketika mendongak dan melihat Maya, seluruh darah seolah menghilang dari wajahnya.

“Maya?”

Ponselnya hampir terlepas.

“Kamu… ngapain di sini?”

Pertanyaan itu membuat sesuatu dalam diri Maya berubah.

Bukan lagi kesedihan.

Bukan pula kebingungan.

Melainkan ketenangan aneh yang muncul ketika seseorang sudah terlalu sakit untuk merasa takut.

“Aku mau tanya hal yang sama.”

Rendy membuka mulut, tetapi belum sempat bicara ketika seorang perempuan muncul di ujung tangga.

Usianya sekitar tiga puluh tahun.

Rambutnya tergerai rapi.

Ia mengenakan gaun rumah sederhana, tetapi jelas mahal.

Dan di pergelangan tangan kirinya terdapat gelang emas dengan ukiran tiga helai daun.

Maya menatap gelang itu.

Perempuan tersebut mengikuti arah pandang Maya.

“Mas Rendy, siapa mereka?”

Mas Rendy.

Maya tersenyum tipis.

“Namaku Maya.”

Perempuan itu masih tampak bingung.

Maya melanjutkan, “Istrinya.”

Wajah Selina langsung pucat.

Ia menoleh cepat kepada Rendy.

“Apa?”

Rendy segera mendekat.

“Selina, dengarkan aku dulu.”

Namun perempuan itu mundur.

“Kamu bilang kalian sudah bercerai.”

Maya mengangkat wajah.

Kejutan berikutnya datang begitu cepat hingga ia hampir tidak sempat mencernanya.

Selina menatap Maya.

“Dia bilang kalian bercerai hampir tiga tahun lalu.”

“Tiga tahun lalu?” suara Maya serak. “Anak kami baru tiga tahun.”

Selina menutup mulutnya.

Rendy mulai panik.

“Maya, kita bisa bicara baik-baik.”

“Baik-baik?”

Untuk pertama kalinya suara Maya meninggi.

“Dua tahun aku tinggal di kontrakan berjamur. Anakmu tidur di lantai. Aku mencuci pakaian orang sampai kulit tanganku pecah karena kamu bilang sedang berjuang mengumpulkan uang.”

Ia mengangkat kedua tangannya.

Kulit di sela-sela jarinya memang kasar dan kemerahan akibat deterjen.

“Dan kamu tinggal di sini?”

Rendy mencoba meraih lengannya.

Maya mundur.

“Jangan sentuh aku.”

Hendra yang sejak tadi berdiri di belakang akhirnya maju.

“Kamu bilang kepada saya Maya menolak rumah ini.”

Rendy membeku.

“Kakek, saya bisa jelaskan.”

“Jangan panggil saya Kakek.”

Suara Hendra rendah, tetapi jauh lebih menakutkan daripada bentakan.

Selina perlahan melepas gelang dari tangannya.

“Kalau ini milikmu…” katanya kepada Maya, “aku benar-benar tidak tahu.”

Ia meletakkan gelang tersebut di meja.

“Rendy memberikannya kepadaku tahun lalu. Katanya milik mendiang ibunya.”

Maya menatap suaminya.

Bahkan benda peninggalan ibunya pun dipakai untuk membangun kebohongan baru.

Namun ternyata itu belum semuanya.

Hendra meminta asistennya yang menunggu di luar membawa sebuah map hitam dari mobil.

Rendy langsung gelisah ketika melihatnya.

“Pak Hendra, jangan.”

Maya menangkap perubahan itu.

“Kakek, apa itu?”

Hendra membuka map tersebut.

“Dokumen rumah.”

Ia mengeluarkan beberapa lembar.

“Rumah ini tidak pernah saya hibahkan kepada Rendy.”

Rendy menelan ludah.

“Secara hukum, rumah ini masih tercatat sebagai aset perusahaan keluarga yang penggunaannya diperuntukkan bagi Maya.”

Maya menatap suaminya.

“Berarti dia tidak punya hak atas rumah ini?”

“Sama sekali tidak.”

Hendra kemudian mengeluarkan dokumen lain.

“Tapi masalahnya lebih besar.”

Ternyata enam bulan sebelumnya, Rendy telah mencoba menjadikan rumah tersebut sebagai jaminan untuk mendapatkan pinjaman usaha sebesar Rp4,8 miliar.

Ia menggunakan surat kuasa yang mencantumkan tanda tangan Maya.

Maya melihat dokumen itu.

“Itu bukan tanda tanganku.”

“Aku tahu,” jawab Hendra.

Rendy tiba-tiba kehilangan keberanian.

“Kakek, saya cuma butuh modal. Bisnis saya hampir jalan. Kalau berhasil, semuanya bisa saya kembalikan.”

Maya menatapnya tajam.

“Bisnis apa?”

Tak ada jawaban.

Selina justru menjawab.

“Restoran.”

Maya menoleh.

Selina terlihat sama terguncangnya.

“Dia bilang rumah ini miliknya. Katanya perusahaan keluargamu hampir bangkrut dan dia sedang membangun bisnis sendiri supaya bisa menyelamatkan kalian.”

Maya hampir tidak percaya.

Rendy ternyata tidak hanya memiliki satu kebohongan.

Ia menciptakan dunia yang berbeda untuk setiap orang.

Di hadapan Maya, ia adalah suami pekerja keras yang hidup susah di Kalimantan.

Di hadapan Hendra, ia adalah suami yang menghormati keinginan istrinya untuk mandiri.

Di hadapan Selina, ia adalah pengusaha kaya yang telah bercerai dan sedang menyelamatkan keluarga istrinya yang bangkrut.

“Berapa banyak uang yang kamu kasih ke dia?” tanya Maya.

Selina menunduk.

“Rp1,2 miliar.”

Rendy langsung menyela.

“Itu investasi.”

“Diam!”

Kali ini Selina yang membentak.

Air matanya jatuh.

“Aku menjual apartemen peninggalan ayahku karena kamu bilang restoran itu masa depan kita.”

Maya memandang perempuan di depannya.

Beberapa menit sebelumnya ia mengira Selina adalah wanita yang merampas kehidupannya.

Kini ia menyadari bahwa perempuan itu mungkin korban lain dari lelaki yang sama.

Hendra mengeluarkan ponsel.

“Saya sudah menghubungi pengacara keluarga tadi malam.”

Rendy pucat.

“Untuk apa?”

“Karena pemalsuan tanda tangan dan upaya menjaminkan aset yang bukan milikmu bukan masalah rumah tangga.”

Rendy segera mendekati Maya.

“Maya, tolong.”

Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Maya melihat suaminya memohon.

“Kita punya Arka.”

Nama anak mereka membuat Maya menegang.

Rendy melihat celah itu dan segera melanjutkan.

“Pikirkan Arka. Dia butuh ayah.”

Maya terdiam.

Kemudian ia memandang lelaki yang pernah dicintainya.

“Semalam Arka minta susu.”

Rendy mengernyit.

“Apa?”

“Aku bilang tidak ada uang.”

Maya menahan air mata.

“Sementara kamu makan di meja marmer lima belas miliar dan memakai jam yang harganya cukup untuk membelikan anakmu susu bertahun-tahun.”

Rendy tidak mampu menjawab.

“Jangan gunakan Arka untuk menyelamatkan dirimu.”

Beberapa minggu setelah hari itu, kehidupan Maya berubah total.

Proses hukum terhadap Rendy berjalan.

Selina menyerahkan bukti transfer, percakapan, dan dokumen investasi yang diberikan Rendy kepadanya.

Dari pemeriksaan lebih lanjut terungkap bahwa proyek di Kalimantan memang pernah ada.

Namun Rendy sudah berhenti bekerja di sana lebih dari dua tahun sebelumnya.

Sejak itu, ia hidup menggunakan uang Selina, fasilitas rumah milik keluarga Maya, dan sejumlah pinjaman yang diperoleh dengan berbagai kebohongan.

Tetapi keputusan Maya berikutnya justru membuat Hendra terkejut.

Ia tidak mau langsung pindah ke rumah Pondok Indah.

“Kamu yakin?” tanya Hendra.

Maya mengangguk.

“Aku mau rumah itu dikosongkan dulu.”

“Kenapa?”

Maya menatap tangannya sendiri.

“Aku ingin masuk ke sana sebagai pemilik hidupku sendiri, bukan sebagai perempuan yang baru saja diusir dari kebohongan suaminya.”

Selama tiga bulan, Maya tinggal bersama Hendra.

Ia berhenti menerima cucian.

Namun ia juga menolak hanya menerima uang bulanan dari kakeknya.

Dengan bantuan modal kecil, Maya membuka usaha laundry profesional di Jakarta Utara.

Ia mempekerjakan dua perempuan yang sebelumnya sama-sama menerima cucian rumahan.

Usaha itu berkembang lebih cepat dari perkiraannya.

Suatu sore, Maya akhirnya kembali ke Pondok Indah.

Rumah itu sudah kosong.

Sebagian besar barang milik Rendy dan Selina telah dipindahkan.

Maya berjalan perlahan menuju ruang makan.

Lampu kristal masih menggantung di sana.

Namun kali ini tidak terasa mengintimidasi.

Arka berlari-lari kecil di halaman bersama Hendra.

Maya membuka telapak tangannya.

Di sana terdapat gelang milik ibunya.

Ia memasangnya kembali setelah satu tahun hilang.

Hendra menghampirinya.

“Rumahnya mau direnovasi?”

Maya melihat sekeliling.

“Sedikit.”

“Mau ganti apa?”

Maya tersenyum.

“Meja makan ini.”

Hendra tertawa kecil.

“Kenapa?”

Maya menyentuh permukaan marmer putih yang pernah menjadi latar belakang kebohongan terbesar dalam hidupnya.

“Karena setiap lihat meja ini aku ingat dua detik yang mengubah hidupku.”

Ia berhenti sejenak.

“Lagipula, aku lebih suka meja kayu.”

Enam bulan kemudian, meja marmer itu benar-benar hilang.

Sebagai gantinya berdiri meja kayu panjang yang hangat dan sederhana.

Pada malam pertama mereka makan bersama di sana, Arka duduk di kursinya sambil memegang segelas susu.

Hendra berada di seberangnya.

Maya duduk di antara mereka.

Arka mengangkat gelasnya.

“Mama, besok boleh minum susu lagi?”

Maya tersenyum.

“Boleh.”

“Besoknya lagi?”

“Boleh.”

“Terus besoknya lagi?”

Maya tertawa dan mengusap rambut anaknya.

“Boleh, Sayang.”

Hendra diam-diam memalingkan wajah.

Matanya berkaca-kaca.

Namun Maya tidak menangis.

Ia memandang rumah yang dulu hampir dirampas darinya dan akhirnya memahami sesuatu.

Selama bertahun-tahun, ia mengira kemiskinan adalah dinding lembap, kasur tipis, kipas tua, dan uang lima puluh ribu rupiah yang harus dibagi untuk makan sehari.

Ternyata ia salah.

Kemiskinan paling menyakitkan adalah ketika seseorang dibuat percaya bahwa dirinya tidak pantas mendapatkan lebih baik.

Rendy mengambil rumahnya.

Mengambil gelang ibunya.

Mengambil uangnya.

Bahkan hampir mengambil kepercayaan dirinya.

Namun ada satu hal yang gagal ia ambil.

Kemampuan Maya untuk memulai kembali.

Dan justru dari kontrakan kumuh itulah Maya akhirnya belajar bahwa rumah senilai lima belas miliar rupiah tidak pernah menjadi hadiah terbesar yang diberikan kakeknya.

Hadiah terbesar itu adalah satu pertanyaan sederhana yang diucapkan Hendra ketika berdiri di ambang pintu kontrakan pada siang yang panas.

“Maya, kenapa kamu dan anakmu tinggal di tempat seperti ini?”

Sebab terkadang, satu pertanyaan yang tepat mampu membuka pintu yang selama bertahun-tahun dikunci oleh kebohongan.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang