PULANG KE RUMAH SAKIT SAAT PUTRIKU KRITIS, PENYELAMATNYA TERNYATA PRIA YANG MENGHILANG 18 TAHUN LALU. SAAT DIA TERTIDUR, SEBUAH FOTO RAHASIA TERSEBAR BERSAMA ANCAMAN MAUT!

Hendra tidak menunggu satu detik pun.

“Danu, pindahkan Alya dari kamar itu. Sekarang.”

Ratna langsung menahan lengannya. “Tunggu. Kamu mau membawa anakku ke mana?”

“Ke tempat yang tidak diketahui orang yang mengirim foto ini.”

“Aku tidak akan membiarkan orang-orangmu membawa Alya begitu saja.”

Hendra menatap Ratna. Wajahnya tetap tenang, tetapi sorot matanya berubah keras.

“Ratna, seseorang baru saja memotret kamar anakmu dari gedung seberang dan mengirim ancaman. Kalau mereka benar-benar mengenalku, mereka tidak akan berhenti pada sebuah foto.”

Kalimat itu membuat Ratna kehilangan bantahan.

Danu segera menghubungi kepala keamanan rumah sakit. Dalam waktu kurang dari sepuluh menit, akses menuju lantai tempat Alya dirawat dibatasi. Dua petugas keamanan ditempatkan di depan lift, sementara kamera pengawas dari area parkir hingga pintu masuk diperiksa satu per satu.

Hendra meminta Alya dipindahkan ke ruang perawatan privat di bagian lain gedung dengan nama pasien yang tidak dicantumkan pada papan informasi.

Ratna mengikuti ranjang putrinya dengan wajah tegang.

Alya masih berada di bawah pengaruh obat. Gadis itu belum tahu bahwa dalam beberapa jam terakhir hidupnya telah berubah dua kali. Pertama ketika sebuah kecelakaan hampir merenggut nyawanya. Kedua ketika pria yang darahnya mengalir ke tubuhnya ternyata mungkin adalah ayah yang tidak pernah dikenalnya.

Setelah Alya dipindahkan, Hendra berdiri di depan jendela ruang tunggu.

Danu datang membawa tablet.

“Kami menemukan sumber foto pertama.”

“Siapa?”

“Belum tahu. Kamera rumah sakit menangkap seorang pria di parkiran sekitar pukul enam lewat dua belas. Topi hitam, masker, jaket abu-abu. Dia pergi dengan motor tanpa pelat depan.”

“Pelat belakang?”

“Palsu.”

Hendra tersenyum tipis tanpa humor.

“Berarti bukan wartawan.”

Danu mengangguk.

Ratna yang sejak tadi mendengar dari belakang akhirnya bertanya, “Siapa sebenarnya yang mengejarmu?”

Hendra tidak segera menjawab.

Selama delapan belas tahun, Ratna membayangkan banyak alasan mengapa Hendra meninggalkannya. Mungkin pria itu bosan. Mungkin ada perempuan lain. Mungkin hubungan mereka hanya permainan baginya.

Tidak pernah terpikir bahwa jawaban sebenarnya jauh lebih buruk.

“Delapan belas tahun lalu aku tidak meninggalkan Jakarta karena ingin meninggalkanmu,” kata Hendra akhirnya.

Ratna menatapnya.

“Apa maksudmu?”

“Ayahku punya utang besar kepada kelompok penyelundup di Tanjung Priok. Ketika dia meninggal, mereka menagihnya kepadaku.”

Ratna membeku.

Hendra melanjutkan dengan suara rendah.

“Aku mencoba keluar. Mereka mengancam semua orang yang dekat denganku. Termasuk kamu.”

“Jadi kamu menghilang?”

“Aku dikirim ke Surabaya malam itu. Aku tidak punya pilihan. Mereka mengambil ponselku, dokumenku, semuanya. Hampir setahun aku bekerja untuk melunasi utang yang bahkan bukan milikku.”

Ratna tertawa pendek, pahit.

“Dan setelah setahun?”

“Aku sudah berubah.”

“Itu bukan jawaban.”

“Aku malu.”

Untuk pertama kalinya Hendra menundukkan kepala.

“Aku sudah masuk terlalu jauh. Ketika akhirnya punya kesempatan kembali, aku tahu orang-orang itu masih mengawasiku. Aku berpikir kalau aku menjauh darimu, mereka tidak akan menganggapmu penting.”

Mata Ratna mulai basah.

“Kamu tahu apa yang paling menyakitkan?”

Hendra diam.

“Aku tidak membutuhkanmu menjadi pahlawan. Aku hanya membutuhkan satu kalimat. Satu pesan bahwa kamu masih hidup.”

Hendra tidak membela diri.

“Aku salah.”

“Delapan belas tahun, Hendra.”

“Aku tahu.”

“Tidak. Kamu tidak tahu.”

Ratna berbalik meninggalkannya.

Namun, sebelum mencapai kamar Alya, suara alarm pendek terdengar dari ponsel Danu.

“Pak.”

Danu memperlihatkan layar.

Pesan kedua masuk.

Kali ini tidak ada foto.

Hanya tulisan.

Serahkan arsip Pelabuhan 17 sebelum pukul delapan malam. Kalau tidak, gadis itu tidak akan pulang dari rumah sakit.

Ratna membaca kalimat tersebut.

“Arsip apa?”

Hendra memejamkan mata sesaat.

Danu tampak hendak menghentikannya, tetapi Hendra mengangkat tangan.

“Tidak ada lagi rahasia.”

Ia kemudian menjelaskan bahwa beberapa tahun terakhir dirinya diam-diam mengumpulkan bukti tentang jaringan lama yang pernah memaksanya bekerja. Catatan transaksi, perusahaan fiktif, rekening, nama pejabat, hingga jalur pengiriman ilegal disimpan dalam sebuah arsip terenkripsi.

Hendra berniat menyerahkannya kepada penyidik ketika bukti itu cukup kuat.

“Kenapa mereka baru bergerak sekarang?” tanya Ratna.

“Karena selama ini mereka tidak punya sesuatu yang bisa digunakan untuk menekanku.”

Tatapan mereka bersamaan jatuh ke pintu kamar Alya.

Ratna langsung memahami jawabannya.

Alya.

Menjelang siang, Alya akhirnya sadar.

Kelopak matanya bergerak perlahan. Ratna segera mendekat.

“Ma?”

“Iya, Sayang. Mama di sini.”

“Aku di mana?”

“Rumah sakit. Kamu kecelakaan.”

Alya mencoba mengingat. Wajahnya meringis ketika rasa sakit menjalar dari perutnya.

“Teman-temanku?”

“Mereka selamat. Lukanya tidak separah kamu.”

Alya mengembuskan napas lega.

Kemudian matanya bergerak ke pintu.

Hendra berdiri di sana.

Ia tidak berani masuk.

Alya mengernyit.

“Siapa?”

Ratna terdiam.

Inilah percakapan yang selama bertahun-tahun selalu ia bayangkan akan terjadi suatu hari nanti. Tetapi tidak pernah dalam keadaan seperti ini.

“Dia orang yang mendonorkan darah untukmu.”

Alya menatap Hendra beberapa detik.

“Terima kasih.”

Dua kata sederhana itu membuat dada Hendra terasa lebih sesak daripada ketika dokter memberitahunya bahwa ia terkena kanker bertahun-tahun lalu.

Hendra masuk perlahan.

“Sama-sama.”

Alya tersenyum lemah.

“Kebetulan banget golongan darah Om sama denganku.”

Ratna menunduk.

Hendra tidak mampu menjawab.

Alya memperhatikan wajah ibunya.

“Mama kenal dia?”

Keheningan berubah berat.

Ratna duduk di tepi ranjang.

“Alya, ada sesuatu yang selama ini Mama belum pernah ceritakan.”

Senyum Alya menghilang.

Tentang ayahnya, Ratna selalu mengatakan bahwa pria itu pergi sebelum mengetahui keberadaan Alya. Tidak pernah ada foto. Tidak pernah ada nama lengkap.

Alya berhenti bertanya sejak berusia dua belas tahun.

Sekarang pria itu berdiri hanya beberapa meter darinya.

“Apa dia…”

Ratna menggenggam tangannya.

“Kami belum tahu pasti. Kami akan melakukan tes DNA.”

Mata Alya langsung berpindah kepada Hendra.

“Om mungkin ayah saya?”

Hendra mengangguk perlahan.

“Mungkin.”

Alya tidak menangis.

Ia hanya memandangi Hendra lama sekali.

Kemudian bertanya, “Kalau benar, kenapa baru sekarang?”

Pertanyaan itu menghantam tepat pada bagian yang paling ingin dihindari Hendra.

“Aku tidak punya jawaban yang bisa membuat delapan belas tahun itu menjadi benar.”

Alya memalingkan wajah.

“Kalau begitu saya mau istirahat.”

Hendra memahami.

Ia keluar.

Menjelang pukul tiga sore, sampel DNA diambil. Karena situasinya mendesak dan rumah sakit memiliki laboratorium yang bekerja sama dengan fasilitas genetika swasta, hasil awal diperkirakan bisa keluar malam itu.

Namun ancaman tidak berhenti.

Pukul empat lewat tujuh belas menit, listrik di lantai perawatan tiba-tiba padam selama sebelas detik.

Generator darurat langsung menyala.

Danu segera memeriksa panel keamanan.

Seseorang telah mencoba masuk menggunakan kartu akses milik petugas kebersihan yang dilaporkan hilang.

Hendra tidak lagi ragu.

“Mereka sudah di dalam rumah sakit.”

Evakuasi dilakukan diam-diam.

Alya dipindahkan menggunakan lift servis menuju ruang pemulihan di gedung lama yang terhubung melalui koridor tertutup. Hanya dokter, Ratna, Hendra, dan dua anggota keamanan yang mengetahui lokasinya.

Namun ketika mereka tiba, Danu mendadak menerima telepon.

Wajahnya berubah.

“Apa?” tanya Hendra.

Danu menatapnya.

“Budi sadar.”

Budi, tangan kanan Hendra yang dioperasi malam sebelumnya, meminta bertemu.

Hendra meninggalkan Ratna dan Alya dalam penjagaan ketat lalu menuju ruang Budi.

Pria itu terlihat pucat.

Begitu Hendra masuk, Budi meminta perawat keluar.

“Pak, jangan serahkan arsip itu.”

“Aku tidak berencana menyerahkannya.”

“Bukan itu maksud saya.”

Budi menarik napas dengan susah payah.

“Orang yang membocorkan lokasi gadis itu bukan kelompok pelabuhan.”

Hendra terdiam.

“Lalu siapa?”

Budi menatap ke pintu.

“Orang kita sendiri.”

Hendra merasakan hawa dingin menjalar di tengkuknya.

“Siapa?”

Budi membuka mulut.

Namun sebelum sempat menjawab, monitor di samping ranjang berbunyi.

Tubuh Budi mendadak kejang.

Hendra berteriak memanggil dokter.

Tim medis berlari masuk.

Hendra didorong keluar.

Danu sudah menunggu di lorong.

“Ada apa?”

Hendra memandangnya.

Untuk pertama kalinya, kecurigaan muncul.

Danu sudah bersamanya hampir dua puluh tahun.

Danu mengetahui semua lokasi.

Danu mengetahui Ratna.

Danu mengetahui arsip itu.

Bahkan Danu adalah orang pertama yang menunjukkan foto ancaman.

“Di mana Alya?”

“Masih di gedung lama.”

“Siapa yang menjaganya?”

“Riko dan Arman.”

Hendra langsung berlari.

Ketika tiba di koridor penghubung, pintu menuju gedung lama terbuka.

Riko tergeletak di lantai dalam keadaan tidak sadar.

Arman menghilang.

Ratna berdiri di depan kamar Alya sambil memegang tiang infus seperti senjata.

“Hendra!”

Ia berlari mendekat.

“Alya?”

“Di dalam.”

Hendra membuka pintu.

Alya masih ada.

Namun di atas meja di samping ranjang tergeletak sebuah amplop putih yang sebelumnya tidak ada.

Danu mengambilnya.

Hendra segera menghentikan tangannya.

“Jangan.”

Ia mengenakan sarung tangan medis lalu membuka amplop itu sendiri.

Di dalamnya terdapat foto lama.

Seorang Hendra berusia sekitar dua puluh lima tahun berdiri bersama Ratna di sebuah taman.

Ratna langsung mengenalinya.

Foto itu diambil beberapa minggu sebelum Hendra menghilang.

Di belakang foto tertulis satu kalimat.

Kau seharusnya memastikan dia tidak pernah ditemukan.

Hendra menatap Danu.

Wajah kepala pengawal itu perlahan kehilangan warna.

Ratna menyadarinya.

“Kamu tahu foto itu?”

Danu mundur satu langkah.

Hendra berkata pelan, “Delapan belas tahun lalu, hanya ada satu orang yang tahu tempat aku menyimpan foto ini.”

Danu tidak menjawab.

“Di apartemenku.”

Hendra maju.

“Kamu.”

Danu menutup mata.

Ketika membukanya kembali, wajahnya tidak lagi menunjukkan ketegangan seorang pengawal.

Melainkan kelelahan seseorang yang telah menyimpan rahasia terlalu lama.

“Saya diperintah ayah Anda.”

Hendra membeku.

“Apa?”

“Malam sebelum Anda dibawa ke Surabaya, ayah Anda tahu Ratna hamil.”

Ratna seperti kehilangan keseimbangan.

“Apa?”

“Dia menyuruh saya memastikan kalian tidak pernah bertemu lagi.”

Hendra mencengkeram kerah Danu.

“Kenapa?”

“Karena orang-orang pelabuhan mengancam keluarga Anda. Ayah Anda membuat kesepakatan. Mereka akan membiarkan Ratna hidup selama identitasnya dihapus dari kehidupan Anda.”

“Dan kamu tahu dia hamil?”

Danu mengangguk.

Hendra memukul dinding di samping kepalanya.

“Delapan belas tahun kamu tahu aku punya anak?”

“Saya pikir itu satu-satunya cara menjaga mereka tetap hidup.”

“Lalu siapa yang mengirim ancaman sekarang?”

Danu menatap foto tersebut.

“Saya tidak tahu.”

Tiba-tiba ponsel Hendra berdering.

Nomor tidak dikenal.

Ia mengangkatnya.

Suara laki-laki terdengar.

“Delapan belas tahun lalu kami membiarkan perempuan itu hidup karena ada kesepakatan dengan ayahmu. Sekarang kesepakatan itu sudah tidak berlaku.”

Hendra menyalakan pengeras suara.

“Kalau kalian menginginkan arsip itu, datang kepadaku.”

Pria di seberang tertawa.

“Kami tidak membutuhkan arsipnya lagi.”

Hendra mengernyit.

“Lalu?”

“Kami hanya perlu memastikan polisi mendapatkannya.”

Telepon terputus.

Semua orang terdiam.

Hendra langsung memahami.

Ancaman terhadap Alya bukan untuk memaksa dirinya menyerahkan arsip.

Mereka ingin membuatnya panik.

Membuatnya membuka tempat penyimpanan.

“Danu.”

Danu juga menyadarinya.

“Server.”

Mereka terlambat.

Ketika Hendra memeriksa sistem keamanan melalui ponsel, arsip terenkripsi telah diakses dari terminal kantornya tujuh menit sebelumnya.

Tetapi sesuatu yang tidak diperkirakan siapa pun terjadi.

Alih-alih menghapus data, orang tersebut mengirim seluruh arsip ke Komisi Pemberantasan Korupsi, kepolisian, dan tiga redaksi media nasional.

Semua bukti yang selama bertahun-tahun disimpan Hendra kini tersebar.

Nama-nama besar mulai muncul.

Pejabat.

Pengusaha.

Perusahaan logistik.

Dan satu nama yang membuat Hendra terdiam.

Budi Hartono.

Tangan kanannya sendiri.

Budi bukan korban perselisihan internal.

Ia adalah orang yang mencoba mencuri arsip malam sebelumnya.

Ketika gagal, kelompoknya menggunakan Alya untuk memancing Hendra membuka akses cadangan.

Namun rencana mereka berbalik.

Sistem yang dibuat Hendra memiliki mekanisme otomatis. Jika seseorang mencoba menyalin arsip menggunakan kode darurat, seluruh data justru dikirim kepada aparat.

Pukul sembilan malam, berita tentang penggerebekan besar-besaran di beberapa gudang kawasan pelabuhan mulai muncul di televisi.

Budi ditangkap langsung dari kamar rumah sakit setelah kondisinya stabil.

Beberapa orang lainnya diamankan.

Danu menyerahkan diri untuk memberikan kesaksian tentang peristiwa delapan belas tahun lalu.

Hendra tidak menghentikannya.

Di tengah kekacauan itu, seorang dokter datang membawa amplop.

“Hasil tes DNA.”

Hendra tidak mengambilnya.

Sesuai janjinya, dokter menyerahkan amplop itu kepada Ratna.

Ratna membukanya.

Tangannya gemetar.

Ia membaca hasil tersebut dua kali.

Kemudian berjalan masuk ke kamar Alya.

Hendra tetap berdiri di luar.

Beberapa menit kemudian Ratna keluar.

“Dia ingin bicara denganmu.”

Hendra masuk.

Alya sedang duduk bersandar di ranjang.

Amplop hasil DNA berada di pangkuannya.

“99,99 persen,” katanya.

Hendra tidak mampu berkata-kata.

Alya menatapnya.

“Jadi benar.”

“Iya.”

“Aku anak Anda.”

Hendra mengangguk.

Air matanya akhirnya jatuh.

“Alya, aku minta maaf.”

Gadis itu terdiam.

“Aku tidak bisa mengembalikan waktu. Aku juga tidak punya hak meminta kamu menerima aku.”

Alya memandang pria di depannya.

Pria yang selama tujuh belas tahun hanya hadir sebagai ruang kosong dalam hidupnya.

“Aku belum bisa memanggil Anda Ayah.”

Hendra tersenyum kecil di tengah air matanya.

“Aku mengerti.”

“Mungkin aku akan marah.”

“Kamu berhak.”

“Mungkin aku akan bertanya banyak hal.”

“Aku akan jawab semuanya.”

“Dan mungkin aku butuh waktu lama.”

“Aku punya waktu.”

Alya menatapnya beberapa detik.

Kemudian menggeser kursi di samping ranjang dengan ujung kakinya.

“Tapi kalau mau, Anda boleh duduk.”

Hendra menarik kursi itu.

Untuk pertama kalinya dalam delapan belas tahun, ia duduk di samping putrinya.

Tidak sebagai pengusaha.

Tidak sebagai pria yang ditakuti banyak orang.

Tidak sebagai seseorang yang memiliki uang, gedung, restoran, atau kekuasaan.

Hanya sebagai seorang ayah yang terlambat pulang.

Ratna berdiri di balik pintu sambil menangis tanpa suara.

Beberapa bulan kemudian, kasus jaringan pelabuhan berkembang menjadi salah satu penyelidikan terbesar tahun itu. Hendra menyerahkan seluruh bukti yang dimilikinya dan bersaksi tentang keterlibatannya di masa lalu. Beberapa bisnisnya ikut diperiksa, dan ia memilih bekerja sama sepenuhnya dengan penyidik.

Ia kehilangan kontrak.

Ia kehilangan beberapa perusahaan.

Namanya muncul berkali-kali di media.

Namun untuk pertama kalinya, Hendra tidak mencoba mempertahankan semuanya.

Suatu sore, setelah kondisi Alya benar-benar pulih, mereka bertiga makan di sebuah warung sederhana di Jakarta Selatan.

Alya sedang bercerita tentang rencananya kuliah tahun depan ketika Hendra tiba-tiba bertanya, “Kamu mau kuliah apa?”

“Psikologi.”

“Kenapa?”

Alya tersenyum.

“Karena ternyata orang dewasa punya banyak rahasia dan semuanya bikin masalah.”

Ratna tertawa.

Hendra ikut tertawa.

Kemudian Alya memandangnya.

“Yah, sambalnya.”

Tangan Hendra berhenti di udara.

Ratna juga terdiam.

Alya baru menyadari apa yang baru saja ia ucapkan.

Wajahnya memerah.

Hendra tidak mengatakan apa-apa.

Ia hanya mengambil mangkuk sambal dan menyerahkannya.

Namun matanya sudah dipenuhi air.

Delapan belas tahun ia mengejar uang karena mengira hidup telah mengambil kesempatan darinya untuk menjadi seorang ayah.

Pada akhirnya, takdir mempertemukannya dengan putrinya bukan melalui kekayaan, kekuasaan, atau nama besar yang ia bangun.

Melainkan melalui sekantong darah yang ia berikan kepada seorang gadis asing pada malam hujan.

Gadis yang ternyata selama ini membawa darahnya sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang