Aku menatap lembaran-lembaran kertas di dalam map itu dengan tangan yang gemetar. Setiap kuitansi mencantumkan nama universitasku, jumlah nominal yang tepat hingga digit terakhir, dan cap stempel resmi dari bagian keuangan. Namun, yang membuat jantungku seakan berhenti berdetak adalah nama yang tertera pada kolom pembayar.
Bukan nama ayahku.

Di sana, tertulis dengan huruf cetak yang rapi: Lourdes Santos.
“Setiap beberapa bulan, ayahmu datang ke sini,” kata Perawat Rosa, suaranya terdengar seperti bisikan di tengah keheningan ruangan. “Bukan untuk menjenguk. Dia datang untuk mengambil uang pensiun nenekmu dan uang hasil penjualan tanah kecil milik mendiang ibumu di desa. Lola Luring menandatangani semuanya dengan satu syarat: uang itu harus langsung disetorkan untuk biaya kuliahmu.”
Aku menoleh ke arah nenekku. Wanita tua itu menunduk, jari-jarinya yang kurus gemetar saat mengelus rambut boneka rajutnya.
“Nenek… jadi selama ini Ayah tidak pernah membayar sepeser pun?” suaraku tercekat, nyaris tak keluar.
Lola Luring mengangkat wajahnya yang dipenuhi guratan usia. Mata tuanya yang kabur menatapku dengan kehangatan yang begitu akrab. “Ayahmu mengancam Nenek, Marikit. Dia bilang, jika Nenek menolak atau jika Nenek menceritakan hal ini kepadamu, dia akan menghentikan kuliahmu dan mengusirmu dari rumah. Nenek sudah tua, tidak punya apa-apa lagi. Hanya pendidikanmu yang bisa menyelamatkanmu dari mereka.”
Air mataku tumpah tanpa bisa dibendung lagi. Rasa sakit, amarah, dan pengkhianatan bercampur menjadi satu, membakar dadaku. Ayahku dan Patricia… mereka menggunakan uang nenekku, membuangnya ke panti jompo ini, lalu berpura-pura menjadi pahlawan yang membiayai masa depanku. Setiap pesan singkat “Jangan mengecewakanku” yang dikirimkan ayahku selama ini bukanlah bentuk ketegasan seorang orang tua yang berkorban—itu adalah sebuah kebohongan yang keji untuk menjaga agar aku tetap patuh dan merasa berutang budi.
“Lalu, boneka ini…?” tanyaku sambil menyentuh rajutan merah muda yang kusam di pangkuannya.
Perawat Rosa tersenyum sedih. “Itu buatan Lola Luring sendiri. Dia merajutnya dari sisa-sisa benang yang kami berikan. Dia selalu bilang, boneka ini adalah kamu saat masih kecil. Setiap kali ingatan dunianya mulai kabur karena usia, dia akan memeluk boneka ini dan membisikkan namamu agar dia tidak pernah lupa.”
Aku bersumpah demi seragam putih yang kukenakan hari itu: waktu empat tahun yang hilang tidak akan menjadi sia-sia.
Sore itu, setelah tugas relawanku selesai, aku tidak pulang ke rumah ayahku. Aku pergi ke apotek tempatku bekerja paruh waktu, meminta pemiliknya untuk mencairkan gajiku lebih awal, dan menyewa sebuah kamar kos kecil yang murah di dekat rumah sakit tempatku magang. Aku mengemas beberapa potong pakaian yang tersisa di rumah ayahku saat dia dan Patricia sedang pergi berbelanja. Aku tidak meninggalkan surat makian. Mereka tidak pantas mendapatkan air mataku lagi.
Tiga bulan berikutnya adalah masa-masa terberat dalam hidupku. Aku bekerja shift malam di apotek, magang di rumah sakit pada siang hari, dan setiap hari Sabtu, aku menempuh perjalanan dua jam dengan angkot hanya untuk menyuapi Lola Luring, menyisir rambut putihnya, dan mendengarkannya bercerita tentang masa kecil ibuku.
Setiap kali aku datang, kesehatannya tampak semakin menurun, namun matanya selalu berbinar jernih setiap kali melihatku. “Marikit-ku sudah datang,” selalu itu yang dikatakannya.
Hingga hari kelulusan itu tiba.
Aku berdiri di aula universitas yang megah, mengenakan toga hitam dengan pin keperawatan tertanam di dadaku. Di barisan kursi undangan, kursi yang seharusnya ditempati oleh ayahku kosong. Aku sengaja tidak mengundangnya. Sebagai gantinya, di sudut barisan paling depan, duduk seorang wanita tua di atas kursi roda dengan kebaya putih bersih, didampingi oleh Perawat Rosa.
Ketika namaku dipanggil: “Maria Lourdes Santos, Cum Laude,” seluruh ruangan bertepuk tangan. Namun pandanganku hanya tertuju pada satu orang.
Lola Luring menangis bangga. Tangan tuanya yang gemetar bertepuk tangan dengan sisa-sisa tenaga yang dia miliki.
Setelah upacara selesai, aku berlari ke arahnya, berlutut di lantai dengan jubah togaku, dan meletakkan ijazah kelulusanku di pangkuannya.
“Nenek, aku berhasil,” bisikku sambil memeluknya erat. “Seorang wanita yang berpendidikan tidak perlu menundukkan kepala kepada siapa pun. Nenek yang mengajariku itu.”
Nenek mengelus pipiku dengan tangannya yang kasar namun terasa begitu lembut. “Anakku yang cantik… Marikit-ku. Nenek sangat bangga.”
Dua minggu setelah kelulusan, Lola Luring pergi dalam tidurnya dengan tenang. Dia pergi sambil memeluk boneka rajut merah muda itu, dengan senyuman yang damai di wajahnya. Dia bertahan cukup lama hanya untuk melihatku mandiri, memastikan bahwa misinya melindungi putri dari anaknya telah selesai.
Ayahku sempat datang ke pemakaman, mencoba menunjukkan wajah sedihnya di depan kerabat yang lain. Dia berjalan mendekatiku, berpura-pura ingin merangkul pundakku. “Maria, sekarang setelah nenekmu tiada, kembalilah ke rumah. Ayah akan membantumu mencari pekerjaan di rumah sakit besar.”
Aku melangkah mundur, menghindari sentuhannya. Aku menatap lurus ke dalam matanya yang dingin, mata yang kini tidak lagi memiliki kuasa atas diriku.
“Aku sudah mendapatkan pekerjaan di rumah sakit provinsi, Pa. Dan aku sudah membeli sebidang tanah kecil di desa tempat ibu dulu dilahirkan,” kataku dengan suara yang tenang namun tajam. “Uang pensiun Lola dan warisan Ibu yang Papa ambil selama empat tahun ini… anggap saja itu sebagai biaya sewa atas kamar yang kutempati di rumahmu. Kita sudah impas. Jangan pernah mencariku lagi.”
Wajah ayahku memucat, sementara Patricia yang berdiri di belakangnya hanya bisa terbelalak kaget. Mereka menyadari bahwa rahasia mereka telah terbongkar, dan bahwa gadis kecil yang bisa mereka intimidasi kini telah tiada. Aku berbalik dan berjalan pergi tanpa menoleh ke belakang.
Kini, aku berdiri di bangsal rumah sakit tempatku bekerja sebagai perawat penuh waktu. Setiap kali aku merawat pasien lansia yang kesepian, aku selalu teringat pada Lola Luring. Di saku seragam putihku, selalu ada sekeping koin keberuntungan dan seutas benang rajut merah muda yang kusimpan dekat di hatiku.
Nenekku mungkin telah tiada, namun kenyataan yang sesungguhnya kini telah terungkap: kasih sayangnya tidak pernah pudar oleh waktu maupun jarak, dan karena kasih sayang itulah, aku kini bisa berdiri tegak menghadapi dunia.
