Pagi hari tiba dengan ketukan keras di pintu kamar.
“Maya! Bangun! Ini sudah jam enam lewat! Di mana sarapan untuk Dingdong? Kamu bilang kamu mau ke pasar!” Suara melengking Aling Elvia menembus keheningan, disertai gedoran yang tidak sabaran.
Aku membuka mata. Kepalaku terasa dingin, sebuah sensasi asing yang langsung mengingatkanku pada apa yang terjadi semalam. Aku meraba kulit kepalaku yang kini benar-benar licin. Tidak ada lagi rasa sedih. Yang tersisa hanyalah kekosongan yang dingin dan kalkulatif.

Aku membuka pintu. Aling Elvia langsung mundur selangkah, sesaat tampak terkejut melihat kepala botak plontosku di bawah cahaya lampu koridor. Namun, keangkuhannya dengan cepat kembali.
“Kenapa kamu masih memakai piyama? Cepat pergi ke pasar. Dingdong harus berangkat kerja jam delapan,” perintahnya sambil bersedekap.
“Saya tidak punya uang tunai, Ibu,” kataku dengan suara yang sangat tenang, bahkan terlalu tenang. “Semua uang saya ada di tabungan, dan pagi ini entah kenapa aplikasi bank saya tidak bisa diakses. Bukankah Dingdong punya uang? Pakai saja uangnya dulu.”
Aling Elvia mendengus remeh. “Dasar tidak berguna. Begitu saja harus mengandalkan suami.” Dia berjalan ke kamar Dingdong dan membangunkannya.
Beberapa menit kemudian, Dingdong keluar dengan wajah mengantuk, meraba-raba dompetnya. Dia melemparkan selembar uang seratus ribu rupiah ke atas meja. “Pakai ini dulu. Dan cepatlah, Maya. Aku ada rapat pagi ini.”
Aku mengambil uang itu tanpa sepatah kata pun. Aku tidak pergi ke pasar. Aku hanya berjalan ke kedai kopi di ujung jalan, memesan secangkir americano hangat, dan duduk di sana menikmati waktu yang selama tiga tahun ini tidak pernah kupunya. Aku membiarkan waktu berlalu. Jam tujuh, jam delapan, hingga jam sembilan pagi.
Ledakan pertama pastilah terjadi di rumah.
Saat aku kembali ke rumah pada jam sepuluh pagi, suasana di dalam rumah sudah kacau balau. Dingdong masih ada di sana, belum berangkat kerja. Wajahnya merah padam, memegang ponselnya dengan tangan gemetar. Di sampingnya, Aling Elvia sedang marah-marah pada layanan pelanggan sebuah bank melalui telepon.
Begitu melihatku masuk, Dingdong langsung menerjang ke arahku. “Maya! Apa-apaan ini?! Kenapa kartu kreditku ditolak saat aku mau bayar bensin tadi? Dan kenapa ada notifikasi bahwa kartu tambahan atas namaku dan Ibu sudah dibatalkan?!”
“Oh, itu?” Aku meletakkan kantong plastik berisi beberapa butir telur dan roti murah di atas meja. “Kalian bilang aku harus mengundurkan diri dan menjadi ibu rumah tangga seutuhnya, bukan? Karena aku tidak akan bekerja lagi, aku harus menutup semua pengeluaran yang tidak perlu. Aku tidak bisa lagi membayar kartu kredit kalian.”
“Tapi tagihan listrik dan internet rumah ini juga putus otomatis! Ibu baru saja mendapat SMS dari bank!” jerit Aling Elvia, matanya hampir melompat keluar. “Cicilan mobil Dingdong juga gagal didebit!”
“Tentu saja,” jawabku sambil tersenyum manis, senyuman yang membuat mereka berdua mendadak terdiam. “Gajiku sebagai Regional Sales Director-lah yang membayar semua itu selama ini. Mulai hari ini, aku adalah istri yang penurut. Jadi, Dingdong, sebagai ‘tiang rumah tangga’, sekarang giliranmu untuk membayar semuanya. Cicilan rumah ini dua puluh juta per bulan, cicilan mobilmu delapan juta, belum lagi tagihan listrik kita yang selalu besar karena Ibu suka menyalakan AC sepanjang hari. Ah, dan obat-obatan Ibu bulan ini belum dibeli, kan?”
Dingdong pucat pasi. Gaji bulanannya sebagai staf administrasi biasa bahkan tidak cukup untuk membayar setengah dari cicilan rumah ini.
“Kamu… kamu tidak bisa melakukan ini! Kamu sengaja ingin menghancurkan kami!” teriak Dingdong, suaranya mulai terdengar panik dan putus asa.
“Menghancurkanmu?” Aku melangkah mendekatinya, menatap lurus ke matanya. Dengan kepala botak ini, aku tidak lagi terlihat seperti Maya yang bisa mereka tindas. Aku terlihat seperti ancaman nyata. “Kamu yang bilang semalam, Dingdong. Jangan membuat drama. Lebih baik pahami saja pesannya.”
Aling Elvia mencoba ikut campur, suaranya gemetar antara marah dan takut. “Kamu… kamu menantu kurang ajar! Aku bisa menyuruh Dingdong menceraikanmu!”
“Silakan,” tantangku, menatap wanita tua itu tanpa rasa takut sedikit pun. “Rumah ini dibeli atas namaku. Mobil yang dipakai Dingdong juga atas namaku. Jika kalian ingin bercerai, silakan angkat kaki dari rumah ini sekarang juga. Bawa baju-baju sutra anakmu dan daster bunga-bungamu itu. Kita lihat berapa lama kalian bisa bertahan di luar sana tanpa uangku.”
Seketika itu juga, keheningan yang mencekam melanda ruang tamu.
Dingdong menatap ibunya, lalu menatapku. Otoritas palsu yang mereka banggakan semalam runtuh total di depan kenyataan finansial yang menghantam mereka. Pria yang semalam begitu angkuh mengatakan “rambut akan tumbuh lagi”, kini berlutut di depanku, mencoba meraih tanganku.
“Maya… tolong, jangan seperti ini. Ibu cuma khilaf semalam. Aku… aku akan bicara pada Ibu. Tolong aktifkan lagi kartunya,” pintanya dengan suara parau, hampir menangis.
Aku menarik tanganku menjauh dari genggamannya. Aku melihat ke arah cermin di ruang tamu, memandangi pantulan diriku yang baru. Seseorang pernah berkata bahwa mahkota seorang wanita adalah rambutnya. Tapi hari ini, aku menyadari bahwa mahkotaku yang sekelumit pun tidak bisa mereka sentuh adalah harga diriku, kecerdasanku, dan kemandirianku.
“Masak sayur nilaga, kan?” kataku dingin, mengabaikan ratapannya. “Aku akan ke dapur sekarang. Tapi ingat satu hal… mulai hari ini, akulah yang memegang kendali di rumah ini. Dan jika ada satu saja dari kalian yang berani menyentuhku lagi, kalian akan tahu bagaimana rasanya hidup di jalanan.”
Aku berjalan ke dapur dengan langkah tegap. Game ini baru saja dimulai, dan kali ini, akulah yang menulis anggarannya.
