MALAM SEBELUM AKAD NIKAH, AKU MENEMUKAN BUKU HARIAN IBUKU. TERNYATA DIA DAN CALON SUAMIKU MENYEMBUNYIKAN PENGKHIANATAN BESAR. AKU TETAP NAIK KE PELAMINAN SAMBIL MEMBAWA BUKTI LENGKAP.

Ketika Nabila akhirnya berdiri hanya beberapa langkah dari meja akad, jantungnya berdegup begitu keras hingga ia bisa merasakannya di balik kain kebaya.

Rendy mengulurkan tangan.

Nabila tidak langsung menyambutnya.

Ia justru menatap wajah laki-laki yang selama hampir tiga tahun terakhir ia percaya sebagai tempat pulang.

Laki-laki yang selalu mengingatkan jadwal makannya ketika ia lembur.

Laki-laki yang pernah menunggu berjam-jam di rumah sakit saat Nabila menjalani operasi usus buntu.

Laki-laki yang dua bulan lalu berlutut di hadapan Ratna dan berjanji akan menjaga Nabila seumur hidup.

Semua kenangan itu kini terasa seperti potongan adegan dari film yang pemeran utamanya ternyata tidak pernah membaca naskah sebenarnya.

“Nabila?”

Suara Rendy pelan.

Nabila tersenyum.

“Kenapa?”

“Kamu kelihatan tegang.”

“Aku cuma sedang memastikan aku tidak salah memilih keputusan.”

Rendy terkekeh kecil.

“Wajar. Semua pengantin pasti gugup.”

Ratna yang berdiri di belakang mereka ikut tersenyum.

“Sudah, jangan banyak bicara. Penghulunya menunggu.”

Nabila mengangguk.

Ia duduk di kursi yang telah disediakan.

Prosesi dimulai.

MC menyampaikan pembukaan. Penghulu membacakan nasihat pernikahan tentang kejujuran, tanggung jawab, dan menjaga amanah dalam rumah tangga.

Setiap kata terdengar seperti ironi yang menyakitkan.

Ketika penghulu berkata bahwa pernikahan dibangun di atas kepercayaan, Nabila melihat jari Rendy bergerak gelisah di atas meja.

Mungkin hanya kebetulan.

Atau mungkin orang yang menyimpan kebohongan memang selalu merasa terancam oleh kata kebenaran.

Beberapa menit kemudian, penghulu mempersilakan wali Nabila bersiap.

Ayah Nabila telah meninggal tujuh tahun lalu karena serangan jantung. Karena itu, wali nikah diwakili oleh paman dari pihak ayah, Pak Harun.

Pak Harun duduk di hadapan Rendy.

Ruangan mendadak hening.

Kamera diarahkan ke meja akad.

Rendy menarik napas panjang.

Namun sebelum ijab kabul dimulai, Nabila berdiri.

“Maaf.”

Semua orang menoleh.

Penghulu mengangkat wajah.

Rendy tampak bingung.

“Nabila, kenapa?”

Nabila memegang mikrofon yang sebelumnya diletakkan di meja.

“Sebelum akad dimulai, saya ingin mengatakan sesuatu.”

Ratna langsung mendekat.

“Sayang, nanti saja. Setelah akad.”

Nabila menatap ibunya.

“Justru harus sekarang, Bu.”

Nada suaranya tidak tinggi.

Tidak marah.

Tetapi ketenangan itu justru membuat Ratna terlihat semakin gelisah.

Sejumlah tamu mulai saling berbisik.

Perencana pernikahan yang berdiri di sisi ruangan memberikan anggukan kecil kepada Nabila.

Itulah tanda bahwa semuanya sudah siap.

Nabila menarik napas.

“Saya meminta maaf kepada seluruh keluarga dan tamu yang datang pagi ini. Saya tahu banyak dari kalian sudah menempuh perjalanan jauh. Beberapa bahkan datang dari Jakarta, Malang, dan Yogyakarta.”

Rendy berdiri.

“Nabila, sebenarnya ada apa?”

Nabila menatapnya.

“Semalam aku menemukan buku harian Ibu.”

Wajah Ratna berubah.

Senyumnya hilang seketika.

Untuk pertama kalinya pagi itu, wajah perempuan tersebut benar-benar memperlihatkan ketakutan.

“Buku apa?” tanyanya cepat.

Nabila mengambil beberapa lembar kertas dari sela bunga tangannya.

“Buku agenda abu-abu yang Ibu simpan di mobil.”

Ratna tampak hendak maju, tetapi Pak Harun berdiri menghalangi.

“Biarkan Nabila bicara.”

Ratna menatap kakak iparnya.

“Mas Harun, ini salah paham.”

“Kalau salah paham, biarkan dia menjelaskan.”

Nabila membuka lembar pertama.

“Di buku ini ada catatan selama enam bulan terakhir.”

Suasana ballroom semakin sunyi.

“Bukan catatan tentang persiapan pernikahan saja. Ada juga catatan tentang hubungan antara Ibu saya dan calon suami saya.”

Beberapa tamu menarik napas terkejut.

Seseorang di barisan belakang tanpa sengaja menjatuhkan gelas.

Rendy langsung berdiri.

“Woi, tunggu dulu. Jangan bikin kesimpulan dari tulisan tanpa konteks.”

“Konteks yang mana?”

Nabila membalik halaman.

“Yang tanggal 20 Maret? Saat kamu bilang kepadanya bahwa aku perempuan yang tepat untuk dinikahi, tetapi dia perempuan yang membuatmu merasa dihargai?”

Wajah Rendy memucat.

Nabila membaca catatan berikutnya.

“Atau tanggal 2 April, ketika aku dinas ke Jakarta dan kalian bertemu di rumah sampai lewat tengah malam?”

Ratna mulai menangis.

“Nabila, dengarkan Ibu.”

“Belum selesai.”

Suara Nabila masih tenang.

Ia memberikan mikrofon kepada perencana pernikahan.

Beberapa detik kemudian, layar besar yang sebelumnya menampilkan foto prewedding mereka berubah.

Muncul hasil pindai halaman buku harian Ratna.

Tulisan tangan terlihat jelas.

Tanggal.

Nama.

Catatan pertemuan.

Semua terpampang di depan 350 tamu.

Suara gaduh langsung memenuhi ruangan.

Rendy berdiri dengan wajah merah.

“Matikan itu!”

Tidak ada yang bergerak.

“MATIKAN!”

Ia mencoba mendekati operator, tetapi dua orang sepupunya sendiri menahan.

“Ren, duduk dulu.”

“Ini urusan pribadi!”

Nabila tersenyum pahit.

“Memang. Seharusnya tetap pribadi kalau pengkhianatannya juga dilakukan kepada orang lain.”

Ratna mendekati Nabila.

Air matanya mulai mengalir.

“Ibu salah. Ibu akui. Tapi tidak seperti yang kamu pikirkan.”

Nabila menatapnya lama.

“Enam bulan, Bu.”

Ratna terdiam.

“Enam bulan.”

Nabila menelan ludah.

“Aku tinggal serumah dengan Ibu. Aku cerita semuanya. Kalau Rendy marah, aku cerita ke Ibu. Kalau kami bertengkar, aku tanya pendapat Ibu. Bahkan waktu aku ragu menikah, Ibu yang paling keras meyakinkanku bahwa Rendy laki-laki baik.”

Ratna menutup wajah.

“Itu kesalahan Ibu.”

“Tidak.”

Suara Nabila mulai bergetar untuk pertama kalinya.

“Kesalahan itu terjadi sekali. Ini pilihan yang Ibu lakukan berkali-kali.”

Ratna tak bisa menjawab.

Rendy kemudian menatap Nabila.

“Nabila, aku bisa jelaskan.”

“Silakan.”

Rendy tampak tidak menyangka akan diberi kesempatan.

Ia menarik napas.

“Aku memang terlalu dekat sama Ibu kamu. Aku salah. Tapi tidak pernah ada niat menghancurkan kamu.”

Beberapa tamu langsung mencibir.

Nabila hanya bertanya satu hal.

“Kamu cinta Ibu?”

Rendy membeku.

Ratna mengangkat wajah.

“Jawab.”

Rendy mengusap wajahnya.

“Aku tidak tahu.”

Jawaban itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada pengakuan.

Nabila mengangguk perlahan.

“Bagus.”

Ia mengambil satu lembar lain dari amplop kecil.

“Karena sekarang kita masuk ke rahasia kedua.”

Ratna seketika menatap Nabila dengan ekspresi ngeri.

“Nabila.”

Putrinya tidak menghiraukan.

“Di halaman terakhir buku harian Ibu, ada catatan tentang rencana setelah kami menikah.”

Rendy mengernyit.

“Rencana apa?”

Nabila membaca.

“Setelah mereka menikah, aku harus memastikan sertifikat rumah almarhum masuk atas nama bersama. Rendy sudah setuju meminta Nabila menjadikan rumah itu jaminan pinjaman usaha. Kalau semua berjalan lancar, sebagian dana bisa dipindahkan ke rekening investasi tanpa sepengetahuannya.”

Rendy berbalik menatap Ratna.

“Apa?”

Ratna tidak menjawab.

Nabila melanjutkan.

“Ada catatan lain.”

Tangannya sedikit gemetar.

“Rendy harus tetap merasa bahwa keputusan itu berasal darinya. Jangan sampai dia tahu tujuan sebenarnya adalah menutup utangku.”

Rendy melangkah mendekati Ratna.

“Utang apa?”

Ratna mundur.

“Rendy, nanti kita bicarakan.”

“UTANG APA?”

Nabila mengeluarkan selembar fotokopi terakhir.

“Satu koma delapan miliar rupiah.”

Ballroom kembali gaduh.

Ratna memejamkan mata.

Nabila melanjutkan.

“Ternyata Ibu punya utang dari investasi bodong yang Ibu jalankan bersama teman lama. Sebagian uang itu berasal dari beberapa orang yang ada di ruangan ini.”

Seorang perempuan berusia sekitar lima puluhan berdiri dari kursinya.

“Ratna!”

Ratna menoleh.

Perempuan itu adalah Tante Mira, sepupu mendiang ayah Nabila.

“Kamu bilang uang 300 juta saya dimasukkan ke proyek apartemen!”

Ratna tidak mampu menjawab.

Seorang laki-laki lain ikut berdiri.

“Uang saya juga?”

Suasana berubah total.

Pengkhianatan pribadi mendadak berkembang menjadi persoalan yang jauh lebih besar.

Rendy menatap Ratna seolah baru melihat perempuan itu untuk pertama kalinya.

“Kamu bilang kamu punya investasi properti sendiri.”

Ratna menangis.

“Aku memang punya rencana memperbaiki semuanya.”

“Dengan rumah Nabila?”

Ratna menoleh kepada putrinya.

“Nabila, Ibu terdesak.”

Nabila tertawa kecil.

Bukan karena lucu.

Karena akhirnya tidak ada lagi rasa terkejut yang tersisa.

“Jadi karena Ibu terdesak, aku harus menikah dengan laki-laki yang tidur dengan Ibu, lalu rumah peninggalan Ayah harus dijadikan jaminan untuk menutup utang Ibu?”

Ratna menggeleng cepat.

“Tidak seperti itu.”

“Lalu seperti apa?”

Ratna akhirnya terdiam.

Tidak ada jawaban yang bisa membuat semua itu terdengar lebih baik.

Rendy tiba-tiba berkata, “Aku tidak tahu soal utang ini.”

Nabila memandangnya.

“Aku percaya.”

Rendy seperti mendapatkan harapan.

“Nabila, berarti kamu tahu aku juga dimanfaatkan.”

“Aku tahu.”

“Kalau begitu kita masih bisa bicara.”

Nabila menatapnya beberapa detik.

“Luar biasa.”

Rendy mengernyit.

“Kamu masih berpikir setelah semua ini kita bisa menikah karena ternyata kamu bukan orang paling jahat di ruangan?”

Beberapa orang menundukkan kepala.

Rendy kehabisan kata.

Nabila mengambil napas panjang.

“Sebenarnya semalam aku hampir membatalkan semuanya.”

Ia menatap seluruh tamu.

“Tapi kalau aku membatalkan lewat pesan, dua orang ini mungkin akan membuat cerita mereka sendiri.”

Tatapannya kembali kepada Rendy dan Ratna.

“Mungkin aku disebut stres menjelang pernikahan. Mungkin dibilang takut komitmen. Mungkin bukti ini hilang. Mungkin orang-orang yang uangnya dipakai Ibu tidak pernah tahu.”

Ratna menangis semakin keras.

“Kamu sengaja mempermalukan Ibu.”

Nabila menatapnya tanpa kebencian.

“Aku tidak mempermalukan Ibu. Aku hanya berhenti melindungi kebohongan Ibu.”

Kalimat itu membuat Ratna terdiam.

Pak Harun mendekati Nabila.

“Kamu mau akad ini dilanjutkan?”

Nabila menatap meja akad.

Dekorasi bunga putih.

Cincin.

Dokumen pernikahan.

Semua telah dipersiapkan selama hampir delapan bulan.

Ia lalu memandang Rendy.

“Tidak.”

Suara itu sederhana.

Namun bagi Nabila, satu kata tersebut terasa seperti membuka pintu dari ruangan yang selama ini mengurungnya.

Rendy langsung maju.

“Nabila, jangan ambil keputusan sekarang.”

“Aku justru baru pertama kali mengambil keputusan dengan informasi lengkap.”

“Nabila.”

“Sudah.”

Nabila melepas cincin tunangannya.

Ia meletakkannya di atas meja akad.

“Aku tidak butuh penjelasan tambahan.”

Rendy menatap cincin itu.

Wajahnya berubah kosong.

Ratna mencoba menyentuh tangan Nabila.

Namun Nabila mundur satu langkah.

“Mulai hari ini, Ibu jangan datang ke apartemenku tanpa izin.”

“Nabila, kamu mau buang Ibu?”

“Aku tidak membuang Ibu.”

Nabila menahan air mata.

“Aku cuma memilih menyelamatkan diriku sendiri sebelum Ibu mengambil lebih banyak dariku.”

Ratna menangis terisak.

Untuk sesaat, Nabila hampir goyah.

Bagaimanapun, perempuan itu adalah ibunya.

Orang yang dulu menyisir rambutnya sebelum sekolah.

Yang begadang ketika ia demam.

Yang menjual gelang saat biaya kuliahnya kurang.

Cinta mereka pernah nyata.

Dan mungkin itulah yang membuat pengkhianatan itu terasa begitu dalam.

Namun mencintai seseorang tidak berarti membiarkan orang tersebut menghancurkan hidup kita tanpa batas.

Beberapa menit kemudian, tamu mulai meninggalkan kursinya.

Sebagian menghampiri Nabila.

Sebagian memilih diam.

Beberapa keluarga yang merasa pernah memberikan uang kepada Ratna meminta salinan bukti.

Nabila menyerahkan semua urusan itu kepada Pak Harun.

Ia sudah menyiapkan semuanya.

Laporan mengenai dugaan penggelapan juga telah dikonsultasikan kepada seorang pengacara sejak pukul dua dini hari.

Tidak ada teriakan lagi.

Tidak ada drama tambahan.

Nabila berjalan keluar ballroom masih menggunakan kebaya pengantinnya.

Di lorong hotel, ia berhenti di depan cermin besar.

Untuk pertama kalinya sejak malam sebelumnya, air matanya jatuh.

Bukan satu atau dua.

Ia menangis sampai bahunya gemetar.

Perencana pernikahannya, Dina, berdiri beberapa langkah di belakang tanpa mengatakan apa-apa.

Setelah hampir lima menit, Nabila menghapus air matanya.

“Kelihatan jelek?”

Dina tersenyum kecil.

“Maskaranya sedikit turun.”

Nabila tertawa di antara tangisnya.

“Fotografer pasti marah.”

“Mereka sudah dapat foto yang lebih penting.”

Nabila menatap kembali pantulannya.

Pukul sembilan lewat dua puluh menit.

Seharusnya pada jam itu ia sudah menjadi istri Rendy.

Seharusnya mereka sedang menerima ucapan selamat.

Seharusnya sore nanti mereka berangkat ke Bali.

Namun hidup ternyata memilih arah yang sama sekali berbeda.

Tiga bulan kemudian, penyelidikan terhadap Ratna dimulai setelah empat orang melaporkan dugaan penggelapan dana.

Rumah peninggalan ayah Nabila tidak pernah dijaminkan.

Sertifikatnya tetap aman atas nama Nabila sesuai warisan.

Rendy beberapa kali mencoba menghubunginya.

Tidak pernah dibalas.

Setelah gagal menemui Nabila, ia akhirnya mengirim satu pesan terakhir.

Aku kehilangan semuanya karena satu kesalahan.

Nabila membaca pesan itu lama.

Lalu menghapusnya.

Karena sekarang ia mengerti sesuatu.

Pengkhianatan selama enam bulan bukan satu kesalahan.

Itu ratusan keputusan kecil.

Ratusan kebohongan.

Ratusan kesempatan untuk berhenti yang sengaja dilewati.

Hubungannya dengan Ratna jauh lebih sulit.

Selama hampir setahun mereka tidak bertemu.

Namun Nabila tetap membayar sebagian biaya pengobatan ibunya ketika Ratna jatuh sakit.

Bukan karena ia melupakan semuanya.

Bukan pula karena hubungan mereka kembali seperti dahulu.

Nabila hanya tidak ingin kebencian mengubah dirinya menjadi orang yang tidak ia kenal.

Dua tahun kemudian, pada sebuah sore di Surabaya, Nabila menerima paket tanpa nama pengirim.

Di dalamnya terdapat buku agenda abu-abu yang sama.

Buku itu telah lama disimpan sebagai barang bukti dan akhirnya dikembalikan setelah proses hukum selesai.

Di halaman terakhir terdapat sebuah amplop kecil.

Tulisan tangan Ratna ada di bagian depan.

Untuk Nabila.

Nabila membukanya.

Hanya ada satu lembar surat.

Ibu tidak meminta kamu memaafkan Ibu. Ada kesalahan yang mungkin terlalu besar untuk dimaafkan seperti semula. Ibu cuma ingin kamu tahu satu hal. Malam sebelum pernikahanmu, Ibu menulis semua itu karena sebagian dari diri Ibu sebenarnya ingin kamu menemukannya. Ibu terlalu pengecut untuk mengaku, tetapi terlalu takut melihatmu benar-benar menikahi Rendy. Buku itu sengaja Ibu taruh di mobil yang Ibu tahu akan kamu pakai.

Nabila berhenti membaca.

Tangannya membeku.

Ia membaca kalimat berikutnya.

Mungkin ini terdengar seperti pembelaan. Bukan. Ibu tetap bersalah. Tetapi kalau malam itu kamu tidak menemukan buku tersebut, Ibu tidak yakin punya keberanian menghentikan semuanya.

Nabila menatap buku abu-abu itu cukup lama.

Selama dua tahun, ia selalu mengira penemuannya malam itu adalah kebetulan.

Ternyata bahkan pengkhianatan mereka memiliki lapisan rahasia terakhir.

Ratna memang telah menghancurkan kepercayaannya.

Namun pada detik terakhir, perempuan itu rupanya juga meninggalkan jalan keluar.

Terlambat.

Pengecut.

Dan tidak menghapus kesalahannya.

Tetapi tetap sebuah jalan keluar.

Nabila menutup buku tersebut.

Kemudian untuk pertama kalinya setelah dua tahun, ia mengambil ponsel dan membuka nomor ibunya yang selama ini hanya ia simpan tanpa pernah dihubungi.

Jarinya berhenti beberapa detik di atas layar.

Lalu ia mengetik.

Aku sudah membaca surat Ibu.

Balasan datang hampir sepuluh menit kemudian.

Ibu mengerti kalau kamu tidak mau membalas lagi.

Nabila menatap layar.

Kemudian mengetik satu kalimat.

Besok jam empat sore. Kita minum kopi. Jangan terlambat.

Ia meletakkan ponsel.

Tidak ada senyum bahagia.

Tidak ada akhir ajaib.

Kepercayaan yang hancur tidak kembali hanya karena satu surat.

Beberapa luka bahkan mungkin tidak pernah benar-benar hilang.

Tetapi sore itu Nabila akhirnya memahami bahwa memaafkan tidak selalu berarti memberikan kembali tempat yang sama kepada orang yang pernah menyakiti kita.

Kadang memaafkan hanya berarti berhenti membawa racunnya ke dalam hidup kita sendiri.

Dan dua tahun setelah ia datang ke pelaminan membawa bukti pengkhianatan, Nabila akhirnya melakukan sesuatu yang jauh lebih sulit daripada membatalkan pernikahan.

Ia memilih membuka satu pintu kecil.

Bukan untuk kembali ke masa lalu.

Melainkan untuk berjalan ke masa depan tanpa lagi dikendalikan olehnya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang