Sepulang dari pemakaman cucu delapan tahunku, aku melihat seorang bocah berdiri di bawah lampu teras dengan seragam robek dan satu sandal hilang—lalu ia memelukku sambil berbisik, “Nenek, jangan telepon Ayah… mereka mengubur anak yang salah supaya semua orang berhenti mencariku.”

Ketukan di pintu terdengar tiga kali.

Pelan, teratur, tetapi justru membuat bulu kudukku berdiri.

“Bu, ini Arman. Buka pintunya.”

Aku berdiri beberapa langkah dari ruang tamu, sementara Dimas bersembunyi di balik dinding dapur. Wajah cucuku pucat. Kedua tangannya mencengkeram ujung kaus yang kupinjamkan kepadanya.

Beberapa jam sebelumnya, aku baru saja melihat peti kecil yang diyakini berisi tubuhnya ditimbun tanah.

Sekarang ayahnya sendiri berdiri di depan rumah dan memperingatkanku agar tidak percaya jika ada anak yang mengaku sebagai Dimas.

“Kenapa Ibu diam?” suara Arman kembali terdengar.

Aku memaksa suaraku tetap tenang.

“Ibu sudah mau tidur.”

“Buka sebentar. Aku perlu bicara.”

Aku mengintip melalui celah tirai. Rina berdiri beberapa meter di belakang Arman, di dekat SUV hitam. Perempuan itu tidak terlihat seperti seseorang yang baru menghadiri pemakaman anak majikannya. Wajahnya tegang, tetapi matanya terus mengawasi rumahku.

“Bicara lewat telepon saja,” jawabku.

Arman terdiam.

Lalu suaranya berubah.

“Bu, tadi ada informasi bahwa seseorang mungkin mencoba memanfaatkan kematian Dimas. Kalau ada anak datang ke rumah Ibu, jangan percaya.”

Aku menoleh kepada Dimas.

Air mata mengalir di pipinya.

Itulah saat terakhir aku masih ingin percaya bahwa mungkin ada penjelasan masuk akal untuk semua ini.

“Anak seperti apa?” tanyaku.

“Pokoknya jangan buka pintu.”

“Kalau wajahnya sama seperti Dimas?”

Keheningan panjang.

Aku mendengar Rina berbisik sesuatu kepada Arman.

Kemudian anakku menjawab, “Dimas sudah meninggal, Bu.”

Dimas menutup mulutnya dengan kedua tangan.

Aku merasa dadaku seperti dihantam sesuatu.

Aku ingin membuka pintu, menyeret Arman masuk, lalu memaksanya melihat putranya sendiri. Namun pesan dari Pak Surya baru saja masuk.

Jangan lakukan apa pun. Saya menuju ke sana. Simpan semua bukti. Jangan biarkan mereka tahu Dimas ada di dalam.

Aku menarik napas.

“Ibu mengerti.”

Arman akhirnya mundur dari pintu.

Namun dia tidak pergi.

Dia dan Rina kembali ke mobil lalu duduk di dalamnya dengan lampu mati.

Mereka menunggu.

Aku membawa Dimas ke kamar belakang dan menutup tirainya rapat. Aku memberinya ponsel lama yang hanya tersambung ke Wi-Fi.

“Kalau Nenek bilang sembunyi, masuk ke lemari ini. Jangan keluar sampai Nenek atau Pak Surya yang memanggil.”

“Nenek…”

“Iya?”

“Kalau Ayah memang jahat, Mama bagaimana?”

Pertanyaan itu menghancurkan sesuatu dalam diriku.

Aku tidak tahu jawabannya.

Livia mungkin korban. Mungkin juga mengetahui semuanya. Di pemakaman tadi, tangisnya terlihat begitu nyata sehingga sulit bagiku membayangkan dia terlibat.

“Nenek akan mencari tahu.”

Sekitar dua puluh menit kemudian, Pak Surya tiba dengan mobil biasa. Dia tidak berhenti di depan rumah, melainkan masuk melalui gang belakang dan mengetuk pintu dapur.

Begitu melihat Dimas, wajah lelaki berusia hampir tujuh puluh tahun itu berubah.

“Ya Allah…”

Dimas mengenalinya dan langsung memelukku.

Pak Surya tidak membuang waktu.

Dia memotret luka di pergelangan tangan Dimas, pakaian robek yang tadi kukumpulkan, lalu merekam cerita Dimas dari awal sampai akhir.

Ketika sampai pada bagian percakapan antara Arman dan Rina, Pak Surya menghentikannya.

“Dimas, kamu ingat persis apa yang Ayah katakan?”

Dimas berpikir.

“Ayah bilang, kalau aku sudah enggak ada, Mama enggak bisa terus pegang saham atas namaku.”

“Ada lagi?”

“Tante Rina bilang sesuatu tentang surat.”

“Surat apa?”

“Aku enggak tahu. Tapi Tante Rina bilang, ‘Begitu surat kematian keluar, semuanya bisa diproses.’”

Pak Surya dan aku saling menatap.

Dia kemudian menelepon seseorang yang masih aktif di kepolisian.

Tidak sampai setengah jam, dua petugas berpakaian sipil datang melalui belakang rumah.

Barulah Pak Surya menjelaskan dugaan yang mulai terbentuk.

Jika Dimas secara resmi dinyatakan meninggal, struktur kepemilikan saham warisan bisa berubah. Tetapi siapa yang mendapat keuntungan masih harus dibuktikan melalui dokumen wasiat.

“Dan peti yang dikuburkan tadi?” tanyaku.

“Itu masalah yang lebih besar,” jawabnya. “Kalau bukan Dimas, berarti ada anak lain yang meninggal.”

Aku langsung merasa mual.

Selama ini kami begitu sibuk bersyukur Dimas hidup sampai hampir lupa bahwa sebuah tubuh kecil tetap berada di bawah tanah.

Seseorang kehilangan anak.

Seseorang mungkin bahkan belum tahu anaknya sudah dimakamkan dengan nama orang lain.

Tiba-tiba terdengar suara pecahan kaca dari bagian depan rumah.

Dimas menjerit.

Salah satu petugas langsung mematikan lampu.

Bayangan bergerak di teras.

Kemudian terdengar suara Rina.

“Bu Ratih!”

Dia tidak lagi berpura-pura sopan.

“Kami tahu anak itu di dalam!”

Aku membeku.

Bagaimana mereka tahu?

Pak Surya memberi isyarat agar aku tetap diam.

Arman berteriak dari luar.

“Bu, buka pintu! Dimas sedang bingung. Dia harus dibawa ke rumah sakit!”

Dimas mulai gemetar.

“Aku enggak mau ikut Ayah.”

Aku memeluknya.

“Kamu tidak akan ikut siapa pun.”

Salah satu petugas keluar melalui pintu samping bersama rekannya.

Beberapa detik kemudian terdengar teriakan.

“Polisi! Jangan bergerak!”

Mesin SUV meraung.

Aku berlari ke jendela.

Rina sudah berada di balik kemudi. Mobil melaju mundur dan hampir menabrak pagar tetangga. Arman tertinggal di halaman.

Dia tidak mencoba kabur.

Dia justru berdiri diam sambil mengangkat kedua tangan.

Ketika petugas membawanya masuk, tatapannya langsung menemukan Dimas.

Wajahnya berubah.

Bukan marah.

Bukan kecewa.

Dia menangis.

“Dimas…”

Cucuku mundur.

“Jangan dekat-dekat.”

Arman seperti kehilangan tenaga.

Dia jatuh berlutut.

“Maafkan Ayah.”

Aku menamparnya.

Itu pertama kalinya aku menampar anakku sejak dia dewasa.

“Kamu mengubur anak orang lain demi uang?”

Arman menatapku dengan mata merah.

“Aku tidak tahu ada anak lain di mobil itu.”

Pak Surya mendekat.

“Mulai dari awal.”

Arman akhirnya mengaku.

Beberapa bulan terakhir perusahaan keluarga Livia berada dalam masalah besar. Ada utang proyek yang disembunyikan dari pemegang saham. Rina menemukan celah dalam surat wasiat ayah Livia. Jika Dimas meninggal sebelum berusia delapan belas tahun, sebagian sahamnya tidak otomatis kembali kepada Livia, melainkan masuk ke yayasan keluarga yang pengelola sementaranya adalah dewan direksi.

Arman dan Rina berencana mengendalikan dewan itu melalui beberapa perusahaan cangkang.

Nilainya puluhan miliar.

Rencana awal mereka, menurut Arman, bukan membunuh Dimas.

Mereka hanya akan membuatnya seolah-olah meninggal.

Dimas akan disembunyikan selama beberapa minggu, kemudian dibawa keluar negeri menggunakan identitas palsu. Setelah transaksi saham selesai, Arman mengaku berniat “menemukannya” kembali dan menyalahkan penculik.

Aku hampir tidak percaya seseorang bisa mengucapkan kebodohan sekejam itu sebagai sebuah rencana.

“Kamu pikir hidup anakmu permainan?” tanyaku.

Arman menunduk.

“Aku terlilit utang.”

“Jadi kamu menjual kehidupan anakmu sendiri?”

“Aku enggak mau menyakitinya.”

“Tapi kamu membiarkan dia dikurung!”

Arman menangis.

“Rina bilang Dimas aman.”

Pak Surya menyela.

“Mobil yang terbakar?”

Arman menggeleng cepat.

“Itu bukan bagian dari rencana.”

Menurutnya, mobil tersebut seharusnya hanya ditinggalkan di kawasan Lembang bersama tas dan barang-barang Dimas agar polisi menganggapnya penculikan.

Namun malam itu mobil ditemukan terbakar.

Dan ada jenazah anak di dalamnya.

Rina kemudian meyakinkan Arman bahwa itu justru kesempatan sempurna. Karena tubuh korban sulit dikenali, mereka memasukkan barang-barang Dimas sebagai bukti identitas.

Arman mengikuti semuanya.

Dia bahkan mendesak agar pemakaman dilakukan secepat mungkin.

Aku menatap anak yang kubesarkan dengan rasa asing.

Keserakahan tidak selalu mengubah seseorang menjadi monster dalam satu malam.

Kadang ia hanya meminta satu kebohongan kecil.

Lalu kebohongan berikutnya.

Sampai seseorang tidak lagi mengenali dirinya sendiri.

Polisi membawa Arman malam itu.

Rina berhasil kabur.

Namun pencarian terhadapnya justru membuka sesuatu yang jauh lebih besar.

Keesokan paginya, hasil penyelidikan awal mengenai mobil terbakar keluar.

Kendaraan itu ternyata bukan milik keluarga kami.

Nomor rangkanya telah dihapus.

Dan anak yang ditemukan di dalamnya diperkirakan berusia antara sembilan sampai sebelas tahun.

Dimas duduk di sampingku ketika Pak Surya menyampaikan kabar itu.

Tiba-tiba cucuku berkata, “Nek, aku pernah dengar anak lain.”

Semua orang menoleh.

“Di tempat kamu dikurung?”

Dimas mengangguk.

“Malam pertama. Ada yang nangis dari kamar sebelah.”

Darahku terasa dingin.

“Kenapa baru bilang?”

“Aku pikir suara televisi.”

Polisi segera memintanya menggambarkan bangunan tempat ia ditahan.

Dimas hanya ingat beberapa hal: dinding hijau, bau oli, suara kereta api, dan sebuah menara air yang terlihat dari jendela ketika papan penutupnya berhasil ia buka.

Dari petunjuk sederhana itu, polisi menemukan sebuah bengkel kosong di pinggiran Cimahi dua hari kemudian.

Rina ada di sana.

Dia ditangkap ketika mencoba meninggalkan bangunan melalui pintu belakang.

Tetapi penemuan terbesar bukan Rina.

Di salah satu ruangan ditemukan tas sekolah milik tiga anak berbeda, beberapa dokumen identitas palsu, obat penenang, serta foto anak-anak dari keluarga kaya.

Kasus Dimas ternyata bukan percobaan pertama.

Rina dan beberapa orang lain diduga telah lama menjalankan jaringan penculikan dengan memanfaatkan konflik warisan dan perebutan hak asuh.

Namun masih ada satu pertanyaan.

Siapa anak yang kami kuburkan?

Jawabannya datang seminggu kemudian melalui tes DNA.

Namanya Fajar.

Sepuluh tahun.

Ibunya adalah seorang pekerja rumah tangga yang melaporkan anaknya hilang hampir dua minggu sebelumnya.

Ketika aku bertemu perempuan itu di kantor polisi, aku tidak mampu menatap matanya.

Namanya Sari.

Tubuhnya kecil dan wajahnya terlihat jauh lebih tua daripada usianya.

Aku menggenggam tangannya.

“Maaf. Kami menguburkan anak Ibu dengan nama cucu saya.”

Sari menangis.

Namun dia tidak marah kepadaku.

Setelah jenazah Fajar diserahkan kepada keluarganya, aku datang ke pemakamannya.

Kali ini tidak ada puluhan mobil.

Tidak ada karangan bunga besar dari rekan bisnis.

Hanya keluarga sederhana dan beberapa tetangga.

Dimas berdiri di sampingku sambil membawa bunga putih.

Dia meletakkannya di atas makam Fajar.

“Aku enggak kenal Kak Fajar,” katanya pelan, “tapi karena mereka menemukan dia, polisi berhenti mencari aku.”

Aku memegang bahunya.

“Itu bukan salahmu.”

Dimas mengangguk, meski aku tahu kalimat itu belum sepenuhnya bisa ia pahami.

Arman akhirnya didakwa atas keterlibatannya dalam penculikan, pemalsuan identitas, manipulasi bukti, dan sejumlah tindak pidana lain. Rina menghadapi tuduhan yang jauh lebih berat setelah penyelidikan menghubungkannya dengan jaringan tersebut.

Livia tidak pernah terlibat.

Justru dialah yang kemudian menyerahkan seluruh dokumen perusahaan kepada penyidik dan membongkar transaksi-transaksi mencurigakan yang selama ini disembunyikan Arman.

Beberapa bulan setelah semuanya terjadi, Dimas tinggal lebih sering bersamaku.

Dia masih takut mendengar SUV berhenti di depan rumah.

Kadang dia terbangun tengah malam dan memastikan jendela terkunci.

Kami tidak memaksanya melupakan.

Kami hanya mengajarinya bahwa sekarang dia aman.

Suatu sore, ketika aku sedang menyiram tanaman di teras, Dimas duduk mengerjakan PR.

“Nek?”

“Hm?”

“Waktu itu Nenek percaya aku, kan?”

Aku berhenti menyiram.

“Tentu.”

“Padahal semua orang bilang aku sudah meninggal.”

Aku duduk di sampingnya.

“Karena Nenek menyentuh wajahmu. Nenek tahu kamu nyata.”

Dimas tersenyum kecil.

Kemudian dia mengatakan sesuatu yang sampai hari ini masih kuingat.

“Kadang orang dewasa lebih percaya kertas daripada orang yang berdiri di depan mereka, ya?”

Aku tidak bisa menjawab.

Karena anak delapan tahun itu benar.

Kami percaya surat kematian.

Kami percaya barang bukti.

Kami percaya peti putih.

Kami bahkan percaya air mata orang-orang yang ternyata sedang menyembunyikan kebohongan.

Malam ketika Dimas kembali, aku mengira keajaiban terbesar adalah cucuku ternyata masih hidup.

Aku salah.

Keajaiban terbesar adalah dia berhasil pulang kepada satu orang yang memilih mendengarkannya sebelum memilih percaya kepada siapa pun.

Sejak saat itu, lampu terasku selalu kunyalakan setiap malam.

Bukan karena aku takut seseorang akan datang.

Melainkan karena aku ingin rumah itu selalu terlihat dari jalan.

Sebab aku sudah belajar bahwa bagi seseorang yang sedang melarikan diri dari kegelapan, satu lampu yang tetap menyala bisa menjadi perbedaan antara kehilangan harapan dan menemukan jalan pulang.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang