Suara piring pecah itu membuat seluruh rumah seolah berhenti bernapas.
Rina berdiri kaku di depan meja dapur. Kedua tangannya mencengkeram pinggiran meja, wajahnya pucat, dan napasnya terdengar pendek. Pecahan piring berserakan di lantai, tetapi mataku sama sekali tidak tertuju ke sana.
“Rina!”
Aku berlari menghampirinya.
Dia menoleh pelan ke arahku. Bibirnya bergetar.

“Mas… perutku sakit.”
Jantungku langsung berdetak keras.
Aku memegang lengannya dan membantunya berdiri lebih tegak. Namun baru beberapa detik, tubuhnya kembali menegang. Rina memejamkan mata sambil menarik napas panjang.
“Sakitnya datang lagi,” bisiknya.
Dari ruang tamu, kedua kakakku akhirnya berdiri. Wajah mereka yang tadi santai sekarang berubah tegang.
Kakak sulungku, Mira, berjalan mendekat.
“Kenapa? Cuma keram biasa, kan?”
Aku menatapnya tajam.
“Dia hamil delapan bulan, Kak.”
Nada suaraku mungkin terdengar lebih keras dari yang seharusnya, tetapi saat itu aku benar-benar tidak bisa menahan emosi.
Rina tiba-tiba memegang lenganku lebih kuat.
“Mas… sepertinya ada air keluar.”
Aku menunduk dan seketika darahku seperti berhenti mengalir.
Lantai di dekat kakinya mulai basah.
Aku tidak berpikir panjang lagi.
“Kita ke rumah sakit sekarang.”
Mira dan kakakku yang kedua, Siska, saling berpandangan.
“Apa separah itu?” tanya Siska.
Aku hampir tidak percaya mendengar pertanyaannya.
“Aku tidak tahu, tapi aku tidak mau mengambil risiko.”
Aku mengambil tas persalinan yang memang sudah disiapkan Rina sejak dua minggu lalu. Untungnya, semua dokumen, pakaian, dan perlengkapan penting sudah berada di dalam tas itu.
Saat hendak keluar, Rina kembali berhenti karena kontraksi.
Dia menahan napas sambil memejamkan mata.
Aku merangkul tubuhnya.
“Pelan-pelan. Aku di sini.”
Untuk pertama kalinya sejak datang, Mira dan Siska benar-benar terlihat panik.
Mira mengambil kunci mobilku.
“Biar aku yang nyetir.”
Aku menatapnya sebentar, lalu mengangguk.
Di dalam mobil, suasana sangat berbeda dari beberapa menit sebelumnya. Tidak ada lagi tawa. Tidak ada komentar sinis. Yang terdengar hanya suara napas Rina dan sesekali klakson kendaraan di jalanan Surabaya yang mulai padat.
Aku duduk di belakang bersama Rina.
Tangannya menggenggam tanganku kuat sekali.
“Mas… bayi kita nggak apa-apa, kan?”
Pertanyaan itu menghancurkan ketenanganku.
Aku ingin mengatakan bahwa semuanya pasti baik-baik saja, tetapi aku sendiri takut.
Aku hanya mengusap rambutnya.
“Kita sudah menuju rumah sakit. Sebentar lagi dokter periksa.”
Rina mengangguk.
Ketika kami sampai di instalasi gawat darurat, petugas langsung membawa Rina menggunakan kursi roda.
Aku mengikuti dari belakang.
Seorang perawat bertanya cepat tentang usia kehamilan, riwayat pemeriksaan, dan kapan cairan mulai keluar.
“Delapan bulan, sekitar tiga puluh empat minggu,” jawabku.
Perawat itu langsung memanggil dokter.
Beberapa menit terasa seperti berjam-jam.
Aku berdiri di lorong dengan tangan dingin. Mira dan Siska berdiri tidak jauh dariku. Tidak ada satu pun dari mereka yang berani berbicara.
Akhirnya dokter keluar.
“Suaminya Bu Rina?”
“Saya, Dok.”
Dokter meminta kami masuk ke ruang konsultasi.
“Ketuban istri Anda kemungkinan pecah lebih awal. Kontraksinya juga sudah mulai muncul.”
Aku menelan ludah.
“Apakah bayinya harus lahir sekarang?”
“Kami masih akan observasi. Denyut jantung janin saat ini stabil, tapi kami harus memantau ketat. Karena usia kehamilan belum cukup bulan, kami akan berusaha mempertahankan kehamilan jika kondisinya memungkinkan.”
Aku mengangguk pelan.
“Apakah ini karena dia terlalu banyak aktivitas?”
Dokter menatapku.
“Penyebab ketuban pecah dini bisa bermacam-macam. Tidak selalu karena aktivitas. Jadi jangan langsung menyalahkan siapa pun. Yang paling penting sekarang adalah kondisi ibu dan bayi.”
Kalimat terakhir dokter terdengar sederhana, tetapi entah kenapa aku merasa seperti sedang ditampar.
Jangan menyalahkan siapa pun.
Namun ketika keluar dari ruangan dan melihat kedua kakakku, kemarahanku kembali muncul.
Mira langsung bertanya.
“Bagaimana?”
“Ketubannya pecah lebih awal.”
Wajahnya langsung berubah.
Siska menutup mulut.
“Ya Allah…”
Aku menatap mereka lama.
“Kalian tahu apa yang paling membuatku marah?”
Mereka diam.
“Bukan karena kalian datang. Bukan karena kalian menonton televisi. Tapi karena sejak masuk rumah, kalian melihat perempuan hamil delapan bulan berdiri sendirian di dapur dan kalian bahkan tidak bertanya apakah dia butuh bantuan.”
Mira menunduk.
“Kami nggak tahu kalau dia selelah itu.”
“Karena kalian nggak pernah mau tahu.”
Siska mencoba menjelaskan.
“Rina juga nggak bilang apa-apa.”
Aku tertawa pahit.
“Jadi seseorang harus mengeluh dulu baru pantas dibantu?”
Tidak ada jawaban.
Aku duduk di kursi lorong.
Beberapa detik kemudian, Mira duduk di sampingku.
“Aku minta maaf.”
Aku tidak menjawab.
“Serius. Aku minta maaf.”
Nada suaranya berbeda. Tidak ada kesombongan seperti biasanya.
Siska ikut duduk di sisi lain.
“Aku juga.”
Aku menghela napas panjang.
“Aku nggak butuh permintaan maaf kalian sekarang. Aku cuma ingin Rina dan bayi kami selamat.”
Kami diam.
Sekitar satu jam kemudian, dokter kembali memanggilku.
Kondisi Rina masih stabil. Kontraksinya berkurang setelah mendapat penanganan. Bayi juga masih dalam kondisi baik.
Aku akhirnya diperbolehkan masuk menemuinya.
Rina berbaring dengan infus terpasang di tangan. Wajahnya masih pucat, tetapi saat melihatku, dia tersenyum kecil.
Aku langsung duduk di samping ranjang.
“Gimana rasanya?”
“Lebih baik.”
Aku menggenggam tangannya.
“Maaf.”
Rina mengernyit.
“Kenapa Mas yang minta maaf?”
“Harusnya aku dari awal nggak membiarkan kamu sibuk sendiri.”
Dia diam.
Aku melanjutkan.
“Aku terlalu sering berpikir karena kamu nggak mengeluh, berarti kamu baik-baik saja.”
Rina menatapku lama.
“Aku memang jarang mengeluh.”
“Itu bukan alasan buat aku nggak peka.”
Matanya mulai berkaca-kaca.
“Mas jangan nyalahin diri sendiri.”
Aku menggeleng.
“Aku bukan menyalahkan diri sendiri. Aku sedang mengakui kalau aku salah.”
Rina tersenyum lemah.
Beberapa saat kemudian, pintu kamar terbuka.
Mira dan Siska masuk.
Aku melihat Rina sedikit terkejut.
Mira berdiri di dekat ranjang dengan wajah canggung.
“Rin…”
Rina menoleh.
Mira menarik napas.
“Maaf.”
Rina tidak langsung menjawab.
“Aku sering ngomong seenaknya. Aku kira cuma bercanda.”
Siska menyambung.
“Dan kami seharusnya bantu kamu tadi.”
Rina tersenyum tipis.
“Nggak apa-apa.”
Mira langsung menggeleng.
“Jangan bilang nggak apa-apa kalau sebenarnya nggak.”
Aku menoleh kepadanya.
Itu pertama kalinya aku mendengar kakakku mengatakan sesuatu seperti itu.
Mira melanjutkan.
“Aku baru sadar, selama ini kamu selalu diam setiap kali kami ngomong macam-macam. Aku pikir karena kamu nggak keberatan.”
Rina memandangnya.
“Aku cuma nggak mau bikin Mas berada di tengah.”
Kalimat itu membuat seluruh ruangan diam.
Aku merasakan dadaku sesak.
Selama ini ternyata Rina menahan banyak hal hanya supaya hubungan antara aku dan keluargaku tidak rusak.
Siska menatap lantai.
“Kami keterlaluan.”
Tidak ada adegan dramatis. Tidak ada tangisan berlebihan. Hanya empat orang dewasa yang akhirnya mengatakan hal-hal yang seharusnya sudah diucapkan sejak lama.
Malam itu, Mira dan Siska tidak pulang.
Mereka bergantian membelikan makanan, mengurus administrasi, dan bahkan menghubungi orang tua kami untuk menjelaskan keadaan.
Aku menemani Rina hampir sepanjang malam.
Setiap suara alat monitor membuatku terjaga.
Sekitar pukul dua dini hari, Rina terbangun.
“Mas?”
“Hm?”
“Kalau bayi kita lahir sekarang, kamu takut?”
Aku terdiam.
“Takut.”
Dia tersenyum.
“Aku juga.”
Aku memegang tangannya.
“Tapi kita hadapi sama-sama.”
Dia mengangguk.
Beberapa hari berikutnya menjadi hari-hari penuh kecemasan.
Dokter berhasil menunda persalinan. Rina harus dirawat dan banyak beristirahat. Setiap hari kami berharap bayi kami bisa bertahan sedikit lebih lama di dalam kandungan.
Yang mengejutkanku, Mira datang hampir setiap hari.
Kadang dia membawakan buah. Kadang hanya duduk menemani Rina.
Siska bahkan mulai mengurus beberapa pekerjaan rumah kami.
Suatu sore, ketika aku pulang sebentar untuk mengambil pakaian, aku melihat dapur sudah bersih.
Pecahan piring yang beberapa hari lalu berserakan telah hilang.
Di atas meja ada beberapa wadah makanan.
Siska keluar dari kamar.
“Aku masak sedikit.”
Aku menatapnya.
“Kamu?”
Dia mencibir.
“Kenapa? Aku bisa masak.”
Aku tertawa kecil.
Sudah lama sekali rasanya aku tidak tertawa bersama kakakku.
Namun perubahan terbesar justru terjadi pada Mira.
Suatu malam di rumah sakit, dia tiba-tiba bercerita.
“Aku pernah hamil.”
Aku menatapnya kaget.
“Apa?”
Rina juga terlihat terkejut.
Mira menatap jendela.
“Delapan tahun lalu.”
Selama ini kami tahu pernikahan pertamanya berakhir buruk, tetapi aku tidak pernah tahu dia pernah hamil.
“Aku keguguran di usia enam bulan.”
Suara Mira bergetar.
“Waktu itu suamiku jarang di rumah. Aku melakukan banyak hal sendiri. Setelah kehilangan bayi itu, aku mulai benci melihat perempuan hamil mendapat perhatian.”
Aku tidak tahu harus berkata apa.
Mira mengusap matanya.
“Aku tahu itu nggak masuk akal. Tapi setiap kali lihat Rina diperhatikan, ada bagian dari diriku yang iri. Makanya aku sering menyindir.”
Rina menatapnya dengan lembut.
“Kenapa Kak Mira nggak pernah cerita?”
“Karena aku malu.”
Mira menarik napas.
“Aku pikir kalau aku bersikap kuat, orang nggak akan tahu kalau sebenarnya aku masih sakit.”
Untuk pertama kalinya, aku memahami bahwa sikap kasarnya selama ini bukan sekadar kesombongan.
Ada luka yang tidak pernah dia ceritakan.
Rina mengulurkan tangan.
Mira menggenggamnya.
Malam itu mereka menangis bersama.
Aku hanya duduk diam, menyadari bahwa kadang orang menyakiti orang lain bukan karena mereka tidak punya hati, tetapi karena luka mereka sendiri belum pernah sembuh.
Tiga minggu kemudian, Rina akhirnya diizinkan pulang.
Kehamilannya berhasil dipertahankan hingga hampir tiga puluh tujuh minggu.
Dokter masih meminta kami berhati-hati, tetapi kondisi bayi sangat baik.
Di rumah, semuanya berubah.
Rina tidak lagi diizinkan menyentuh pekerjaan berat.
Bahkan ketika dia ingin membuat teh sendiri, aku langsung mengambil alih.
Mira dan Siska sering datang. Namun kali ini mereka tidak langsung duduk di sofa.
Mereka justru bertanya apa yang perlu dibantu.
Suatu pagi, aku terbangun karena suara ribut dari dapur.
Aku panik dan langsung berlari.
Ternyata Mira dan Siska sedang berebut spatula.
“Aku bilang bawangnya dulu!”
“Ya ampun, Kak, minyaknya belum panas!”
Rina duduk di kursi sambil tertawa.
Aku berdiri di pintu dapur.
Pemandangan itu terasa aneh sekaligus indah.
Sekitar satu minggu kemudian, kontraksi Rina kembali datang.
Kali ini semuanya sudah lebih siap.
Kami pergi ke rumah sakit tanpa kepanikan seperti sebelumnya.
Setelah berjam-jam menunggu, akhirnya tangisan seorang bayi terdengar dari ruang persalinan.
Aku tidak pernah melupakan suara itu.
Seorang perawat keluar sambil tersenyum.
“Selamat, Pak. Bayinya perempuan. Sehat.”
Lututku hampir lemas.
Ketika akhirnya aku melihatnya, bayi kecil itu berada di dada Rina.
Matanya masih terpejam.
Tangannya kecil sekali.
Aku mencium kening Rina.
“Terima kasih.”
Rina tersenyum dengan air mata di sudut matanya.
Beberapa saat kemudian, Mira dan Siska masuk.
Begitu melihat bayi itu, Mira langsung menangis.
“Cantik banget.”
Rina menatapnya.
“Kak Mira mau gendong?”
Mira terlihat ragu.
“Boleh?”
“Tentu.”
Dengan tangan gemetar, Mira menerima bayi kami.
Dia menatap wajah kecil itu lama sekali.
Lalu dia berbisik.
“Maaf ya… tante kamu dulu jahat sama mama kamu.”
Kami semua tertawa kecil.
Beberapa minggu setelah itu, aku menemukan sesuatu yang membuatku semakin terkejut.
Rina menunjukkan sebuah pesan lama di ponselnya.
Pesan itu dikirim Mira beberapa bulan sebelum kejadian.
Isinya sederhana.
“Kalau suatu hari aku keterlaluan, tolong jangan benci aku. Aku sebenarnya cuma belum tahu bagaimana caranya berdamai dengan diriku sendiri.”
Aku membaca pesan itu berkali-kali.
“Kenapa kamu nggak pernah kasih tahu aku?”
Rina tersenyum.
“Karena aku pikir suatu hari Kak Mira akan cerita sendiri.”
Aku menatap istriku.
Saat itu aku menyadari sesuatu.
Orang yang selama ini kukira hanya diam karena lemah, ternyata justru memiliki hati paling kuat di antara kami semua.
Dia bukan tidak terluka.
Dia hanya memilih untuk tidak membalas luka dengan luka.
Piring yang pecah pagi itu akhirnya kami buang semuanya.
Namun satu pecahan kecil tanpa sengaja tertinggal di sudut dapur.
Aku menemukannya beberapa bulan kemudian.
Aku hampir membuangnya, tetapi Rina menghentikanku.
“Jangan.”
“Buat apa disimpan?”
Dia tersenyum.
“Biar kita ingat.”
“Ingat apa?”
Rina menatap ruang tamu, tempat Mira dan Siska sedang bermain dengan putri kami.
“Kadang sesuatu memang harus pecah dulu supaya orang-orang di dalamnya sadar apa yang selama ini mereka abaikan.”
Aku terdiam.
Pecahan kecil itu akhirnya kami simpan di sebuah kotak.
Bukan sebagai kenangan tentang hari yang menakutkan.
Melainkan sebagai pengingat bahwa keluarga tidak menjadi kuat karena tidak pernah saling melukai.
Keluarga menjadi kuat ketika setiap orang berani mengakui kesalahan, berani meminta maaf, dan cukup tulus untuk berubah sebelum semuanya terlambat.
