Suara tawa kecil Ratna dari balik pintu membuat seluruh rasa sakit di kakiku mendadak terasa tidak penting.
Aku menahan napas.
“Kalau surat kuasa ini sudah dia tanda tangani, siapa yang akan mempermasalahkan tanda tangan lama?”
Langkah mereka menjauh.
Aku tetap diam selama beberapa detik, takut suara sekecil apa pun membuat mereka kembali. Setelah rumah benar-benar sunyi, aku menarik tubuhku menuju lemari.

Empat meter itu memakan waktu hampir dua puluh menit.
Keringat membasahi tengkukku. Setiap kali paha kananku bergeser beberapa sentimeter, rasa nyeri menusuk sampai pinggang. Aku menggigit ujung lengan baju rumah sakit agar tidak berteriak.
Akhirnya tanganku mencapai bagian bawah lemari.
Aku meraba panel kecil di belakangnya, memasukkan kode brankas, lalu terdengar bunyi klik.
Di dalamnya masih ada semuanya.
Flashdisk.
Map dokumen.
Dan ponsel cadangan.
Tanganku gemetar ketika menyalakannya.
Baterainya tinggal tiga puluh delapan persen.
Cukup.
Aku langsung menelepon Maya.
Dia mengangkat pada dering kedua.
“Nadira?”
Aku hampir menangis hanya karena mendengar suaranya.
“Maya, jangan bicara dulu. Dengarkan aku.”
Aku menceritakan semuanya secepat mungkin.
Maya tidak menyela sampai aku selesai.
Kemudian suaranya berubah tegas.
“Kamu dikunci dari luar?”
“Iya.”
“Obatmu diambil?”
“Iya.”
“Kamu baru operasi dan mereka tahu kondisi medis kamu?”
“Iya.”
“Jangan tanda tangan apa pun. Jangan beri tahu mereka bahwa kamu punya ponsel. Kamera gudang masih aktif?”
Aku melihat titik hijau itu.
“Masih.”
“Bagus. Aku punya akses cadangannya. Aku cek sekarang.”
Terdengar suara keyboard.
Beberapa detik kemudian Maya mengumpat pelan.
“Semua terekam.”
Aku menutup mata.
Untuk pertama kalinya sejak tiba di rumah, aku merasa tidak sepenuhnya sendirian.
“Ada hal lain,” kataku. “Aku dengar mereka bicara soal orang bank yang akan datang besok.”
Maya terdiam.
“Nadira, dengarkan. Jangan keluar sendiri kalau itu berisiko membuat lukamu lebih parah. Aku sedang menghubungi bantuan dan dokter rumah sakitmu. Tapi ada sesuatu yang belum pernah kukatakan kepadamu.”
“Apa?”
“Dua hari lalu ada seseorang menelepon kantor.”
“Siapa?”
“Staf legal dari calon pembeli ruko Tambun.”
Darahku seperti berhenti mengalir.
“Mereka meminta konfirmasi apakah kamu benar-benar menyetujui transaksi.”
“Kenapa kamu tidak bilang?”
“Kamu baru kecelakaan. Aku ingin memastikan dulu. Yang aneh, mereka punya salinan surat persetujuan dengan tanda tanganmu.”
Aku menatap map di dalam brankas.
“Aku juga punya salinannya.”
“Berarti ini lebih besar dari yang kukira.”
Aku hendak menjawab ketika gagang pintu gudang bergerak.
“Maya, mereka datang.”
“Sembunyikan ponselnya. Jangan putus sambungan.”
Aku memasukkan ponsel ke balik tumpukan kain dekorasi dan membiarkan panggilan tetap aktif.
Pintu terbuka.
Dimas masuk membawa map cokelat.
Ratna berdiri di belakangnya dengan segelas air.
Tidak ada obat.
Dimas melihatku sudah berpindah beberapa meter dari tempat semula.
“Kamu ngapain?”
“Mencari posisi yang tidak terlalu sakit.”
Ratna mendecakkan lidah.
“Keras kepala sekali.”
Dia meletakkan gelas di lantai.
Dimas jongkok di depanku.
“Nadira, aku kasih kesempatan terakhir.”
Dia membuka map.
“Besok pagi orang bank datang. Kamu tanda tangan malam ini, kita selesai.”
“Apa yang selesai?”
“Masalah keuangan keluarga.”
Aku menatapnya.
“Masalah keuangan siapa?”
Dimas mengalihkan pandangan.
Saat itulah aku tahu ada sesuatu yang belum kuketahui.
“Berapa utangmu?”
Wajahnya berubah.
Ratna cepat menyela.
“Tidak ada urusannya dengan utang.”
“Kalau begitu kenapa harus menjual ruko?”
Dimas berdiri.
“Karena kita butuh likuiditas.”
“Kita?”
Aku tertawa pahit.
“Perusahaanku sehat. Cicilan rumah lunas. Aku tidak punya utang bank. Jadi siapa yang butuh uang?”
Dimas membanting map ke rak.
“Empat koma dua miliar.”
Ruangan mendadak sunyi.
Aku menatapnya.
“Apa?”
Ratna memejamkan mata seolah anaknya baru mengatakan sesuatu yang seharusnya dirahasiakan.
Dimas mengusap rambutnya kasar.
“Aku masuk investasi proyek properti dengan beberapa teman.”
“Kapan?”
“Dua tahun lalu.”
“Pakai uang siapa?”
“Awalnya uangku.”
“Awalnya?”
Dia tidak menjawab.
Aku mulai memahami.
Tabungan bersama yang berkurang tanpa penjelasan.
Pinjaman yang katanya untuk bisnis temannya.
Pertanyaan tentang deposito Arunika.
Semua menuju tempat yang sama.
“Berapa yang sudah hilang?”
“Jangan membesar-besarkan.”
“Berapa, Dimas?”
“Hampir tiga miliar.”
Dadaku sesak.
“Dan sisanya?”
Ratna menjawab kali ini.
“Kalau tidak dibayar bulan depan, ada konsekuensi.”
“Jadi kalian memalsukan tanda tanganku?”
“Kami hanya berusaha menyelamatkan keluarga.”
Aku menatap perempuan itu.
“Dengan mencuri asetku?”
Ratna mendekat.
“Setelah menikah, jangan bicara seolah semuanya hanya milikmu.”
“Ruko itu diwariskan sebelum aku menikah.”
“Itu cuma bahasa hukum.”
“Justru hukum yang menentukan siapa pemiliknya.”
Wajah Ratna mengeras.
Dia mengambil botol obat dari tasnya dan meletakkannya di atas map.
Begitu dekat hingga aku bisa membaca labelnya.
“Pilih,” katanya. “Tanda tangan, lalu minum obat.”
Aku menatap botol itu lama.
Kemudian aku menatap Dimas.
“Kalau aku pingsan karena kesakitan?”
“Kamu tidak akan pingsan.”
“Kalau ada komplikasi?”
Dia tidak menjawab.
Saat itu sesuatu dalam diriku mati.
Bukan cinta.
Mungkin cinta itu sudah mati sejak dia membiarkanku jatuh.
Yang mati adalah keinginan untuk mencari alasan baginya.
Aku mengambil pulpen.
Ratna tersenyum.
“Nah. Begitu.”
Aku membuka halaman terakhir.
Tanganku bergerak perlahan.
Lalu aku menjatuhkan pulpen.
“Aku tidak bisa.”
Dimas membungkuk mengambilnya.
Pada detik itu aku berteriak sekeras mungkin.
“Tolong!”
Dimas terkejut.
Ratna langsung menutup mulutku dengan tangannya.
“Diam!”
Aku menggigit tangannya.
Dia menjerit.
Dimas mencengkeram bahuku.
Namun sebelum mereka sempat melakukan apa pun, terdengar suara keras dari arah depan rumah.
Bel berbunyi berkali-kali.
Kemudian seseorang menggedor pintu.
“Pak Dimas!”
Wajah Dimas pucat.
Ratna berbisik, “Siapa?”
Suara dari depan terdengar lagi.
“Polisi. Tolong buka pintu.”
Dimas menatapku.
Untuk pertama kalinya hari itu, aku melihat ketakutan di wajahnya.
“Kamu telepon siapa?”
Aku tidak menjawab.
Dimas berlari keluar.
Ratna mencoba membawa map dan obatku, tetapi aku meraih ujung celananya.
Dia kehilangan keseimbangan.
Map jatuh.
Kertas berserakan di lantai.
Beberapa menit kemudian dua petugas masuk bersama Maya dan seorang paramedis.
Maya langsung berlutut di sampingku.
“Jangan bergerak.”
Ratna mulai berteriak.
“Ini masalah keluarga! Kalian tidak boleh masuk sembarangan!”
Maya berdiri.
“Menahan orang yang baru selesai operasi, mengambil alat bantu jalan, menahan obat, dan memaksa tanda tangan bukan lagi sekadar pertengkaran keluarga.”
Dimas mencoba menjelaskan bahwa aku sedang emosional akibat obat.
Maya hanya mengangkat ponselnya.
“Ada rekaman.”
Dimas diam.
Aku dibawa kembali ke rumah sakit malam itu.
Dokter menemukan pembengkakan cukup berat, tetapi untungnya posisi pen dan plat tidak bergeser. Aku harus menjalani observasi.
Kupikir semuanya selesai.
Ternyata belum.
Dua hari kemudian Maya datang membawa laptop.
“Ada kabar buruk dan kabar yang lebih buruk.”
“Aku tidak suka pembukaan seperti itu.”
Dia duduk.
“Surat penawaran Rp4,8 miliar itu bukan satu-satunya dokumen palsu.”
Dia menunjukkan sederet berkas.
Ada permohonan fasilitas kredit.
Surat persetujuan penggunaan aset.
Draft perjanjian jual beli.
Semuanya memakai tanda tanganku.
“Tapi ada satu hal yang menyelamatkanmu,” kata Maya.
“Apa?”
“Keserakahan mereka sendiri.”
Aku mengernyit.
Maya memperbesar salah satu dokumen.
“Ratna dan Dimas menggunakan tanggal yang berbeda-beda, tetapi tanda tanganmu identik sampai ke setiap titik. Mereka menyalin satu tanda tangan digital berkali-kali.”
Maya sudah menghubungi pihak terkait untuk membekukan proses transaksi dan meminta pemeriksaan dokumen.
Namun kejutan terbesar datang dari calon pembeli.
Pria bernama Arif Nugroho meminta bertemu denganku.
Dia datang ke rumah sakit bersama pengacaranya.
“Ada sesuatu yang harus Ibu Nadira tahu,” katanya.
Arif membuka tablet.
Ternyata selama hampir tiga bulan, orang yang bernegosiasi dengannya bukan Dimas.
Melainkan Ratna.
Dia mengaku sebagai orang yang diberi kuasa oleh keluarga untuk mengurus asetku.
“Ada satu alasan saya belum mentransfer uang muka,” kata Arif. “Ibu Ratna terlalu mendesak.”
Dia menunjukkan pesan-pesan mereka.
Salah satunya membuat perutku mual.
Kalau Nadira tetap sulit, kondisi kesehatannya akan membuat proses lebih mudah. Setelah itu semua keputusan dipegang suaminya.
Pesan itu dikirim tiga hari sebelum kecelakaanku.
Aku menatap Maya.
Ruangan terasa dingin.
“Kecelakaanku…”
Maya langsung berkata, “Jangan mengambil kesimpulan tanpa bukti.”
Namun pikiran itu sudah telanjur muncul.
Kecelakaan di tol terjadi ketika sebuah mobil tiba-tiba memotong jalurku.
Pengemudinya tidak pernah ditemukan.
Selama beberapa hari berikutnya, penyelidikan berkembang.
Aku hampir tidak tidur.
Lalu polisi menemukan sesuatu.
Mobil yang memotong jalurku memang tidak terkait dengan Dimas ataupun Ratna.
Itu kecelakaan biasa.
Aneh sekali, tetapi justru kenyataan itu membuatku menangis lega.
Mereka mungkin penipu.
Mereka mungkin kejam.
Tetapi setidaknya mereka tidak mencoba membunuhku.
Namun kelegaan itu hanya bertahan satu hari.
Karena penyidik menemukan fakta lain.
Utang Dimas ternyata bukan Rp4,2 miliar.
Jumlah sebenarnya hampir Rp7 miliar.
Sebagian besar berasal dari investasi bodong yang kemudian dia tutupi dengan pinjaman baru.
Dan Ratna sudah menjual rumah miliknya sendiri setahun sebelumnya untuk menolong Dimas.
Semua uangnya habis.
Saat itulah aku akhirnya memahami mengapa Ratna begitu terobsesi dengan asetku.
Dia bukan sedang membangun kekayaan.
Dia sedang tenggelam bersama anaknya dan berusaha menjadikanku pelampung.
Beberapa minggu kemudian, ketika aku sudah bisa berjalan dengan walker, Dimas meminta bertemu.
Kami bertemu di ruang konsultasi kantor Maya.
Dia tampak jauh lebih tua.
“Nadira, aku salah.”
Aku diam.
“Aku panik.”
“Kamu mengunci istrimu yang baru operasi di gudang.”
Air matanya turun.
“Aku takut kehilangan semuanya.”
“Kamu sudah kehilangan semuanya ketika memutuskan bahwa tubuhku boleh disakiti demi menutupi utangmu.”
Dia menunduk.
“Aku masih sayang kamu.”
Aku memandangnya lama.
“Tidak. Kamu sayang kehidupan yang bisa kubiayai.”
Dia tidak mampu menjawab.
Proses hukum berjalan.
Transaksi ruko dibatalkan sebelum uang berpindah tangan. Dokumen-dokumen palsu menjadi bagian dari penyelidikan. Aku juga memulai proses perceraian.
Arunika Living tetap berjalan.
Enam bulan kemudian aku kembali ke kantor untuk pertama kalinya tanpa walker.
Masih sedikit pincang.
Masih menjalani fisioterapi.
Namun aku berjalan dengan kakiku sendiri.
Maya datang sore itu membawa sebuah kotak kecil.
“Aku menemukan ini ketika barang-barangmu dipindahkan dari rumah.”
Di dalamnya ada kamera mini dari gudang.
Lampu hijau kecil yang menyelamatkanku.
Aku memegangnya sambil tersenyum.
“Lucu, ya. Mereka mengambil ponselku, obatku, krukku. Mereka mengunci pintu. Tapi mereka lupa satu lampu kecil.”
Maya menggeleng.
“Bukan lampunya yang menyelamatkanmu.”
Aku menatapnya.
“Kamu menyelamatkan dirimu sendiri ketika tiga minggu sebelumnya kamu memilih mempercayai instingmu.”
Malam itu, setelah semua karyawan pulang, aku berdiri di depan jendela kantor.
Di bawah sana, lampu Bekasi menyala satu per satu.
Dulu aku mengira pengkhianatan terbesar adalah ketika seseorang mengambil sesuatu yang menjadi milik kita.
Ternyata bukan.
Pengkhianatan terbesar terjadi ketika orang yang kita cintai membuat kita meragukan hak kita sendiri untuk berkata tidak.
Aku kehilangan pernikahan.
Aku hampir kehilangan dua ruko.
Aku hampir kehilangan perusahaan yang dibangun ayahku.
Tetapi ada satu hal yang gagal mereka ambil.
Hak untuk menentukan apa yang terjadi pada hidupku sendiri.
Aku memasukkan kamera kecil itu ke laci meja.
Lampu hijaunya sudah mati.
Aku tidak membutuhkannya lagi.
Karena kali ini, ketika aku menutup pintu kantor dan berjalan keluar sendirian, tidak ada seorang pun di sisi lain yang memegang kuncinya.
