TENGAH MALAM TEMAN SEKAMARKU MEMBAWA MAHASISWI YANG BARU DIUSIR MASUK KE ASRAMA KAMI; PAGINYA SELIMUT PEMBERIAN IBUKU ADA DI PELUKANNYA, SORENYA TEMPAT TIDURKU SUDAH DIREBUT—DAN SAAT AKU PROTES, PEMBINA JUSTRU MENUNJUKKAN FORMULIR PERPINDAHAN DENGAN TANDA TANGANKU SENDIRI

“Siapa yang memalsukan tanda tangan saya?”

Suasana kamar mendadak sunyi.

Bahkan suara kipas angin tua di langit-langit terdengar lebih keras daripada napas kami.

Bu Ratih mengambil kembali formulir itu dari tanganku. Wajahnya yang tadi terlihat kesal berubah serius. Ia mendekatkan kertas tersebut ke lampu, lalu memandang Siska, Dewi, dan Lala bergantian.

“Siska,” katanya, “formulir ini siapa yang mengantar ke kantor?”

Siska mengusap air matanya.

“Saya, Bu.”

“Siapa yang mengisi?”

“Saya sama Dewi.”

“Lalu tanda tangan Naya?”

Siska terdiam.

Aku menunggu.

Lala menunduk, sedangkan Dewi yang sejak tadi berdiri di dekat lemari tiba-tiba sibuk memainkan ujung bajunya.

“Saya tanya sekali lagi,” suara Bu Ratih mengeras. “Siapa yang menandatangani bagian Naya?”

“Bu, mungkin Naya lupa,” kata Siska akhirnya.

Aku hampir tertawa.

“Lupa?”

“Iya. Tadi pagi kamu buru-buru kuliah. Bisa saja kamu tanda tangan tanpa sadar.”

Aku menatapnya.

“Tadi pagi aku bahkan tidak melihat formulir ini.”

“Kamu kan sering tanda tangan lembar kegiatan.”

“Jangan mengarang.”

Siska membuka mulut, tetapi Bu Ratih mengangkat tangan.

“Cukup.”

Ia memotret formulir tersebut dengan ponselnya.

“Tidak ada yang memindahkan barang lagi malam ini. Besok pagi kalian semua datang ke kantor pengelola.”

Aku menunjuk ranjangku.

“Bu, bagaimana dengan tempat tidur saya?”

Bu Ratih terlihat ragu.

Siska langsung menyela.

“Lala sudah menata barangnya, Bu. Kasihan kalau harus pindah lagi.”

Aku menoleh tajam.

Bu Ratih menghela napas.

“Naya, untuk malam ini saja kamu gunakan ranjang dekat pintu. Besok kita selesaikan.”

Aku ingin membantah.

Namun sesuatu dalam diriku tiba-tiba berubah.

Sejak pagi aku terus mencoba membuat mereka memahami bahwa barangku adalah milikku, ranjangku adalah hakku, dan persetujuan harus diberikan sebelum sesuatu diambil.

Tidak ada yang benar-benar mendengarkan.

Jadi kali ini aku tidak berdebat.

“Baik, Bu.”

Siska terlihat lega.

Lala bahkan tersenyum tipis.

Mereka mengira aku menyerah.

Malam itu aku tidak tidur.

Aku duduk di ranjang dekat pintu dengan laptop di pangkuan dan mulai mengumpulkan semuanya.

Foto kamar sebelum dan sesudah barangku dipindahkan.

Percakapan grup.

Pesan Siska pukul 00.52.

“Naya keras kepala banget. Padahal cuma diminta bantu orang.”

Kemudian pesan pukul 04.18 yang baru kubaca.

“Kalau kamu tidak mau pindah, jangan salahkan aku kalau akhirnya pengelola yang menentukan.”

Aku menatap kalimat itu lama.

Lalu teringat sesuatu.

Tiga minggu sebelumnya, aku pernah meminta Siska mengumpulkan formulir perpanjangan izin tinggal karena aku sedang sakit.

Aku sudah mengisi formulir dan menandatanganinya.

Namun keesokan harinya Siska mengatakan formulirku salah cetak dan harus dibuat ulang.

Kertas lama katanya sudah dibuang.

Aku membuka folder foto di ponsel.

Aku punya kebiasaan memotret dokumen sebelum menyerahkannya.

Dan di sanalah tanda tanganku terlihat jelas.

Bentuknya hampir identik dengan tanda tangan di formulir perpindahan Lala.

Hampir.

Ada satu perbedaan kecil.

Setiap kali menandatangani dokumen resmi, garis terakhir huruf P pada Pramesti selalu kutarik ke bawah lalu sedikit ke kiri.

Di formulir Lala, garis itu berbelok ke kanan.

Seseorang meniru bentuknya.

Bukan menyalinnya secara digital.

Meniru dengan tangan.

Pukul 07.30 pagi, kami duduk di kantor pengelola asrama.

Selain Bu Ratih, ada Pak Arif, kepala pengelola, dan seorang staf administrasi bernama Mbak Rina.

Formulir itu diletakkan di tengah meja.

Pak Arif langsung bertanya kepadaku.

“Kamu yakin tidak pernah menandatangani?”

“Yakin.”

“Kami perlu hati-hati. Tuduhan pemalsuan tanda tangan serius.”

“Saya tahu.”

Aku meletakkan ponsel di meja.

“Karena itu saya membawa bukti.”

Kutunjukkan foto formulir lamaku.

Kemudian kedua tanda tangan diperbesar.

Pak Arif memperhatikan cukup lama.

Siska tertawa kecil.

“Pak, tanda tangan orang memang bisa berubah.”

“Benar,” jawabku. “Makanya saya tidak hanya membawa itu.”

Wajahnya langsung berubah.

Aku membuka rekaman kamera lorong.

Asrama kami memiliki CCTV, tetapi penghuni tidak bisa mengaksesnya sendiri. Semalam aku menghubungi petugas keamanan dan meminta rekaman diamankan agar tidak terhapus otomatis.

Pak Arif sudah menyetujuinya pagi tadi.

Mbak Rina memutar video.

Pukul 09.13 kemarin.

Siska terlihat masuk ke kantor administrasi sambil membawa formulir.

Sendirian.

Pukul 09.17 ia keluar.

Tidak ada aku.

Tidak ada Dewi.

Tidak ada Lala.

“Ini cuma membuktikan aku yang mengantar,” kata Siska cepat.

“Betul,” jawabku.

Aku membuka pesan lain.

Pesan dari Dewi kepadaku semalam.

Awalnya aku hanya bertanya satu hal.

“Dewi, kamu benar-benar menandatangani formulir itu?”

Jawabannya baru datang pukul 02.06.

“Aku tanda tangan, tapi Siska bilang kamu sudah setuju secara lisan. Aku nggak tahu tanda tanganmu belum ada.”

Dewi langsung pucat.

Siska menoleh kepadanya.

“Kamu kirim itu?”

Dewi mulai menangis.

“Aku takut, Sis.”

“Takut apa?”

“Kamu bilang semuanya sudah beres.”

“Memang sudah!”

“Belum!” bentakku.

Untuk pertama kalinya sejak masalah ini dimulai, suaraku meninggi.

Semua orang diam.

Aku memandang Siska.

“Kamu meminta Lala masuk tengah malam. Aku bilang tidak. Jam empat pagi kamu meminta ranjangku. Aku bilang tidak. Pagi-pagi selimutku kamu berikan tanpa izin. Aku minta dikembalikan. Lalu ketika aku pergi kuliah, kamu memindahkan barangku dan menyerahkan formulir dengan tanda tanganku.”

Siska menatapku dengan mata merah.

“Aku cuma ingin membantu Lala.”

“Dengan mengorbankan orang lain?”

“Dia tidak punya tempat.”

“Dia punya pengelola asrama. Ada prosedur.”

“Prosedur terlalu lama!”

“Lalu karena kamu merasa niatmu baik, kamu boleh melakukan apa saja?”

Siska berdiri.

“Naya, kamu tidak tahu bagaimana rasanya dibuang semua orang!”

Kalimat itu membuat Lala mendadak mengangkat kepala.

Ada sesuatu di wajahnya.

Bukan sedih.

Takut.

Pak Arif menangkap perubahan itu.

“Lala,” katanya perlahan. “Sebenarnya apa yang terjadi di kamar 317?”

Lala diam.

“Teman-teman kamu melaporkan masalah kebersihan dan penggunaan barang tanpa izin. Benar?”

Lala menggigit bibir.

Siska segera menyela.

“Mereka merundung dia, Pak.”

“Saya bertanya kepada Lala.”

Lala mulai menangis.

Namun tangisannya berbeda dari sebelumnya.

Tidak keras.

Tidak dramatis.

Bahu perempuan itu gemetar.

“Aku memang pakai handuk Rani tanpa izin.”

Siska membeku.

“Aku juga pakai skincare Mira.”

“Lala…”

“Diam dulu, Sis.”

Untuk pertama kalinya Lala membentak Siska.

Ia mengusap wajahnya.

“Aku salah. Aku sudah minta maaf. Mereka tidak langsung mengusirku. Bu Ratih sebenarnya sudah menawarkan kamar sementara di lantai satu sampai mediasi selesai.”

Aku menatap Bu Ratih.

Bu Ratih mengangguk perlahan.

“Benar.”

Aku beralih kepada Siska.

“Jadi sejak awal dia punya tempat?”

Siska tidak menjawab.

Lala melanjutkan.

“Aku yang tidak mau di lantai satu karena jauh dari teman-temanku.”

Dadaku terasa sesak.

Jadi semua kekacauan itu bukan karena seseorang akan tidur di lorong.

Bukan karena keadaan darurat.

Siska hanya ingin menjadi penyelamat.

Dan aku dipilih sebagai orang yang harus membayar harga untuk kebaikannya.

Namun kejutan terbesar belum datang.

Mbak Rina tiba-tiba berkata, “Pak, saya ingat sesuatu.”

Ia membuka laci, mengeluarkan sebuah map cokelat, lalu mencari beberapa dokumen.

“Formulir perpanjangan Naya yang lama.”

Aku menatapnya.

“Bukannya sudah dibuang?”

“Tidak. Dokumen salah cetak tetap kami arsipkan sementara.”

Ia mengeluarkan formulir yang pernah kuberikan kepada Siska.

Di bagian bawah terdapat tanda tanganku.

Mbak Rina kemudian mengambil formulir perpindahan Lala dan menumpuk kedua kertas itu.

“Posisinya hampir sama.”

Pak Arif mengerutkan kening.

Kemudian Mbak Rina mengambil pensil dan mengarsir pelan bagian belakang formulir perpindahan.

Perlahan muncul garis samar.

Bekas tekanan.

Tanda tanganku.

Seseorang ternyata meletakkan formulir kosong di atas dokumen lamaku, menjiplak tekanan tanda tangan, lalu menebalkannya dengan pulpen.

Wajah Siska kehilangan warna.

Dewi menutup mulut.

Lala menatapnya seolah baru mengenal orang yang selama ini membelanya.

Pak Arif berkata pelan, “Siska?”

Tidak ada jawaban.

“Saya minta kejujuran.”

Air mata Siska jatuh.

“Aku cuma ingin semuanya cepat selesai.”

Aku tidak berkata apa-apa.

“Aku pikir kalau Naya sudah melihat Lala tinggal di kamar, lama-lama dia akan menerima.”

“Jadi kamu memalsukan tanda tanganku?”

“Aku tahu kamu bakal menolak.”

“Itulah gunanya persetujuan.”

Siska menangis semakin keras.

“Aku capek selalu dianggap sok baik! Semua orang bilang aku cuma cari perhatian. Aku cuma ingin sekali membuktikan kalau aku bisa membantu seseorang.”

Aku akhirnya memahami sesuatu.

Selama ini Siska tidak benar-benar membutuhkan orang untuk ditolong.

Ia membutuhkan dirinya sendiri terlihat sebagai penolong.

Dan ketika kenyataan tidak sesuai dengan cerita yang ingin dibangunnya, ia memaksa kenyataan mengikuti keinginannya.

Pak Arif mencabut formulir tersebut.

“Perpindahan Lala dibatalkan.”

Lala akan ditempatkan sementara di kamar transit lantai satu sambil menunggu keputusan mediasi dengan kamar 317.

Siska mendapat surat peringatan berat dan kasus pemalsuan dokumen diteruskan kepada pihak kemahasiswaan.

Dewi mendapat teguran karena menandatangani formulir berdasarkan informasi yang tidak diverifikasi.

Aku kembali ke kamar sore itu.

Untuk pertama kalinya sejak kemarin, suasananya benar-benar sunyi.

Barang-barang Lala sudah hilang.

Aku membersihkan meja dengan disinfektan, mengganti sprei, mencuci sarung bantal, lalu mengeluarkan kantong laundry berisi selimut bunga melati pemberian Ibu.

Aku hampir memasukkannya ke mesin cuci ketika menemukan sesuatu di dasar kantong.

Sebuah amplop kecil.

Aku yakin sebelumnya tidak ada di sana.

Di dalamnya terdapat uang dua ratus ribu rupiah dan secarik kertas.

Tulisan tangan Lala.

“Kak Naya, maaf karena memakai selimut dan tempat Kakak tanpa izin. Aku pikir karena Siska bilang Kakak sebenarnya baik, Kakak pasti akan mengalah. Sekarang aku sadar, orang baik bukan berarti orang yang harus selalu mengalah.”

Aku duduk di tepi ranjang.

Ada kalimat lain di bagian bawah.

“Terima kasih karena Kakak marah. Kalau tidak, mungkin aku akan terus merasa semua orang yang menetapkan batas adalah orang jahat.”

Aku membaca kalimat itu dua kali.

Lalu memasukkan uangnya kembali ke amplop.

Malamnya, ketika aku sedang memasang tirai ranjang, Siska masuk.

Matanya bengkak.

Ia berdiri lama di dekat pintu.

“Naya.”

Aku menoleh.

“Aku sudah diminta pindah kamar mulai besok.”

Aku mengangguk.

Dia menunduk.

“Aku tahu maaf tidak menghapus apa yang aku lakukan.”

Aku tidak menjawab.

“Aku cuma mau bilang… aku benar-benar minta maaf.”

Aku menatap perempuan yang hampir dua tahun menjadi teman sekamarku.

Aneh.

Aku tidak membencinya.

Tetapi aku juga tidak ingin berpura-pura semuanya bisa kembali seperti semula.

“Aku menerima permintaan maafmu,” kataku.

Matanya sedikit berbinar.

“Tapi aku tidak bisa langsung mempercayaimu lagi.”

Wajahnya kembali jatuh.

Aku melanjutkan.

“Memaafkan dan memberikan kepercayaan lagi itu dua hal berbeda.”

Siska mengangguk pelan.

Sebelum pergi, ia berhenti di pintu.

“Naya.”

“Ya?”

“Kenapa kamu tidak melaporkan ini sebagai pemalsuan dokumen ke polisi?”

Aku menatap selimut bunga melati yang kini tergantung di kursi.

“Karena aku ingin kamu belajar dari akibatnya, bukan hancur karena satu kesalahan.”

Siska menangis lagi.

Kali ini aku tidak menghampirinya.

Ia pergi sendiri.

Beberapa hari kemudian, Ibu menelepon.

Aku menceritakan semuanya, termasuk selimut yang dipakai tanpa izin.

Kupikir Ibu akan marah.

Ia justru tertawa kecil.

“Selimut bisa dicuci, Nduk.”

“Aku tahu.”

“Tapi kamu tetap benar karena meminta izin.”

Aku terdiam.

Ibu kemudian mengatakan sesuatu yang terus kuingat sampai sekarang.

“Jangan pernah merasa bersalah karena punya batas. Rumah yang tidak punya pintu bukan berarti lebih ramah. Kadang justru lebih mudah dimasuki orang yang tidak tahu kapan harus berhenti.”

Aku memandang ranjangku.

Tirai baru sudah terpasang.

Meja sudah bersih.

Selimut bunga melati sudah dicuci dan kembali wangi.

Aku akhirnya memahami bahwa masalah terbesar malam itu sebenarnya tidak pernah tentang sebuah ranjang.

Bukan pula tentang selimut.

Bukan tentang kamar 317 atau mahasiswa yang membutuhkan tempat sementara.

Masalahnya adalah satu kata sederhana yang terlalu sering dianggap sepele.

Tidak.

Ada orang yang menganggap “tidak” sebagai awal negosiasi.

Ada yang menganggapnya tanda egoisme.

Ada pula yang merasa niat baik memberi mereka hak untuk mengabaikannya.

Padahal “tidak” adalah sebuah jawaban.

Dan orang yang benar-benar menghargaimu tidak akan membutuhkan tanda tangan palsu untuk mengubah jawaban itu menjadi “ya”.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang