Aku tidak langsung menjawab.
Kalimat staf HR itu terasa jauh lebih mengerikan daripada angka 56 yang baru saja kulihat.
“Sejak dua minggu lalu?” tanyaku pelan.
Perempuan bernama Nita itu menunduk. Wajahnya tampak seperti seseorang yang baru menyadari telah mengatakan sesuatu yang seharusnya disimpan rapat.
“Kak Ayu, saya bisa kena masalah.”

“Tenang. Aku tidak akan menyeret namamu.”
Aku menutup map di meja.
“Aku cuma ingin tahu apakah keputusan promosi ini memang sudah dibuat sebelum seleksi.”
Nita menggigit bibir, lalu mengangguk kecil.
“HR menerima instruksi untuk menyiapkan draft surat pengangkatan Mbak Kirana. Katanya supaya administrasi cepat kalau hasil seleksi sudah keluar.”
“Siapa yang memberi instruksi?”
Nita tidak menjawab.
Ia tidak perlu menjawab.
Aku sudah tahu.
Aku memotret cap waktu pada dokumen itu, lalu mengembalikannya persis seperti semula.
Malam itu aku tidak langsung pulang.
Aku duduk sendirian di ruang kerjaku sampai hampir tengah malam, membuka satu demi satu arsip proyek tujuh tahun terakhir.
Untuk pertama kalinya, aku tidak melihat pekerjaanku sebagai seseorang yang ingin membuktikan kesetiaan kepada perusahaan.
Aku melihatnya sebagai bukti.
Kontrak.
Email.
Notulen rapat.
Laporan negosiasi.
Proposal yang kutulis.
Presentasi yang kususun.
Semakin banyak yang kubuka, semakin jelas sesuatu yang selama ini tidak pernah kusadari.
Namaku perlahan menghilang dari pekerjaan-pekerjaan terbesar yang pernah kukerjakan.
Proyek ekspansi Jawa Timur yang kurintis selama delapan bulan tercatat sebagai pencapaian direktur komersial.
Kerja sama dengan jaringan ritel nasional yang negosiasinya kupimpin sampai pukul tiga pagi disebut sebagai “inisiatif strategis CEO”.
Bahkan model kemitraan regional yang kini menjadi salah satu sumber pendapatan terbesar Sagara berasal dari proposal yang kutulis enam tahun lalu.
Saat itu Arga pernah memelukku di dapur apartemen sambil berkata, “Kalau perusahaan ini selamat, separuhnya karena kamu.”
Tetapi dalam laporan tahunan, namaku hanya muncul sekali.
Sebagai anggota tim.
Pukul dua belas lewat tujuh belas menit, pintu apartemen terbuka.
Aku sedang duduk di meja makan ketika Arga masuk.
Dia melepas jasnya seolah tidak terjadi apa-apa.
“Kok belum tidur?”
Aku menatapnya.
“Dari mana?”
“Makan malam dengan tim.”
“Tim atau Kirana?”
Gerakannya berhenti.
Hanya sebentar.
Lalu ia meletakkan kunci mobil.
“Jangan mulai, Ayu.”
Aku hampir tidak percaya.
“Mulai apa?”
“Kamu sedang kecewa karena promosi. Jangan campur urusan pribadi dengan pekerjaan.”
Aku mengeluarkan ponsel dan memperlihatkan foto lembar penilaian.
Wajah Arga berubah.
“Dari mana kamu dapat itu?”
Pertanyaan pertama yang keluar bukan mengapa aku memberimu 56.
Melainkan dari mana kamu mendapatkannya.
Saat itulah sesuatu dalam diriku benar-benar mati.
“Aku cuma mau satu jawaban. Kenapa 56?”
Arga mengembuskan napas panjang.
“Karena aku harus objektif.”
Aku tertawa.
“Objektif?”
“Aku justru harus lebih keras menilaimu karena kita punya hubungan. Kalau aku memberimu nilai tinggi, orang akan curiga.”
“Lalu 97 untuk Kirana?”
“Dia punya potensi.”
“Nilainya kamu kirim tiga hari sebelum presentasi.”
Arga terdiam.
Aku berdiri.
“Surat pengangkatannya bahkan sudah disiapkan dua minggu sebelumnya.”
“Ayu.”
“Jadi presentasi itu apa? Teater?”
Nada suaraku akhirnya naik.
“Lima juri lain memberiku rata-rata di atas delapan puluh delapan. Kamu satu-satunya yang memberiku 56. Bukan karena pekerjaanku buruk. Kamu menulis aku berisiko memanfaatkan kedekatan dengan manajemen.”
“Aku melindungi perusahaan.”
“Dari siapa? Dari pacarmu sendiri?”
Arga menatapku tajam.
“Kamu terlalu emosional.”
Kalimat itu membuatku mendadak tenang.
Aku memandang pria yang sudah tujuh tahun kucintai dan tiba-tiba merasa sedang melihat orang asing.
“Kalung Kirana berapa harganya?”
Wajahnya mengeras.
“Itu tidak ada hubungannya.”
“Lebih dari satu miliar?”
“Itu hadiah profesional.”
Aku tertawa begitu keras sampai mataku kembali berair.
“Hadiah profesional?”
“Ayahnya adalah salah satu calon investor kita.”
Aku terdiam.
Itulah potongan terakhir yang kubutuhkan.
“Jadi dia dipromosikan karena ayahnya?”
“Jangan menyederhanakan sesuatu yang tidak kamu pahami.”
Arga berjalan mendekat.
“Sagara sedang menyiapkan pendanaan besar. Kita membutuhkan jaringan keluarga Maheswari. Kirana masuk struktur manajemen akan memperkuat kepercayaan mereka.”
“Dan aku harus disingkirkan.”
“Tidak ada yang menyingkirkanmu.”
“Lalu apa namanya?”
“Kamu tetap punya pekerjaan.”
Kalimat itu begitu dingin.
Seolah tujuh tahun hidupku dapat diganti dengan slip gaji bulanan.
Aku mengangguk.
“Baik.”
Arga tampak sedikit lega.
Mungkin dia mengira aku menyerah.
Lalu aku berkata, “Aku resign.”
“Ayu, jangan kekanak-kanakan.”
“Aku juga pindah dari apartemen ini.”
“Apa?”
“Hubungan kita selesai.”
Kali ini wajahnya benar-benar berubah.
“Kamu memutuskan tujuh tahun hubungan cuma karena tidak dapat promosi?”
Aku menatapnya lama.
“Bukan karena aku tidak mendapat promosi.”
Aku mengambil tas.
“Aku pergi karena setelah tujuh tahun membuktikan aku tidak mengincar uangmu, ternyata yang menganggapku murahan sejak awal adalah kamu.”
Aku menginap di hotel malam itu.
Pagi berikutnya, surat pengunduran diriku masuk ke HR.
Arga menelepon tujuh belas kali.
Tidak satu pun kuangkat.
Tiga hari kemudian, kabar pengunduran diriku menyebar ke seluruh perusahaan.
Beberapa orang mengirim pesan.
Ada yang terkejut.
Ada yang menyuruhku mempertimbangkan kembali.
Namun yang paling mengejutkanku datang dari Pak Surya, salah satu komisaris independen Sagara.
Ia mengajakku bertemu di sebuah kedai kopi di Senayan.
Begitu aku duduk, ia meletakkan tablet di meja.
“Ayu, saya mau tanya sesuatu. Kamu yang membuat model kemitraan regional ini?”
Aku melihat layar.
Itu proposal lamaku.
“Iya.”
“Kenapa nama Arga yang tercantum sebagai penggagas?”
Aku tidak menjawab.
Pak Surya membuka dokumen lain.
“Dan sistem insentif mitra?”
“Saya.”
“Negosiasi Surabaya?”
“Saya memimpin timnya.”
Ia menatapku beberapa detik.
“Berarti dugaan saya benar.”
“Dugaan apa?”
Pak Surya bersandar.
“Selama beberapa tahun, dewan menerima laporan bahwa kamu adalah eksekutor yang baik, tapi sebagian besar strategi berasal dari Arga.”
Aku merasa tenggorokanku kering.
“Siapa yang membuat laporan?”
“Arga.”
Aku menunduk.
Ternyata 56 bukan pertama kalinya dia mengecilkanku.
Hanya pertama kalinya aku melihat angkanya.
Pak Surya kemudian menjelaskan bahwa dewan sedang mengaudit proses promosi karena dua juri mempertanyakan hasil akhir. Perbedaan nilai antara lima juri dan Arga terlalu ekstrem.
Aku menyerahkan foto dokumen yang kusimpan.
Termasuk cap waktu penilaian Kirana.
Wajah Pak Surya langsung serius.
“Ini bisa menjadi konflik kepentingan.”
“Ayah Kirana calon investor.”
Pak Surya menatapku.
“Dari mana kamu tahu?”
“Arga sendiri yang bilang.”
Seminggu kemudian, semuanya meledak.
Audit internal menemukan bahwa ayah Kirana memang sedang menegosiasikan investasi melalui salah satu perusahaan keluarganya.
Namun kejutan terbesar bukan itu.
Tim legal menemukan draft perjanjian sampingan.
Jika pendanaan berhasil, Arga akan memperoleh hak membeli saham tambahan dengan harga khusus.
Artinya promosi Kirana bukan sekadar hadiah kepada anak investor.
Ada keuntungan pribadi yang mungkin diterima Arga.
Dewan membekukan proses pengangkatan Kirana.
Perjalanan Singapura dibatalkan.
Arga dipanggil ke rapat komisaris.
Untuk pertama kalinya sejak mendirikan Sagara, kewenangannya sebagai CEO dibatasi selama investigasi.
Kirana menghubungiku malam itu.
Aku hampir tidak mengangkatnya.
“Kak Ayu, saya minta maaf.”
Suaranya gemetar.
“Aku tidak butuh permintaan maaf kalau kamu tahu sejak awal.”
“Itulah masalahnya. Saya tidak tahu.”
Aku diam.
Kirana mulai menangis.
Ia mengatakan kalung itu bukan hadiah dari Arga secara pribadi. Arga menyuruh staf membelinya menggunakan anggaran relasi perusahaan, lalu menyebutnya hadiah ucapan selamat.
Kirana bahkan sudah berusaha menolak.
“Kenapa kamu menerima promosi?”
“Karena saya pikir saya memang menang.”
Jawabannya membuatku kehilangan alasan untuk membencinya.
Kirana hanyalah bidak lain.
Dua hari kemudian, ia mengundurkan diri dari posisi barunya dan memberikan seluruh email Arga kepada tim audit.
Salah satu email berisi kalimat yang menghancurkan pertahanan terakhir Arga.
“Pastikan Ayu tidak masuk dua besar. Kalau dia menang, terlalu sulit menjelaskan kepada Maheswari mengapa posisi strategis tidak diberikan kepada Kirana.”
Aku membacanya tanpa menangis.
Aneh.
Ternyata ada titik ketika sakit sudah terlalu dalam sampai air mata tidak lagi keluar.
Sebulan setelah malam siomay itu, dewan meminta Arga mundur sementara sebagai CEO.
Kasusnya tidak langsung menjadi perkara pidana karena audit masih berjalan, tetapi reputasinya runtuh.
Pendanaan keluarga Maheswari batal.
Beberapa eksekutif senior meninggalkan perusahaan.
Sagara mulai kehilangan kontrak.
Suatu malam Arga menungguku di depan kos sementara yang kutempati.
Dia tampak jauh lebih kurus.
“Aku cuma mau bicara lima menit.”
“Aku tidak punya apa-apa lagi untuk dibicarakan.”
“Aku salah.”
Aku berhenti.
Tujuh tahun aku menunggu pria itu mengakui kesalahan tanpa mencari alasan.
Akhirnya kalimat itu datang ketika semuanya sudah terlambat.
“Aku takut,” katanya.
“Takut apa?”
“Kamu terlalu bagus.”
Aku mengernyit.
Arga tertawa pahit.
“Setiap tahun kamu semakin kuat. Orang-orang mulai lebih percaya kepadamu daripada kepadaku. Investor suka presentasimu. Tim mengikuti keputusanmu. Aku mulai merasa kalau suatu hari kamu sadar kamu tidak membutuhkan aku, kamu akan pergi.”
Aku menatapnya tak percaya.
“Jadi kamu menghancurkan karierku supaya aku tetap membutuhkanmu?”
“Aku tidak merasa sedang menghancurkanmu.”
“Karena kamu melakukannya sedikit demi sedikit.”
Arga menunduk.
“Mantan tunanganku meninggalkanku saat aku tidak punya uang. Setelah itu aku selalu takut perempuan mendekat karena apa yang kumiliki.”
Aku mengangguk.
“Dan aku menghabiskan tujuh tahun membayar harga dari kesalahan perempuan lain.”
Dia menangis.
Aku tidak.
“Lucunya, Ga, aku tidak pernah mengincar uangmu.”
“Aku tahu sekarang.”
“Tidak. Kamu tidak pernah benar-benar tahu siapa aku.”
Aku berjalan meninggalkannya.
Enam bulan kemudian, aku berdiri di ruang rapat sebuah perusahaan teknologi logistik di Jakarta Selatan.
Bukan sebagai pelamar.
Bukan pula sebagai kepala divisi.
Pak Surya dan dua mantan investor Sagara mengajakku mendirikan perusahaan baru yang fokus pada sistem kemitraan regional untuk UMKM dan jaringan distribusi.
Mereka menawarkan saham.
Aku sempat takut menerimanya.
Tujuh tahun hidup bersama Arga membuatku terbiasa merasa bersalah setiap kali menerima sesuatu yang bernilai besar.
Pak Surya hanya berkata, “Ini bukan hadiah, Ayu. Ini nilai dari pekerjaanmu.”
Untuk pertama kalinya, aku belajar bahwa menerima penghargaan yang memang pantas kita dapatkan bukan berarti serakah.
Dua tahun kemudian, perusahaan kami membuka kantor cabang pertama di Singapura.
Aku berdiri di dekat jendela ruang konferensi, memandang Marina Bay setelah menandatangani kontrak terbesar dalam hidupku.
Ponselku bergetar.
Sebuah pesan dari nomor yang sudah lama tidak kusimpan.
Arga.
“Aku membaca beritanya. Selamat. Ternyata sejak dulu memang kamu yang lebih hebat.”
Aku membaca pesan itu sekali.
Lalu menghapusnya.
Malamnya, setelah acara selesai, aku berjalan sendirian mencari makan.
Di sebuah pusat jajanan, aku melihat siomay versi lokal yang membuatku teringat malam di Blok M.
Aku tersenyum dan membeli satu porsi makanan lain yang harganya jauh lebih mahal daripada dua puluh delapan ribu rupiah.
Ketika hendak membayar, seorang rekan bisnis yang berdiri di sampingku berkata sambil bercanda, “Biar saya traktir. Kita baru saja dapat kontrak besar.”
Dulu aku pasti langsung menolak.
Aku pasti membuka dompet dan memaksa membayar sendiri agar tidak berutang apa pun kepada siapa pun.
Namun malam itu aku hanya tersenyum.
“Baik. Terima kasih.”
Sesederhana itu.
Aku akhirnya memahami sesuatu yang membutuhkan tujuh tahun dan satu angka 56 untuk kupelajari.
Perempuan mata duitan bukanlah perempuan yang menerima hadiah, makan malam, atau bantuan dari seseorang yang menyayanginya.
Dan perempuan mandiri bukanlah perempuan yang harus terus-menerus membuktikan bahwa dirinya tidak membutuhkan siapa pun.
Cinta yang sehat tidak meminta kita mengecilkan diri supaya pasangan merasa aman.
Ia tidak menjadikan trauma sebagai pengadilan tempat kita harus membuktikan ketidakbersalahan setiap hari.
Angka 56 yang dulu terasa seperti penghinaan terbesar dalam hidupku akhirnya menjadi angka yang menyelamatkanku.
Karena tanpa angka itu, mungkin aku masih berada di apartemen yang sama, tidur di samping seorang pria yang diam-diam memotong sayapku sambil membuatku percaya bahwa aku sedang belajar terbang sendiri.
Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ketika seseorang membukakan pintu mobil untukku malam itu, aku tidak bertanya dalam hati berapa harga yang harus kubayar untuk kebaikan tersebut.
Aku hanya masuk, mengucapkan terima kasih, lalu membiarkan pintu itu tertutup di belakangku.
Karena ada pintu yang tertutup untuk mengurung kita.
Ada pula pintu yang harus ditutup agar kita akhirnya bisa pergi.
