Riana merasa darah di tubuhnya seolah berhenti mengalir.
“Dia datang untuk menghancurkan karier saya sekaligus mengambil Alya?”
Suaranya nyaris tak terdengar.
Raditya tidak menjawab dengan dugaan. Ia membuka kembali laporan audit di ponselnya, lalu meletakkannya di meja agar Riana bisa melihat sendiri catatan akses sistem yang baru diterima.
Nama Dion Wijaya muncul di sana.
Pukul 07.42.
Akun tamu miliknya mengakses folder kampanye yang hanya boleh dibuka oleh tim kreatif dan jajaran direksi.
Pukul 07.51.
Sebuah perangkat penyimpanan eksternal terhubung ke komputer yang digunakan Dion.
Pukul 08.06.
Email anonim dikirim kepada tiga anggota dewan, menuduh Riana membocorkan materi kampanye kepada kompetitor.
Riana menutup mulutnya.
“Tidak mungkin.”
“Log sistem tidak punya alasan untuk berbohong,” kata Raditya.
“Tapi kenapa?”
Pertanyaan itu keluar seperti bisikan.
Riana sebenarnya sudah tahu jawabannya.
Hak asuh.
Jika Dion dapat membuktikan bahwa Riana kehilangan pekerjaan akibat pelanggaran profesional, posisinya dalam persidangan akan jauh lebih lemah. Dion bisa menggambarkannya sebagai ibu tunggal tanpa kestabilan finansial, terlalu sibuk bekerja, membawa anak ke kantor, kemudian dipecat karena membocorkan rahasia perusahaan.
Semua potongan itu terlalu sempurna.
Terlalu rapi.
Dan terlalu kejam untuk disebut kebetulan.
“Alya.”
Riana segera berjongkok di depan putrinya.
“Ibu harus rapat sebentar. Kamu tetap di sini, ya?”
Alya memandang wajah ibunya lama.
“Ibu takut?”
Pertanyaan sederhana itu menusuk lebih dalam daripada apa pun.
Riana memaksakan senyum.
“Sedikit.”
Alya meletakkan boneka pandanya ke pangkuan Riana.
“Kalau takut, pegang Pongo.”
Riana tertawa kecil dengan mata berkaca-kaca.
“Kalau Pongo ikut Ibu, kamu bagaimana?”
Alya menunjuk Raditya.
“Alya sama calon papa.”
Raditya yang sedang membaca pesan hampir tersedak.
Riana memejamkan mata.
“Alya.”
“Apa? Kan masih wawancara.”
Untuk pertama kalinya sejak mengetahui rencana Dion, Riana bisa menarik napas sedikit lebih lega.
Raditya menghubungi sekretarisnya dan meminta seorang staf perempuan dari bagian HR menemani Alya. Setelah memastikan putrinya aman, Riana berjalan bersama Raditya menuju ruang rapat utama.
Namun sebelum masuk, Raditya menghentikan langkahnya.
“Riana.”
“Ya, Pak?”
“Kamu tetap melakukan presentasi.”
Riana menatapnya tidak percaya.
“Dengan situasi seperti ini?”
“Justru karena situasinya seperti ini.”
Raditya membuka pintu.
“Jangan berikan kesempatan kepada siapa pun untuk mengatakan bahwa kamu mendapatkan perlakuan khusus.”
Ruang rapat di lantai 28 itu sudah dipenuhi sebelas orang.
Dion duduk di sisi kanan meja dengan laptop terbuka.
Ketika melihat Riana masuk bersama Raditya, senyum tipis muncul di wajahnya.
Senyum seseorang yang yakin jebakannya sudah bekerja.
“Maaf,” ujar salah seorang komisaris. “Sebelum presentasi dimulai, kami menerima laporan yang perlu diklarifikasi.”
Dion segera menyela.
“Saya juga baru mengetahuinya pagi ini.”
Riana menatapnya.
Pria itu bahkan mampu berbohong tanpa mengubah nada suara.
“Kalau memang menyangkut kebocoran data,” lanjut Dion, “saya kira perusahaan harus mengambil tindakan tegas. Tidak peduli siapa pelakunya.”
“Setuju,” jawab Raditya.
Dion tersenyum.
Ia belum menyadari jebakannya mulai berbalik arah.
Direktur teknologi menyalakan layar besar.
Email anonim muncul.
Beberapa anggota dewan mulai membaca.
Dion bersandar santai.
“Bu Riana,” katanya, “saya memahami Anda sedang menghadapi banyak tekanan pribadi. Perceraian, anak, tuntutan pekerjaan. Kadang orang mengambil keputusan buruk ketika terdesak.”
Riana mengepalkan tangan di bawah meja.
Dulu kalimat seperti itu selalu berhasil membuatnya mempertanyakan dirinya sendiri.
Selama delapan tahun pernikahan, Dion tidak pernah perlu berteriak untuk membuat Riana merasa kecil.
Ia hanya perlu berbicara seolah semua kesalahan adalah akibat ketidakmampuan Riana.
Ketika Alya sakit, Riana dianggap ibu yang panik.
Ketika Riana lembur, ia dianggap istri yang mengabaikan keluarga.
Ketika Riana meminta Dion meluangkan waktu untuk putrinya, ia dituduh terlalu menuntut.
Hari itu, untuk pertama kalinya, Riana tidak merasa perlu menjelaskan dirinya.
“Kalau ada bukti saya membocorkan data,” katanya tenang, “silakan tampilkan.”
Dion sedikit mengernyit.
Raditya memberi isyarat kepada kepala keamanan informasi.
Layar berganti.
Log akses muncul.
Nama Dion Wijaya terpampang besar.
Ruangan langsung sunyi.
Senyum Dion menghilang.
“Apa ini?”
Kepala keamanan menjawab datar.
“Catatan akses jaringan pagi ini.”
“Itu tidak membuktikan apa pun. Saya konsultan hukum. Saya memiliki akses ke beberapa dokumen perusahaan.”

“Tidak ke folder kampanye ini.”
Wajah Dion mulai menegang.
Ia menoleh kepada Raditya.
“Pak Raditya, ini pasti kesalahan sistem.”
“Mungkin.”
Raditya menyandarkan tubuhnya.
“Itulah sebabnya kami memeriksa perangkat yang digunakan.”
Layar berubah lagi.
Terlihat foto komputer, perangkat USB, dan tas kerja Dion.
Kemudian foto map hitam muncul.
RIANA SARI.
BUKTI HAK ASUH DAN PELANGGARAN PROFESIONAL.
Seseorang di ujung meja mengembuskan napas panjang.
Dion berdiri.
“Anda memeriksa barang pribadi saya tanpa izin?”
“Map itu terlihat ketika petugas keamanan meminta Anda meninggalkan tas di area pemeriksaan karena perangkat USB yang tidak terdaftar terdeteksi jaringan,” jawab kepala keamanan. “Kami belum membuka isinya.”
Dion tampak lega selama sepersekian detik.
Kesalahan kecil itu tidak luput dari Riana.
“Buka.”
Semua orang menoleh kepadanya.
Dion langsung berkata, “Anda tidak punya hak.”
Riana menatap mantan suaminya.
“Kalau map itu digunakan sebagai bukti untuk gugatan hak asuh saya, saya ingin tahu apa isinya.”
“Ini bukan pengadilan.”
“Benar.”
Raditya berdiri.
“Jadi kita tidak akan membukanya tanpa prosedur hukum.”
Ia kemudian menatap Dion.
“Tapi kontrak Anda dengan Santoso Group memungkinkan perusahaan menghentikan akses Anda sementara jika ada indikasi pelanggaran keamanan.”
Dion tertawa pendek.
“Karena sebuah log komputer?”
“Bukan hanya itu.”
Raditya memberikan isyarat lagi.
Layar menampilkan rekaman CCTV.
Pukul 07.38.
Dion terlihat masuk ke ruang kerja sementara.
Pukul 07.40.
Ia memasang USB.
Pukul 08.02.
Ia keluar.
Beberapa menit kemudian, seorang pria dari perusahaan kompetitor menerima sebuah amplop dari kurir di lobi gedung sebelah.
Riana menatap layar.
Ia mengenali pria itu.
Bukan karena pernah bertemu langsung.
Wajahnya ada di salah satu dokumen riset kompetitor.
Direktur pemasaran perusahaan pesaing.
“Bagaimana Anda mendapatkan rekaman gedung sebelah?” tanya Dion cepat.
Raditya menatapnya.
“Saya belum mengatakan bahwa pria itu menerima file kampanye.”
Ruangan kembali sunyi.
Dion baru menyadari kesalahannya.
Ia mengetahui sesuatu yang belum disebutkan.
Wajahnya berubah pucat.
Raditya tidak perlu meninggikan suara.
“Bagaimana Anda tahu rekaman itu berkaitan dengan file kampanye, Pak Dion?”
Dion membuka mulut, tetapi tidak ada jawaban keluar.
Untuk pertama kalinya, Riana melihat mantan suaminya kehilangan kendali.
“Ini jebakan.”
Dion menunjuk Riana.
“Dia yang merencanakan semuanya.”
Riana hampir tertawa karena absurditas tuduhan itu.
“Saya bahkan tidak tahu kamu datang hari ini.”
“Kamu selalu seperti ini,” bentak Dion. “Selalu berpura-pura jadi korban.”
Nada suaranya semakin tinggi.
“Kamu pikir karena sekarang punya jabatan, kamu lebih baik dariku?”
Riana menatapnya lama.
Tiba-tiba ia memahami sesuatu.
Semua ini bukan hanya soal Alya.
Bukan hanya soal hak asuh.
Dion ingin menghancurkannya karena Riana berhasil hidup tanpa dirinya.
Setelah perceraian, Riana tidak runtuh seperti yang Dion bayangkan.
Ia bekerja.
Membesarkan Alya.
Naik jabatan.
Membeli apartemen kecil dengan uang sendiri.
Dan semakin Riana berdiri tegak, semakin Dion kehilangan kendali yang dulu dimilikinya.
“Kamu tidak benar-benar menginginkan Alya, kan?” tanya Riana.
Dion terdiam.
“Kamu hampir tidak pernah datang menemuinya selama tiga tahun.”
“Jangan membawa masalah keluarga ke sini.”
“Kamu yang membawanya.”
Suara Riana bergetar, tetapi bukan karena takut.
“Kamu menggugat hak asuh dua minggu setelah tahu aku masuk kandidat direktur kreatif.”
Mata Dion bergerak.
Riana melihatnya.
Sebuah kebenaran yang selama ini tersembunyi.
“Kenapa?”
Dion tidak menjawab.
Kemudian pintu ruang rapat terbuka.
Kepala divisi legal internal masuk bersama dua staf.
Ia menyerahkan tablet kepada Raditya.
“Kami menemukan sesuatu.”
Dion langsung menegang.
Ternyata audit terhadap akun tamunya membuka jejak lain.
Selama enam bulan terakhir, Dion beberapa kali mengakses dokumen kontrak yang tidak berkaitan dengan tugas konsultasinya.
Salah satunya adalah dokumen kompensasi eksekutif.
Di sana tercantum bahwa jika Riana dipromosikan menjadi direktur kreatif dan kampanye Rp12 miliar berhasil, ia akan mendapatkan bonus kinerja dan saham perusahaan dalam jumlah signifikan.
Namun ada temuan yang lebih mengejutkan.
Dion sedang terlilit utang besar.
Investasi propertinya gagal.
Dua rekeningnya berada dalam proses penyitaan.
Dan tiga minggu sebelumnya, ia mengajukan permohonan pinjaman menggunakan dokumen yang menyebut Alya sebagai tanggungan sekaligus menyertakan proyeksi nafkah dari Riana apabila hak asuh berpindah kepadanya.
Riana merasa mual.
Jadi Alya bukan anak yang ingin direbut karena cinta.
Putrinya telah diubah menjadi angka dalam perhitungan finansial.
“Kamu mau mengambil Alya demi uang?”
Dion tidak menjawab.
Riana mendekatinya.
“Tiga tahun dia menunggu kamu datang setiap ulang tahun.”
Dion mengalihkan pandangan.
“Tiga tahun aku yang menjelaskan kenapa papanya tidak datang.”
Suara Riana mulai pecah.
“Dan sekarang kamu datang bukan karena merindukannya, tapi karena membutuhkan uang?”
“Cukup!”
Dion menghantam meja.
Pintu terbuka hampir bersamaan.
Alya berdiri di sana.
Staf HR di belakangnya tampak panik.
“Maaf, Bu. Dia mendengar suara keras dan langsung berlari.”
Riana membeku.
Alya menatap ayahnya.
Tidak ada tangisan.
Justru ketenangan di wajah kecil itu terasa lebih menyakitkan.
“Papa marah sama Ibu lagi?”
Dion tidak menjawab.
Alya mendekati Riana dan menggenggam tangannya.
“Alya nggak mau ikut Papa.”
“Alya,” kata Dion, mencoba melembutkan suara, “ini urusan orang dewasa.”
Gadis kecil itu menggeleng.
“Papa bilang Ibu mau buang Alya.”
Dion pucat.
Riana menatapnya tajam.
Alya melanjutkan.
“Waktu Papa datang ke sekolah.”
Riana terkejut.
“Kapan Dion datang ke sekolahmu?”
“Minggu lalu.”
Riana tidak pernah diberi tahu.
Alya menunduk.
“Papa bilang kalau Alya bilang Ibu sering pulang malam, nanti Alya bisa tinggal di rumah besar sama Papa.”
Beberapa orang di ruang rapat saling berpandangan.
Dion segera mengambil tasnya.
“Saya tidak perlu mendengarkan omong kosong anak kecil.”
Ia berjalan menuju pintu.
Namun dua petugas keamanan sudah menunggu.
Raditya berdiri.
“Perangkat perusahaan yang Anda gunakan akan diamankan untuk investigasi. Kerja sama Anda dengan Santoso Group dihentikan sementara mulai detik ini.”
Dion berbalik.
“Dan Anda pikir bisa mempermalukan saya seperti ini?”
“Tidak.”
Raditya menatapnya dingin.
“Anda melakukannya sendiri.”
Dion dibawa keluar.
Riana tidak merasa menang.
Ia hanya memeluk Alya erat.
Presentasi akhirnya dimulai hampir satu jam terlambat.
Raditya menawarkan penjadwalan ulang.
Riana menolak.
Ia berdiri di depan layar dengan mata yang masih merah.
Lalu selama empat puluh menit berikutnya, ia melakukan satu-satunya hal yang sejak awal ingin ia lakukan.
Membiarkan pekerjaannya berbicara.
Tidak ada drama.
Tidak ada belas kasihan.
Tidak ada perlakuan khusus.
Hanya strategi, data, konsep kreatif, analisis pasar, dan tujuh bulan kerja keras timnya.
Ketika selesai, ruangan diam selama beberapa detik.
Kemudian komisaris utama menutup dokumen di depannya.
“Konsep disetujui.”
Riana mengembuskan napas.
“Dan rekomendasi promosi Anda akan tetap diproses berdasarkan evaluasi kinerja.”
Air mata akhirnya jatuh.
Bukan karena Dion.
Karena untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Riana merasa hidupnya benar-benar kembali menjadi miliknya.
Dua bulan kemudian, pengadilan menolak permohonan hak asuh penuh Dion setelah bukti manipulasi terhadap Alya, pelanggaran kewajiban nafkah, serta hasil investigasi perusahaan diserahkan melalui prosedur hukum.
Investigasi Santoso Group juga menemukan cukup bukti untuk membawa dugaan pencurian data ke proses hukum lebih lanjut.
Namun kejutan terbesar justru terjadi pada sebuah Jumat sore.
Riana baru keluar dari lift ketika melihat Alya duduk di sofa lobi bersama Raditya.
Di meja mereka terdapat tiga gelas cokelat.
Riana mengerutkan kening.
“Kenapa kalian berdua ada di sini?”
Alya tersenyum lebar.
“Wawancara.”
Raditya terlihat sedikit salah tingkah.
Riana hampir tertawa.
“Wawancara apa?”
Alya berbisik keras kepada ibunya.
“Calon papa.”
“Alya!”
Raditya tertawa.
Namun kali ini ia tidak menganggapnya sekadar lelucon.
Selama dua bulan terakhir, Raditya memang beberapa kali makan bersama Riana dan Alya. Awalnya karena urusan pekerjaan. Kemudian karena kebetulan. Setelah itu, mereka berhenti mencari alasan.
Raditya berdiri.
“Sebenarnya saya ingin meminta izin.”
Riana menatapnya curiga.
“Izin apa?”
“Mengajak kamu makan malam.”
“Untuk membahas pekerjaan?”
“Tidak.”
Riana terdiam.
Raditya melanjutkan dengan ekspresi yang jauh berbeda dari CEO dingin yang dikenal seluruh kantor.
“Untuk pertama kalinya, saya ingin mencoba mengikuti rekomendasi konsultan kecil yang sangat keras kepala.”
Alya mengacungkan jempol.
Riana tertawa.
Ia menatap putrinya, lalu Raditya.
“Baik.”
Mata Alya membesar.
“Berarti Om Raditya lulus?”
“Belum.”
Riana meraih tangan putrinya.
“Masih masa percobaan.”
Raditya mengangguk serius.
“Berapa lama?”
Riana tersenyum.
“Tidak ditentukan.”
Alya menghela napas seperti seorang direktur yang kecewa dengan negosiasi.
Mereka bertiga berjalan menuju lift.
Sebelum pintunya tertutup, Alya tiba-tiba berkata, “Om, Alya kasih tahu satu rahasia.”
“Apa?”
“Ibu sebenarnya suka Om.”
Riana langsung menutup wajah.
“Alya!”
Raditya tertawa begitu keras hingga beberapa karyawan di lobi menoleh.
Pintu lift tertutup.
Riana tidak tahu ke mana hubungan itu akan membawa mereka.
Ia juga tidak membutuhkan seorang pria untuk menyelamatkan hidupnya.
Karena pada akhirnya, orang yang menyelamatkan Riana bukan Raditya.
Bukan dewan direksi.
Bukan pula sebuah map hitam.
Riana menyelamatkan dirinya sendiri ketika ia berhenti membiarkan ketakutan menentukan hidupnya.
Sedangkan Alya, dengan kepolosan seorang anak berusia enam tahun, hanya melakukan sesuatu yang tidak pernah berani dilakukan ibunya.
Mengetuk pintu kebahagiaan baru dan bertanya apakah kebahagiaan itu bersedia menjadi bagian dari keluarga mereka.
