Tiga tahun setelah Arman meninggalkanku di halaman berlumpur, aku melihatnya lagi di lorong rumah sakit.
Bedanya, kali ini aku tidak sedang tergeletak meminta pertolongannya.
Armanlah yang datang dengan wajah panik, menyeret Ratih yang berjalan tertatih sambil memegangi dada.
“Nadira!”
Suara itu membuat langkahku berhenti.

Aku baru saja keluar dari ruang administrasi RSUD di Balikpapan ketika melihat mereka. Ratih tampak lebih kurus, tetapi aku masih mengenali tatapan matanya. Tatapan yang sama ketika ia berdiri memeluk Bagas sementara aku kesakitan di tanah tiga tahun lalu.
Arman mendekat.
“Kamu kerja di sini?”
Aku menatap kartu identitas yang tergantung di leherku.
Setelah hidupku hancur, aku kembali kuliah melalui program penyetaraan, memperbarui kemampuan administrasi keuangan, lalu bekerja di bagian pengelolaan klaim sebuah jaringan layanan kesehatan.
“Ada apa?”
“Mbak Ratih harus diperiksa sekarang.”
“Kalau darurat, langsung ke IGD.”
“Aku sudah ke sana. Mereka minta melengkapi data penjamin.”
Aku menatap Ratih.
Perempuan itu menghindari mataku.
Arman kemudian mengeluarkan map.
“Aku butuh bantuanmu.”
Aku hampir tersenyum.
Tiga tahun lalu aku juga meminta bantuan.
Tolong bawa aku ke rumah sakit.
Kalimat sederhana itu bahkan tidak cukup membuatnya membatalkan perjalanan ke Dukcapil.
Sekarang ia berdiri di depanku seolah kami hanya pasangan yang pernah bertengkar lalu berpisah baik-baik.
“Aku bukan petugas IGD.”
“Bukan soal itu.”
Arman menurunkan suara.
“Ini soal Ayahmu.”
Aku langsung menatapnya.
“Ayahku kenapa?”
“Namanya masih tercatat sebagai salah satu pemegang saham lama PT Borneo Sentosa Medika, kan?”
Dadaku menegang.
Ayah memang pernah menanam modal kecil di perusahaan pemasok alat kesehatan bertahun-tahun lalu. Setelah pensiun, sebagian kepemilikannya dialihkan, tetapi namanya masih dikenal di kalangan pengusaha lama Balikpapan.
“Apa hubungannya dengan kalian?”
Arman mendekat.
“Aku sedang mengikuti seleksi kepala divisi pengadaan. Perusahaan tempatku bekerja sekarang punya proyek dengan Borneo Sentosa. Kalau ada surat rekomendasi dari ayahmu, peluangku besar.”
Aku tidak percaya dengan apa yang kudengar.
“Jadi kamu datang ke rumah sakit membawa orang sakit sambil meminta rekomendasi karier?”
“Jangan dipelintir.”
“Lalu apa?”
Ratih akhirnya bicara.
“Nadira, kami sedang susah.”
Aku menatapnya.
“Kalian?”
Wajah Ratih berubah.
Arman buru-buru menyela.
“Setelah masalah administrasi tiga tahun lalu, aku kehilangan posisi di perusahaan lama. Sekarang aku mulai lagi dari bawah.”
Masalah administrasi.
Begitu ia menyebut kebohongannya.
Bukan pemalsuan data.
Bukan meninggalkan perempuan hamil yang selama bertahun-tahun ia sebut istri.
Hanya masalah administrasi.
Aku mengangguk perlahan.
“Semoga berhasil.”
Aku berbalik.
Arman menangkap pergelangan tanganku.
“Nadira.”
Aku langsung melepaskannya.
“Jangan sentuh aku.”
Beberapa orang di lorong mulai melihat.
Arman menurunkan suaranya.
“Kita perlu bicara.”
“Tidak ada yang perlu dibicarakan.”
“Ada. Tentang masa lalu.”
“Masa lalu kita selesai saat kamu meninggalkanku di lumpur.”
Wajahnya memucat.
Ratih terlihat gelisah.
“Aku tidak tahu keadaanmu separah itu.”
Aku tertawa pendek.
“Aku bilang perutku sakit. Aku minta dibawa ke rumah sakit.”
“Aku pikir kamu hanya ingin menggagalkan urusan kami.”
“Dan anak kita meninggal.”
Arman terdiam.
Aku mendekat satu langkah.
“Anak laki-laki kita meninggal beberapa jam setelah kamu pergi.”
Untuk pertama kalinya, matanya turun.
Namun hanya sebentar.
“Bagas juga masih anak-anak waktu itu.”
Aku menatapnya tak percaya.
Bahkan setelah tiga tahun, ia masih mencari alasan.
“Benar. Karena itu aku tidak pernah menyalahkan Bagas seperti aku menyalahkan orang dewasa yang melihat istrinya jatuh lalu memilih pergi.”
Ratih menangis.
“Cukup.”
Aku memandangnya.
Ratih menggeleng.
“Kamu selalu merasa paling menderita.”
Kalimat itu membuatku diam.
Kemudian ia berkata sesuatu yang akhirnya menjelaskan banyak hal.
“Arman juga kehilangan banyak hal karena kamu melapor ke perusahaan.”
Aku menatap Arman.
Jadi itu alasannya.
Beberapa minggu setelah keguguranku, aku memang menyerahkan bukti formulir palsu kepada bagian kepatuhan perusahaan. Aku juga membawa kasus buku nikah palsu ke jalur hukum.
Arman kehilangan pekerjaannya setelah audit menemukan beberapa manipulasi data keluarga.
Tetapi penyelidikan menghasilkan sesuatu yang lebih mengejutkan.
Arman dan Ratih ternyata tidak pernah menikah.
Nama “istri” digunakan agar Ratih memenuhi syarat program keluarga perusahaan.
Namun dari pemeriksaan lebih lanjut, diketahui Arman juga menggunakan data keluargaku untuk mengajukan beberapa fasilitas tanpa sepengetahuanku.
Aku meninggalkan Balikpapan selama hampir setahun setelah perkara selesai.
Aku tinggal bersama ayah di Samarinda, menjalani konseling, belajar lagi, dan perlahan membangun hidup yang tidak bergantung pada siapa pun.
Aku pikir Arman sudah menjadi bagian masa lalu.
Ternyata orang seperti dia tidak kembali karena menyesal.
Ia kembali karena membutuhkan sesuatu.
“Ayah tidak akan memberikan rekomendasi.”
Aku berjalan lagi.
Arman mengejarku.
“Nadira, dengar dulu.”
“Tidak.”
“Aku tahu ayahmu sakit.”
Langkahku berhenti.
Aku berbalik perlahan.
“Dari mana kamu tahu?”
Arman tersenyum tipis.
Senyum itu membuatku kembali mengenali lelaki yang dulu kutakuti.
“Aku masih punya kenalan.”
“Jangan dekati keluargaku.”
“Aku cuma minta satu tanda tangan.”
“Tidak.”
“Suratnya sudah kubuat.”
Ia membuka map dan menunjukkan selembar dokumen.
Aku membaca cepat.
Nama ayahku tercetak di bawah.
H. Rahmat Hidayat.
Di bawahnya sudah tersedia ruang tanda tangan.
“Kalau ayahmu menandatangani, aku dapat posisi. Ratih juga bisa masuk sebagai staf administrasi.”
Aku menatap mereka bergantian.
Jadi tiga tahun berlalu, tetapi pola itu tidak pernah berubah.
Arman tetap ingin membawa Ratih ke mana pun ia mendapat kesempatan.
“Kenapa harus ayahku?”
“Karena namanya dihormati.”
“Bukan. Maksudku, setelah semua yang kamu lakukan kepadaku, kenapa kamu masih merasa berhak memakai nama ayahku?”
Rahang Arman mengeras.
“Aku pernah menjadi bagian keluarga kalian.”
“Tidak.”
Aku menunjuk map itu.
“Bahkan secara hukum kamu tidak pernah menjadi suamiku.”
Beberapa orang kembali menoleh.
Wajah Arman memerah.
“Jangan bicara seolah kamu suci.”
“Aku tidak pernah bilang begitu.”
“Kamu menghancurkan hidupku.”
“Aku?”
“Kalau kamu tidak melapor, aku tidak akan dipecat.”
Aku akhirnya memahami sesuatu yang dulu selalu membuatku bertanya-tanya.
Selama bertahun-tahun aku menunggu permintaan maaf.
Ternyata aku menunggu sesuatu yang tidak akan pernah datang.
Arman tidak merasa bersalah.
Ia hanya merasa dirugikan karena kebohongannya terbongkar.
“Aku tidak menghancurkan hidupmu, Man. Aku hanya berhenti melindungi kebohonganmu.”
Ia meraih lenganku lagi.
Kali ini lebih keras.
“Suruh ayahmu tanda tangan.”
“Lepaskan.”
“Aku cuma minta satu kali ini.”
“Sakit.”
Ratih berdiri di belakangnya.
Anehnya, perempuan yang katanya harus mendapat penanganan darurat itu sekarang terlihat cukup kuat untuk memperhatikan pertengkaran kami.
Aku mulai curiga.
“Kamu sebenarnya sakit apa, Mbak?”
Ratih terdiam.
Arman langsung menjawab.
“Jantung.”
“Dokter siapa yang memeriksa?”
“Bukan urusanmu.”
Aku menatap map di tangannya.
Kemudian semuanya terasa jelas.
“Kalian tahu aku bekerja di sini.”
Arman tidak menjawab.
“Kalian sengaja datang.”
Ratih memalingkan wajah.
Aku tertawa tanpa suara.
Bahkan rumah sakit dipakai sebagai panggung.
“Pergi.”
“Nadira.”
“Pergi sebelum aku panggil keamanan.”
Arman kehilangan kendali.
Tangannya terangkat.
Gerakannya begitu cepat, tetapi tubuhku mengenalinya lebih cepat daripada pikiranku.
Aku memejamkan mata.
Namun tamparan itu tidak pernah sampai.
Seseorang menangkap pergelangan tangan Arman.
“Turunkan tangan Anda.”
Suara laki-laki itu tenang.
Sangat tenang.
Aku membuka mata.
Seorang pria berseragam berdiri di sampingku.
Arman mencoba menarik tangannya.
“Siapa kamu?”
Pria itu melepaskannya perlahan.
Di dada seragamnya terpasang papan nama.
Kompol Dimas Aditya.
Arman menatap pangkatnya, lalu wajahku.
Dimas berdiri sedikit di depanku.
“Saya sudah melihat cukup banyak.”
“Ini urusan keluarga.”
“Bukan.”
Dimas menjawab datar.
“Begitu Anda memegang seseorang secara paksa dan mengangkat tangan untuk memukulnya di tempat umum, itu bukan lagi sekadar urusan keluarga.”
Arman menunjukku.
“Dia mantan istri saya.”
Dimas menoleh kepadaku sebentar.
Kemudian kembali menatap Arman.
“Setahu saya, Anda bahkan bukan mantan suaminya secara hukum.”
Wajah Arman berubah total.
“Dari mana kamu tahu?”
Aku menarik napas.
Sudah waktunya.
“Karena dia suamiku.”
Lorong mendadak terasa sunyi.
Arman menatap cincin di jariku yang mungkin sejak tadi tidak ia perhatikan.
Dimas menggenggam tanganku.
Bukan untuk mempertontonkan sesuatu.
Hanya genggaman kecil yang sudah kukenal selama dua tahun terakhir.
Genggaman yang selalu bertanya tanpa kata apakah aku baik-baik saja.
“Aku menikah dua tahun lalu,” kataku.
Ratih terlihat syok.
Arman justru tertawa sinis.
“Cepat sekali.”
Aku tidak tersinggung.
Dulu mungkin kalimat seperti itu akan menghancurkanku.
Sekarang tidak.
“Pernikahan kami tercatat resmi. Ada akta. Ada buku nikah yang bisa diverifikasi. Ada keluarga yang hadir. Tidak seperti yang kamu berikan kepadaku.”
Dimas meremas tanganku pelan.
Arman menatapnya penuh kebencian.
“Jadi sekarang kamu memakai suami polisi untuk mengancamku?”
“Aku tidak mengancammu.”
Aku menunjuk kamera CCTV di langit-langit.
“Kamu sendiri yang datang, memegangku, lalu mengangkat tangan.”
Ratih tiba-tiba menarik lengan Arman.
“Kita pulang.”
Namun dua petugas keamanan rumah sakit sudah datang.
Salah seorang petugas administrasi rupanya memanggil mereka.
Dimas menunjukkan identitas dan menjelaskan singkat apa yang terjadi.
Arman mulai panik.
“Tidak ada pemukulan.”
“Karena tangan Anda sempat dihentikan,” kata Dimas.
Saat itulah ponsel Ratih berbunyi.
Ia melihat layar dan wajahnya langsung pucat.
Arman merebut ponsel itu.
Aku tidak tahu isi pesannya sampai Ratih mendadak terduduk.
“Man…”
“Apa?”
“Bagas dibawa polisi.”
Aku membeku.
Bagas sekarang empat belas tahun.
“Apa yang terjadi?”
Ratih menangis histeris.
Ternyata Bagas tidak ditangkap.
Ia diamankan setelah ditemukan mengendarai motor tanpa SIM bersama beberapa remaja lain. Motor yang digunakannya dilaporkan hilang dua hari sebelumnya.
Ratih langsung menatap Dimas.
“Tolong kami.”
Ironis sekali.
Tiga tahun lalu ia menarik Arman pergi saat aku meminta dibawa ke rumah sakit.
Sekarang ia meminta bantuan kepada suamiku.
Dimas tetap profesional.
“Kalau anak Anda sedang diperiksa, datang ke kantor bersama wali. Jangan mencoba menyelesaikannya lewat jalur pribadi.”
Arman tampak ingin mengatakan sesuatu, tetapi teleponnya ikut berbunyi.
Ia membaca pesan.
Kali ini wajahnya benar-benar kehilangan warna.
Aku tidak perlu bertanya.
Beberapa hari kemudian aku baru mengetahui apa yang terjadi.
Perusahaan barunya membatalkan proses seleksi.
Bukan karena aku.
Bukan karena ayahku.
Mereka melakukan pemeriksaan latar belakang setelah menemukan ketidaksesuaian dalam dokumen yang diserahkan Arman.
Surat rekomendasi atas nama ayahku ternyata sudah dimasukkan dalam berkas.
Tanda tangannya dipalsukan.
Arman belum sempat meminta ayah menandatangani karena ia sudah menggunakan tanda tangan hasil pindai dari dokumen lama.
Map yang dibawanya ke rumah sakit hanya dimaksudkan untuk mendapatkan tanda tangan asli agar pemalsuan itu terlihat sah jika suatu hari diperiksa.
Kali ini aku tidak perlu melakukan apa pun.
Kebohongannya menghancurkan dirinya sendiri.
Enam bulan kemudian, aku berdiri di makam kecil yang selama tiga tahun tidak pernah berani kudatangi sendirian.
Dimas berdiri beberapa meter di belakangku, memberiku ruang.
Aku meletakkan bunga putih.
Di batu kecil itu akhirnya terukir nama.
Raka Rahman.
Nama yang kupilih setelah kehilangan dirinya.
“Akhirnya Mama datang lagi,” bisikku.
Angin sore bergerak pelan di antara pepohonan.
Aku tidak tahu apakah luka benar-benar bisa sembuh.
Mungkin tidak.
Mungkin kita hanya tumbuh cukup kuat untuk membawa luka itu tanpa membiarkannya menentukan arah hidup.
Aku merasakan tangan Dimas menyentuh bahuku.
Aku berdiri.
Sebelum pergi, aku melihat makam itu sekali lagi.
Dulu aku berpikir malam ketika kehilangan Raka adalah malam ketika seluruh hidupku berakhir.
Ternyata aku salah.
Yang berakhir malam itu hanyalah kehidupan yang dibangun di atas kebohongan.
Sedangkan hidupku sendiri baru saja dimulai.
Dan untuk pertama kalinya, aku tidak merasa perlu melihat ke belakang untuk memastikan Arman menyesal.
Karena kebahagiaan terbesar bukan ketika orang yang menghancurkan kita akhirnya menerima hukuman.
Melainkan ketika suatu hari kita menyadari bahwa namanya sudah tidak memiliki kekuatan apa pun atas hidup kita.
